Penampakan Peta Pertama Dunia

Pada tahun 1507, Martin Waldseemüller menerbitkan sebuah peta dunia dan memberi benua baru ini dengan nama ‘Amerika’ berdasarkan pada nama Latin Amerigo Vespuci Americus sebagai penghormatan bagi pencetus benua baru, Amerika, saat ini.

Peta berharga ini ditemukan kembali di Jerman pada tahun 1901. Pada tahun 2001 peta ini dibeli oleh Perpustakaan Kongres senilai Rp 133 miliar, dan secara simbolis diserahkan oleh Kanselir jerman Angela Merkel pada tahun 2007.

Florida dan Kepulauan Karibia.

img_20170122_234458

Pesisir benua Asia.

img_20170122_234645

Pesisir timur benua Asia.

img_20170122_234750

Pesisir timur laut Amerika Selatan.

img_20170122_234855

Eropa, Mediterania dan Afrika Utara.

img_20170122_235001

Benua Asia.

img_20170122_235110

Asia Tenggara.

img_20170122_235236

Pesisir timur Amerika Selatan.

img_20170122_235345

Benua Afrika.

img_20170122_235440

Madagaskar dan Samudera Hindia.

img_20170122_235603

Bagian Timur dari India.

img_20170122_235743

12 peta yang digabungkan.

img_20170122_235924

Peta Bumi Yang Selama Ini Dipelajari di Sekolah Ternyata Salah

Selama di sekolah, kita tak luput dari pelajaran geografi. Tapi tahukah Anda, ternyata 7 peta bumi yang ternyata dipelajari selama ini ternyata salah.

Mungkin sebagian dari kita pasti heran? Tidak mungkin yang dipelajari di sekolah selama ini salah. Tapi jika kalian melihat delapan bukti yang akan kami berikan ini, bisa jadi sebagian dari kalian mulai meragukan keaslian pelajaran di sekolah kita selama ini.

Sejak di bangku sekolah, kita sudah dibuat familiar dengan bentuk peta yang terpajang di dinding kelas, maupun yang kita pelajari di atlas maupun geografi. Akurasi bentuk peta ternyata tak merepresentasikan bentuk aslinya.

Peta yang biasa kita lihat ternyata tak berbentuk bagaimana semestinya daratan tersebut berbentuk. Hal ini masuk akal, dikarenakan Bumi sebenarnya bulat dan peta dipaksakan untuk berbentuk dua dimensi. Dari sinilah ketidak akuratan muncul, di mana peta datar dua dimensi yang disebut “Proyeksi Mercator” ini membuat beberapa ukuran negara jadi terlihat lebih besar.

Bumi yang bentuknya bulat ini membuat berbagai negara mustahil untuk diperlihatkan dalam bentuk dua dimensi. Tentu berbagai daratan yang ada di Bumi punya ragam bentuk seperti bentuk dan tekstur. Bentuknya antara lain berbentuk hati atau bahkan berbentuk kerucut. Namun peta Mercator yang sudah populer sejak abad ke 16 ini, membuat kita punya asumsi yang salah terhadap luas suatu negara. Asumsi ini makin kacau jika di peta kita melihat wilayah yang makin dekat dengan kutub Bumi.

Contohnya bisa kita lihat di beberapa negara seperti Inggris. Jika di peta, kita lihat negara Ratu Elizabeth tersebut terlihat cukup besar. Namun jika mengukur luasnya, Inggris tak lebih besar dari Jepang, Selandia Baru, Madagaskar, bahkan Sumatera. Greenland pun demikian. Terlihat sebagai pulau yang sangat besar dan punya ukuran yang hampir sama dengan Afrika, secara luas Afrika punya luas 14 kali Greenland.

Luas Indonesia diperkirakan sebesar 1.905 juta km² ya? Namun pada kenyataannya, peta Indonesia yang ada di Globe dan kenyataannya itu berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa Bumi itu ternyata sangat misterius! Tak hanya Indonesia, masih ada beberapa negara lain yang luasnya berbeda jika dipindahkan ke garis khatulistiwa.

Rusia

img_20170123_001227

Bila negara Rusia  dipindahkan ke garis khatulistiwa, maka wilayah negara itu menjadi sangat kecil.

Amerika Serikat

img_20170123_001341

Ternyata bila peta negara Amerika Serikat disejajarkan dengan Australia, ternyata luas negara tesebut hampir sama.

Ukuran asli Amerika Serikat jika dibandingkan dengan negara lain.

Ukuran asli Amerika Serikat jika dibandingkan dengan negara lain.


Australia

img_20170123_001506

Australia jika diletakkan di Eropa maka petanya bisa menutupi seluruh dataran benua biru.

Romania

img_20170123_001551

Peta sekecil Romania jika dipindahkan ke utara akan sebesar itu.

Greenland

img_20170123_001647

Greenland bila posisinya dipindahkan ke bawah, terlihat sangat kecil.

Jepang

img_20170123_001738

Ternyata Jepang yang kecil begitu, jika petanya digeser ke Kanada maka akan menjadi besar.

Benua Afrika

img_20170123_061804

Ukuran asli Afrika jika dibandingkan dengan negara lain.

Inggris

img_20170123_062028

Perbandingan ukuran Inggris, Selandia Baru, Madagaskar, dan Sumatera.


Contoh lain adalah Alaska yang di peta terlihat cukup besar. Namun kenyataannya, Brasil punya luas lima kali lebih besar ketimbang Alaska. Serta Rusia yang terlihat sebagai negeri yang sangat besar, namun kenyataannya Afrika jauh lebih besar dari Rusia.

