Kontroversi Pidato Megawati Pada HUT PDIP Ke-44 di JCC

img_20170119_052921

Megawati dalam sambutan pada peringatan HUT PDIP ke-44 mengatakan jika seseorang ingin menjadi Hindu maka tidak perlu jadi orang India. Jika ingin jadi orang Islam maka jangan jadi orang Arab. Jika ingin jadi orang Kristen maka jangan jadi orang Yahudi.

“Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini,” ujarnya.

Megawati menyebut pihak-pihak yang dianggapnya anti keberagaman. Menurutnya, mereka disebut sebagai penganut ideologi tertutup yang memicu isu konflik bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (Sara). Mereka juga disebutnya bertentangan dengan Pancasila.

“Mereka memaksakan kehendaknya sendiri, tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula. Bagi mereka teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan,” jelas Megawati.

Menurut presiden Indonesia kelima itu, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup mempromosikan diri sebagai para peramal masa depan. Para penganut ideologi tertutup kerap meramal kehidupan setelah dunia fana.

“Padahal mereka sendiri tentu belum pernah melihatnya,” kata Megawati.

Berikut ini pidato lengkap yang disampaikan Megawati dalam HUT PDIP:

“Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga PDI Perjuangan mampu melewati berbagai ujian sejarah selama 44 tahun. Pasang naik dan pasang surut sebagai sebuah partai politik, telah kami lalui. Saya sebagai Ketua Umum pada hari ini, ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka yang memilih berada dalam gerbong perjuangan bersama. Terima kasih kepada mereka yang tetap setia, meski kadang Partai ini mendapat terpaan gelombang yang begitu dahsyat. Mereka selalu ada, tidak hanya ketika Partai ini sedang berkibar, namun justru memperlihatkan kesetiaannya ketika Partai berada dalam posisi yang sulit.  Ijinkan saya memberikan penghormatan, dan penghargaan sebesar-besarnya, kepada antara lain Bapak Jacob Nuwa Wea, Bapak Alexander Litaay, dan Bapak Mangara Siahaan, dan masih banyak yang lain, yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Mereka telah mendahului kita menghadap Sang Khalik sebagai pejuang Partai.  Mereka tidak hanya ada dalam sejarah hidup saya, namun juga adalah tokoh-tokoh yang berjuang mempertahankan Partai ini sebagai partai ideologis. Kesetiaan yang mereka tunjukan sepanjang hidup kepartaian, bagi saya adalah bentuk kesetiaan ideologis, yang sudah seharusnya dihayati, dan dijalankan oleh setiap kader Partai.

Hadirin yang saya muliakan,

Dari awal mula saya membangun Partai ini, tanpa ragu saya telah menyatakan dan memperjuangkan, bahwa PDI Perjuangan adalah partai ideologis, dengan ideologi Pancasila 1 Juni 1945. Syukur alhamdulillah, pada tanggal 1 Juni tahun 2015 yang lalu, Presiden Jokowi telah menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Artinya, secara resmi negara telah mengakui, bahwa Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Saudara-saudara,

Peristiwa di penghujung tahun 2015, telah menggugah sebuah pertanyaan filosofis dalam diri saya: cukupkah bagi bangsa ini sekedar memperingati 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila? Dari kacamata saya, pengakuan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, memuat suatu konsekuensi ideologis yang harus dipikul oleh kita semua. Dengan pengakuan tersebut, maka  segala keputusan dan kebijakan politik yang kita produksi pun, sudah seharusnya bersumber pada jiwa dan semangat nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945.

Apa yang terjadi di penghujung tahun 2015, harus dimaknai sebagai cambuk yang mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila sebagai “pendeteksi sekaligus tameng proteksi” terhadap tendensi hidupnya “ideologi tertutup”, yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat. Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh seluruh masyarakat. Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter, dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula. Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan.

Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan bertindak, dengan memaksakan kehendaknya. Oleh karenanya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan. Selain itu, demokrasi dan keberagaman  dalam ideologi tertutup tidak ditolelir karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan. Tidak hanya itu, mereka benar-benar anti kebhinekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini. Disisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.

Saudara-saudara,

Apa yang saya sampaikan di atas tentang ideologi tertutup, jelas bertentangan dengan Pancasila. Pancasila bukan suatu ideologi yang dipaksakan oleh Bung Karno atau pendiri bangsa lainnya. Pancasila lahir dari nilai-nilai, norma, tradisi dan cita-cita bangsa Indonesia sejak masa lalu, bahkan jauh sebelum kemerdekaan. Bung Karno sendiri menegaskan, dirinya bukan sebagai penemu Pancasila, tetapi sebagai penggali Pancasila. Beliau menggalinya dari harta kekayaan rohani, moral dan budaya bangsa dari buminya Indonesia. Pancasila dengan sendirinya adalah warisan budaya bangsa Indonesia. Apakah ketika Indonesia berumur 71 tahun, kita telah melupakan sejarah bangsa? Jangan sekali-kali melupakan sejarah kita!!

