Cuplikan Isi Buku

img_20170120_082314

Penipuan di Masa Kampanye.

Resmi sudah Jokowi-JK berpasangan maju berhadapan dengan Prabowo-Hatta. Kampanye yang paling tinggi profilnya tentu saja adalah acara debat capres ala KPU.

Pendukung Jokowi sudah siap bersorak mendukung jagonya, betapa pun tolol dan naifnya omongan Jokowi-JK.

Misalnya Jokowi berkata bahwa dia adalah ahli e-budgetting dengan sistem manajemen real time, di mana penyimpangan anggaran bisa diketahui seketika dan secepatnya. Pendukungnya bersorak-sorak mengagumi omongan Jokowi itu, sambil melupakan bahwa omongan Jokowi itu kontradiktif dengan kenyataan bahwa kasus impor bus karatan dari China menunjukkan kelemahan kontrol anggaran oleh Jokowi sebagai Gubernur Jakarta.

Kalau e-budgetting dan kontrol manajemen anggaran DKI berjalan sesuai omongan Jokowi dalam debat Capres, berarti dia sudah mengetahui penyimpangan sejak awal. Toh semua penyimpangan terus terjadi sampai ketahuan bus-nya karatan. Berarti Jokowi terlibat sejak awal?

Kalau Jokowi benar-benar tidak tahu terjadi penyimpangan, berarti omongan dia dalam debat capres itu hanya bualan bernilai nol besar ? Tapi pendukungnya sudah kosong kepalanya, mereka tetap bersorak dengan gegap gempita. Alwi Shihab bahkan melonjak-lonjak seperti kera di deretan depan para pendukung Jokowi.

Jokowi-JK mendukung pemekaran daerah dan Pilkada langsung. Prabowo-Hatta menentangnya. Anehnya, kiai-kiai dan buya-buya pendukung Jokowi lupa, bahwa NU dan Muhammadiyyah sudah sepakat bahwa Pilkada langsung lebih banyak kejelekannya daripada kebaikannya. Dan semua Jokowers tetap bersorak-sorak dengan segala kekosongan kepalanya.

Yang paling tragis adalah ketika Prabowo berani menyatakan secara terbuka bahwa dia sanggup menutup kebocoran sampai Rp 1000 trilyun per tahun dari kekayaan nasional kita ke tangan pihak-pihak serakah di luar negeri.

Pak tua Jusuf Kalla, entah benar-benar bego, atau pura-pura bego, ngomong bahwa tidak mungkin terjadi kebocoran APBN sebesar itu, yang berarti anggaran bocor Rp 3 trilyun per hari. Dramatisasi kata-kata bohong yang benar-benar pernah keluar dari mulut si tua bangka Jusuf Kalla !

Kalla seharusnya dibentak saat itu juga, siapa yang ngomong itu kebocoran dari APBN ?!!!

Prabowo tidak sekalipun ngomong dari APBN, melainkan dari potensi penipuan sistem bagi hasil tambang-tambang kita dan dari penggelapan pajak tambang.

Prabowo juga menyebutkan dengan jelas bahwa dia mempercayai sinyalemen kebocoran kekayaan negara itu dari makalah Ketua KPK Abraham Samad di sebuah ceramah yang bahkan menyebutkan angka sampai Rp 7.000 trilyun per tahun.

Anehnya pula, Samad pura-pura tidak tahu duduk persoalannya dan dia tidak berani mengeluarkan pernyataan bahwa benar-benar dia pernah mengeluarkan pernyataan yang kemudian disitir Prabowo itu dengan margin toleransi luar biasa, hanya diambil angka minimal Rp 1000 trilyun.

Kalla malah dengan aneh berbicara tentang APBN, entah karena dia pikun, bego, lupa, atau pura-pura.

Jokowi tidak berbicara apa-apa kecuali hanya mencungir-cungirkan hidungnya persis seperti dulu Abu Lahab menghina Nabi Muhammad sebagai orang gila dengan dakwah agama barunya.

Di internet, seluruh Jokower bersorak : bocor, bocor, bocor !
Betul-betul kegoblokan yang luar biasa telah terjadi dengan penggelapan dan penipuan terhadap akal sehat dan nasib rakyat banyak menghadapi kejahatan asing yang sudah dan tetap di depan mata dan telah memiskinkan kita selama puluhan tahun.

Jokowers sudah menutup telinga terhadap peringatan orang sejujur Kwik Kian Gie yang dengan jelas berkata :
“Kita akan menghadapi persoalan ekonomi yang luar biasa beratnya. Kita butuh presiden yang super tegas seperti Prabowo yang mengerti ekonomi makro karena mendapat pendidikan langsung dari ayahnya, Professor Soemitro Djojohadikusumo.

Jokowi bisa mengundang makan orang Solo ke Balaikota untuk berbicara dan menangani persoalan-persoalan di Solo. Tapi apa dia akan mengundang makan orang dari seluruh Indonesia untuk menyelesaikan masalah nasional kita ?”

Omongan-omongan naif Jokowi seperti soal Drone, Buyback Indosat, Tank Leopard merusak aspal dan jembatan, tol laut dan sebagainya pun menjadi simfoni merdu sekali di telinga para jokower yang sudah rusak otak dan hatinya.

