Inilah Sekelumit Kisah Ustadz Felix Siauw Menemukan Islam

Menjadi muslim sejati, merupakan cita-cita kita semua sebagai pribadi yang menghendaki ridho Allah SWT agar kita menjadi umat terbaik di mata Allah SWT. Namun, tak mudah jalan menuju pencapaian sebagai muslim sejati. Ada banyak rintangan yang harus dihadapi dalam mencari jati diri sebagai pribadi muslim yang sesungguhnya.

Hal ini pula yang dialami oleh seorang Ustadz Felix Siauw. Ayah dari tiga anak ini mendapatkan pengalaman hidup yang tak bisa dibilang mulus, namun semua itu membantu menguatkan dirinya dalam menjadi seorang muslim sejati.

Menemukan Islam

img_20170127_140246

Berikut adalah petikan wawancara dengan Ustadz Felix Y. Siauw

  • Ustadz, bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Islam?

Awal mulanya ketika saya masih kelas 3 SMP, ketika saya beragama Katolik. Ketika itu saya banyak mendapatkan banyak hal yang tidak bersesuaian dengan akal, dan tak memuaskan akal. Sehingga singkat cerita saya keluar dari agama Katolik. Lalu saya mencari, agama mana yang benar, agama mana yang bagus. Setelah saya mencari selama lima tahun (sampai kuliah semester ketiga), alhamdulillah saya dapat Islam. Saya dapati Islam karena apa pun dalam Islam itu sesuai dengan akal manusia, sesuai dengan fitrah manusia, tidak ada yang bertentangan dengan akal manusia. Yang saya rasakan seperti itu.

Perubahannya jelas jauh. Karena akidah itu ibaratnya sebuah core dalam komputer, maka ketika seseorang berganti akidah, segalanya juga berubah. Yang paling nyata misalnya saya merasakan ketenangan luar biasa ketika saya memeluk agama Islam. Kita mendapatkan jawaban atas hidup, kita mendapatkan jabawan sebelum dan sesudah hidup. Dengan sendirinya kita bisa mantap menjalani hidup. Mau apa dalam hidup ini, kita sudah jelas.

Contoh konkretnya Islam memerintahan untuk tak boleh menguatkan suara lebih daripada suara orang tua. Ini kan perkara yang sangat luar biasa, yang kalau kita praktikkan pada orang tua, mereka akan menyadari perubahan yang bersifat konkret. Itu yang kelihatan, yang tidak kelihatan jauh lebih banyak lagi.

  • Apakah setelah mendapatkan jati diri baru ada tantangan dari luar?

Kalau bicara tentang tantangan, orang muslim atau orang bukan muslim punya tantangan. Tapi ketika kita kemudian menjadi Islam, kita jadi paham bahwa tantangan yang kita dapat ini tiada lain dan tiada bukan karena kita dimuliakan oleh Allah. Analoginya: pada prinsipnya, kapal itu dibuat untuk mengarungi lautan, ya kalau dia dibuat di dermaga lalu si kapal hanya diam di dermaga ya wajar dan aman, tapi kalau dia mengarungi lautan, dia jadi banyak tantangan, tapi justru tujuannya dia dibuat adalah untuk seperti itu.

Nah, sama seperti kita, kalau kita masuk Islam atau tak masuk Islam (agama apa pun) punya tantangan. Tapi ketika kita dalam Islam, tantangannya terarah, tantangannya memang untuk tujuan hidup kita. Jadi tak ada masalah.

  • Untuk proses belajarnya sendiri ketika awal mula mencari agama, arahannya dari mana?

Untuk mendapatkan Islam itu tak perlu belajar agama. Untuk mendapatkan Islam, cukup dengan berpikir. Kalau kita berpikir, kita pasti dapat Islam. Nah, setelah kita menjadi seorang muslim, bagaimana kita belajarnya? Harus seperti belajarnya orang-orang zaman dahulu. Kalau saya menyebutnya: sebuah kajian tersistematis, yang dilakukan secara berkala untuk memperdalam ilmu-ilmu Islam. Mulai dari tauhid, akidah, dakwah, dan syariah, dan sebagainya, itulah yang harus dipelajari.

  • Kesulitan yang pernah Ustadz alami?

Kalau tantangan mencari Islam, yang pertama adalah informasi. Saya tumbuh dan berkembang di komunitas yang bukan muslim, sehingga mencari informasi itu agak sulit. Maka salah satu hal yang membuat saya lebih mudah bisa mendapatkan Islam adalah ketika berkomunitas Islam, hidup dalam komunitas Islam.