Pancasila berisi prinsip dasar, selanjutnya diterjemahkan dalam konstitusi UUD 1945 yang menjadi penuntun sekaligus rambu dalam membuat norma-norma sosial politik. Produk kebijakan politik pun tidak boleh bersifat apriori, bahkan harus merupakan keputusan demokratis berdasarkan musyawarah mufakat. Dengan demikian, Pancasila sebagai jiwa bangsa, tidak memiliki sifat totaliter dan tidak boleh digunakan sebagai “stempel legitimasi kekuasaan”. Pancasila bersifat aktual, dinamis, antisipasif dan mampu menjadi “leidstar”, bintang penuntun dan penerang, bagi bangsa Indonesia. Pancasila selalu relevan di dalam menghadapi setiap tantangan yang sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan, serta dinamika aspirasi rakyat.

Namun, tentu saja implementasi Pancasila tidak boleh terlalu   kompromistis saat menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya. Meskipun demikian, guna meng-eksplisit-kan ide dan gagasan agar menjadi konkret, dan agar Pancasila tidak kaku dan keras,  dalam merespon keaktualan problematika bangsa, maka instrumen implementasinya pun harus dijabarkan dengan lebih nyata, tanpa bertentangan dengan filsafat pokok dan kepribadiaan bangsa.

Intermezo : Pola Pembangunan Nasional Berencana sebagai implementasi Pancasila untuk mencapai Trisakti.

Saudara-saudara,

Indonesia diakui sebagai negara demokratis, namun demokrasi yang kita anut dengan Pancasila sebagai “the way of life bangsa” telah secara tegas mematrikan nilai-nilai filosofis ideologis, agar kita tidak kehilangan arah dan jati diri bangsa.

Pancasila, lima sila, jika diperas menjadi Trisila, terdiri dari: Pertama, sosio-nasionalisme yang merupakan perasan dari kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan. Kedua, sosio-demokrasi. Demokrasi yang dimaksud bukan demokrasi barat, demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi politik ekonomi, yaitu demokrasi yang melekat dengan kesejahteraan sosial, yang diperas menjadi satu dalam sosio-demokrasi.

Ketiga, adalah ke-Tuhan-an. Menjadi poin ketiga, bukan karena derajat kepentingannya paling bawah, tetapi justru karena Ke-Tuhan-an sebagai pondasi kebangsaan, demokrasi politik dan ekonomi yang kita anut. Tanpa Ke-Tuhan-an bangsa ini pasti oleng. Ke-Tuhan-an yang dimaksud adalah Ke-Tuhan-an dengan cara berkebudayaan dan berkeadaban; dengan saling hormat menghormati satu dengan yang lain, dengan tetap tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Bung Karno menegaskan, “kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Hadirin yang saya hormati, Trisila jika diperas menjadi Ekasila, yaitu gotong royong. Inilah suatu paham yang dinamis, berhimpunnya semagat bersama untuk membanting tulang bersama, memeras keringat bersama untuk kebahagiaan bersama. Kebahagian yang dimaksud adalah kebahagian kolektif sebagai sebuah bangsa, yang memiliki tiga kerangka: pertama, Satu Negara Republik Indonesia yang berbentuk Negara-Kesatuan dan Negara-kebangsaan yang demokratis dengan wilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke; dari Miangas hingga ke Rote. Kedua, satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spiritual dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia. Ketiga, satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, atas dasar saling hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar membentuk satu Dunia Baru yang bersih dari penindasan dalam bentuk apa pun, menuju perdamaian dunia yang sempurna.

Adapun untuk mencapai kerangka tujuan di atas diperlukan dua landasan: landasan idiil, yaitu Pancasila dan landasan strukturil, yaitu pemerintahan yang stabil. Untuk itulah PDI Perjuangan selalu ikut dan berdiri kokoh menjaga jalannya pemerintah Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai pemerintahan yang terpilih secara konstitusional. Keduanya merupakan syarat mutlak atas tanggung jawab sejarah yang harus kita tuntaskan sekaligus sebagai konsekuensi ideologis yang telah saya sampaikan di awal, yang mengakui Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa.

Kader-kader Partai yang saya cintai, hadirin yang saya hormati,

Saya menjabarkan hal-hal di atas dalam forum ini, untuk menegaskan kembali bahwa PDI Perjuangan tetap memilih jalan ideologis. PDI Perjuangan menyatakan diri tidak hanya sebagai rumah bagi kaum Nasionalis, tetapi juga sebagai Rumah Kebangsaan bagi Indonesia Raya. Kepada kader Partai di seluruh Indonesia, saya instruksikan agar tidak lagi ada keraguan, apalagi rasa takut, untuk membuka diri dan menjadikan kantor-kantor Partai sebagai rumah bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Saya instruksikan, jadilah “Banteng Sejati” di dalam membela keberagaman dan kebhinekaan.  Berdirilah di garda terdepan, menjadi tameng yang kokoh untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya yakin, TNI dan POLRI akan bersama kita dalam menjalankan tugas ini, dan tidak akan memberi ruang sedikit pun pada pihak-pihak yang anti Pancasila dan anti demokrasi Pancasila. Apresiasi saya kepada TNI-POLRI yang telah berani bersikap tegas dalam menyikapi pihak-pihak tersebut.