Penggiringan opini yang menyesatkan telah terjadi secara besar-besaran dan sedemikian dahsyatnya, dilengkapi dengan pembunuhan karakter besar-besaran terhadap Prabowo-Hatta mulai dari singkatan pelecehan Prahara sampai dengan akrobat jenderal kancil Wiranto.
Prabowo-Hatta Rajasa mereka singkat Prahara. Mereka sebar kabar bohong bahwa Prabowo adalah calon bermasalah dan Hatta Rajasa adalah bos mafia minyak Petral.

Yang paling sontoloyo dalam pembunuhan karakter Prabowo soal tuduhan penculikan tentu saja Wiranto dan Hendro Priyono.
Dua orang yang pernah berambisi menjadi presiden di era masing-masing.

Hendro Priyono diam-diam menyiapkan diri menjadi penganti Soeharto sejak dia menjadi Komandan Korem Garuda Hitam di Lampung.

Dia mencari muka kepada Soeharto dengan melaporkan seolah-olah terjadi gerakan teroris kanan yang dipimpin oleh Warsidi di Talangsari.

Padahal Korem adalah komando teritorial, bukan komando operasi.
Kalau gerakan ekstrim kanan Warsidi bukan isapan jempol Hendro Priyono saja, maka Mabes TNI lah yang harus memberikan perintah penyerbuan kepada gerakan separatisme di daerah.

Jenderal Moerdani yang tahu kelakuan Hendro tidak bisa berbuat apa-apa karena Hendro ini masih familinya Ibu Tien Soeharto.
Kita memang harus mengakui bahwa salah satu kelemahan Pak Harto adalah besarnya campur tangan Ny. Tien Soeharto dalam urusan-urusan seperti ini.

Misalnya, Radius Prawiro menjadi Menteri Perdagangan abadi di setiap kabinet Pak Harto gara-gara dia juga saudara Ibu Tien.
Pak Harto memang lemah terhadap keluarganya, sebagaimana Bung Karno lemah terhadap wanita-wanitanya.

Mochtar Lubis pernah menuding Bung Karno korupsi dana pampasan perang dari Jepang karena membiarkan Sari Dewi (Naoko Nemoto, mantan hostess/geisha/model porno) menguasai pembangunan Hotel Indonesia.

Mochtar Lubis juga pernah menghantam Pak Harto gara-gara Bu Tien memerintahkan para gubernur se Indonesia menyetor uang Rp 50 juta per provinsi untuk dana pembangunan Taman Mini Indonesia Indah.
Mochtar menganggap proyek itu proyek Mercusuar yang tidak berguna bagi rakyat banyak.

Anehnya, Ali Sadikin justeru menjadi penyokong utama Ibu Tien karena Ali yakin Taman Mini akan meningkatkan gengsi kota Jakarta.
Bung Karno menjadi lemah kepada PKI karena cintanya yang menderu-nderu kepada kader Gerwani Hartini.

Pak Harto menjadi lemah kepada Kolonel Sengkuni Hendro Priyono karena Pak Harto tidak enak kepada isteri beliau, Siti Hartinah.

Saya yakin bahwa yang dimaksud LB Moerdani saat dia memperingatkan Pak Harto bahwa keamanan politik Pak Harto terancam karena ulah keluarganya sendiri, termasuk jenis tentara licik seperti Hendro Priyono ini.

Pak Harto marah dan Moerdani ditinggal pergi tidur dan ditinggalkan sendirian di meja bilyar.

Munir adalah aktivis yang paling getol mempermasalahkan hilangnya ratusan orang sebagai akibat operasi gelap Hendro Priyono di Talangsari, Lampung itu.

Padahal pada waktu itu belum ada yang namanya jaringan terorisme Alqaeda. Osama bin Laden masih mesra dengan keluarganya di kerajaan Saudi dan justeru menjadi sekutu Amerika Serikat bertanam ganja di Afghanistan sambil memerangi Uni Soviet.

Warsidi hanyalah penganut tarekat “aboge” yang dia terima dari guru-gurunya di Jawa.

Hendro lah yang menyusupinya dengan orang-orang yang menghasut Warsidi menolak memasang bendera merah putih, membayar pajak dan sebagainya.

Bukannya membina, Hendro langsung membinasakan mereka untuk mencari muka dan agar cepat naik pangkat karena waktu itu hubungan Pak Harto dengan ummat Islam agak terganggu, yang dimulai sejak penerbitan PP 10 –atas desakan Bu Tien juga yang sedang marah karena Pak Harto berpacaran dengan Rahayu Effendi- yang melarang pegawai negeri berpoligami, dan kiai-kiai PPP walk out dari ruang sidang DPR. Karena umumnya kiai-kiai beristeri minimal dua.

Hendro Priyono lah yang menjadi dalang pembunuhan Munir. Yang menjadi anteknya adalah Pollycarpus, seorang prelatur (kaki tangan) Vatikan, yang kebetulan menjadi pilot Garuda dan direkrut Hendro menjadi agen BIN untuk meracuni Munir.

Yang menjadi kambing hitam adalah Mayjend Muchdi Paranjono, sekutu Prabowo yang mengajak Prabowo kudeta di tahun 1998 tapi ditolak Prabowo.

“Ayo kita bikin konfrontasi !” ajak Muchdi ketika Prabowo dipecat Habibie dari Panglima Kostrad.

Hendro tentu tidak ingin Prabowo yang jadi presiden dan Muchdi PR menjadi kepala BIN, karena Muchdi akan balik memotong leher Hendro.
Maka Hendro pun mati-matian mendukung Jokowi dan dari mulut orang semacam Hendro inilah muncul kampanye hitam terhadap Prabowo : “Tentara psikopat grade empat !”