Hal ini memperlihatkan bahwa makin mendekati kutub, bentuk sebuah negara di peta akan ‘melar’ dan terlihat makin luas. Padahal sebenarnya tidak. Ukuran-ukuran asli sebuah negara bisa Anda lihat di Http://thetruesize.com/

The Occult History of Java (Pulau Jawa Dulu Berkoloni Dengan Atlantis?)

img_20170123_054127

Pulau Jawa tak dipungkiri jadi pulau utama di Indonesia. Pulau ini sudah sejak lama dijadikan “pangkalan” kolonialisme saat negeri kita belum merdeka.

Beragam etnis pun kumpul di pulau ini. Entah itu dari Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua, hingga tentunya etnis yang memang berasal dari pulau ini, seperti suku Jawa, Sunda, Betawi, hingga Madura.

Tidak dimungkiri pula bahwa Pulau Jawa menyimpan “kegaibannya” sejak sangat lama, bahkan sejak kita mengenal sejumlah kerajaan dari buku-buku sejarah. Banyak versi tentunya yang menaungi sejarah awal mula Pulau Jawa.

Ilustrasi Pulau Jawa yang dulu jadi satu dengan Sumatera dan Kalimantan (Majapahit 1478)

Ilustrasi Pulau Jawa yang dulu jadi satu dengan Sumatera dan Kalimantan (Majapahit 1478)


Salah satu versinya mengatakan bahwa Pulau Jawa sudah jadi sebuah koloni dari bangsa Atlantis pada dua milenium (dua ribu tahun) sebelum Masehi. Pulau Jawa baru terpisah dari Atlantis setelah negeri itu hancur.

Versi itu muncul dari sebuah buku karangan CW Leadbeater bertajuk “The Occult History of Java” yang dicetak pada tahun 2015. Dalam buku Leadbeater tersebut, dikatakan kala Pulau Jawa masih jadi koloninya Atlantis, ilmu-ilmu hitam dan gaib sudah disebarkan ke penduduk lokal.

Buku The Occult History of Java (Thorn Books)

Buku The Occult History of Java (Thorn Books)


CW Leadbeater (Cwlworld)

CW Leadbeater (Cwlworld)


Ada sebuah versi yang menyebutkan Pulau Jawa ini baru mulai dikenal dunia luar setelah kedatangan penjelajah Negeri China, Fa Hien pada tahun 412 Masehi. Saat datang ke Tanah Jawa, Fa Hien mencatat bahwa dia sudah melihat banyak puing-puing tembikar, hingga lukisan yang menandakan pulau itu sudah berpenghuni dan berbudaya, kendati catatan Fa Hien tak menampilkan detail lainnya.

Lalu, benarkah Pulau Jawa dulunya berkoloni dengan Atlantis? Tidak ada yang tahu jawaban pastinya, meski sudah banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa Atlantis memang berada di Indonesia.

Bukti Keberadaan Benua Atlantis

Kisah tentang “benua hilang” Atlantis ini, pertama kali terkuak tatkala seorang filosofis Yunani bernama Plato, mengungkapkan kepada murid-muridnya pada tahun 370 SM (Sebelum Masehi). Ia menceritakan tentang sebuah benua yang ukurannya sebesar Eropa, kota-kotanya indah, dan tanahnya makmur serta pemerintahannya teratur, kemajuan teknologinya tinggi, seperti layaknya dalam negeri khayalan, telah musnah ditelan bencana.

Dan sudah berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya, maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada dialami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebagian kecil dan kami adalah pewarisnya
(Al Qashas (28) ayat 58)

Buku Santos “Atlantis: The Lost Continent Finally found”

Buku Santos “Atlantis: The Lost Continent Finally found”


Diungkapkan, benua itu telah tenggelam ke dasar laut, dan hilang selamanya, karena akibat bencana besar yang diakibatkan oleh kesombongan orang-orangnya. Legenda mengenai Atlantis terus berputar di dunia selama ribuan tahun dan selama kurun waktu cukup lama, Atlantis dianggap menjadi sebuah legenda. Merupakan suatu kisah, yang banyak dipertanyakan orang. Apakah kisah itu mengandung kebenaran atau hanya sebuah dongeng untuk anak-anak sebelum tidur?

Pembuktian untuk mengetahui keberadaan benua hilang itu, memang harus berdasarkan fakta-fakta nyata. Teknologi kelautan selama berabad-abad, belum mampu menguak fakta sejarah itu sehingga keberadaan benua itu hanya sebatas cerita saja.

Para ahli yang berada dalam suatu lembaga “Atlantis Foundation” (Yayasan Atlantis”) di AS, yang didirikan oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu, di antaranya ahli geologi, antropologi dan arkeologi dalam beberapa tahun terakhir ini berusaha mengumpulkan bukti-bukti tentang keberadaan benua yang hilang itu.

Penemuan sebuah peta kuno dari perpustakaan milik Raja Henry, yang hidup memerintah tahun 1500-an oleh Prof. Charles Hopgood, dari Universitas Hamshire, Inggris, lebih meyakinkan keberadaan benua yang hilang itu.

Dalam peta yang terbuat dari kulit domba, tergambarkan benua Atlantis diapit oleh benua Amerika dan Afrika. Dalam peta itu juga digambarkan, banyak armada yang keluar dari Atlantis berlayar ke pulau-pulau di sekelilingnya.

Penyebaran budaya, peninggalan benda-benda dan bangunan-bangunan kuno yang usianya ditaksir ribuan tahun di beberapa wilayah, banyak diindikasikan memiliki erat hubungan dengan budaya Atlantis. Bukti-bukti itu di sebelah Timur tersebar dari mulai selat Giblartar, Libya, hingga ke Timur jauh, dan yang paling banyak temuannya yaitu terkonsentrasi di Mesir dan India sedangkan di sebelah Barat, terkonsentrasi di Amerika Latin.