Bagi kader Partai yang berada di legislatif dan eksekutif, kalian tidak hanya dibutuhkan negeri ini untuk mempertahankan kesatuan dan kebangsaan. Perlu disadari, terutama bagi kader yang telah mendapat kepercayan rakyat di eksekutif. Saya tahu, kalian, bahkan saya, adalah manusia biasa. Tentu, sebagai manusia biasa kita tidak luput dari kesalahan. Tetapi, sebagai pemimpin harus disadari pula bahwa jabatan yang kalian emban adalah jabatan politik. Kesalahan dalam keputusan politik tidak hanya berdampak bagi diri pribadi dan keluarga. Kesalahan tersebut berdampak pada kehidupan seluruh rakyat. Karena itu, hati-hatilah dalam membuat keputusan-keputusan politik, baik itu berupa perkataan, tindakan, produk politik baik berupa kebijakan politik legislasi, maupun kebijakan politik anggaran.

Kader-kader yang saya cintai,

Luangkan waktu untuk merenung, sudah tepatkah langkah-langkah yang kalian ambil atas jabatan yang telah diberikan oleh rakyat, ataukah justru sebaliknya. Jangan kalian justru menjadi bagian dari orang-orang yang menindas dan menyengsarakan rakyat dengan kekuasaan yang sebenarnya justru merupakan amanah dari rakyat.

Saya tegaskan kembali, sebagai Ketua Umum Partai, instruksi saya kepada kalian adalah mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya! Kebhinekaan harus disertai dengan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat!

Terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang tetap setia membatinkan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu reaksioner, tetapi sudah saatnya silent majority bersuara dan menggalang kekuatan bersama. Saya percaya mayoritas rakyat Indonesia mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Kita akan bersama-sama terus berjuang, kita pasti mampu membuktikan pada dunia, bahwa Pancasila mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan.

Bangsa ini sedang berada dalam “struggle to survive”, dalam perjuangan untuk bertahan, bertahan secara fisik dan mental! Bertahan agar tetap hidup, secara badaniah dan mental. Hadapilah tantangan-tantangan yang ada dengan kekuatan gotong royong sebagai kepribadian bangsa. Berderaplah terus menuju fajar kemenangan sebagai bangsa yang sejati-jatinya merdeka. Dengan ridho Tuhan, saatnya kita gegap gempitakan kembali segala romantika dan dinamika, dentam-dentamkan segala hantaman, gelegarkan segala banting tulang, angkasakan segala daya kreasi, tempa segala otot-kawat-balung-wesinya!

Sungguh: kita adalah bangsa berkepribadian Banteng!

Hayo maju terus! Jebol terus!

Tanam terus! Vivere pericoloso!

Hiduplah menyerempet bahaya di jalan Tuhan!

Ever onward, Never retreat!

Kita pasti menang!

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh.

Om Santi Santi Santi Om

Namo Buddhaya

Merdeka !!!

Jakarta, 10 Januari 2017

Ketua Umum PDI Perjuangan

Megawati Soekarnoputri.“

Politisi Senior PPP : Megawati Tak Paham Agama dan Tidak Tahu Beragama

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengecam keras pidato politik Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada peringatan HUT PDIP ke-44 pada Selasa lalu (10/1).

Politisi senior yang juga tokoh Islam, Habil Marati, mengecam keras pidato politik Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri pada peringatan HUT PDIP ke-44 di Jakarta Convention Center (JCC) (10/01).

Politisi asal Sulawesi Tenggara ini menyoal pidato Megawati yang menyebut “kalau mau jadi orang Islam, jangan jadi orang Arab”.

Menurut Habil, Megawati tidak paham posisi agama dalam prespektif penciptaan manusia, bahwa agama Islam bukan budaya Arab. Megawati juga tidak paham agama.

Politisi senior PPP Habil Marati menyindir pidato Megawati yang menyatakan jika seseorang ingin menjadi orang Islam maka jangan jadi orang Arab. Menurutnya, dengan pernyataan itu, Megawati dinilai tidak paham posisi agama dalam prespektif penciptaan manusia bahwa agama Islam bukan budaya Arab. Megawati juga disebut tidak paham agama.

“Megawati tidak paham Agama dan tidak tahu beragama. Islam turun di tanah Arab dan pada orang Arab tapi Allah mengutus Nabi Muhammad bukan untuk mewakili orang Arab dan tanah Arab dalam kenabiannya. Nabi Muhammad mewakili seluruh umat manusia sepanjang zaman,” jelas Habil kepada wartawan di Jakarta, Kamis (12/1).

Dia juga menyangkal keras pernyataan Megawati jika tuntutan umat Islam agar gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipenjara berlandaskan pada ideologi tertutup.

“Jadi kalau orang Islam menuntut Ahok untuk dipenjarakan karena menistakan Al Quran ini bukan budaya Arab dan ini pula bukan ideologi tertutup dan bukan pula dogma,” kata Habil.

Mantan anggota DPR RI periode 1999-2010 itu menilai, Megawati hanya membacakan teks pidato yang disusun oleh tim partai.

“Megawati hanya baca teks saja. Dan sekaligus Megawati tidak mengerti Pancasila, di mana sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Bisa dikatakan sekularisasi UUD 45 menjadi UUD 2002 adalah bertentangan dengan Pancasila. Artinya Megawati melecehkan dua sekaligus hal yang paling prinsipil yaitu agama dan Pancasila,” jelas Habil.

Anggota DPR Minta Megawati Bertanggung Jawab atas Pidato yang Menusuk Aqidah Islam

Pidato poliitik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada perayaan HUT ke-44 PDIP dinilai telah menghina semua hal yang terkait dengan Islam. Bahkan dianggap sebagai penistaan yang sangat menusuk iman Islam.