Padahal Prabowo ini sejak masih mayor sudah menjadi kesayangan M. Jusuf dan ketika Prabowo menjadi wakil komandan batalyon yang berhasil menembak Wakil Presiden Fretilin Lobato, M. Jusuf menyempatkan diri terbang ke Dilli untuk mengucapkan selamat kepada Prabowo, sambil memeluknya :

“Kamu akan menjadi orang besar seperti orangtua-orangtuamu !”

Jangan tanya kok wakil komandan yang dipeluk Pangab, karena komandan batalyonnya gugur di pertempuran.

Jenderal lain yang empot-empotan jidatnya jika Prabowo yang naik tentu saja adalah Wiranto, rival utama Prabowo menjelang Pak Harto jatuh dan semasa jabatan Habibie.

Pak Harto mencurigai Prabowo atas bisikan-bisikan maut Wiranto. Habibie ditipu Wieranto bahwa Prabowo mau kudeta. Tanya saja kepada Muhcdi PR apakah Prabowo pernah berniat kudeta. Jawabnya pasti tidak, malah saya yang kepingin kudeta, begitu pasti jawaban Muchdi, Komandan Kopassus yang ikut diseret-seret Wiranto dalam sidang DKP.

Munir, sebelum mati juga terang-terangan menuding Wiranto sebagai dalang penembakan Trisakti dan kerusuhan Mei yang membakar Jakarta.

“Prabowo memang terlibat penculikan, itu kan perintah Soeharto juga. Tapi mana mungkin Prabowo membikin kerusuhan yang mempercepat kejatuhan Soeharto. Jadi mestinya Wieranto berani menyidang Prabowo di Mahkamah Militer, seperti permintaan Prabowo sendiri. Kalau cuma di DKP ya percuma, itu cuma sidang etika, bukan sidang pro justisia,” kata Munir.

Prabowo selalu menegaskan bahwa semua yang dia lakukan diperintahkan oleh dan dia laporkan kembali kepada atasan-atasannya.
Tuduhan sekaligus vonis DKP (Dewan Kehormatan Perwira) adalah pemberian perintah di luar pengetahuan atasan.

Bagaimana DKP bisa memutuskan demikian, padahal dalam sidang itu tidak terjadi pengungkapan apa-apa karena Prabowo hanya mau membeberkan bukti-bukti tertulis yang dimilikinya di depan Mahkamah Militer ?

Sidang DKP Cuma ngobrol-ngobrol saja karena semua anggotanya (SBY, Agum Gumelar, Fakhrurrazy, dan Soebagyo HS) semua tidak punya nyali berhadapan dengan Prabowo.

Akhirnya Wiranto main vonis saja dan memberikan usulan kepada Habibie agar Prabowo Subianto diberhentikan dari dinas militer secara hormat dengan hak pensiun.

Prabowo menerima saja keputusan itu tanpa melakukan perlawanan sedikitpun karena dia tahu Wiranto telah berkomplot dengan Habibie dan kepada Pak Harto telah diberikan laporan-laporan palsu tentang hubungannya dengan kelompok-kelompok pro reformasi dan apa yang dilakukan para pendukung Prabowo yang membawa surat Jenderal Nasution yang isinya merekomendasikan agar Wiranto diganti sebagai Pangab karena gagal mencegah kerusuhan Mei sebelum Pak Harto jatuh.
Mengenai penculikan aktivis yang melibatkan Prabowo, kita boleh yakin seyakin-yakinnya bahwa itu atas perintah Soeharto dan juga diketahui oleh Wiranto sebagai KSAD dan Feisal Tanjung sebagai Pangab.

Adalah akal-akalan Wiranto saja yang mengarahkan keputusan DKP agar Prabowo dipersalahkan karena melakukan penculikan atas inisiatif Prabowo sendiri.

SBY sendiri hanya bermain mengikuti angin bertiup dan dalam irama gendang yang ditabuh Wiranto, begitu pula anggota-anggota DKP yang lain.

“Saya menuntut pengadilan militer, bila saya dipersalahkan sebagai anggotga militer. Tapi mereka tidak berani, mereka tidak punya nyali berhadapan langsung dengan saya !” kata Prabowo kepada koran The Asian Times seperti dikutip Eros Djarot dalam bukunya : ”Tumbangnya Seorang Bintang”.

Kita tidak tahu apakah perintah Pak Harto itu penangkapan atau penghilangan, karena seperti kata Gus Dur, Pak Harto itu seperti Raja Jawa yang berprinsip apa yang diperbuat tangan kanannya, tangan kirinya pun tidak boleh tahu (sangat memegang rahasia). Tapi Pak Harto bahkan tidak pernah mengingkari bahwa dia pernah membiarkan pembantaian orang-orang PKI dan gali-gali kelas teri di jaman Moerdani.

Lagi pula dalam operasi inteljen semacam itu, amat riskan untuk membebaskan mereka yang sudah ditangkap hidup-hidup. Resikonya mereka akan menyanyi.

Justeru di sini kita harus mempertanyakan, apakah Prabowo melanggar perintah Pak Harto untuk melenyapkan para korban penculikan atas inisiatif Prabowo sendiri ?

Sebagai menantu, Prabowo tentu sudah punya feeling bahwa Pak Harto memang akan segera jatuh, dan Prabowo tidak ingin mertuanya itu menambah panjang daftar dosanya.

Justeru karena itu pula Prabowo lalu dicurigai oleh Pak Harto akan mengambil alih kekuasaan.