Peta penyebaran budaya, menurut JB. Allen, antropolog Bolivia yang tergabung dalam Tim itu, lebih cenderung banyak bergerak ke arah Barat daripada ke Timur, dari sejak Romawi kuno, Yunani, Pulau Kreta hingga ke Mesir. Bahkan beberapa bukti kuat juga memperlihatkan, bahwa penyebaran budaya itu, tidak saja ke Mesir bahkan menyebar sampai ke India.

Beberapa bukti fisik membuktikan, bahwa ada sebuah peradaban tinggi pernah “mampir” di daerah itu, umurnya telah ribuan tahun yl, dengan teknologi tinggi. Padahal dengan akal sekarang, tidak mungkin bukti-bukti peninggalan itu dikerjakan dengan teknologi ribuan tahun yl, kalau peradaban mereka rendah.

Dari penemuan-penemuan bukti fisik, banyak pertanyaan yang tidak terjawab hingga sekarang. Seperti halnya peninggalan fisik budaya, yang dari benua Atlantis itu masuk ke Benua Eropa hingga ke India, bahkan dalam data juga disebutkan penyebarannya hingga ke Sunsadvipa, yang diduga itu adalah Indonesia.

Bukti fisik di Afrika, hingga saat ini memang sangat sedikit sekali. Sehingga ada kesan, orang-orang Atlantis tidak memilih benua hitam itu untuk dijadikan tempat tinggal mereka setelah tanah mereka karam ditelan bencana.

Sementara itu bukti-bukti di daerah Barat, terkonsentrasi di Amerika Selatan. Dari beberapa temuan di daerah itu, di antaranya terdapat di seputar Danau Titicaca dan Danau Poopo. Bahkan di sini ditemukan sebuah peta kuno lainnya, yang dibuat oleh Huaman Poa, pada abad ke V, seorang bangsawan bangsa Inca, yang menggambarkan posisi benua Atlantis di antara benua Amerika dan daratan Eropa. , serta garis-garis penyebaran penduduk Atlantis pada kedua benua itu.

Allen mengungkapkan, bila di wilayah Timur, sosok bangsa Atlantis itu tidak jelas. Ke mana sisa-sisa ras mereka, apakah ras Mesir dan India, merupakan hasil persilangan ras mereka?

Maka di Barat, ada catatan yang mengindikasikan bahwa bangsa Atlantis itu sebenarnya adalah bangsa Aztec dan Inca. Dari segi bahasa, antara suku Inca dan Aztec ada kesamaan ucapan. Misalnya “tomato” pada bahasa Inca sama dengan “tamatl” pada bahasa Aztec yang artinya tomat. Begitu juga “chokolatl” pada bahasa Aztec, sama dengan “chocolate” pada bahasa Inca.

Yang lebih menarik lagi ialah, kedua suku bangsa itu dalam catatan kunonya sama-sama mengaku berasal dari suatu tempat yang jauh yang bernama “Aztlan”. Kata Aztlan itu, ternyata lebih dekat dengan kata “Atlantis”, yang memang berada di Timur jauh dari Amerika Selatan. Mereka mengembara dengan menggunakan perahu-perahu besar, terutama ke arah Barat. Itulah sebabnya bukti-bukti keberadaan mereka, terdapat di beberapa kepulauan Inggris hingga ke Antartica, dan dari Kartagena hingga ke Wisconsin.

Namun para “Pemburu Atlantis” masih penasaran, kendati banyak bukti fisik di daratan tapi rasanya kurang “greget” kalau tidak didukung oleh bukti dari lautan. Karena walau bagaimanapun, bila bukti dari lautan itu ditemukan, maka merupakan sebuah kunci, untuk menguak semua tabir misteri benua yang hilang. Sehingga keberadaan Atlantis itu, sudah tidak diragukan lagi.

Fakta geologis ternyata kemudian membuktikan, bahwa di dunia ini pernah terjadi banjir besar hingga memusnahkan seluruh kehidupan umat manusia dan mahluk hidup lainnya. Hal ini juga dikuatkan dalam kitab suci Alquran, Injil, Taurat, Zabur (kisah Nabi Nuh As), atau kitab-kitab suci lainnya termasuk dalam “Veda”, kitab suci agama Hindu.

Ada sebuah pertanyaan besar dari para ahli geologis, yaitu dengan membandingkan kisah “banjir besar” zaman Nabi Nuh (Noah) dalam kitab suci. Apakah tenggelamnya benua Atlantis itu terjadi pada zaman itu, zaman sebelumnya atau zaman sesudahnya.

Pertanyaan lainnya yang mengundang kepenasaran adalah, apakah pada zaman Nabi Nuh, memang di dunia lain ada kehidupan yang sudah lebih moderen seperti diungkapkan Plato.

Selama berabad-abad, kisah tentang benua Atlantis ini, terus mengundang kepenasaranan. Nama Atlantis sudah terpatri selama ribuan tahun yl, dalam sebutan nama sebuah samudra yang cukup besar, antara benua Amerika dan Afrika. Dibandingkan dengan nama-nama samudra lainnya, seperti Samudra India, Samudra Pasifik, justru nama Atlantis mengandung sebuah makna yang amat misterius, yang belum terungkap selama berabad-abad.

Plato yang menuliskan mengenai Atlantis secara lengkap, dalam dua tulisannya “Timeus” dan “Critias” sekitar 370 SM. Diriwayatkan, kisah mengenai Atlantis didengarnya dari pendeta agung Mesir bernama Solon, yang disebut-sebut sebagai orang turunan Atlantis, yang mengungkapkan bahwa benua yang tenggelam itu terletak di Samudra Atlantis dekat selat-selat Gibraltar, sampai adanya kehancuran 10.000 tahun kemudian.

