Inilah Sejarah Yahudi Kaifeng (יהדות מזרח Yahadut Mizrah)  Komunitas Yahudi di Tiongkok

Yahudi Kaifeng, akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. (wikipedia)

Yahudi Kaifeng, akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. (wikipedia)


Pada 687 SM Israel dijajah Kerajaan Babilonia Dan Bait Allah mereka di Yerusalem dihancurkan, orang Yahudi dibawa ke Babilonia untuk dijadikan budak. Rajanya (Zedekiah) dibutakan matanya dan dipenjara hingga mati. Orang Yahudi pernah hampir dibasmi oleh orang Babilonia, namun karena mereka berhasil menyusupkan seorang perempuan Yahudi cantik, Esther, sehingga akhirnya raja Babilonia jatuh cinta dan mengangkatnya menjadi permaisuri menggantikan permaisuri lama, maka raja melindungi bangsa Yahudi, bahkan memberi jabatan tinggi kepada beberapa orang Yahudi.

Pada 457 SM Persia yang dipimpin Cyrus Yang Agung dapat mengalahkan Babilonia, orang Yahudi diperbolehkan pulang ke tanah Israel dan membangun kembali Bait Allah. Pada 390 SM Israel dijajah Mesir. Pada 332 SM Israel dijajah Kerajaan Yunani

Pada 63 SM Israel dijajah Kerajaan Romawi, karena pemberontakan orang Yahudi, maka setelah pemberontakan ditumpas 70 M, Bait Allah kembali dihancurkan, kali ini oleh Romawi, bangsa Yahudi diusir keluar Dari tanah Israel, dicerai-beraikan antara berbagai bangsa dan hanya sedikit orang yang lagi tinggal di wilayah Israel.

Pada masa khalifah Umar bin Khaththab, sekitar tahun 645M, Romawi dikalahkan oleh Arab. Di bekas reruntuhan Bait Allah, didirikan masjid yang berkubah biru. Masjid itu masih sekarang dinamakan masjid Al Aqsha, pada akhir Abad ke-7, kira2 60 tahun setelah meninggalnya nabi Muhammad di 632M.

Saat ini negara Israel modern ingin menghancurkan masjid tersebut untuk membangun kembali Bait Allah mereka.

Setelah diusir oleh bangsa Romawi pada 70 M dari tanah Israel, bangsa Yahudi menyebar ke seluruh penjuru dunia dan berusaha mempertahankan kepercayaan dan budaya khas mereka sembari hidup sebagai kaum minoritas. . Di masyarakat Eropa yang mayoritas penduduknya Kristen, kaum Yahudi merasa menjadi semakin terisolasi sebagai orang luar. Kaum Yahudi menganggap diri mereka adalah bangsa terpilih dan hanya bangsa Yahudilah yang diijinkan Tuhan (Yahwe) untuk masuk sorga sementara semua bangsa lain kebagian neraka, mereka juga tidak meyakini kepercayaan Kristen bahwa Yesus adalah Anak Tuhan. Banyak orang Kristen yang menganggap penolakan untuk menerima sifat ketuhanan Yesus dan pandangan bahwa hanya bangsa Yahudi yang bisa masuk sorga ini sebagai sikap arogan. Selama berabad-abad Gereja mengajarkan bahwa kaum Yahudi bertanggung jawab atas kematian Yesus, tanpa mengindahkan fakta, sebagaimana yang diyakini para sejarawan hari ini, bahwa Yesus dieksekusi oleh pemerintah Romawi karena para petinggi menganggapnya sebagai ancaman politis terhadap kekuasaan mereka. Selain konflik bermuatan agama terdapat juga konflik ekonomi, karena banyak orang Yahudi sukses secara ekonomi karena kerja keras dan hidup hemat, berbeda dengan penduduk asli. Para penguasa memberlakukan pembatasan-pembatasan atas orang Yahudi, yaitu dengan melarang mereka menduduki posisi-posisi tertentu dan menjadi pemilik tanah, serta orang Yahudi harus tinggal di perkampungan tersendiri, yakni Ghetto, yang dipagar khusus, pintu gerbang ditutup menjelang malam dan orang Yahudi dilarang keluar malam hari. Bila melanggar jam malam, maka orang Yahudi dapat dihukum, bahkan dibunuh!