Begitu penilaian Politisi Partai Gerindra, Raden Muhammad Syafi’i di gedung DPR, Senayan, Jakarta, seperti dilansir Rakyat Merdeka Online, Kamis (12/1/2017).

Dia pun meminta Megawati untuk mempertanggungjawabkan isi pidatonya tersebut karena telah menghina Allah SWT, Al-Quran, Nabi Muhammad SAW dan umat Islam.

“Pidato itu terutama yang dia katakan bahwa firman Allah itu adalah ramalan adalah penistaan yang sangat menusuk akidah umat Islam dan harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Tidak itu saja, Anggota Komisi III DPR ini mengatakan kalau Megawati telah menghina iman Islam karena salah satu bunyi rukum iman percaya pada hari akhir, dan kalau tidak percaya hari akhir maka dia bukan Islam.

Firman Allah mengenai akhirat dan sebagainya menurut pria yang akrab disapa Romo ini adalah berita dari Allah dan bukanlah sebuah ramalan seperti yang dikatakan Megawati.

Kalau tidak percaya seharusnya putri Bung Karno itu, kata Romo Syafi’i, lebih baik diam saja dan tidak usah menghasut umat untuk ikut tidak percaya pada keyakinannya.

“Kalau dia tidak percaya tidak perlu juga diomongkan seperti itu, yah diam-diam saja. Indonesia bisa rukun dan damai karena mayoritas bangsa Indonesia percaya pada Allah, apa dia tidak sadar?”  tegasnya.

Dia pun yakin bahwa pidato tersebut bukan ditulis langsung oleh Megawati, tapi menurutnya baik Megawati maupun penulis pidato itu jelas tidak memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang diucapkan dan yang dituliskannya.

“Megawati sebagai pembaca pidato yang dibuat orang lain itu diyakininya sama-sama tidak memahami dan memiliki pengetahuan agama yang cukup baik sehingga bisa berbicara dan menulis pidato yang demikian menyakitkan umat Islam,” imbuhnya.

Mereka menurut Romo Syafi’i tidak memahami kultur memahami kultur dan semangat religiusitas di Indonesia. Kehidupan beragama di Indonesia selama ini sudah berjalan dengan baik.

Begitu juga kerukunan umat beragama juga sudah terawat dengan baik dan tentu ini menurutnya karena dipelihara oleh masing-masing pemeluk agama dan terutama yang paling menentukan adalah sikap dari mayoritas pemeluk Islam yang sangat toleran.

“Karena itu kalau berbicara hendaknya disesuaikan dengan kapasitas. Jika akhirat dikatakan ramalan-ramalan jelas mereka tidak memahami itu. Sikap seperti ini bisa mengobok-obok kerukunan,” demikian Romo Syafi’i.

Para Ulama Perlu Mengkaji dan Menjelaskan, Pidato Megawati ini Mengandung Penghinaan kepada Nabi SAW atau Tidak

Ada isi pidatonya yang sangat riskan bagi setiap Muslim yang memang wajib mengimani kehidupan akherat setelah fana’nya dunia ini. Bahkan mengimani hari akherat setelah hancurnya dunia ini adalah termasuk satu dari rukun iman yang 6. Dan itu berdasarkan keyakinan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, para ulama perlu mengkaji pidato Megawati ini, karena menyangkut inti keyakinan Umat Islam yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun disinggung oleh Megawati, diantaranya sebagai berikut:

“Disisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.”

Megawati: Pak Presiden dan Wapres, Kalau Ada Macam-macam Panggil Kita

img_20170119_051633

Megawati Soekarnoputri meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) untuk tidak takut. Menurutnya, PDI-P dengan kader-kadernya siap mengawal demi kepentingan bangsa.

”Kalau ada yang macam-macam Bapak Presiden, Wapres; panggil saja kita. Anak buah saya sudah ada lho, ,” ujar Megawati dalam pidato politiknya dalam acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-44 PDI-P di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa (10/1/2017).

Mengawati menegaskan, jangan pernah memberi ruang sedikit pun kepada kelompok yang ingin menghapus ideologi bangsa Pancasila dan UUD 1945 dengan kebhinnekaan. Megawati juga memuji Panglima TNI dan Kapolri yang dengan sikap tegas tidak memberi tempat bagi kelompok yang ingin menggeser ideologi Pancasila dan anti kebhinekaan.

Mega pun menyebut, saat ini anak-anaknya (kader PDIP) siap sedia mengawal pemerintah mempertahankan Pancasila yang lahir 1 Juni 1945. ”Saya akui, anak-anak saya nakal-nakal, tapi kalau demi bangsa dan negara, mereka akan rela mengorbankan jiwa raganya,” ujarnya.

Dia juga menyebut bahwa sudah ada dua atau lebih kadernya yang baru-baru ini kena pentungan (dikeroyok), khususnya anak ranting yang dikeroyok oleh ormas. ”Saya bangga dengan anak ranting itu, dan kalau sudah sembuh, saya janji akan memberikan hadiah,” ujarnya.

Sebelumnya, Megawati juga menyampaikan ucapan penghargaan yang tinggi kepada sejumlah tokoh dan kader PDI-P yang telah meninggal, seperti Jacob Nuwawea, Alex Litay, Manggara Siahaan dan sejumlah nama yang tidak dapat disebut satu per satu. ”Saya mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah berjuang bersama PDI-P dan kini mereka telah pergi dengan jasa perjuangan,” ujarnya.

