Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyatakan perang pada pemerintah Indonesia


Kelompok Sipil Bersenjata Papua Nyatakan Perang pada Indonesia

img_20170122_073530

Jakarta GATRAnews – Kelompok Sipil Bersenjata Papua yang menyebut diri sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyatakan perang pada pemerintah Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Goliath Tabuni di markas mereka di Kwiyawagi, Papua Barat. “Kami nyatakan siap perang dengan militer Indonesia untuk Papua merdeka,” kata Goliath Tabuni lewat siaran pers yang diterima GATRA hari ini (Minggu, 8 Januari 2017). Siaran pers itu terima  GATRA.com dari TPNPB atas perintah dari Sebby Sambom, juru bicara Organisasi Papua Merdeka.

 

Goliath Tabuni mengklaim sebagai pimpinan panglima tinggi Komando Nasional, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dengan pangkat Jenderal. Ia mengaku memimpin 7 Komando Daerah Pertahanan (KODAP) di wilayah pegunungan Papua Barat.

 

Pernyataan yang disampaikan dalam upacara gabungan 7 KODAP itu, menurut Tabuni, ditujukan kepada Pemerintah Indonesia, Dunia Internasional, Oranisasi Perjuangan Papua Merdeka, dan Birokrat Orang Asli Papua di seluruh wilayah Papua Barat.

img_20170122_073512

“Kami bukan ras melayu, kami ras Melanesia,” kata Tabuni. Pada puncak acara yang dilaksanakan pada 19 Desember 2016 di Markas KODAP Kwiyawagi Papua Barat itu disebutkan dihadiri oleh ribuan rakyat Papua serta  prajurit TPNPB.

Tujuh KODAP telah berkomitmen satukan semua kekuatan senjata dan amunisi yang dimiliki dari KODAP masing-masing yang telah hadir pada acara itu.  Patok wilayah kekuasaan TPNPB juga telah tentukan.

Aparat militer Indonesia, lanjutnya, dilarang melintas dari Habema, Tinggina, dan sekitarnya. Jika kedapatan militer Indonesia melintas wilayah yang telah patok, ancam Tabuni, TPNPB tetap akan tembak mati. Hal itu diungkapkan langsung oleh seorang Panglima KODAP Kwiyawagi dalam pernyataanya pada acara itu, 19 Desember 2016.

img_20170122_073725

Pimpinan KODAP yang turut hadir dalam acara ini adalah, Brigjend Militer Murib selaku panglima KODAP Sinak bersama Kepala Staf KODAP bersama anggotanya, Pimpinan KODAP Kwiyawagi Brigjend. Biliru Murib, Panglima Daerah Kwiyawagi dan Panglima Daerah Ilaga Brigjend Peni Murib, serta komandan operasi Lekagak Telenggen selaku Painitia Penyelenggara Kegiatan.

Pernyataan sikap itu dibacakan oleh Lekagak G. Telenggen, selaku Panitia Penyelenggara kegiatan, di panggung dalam upacara bendera. Di akhir upacara, mereka melakukan rapat  pimpinan bersama prajurit dari KODAP, menyusun strategi bersama untuk melakukan revolusi.

(Link: http://www.gatra.com/nusantara/maluku-papua/237795-kelompok-sipil-bersenjata-papua-nyatakan-perang)

Ini Pernyataan Perang dari Panglima OPM Goliath Tabuni

img_20170122_074525

Jakarta GATRAnews – Dalam siaran pers yang diterima GATRA.com hari ini, Minggu (8/1/17) Goliath Tabuni yang mengklaim sebagai Jenderal dan Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menyatakan perang terhadap Pemerintah Indonesia. Tabuni juga mengundang PBB, khususnya tentara di pangkalan Amerika di Darwin, Australia, untuk masuk Papua.

 

Dalam pernyataan tersebut juga nampak ada perpecahan dalam tubuh organisasi papua merdeka. Karena itu Tabuni memperingatkan organisasi lain untuk menolak pimpinan lain selain Tabuni.

 

Berikut pernyataan lengkap Goliath Tabuni sesuai aslinya (pernyataan sikap ini mulanya ditulis huruf besar semua).

 

Pernyataan Sikap

Bahwa, dengan mengingat perjuangan kemerdekaan bangsa Papua Barat, maka Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), sebagai Tentara Perjuangan Benteng Nasional Bangsa Papua, yang memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat dan bangsa Papua Barat.