  • Waktu itu di mana?

Di IPB saya mendapatkan Islam. SMA-nya di SMA Xaverius 1 Palembang. Waktu itu lingkungan saya 95 persen adalah bukan Islam.

Apakah setelah mendapatkan jatidiri sebagai seorang muslim, ada kesulitan dalam menyempurnakan separuh agama, dalam hal ini mendapatkan jodoh?

Saya masuk Islam pada tahun 2002, menikah tahun 2006. Jadi menikah empat tahun setelah masuk Islam. Awalnya memang susah, apalagi berbicara dengan orang tua yang memang bukan muslim, tapi alhamdulillah bapak saya juga menikah muda, jadi saya juga ada alasan untuk menikah muda. Jadi alhamdulillah itu sudah dilewati.

  • Ketika proses mencari “seseorang” itu apakah ada kesulitan?

Awalnya selalu ada yang mempertanyakan. Kenapa harus yang berkerudung? Kenapa harus yang muslim? Sementara saya adalah yang etnis Chinese, dan bapak-ibu saya tidak terbiasa melihat orang yang memakai jilbab. Nah, itu pertanyaan ada, dan kami jawab memang seperti itulah agama memerintahkan. Tatkala kita ingin menikah, maka menikah bukan hanya peraduan fisik, bukan hanya kepuasan badan, tapi menikah itu tujuannya lebih mulia daripada itu. Itulah proses pembentukan sebuah keluarga yang bisa menggenapkan ibadah. Dan kedua, bisa melanjutkan keturunan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa untuk melanjutkan keturunan itu perlu juga melihat tanah yang ditanami, peribaratan wanita yang ditanami: bila tanahnya baik, tanamannya baik. Itu artinya kita harus mencari istri yang baik. Dan tidak mungkin istri itu baik kalau ia tidak taat pada Allah.

  • Bertemu di mana dengan calon istri waktu itu?

Kami bertemu di IPB (Institut Pertanian Bogor), hahaha, kami cinta lokasi.

  • Dalam keluarga, bagaimana kegiatan istri?

Istri saya seorang ibu rumah tangga penuh. Mengurus keluarga di rumah. Anak saya ada tiga. Istri full mengurus rumah tangga. Kalau dia keluar, itu atas izin saya. Dan memang diusahakan tidak mengganggu fungsi utama beliau yaitu ummu warobbatul bait.

  • Ada motivasi tersendiri dari istri?

Fungsi istri luar biasa. Kalau saya pulang, saya ketemu istri. Saya capek, saya ketemu istri. Istri jadi tempat curhat. Kalau yang seperti itu saja istri tidak memahami, saya tak tahu harus pergi ke mana lagi. Entah mencari siapa. Karena istri itu adalah orang yang paling dekat dan paling mengerti kita.

Makanya Allah mengatakan bahwa kita tak boleh telanjang pada siapa pun, kecuali pada istri. Itu adalah bukti bahwa istri menjadi satu dengan kita. Dia menjadi bagian dari kita. Kalau kemudian kita ambil sesuatu yang salah, atau ambil istri yang salah, berarti kita juga pasti salah. Makanya, di balik seorang laki-laki yang hebat, pasti ada wanita yang hebat juga.

  • Pendidikan seperti apa yang diterapkan pada anak-anak terkait pencarian jati diri?

Pendidikan saya sederhana, bahwa aturan Allah itu adalah mutlak. Dan kemudian saya ingin mereka memahami bahwa ketika Allah sudah berkehendak, ketika Allah telah memerintahkan sesuatu, maka tugas manusia bukan lagi mencari pembenaran atas aturan yang lain. Tapi itu sederhana saja, kita tinggal melaksanakan aturan itu. Itulah yang saya bentuk pada anak-anak, sebuah jiwa herois yang menyadarkan mereka apa tujuan mereka, yaitu berdakwah. Saya coba bentuk mereka dari awal agar poros hidupnya adalah berdakwah, sebagaimana bapaknya.

  • Apa pesan/ harapan pada masyarakat?

Sederhana, kita itu hancur dan terpuruk. Kita itu tidak menjadi muslim yang hebat yang sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Al-Qur’an karena kita membuang Al-Qur’an. Atau kita cuma mengambil sebagian dari Al-Qur’an, kemudia membuang sebagian yang lain.