Dalam “Timeus”, Plato menggambarkan, orang-orang Atlantis sebagai suatu bangsa yang makmur dan memiliki teknologi tinggi, haus kekuasaan, juga memiliki daerah jajahan yang sangat luas. Digambarkan oleh Thor Heyerdhl, archeologis dari tim itu mengenai penemuan beberapa perahu besar yang sama di Pulau Kreta, Yunani dan Libya, diduga kuat, digunakan orang Atlantis dalam mengirimkan ribuan pasukannya untuk menguasai jazirah Mesopotamia lewat selat Gibraltar.

Sebagian di antaranya, masuk ke Samudra India lewat Tanjung Harapan dan masuk ke Mesir lewat Laut Merah. Pada saat itulah, secara tidak langsung, terjadi akulturasi budaya dengan daerah-daerah yang jadi bawahannya. Sekarang ini pulau-pulau yang ada di laut Atlantis, merupakan saksi bisu sisa sebuah kebesaran, dari sebuah kerajaan yang sangat besar, yang pernah menguasai lebih dari beberapa wilayah di sekelilingnya.

Ia juga mengungkapkan, bahwa orang-orang Atlantis selalu memancangkan sebuah tiang yang dinamakan “tiang kekuasaan”, pada daerah-daerah yang diduga sebagai salah satu bukti kekuasaannya. Di beberapa negara, yang diduga ribuan tahun yl pernah menjadi salah satu bagian dari kekuasaannya, terdapat tiang yang sama. Tiang-tiang itu ditemukan di Mesir, Lybia dan juga Eropa sepanjang Tyrhenia bahkan India. Di Mesir tiang itu dinamakan Obelisk, yang banyak memuat tulisan-tulisan tentang budaya mereka.

Usaha pembuktian pertama

Pada tahun 1882, Ignatius Donnely, seorang anggota kongres Amerika dari Minnesota, membawa ringkasan yang padat mengenai legenda benua yang hilang tersebut. Ini merupakan usaha pembuktian pertama, yang dilakukan pada zaman moderen tentang keberadaan benua itu setelah ribuan tahun kisah tentang Atlantis itu hanya merupakan sebuah cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut. Pendalaman pembuktian ini, ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul “The Antediluvian World” (Dunia yang kuno sekali).

Orang Amerika lainnya, yang tertarik tentang benua yang hilang itu Edgar Cayce (1877-1945), penasihat “Atlantis Foundation”, sebuah yayasan terkemuka di AS yang mencari bukti-bukti dari Atlantis.

Ia mengungkapkan tentang benua hilang itu, dalam tulisan-tulisannya di beberapa koran dunia. Salah sebuah tulisannya yang terkenal adalah “The Sleeping Prophet”.

Cayce membahas kemampuannya, dalam melihat masa depan dan berkomunikasi dengan arwah yang sudah lama meninggal di masa lalu, termasuk arwah orang-orang Atlantis. Dia memperkenalkan ribuan orang, termasuk dirinya sendiri, yang menganggap sebagai bagian dari kehidupan orang-orang Atlantis.

Cayce mengatakan, bahwa Atlantis terletak dekat “Segitiga Bermuda” di Kepulauan Bahama. Dia percaya bahwa orang-orang Atlantis memiliki teknologi yang hebat sekali, termasuk memiliki benda dengan kekuatan energi tinggi, yaitu yang disebut “kristal-kristal api” yang mereka gunakan untuk sumber energi. Kristal api itu, memancarkan cahaya yang sangat terang menyilaukan dan dapat menghancurkan benda apa pun apabila dipergunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Para peneliti sekarang menduga, apa yang disebut sebagai kristal api itu adalah ” sinar laser” pada teknologi zaman sekarang.

Sebuah bencana besar terjadi di kehidupan benua Atlantis, karena katanya penggunaan bola kristal-kristal api di luar kontrol oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Cayce juga meramalkan, bahwa bagian-bagian dari Atlantis akan bisa ditemukan oleh orang-orang dikemudian hari dan memang ucapannya itu, kini terbukti setelah para ahli geologi kelautan tim gabungan AS, Inggris, Jerman dan Prancis, dalam beberapa tahun terakhir berhasil menemukan sejumlah bukti kuat, tentang temuannya yang diduga dari bekas-bekas sebuah kehidupan bangsa yang hilang dari dalam lautan Atlantis.

Hal ini memperkuat sejumlah dugaan, bahwa memang kehidupan di Atlantis yang diungkapkan oleh Plato hampir 3.000 tahun yl itu, bukan sebuah dongeng kosong. Semua orang percaya, mengenai keberadaan sebuah peradaban tentang manusia berasal.

Dalam Alquran pun, pada beberapa ayatnya Allah, SWT mengkisahkan tentang pernah ada sebuah peradaban tinggi dari sebuah bangsa, yang kemudian dimusnahkan karena ingkar dan tamak.

Ini semua merupakan kisah nyata yang tidak bisa dibantah, karena kisah-kisah itu dituturkan langsung dari “Sang Maha Pencipta”. Hal yang sama juga diungkapkan, dalam Kitab Injil dan buku suci Hindu, Rig Veda, Puranas dan masih banyak kitab suci lainnya.

Para peneliti mengatakan, bahwa benua yang tenggelam itu adalah Lemuria Atlantis. Lemuria merupakan padang rumput luas. Orang-orang Yunani menyebutnya sebagai padang Elysian, dan orang-orang Mesir menyebutnya sebagai “Padang Alang-alang” (Sekhet Aaru) atau, masih “Tanah Leluhur” (To-wer), yang terdapat di seberang laut Paradise, di sanalah mereka hidup sebelumnya.