Pada saat yang sama, karena Gereja awal tidak mengizinkan riba (peminjaman uang dengan bunga), kaum Yahudi mengisi peran vital (tapi yang tak disukai) sebagai penalang uang bagi mayoritas masyarakat Kristen. Dalam masa-masa yang lebih susah, kaum Yahudi menjadi kambing hitam atas banyak permasalahan yang mendera masyarakat. Sebagai contoh, mereka dipersalahkan atas “Kematian Hitam,” wabah yang merenggut nyawa ribuan orang di seluruh Eropa pada Abad Pertengahan. Di Spanyol pada tahun 1400-an, kaum Yahudi dipaksa pindah ke agama Kristen, meninggalkan negara tersebut, atau dieksekusi. Di Rusia dan Polandia pada akhir tahun 1800-an pemerintah mengorganisasi atau tidak mencegah serangan-serangan kekerasan terhadap pemukiman Yahudi, yang dinamakan dengan pogrom, kala gerombolan orang membunuh kaum Yahudi dan menjarah rumah dan toko mereka.

Selama 1700 tahun lebih bangsa Yahudi hidup menderita dan mengalami ribuan progrom di berbagai wilayah Eropa, jazirah Arab, Asia Tengah yang merupakan wilayah Kristen, sampai bangkitnya Islam yang menguasai Utara Afrika, Jazirah Arab, Asia Kecil, dan sebagian Asia Tengah pada akhir abad ke 7 .

Ada kelompok-kelompok Yahudi yang pada abad ke 2 menyelamatkan diri sampai ke Cina (Catatan tentang kehadiran mereka di china mungkin lebih awal dari yang diketahui sekarang karena diduga mereka datang dari India)
Orang Yahudi diduga pertama kali tinggal di Tian Jin, karena di sinilah pusat segala catatan sejarah awal kedatangan orang Yahudi ke China ditemukan. Sejarah yang berusia hampir 2 milenium! Bahkan mungkin lebih lama dari pembangunan The Great Wall.
Menurut catatan-catatan sejarah, komunitas Yahudi dengan sebuah sinagoga juga hadir di Kaifeng sejak paling kurang abad ke-12 (Dinasti Song) hingga akhir abad ke-19.

Orang menyimpulkan bahwa leluhur orang Yahudi Kaifeng berasal dari Asia Tengah. Keberadaan kelompok keagamaan dan etnis yang tidak terputus ini, yang berlangsung selama lebih dari 700 tahun dalam lingkungan sosial-budaya yang sama sekali berbeda dan yang kuat didominiasi oleh prinsip-prinsip moral dan etis Kong Hu Cu, adalah sebuah gejala unik, bukan hanya di dalam sejarah Cina, tetapi juga di dalam peradaban Yahudi selama beribu-ribu tahun.

Orang Cina tidak peduli bahwa orang Yahudi menganggap diri sebagai bangsa terpilih yang akan masuk surga sedangkan orang-orang Cina akan masuk neraka! Orang2 Cina di masa itu juga tidak tahu dan tidak peduli tentang Yesus dan Mesias.
Dan tak lama setelah itu, mereka dianggap sama seperti orang Cina juga, boleh beli tanah, dan membangun tempat ibadah, tidak diisolir seperti di negri2 Eropa Kristen dan Khilafah Muslim. Mereka akhirnya punya kekuasaan ekonomi yang besar di China berabad-abad lampau.

“Agama Yahudi berevolusi secara total di Cina, ketimbang di negara-negara Barat”, tutur Hua Bangyan, sejarawan kota Kaifeng. “Setelah orang Yahudi diperlakukan dengan tidak baik di Eropa, berbagai komunitas orang Yahudi di Eropa membuat banyak organisasi. Itu untuk menjaga hubungan yang erat antara mereka sendiri, dan supaya mereka tetap bisa hidup bersama. Tapi di Cina, malah sebaliknya. Karena mereka disambut baik, dan melebur dengan warga lokal, maka mereka kehilangan sebagian dari identitas mereka.”