Selain Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, hadir dalam HUT PDI-P tersebut antara lain para ketua umum partai politik seperti Surya Paloh (Nasdem), Oesman Sapta (Hanura), AM Hendropriyono (PKPI), Muhaimin Iskandar, Zulkifli Hasan (PAN), dan Idrus Marham (Sekjen Golkar). Hadir pula sejumlah anggota kabinet kerja III.

Pemikir Islam: Pidato Megawati Semakin Jauhkan PDIP dengan Kelompok Islam

Pidato politik Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri pada peringatan HUT PDIP ke-44 di Jakarta Convention Center (JCC) (10/01), yang menyindir ulama, telah melecehkan agama Islam, agamawan dan menyebarkan paham sekulerisme.

Penegasan itu disampaikan pemikir Islam Muhammad Ibnu Masduki kepada intelijen (11/01). Pernyataan Megawati tentang adanya “peramal” yang belum pernah melihat kehidupan setelah dunia fana, bisa dimaknai sebagai pelecehan terhadap agama Islam.

“Masalah kehidupan setelah dunia fana itu ada tuntunannya di dalam Al Quran. Dan setiap agama ada ajaran tentang kehidupan setelah fana, yang dalam ajaran Islam di sebut alam akhirat,” beber Ibnu Masduki.

Menurut Ibnu Masduki, khususnya ajaran Islam, ulama bukan peramal, tetapi menyampaikan ajaran sesuai dengan Al Quran dan Hadits. “Walaupun pidato Megawati tidak menyebut ulama, tetapi konteks pidato itu telah menyinggung ulama sebagai pewaris para nabi,” tegas Ibnu Masduki.

Ibnu Masduki menegaskan, pidato Megawati itu justru akan semakin menjauhkan PDIP dengan kelompok Islam. “Akan muncul pertentangan antara PDIP dengan kelompok Islam,” pungkas Ibnu Masduki.

Habib Rizieq Sesalkan Pidato Megawati di HUT PDIP

Imam Besar FPI Habib Rizieq, menyinggung pidato Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat HUT ke-44 partainya. Dalam pidato tersebut, Habib Rizieq menilai Megawati mencoba menghadapkan Islam dengan Pancasila.

”Saya sesalkan mendengarkan salah satu pimpinan parpol yang menyinggung ideologi tertutup yang mencoba menghadapkan agama Islam dan Pancasila. Ini kami sesalkan,” kata Habib Rizieq, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (11/1).

Padahal, lanjut dia, Pancasila dan agama Islam tidak ada yang perlu diperdebatkan. Menurutnya, yang lebih menyedihkan, ada ungkapan-ungkapan pernyataan bahwa ajaran Islam yang berkaitan dengan iman kepada haru akhir. Dalam pernyataannya, Megawati menganggap akhirat sebagai ramalan masa depan.

”Kalau diucapkan orang di luar agama Islam, kami tidak ingin menanggapi. Tapi kalaU Islam, ini jadi persoalan serius. Ini termasuk rukun iman. Sesuatu yang harus diimani kepastiannya karena itu informasi Al quran yang datang dari Allah SWT,” jelasnya.

Habib Rizieq khawatir pernyataan tersebut mengundang konflik horizontal antar umat beragama. Hal itu dianggap bisa membahayakan NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan pilar -pilar negara.

”Karena sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, tidak ada satu pun tokoh yang menjadikan Pancasila untuk menggugurkan rukun iman,” tegasnya.

Buat Ibu Megawati, Tolong Baca Ini: “Tamparan Keras Bagi Pembenci Arab”

“Bagi yang gak suka Arab… ketahuilah

Arab gak pernah jajah kita… Arab yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada awal-awal… Arab memberi dukungan moril dan materiil kemerdekaan Indonesia. Itu baru urusan kemerdekaan.

Negara-negara barat yang diagung-agungkan justru bahu membahu silih berganti menjajah Indonesia, membunuhi pemuda-pemuda pejuang kita, memenjarakan pemimpin-pemimpin kemerdekaan kita.

China yang menguasai ekonomi kita sekarang, dulu mereka saling bahu membahu dengan penjajah bahkan kejam terhadap orang-orang asli Indonesia (pribumi).

Ini semua fakta sejarah.”

Ini tulisan Muaz Hd yang terkenal dan tersebar di fb. Sangat pas kalau ibu Megawati baca untuk direnungkan.

img_20170119_054039

Juga ARSIP SEJARAH ini:

Bukti arsip sejarah: SELOEROEH DUNIA ARAB DAN ISLAM BERDIRI DIBELAKANG BANGSA INDONESIA

img_20170119_054011

Kata-Kata Serapan Dari Bahasa Arab

Menurut penelitian, kosakata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab sangat banyak. Jumlahnya diperkirakan mencapai 2000 – 3000 kata. Segaian kata-kata Arab ini masih utuh, dalam artian sama antara pengucapan lafal dan maknanya, dan ada sebagian lagi yang berubah.

