Hentikan Proyek Reklamasi Teluk Jakarta!

img_20170305_043047

Reklamasi adalah proses pengurugan kawasan air (laut, sungai, danau) hingga menjadi daratan baru. Dengan harga jual tanah yang meningkat terus, maka daratan baru ini mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Ada harta di balik proyek reklamasi.

Reklamasi adalah hal biasa dan sudah banyak dilakukan oleh berbagai negara di dunia. Inisiatif reklamasi biasanya datang dari pemerintah dengan berbagai alasan dan kepentingan.

Pada awalnya, reklamasi dilakukan untuk survival: untuk mempertahankan hidup dari bencana banjir seperti yang dilakukan oleh bangsa Belanda sejak ratusan tahun silam, atau alasan ekonomi seperti membangun pelabuhan udara untuk menunjang pembangunan ekonomi. Banyak pelabuhan udara di dunia ini dibangun di lahan reklamasi, antara lain Changi Airport (Singapore), Kansai International Airport (Jepang), Chek Lap Kok (Hong Kong), dan banyak lagi.

Negara bagian Florida, Amerika Serikat, yang ekonominya tergantung dari pariwisata pantai, harus melakukan reklamasi untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pantainya untuk menarik turis yang sempat menurun. Setelah reklamasi, jumlah turis di Miami meningkatkan tajam dari 8 juta turis pada 1978 menjadi 21 juta turis pada 1983. Ini adalah contoh reklamasi yang bermanfaat bagi rakyat yang tinggal di daerah sekitar reklamasi, dan sekaligus meningkatkan pendapatan pemerintah daerah.

Reklamasi Pantai Utara Jakarta: Mega Proyek Kontroversial

Seperti kita ketahui, saat ini proyek reklamasi juga sedang berlangsung di Pantai Utara (Pantura) Jakarta. Areal reklamasi ini sangat luas, mencapai 5.152 hektar atau 51.520.000 meter persegi. Artinya areal reklamasi ini lebih besar dari Jakarta Pusat yang mempunyai luas 48.000.000 meter persegi!

Jadi, reklamasi Pantura Jakarta termasuk salah satu mega proyek reklamasi terbesar di dunia. Reklamasi Pantura Jakarta dibagi menjadi tujuh belas (17) pulau (Pulau A sampai Pulau Q) yang terbentang dari sisi barat hingga sisi timur Pantai Utara Jakarta. Dari 17 pulau tersebut, ada tiga belas (13) pulau (Pulau A hingga Pulau M) dengan total luas 3.560 hektar (35.600.000 meter persegi) terletak di daerah elit Pantai Indah Kapuk (PIK), Pluit, dan Ancol.

Seperti kita ketahui, harga tanah di daerah elit ini sangat tinggi sekali. Oleh karena itu, lahan hasil reklamasi di 13 pulau tersebut pasti mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Siapa yang beruntung melaksanakan reklamasi ini? Ada 7 perusahaan yang diserahkan untuk melaksanakan reklamasi di daerah elit ini, di mana salah satunya adalah perusahaan daerah (BUMD) DKI. Di bawah ini kita coba menghitung nilai ekonomis atau keuntungan dari reklamasi Pantura Jakarta.

Kebanyakan masyarakat awam mengira biaya reklamasi tentunya sangat mahal sekali. Berdasarkan data historis beberapa proyek di negara tetangga kita, biaya reklamasi ternyata sangat murah. Reklamasi di Singapore (selama periode 1966-1977) hanya menelan biaya 228 juta dolar Singapore (SGD) untuk luas lahan sebesar 11.650.000 meter persegi. Artinya, biaya reklamasi per meter persegi hanya SGD 19,57 atau sekitar Rp 185.915 (dengan menggunakan kurs awal Januari 2017). Di Melaka, Malaysia, biaya reklamasi rata-rata hanya Rp 989.090 per meter persegi seperti dapat dilihat di bawah ini.

img_20170305_042134

(klik untuk memperbesar)


Reklamasi di Bandar Tanjung Pinang, Tanjung Tokong, Malaysia pada 2003 hanya menghabiskan biaya 328 juta ringgit Malaysia (RM) untuk reklamasi seluas 973.793 meter persegi. Artinya, biaya reklamasi per meter persegi hanya RM 336,83 atau Rp 1.023.952 (kurs: Rp 3.042 per RM 1). Proyek Reklamasi Marina, Bandar Tanjung Bungah, Malaysia pada 2007 menghabiskan biaya RM 26.527.742 untuk lahan seluas 48.562 meter persegi (4,85 hektar). Artinya, biaya reklamasi per meter persegi menjadi RM 546.26, atau Rp 1.660.636 (kurs sama seperti di atas). Biaya reklamasi ini lebih tinggi karena lahan reklamasi sangat kecil sehingga terjadi inefisiensi yang mengakibatkan biaya reklamasi per meter persegi meningkat tajam.