Wiranto lah yang kemudian mengail di air keruh, dengan menggunakan tim lain, dia memerintahkan operasi sampingan untuk menculik kembali beberapa orang yang sudah dibebaskan Prabowo untuk mendiskreditkan Prabowo di mata Pak Harto agar Wiranto semakin mendapat kepercayaan.

Kivlan Zen mengaku mengetahui tim sampingan yang menculik kembali orang-orang yang dibebaskan Prabowo itu dan Kivlan siap bersaksi di depan Komisi Rekonsiliasi Nasional untuk mengungkap juga keterlibatan Megawati dan Moerdani serta Hendropriyono dalam aksi-aksi kerusuhan Mei di Jakarta yang sengaja dibiarkan Wiranto dengan pergi menghadiri upacara seremonial TNI di Malang.

“Saya tahu di mana mereka ditembak dan ke mana mayatnya dibuang. Semua itu diperintahkan oleh orang yang ingin menjatuhkan Prabowo. Saya bersedia bersaksi di depan sebuah Panitia Nasional untuk menyelidiki masalah-masalah itu !”

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Wiranto mempunyai hubungan tidak profesional dengan Mamiek Soeharto.

Mamiek lah yang menuding muka Prabowo dengan jangak :
“Kamu pengkhianat, jangan pernah kamu injakkan kaki lagi di rumah ini !” kata Mamiek yang menurut kabar burung bukan anak Pak Harto dan Bu Tien tapi adalah anak Tutut yang lahir sebelum Tutut menikah resmi dengan suaminya Rukmana ini, jadi Mamiek itu anak Tutut dan Rukmana, di luar nikah.

Lagi pula secara logis kita harus berpikir, jika Wiranto mengaku tidak tahu terjadinya penculikan, justeru dia bersalah karena tidak tahu itu.

Seorang Panglima harus tahu apa pun yang dilakukan oleh bawahannya. Kalau tidak tahu berarti dia Panglima goblok.

Faizal Tanjung diperintah Pak Harto membunuh Gus Dur dan Megawati saja Wiranto tahu dan membocorkan itu kepada Gus Dur kok ?
Benarkah itu atau memang Wiranto ini yang memang suka ngember sejak dulu kala ?

Yang jelas Gus Dur sendiri yang menceritakan laporan Wiranto soal perintah Feisal Tanjung itu.

Bagaimana bisa Wiranto mengaku tidak tahu apa yang dilakukan Prabowo sejak menjadi Danjen Kopassus dan menyangkut target belasan orang itu ?

Sebuah hil yang mustahal, meminjam lelucon pelawak Asmuni almarhum, artinya hal yang mustahil.

Yang paling fatal adalah ketika Wiranto mengatakan keputusan Sidang DKP (atau nama lainnya DKM, Dewan Kehormatan Militer) itu tidak rahasia-rahasia betul, makanya boleh saja dijadikan bahan kampanye untuk memojokkan Prabowo.

Mana ada aturan militer yang tidak tegas seperti itu. Rahasia ya rahasia, tidak rahasia ya tidak rahasia.

Secret is secret. There is no half secret.
Siiruka as sirruka, idzaa arsalta hu fa anta sirruhu.

Rahasiamu adalah tawananmu, kalau engkau melepaskannya maka engkau menjadi tawanan rahasiamu itu.

Itu kata Gus Dur dalam bahasa Arab.

Wiranto ngember di Metro TV bahwa dia siap dituntut Prabowo jika dianggap membocorkan rahasia TNI itu. Itulah model retorika goblok Wiranto. Buat apa menuntut kegoblokan itu, ketika seluruh dunia sudah tahu jenis jenderal kayak apa Wiranto itu ?

Dalam jangka pendek, itu memang menguntungkan Jokowi karena para bebek pengikutnya akan semakin getol menghujat Prabowo berdasarkan pembocoran dokumen hasil sidang DKP itu.

Tapi itu juga keuntungan besar bagi Prabowo, nanti setelah para Jokower sembuh dari penyakit gilanya setelah sihir Jokowi pudar dalam hitungan bulan.

Bukankah mantan Menteri Sekretaris Negara jaman Habibie, Professor Muladi sudah memberi kesaksian bahwa usulan pemberhentian Prabowo dengan hormat dan hak pensiun Rp 3.750.000 itu ditulisi sendiri oleh Wiranto : Bersifat rahasia !

Jadi ada lagu untuk Wiranto ini : Kau yang mulai, kau yang mengakhiri, soal diktum rahasia itu !

Dalam bahasa gaul, Wiranto adalah Jenderal Brekele dan tidak punya malu lagi dibentak-bentak Pak Johanes Suryo Prabowo, Pak Joko Santosa, dan Pak Kivlan Zen dengan namanya langsung : Hai To, Wiranto !

Para Jokower tidak henti-hentinya bilang bahwa Prabowo adalah jenderal pecatan, biarlah Tuhan sendiri yang kelak membakar mulut mereka yang penuh sampah itu.

Mereka juga bilang, Prabowo diberhentikan dengan hormat karena Wiranto dan Habibie masih menghormati Pak Harto.

Menghormati Pak Harto dari Hongkong ? Wiranto membiarkan mahasiswa naik ke atap gedung DPR untuk mempercepat kejatuhan Pak Harto kok. Wiranto juga berencana menggunakan peluru tajam untuk membantai massa yang mau datang ke acara Amien Rais di Monas.