Allah SWT berfirman, Apakah kalian hendak mengambil sebagian dari kitab ini, lalu mencampakkan sebagian yang lain? Mengingkari yang lain? Membangkang terhadap sesuatu hal yang lain?

Nah, kemudian ketika melakukan hal yang seperti ini, melaksanakan secara parsial dan parsial, maka Allah tak akan memberikan bantuan yang bersifat total pada kita. Oleh karena itu masyarakat harus sadar bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi yang kita lihat itu adalah hasil tidak diterapkannya Islam. Maka solusi satu-satunya adalah “diterapkannya Islam”, tidak ada yang lain.

1,5 Juta untuk Modal Nikah

Globalmuslim.web.id

Globalmuslim.web.id


Sekedar berbagi nikmat yang dikaruniakan Allah, sekaligus menguatkan Mukmin yang menikah betul-betul karena Allah.

Jangan pikir nikah itu mudah, dan jangan pikir semua indah. Justru sesudah nikah sebaliknya malah, harus lebih sabar dan istiqamah. Tapi tentu juga nggak sesulit yang dikatakan, yang jelas perlu ilmu dan keikhlasan. Saya jadi Muslim tahun 2002 dan baru 2006 menikah. Jadi 4 tahun ditempa dan bersabar sebelum menikah. Selama 4 tahun itulah saya halqah, dakwah, dan dibebani amanah, belajar jadi pemimpin di organisasi, bersiap untuk hari depan.

Niat saya menikah di tahun 2002 setelah Muslim kandas, karena kedua orangtua merasa saya belum pantas. Maka dari 2002 itulah saya serius menyiapkan diri bukan hanya untuk menikah, memburu ilmu menjadi seorang imam, suami dan ayah. Semua buku keteladanan Rasul sebagai suami saya lahap, juga belajar dari senior dakwah yang sudah menikah dan jadi teladan. Alhamdulillah tidak terlalu sulit mencari pasangan hidup. Dakwah menghantarkan saya berjumpa Ummu Alila.

Dengan uang 1,5 juta di tangan berikut 5 juta hibah papi-mami, majulah saya ke jenjang pernikahan yang sudah dinanti. Setelah menikah hasilnya luar biasa, tak terduga. 1,5 juta hanya cukup sampai 2 bulan saja.

Bulan ke-3 saya dan Ummu Alila gelandangan tunakarya. Biasanya cari kerja begitu mudah, Allah uji saya apply kerja kemana-mana ditolak. Sampai-sampai Ummu Alila yang sudah biasa jadi guru les privat, terpaksa saya terjunkan lagi untuk apply bantu cari duit.

Walhasil, Ummu Alila yang sudah 4 tahun berpengalaman jadi guru privat, juga ditolak ketika apply di 2 perusahaan, behh… rasanya. “Ini ujian Allah”, saya sampaikan pada Ummu Alila, sementara tagihan-tagihan bulanan terus berdatangan tak peduli.

Pagi pergi bawa map apply kerja sampai sore, pulang Ummu Alila menanti dan kita tetep kere. Akhirnya pas 3.5 bulan setelah nikah menjelang lebaran, Allah memberikan jua yang dinanti-nanti, penghasilan.

Nggak tanggung-tanggung, saya jadi pedagang emas, waktu itu oktober 2006, dan emas yang saya jual emas kawin Ummu Alila. Saya inget betul, emas kawin berupa gelang dan beberapa cincin, laku 2.3 juta kita jual di Toko Emas “Cong”, Gabus, Pati Jawa Tengah. Kita jalani lagi hidup dari hasil jualan emas kawin namun justru Ummu Alila bertambah menawan.

Jujur saya malu jadi suaminya Ummu Alila saat itu, nggak mampu menafkahi lahir dengan mencukupi, tapi Ummu Alila selalu menguatkan komitmen nikahnya, “ummi akan selalu mendukung dan menurut pada abi. 

Tentu sebagai suami saya tidak berdiam diri, segala koneksi dihubungi, cara dicoba, namun Allah rupanya masih kehendak menguji. Ditengah-tengah semua itu saya mendapatkan kabar gembira, Ummu Alila hamil! masyaAllah saktinya saya.

“Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan”, terngiang-ngiang ayat Allah, terasa begitu istimewa berbarengan kabar itu, “aku akan jadi seorang abi!”

