Pelajaran Berharga dari Kasus Bendera Merah Putih Bertuliskan Kalimat Tauhid

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa


Nurul Fahmi, tersangka penodaan terhadap sang saka merah putih, Selasa (24/1/2017), melakukan sujud syukur karena dibebaskan dari tahanan Polres Jakarta Selatan.

Nurul dapat bebas setelah Pimpinan Majelis Az-Zikra, Arifin Ilham, menemui Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, dan mengajukan penangguhan penahanan dengan jaminan dirinya sendiri.

“Saya bersedia menjadi penjamin, pertama karena kita lihat saudara kita yang melakukan kesalahan (ini) karena ketidaksengajaan dan ketidaktahuan,” kata Ustad Arifin di Polres Jakarta Selatan.

Hal lain yang membuat Ustad Arifin bersedia menjadi penjamin adalah karena 12 hari lalu istri Nurul melahirkan, dan hingga kini dia belum melihat anaknya.

“Beliau juga senang menghafal Alquran. Jadi, tersentuh hati ustaz,” imbuh dia.

Ustad bersuara khas ini mengakui telah menemui Kapolri dan mengajukan penangguhan penahanan bagi Nurul, dan disetujui.

Nurul ditangkap Polri karena saat melakukan aksi unjuk rasa bersama massa FPI di Mabes Polri untuk menuntut pencopotan Kapolda Jabar Irjen Pol Anton Charliyan pada 16 Januari silam, ia membawa bendera merah putih yang ditulisi kalimat tauhid.

Ustad Arifin menegaskan bahwa Nurul tidak tahu kalau perbuatannya itu merupakan tindakan yang melanggar hukum.

“Ketidaktahuan dan rasa bangga bersyukur dengan bendera Indonesia, hidup dengan semangat keislaman, dan tidak ada niat memprovokasi dan sebagainya, tidak ada,” ucap dia.

Nurul Fahmi, aktivis pembawa bendera bekalimat tauhid dibebaskan. (Kininews/Rakisa)

Nurul Fahmi, aktivis pembawa bendera bekalimat tauhid dibebaskan. (Kininews/Rakisa)


Nurul sendiri nampak gembira begitu keluar dari gedung Polres Jaksel, terlihat dari wajahnya yang berseri-seri, namun ia terlihat tak henti-hentinya menggenggam erat tangan Ustaz Arifin.

Kabag Mitra Ropenmas Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono mengatakan, selain karena Ustad Arifin menjadi penjamin, Polri menerima permohonan penangguhan penahanan ini karena beberapa pertimbangan lain.

“Penyidik subyektif dan memiliki alasan penangguhan bahwa tidak adanya kesalahan yang berarti. Jaminan juga dari Pak Ustaz, dan istrinya yang baru melahirkan 12 hari lalu, tentu ini menjadi perhatian,” ujar Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya tersebut.

Nurul melakukan sujud syukur dengan ditemani Ustad Arifin di Masjid Jami’ Nuur Abu Wizar Polres Jaksel.

Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Almuzzammil Yusuf menyuarakan sikap untuk Presiden Jokowi soal kasus penulisan lafadz Laa Ilaa Ha Illallah (kalimat Tauhid) di Bendera Merah Putih oleh Nurul Fahmi.

Pernyataan tersebut dilakukan di interupsi Sidang Paripurna DPR RI ke-17 Masa Sidang III Tahun 2016-2017, Selasa (24/01/2017).

Ketua Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menegaskan bahwa hendaknya dalam era pemerintah Presiden Jokowi, jangan sampai ada warga negara yang diproses hukum dengan cara yang tak patut.

“Hanya karena yang bersangkutan menulis kata ”Laa Ilaha Illallah” pada Bendera Merah Putih,” jelas Almuzzammil Yusuf.

Berikut adalah pernyataan lengkap dari Almuzzammil Yusuf terkait hal tersebut.

“Pimpinan dan Anggota DPR RI yang terhormat, serta hadirin sekalian. Saya Almuzzammil Yusuf A 93 Dapil Lampung. 