Bagaimana dengan biaya reklamasi di Indonesia? Selain di Pantura Jakarta, saat ini juga sedang berlangsung proyek reklamasi di Pantai Losari, Makassar, dengan luas 157,23 hektar (Rp 1.590.000 per meter persegi). Menurut berita di surat kabar, Ciputra Group sebagai pengembang pelaksana reklamasi menyediakan dana Rp 2,5 triliun untuk proyek ini. Kalau kita asumsikan seluruh dana tersebut digunakan untuk reklamasi, maka biaya reklamasi Pantai Losari sebesar Rp 1.590.000 per meter persegi. Biaya reklamasi Pantura Jakarta seharusnya jauh lebih rendah dari Pantai Losari karena skalanya jauh lebih luas sehingga lebih efisien.

Reklamasi Pulau A sampai Pulau M seluas 35.600.000 meter persegi yang terbentang di kawasan elit ini harga jual tanah di kawasan tersebut bervariasi antara Rp 22 juta hingga Rp 38 juta per meter persegi, dengan harga rata-rata Rp 30 juta per meter persegi. Kita asumsikan utilisasi lahan 55 persen. Artinya, hanya 55 persen dari seluruh areal reklamasi yang dapat dikomersialkan (baca dijual). Sedangkan sisanya 45 persen digunakan untuk fasilitas umum, daerah hijau, serta sarana dan prasarana. Asumsi utilisasi 55 persen ini cukup konservatif mengingat di beberapa proyek perumahan utilisasi lahan bisa mencapai 60 persen hingga 65 persen.

Dengan asumsi perhitungan seperti di atas maka total keuntungan proyek reklamasi sepanjang Pantai Indah Kapuk sampai Ancol, atau dari Pulau A sampai Pulau M, seluas 35.650.000 meter persegi, mencapai Rp 516,9 triliun, seperti dapat dilihat di tabel di bawah ini.

img_20170305_042409

(Klik untuk memperbesar)


Oleh karena itu, tidak heran kalau proyek reklamasi Pantura Jakarta ini harus terus dilanjutkan, at all costs! Tidak boleh ada yang menentang. Bahkan ada yang berpendapat, untuk memuluskan mega proyek ini maka lingkungan ‘kumuh’ yang menghalangi pandangan mata, atau lebih tepatnya yang dapat mengurangi nilai jual tanah, harus digusur: Pasar Ikan, Luar Batang?

Apa yang diperoleh Pemprov DKI Jakarta sebagai pemegang hak reklamasi yang diamanatkan oleh Keppres5/1995? Pemerintah DKI Jakarta hanya memperoleh ‘retribusi’ sebesar 5 persen. Lima persen? Bukankah 15 persen? Secara peraturan yang berlaku, retribusi yang resmi adalah 5 persen. Retribusi 15 persen hanya ada di “Perjanjian Preman”.

Apakah “Perjanjian Preman” tersebut sah? Mungkin hanya pakar hukum di Mahkamah Agung atau KPK yang bisa menjawabnya. Yang pasti harta di balik reklamasi ini sungguh amat menggiurkan. Penulis hanya berharap harta ini mampu membawa kebaikan bagi warga DKI dan bukan sebaliknya menimbulkan bencana sosial maupun lingkungan.

Mengapa Reklamasi Teluk Jakarta Harus Dihentikan?

Penangkapan KPK terhadap salah satu direktur pengembang yang menjalankan proyek reklamasi pulau Jakarta menarik perhatian masyarakat. Pasalnya, Ahok dan gubernur lain suspect terlibat korupsi. Salain itu, ada hal-hal lain yang mencurigakan dan terkesan dipaksakan berikut:

1. Harga Tanah

Tahu kenapa developer ngotot banget reklamasi? Karena biayanya murah. Untuk mereklamasi pantai jadi pulau itu hanya butuh 2-3 juta/meter. Bandingkan harga tanah di Jakarta, bisa 10-15 juta/meter. Developer itu pintar banget, ngapain beli tanah? Mending bikin pulau saja.