Dengan ini, dibawah Pimpinan Jenderal Goliath Tabuni kami menyeruhkan dan menyatakan pernyataan sikap.

 

Pertama : Kepada Komando Daerah Pertahanan (KODAP) di seluruh wilayah Papua Barat, segerah melaksanakan revolusi tahapan sesuai perintah panglima tinggi tanggal 11 Desember 2012 di Tingginambut.

 

Kedua : TPNPB di seluruh pegunungan, pesisir pantai di Papua Barat bersatu dalam satu komando nasional, dan sekarang kami satukan kekuatan senjata dan amunisi. Maka kami nyatakan sikap bahwa siap perang lawan militer Indonesia hanya untuk satu tujuan Papua merdeka.

Ketiga : TPNPB perang bukan minta otonomi, pemekaran atau minta makan minum, tetapi TPNPB perang untuk merebut kemerdekaan Papua Barat, maka perlawanan bersenjata TPNPB dan militer Indonesia, tidak akan berhenti sebelum misi perdamaian PBB masuk di Papua Barat.

Keempat : Kami menyeruhkan kepada negara-negara pendukung kemerdekaan Papua Barat di seluruh dunia, bahwa segerah mendesak PBB untuk kirim pasukan perdamaian pangkalan militer Amerika yang ada di Darwin Australia masuk di Papua untuk mengadakan referendum Papua Barat.

img_20170122_074756

OPM 19 Desember 2016 (Dok GATRAnews)


(Link: http://www.gatra.com/fokus-berita-1/237806-kelompok-sipil-bersenjata-papua-pecah)

Goliath Tabuni Tidak Pernah Jadi Pengusaha Kayu

img_20170122_080221

Bupati Puncak Jaya, Henok Ibo, pernah mengatakan Jenderal Goliath Tabuni merintis usaha kayu. Karena merintis profesi baru, maka ini menjadi kabar baik buat pemerintah. Namun, pernyataan Henok Ibo, itu dibantah Sebby Sambom, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

 

Menurut Sebby, Goliath adalah Pejuang dan Pemimpin Militer TPNPB-OPM. Goliath Tabuni, lanjutnya, telah mengangkat senjata dari sejak masih muda, dari tahun 1970-an.

 

“Yang perlu diingat adalah, Henok Ibo selalu melakukan propaganda murahan seperti itu,” katanya menjawab pertanyaan GATRA lewat email hari ini, Senin, (9/1/17).

 

Menurut Sebby, Henok Ibo pernah membawa-bawa orang-orang kampung dari Puncak Jaya ke Jakarta. “Dia bilang ini anggota OPM yg menyerah, pada hal sebenarnya tidak,” katanya. Sebby melanjutkan, Henok Ibo hanya mencari popularitas sambil menjual isu TPN-OPM. “Henok Ibo telah dan sedang menipu Pemerintah dan Rakyat Indonesia,” tegasnya.

Sebby mengklaim, semua orang asli Papua tidak biasa kompromi dengan  Indonesia. “Group ini menolak semua program Pemerintah Indonesia,” katanya. “Bangsa Papua mempunyai Hak untuk Merdeka sendiri seperti bangsa-bangsa lain,” katanya.

“Jenderal Goliath Tabuni bukan Pengusaha kayu, Jenderal Goliath Tabuni adalah Panglima Tinggi TPNPB OPM,” katanya. Dan TPNPB-OPM siap berperang dengan Indonesia. Kekuatan TPNPB-OPM adalah Roh Tuhan, Roh Alam Papua, dan Roh-roh Moyang bangsa Papua.

Menurut aktivis yang tinggal di Papua Nugini ini, TPNPB-OPM tahu kemampuan tentara Polisi Indonesia. “Kami siap lawan dan bunuh TNI/POLRI kemudian ambil senjata dan amunisi mereka untuk tetap bertahan dan akan terus melakukan perlawanan,” katanya.

TPNPB-OPM mempunyai 24 Komado Pertahanan(KODAP) di seuruh tanah Papua dari Sorong sampai Merauke dan juga di Papua Nugini. “Saat Revolusi total untuk lawan Indonesia, kami akan serang indonesia dari Timur dan Barat pulau New Guinea.  Demikian, kami siap lawan Indonesia sekalipun Indonesia kuat,” katanya.