Kalau itu terjadi, maka Pak Harto akan segera jatuh dengan nama yang buruk sekali. Oleh karena itu Prabowo menemui Amien Rais dan meminta Amien Rais membatalkan acara di Monas itu.

Wiranto segera membisiki “pacarnya” si Mamiek, bahwa Prabowo telah bersekutu dengan Amien Rais, dan terjadilah drama pengusiran Prabowo dari Cendana itu, sementara Wiranto adalah peserta gelap dalam rapat keluarga Soeharto itu.

Prabowo tetap tegar dalam pendiriannya, secara konstitusional, Habibie memang akan naik menggantikan Pak Harto, suka tidak suka Pak Harto-nya.

Prabowo menolak desakan Adnan Buyung Cs agar mengambilalih kekuasaan.

Begitu banyak saksi sejarah yang dengan gamblang membuktikan bahwa Prabowo bukanlah seorang tentara bermental kudeta.

Tapi dalam masa kampanye, semua Jokower sudah buta matanya dan budek telinganya. Mereka lupa, bahwa pada tahun 2009, ketika Prabowo maju sebagai calon wakilnya Megawati, tidak ada ember-ember berbunyi nyaring seperti di tahun 2014 ini dari mulut Wiranto, Hendro, Luhut, maupun Agum Gumelar soal kasus penculikan 1998.

Soal Luhut dan Agum, tidak penting-penting amat untuk dibahas. Luhut masih bersaudara dengan Sintong Panjaitan, kader Moerdani, Prabowo hater sejak lama.

Agum Gumelar sudah sejak lama pula dikantongi Megawati bahkan pernah dicalonkan menjadi Gubernur Jawa Barat tapi keok melawan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf !

Yang lebih menarik adalah sikap Panglima TNI Moeldoko soal pembocoran dokumen DKP oleh Wiranto itu. Moeldoko berkata, tidak ada dokumen itu di Mabes TNI.

Kalau Moeldoko tidak bohong, maka berarti sidang DKP itu sidang abal-abal yang tidak diagendakan resmi oleh Mabes TNI dan tidak ada dokumentasinya, dan murni akal-akalan Wiranto Cs.

Kalau dokumen itu sebenarnya ada, maka Moeldoko lah yang berbohong untuk melindungi Wiranto dari tuduhan serius membocorkan rahasia TNI.

Mengingat gerak-gerik Moeldoko sebelumnya dan sesudahnya, agaknya yang kedua inilah yang terjadi.

Moeldoko berbohong untuk menyelamatkan bokong Wieranto yang sedang diperlukan kebohongannya oleh Megawati untuk memenangkan Jokowi dan memfitnah Prabowo.

Siapakah Bambang Tri?

Bambang Tri salah satu penulis senior indonesia  yang bernaung di bawah Penerbit Pustaka Pesantren melalui  akun akun sosmed facebook  miliknya (19/11) dengan sangat sadar serta  sengaja menyebut Presiden Jokowi Anak PKI.Dia juga menyebut Jokowi telah memalsukan dokumen identitas asli dirinya untuk bisa menjadi presiden.Bambang Tri terkenal dengan buku andalannya yang populer ber judul “JOKOWI UNDER COVER”.

Buku Jokowi under cover ini adalah buku yang kusus di buat oleh Bambang Tri untuk  mengungkap secara rinci tentang “JOKOWI ANAK PKI” .Menurut Bambang Tri Jokowi adalah anak PKI tulen yaitu anak dari WIDJIATNO alias “Nyoto” sang tokoh PKI.Menurut Bambag Tri Jokowi anak PKI tulen yang tak bisa di bantah.

Untuk memperkuat fakta tuduhannya tersebut bahkan Bambang Tri menantang Jokowi untuk menuntutnya secara hukum serta test DNA sebagai pembuktian.Bambang Tris Siap di tuntut secara Hukum untuk pembuktian  Bahwa Jokowi adalah Anak PKI asli begitulah bunyi postingannya pada halaman facebook miliknya. Bertahun-tahun Bambang tri melakukan tuduhan secara terus menurus hingga dalam bentuk tantangan secara hukum  dan Test DNA. Tidak ada respon dari pihakPresiden ataupun pemerintah serta penegak untuk menanggapi tantangan tersebut.Seolah-olah tantangan itu tidak pernah ada.Kenapa orasi Ahmad Dhani pada aksi 411 bisa begitu cepat di tanggapi oleh Penegak Hukum Ngeri ini.Begitu juga dengan tuduhan pelecehan presiden yang di lakukan oleh ongen melalui foto jokowi dengan nikita mizarmi meskipun akhirnya tuduhan itu tidak terbukti.

Postingan tertanggal 15 november 2016


“BUKU JOKOWI UNDERCOVER TANGGUNGJAWAB PRIBADI SAYA….
Kalau Jokowi laki-laki, dia harus berani ketemu saya……SAYA SAJA BERANI KOK DIA TIDAK BERANI …….”


“JOKOWI MEMANG “JODOH” SAYA 
Tak kan lari gunung dikejar, kalau jodoh tak lari ke mana.
Saya sudah siapkan mahar, JOKOWI UNDERCOVER dan Jokowi sudah saya lamar untuk BERTEMU, BERKELAHI, BERTINJU…POKOK-NYA TERSERAH JOKOWI.
Dia boleh naik tank, saya akan datang sendiri jalan kaki….KALAU PERLU DEMO TUNGGAL KE ISTANA………………..”