Tanah tertinggi yang tersisa, pada saat benua itu tenggelam, kemudian berganti nama menjadi “Pulau Kematian”. Selama ratusan tahun tidak ada pelaut yang pernah berusaha untuk pergi kesana, atau untuk menuju ke pulau itu. Karena mereka menganggap, bahwa pulau itu telah terkena kutukan. Namun sekarang beberapa dari sisa pulau tsb, sudah banyak dihuni orang.

Nama lain yang menarik dari “Tanah Leluhur” (Atlantis) adalah justru nama Dravidian (Dwaraka?). Sebuah pulau atau daratan, di mana umat Hindu asli bertempat tinggal yang kemudian tenggelam bersama Krishna (kisah Mahabrata).

Menurut kepercayaan Yahudi, pulau itu diberi nama Sheol (“neraka”). Sementara itu oleh orang-orang Yunani, disebut Hades, Amenti atau Punt oleh orang-orang Mesir, Dilmun oleh orang-orang Mesopotamia, Hawai oleh orang-orang Polynesia, Svarga oleh orang-orang Hindu, dan yang lainnya.

Selain banyak tradisi yang sama di beberapa bangsa, diakui juga keberadaannya bersamaan dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang dilihat dalam pembuktian ilmu Geologi, dan catatan pembuktian Archeologi. Para peneliti juga mencocokan legenda-legenda yang ada di seluruh dunia, termasuk catatan-catatan yang tertulis pada Sphinx maupun obelisk sebagai dasar untuk penelitian. Hasil penelitian mereka, ternyata banyak menyebut nama India dan Sunsadiva dengan pulau-pulaunya Swarnadwipa dan Javadwipa.

Dalam mencari pembenaran fakta dari Atlantis tsb, menurut beberapa ahli  geologi benua-benua tersebut tenggelam karena air laut yang naik. Membanjiri seluruh daratan dari benua tsb, seperti halnya tenggelamnya Dravida dalam kisah Mahabrata pada kitab Veda. Peristiwa bencana alam itu, dilukiskan merupakan sebuah bencana banjir paling besar dimuka bumi yang pernah terjadi ribuan tahun yang lalu.

Secara geologis, memang para ahli dapat membuktikan bahwa peristiwa banjir besar ini, diduga kuat akibat es di Kutub Utara mencair. Pada saat itulah, daratan banyak yang tenggelam, termasuk terpisahnya pulau-pulau di Indonesia dari daratan Asia, Semenanjung Malaya, bahkan hingga terpisahnya daratan Irian dengan Sulawesi, Kalimantan, Kepulauan Maluku dan Australia. Hal ini dibuktikan dengan adanya sejumlah jenis binatang-binatang yang sama di pulau-pulau itu.

Theory Wallace

DR. Wallace, seorang ahli biologi bangsa Amerika, mengungkapkan dalam sebuah teori pembuktiannya, yang kemudian dikenal dengan nama ” Theory Wallace”. Secara tegas dikatakan, bahwa peristiwa berpisahnya daratan-daratan itu akibat naiknya permukaan air laut, hingga memisahkan daratan yang satu dengan yang lainnya.

Satu gambaran dari peta, terdapat pada majalah terbitan National Geographic (volume 174, nomor 4, Oct. 1988, halaman 446-7), memperlihatkan bahwa sekitar pada 18.000 tahun yang lalu, daratan Asia Timur banyak yang bersatu. Itu terjadi pada jaman es Pleistocene, pada saat es di Kutub Utara dan Selatan masih cukup tebal.

Peta itu memperlihatkan, daratan Asia sangat besar memanjang hingga ke Australia. Benua ini ukurannya hampir sama dengan pulau-pulau yang termasuk di Asia (Minor) dan Libya (Afrika Utara).

Ada beberapa ahli geologi berpendapat, pulau-pulau Indonesia dan Semenanjung Malaya, bukan merupakan peninggalan dari Lemurian Atlantis yang tenggelam. Masalah ini, masih diperdebatkan di antara mereka yang pro dan kontra.

Menurut para ahli, Indonesia dalam sejarah dunia disebut “Ultima Thule”. Kata-kata Thule, juga tertulis pada tiang-tiang obelisk, yang banyak disebut-sebut Plato dalam bukunya Timeus dan Critias. Tempat tiang Hercules, hanya ada di muka Atlantis (Hyper Ten Herakklei Nyssai).  Tiang-tiang Hercules atau obelisk itu, selain tugu kekuasaan juga merupakan tanda batas, bagi daerah yang disebut Asia Timur dan Negeri Barat (Eropa dan Amerika). Pemancangan tiang-tiang itu, dilakukan dengan sebuah upacara yang disebut “hyrakei nissay ” dengan mengorbankan seekor sapi betina.

Di India acara itu disebut dengan nama Gomedha, dan di Mesir kuno cerita ini dipahatkan pada tiang Obelisk. Tiang semacam ini, di India salah satunya ada di New Delhi, yang didirikan oleh Raja Ashoka. Tiang Delhi ini ternyata setelah diteliti, terbuat dari unsur-unsur baja murni. Hal ini tentu saja sangat mengejutkan para ahli, karena merupakan sebuah prestasi teknologi yang tak ada bandingannya pada ribuan tahun yl. Tiang-tiang ini adalah hasil tempaan dari bahan-bahan mineral, yang mengandung unsur baja tahan karat (stainless steel).