(Link: http://www.gatra.com/nusantara/maluku-papua/237969-goliath-tabuni-tidak-pernah-jadi-pengusaha-kayu)

Unjuk rasa Papua Merdeka diwarnai pendobrakan pintu KJRI Melbourne

img_20170122_074253

Unjuk rasa Papua Merdeka di depan KJRI Melbourne, Australia. Foto: Erwin Renaldi/ABC


Sekitar 30 orang lebih dari simpatisan gerakan seperatis Papua Barat berunjuk rasa, hari ini, di kantor KJRI Melbourne. Seorang diantaranya ditahan polisi Melbourne

Kepolisian Victoria menahan satu pengunjuk rasa dan memasukkannya ke dalam mobil polisi, karena melumuri dinding gerbang kantor KJRI dengan cat merah.

Pada Jumat (6/1), bendera separatis Papua Merdeka, Bintang Kejora, dikibarkan di kantor KJRI Melbourne, Australia, sekitar pukul 12.52 waktu setempat. Pengibaran dilakukan saat para staf KJRI sedang melakukan salat Jumat. Pelakunya diduga dua orang tak dikenal, kemungkinan dari etnis Kaukasia.

Sebelum unjuk rasa dimulai, polisi telah berulang kali memperingatkan pengunjuk rasa untuk tidak menghalangi jalan umum, tidak mengotori, dan merusak properti milik umum atau pun pribadi.

Dalam hukum di negara bagian Victoria, tindakan menerobos properti orang lain bisa dituntut dengan hukuman maksimal enam bulan penjara dan denda senilai $2.500, atau lebih dari Rp 25 juta.

Sebelum menahan satu orang, satu orang wanita poengunjuk rasa mencoba mendobrak gerbang kantor KJRI sambil meneriakkan “free West Papua”. Anggota polisi Victoria dengan sigap langsung menggotong pelaku sambil meminta keterangan, sebelumnya akhirnya pengunjuk rasa tersebut dibebaskan.

Unjuk rasa yang diberi nama Rally for West Papua digelar sejak pagi di depan kantor KJRI Melbourne di kawasan Albert Park.

Disebutkan acara ini digelar oleh organisasi People Need Houses, yang secara rutin mengkampanyekan masalah tunawisma dan perumahan sosial di Australia.

Unjuk rasa disebutkan ada 159 orang tertarik untuk datang dan 572 orang yang diundang. Dari pantauan di lapangan, ada 30 orang lebih yang hadir ke unjuk rasa tersebut.

Namun kemudian di lapangan tidak diketahui pasti siapa yang menggelar unjuk rasa di kantor KJRI yang berada di kawasan Queens Road, tersebut.

Tidak ada pula yang mengaku datang dari organisasi People Need Houses.

“Saya datang kesini setelah mendapat telepon dari teman akan ada unjuk rasa. Sepertinya ini dari beberapa organisasi saja,” ujar salah seorang yang datang ke unjuk rasa, seperti dikutip dari ABC Australia Plus Indonesia.

Mereka mulai menggelar unjuk rasa dengan membentangkan beberapa spanduk sekitar pukul 11:00 pagi waktu Melbourne.

Unjuk rasa dimulai dengan menyanyikan beberapa lagu, diantaranya terdengar dalam bahasa Papua.

Jacob Rumbiak, dari organisasi United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dalam orasinya mendukung seorang warga Australia naik ke atas gedung kantor KJRI Melbourne pekan lalu (6/11) dan membentangkan bendera kelompok separatis Papua.

Jacob adalah aktivis asal Papua Barat yang telah mengasingkan diri di Australia, setelah menjadi tahanan politik selama sepuluh tahun di Indonesia.

Ada sekitar lima orang yang memberikan orasi dalam unjuk rasa tersebut, termasuk seorang pengunjuk rasa yang merujuk pada insiden baru-baru ini di pusat pelatihan militer Australia di Perth dengan penyebutan ‘Pancagila’ yang dikaitkan dengan persepsi dirinya soal apa yang terjadi di Papua Barat.

Sekitar pukul 12:00 unjuk rasa selesai, ditutup dengan menyanyikan sejumlah lagu bersama sambil meneriakkan slogan “Papua Merdeka”, dan salah satu pengunjuk rasa berteriak, “jangan lupa, teriakkan juga Maluku merdeka”.

(Link: http://rimanews.com/nasional/keamanan/read/20170111/313206/Unjuk-rasa-Papua-Merdeka-diwarnai-pendobrakan-pintu-KJRI-Melbourne)

Bagaimana Dengan Opini Rakyat Papua Terkait Pernyataan Goliath Tabuni?