Nilai jual hasil pulau buatan di pantai utara Jakarta itu paling sial adalah 20 juta/meter. Ini angka sekarang, 10 tahun lagi, saat pulau-pulau itu siap, boleh jadi sudah 40 juta/meter. Ada total 50.000 hektare, dari puluhan pulau buatan. Itu total 50.000 x 10.000 m2 = alias 500 juta m2. Belum lagi besok jika bangunannya bertingkat, maka itu bisa lebih banyak lagi. Berapa nilai reklamasi ini? Kita hitung saja paling simpel, 20 juta x 500 juta m2= 10.000 triliun rupiah.

2. Tanah Air dan Singapura

Untuk 500 juta meter persegi reklamasi, berapa tanah yang dibutuhkan? Milyaran kubik, coy. Dari mana itu tanah didatangkan? Gunung-gunung dipotong, pasir-pasir dikeruk, diambil dari mana saja, yang penting ada itu tanah.

Dulu, kita ngamuk minta ampun saat Singapore mereklamasi pantainya, ambil pasir dari Riau. Sekarang? Kenapa kita tidak ngamuk. Singapore sih masuk akal dia maksa reklamasi, lah tanahnya sedikit. Jakarta? Masih luas lahan yang bisa dikembangkan, apalagi pembangunan belum merata di Indonesia.

3. Mengubur Harta Karun

Dengan harga tanah yang bisa 40 juta/meter, siapa yang akan membeli pulau buatan ini? Apakah nelayan yang kismin? Apakah anak2 betawi asli macam si doel? Apakah rakyat banyak? Tidak! Itu hanya akan dinikmati oleh segelintir orang yang super kaya di Indonesia. Kalau situ cuma berpenghasilan 10 juta/bulan aja, berarti cuma bisa mimpi beli properti di pulau buatan ini, apalagi yang dibawah itu.

Dengan nilai total 10.000 triliun, siapa yang paling menikmati uangnya? Apakah UMKM? Apakah koperasi? Apakah pengusaha kecil? Bukan, melainkan raksasa pemain properti, yang kita tahu sekali siapa mereka ini. Pemiliknya akan super tajir, sementara buruh, pekerjanya, begitu-gitu saja nasibnya.

4. Alasan Bencana Alam

Salah satu senjata pamungkas pembela reklamasi itu adalah: besok lusa Jakarta akan tenggelam, kita perlu benteng berupa pulau luar biar menahan air laut. Kalau mau bangun benteng, ngapain harus pulau? Belanda saja tidak selebay itu, padahal negara mereka di bawah permukaan laut.

Oke, terserahlah namanya juga argumen, yang mau tetap belain reklamasi silakan. Saat pulau-pulau afabet buatan ini sudah megah begitu indah, pastikan anak-cucu kita tidak hanya jadi tukang sapu, tukang pel kaca di hotel-hotelnya, mall, pusat bisnis di sana. Di luar sana banyak yang bersedia pasang badan mati-matian menggunakan logika reklamasi ini. Tapi pastikan, kalian dapat apa?

Kalian dapat berapa sih dari belain reklamasi? Heheh… jangan sampai deh, kalian mengotot, memaki orag lain, demi membela reklamasi ini. 20 tahun lagi, saat pulau-pulau buatan itu jadi, kalian mau menginap di hotelnya semalam saja tidak kuat bayar.

Sudah pernah ke Marina Bay Sand Singapore, yang hasil nimbun laut juga? Semalam harga hotelnya bisa 5-6 juta rupiah. Situ berbusa belain reklamasi, 20 tahun lagi, cuman pengin numpang lewat ke pulaunya saja tidak mampu bayar!. Nginep semalam di sana, setara gaji 2 bulan kita? Sementara yang punya, sudah semakin super tajir, menyuap sana-sini, membantu dana kampanye ini-itu, dll, demi melancarkan bisnisnya.

Ketika alam sebagai alasan, seharusnya tidak ada ekosistem lain yang terganggu. Tidak boleh, motto “Untuk mendapatkan sesuatu, harus kehilangan sesuatu.” Pertanyaan selanjutnya, berapa jumlah ikan, burung, hewan yang terusir dari wilayah yang direklamasi?