“SAYEMBARA ILMIAH…
Bagi siapa saja yang bisa membuktikan bahwa BUKU JOKOWI UNDERCOVER BAMBANG TRI MENGANDUNG FITNAH…….ANDA AKAN MENDAPAT HADIAH MILYARAN RUPIAH DARI JOKOWI……DAN KEPALA SAYA…BAMBANG TRI …gratis !”


“HORMATI-LAH JOKOWI, BAGAIMANAPUN DIA PRESIDEN-MU/….
Saya menghormati Jokowi, maka saya bertanya SIAPA IBU ANDA PAK ?????
DAN APAKAH INI FOTO BAPAK ANDA PAK ?….
Cara menghormati presiden itu macam-macam…
Bukan hanya MENJILAT BOKONG-NYA SAJA………
PARA PENJILAT ITU YANG TIDAK MENGHORMATI JOKOWI….”

img_20170120_082006


“KO-NOTASI PALU ARIT…
Setiap orang bebas memberikan konotasi Palu-Arit. 
Termasuk BANK INDONESIA yang memasang gambar palu arit di uang RP 100 RIBU.
Kalau saya, konotasi PALU ARIT…JOKOWI-AHOK.
Jokowi Palu, Ahok Arit ! TITIK !
Palu Arit yang diimpor dari CHINA !”


Postingan pertanggal 14 november 2016

“DARI HULU KE HILIR
Bambang Tri bukan Provokator. Karena Provokator tidak akan menulis buku yang harus dia pertanggungjawabkan secara hukum.
Akun FB ini adalah akun resmi, dan satu-satunya akun yang saya punya.
SAYA HANYA WARGA NEGARA BIASA YANG MENGGUNAKAN HAK SAYA UNTUK TAHU SIAPA SESUNGGUHNYA JOKOWI, ANAK PKI ATAU BUKAN, MEMALSUKAN JATIDIRI ATAU TIDAK, PEMBOHONG ATAU TIDAK, BERBAHAYA BAGI NKRI ATAU TIDAK ?
TERNYATA JAWAB-NYA ADALAH ANAK PKI, PEMALSU DATA BIOGRAFI DI KPU, MEMBOHONGI SELURUH RAKYAT INDONESIA TENTANG ASAL-USUL KELUARGA-NYA…..DAN BERBAHAYA BAGII NKRI KARENA JELAS-JELAS DIA ANTEK CHINA…..
BUNUHLAH SAYA……..SUARA SAYA DARI DALAM KUBUR AKAN TERDENGAR LEBIH KERAS LAGI….
HARI INI SAYA MATI, BESOKNYA JOKOWI AKAN MENYUSUL DIGANTUNG RAKYAT….

AYO KITA BUKTIKAN,,,,,,,,,,,”


Masih Banyak Lagi Postingan-Postingan Bambang Tri Silakan Cek Disini…

Jokowi Angkat Bicara

img_20170120_082803

Presiden Joko Widodo angkat bicara soal buku Jokowi Undercover. Buku tersebut berisi fitnah terhadap Jokowi dan keluarganya.

Penulisnya, Bambang Tri Mulyono, sudah ditangkap dan ditahan oleh kepolisian beberapa waktu lalu.

Jokowi menyesalkan pembuatan buku tersebut karena tidak disertai dengan adanya kaidah ilmiah yang digunakan dalam penulisannya.

“Setiap pembuatan buku ada kaidah-kaidah ilmiah, ada materi yang harus diperdalam di lapangan, ada sumber-sumber kredibel yang bisa dipercaya,” ucap Jokowi.

“Kalau sumber-sumber enggak jelas dan enggak ilmiah, ngapain saya harus baca dan komentari,” ujarnya.

ilmiah, ada materi yang harus diperdalam di lapangan, ada sumber-sumber kredibel yang bisa dipercaya,” ucap Jokowi.

“Kalau sumber-sumber enggak jelas dan enggak ilmiah, ngapain saya harus baca dan komentari,” ujarnya.

Bareskrim Polri telah menangkap Bambang Tri Mulyono selaku penulis buku. Penangkapan dilakukan setelah adanya penyelidikan dugaan penyebaran informasi berisi ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo yang dia tulis dalam bukunya.

Setelah diperiksa pasca-penangkapan, Jumat (31/12/2016), Bambang ditahan oleh Bareskrim Polri. Bambang dikenakan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Dalam pasal itu disebutkan, siapa saja yang sengaja menunjukkan kebencian terhadap ras dan etnis tertentu akan dipidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta.

Bambang juga dijerat Pasal 28 ayat 2 UU ITE karena menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terhadap individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Ibunda Presiden Jokowi, Sudjiatmi (Foto: VOA/Yudha)

Ibunda Presiden Jokowi, Sudjiatmi (Foto: VOA/Yudha)


Keluarga Presiden membantah tudingan penulis buku tersebut. Paman Presiden Jokowi, Miyono, pekan lalu,menegaskan karir politik Jokowi sejak mencalonkan diri Walikota Solo, Gubernur DKI, hingga Pemilu Presiden membuktikan keluarganya tidak bermasalah.

Ibunda Presiden Jokowi, Sujiatmi, saat ditemui di rumahnya mengatakan tuduhan itu sebagai bentuk fitnah. Menurut Sujiatmi, keluarga berharap penulis buku tersebut segera menyadari dampak fitnah.