Penggunaan bahasa Ibrani ditinggalkan. Dan orang Yahudi yang menikah dengan kelompok etnis lainya semakin meningkat.

Meskipun hidup hampir terisolasi dan tanpa hubungan apapun dengan diaspora Yahudi di luar Cina, komunitas ini masih mampu mempertahankan tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan Yahudi selama ratusan tahun. Karena mereka tidak mengalami diskriminasi ataupun penganiayaan dari pihak orang-orang Cina, suatu proses asimilasi yang bertahap berlangsung terus. Hingga abad ke-17, asimilasi orang-orang Yahudi Kaifeng berlangsung secara intensif dan semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan perubahan-perubahan dalam kebiasaan-kebiasaan agama dan ritual Yahudi, tradisi sosial dan bahasa, serta perkawinan campuran antara Yahudi dengan kelompok-kelompok etnis lainnya, seperti orang-orang Han, dan minoritas suku Hui dan suku Manchu di Cina.

Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), salah seorang kaisar Ming pernah menganugerahkan tujuh nama marga kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di sana. Beberapa nama tersebut masih teridentifikasi hingga zaman sekarang: Ai, Lao, Jin, Li, Shi, Zhang dan Zhao. Shi dan Jin adalah nama-nama yang sama dengan nama Yahudi yang umum ditemukan di barat: Stone dan Gold.

Orang2 Yahudi di Cina akhirnya mengalami Sinafikasi seperti orang Mongol dan Manchu. Pada masa kini banyak sekali orang Yahudi yang sudah melebur ke dalam bangsa Cina, baik suku Han, Hui, Manchu atau lainnya.

Maka tidak tertutup kemungkinan, orang2 keturunan Yahudi juga mempengaruhi dan berpartisipasi dalam kemajuan pesat Cina selama 3½ dekade ini, dari negara melarat kere pariah menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.

Namun ada perbedaan yang menyolok, orang2 keturunan Yahudi di Cina sudah melebur hampir sepenuhnya ke dalam bangsa Cina, dalam budaya, bahasa, agama dan gaya hidup, secara alami selama satu milenium lebih, berbeda dengan saudara sebangsa mereka yang di luar Cina yang masih berbudaya Yahudi, berbahasa Ibrani, beragama Yahudi serta bergaya hidup Yahudi.

Ada lima agama resmi di Cina, dan dan terdapat 55 golongan minoritas yang resmi. Orang-orang Yahudi tidak berada di bawah salah satu kategori tersebut, namun sekelompok kecil orang Yahudi berada di Kaifeng, mereka adalah keturunan pedagang Persia yang datang sekitar abad ke-11 ke Cina, demikian Wall Street Journal melaporkan pada hari Selasa kemarin.

Orang-orang Yahudi berjuang untuk mendapat pengakuan baik di negeri yang mereka tinggali dan juga di luar negeri. Sebenarnya pemerintah Cina menolak untuk mengakui warisan Yahudi, mengklaim tidak ada orang Yahudi Cina, dan pemerintah Israel sendiri membutuhkan seorang rabi untuk mengakui Yahudi Cina.

“Mereka mungkin berasal dari keturunan Yahudi, tetapi mereka bukan orang Yahudi,” kata Rabi Shimon Freundlich, yang mengurus Gedung Chabad ortodoks di Beijing, seraya menambahkan “belum ada komunitas Yahudi di Kaifeng selama 400 tahun.”

Meskipun demikian, banyak orang Yahudi Kaifeng harus berpegang teguh pada tradisi tertentu, meskipun signifikansinya tidak diketahui.

“Dalam keluarga kami, kami tidak makan babi, itu sudah pasti,” kata Nina Wang, 24 tahun Kaifeng asli, yang sekarang tinggal di Israel dan diakui sebagai Yahudi ortodoks, kepada Wall Street Journal. Keluarganya telah melewati proses menorah dan Kiddush, katanya, “tapi kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hal-hal tersebut.”