Tidak satu pun pada zaman kuno, setelah kepunahan Atlantis, yang mampu menandingi prestasi dari orang-orang Hindu, yang diduga sesungguhnya merupakan hasil terapan teknologi orang-orang pintar dari Atlantis.

Plato juga menceritakan, mengenai dinding-dinding bangunan istana dan kuil-kuil Atlantis berlapiskan emas, perak, perunggu, timah dan ornamental lainnya. Bila bukti-bukti yang diperlihatkan Atlantis benar, diduga benua itu memiliki kekayaan mineral berlimpah. Hanya orang yang pintar dan berbudaya tinggilah, yang dapat mengembangkan teknologi seperti itu.

Perunggu, merupakan campuran dari tembaga dan timah. Budaya pencampuran logam, ternyata sudah dilakukan ribuan tahun yl, oleh orang-orang Atlantis. Begitu juga tradisi yang menggunakan timah-timah, yang konon berasal dari legenda “Pulau-pulau Timah” di Cassiterides.

Kemisteriusan yang ada di pulau “kembar” yang disebut Tarshish dan Tartessos, karena mengandung logam lunak. Pulau kembar itu diduga mirip dengan pulau Bangka Belitung di Indonesia, yang memang merupakan salah satu penghasil timah terbesar di dunia. Bila yang dikatakan Plato benar, memang sesuatu hal yang menarik. Karena hal ini menunjukkan suatu bukti, bahwa keberadaan Atlantis memang ada keterkaitan dengan Indonesia.

Dugaan keterkaitan masyarakat Atlantis dengan Indonesia, yang pada waktu itu bernama “Sunsa Dwipa”. Nama itu secara jelas terpatri pada tulisan hyerogliph, salah sebuah kuil besar bangsa Mesir kuno, yang menyatakan bahwa untuk mendirikan kuil suci dan perahu-perahu raksasanya orang-orang Atlantis banyak menggunakan beberapa jenis kayu dari hutan di daerah Timur.

Dari arah mana tempat itu tidak begitu jelas, hanya disebutkan sebelah Timur tiang Hercules bernama Sunsa Dwipa yang kaya kayu-kayunya. Disebutkan kayu-kayuan itu, sangat beraneka ragam dan cukup kuat untuk menopang bangunan kuil dan armada perahu mereka. Yang menarik di sini adalah sebutan “Sunsa”, yang diduga keras ini sangat erat kaitannya dengan nama prasejarah kepulauan kita, yang membagi dua menjadi “Sunda Besar” dan “Sunda Kecil”

Prof. Robert Kelner antropolog dari AS meyakini, daerah hutan sebelah arah matahari terbit (Timur) tiang Hercules itu adalah kawasan Indonesia, yang dari sejak dahulu hingga sekarang hutannya memang menjadi paru-paru dunia, karena kelebatan hutan tropisnya. Sebab kalau dalam hyerogliph itu menyebutkan daerah hutan di sebelah matahari terbenam (Barat), maka dugaan akan jatuh ke benua Amerika dan yang cukup menarik adalah, dalam beberapa tiang kuil Zeus dipahatkan gambar pohon yang katanya diambil dari arah matahari terbit itu (Timur/Indonesia?).

Geologi moderen

Ilmu Geologi moderen sekarang, telah mampu memberikan jawaban yang memang hasilnya tidak dapat dibantah. Untuk pembuktian keberadaan benua Atlantis ini, para ahli menggunakan robot kecil yang pernah digunakan dalam pencarian Titanic, dan telah sukses dalam menemukan istana Cleopatra di bawah laut.

Menurut para ahli anthropologi, bukti-bukti tentang keberadaan benua hilang itu tidak terkonsentrasi di laut Atlantis saja, tetapi juga di bagian lain dari dunia ini. Salah satunya adalah, diduga kuat ada juga di bawah Laut Cina Selatan, dan ternyata di Jepang pun bertebaran bukti keberadaan Atlantis. Padahal selama ini, penelitian hanya dititikberatkan di laut Atlantis dan sekitarnya.

Para peneliti juga menemukan bukti, adanya pengaruh peradaban dari Atlantis pada bangsa-bangsa yang lain di dunia Termasuk adanya teknologi tinggi, dalam penggunaan logam dengan teknologi metalurgi bahkan sinar laser. Dalam kebudayaan, filsafat dan aspek-aspek metafisika dari kebudayaan orang-orangnya, ternyata banyak dipakai hingga sekarang.

Para ahli berani menegaskan, setelah belasan tahun melakukan penelitian dan mengumpulkan bukti di berbagai tempat, yang diduga kuat ada hubungannya dengan peradaban orang-orang Atlantis. Mereka mengungkapkan, peradaban dari Atlantis sangat kuat hubungannya dengan bangsa-bangsa yang ada dalam panggung sejarah dunia, terutama sekali adalah Mesir, Mesopotamia, Yunani, Roma, Minoan Creta, Gaul dan Kepulauan-kepulauan Inggris.

Yang paling nyata adalah Mesir, dengan kuil-kuil serta simbol-simbolnya yang berhubungan dengan Atlantis, yang kemudian menjadi pola dasar dari orang-orang umat Hindu. Dari bahasa yang mereka pakai juga, memperlihatkan bagaimana mereka mengikuti konsepsi dari agama Hindu, sebagai salah satu agama yang diduga bibitnya bermula dari benua yang hilang itu.