“Ya semoga pelaku segera sadar, mendapat hidayah dari Tuhan bahwa yang dilakukannya itu fitnah. Keluarga besar saya tidak ada satupun yang terlibat organisasi seperti itu. Yang dituduhkan pada keluarga saya itu tidak ada buktinya, saya tegaskan keluarga besar saya tidak ada yang seperti itu.Kakek anak saya itu dulu Kepala Desa, masak keluarga kepala desa terlibat organisasi seperti itu,” kata Ibu Sujiatmi.

”Bapak itu anak tokoh kepala desa, lurah, kemudian menikah dengan saya, anak tukang kayu,” lanjutnya.

Selang beberapa hari menangkap penulis buku, Tim Bareskrim Mabes Polri dan Polda Jawa tengah juga sudah melakukan pengecekan dokumen di KPU Solo dan menggeledah rumah penulis buku tersebut di Blora, Jawa Tengah.

Alasan Bambang Tri Membuat buku ‘Jokowi Undercover

Bambang Tri Mulyono, pengarang buku berjudul ‘Jokowi Undercover’ melacak jejak sang pemalsu jatidiri, Prolog Revolusi Kembali ke UUD 45 Naskah Asli menyatakan meski dituding memfitnah Jokowi dalam bukunya sebagai keturunan anak PKI bersikukuh jika bukunya dibuat berdasarkan riset.

Pria asal Blora ini menceritakan jika proses pembuatan bukunya itu diawali pada tanggal 3 Desember 2014 menemukan foto, Widjiatno seorang pria yang wajahnya mirip dengan Jokowi di di situs http://www.antifaker-Indonesia.com. Foto bertahun 1955 yang dijadikanya sebagai foto cover buku Jokowi Undercover itu menggambarkan pria mirip Presiden Jokowi itu mengawal tokoh PKI Aidit. Widjiatno itulah yang dianggapnya sebagai ayah kandung Jokowi.

Bambang Tri mengaku akibat tulisan itu dirinya sempat dicurigai bahwa dirinya orangnya Prabowo yang kebetulan saat menemukan foto pria mirip Jokowi mengawal Aidit itu menjelang Pilpres 2014.

Kemudian, Bambang Tri juga mengaku menemukan kejanggalan pada foto pertunangan Jokowi. Dirinya tidak ingin masuk dan terjebak pada isu itu (Pilpres). Lalu memulai memperdalam riset dan menemukan foto pertunangan Jokowi dengan istrinya Iriyana yang menurutnya palsu. Di foto itu, seolah-olah dibuat Jokowi adalah anak kandung Sujiatmi.

Padahal Jokowi menurut buku Bambang Tri adalah anak kandung seorang wanita Cina Yap Mei Hwa dari pernikahanya bersama Widjiatno, pengawal tokoh PKI Aidit. Di foto itu juga ada sosok Sudjadi, mantan politisi Golkar yang kini menjadi Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan yang dalam foto tubuhnya diganti dengan tubuh Widjiatno. Di dalam foto, ibu kandung Jokowi Yap Mei Hwa wajahnya diganti dengan foto wajah Sujiatmi.

Bambang Tri juga menemukan dokumen saat Jokowi mendaftarkan diri ke KPU sebelum dirinya menjadi Calon Presiden (Capres) dan memenangkan pertarungan Pilpres 2014 yang didampingi oleh wakilnya Jusuf Kalla. Saat itu Jokowi bertarung dengan Capres Prabowo Subianto.

Selain itu, kejanggalan yang terjadi saat dirinya usai menulis buku Jokowi Undercover ini dirinya ditelepon beberapa orang-orang yang menyatakan kepadanya jika buku yang dia tulis mengandung unsure kebenaran.

Bambang Tri juga mengungkapkan, jika dalam buku Jokowi Undercover ini, dirinya secara lugas dan tegas menjelaskan jika Almarhum Presiden Soeharto bukanlah sebagai antek-antek atau dalang terjadinya PKI.

Dia merasa jika fakta yang ditemukanya selama menyusun buku Jokowi Undercover ini harus disampaikan kepada masyarakat. “Saya yang harus jelaskan langsung kepada masyarakat. Apalagi, setelah diperiksa (Polda Jateng) tidak ada pengangkatan status saya sebagai tersangka. Makanya saya menghadiri diskusi di Magelang,” bebernya.

Bambang Tri bahkan mengaku jika usai menulis buku sudah mengirimkan ke beberapa pejabat untuk disampaikan langsung kepada Jokowi. Namun, sampai saat ini tidak ada tanggapan dan klarifikasi dari Jokowi.

Bambang Tri meminta kepada Jokowi untuk mengklarifikasi terkait beberapa temuan yang ditulisnya dalam buku Jokowi Undercover ini yang dianggapnya sebagai bukti yang syah. “Buku saya syah dibuat. Saya minta supaya Pak Jokowi lakukan klarifikasi. Buku saya tidak ada yang bertentangan,” terangnya.

Logikanya, menurut Bambang Tri, jika ada yang salah tulisan dalam bukunya mengapa Jokowi tidak melaporkan dirinya ke polisi.

Isu Jokowi keluarga PKI ini pernah beredar beberapa waktu lalu. Badan Intelijen Negara (BIN) langsung melakukan penyelidikan dan hasilnya, mereka memastikan tidak ada catatan bahwa orang tua Presiden Jokowi adalah tokoh atau kader PKI, baik di Giriroto, Boyolali, maupun di daerah lain.

Siapa dalang di balik buku Jokowi Undercover?

Siapa dalang di balik penulisan serta penerbitan buku berjudul “Jokowi Undercover” masih terus ditelusuri. Polisi yakin setidaknya ada penyokong dana di balik buku ini.