Dan jika ingin diklasifikasikan dari segi perubahannya, maka bisa kita bagi menjadi 3 :

Lafal dan sesuai dengan aslinya. artinya tetap.
Lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula.
Lafalnya benar, artinya berubah.

img_20170119_055055

Dan berikut ini contoh-contoh dari sebagian kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Arab :

A
Abadi ( ﺃﺑﺪﻱ )
Adat ( ﻋﺎﺩﺓ )
Adil ( ﻋﺎﺩﻝ )
Ahad ( ﺃﺣﺪ )
Ahli ( ﺃﻫﻞ )
Aib ( ﻋﻴﺐ )
Ajal ( ﺃﺟﻞ )
Akal ( ﻋﻘﻞ )
Akhir ( ﺃخير )
Akhlak ( ﺃخلاق )
Akrab ( ﺃﻗﺮﺏ )
Alamat ( علامة )
Amanah ( ﺃﻣﺎﻧﺔ )
Alam ( ﻋﺎﻟﻢ )
Alat ( ﺁﻟﺔ )
Asal ( ﺃﺻﻞ )
Asli ( ﺃﺻﻠﻲ )
Awal ( ﺃﻭﻝ )

B
Bab ( ﺑﺎﺏ )
Badan ( ﺑﺪﻥ )
Bahas ( بحث )
Batin ( ﺑﺎﻁﻥ )
Batal ( ﺑﻄﻞ )
Bait ( ﺑﻴﺖ )
Bakhil ( بخيل)
Bala ( ﺑﻼﺀ )

C

D
Dahsyat ( ﺩﻫﺸﺔ )
Dakwah ( ﺩﻋﻮﺓ )
Dai ( ﺩﺍﻋﻲ )
Doa ( ﺩﻋﺎﺀ )
Daerah ( ﺩﺍﺋﺮﺓ )
Dewan ( ﺩﻳﻮﺍﻥ )
Daftar ( ﺩﻓﺘﺮ )
Dalil ( ﺩﻟﻴﻞ )
Daur ( ﺩﻭﺭ )
Derajat ( ﺩﺭﺟﺔ )
Dunia ( دنيا)
Dzikir ( ﺫﻛﺮ )

E

F
Faidah ( ﻓﺎﺋﺪﺓ )
Fakir ( ﻓﻘﻴﺮ )
Fana ( ﻓﻨﺎﺀ )
Fikir ( ﻓﻜﺮ )
Fitnah (فتنة )
Fithrah ( ﻓﻄﺮﺓ )

G
Ghaib ( ﻏﺎﺋﺐ )
Gamis (قميص)

H
Hadiah (هدية )
Hal ( ﺣﺎﻝ )
Hadir ( ﺣﺎﺿﺮ )
Hasad ( ﺣﺴﺪ )
Haid ( ﺣﻴﺾ )
Hajat ( ﺣﺎﺟﺔ )
Hamil ( ﺣﺎﻣﻞ )
Haram ( حرام )
Hasil ( ﺣﺎﺻﻞ )
Hewan ( ﺣﻴﻮﺍﻥ )
Hidayah ( ﻫﺪﺍﻳﺔ )
Hijrah ( ﻫﺠﺮﺓ )
Hukum ( ﺣﻜﻢ )
Hakim ( ﺣﺎﻛﻢ )
Hak ( ﺣﻖ )
Hakikat ( ﺣﻘﻴﻘﺔ )
Hayat ( ﺣﻴﺎﺓ )
Hibah ( ﻫﺒﺔ )
Hikayat ( ﺣﻜﺎﻳﺔ )
Hikmah ( ﺣﻜﻤﺔ )
Hormat ( ﺣﺮﻣﺔ )
Hina ( ﻫﻴﻦ )
Huruf ( ﺣﺮﻭﻑ )

I
Ilmu ( ﻋﻠﻢ )
Ilmiah ( ﻋﻠﻤﻴﺔ )
Iman ( ﺇﻳﻤﺎﻥ )
Insan ( ﺇﻧﺴﺎﻥ )
Istilah ( ﺍﺻﻄﻼﺡ )
Istirahat ( ﺍﺳﺘﺮﺍﺣﺔ )
Isyarat ( ﺇﺷﺎﺭﺓ )

J
Jadwal ( ﺟﺪﻭﻝ )
Jamaah ( ﺟﻤﺎﻋﺔ )
Jasad ( ﺟﺴﺪ )
Jawab ( ﺟﻮﺍﺏ )
Jenis ( ﺟﻨﺲ )
Jilid ( ﺟﻠﺪ )
Jumat ( ﺟﻤﻌﺔ )

K
Kabar ( ﺧﺒﺮ )
Kalam ( ﻛﻼﻡ )
Kalimat ( ﻛﻠﻤﺔ )
Kalbu ( ﻗﻠﺐ )
Kamis ( ﺧﻤﻴﺲ )
Kamus ( ﻗﺎﻣﻮﺱ )
Karib ( ﻗﺮﻳﺐ )
Kertas ( ﻗﺮﻃﺎﺱ )
Kias ( ﻗﻴﺎﺱ )
Kisah ( ﻗﺼﺔ )
Kitab ( ﻛﺘﺎﺏ )
Kuliah ( ﻛﻠﻴﺔ )
Kuburan ( ﻗﺒﺮ )
Kursi ( ﻛﺮﺳﻲ )

L
Lisan ( ﻟﺴﺎﻥ )
Laik ( لائق )