Kita periksakan kehamilannya setiap minggu, walau uang untuk makan saja tak cukup seminggu. Ketika pemeriksaan yang kedua, dokter berkata “ehm.. (something wrong nih), pak, bu, saya menemukan keanehan pada kehamilan.
Kehamilan ibu disinyalir “blighted ovum”. Langsung lemes saya, nggak perlu tau artinya saya langsung lemes.

“Janinnya hampir 2 bulan pak, tapi nggak bertumbuh dan nggak ada detak jantung”, kali ini saya bener-bener lemes.

Kita cari 3 dokter kehamilan untuk second dan third opinion, semua sama, bayi yang ada di perut Ummu Alila sudah tak bernyawa. Sepulang dari 3 dokter dan beberapa kali pemeriksaan medis Ummu Alila kontan menangis agar bisa terima realita. Anaknya harus dikuret, perlu uang 3 juta lagi.

Pertanyaannya dari mana?

Tabungan nggak ada?

Kerjaan nggak punya?

MasyaAllah ternyata turunnya bantuan sekali lagi lewat papi-mami. Kita dikasi pinjeman lunak (nggak tau sampe kapan bayarnya) 3 juta. Kebayang nggak malunya lelaki? Sudah nikah masih merepotkan orangtua? Rasanya nggak ada harganya, bener-bener hina.

Sepulang Ummu Alila dikuret, kita jatuh bangkrut lagi. Apalagi yang mau dijual? Masak mas kawin cincin juga mau dijual?

Saya lupa ceritakan, saat nikah Ummu Alila punya motor honda impressa. Dia beli second dengan harga 6 juta. Motor itulah yang juga saya jual, honda impressa bobrok tapi motor dakwah, sudah ratusan kilo mengantar saya dakwah. Honda impressa tahun 2000, laku 3 juta saja sudah ok.

Sering saya dan Ummu Alila mengais-ngais laci mencari keping-keping 500, melengkapi lembar ribuan lusuh buat ditukar nasi padang. Anak nggak jadi punya, penghasilan nggak ada, sedih sih iya tapi nggak sempet depresi, kita masih inget Allah.

Halaqah terus dilanjut setiap minggunya, darimana uang bensin? Alhamdulillah saat itu saya dibayar 50.000/bulan mengajar kajian kitab. Bahkan tahun 2007 saya dapat jatah zakat.

“Lix, ini saya ada uang 400 ribu buat antum, semoga manfaat”.

Terdiam saya. Terdiam bukan apa tapi mikir, mau nerima malu nggak nerima perlu.

Akhirnya saya jawab “Jazakallah, Allah balas yang lebih baik”.

Dari situ saya mengetahui Allah memang Maha Memberi Rezeki, dan kebanyakan lewat tangan orang lain yang jarang kita syukuri.

Adakalanya saya berpikir “bener nggak jalan yang sudah saya pilih? jalan dakwah?

Apalagi saat ketemu sanak saudara yang udah kaya. Ada yang sudah jadi kepala cabang, ada yang sudah jadi manager, sementara Felix? yang masuk Islam itu? gelandangan!

“Terlalu idealis sih!” “kamu aneh sih, asuransi nggak mau, bunga nggak mau”..
Liat mereka sudah mapan semua, minder rasanya.

Namun ketika bertemu dengan para ustadz kembali diingatkan, “Terus kalau udah punya semua mau apa? inget Lix, bedain mana sarana mana tujuan!”

Sampai suatu hari saya masih inget juga, ada anak baru pindahan dari bogor ke JKT. Saya ajak nemenin saya ngisi di senen. Di boncengan motor belakang saya dia bilang, “Mas, terus kalo mas nggak kerja dan dakwah mulu, keluarga makannya gimana?”

Saya berusaha tenang. “Bukannya nggak mau kerja mas, mungkin Allah belum kasih (dalam hati saya mengingat semua penolakan kerja). Tapi yakin deh, Allah pasti kasih jalan”. Saya menutup diskusi itu, getir.

Sore itu dia menemani saya, jadi MC di acara kajian salah satu STIE di senen..
Waktu itu materinya “The Way To Belief”. Sepulang kajian, direktur operasionalnya menemui saya, “Ustadz Felix mau ngajar disini?”

Kayak disiram air, dihati bersorak, Alhamdulillah, “Bisa pak, insyaAllah bisa”.

“Ustadz Felix bisa ngajar apa?”.

“Apa aja pak!”.