“Dugaan adanya penyokong itu dimungkinkan. Penyokong itu pasti mengarah ke sumber tertentu,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Boy Rafli Amar kepada media di Istana Kepresidenan, Jumat 6 Januari 2017.

Boy menduga, selain penyokong dana, juga ada aktor intelektual di balik buku tersebut. Sebab penulis buku, yakni Bambang Tri Mulyono, ternyata tidak memiliki kemampuan menulis.

Hal ini terungkap setelah polisi menangkapnya di Kecamatan Tunjungan, Blora, pada Jumat, 30 Desember 2016. Bambang ditangkap atas dugaan menyebarkan ujaran kebencian dan fitnah.

Setelah diperiksa, polisi kemudian meragukan tingkat intelektualitas Bambang Tri yang dianggap tidak cukup tinggi untuk menulis buku. Ini terlihat dari susunan kalimat pada buku tersebut yang amburadul. “Ada keraguan terhadap kapasitas yang bersangkutan,” kata Boy.

Selain itu Bambang Tri juga ternyata tidak memiliki fakta dan data yang bisa digunakan penulis untuk menuding Presiden Jokowi dalam buku undercovernya. Dalam bukunya, antara lain, Bambang menuduh Presiden Jokowi memalsukan data diri saat mengajukan diri sebagai calon presiden 2014 lalu

Saat ini, menurut Boy Rafli, buku tersebut sudah terjual sekitar 200 hingga 300 eksemplar. Boy mengatakan pihaknya akan terus mengejar siapa aktor di balik penulisan dan penerbitan buku ini.

Bagaimana Menurut Pendapat Seorang Akademisi?

MECIUM KEPANIKAN [Part1] ____________________________________________ Video by @fuadbakh #fuadbakh @indonesialawyersclub #indonesialawyersclub ____________________________________________ "Merdeka hanyalah sebuah jembatan, Walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!" [Ir. Soekarno] ____________________________________________ Rocky Gerung – Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi – Dosen Filsafat Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) ____________________________________________ Rocky Gerung menyampaikan “Kita mencium ada semacam kepanikan di dalam rezim ini. Orang panik biasanya ingin cari pegangan apa saja. Kayak orang hanyut, dia mau raih apa saja. Entah itu kaleng bekas hanyut, batang pohon. Jadi kepanikan menunjukkan ada krisis, sebetulnya.” . . Mari selalu doakan negeri kita dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin ____________________________________________ #indonesia #jakarta #indonesialawyersclub #hoax #jokowi #rockygerung #UI #universitasindonesia #FIB – #regrann

A post shared by Gerakan Indonesia Bertauhid (@indonesiabertauhid) on

MENCIUM KEPANIKAN [Part2] ____________________________________________ Video by @fuadbakh #fuadbakh @indonesialawyersclub #indonesialawyersclub ____________________________________________ "Merdeka hanyalah sebuah jembatan, Walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!" [Ir. Soekarno] ____________________________________________ Rocky Gerung – Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi – Dosen Filsafat Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) ____________________________________________ Rocky Gerung menyampaikan “Sore tadi saya baca, Pak Jokowi bilang, ‘Jangan membaca Jokowi Undercover karena buku itu tidak ilmiah’. Saya anggap itu hoax,” kata Rocky disambut tawa sebagian peserta ILC. . “Karena yang ngomong itu adalah presiden, memberi penilaian pada buku tidak ilmiah. Tentu kita bisa bikin semacam simulasi dari mana Pak Jokowi tahu. O, pasti kalau ada wartawan tanya dia akan bilang, ‘kata Pak Tito. Kapolri’ Lho, Pak Tito rektor UI atau rektor IPB itu?,” kembali peserta ILC tertawa. . “Jadi Anda lihat bahwa, bahkan presiden menyebar hoax itu. Dari sudut pandang definisi lho,” tegas Rocky disambut tepuk tangan. . Menurutnya, yang berhak menentukan suatu buku ilmiah atau tidak adalah kampus. Sementara buku tersebut justru dilarang dibahas di kampus untuk mengetahui ilmiah atau tidaknya. Itulah paradoks. . . Mari kita selalu doakan negeri Indonesia dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin ____________________________________________ #indonesia #jakarta #indonesialawyersclub #hoax #jokowi #rockygerung #UI #universitasindonesia

A post shared by Gerakan Indonesia Bertauhid (@indonesiabertauhid) on

MENCIUM KEPANIKAN [Akhir] ____________________________________________ Video by @fuadbakh #fuadbakh @indonesialawyersclub #indonesialawyersclub ____________________________________________ “Pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media dia punya. . Orang marah (dengan pernyataan Rocky Gerung ini -red). Tapi itu faktanya. Bahwa hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin dia berbohong tapi potentially dia bisa lakukan itu,” kembali tepuk tangan meriah mengiringi pernyataan Rocky. ____________________________________________ Rocky Gerung – Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi – Dosen Filsafat Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) ____________________________________________ ____________________________________________ "Merdeka hanyalah sebuah jembatan, Walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!" [Ir. Soekarno] . Mari kita doakan semoga negeri Indonesia selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin ____________________________________________ #indonesia #jakarta #hoax #jokowi #rockygerung #universitasindonesia #fib

A post shared by Gerakan Indonesia Bertauhid (@indonesiabertauhid) on

SEKARANG GILIRAN ANDA MENILAI SENDIRI

REFERENSI :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s