M
Madrasah ( ﻣﺪﺭﺳﺔ )
Majalah ( ﻣﺠﻠﺔ )
Majlis ( ﻣﺠﻠﺲ )
Makalah ( ﻣﻘﺎﻟﺔ )
Makhluk ( ﻣﺨﻠﻮﻕ )
Maklum ( ﻣﻌﻠﻮﻡ )
Makna ( ﻣﻌﻨﻰ )
Makruf ( ﻣﻌﺮﻭﻑ )
Maksud ( ﻣﻘﺼﻮﺩ )
Malaikat ( ﻣﻼﺋﻜﺔ )
Markaz ( ﻣﺮﻛﺰ )
Masalah ( ﻣﺴﺄﻟﺔ )
Masjid ( ﻣﺴﺠﺪ )
Mati ( ﻣﻴﺖ )
Misal ( ﻣﺜﺎﻝ )
Miskin ( ﻣﺴﻜﻴﻦ )
Mungkin ( ﻣﻤﻜﻦ )
Munkar ( ﻣﻨﻜﺮ )
Mustahil ( ﻣﺴﺘﺤﻴﻞ )
Musibah ( ﻣﺼﻴﺒﺔ )
Mushalla ( ﻣﺼﻠﻰ )
Musyawarah ( ﻣﺸﺎﻭﺭﺓ )

N
Nabi ( ﻧﺒﻲ )
Nasib (نصيب )
Najis ( ﻧﺞﺱ )
Nikmat ( ﻧﻊﻣﺔ )
Nafas ( ﻧﻔﺲ )
Nasab ( ﻧﺴﺐ )
Nafkah ( ﻧﻔﻘﺔ )
Nikah ( ﻧﻜﺎﺡ )
Noktah ( ﻧﻘﻄﺔ )

O

P
Paham ( ﻓﻬﻢ )
Pasal ( ﻑﺻﻞ )
Pikir ( ﻓﻜﺮ )

Q

R
Rahmat ( ﺭﺣﻤﺔ )
Rahim ( ﺭﺡﻡ )
Rasul ( ﺭﺳﻮﻝ )
Rejeki ( ﺭﺯﻕ )
Riwayat ( ﺭﻭﺍﻳﺔ )
Rabu ( ﺃﺭﺑﻌﺎﺀ )
Rakyat ( ﺭﻋﻴﺔ )
Risalah ( ﺭﺳﺎﻟﺔ )
Ruh ( ﺭﻭﺡ )
Rujuk ( ﺭﺟﻮﻉ )

S
Saat ( ﺳﺎﻋﺔ )
Sabar ( ﺹﺑﺮ )
Sabtu ( ﺳﺒﺖ )
Sabun ( ﺻﺎﺑﻮﻥ )
Sah ( ﺻﺢ )
Safar ( ﺳﻔﺮ )
Sahabat ( ﺻﺤﺎﺑﺔ )
Salam ( ﺱﻻﻡ )
Salju ( ﺛﻠﺞ )
Sehat ( ﺹﺣﺔ )
Sajak ( ﺳﺞﻉ )
Sedekah ( ﺻﺪﻗﺔ )
Sekarat ( ﺳﻜﺮﺍﺕ )
Serikat ( ﺷﺮﺍﻛﺔ )
Sebab (سبب)
Silaturrahmi ( ﺻﻠﺔ ﺍﻟﺮﺣﻢ )
Sihir ( ﺳﺤﺮ )
Sujud ( ﺳجود )
Surat ( ﺳﻮﺭﺓ )
Syirik ( ﺷﺮﻙ )
Syukur ( ﺷﻜﺮ )
Selamat ( ﺳﻼﻣﺔ )
Senin ( ﺍﺛﻨﻴﻦ )
Selasa ( ﺛﻼﺛﺎﺀ )
Setan ( ﺷﻴﻄﻠﻦ )
Siasat ( ﺳﻴﺎﺳﺔ )
Sifat ( ﺻﻔﺔ )
Silsilah ( ﺳﻠﺴﻠﺔ )
Shalat ( ﺻﻼﺓ )
Soal ( ﺳﺆﺍﻝ )
Sohib ( ﺻﺎﺣﺐ )
Sulthan ( ﺳﻠﻄﺎﻥ )
Sunnah ( ﺳﻨﺔ )
Syarat ( ﺷﺮﻁ )
Syair ( ﺷﺎﻋﺮ )

T
Taat ( ﻃﺎﻋﺔ )
Tabiat ( ﻃﺒﻴﻌﺔ )
Tauhid ( ﺗﻮﺣﻴﺪ )
Tabib ( ﻁﺑﻴﺐ )
Takhayul ( ﺗﺨﻴﻞ )
Takabbur( ﺗﻜﺒﺮ )
Takdir ( ﺗﻘﺪﻳﺮ )
Tawakkal( ﺗﻮﻛﻞ )
Tawadhu( ﺗﻮﺍﺿﻊ )
Tamak ( ﻁﻣﻊ )
Tamat ( ﺗﻢﺕ )
Taubat ( ﺗﻮﺑﺔ )
Telaah ( ﻡﻃﺎﻟﻌﺔ )
Tertib ( ﺗﺮﺗﻴﺐ )
Tafsir ( ﺗﻔﺴﻴﺮ )

U
Umat ( ﺃﻣﺔ )
Umum ( ﻋﻤﻮﻡ )
Umur ( ﻋﻤﺮ )
Unsur ( ﻋﻨﺼﺮ )
Ustadz ( ﺃﺳﺘﺎﺫ )