“Ngajar Matematika Dasar bisa pak?”

“InsyaAllah pak, kapan mulainya?”

“Besok interview ya pak!”

Ya Allah, secercah harapan.

Sepulangnya saya mampir di kramat kwitang, buku second murah, beli “Matematika Dasar” seharga 25.000, saya pelajari ulang. Kelak modal 25.000 itulah saya jadi dosen favorit Matematika Dasar dan mengantongi 2 juta honor pertama saya bulan depannya. Allah selalu kasih jalan selama Dia masih izinkan kita hidup. Kalau sudah nggak dikasi berarti Allah pengen ketemu kita simpel kan?

Singkat cerita, waktu demi waktu kehidupan semakin membaik, ada jalan selama ada sabar, dan usaha terbaik..
Menikah pasti banyak halangan dan hambatan, karenanya ilmu agama wajib jadi bekal kedepan. Penuhi kewajiban kepada Allah, juga penuhi hukum sebab-akibat di dunia.

Lelaki yang memahami agama, tentu nggak akan lemah terhadap dunia. Uang bisa dicari bila ada ilmunya, ketidakpastian di masa depan pernikahan jadi ringan karena paham agama. Dengan ilmu, ujian jadi pelajaran, dengan ilmu kesulitan jadi penguat keimanan..

Singkat cerita, hari ini berlalu sudah 5 tahun semenjak saya jual motor istri saya. Alhamdulillah hari ini saya bisa mengganti motor Ummu Alila, tunai tanpa leasing, ganti motor yang terjual karena lemahnya saya. Hari ini bukan motor yang jadi cerita, tapi ucapan terimakasih atas segenap cinta..

Terimakasih Ummu Alila atas kesabaran dan penerimaan. Atas kesempatan boleh memimpinmu dalam jalan kehidupan. Demikian Allah beri ganti 4 anak atas 1 yang diambil, 3 di foto 1 di kandungan, dan kenikmatan tiada tara.

[Kisah Ustadz Felix Siauw]

Menghormati dan Memperlakukan Orang Tua dengan Santun Meski Berbeda Keyakinan

Mubaligh muda yang merupakan seorang Mualaf Ustadz Felix Siauw mengunggah foto bersama keluarga besarnya saat makan malam di akun Facebook pribadinya, ahad(26/6/2016).

Mubaligh muda yang merupakan seorang Mualaf Ustadz Felix Siauw mengunggah foto bersama keluarga besarnya saat makan malam di akun Facebook pribadinya, ahad(26/6/2016).


Dalam foto tersebut Ustadz Felix mengenakan kaos berwarna biru dengan tulisan #Yuk Ngaji bersama sang istri yang berhijab ungu dan keluarga besarnya yang sebagian besar belum memeluk agama Islam.

Ustadz Felix menuliskan bahwa Islam mengajarkan untuk menghormati orang tua dan keluarga meskipun masih berbeda keyakinan.

Berikut ini tulisan lengkap Ustadz Felix Siauw.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS Luqman: 15)

Begitu indah Islam mengatur hubungan kita dengan orangtua, walau mereka berbeda keyakinan. Perlakuan ihsan, santunnya lisan, lembutnya perbuatan, tetap menjadi hak orangtua

Duhai, bagaimana dengan temen-temen yang punya orangtua yang Muslim? Sungguh rugi bila tidak menyenangkan mereka, tidak membuat mereka tertawa dan bahagia

Dan ketahuilah, tidak ada yang lebih membahagiakan orangtua ketimbang menjadi salih dan salihah bagi mereka. Sebab itu yang akan sangat teramat mereka perlukan saat menghadap Allah

Saat seluruh amal terputus, maka kita menjadi cahaya bagi mereka, dengan amal-amal kebaikan yang tetap kita kirimkan kepada mereka, insyaAllah

Malam Ramadhan ini makan bersama keluarga besar Siauw, semoga esok-esok, Allah perkenankan hidayah bagi semua yang ada di gambar ini, mohon doanya.


Biodata 

  • Nama : Felix Yanwar Siauw
  • Lahir : 31 Januari 1984
  • Tempat Lahir : Palembang, Sumatera Selatan
  • Aktivitas : Dakwah, Penulis Buku, Presenter Acara.
  • Buku : Muhammad Al-Fatih 1453; Beyond the Inspiration; How to Master Your
  • Facebook : www.facebook.com/UstadzFelixSiauw


REFERENSI :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s