Orang-orang Yahudi Kaifeng harus melangkah dengan hati-hati karena Cina melarang kegiatan keagamaan yang tidak sah, dan mereka jarang memiliki “minyan” (10 orang laki-laki, jumlah minimal yang diperlukan untuk melakukan ritual doa Yahudi).

Maka tidak heran, Yahudi Cina mengenakan pakaian tradisional Cina. Mereka juga merayakan Paskah di restoran, meskipun beberapa membawa Matzah yang dikirim dari Hong Kong.

Di Cina sendiri memang ada beberapa lokasi wisata Yahudi, tapi sebisa mungkin tidak begitu diekspos ke hadapan publik.

“Anda bisa menginap dengan keturunan Yahudi setempat untuk melihat hidup mereka seperti apa,” kata Su Linzhong, seorang profesor manajemen di Universitas Kaifeng, dan menambahkan “mereka begitu emosional tentang kakek-nenek mereka.”

img_20170109_235518

Untuk pertama kalinya militer Israel menerima tujuh orang Yahudi berdarah Cina menjadi tentara. (eramuslim)


Suatu hari di musim dingin tujuh bulan lalu, tiga pemuda dari Yerusalem bernama Moshe Li, Gideon Fan, dan Yonatan Xue muncul di pusat pendaftaran angkatan bersenjata Israel di Tel Hashomer untuk bergabung menjadi tentara. Bareng ribuan pemuda lainnya, ketiganya menjalani seleksi.

Kegembiraan dan patriotisme terasa kental sekali di sana. Bercampur suasana haru saat para orang tua memeluk anak-anak mereka dan teman saling berangkulan.

Kondisi ini lazim berlaku saban tahun ketika calon-calon taruna peserta wajib militer mulai mendaftar. Wajib militer di negara Zionis itu berlangsung tiga tahun bagi lelaki dan dua tahun buat perempuan.

Tapi keputusan Li, Fan, dan Xue untuk menjadi serdadu Israel sangat unik dan bersejarah. Mereka termasuk orang Cina berdarah Yahudi pertama bakal mengenakan seragam militer berwarna hijau zaitun.

Ketiganya berasal dari Kaifeng, kota di Cina pernah menjadi basis komunitas Yahudi seribu tahun lamanya sebelum terjadi asimilasi di abad ke-19. Kota di Provinsi Hinan ini berjarak 656,6 kilometer dari Ibu Kota Beijing. Kaifeng pernah menjadi ibu kota Kekaisaran Cina semasa Dinasti Song.

Mereka sudah menempuh perjalanan amat jauh dan sukar untuk memperoleh pengakuan sebagai Yahudi dan bisa menjadi warga negara Israel.

Paras mereka mirip orang Cina. Tidak seperti Yahudi Ashkenazi berdarah Eropa dan berupa bule atau Yahudi Sephardi, penduduk asli Timur Tengah berwajah Arab.

Sayangnya, ketiganya waktu itu sudah berumur 25 tahun, tidak bisa diterima. Militer Israel lebih memilih anak-anak muda Yahudi berusia 18 tahun, syarat minimal untuk menjalani wajib militer.

Sejak pindah ke Israel pada 2009, mereka bersumpah ingin berkontribusi bagi negara dan bangsa Yahudi.

Setelah melalui prosedur birokrasi rumit dan melelahkan, Li, Fan, dan Xue bareng empat orang Yahudi bermata sipit lainnya diterima menganut Yudaisme. Mereka pun mulai belajar bahasa Ibrani dan menjadi orang Israel.

Mereka lantas bareng-bareng mendaftar menjadi prajurit. Jawaban mereka terima lambat, sudah begitu mengecewakan. Cuma ucapan terima kasih.

Berbulan-bulan ketujuh Yahudi keturunan Cina ini memohon agar bisa diterima. Berkat campur tangan mantan Kepala Rabbi Militer Brigadir Jenderal Avichai Rontzki, mimpi mereka terkabul.