V

W
Wasit ( ﻭﺍﺳﻂ )

waswas ( ﻭﺳﻮﺍﺱ )
Wajah ( ﻭﺟﻪ )
Wajib ( ﻭﺍﺟﺐ )
Wakil ( ﻭﻙﻳﻞ )
Waktu ( ﻭﻗﺖ )
Wali ( ﻭﺍﻟﻰ )
Warisan ( ﻭﺭﺍﺛﺔ )
Wilayah ( ﻭﻻﻳﺔ )
Wujud ( ﻭﺟﻮﺩ )

X

Y
Yakin ( ﻳﻖﻳﻦ )
Yakni ( ﻳﻌﻨﻲ )
Yatim ( ﻳﺖﻳﻢ )

Z
Zalim ( ﻇﺎﻟﻢ )
Zakat ( ﺯﻛﺎﺓ )
Zaman ( ﺯﻣﺎﻥ )
Ziarah ( ﺯﻳﺎﺭﺓ )
Zuhud ( ﺯﻩﺩ )

Surat Ancaman PKI Tahun 1953 Sebut Islam Agama Arab, Mirip Saat Ini

Kehebohan publik belum berhenti atas pidato Megawati yang menyebut “Kalau mau jadi orang Islam, jangan jadi orang Arab.”

Akun media sosial LASKAR CYBER mengunggah fakta sejarah Surat Ancaman PKI di tahun 1953 kepada tokoh-tokoh Islam dan para ulama, salah satunya kepada Kyai Haji DJAHARI.

Dalam surat ancaman PKI ini mirip propaganda di masa kini. Tinggalkan agama Arab, kembali ke ajaran leluhur nusantara.

Berikut isinya:

Tertanggal 25 Djuli 1953

Kepada

H. DJAHARI

Di

Tjibeureum

Bebas!

Dengan ini kami peringatkan kepada kamu, jang mempunjai kedudukan sebagai; Agen Agama ‘Arab, penjebar agama D.I, kawan/pembantu D.I, sebagaimana telah kami peringatkan pada rapat umum PKI di Lapang Oleh Raga Tjibeureum, SUPAJA SETERIMANJA PERINGATAN INI, SUPAJA TOBAT, SUPAJA MENGHENTIKAN SEMUA GERAKNJA, SUPAJA KEMBALI KEPADA AGAMA KARUHUN KITA SILIWANGI. Tentang Tuhan Allah jang kamu takuti tentang Muhammad penipu jang kamu pudja, biarkan kami jang menumpas/melawannja.

Kami menunggu bukti tobat kamu; AWAS AWAS, sekali lagi AWAS, Ingatlah pembalasan dari kami kaum PROLETAR.

Dari kami

RAKJAT PROLETAR TJIBEUREUM

img_20170119_055614 img_20170119_055716

Petisi Bubarkan PDIP

img_20170119_060238

Beredar petisi online bertajuk, “Bubarkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,” bersamaan dengan perayaan ulang tahun ke-44 partai itu di Assembly Hall JCC, Senayan, Jakarta, kemarin. Ribuan netizen merespons petisi online yang beredar luas di media sosial seharian kemarin tersebut.

Petisi bubarkan partai berakronim PDI Perjuangan itu dibuat pada la­man Change.org. Petisi yang ditu­jukan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) itu dibuat oleh seseorang men­gatasnamakan Abyan Karami.

Hingga kemarin sore pukul 18.17 wib atau sekitar 19 jam sejak dimuat di dunia maya, petisi tersebut telah ditan­datangani lebih dari 6.109 orang.

Pada pengantar petisi, Abyan menulis, pembubaran PDI Perjuangan layak dilakukan karena melanggar ketentuan UUD 1945 dan Pancasila. “Bubarkan PDIP karena sudah melanggar UUD 45. Partai politik secara langsung ikut melanggar konstitusi dan Pancasila, jika tetap mengusung dan membela penista agama. Konsekuensi tegas bagi par­tai pendukung yang telah melanggar ketentuan UUD 1945 dan Pancasila, layak dibubarkan,” tulisnya merujuk kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang mencalonkan diri men­jadi gubernur DKI Jakarta periode kedua pada pilkada 2017.

Petisi itu juga ramai dikomen­tari khalayak netizen pada laman Change.org. Di antaranya, akun Suherman Herman mendukung pembubaran PDI Perjuangan. “Saya ingin PDI Perjuangan dibubarkan karena telah melanggar dan men­gubah UUD ’45,” katanya.

Akun Didi Sandiki juga mendu­kung isi petisi tersebut. Dia menilai, kader PDI Perjuangan banyak terli­bat kasus korupsi. “Partai ini sangat korup,” tulisnya.

Senada, Taufiq Qurrohman men­gaitkan kerjasama yang terjalin antara PDI Perjuangan dengan Partai Komunis China, “PDIP banyak melakukan kegaduhan, menebar fitnah, terindikasi mendukung komunisme.”

Demikian juga pendapat dr. Desra Erwin Aiyuzi. Menurutnya, cuk­up alasan MK membubarkan PDI Perjuangan. “Partai yang isinya orang-orang yang tidak memiliki ideologi seperti rakyat Indonesia kebanyakan.”

Simak Video Berikut Opini Cak Nun Tentang Pidato Megawati

Konklusi

Bahwasanya yang memusuhi Islam itu PKI.

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s