Tokoh Agama Papua: Itu Isu Bohong Goliat Nyatakan Perang

img_20170122_075607

Pendeta Yohanes Jonga (GATRAnews/UCAN Indonesia)


Jayapura, GATRAnews – Panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM), Goliat Tabuni diyakini sudah tak memiliki kekuatan ataupun anak buah yang membahayakan. Walaupun masih memiliki pengikut, namun pergerakan Goliat Tabuni untuk perjuangan Papua merdeka dianggap makin tak terdengar lagi.

“Goliat itu sudah tidak berbahaya dan tua. Umurnya sekitar sekitar 60-an tahun. Saya pikir tak mungkin Goliat akan eksis lagi. Apalagi Goliat sudah tak dapat lagi bergerak banyak,” ucap salah satu tokoh agama, Pastor Yohanes Jonga kepada GATRAnews, Selasa (10/1).

Menurut Jonga, justru kelompok OPM yang berbahaya saat ini adalah Puron Wenda dan Enden Wanimbo yang bermarkas di Kabupaten Lanny Jaya. Pastor yang mendapatkan penghargaan Yap Thiam Hien 2009 lalu ini juga menyebutkan bahwa kekuatan OPM saat ini terus pecah dan mengecil. Apalagi diantaranya kelompok OPM sudah kesulitan untuk memberikan dukungan satu dengan yang lainnya.

Menurut Jonga, situasi Papua saat ini aman dan dirinya tak mendengar adanya isu bahwa Goliat akan menyatakan perang dengan kekuatan 7 Kodap. “Jika ada informasi yang menyebutkan Goliat menyatakan perang, saya rasa itu sangat mustahil. Apalagi banyak isu yang menyebutkan Goliat dan kelompoknya sudah bergabung dengan pemerintah. Ultimatum perang itu isu bohong! Apalagi Goliat yang menyatakan hal tersebut,” terangnya.

(Link: http://www.gatra.com/fokus-berita-1/238175-tokoh-agama-papua-itu-isu-bohong-goliat-nyatakan-perang)

Kodam Cenderawasih: Pernyataan Perang Goliat? Kami Ketawa Sajalah…

Warga Distrik Tingginambut yang diklaim sebagai markas OPM Goliat Tabuni (GATRAnews/Katharina Lita)

Warga Distrik Tingginambut yang diklaim sebagai markas OPM Goliat Tabuni (GATRAnews/Katharina Lita)


Jayapura, GATRAnews – Kodam XVII/Cenderawasih mengklaim situasi Tanah Papua dalam keadaan aman dan kondusif. Bahkan hampir seluruh masyarakat Papua sedang mempersiapkan Pemilukada serentak Februari 2017 mendatang. Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Teguh Pudji Rahardjo menyebutkan pernyataan ultimatum perang yang dinyatakan oleh Goliat Tabuni, salah satu pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Puncak Jaya diduga terkait indikasi dukung mendukung dalam kelompok OPM pada Pilkada di Puncak Jaya.

“Pernyataan itu malahan kami indikasikan karena didalam kelompok Goliat ada saling mendukung kandidat dalam pilkada setempat. Situasi di Puncak Jaya atau wilayah lain, aman-aman saja,” jelasnya kepada GATRAnews, Senin (10/1). Kodam Cenderawasih juga mengklaim tak mendapatkan surat ataupun sejenisnya yang menyatakan perang dari keompok OPM itu. “Kalau menyatakan perang ya ke kami, bukan ke media. Kami tak menerima langsung pernyataan yang tak bisa dipertanggung jawabkan ini,” ungkapnya.

Bagi Kodam Cenderawasih, Goliat Tabuni adalah masyarakat biasa yang wajib dilindungi dan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk membangun daerahnya. Walaupun Goliat memiliki anggota atau anak buah yang sudah bergabung dengan NKRI, Kodam Cenderawasih masih menunggu Goliat untuk turun gunung dan bergabung dengan pemerintah.

“Enumbi itu kan pengawalnya. Enumbi sudah menyerahkan diri ke NKRI dan bergabung membangun daerahnya. Untuk pernyataan perang tersebut, ya kami ketawa saja lah. Tak perlu ditanggapi itu. Kami yang dilatih perang saja, justru ingin perang dengan pembangunan, artinya membuka keterisolasian Papua dengan pembangunan,” ucapnya.