Bukti dari bawah laut

Pada tanggal 19 Desember 2000, para peneliti geologi bawah laut, telah menemukan sisa-sisa dari sebuah peradaban, yaitu menara peninjau dan reruntuhan sebuah kuil yang luas dan cukup banyak, tertutup lapisan Lumpur tebal. Reruntuhan batuan itu, terbuat dari batu granit tua yang usianya diperkirakan 12.000 tahun lebih

Penemuan bekas bangunan dan tiang-tiang, yang diduga sebuah kuil itu justru terdapat di pertengahan laut Atlantis. “Puncak menara”nya berbentuk kerucut, terbentuk dari lapisan-lapisan mineral yang menurun kebawah, dibentuk oleh semburan air panas yang kaya kandungan mineralnya. Semua itu merupakan hal yang baru, dimana hydrothermal menyembur dari dasar lautan yang dalamnya ratusan meter.

Dari penemuan itu, para ahli bertanya-tanya. Selama ini semburan air panas, biasanya harus ada sumbernya dari sebuah gunung berapi. Namun di tengah laut Atlantis ini, tidak ditemukan dimana sumber gunung apinya dan ini merupakan tantangan penelitian, yang belum berhasil ditemukan. Kasus ini, masih menjadi sumber perdebatan para ahli geologi kelautan Tim Survei Pencari Benua Atlantis

Para Peneliti menegaskan, bahwa mereka telah melihat seluruh aktivitas spektrum dari hydrothermal yang berada di dasar lautan. Tapi yang utama dari penemuan ini, menggiatkan para peneliti untuk mengungkapkan lebih banyak lagi apa yang ada di dasar Samudra Atlantis. Bentuk dari menara tersebut setinggi 55 meter (180 kaki) dari dasar laut, yang setelah diteliti adalah cerobong sebuah menara. Apakah itu menara pengintai, atau menara pancang biasa. Semua ini masih terus diteliti

Penemuan ini merupakan bukti baru, adanya suatu kenyataan bahwa ribuan tahun yl ada sebuah bentuk kehidupan yang kemudian tenggelam oleh sesuatu sebab. Penemuan cerobong menara ini, sangat berbeda dibandingkan dengan penemuan-penemuan sebelumnya.

Para peneliti juga mengatakan, bahwa banyak sekali aspek-aspek yang mentakjubkan dari penemuan terbaru ini. Seperti adanya bentuk struktur lubang angin, yang  merupakan susunan dari campuran karbon mineral dan silika. Tidak seperti kebanyakan bangunan di atas bumi yang lainnya. Dari penemuan yang terakhir ini, Tim Survei bergembira, karena langkah yang dilakukan selama puluhan tahun oleh pendahulu-pendahulunya tidak sia-sia karena bukti-bukti yang telah ditemukan ternyata saling melengkapi.

Penemuan menarik lainnya di akhir abad ke 20 ini ialah, ditemukannya pyramid raksasa di bawah laut dekat pulau Bimini, Bahama di kedalaman 10.000 kaki. Bentuk pyramid ini, menurut Prof. Charles Hoofgod, geolog dari Hamshire University, sangat mirip dengan pyramid yang ada di Giza, Mesir. Balok-baloknya yang terbuat dari batuan granit, diperkirakan mempunyai bobot sekitar 20 ton dan disusun berdasarkan perhitungan matematis ” bidak catur”.

Dengan pola teknologi ini, menurut Hoofgod, terkait dengan perhitungan astronomi dan geologis, sehingga bangunan itu akan bertahan terhadap gangguan alam, khususnya kemungkinan adanya gempa bumi dan keakuratan perhitungan itu, ternyata terbukti di mana bangunan pyramid bertahan hingga puluhan ribu tahun.

Hal lain yang menarik dari bangunan pyramid itu adalah, penggunaan kristal lembut sejenis semen. Penggunaan semen ini, seperti halnya zaman sekarang dipergunakan untuk melekatkan batu bata. Dari penemuan ini ternyata, penggunaan semen telah dilakukan puluhan ribu tahun yl.

Berdampingan dengan pyramid itu, ada sebuah pyramid raksasa lainnya yang di bagian atasnya terdapat sebuah batu kristal raksasa. Para ahli masih meneliti, apa peranan batu kristal di puncak pyramid itu, yang memancar sangat terang manakala tersentuh oleh berkas cahaya lampu yang dipancarkan oleh para peneliti. Penemuan yang sangat mentakjubkan itu, kini sangat dirahasiakan oleh para ahli karena takut dicuri oleh tangan-tangan jahil. Untuk keamanan, batu kristal rakasasa itu, kemudian dibawa ke Florida untuk dianalisa di universitas di kota itu.

Penemuan yang sangat spektakuler di akhir abad ini, menurut DR. Maxine Asher, diindikasikan telah lebih mendekatkan kepada bukti-bukti lainnya tentang keberadaaan benua yang hilang itu. Kendati sebenarnya, dengan ditemukannya reruntuhan kuil, menara dan bangunan pyramid sebenarnya sudah mengarah kepada pembenaran bahwa Atlantis, bukan hanya hidup dalam cerita semata, namun jauh ribuan tahun yl pernah ada di muka bumi ini.

Dalam hubungan ini, para ahli sangat tertarik pada penemuan batu kristal raksasa yang ada di puncak pyramid. Karena sampai sejauh ini, tidak ada pyramid-pyramid yang dibangun di Mesir, dipuncaknya yang dipasangi batu kristal yang oleh para ahli disebut sebagai “Kristal Atlantis”.

Para ahli masih menduga-duga, tentang penggunaan “kristal Atlantis” yang hinga kini masih diliputi mistery. Apakah memang batu kristal ini, yang disebut-sebut Plato dalam Timeus yang digunakan oleh orang-orang Atlantis sebagai senjata disaat-saat akhir dari benua itu. Karena di salah satu ruangan di bawah kubah pyramid, ditemukan juga sejenis alat yang berbentuk gigi-gigi yang diduga sebagai sebuah alat pengatur cahaya dari logam yang kandungannya masih misiterius. Yang menarik dari alat ini, ternyata tidak hancur oleh korosi air laut selama puluhan ribu tahun yl.