Kenapa mereka begitu ngotot ingin mengabdi buat militer Israel, jawaban Li barangkali terdengar klise. “Para leluhur saya hidup di Cina seribu tahun sebelum berasimilasi, jadi mereka tidak berjasa bagi Israel dan masyarakat Yahudi,” katanya. “Jadi saya ingin memperbaiki itu. Saya ingin melakukan sesuatu untuk bangsa ini.”

Orang-orang Yahudi diyakini pertama kali mendiami Kaifeng di abad kedelapan ketika Dinasti Song berkuasa atau mungkin sebelum itu. Para ahli menjelaskan pendatang perdana ini adalah para pedagang Yahudi Sephardi dari Persia atau Irak. Mereka tiba di Kaifeng lewat Jalur Sutera dan diizinkan kaisar Cina menetap di sana.

Pada 1163 komunitas Yahudi di Kaifeng membangun sebuah sinagoge indah dan besar, akhirnya direnovasi dan dibangun ulang berabad-abad kemudian. Jumlah orang Yahudi di Kaifeng mencapai puncaknya selama pemerintahan Dinasti Ming (1368-1644), yakni lima ribu.

Hingga abad ke-17, banyak orang Yahudi Cina menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Sejalan menguatnya pembauran lewat kawin campur, sampai pertengahan abad ke-18 sebagian besar tradisi Yahudi dan Yudaisme di Kaifeng lenyap.

Rabbi terakhir dalam komunitas Yahudi di Kaifeng dipercaya mengembuskan napas terakhir di awal abad ke-19. Sinagogenya hancur dihantam serangkaian banjir pada 1840-an.

Pada 1920-an ilmuwan Cina bernama Chen Yuan menulis sejumlah artikel ilmiah mengenai perjanjian soal agama di negara itu, termasuk “Sebuah Penelitian tentang Agama Yahudi di Kaifeng.” Yuan menekankan masih ada sejumlah keturunan Yahudi di kota itu berusaha memelihara tradisi dan ritual mereka, seperti merayakan Hari Yom Kippur.

Saat ini Kaifeng berpenduduk lebih dari 4,5 juta orang. Ada ratusan atau mungkin paling banyak seribu orang merupakan keturunan Yahudi.

Xue masih ingat betul saat pertama kali berdoa di Tembok Ratapan atau Kotel dalam bahasa Ibrani enam tahun lalu. “Saya merasa seperti di rumah sendiri.”

Kenapa mereka begitu ngotot ingin mengabdi buat militer Israel, jawaban Li barangkali terdengar klise. “Para leluhur saya hidup di Cina seribu tahun sebelum berasimilasi, jadi mereka tidak berjasa bagi Israel dan masyarakat Yahudi,” katanya. “Jadi saya ingin memperbaiki itu. Saya ingin melakukan sesuatu untuk bangsa ini.”

Gambaran sinagoga di Kaifeng. (wikipedia)

Gambaran sinagoga di Kaifeng. (wikipedia)


Gideon Fan, orang Cina berdarah Yahudi, tengah berdoa di Tembok Ratapan di Kota Yerusalem Timur. (kaltim.tribunnews.com)

Gideon Fan, orang Cina berdarah Yahudi, tengah berdoa di Tembok Ratapan di Kota Yerusalem Timur. (kaltim.tribunnews.com)


Inilah etnik Yahudi Kaifeng yang sedang melakukan perjalanan ibadah di tembok tangis, Israel. (kaltim.tribunnews.com)

Inilah etnik Yahudi Kaifeng yang sedang melakukan perjalanan ibadah di tembok tangis, Israel. (kaltim.tribunnews.com)


Etnik Yahudi yang hidup di wilayah Kaifeng, Cina, tengah merayakan hari besar Yahudi. (kaltim.tribunnews.com)

Etnik Yahudi yang hidup di wilayah Kaifeng, Cina, tengah merayakan hari besar Yahudi. (kaltim.tribunnews.com)


Mereka pemuda Yahudi Kaifeng, Cina yang mendaftarkan diri sebagai tentara Israel. (kaltim.tribunnews.com)

Mereka pemuda Yahudi Kaifeng, Cina yang mendaftarkan diri sebagai tentara Israel. (kaltim.tribunnews.com)


LIHAT VIDOENYA DISINI

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s