Kodam Cenderawasih mengaku walau sejumlah anak buahnya sudah menyerah dan bergabung dengan NKRI, kelompok Goliat Tabuni masih memiliki kekuatan senjata, walaupun kekuatannya sangat kecil. “Goliat itu sudah tua dan sakit-sakitan, kami ga perlu tanggapi dia lah,” kata Teguh.

Sebelumnya, Goliat Tabuni menyataan perang terhadap pemerintah. Dalam rilis yang diterima GATRAnews, Goliat juga telah mengumpulkan kekuatan dari 7 komando daerah pertahanan (Kodap) untuk perang dengan pemerintah.

(Link: http://www.gatra.com/fokus-berita-1/237990-kodam-cenderawasih-pernyataan-perang-goliat-kami-ketawa-sajalah)

10 Orang Mantan OPM Diajak Plesiran Keliling Jakarta

Teranus Enumbi (kanan), komandan pleton OPM wilayah Tingginambut yang menyerahkan diri (GATRAnews/Khatarina Lita)

Teranus Enumbi (kanan), komandan pleton OPM wilayah Tingginambut yang menyerahkan diri (GATRAnews/Khatarina Lita)


Jayapura, GATRAnews – Sebanyak 10 mantan anggota Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) sore tadi diberangkatkan ke Jakarta. Dibawah pimpinan Kepala Distrik Tingginambut, Yulius Tabuni, 10 orang mantan OPM ini akan berkunjung ke sejumlah tempat wisata, diantaranya Monas, Taman Mini Indonesia Indah, Ancol dan juga mengunjungi Gereja Katedral dan Gereja Immanuel.

Dandim 1714/PCJ, Letkol Inf. Bayu Sudarmanto saat mendampingi mereka sebelum kepergiannya ke Jakarta dengan penerbangan sore tadi menyebutkan selama berada di Jakarta, ke-10 orang ini juga dijadwalkan akan bertemu dengan Kepala BIN, Sutiyoso.

“Kami bersyukur anak buah Goliat Tabuni yang merupakan pimpinan OPM di Tingginambut sudah sadar dan mau menyerahkan diri kepada pemerintah. Teranus Enumbi adalah salah seorang Danton dari pasukan Goliat Tabuni. Dia tangan kanan Goliat. Teranus juga orang yang paling ditakuti, tetapi dia sudah sadar dan mau menyerahkan diri ke pemerintah,” ungkapnya, Jumat (29/1).

Sementara itu, Kepala Distrik Tingginambut Yulius Tabuni menuturkan keberangkatan ke-10 orang ini untuk memberikan pencerahan bagi mereka bahwa Indonesia itu luas, dengan demikian akan terbuka bagi pikiran mereka untuk ikut membangun daerah Tingginambut.

“Kita juga ingin teman-teman ini (mantan OPM) mengetahui perkembangan pembangunan di luar sana. Sebelumnya kan mereka telah melihat perkembangan pembangunan di Jayapura,” ucapnya.

Bukan Rekayasa Sedangkan Mathius Murib, salah satu aktivis HAM di Papua menyebutkan penyerahan diri 10 orang mantan anggota OPM ini bukanlah rekayasa, seperti tudingan dari Juru bicara OPM, Anton Tabuni. Sebab dalam proses penyerahan diri itu ada proses bakar batu. “Proses penyerahan diri ini nyata dan terbuka. Semua anggota keluarga dari 10 orang mantan OPM ini mengetahui penyerahan diri itu dan menghadiri proses bakar batu,” ujar Mathius ditempat yang sama.

Dirinya mengklaim tak memihak siapapun, baik pemerintah ataupun Goliat Tabuni. Sebab setelah proses penyerahan diri ini, pemerintah menjamin ke-10 orang ini akan aman. Apalagi ke-10 orang ini memiliki hak sebagai warga negara.

“Saya juga meminta kepada pemerintah untuk ke-10 orang ini dperlakukan secara baik, apalagi rata-rata dari mereka usianya masih muda. Misalnya saja pemerintah memberikan kembali hak untuk mengenyam pendidikan, lalu difasilitasi jika ingin memiliki usaha dan diberikan pekerjaan serta perumahan,” paparnya.

Lanjut Mathius, dirinya berharap, jika ke-10 orang ini terlibat dalam kasus baku tembak di masa lalu, harus dilihat kembali proses itu. “Ya, mari kita lupakan semua itu dan menerima merteka kembali. Hormati mereka sebagai warga negara,” harapnya.

(Link: http://www.gatra.com/nusantara/nasional/184670-10-orang-mantan-opm-plesiran-ke-jakarta)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s