Selain itu juga di daerah itu ditemukan sebuah alur dengan lebar 12 meter dan panjangnya bermil-mil, yang diduga sebuah jalan. Konstruksi jalan itu, hingga saat ini masih baik kendati telah berumur 10.000 tahun lebih. Jalan ini ditemukan di bawah laut pantai Timur kepulauan Bahama, masih kawasan Atlantis.

Mengenai materi yang digunakan untuk jalan itu, para ahli masih belum bisa mengungkap dari jenis bantuan apa. Namun yang sudah terdeteksi, unsur dominannya adalah terkandung “Almunium” dan “Magnesium oksida”.

Dengan ditemukannya bukti terakhir ini, ahirnya para peneliti lebih memfokuskan pengamatannya pada lokasi itu, dengan jangkauan lebih diperluas. Menurut Prof Kelner, pimpinan Tim Atlantis Fundation, dibandingkan dengan bukti sebelumnya, bukti-bukti bawah laut yang ditemukan terakhir tsb, bobotnya lebih mengarah kepada bukti nyata bahwa Atlantis yang hilang itu benar-benar pernah ada. Bahkan para peneliti lebih yakin lagi, karena temuan itu berada di lokasi yang diduga kuat memang salah satu wilayah kota yang hilang tsb. Sedangkan penemuan-penemuan sebelumnya, lebih banyak dugaan hanya adanya keterkaitan bukti dan budaya saja, yang seluruh buktinya berada di darat.

Kota yang hilang di dasar laut tersebut, diduga telah tertutup oleh pelumpuran berat selama ribuan tahun yang oleh para peneliti sebelumnya tidak pernah terungkap. Sebelum menemukan bukti-bukti baru itu, para peneliti telah mempelajari ilmu geologi kelautan dan proses hydrothermal. Daerah yang setelah diteliti, terletak 1.600 km (1000 mil) di Selatan Azore.

Mega Eruption

Para peneliti menduga, peristiwa yang dinilai dramatis hingga menenggelamkan kota-kota Atlantis itu diawali dengan terjadinya gempa yang sangat kuat dan besar dari sebuah sumber. Apakah itu dari letusan Gunung berapi purba, atau karena letusan yang diakibatkan oleh efek energi sinar laser seperti yang diisyaratkan Plato dalam kisahnya. Hingga menimbulkan tsunami, dan mengakibatkan tenggelamnya dataran itu.

Letusan yang besar itu, adalah suatu bukti yang luas yang memunculkan bermacam-macam cerita dan tradisi-tradisi, seperti mengenai Atlantis dan Paradise yang memang merupakan bagian dari dunia. Peristiwa ini semula diduga para ahli geologi dunia sebagai letusan dari gunung Paradise (Gunung Sunda, Krakatau, Atlas, Sinai, Zion, Alborj, Qaf, Golgotha, Meru, dsb), dan juga banjir besar yang disebabkannya. Mereka mengatakan, semua masalah itu sebagai banjir dunia dan lautan api dunia.

Letusan gunung purba yang terjadi itu, menimbulkan tsunami besar, yang memporak-porandakan dataran rendah Atlantis dan Lemuria, yang juga menjadi pemicu dari terjadinya peristiwa pada akhir zaman es. Letusan “mega eruption” pada zaman itu, menandai berakhirnya sebuah kebudayaan yang tinggi di zaman Atlantis. Akibat letusan itu, mata hari tertutup abu selama berhari-hari.

Panas bumi menjadi meningkat, dan es di kedua kutub kemudian berubah menjadi gletcer. Lelehan air yang berasal dari sungai es, mengalir menuju samudra, yang akhirnya menaikkan tingkat air lautan sampai melebihi permukaan pada ketinggian sekitar 100-150 meter (330-500 kaki).

Genangannya menutupi seluruh wilayah daerah Utara dari Amerika Utara, dan Eurasia karena tertutupi glasier yang sangat besar sekali, yang memusnahkan banyak populasi, yang menurut catatan Plato diperkirakan mencapai 2 milliar jiwa. Hasil dari semua proses itu, adalah akhir peristiwa dari zaman es Pleistocene, yang disebut kepunahan atau kemusnahan, yang telah dikatakan sebelumnya.

Namun dengan ditemukannya sebuah batu kristal, yang kemudian disebut sebagai ” kristal Atlantis”, mungkin saja bisa menepis dugaan para ahli geologi selama ini. Karena adanya keterkaitan antara batu kristal itu, dengan kisah yang diungkapkan Plato pada saat-saat terakhir dari Benua itu. Sekarang batu kristal itu telah ditemukan. Apakah para ahli dapat membuktikan apa yang dikisahkan oleh Plato, di mana kristal itu bisa memancarkan sejumlah energi yang membawa maut. Mari kita tunggu hasil penelitian mereka itu.

Terlepas dari benar dan tidaknya kisah tentang benua Atlantis yang hilang itu, dan betapa tekunnya para ahli ingin membuktikan tentang pernah adanya sebuah budaya manusia yang tinggi. Namun ada satu hal, yang sangat menarik untuk dikaji oleh kita, bahwa ketamakan dan keangkuhan, sangat dimurkai oleh Allah SWT dan bila Allah telah murka, dapat diturunkan suatu azab, seperti halnya pada pembukaan tulisan ini.

Teknologi dan ilmu pengetahuan yang tinggi, bukan apa-apanya di hadapan
“Sang Maha Pencipta”, karena semua itu bersumber dari pada-Nya.

REFERENSI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s