Pada sidang terhormat ini, perkenankanlah saya mengawali pernyataan saya ini dengan mengutip pasal 27 ayat 1 UUD Negara RI Tahun 1945:

Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.” Serta pasal 1 ayat 3 UUD Negara RI Tahun 1945 yang berbunyi: “Negara Indonesia adalah negara hukum.” 

Adapun ciri negara hukum adalah adanya supremasi hukum; persamaan di hadapan hukum: due process of law, peradilan yang bebas merdeka dan pengakuan HAM. 

Dengan mengacu kepada dua pasal tersebut dan juga Fungsi Pengawasan DPR terhadap Pemerintah pada pasal 20A UUD Negara RI Tahun 1945, maka saya ingin bertanya kepada Presiden Republik Indonesia dan Pejabat Penegak Hukum khususnya Kapolri tentang status para pembuat gambar atau tulisan di tengah Bendera Merah Putih.

Saya tunjukkan ini gambar mereka satu persatu:

  1. Konser Band bergambar Artis indonesia di tengah Bendera Merah Putih.
  2. Konser Band Dream Theatre di tengah Bendera Merah Putih.
  3. 3.Konser Band Metalica di tengah Bendera Merah Putih.
  4. Para pendukung Ahok yang menuntut pembebasan Ahok dengan tulisan di tengah Bendera Merah Putih.
  5. Demostran yang menulis kata: “Kita Indonesia” di tengah Bendera Merah Putih
  6. Bendera Merah Putih yg bertuliskan kata “Laa Ilaha Illalloh” yang ditulis Sdr Nurul Fahmi (NF).

Dari 6 gambar di atas hanya Nurul Fahmi yang diproses hukum. Kabid Humas Polda Metro di media mengatakan ada atau tidak ada pelapor kasus NF akan diproses hukum. Pertanyaan saya bagaimana dengan 5 pelaku serupa? Mengapa mereka tidak diproses hukum. Bukti foto dan gambar ada dan jelas.

Pasal 24 pada UU 24 tahun 2009 menegaskan bahwa perbuatan penodaan Bendera negara tersebut harus ada niat jahat dan unsur kesengajaan.

Sungguh tidak masuk nalar jika kata-kata mulia “Laa Ilaha Illallah” dimaksud untuk menodai, menghina, dan merendahkan bendera negara sebagaimana dimaksud UU 24/2009.

Jangan sampai proses hukum yang sedang berjalan menggiring kesimpulan publik bahwa kata mulia “Laa ilaha Ilallah” yang telah menemani para pejuang mengusir penjajah menjadi kata yang terlarang dan direndahkan di bumi Indonesia yang mayoritas Muslim dan negara Muslim terbesar di dunia.

Oleh karena itu pada kesmpatan ini saya ingin meminta kepada KAPOLRI untuk menegakkan prinsip negara hukum yakni: Supremasi hukum bukan kekuasaan; Persamaan warga negara dihadapan hukum bukan perbedaan; Penegakan hukum dengan menghormati aturan hukum. Bukan dengan melabrak aturan hukum.

Nurul Fahmi (NF) telah ditangkap aparat penegak hukum di tengah malam seperti seorang teroris dan bandar narkoba. Padahal dalam kasus NF harus dibuktikan unsur kesengajaan dan niat jahat.

Kepada Presiden RI Bapak Jokowi, jangan sampai sejarah mencatat dalam kepemimpinan Bapak ada warga negara yang diproses hukum dengan cara tak patut hanya karena yang bersangkutan menulis kata ” Laa Ilaha Illallah” pada Bendera Merah Putih.

Untuk teman-teman Anggota DPR RI, saya yakin saya tidak sendiri dalam merasakan ketidakadilan terhadap proses hukum ini. Saya yakin banyak anggota DPR yang merasakan hal yang sama. Untuk itu saya minta teman-teman berdiri. Terima kasih.

Saya tutup dengan ucapan: “Laa Ilaha Illalloh Muslim Cinta NKRI”.*

Rujukan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s