5. Bisnis Eksklusif

Ada sebuah rumah, dengan harga 4 milyar. Berapa banyak sih orang bisa membelinya? Berapa gaji kita sekarang? 10 juta per bulan? Tetap impossible membeli rumah tersebut. Mari saya hitungkan. Gaji 10 juta x 12 bulan = 120 juta/tahun. Butuh berapa tahun untuk dapat 4 milyar? 33 tahun. Baru terkumpul uangnya, itupun berarti kita tidak makan, minum, dsb… karena seluruh gaji ditabung. Sialnya, persis di tahun ke-33, ketika uang itu telah terkumpul, rumah tersebut sudah bernilai 10 milyar!

Hanya orang-orang kaya lah yang mampu beli rumah ini. Orang-orang yang punya uang banyak, dan jelas, mereka memang membutuhkan tempat tinggal yang “aman”. Kenapa komplek-komplek elit di kota kalian tertutup? Ada gerbang di depannya, dijaga penuh oleh satpam? Silakan jawab sendiri. Tidak cukup dengan perumahan elit, muncul ide brilian, kenapa kita tidak bikin pulau terpisah saja? Wow, itu kan menarik sekali. Kelompok super elit akan terbentuk di sana. “Tinggal angkat jembatannya”, siapapun tidak bisa lagi masuk dengan mudah. 3 Milyar adalah harga paling murah rumah setapak di pulau reklamasi.

6. Butir Ke-5 Pancasila

Maka, izinkan lah kami bertanya, Bung yang selama ini berteriak soal keadilan sosial, kenapa Bung tidak tergerak hatinya berdiri di depan sana protes keberatan? Lautan akan diuruk dengan tanah hasil mengeruk, dibangun dengan milyaran kubik pasir yang diambil dari milik rakyat. Banyuwangi, Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Lombok, milyaran kubik pasir akan diangkut kapal-kapal besar, menunggu apakah pemerintah setempat setuju atau tidak daerahnya jadi tambang pasir.

Bung, bukankah Anda dulu marah besar saat Singapore mengangkut milyaran kubik pasir dari Riau? 25 kapal lebih bolak-balik membawa pasir, menimbun pulau reklamasi, yang sekarang di atasnya berdiri hotel-hotel super mewah, yang harganya tak terjangkau kalangan proletar. Atau definisi keadilan sosial milik Bung hanya abal-abal saja aka KW2?

Kami, tidak anti 100% reklamasi. Tidak. Dalam beberapa kasus, untuk pembangunan bandara, pembangunan pelabuhan, demi kepentingan umum, reklamasi itu masuk akal. Tapi untuk membangun mall, hotel, apartemen, kondotel, komplek super elit? Wah, itu membuat jurang kesenjangan sosial semakin lebar Bung. Kita bahkan belum bicara soal dampak lingkungan. Omong kosong jika reklamasi itu tidak berdampak pada ekosistem. Itu sama dengan orang yang bilang, “merokok baik untuk kesehatan.” Sekecil apapun, reklamasi pantai membawa dampak pada ikan, udang, dan burung.

7. Kontra

Sekarang, apakah kita bisa menahan soal reklamasi ini? Bagaimana kita akan menahan Tuan Tanah dari bangsa sendiri? Bagaimana mungkin kita bisa mencegah godaan uang ratusan milyar? Itu susah. Produk pulau super elit ini jelas punya pembeli, uangnya ada, ada demand-nya, maka susah menolaknya. Dalam kasus tertentu saya bahkan pernah berpikir, baiklah, silahkan saja reklamasi, tapi seluruh pulaunya milik pemerintah pro rakyat. Yang mau beli di sana cuma nyewa. Itu ide bagus juga.

Tapi hari ini, setelah saya pikir ulang, saya kembali optimis. Kita bisa menghentikan reklamasi ini! Bisa. Sepanjang ada kemauan dari penguasa. Sekali kita punya pemimpin yang berani, yang mau memihak pada rakyat banyak, kita bisa membuat aturan main monumental, menghentikan total reklamasi. Ini jaman sudah berubah, ketika sebuah isu bisa dibicarakan dengan cepat, tambahkan kasus tertangkapnya bos developer oleh KPK. Wah, itu seharusnya membuka mata semua orang, betapa “jeleknya” permainan pulau-pulau rekayasa ini.

8. Tanah Surga Katanya

Tanah Indonesia itu luasnya masih buaaanyak. Kita bukan Singapore, bukan Hong Kong. Negeri ini diberkahi lahan yang luas. Suruh itu developer mengembangkannya. Gelontorkan uang ribuan triliun itu di darat! Berhentilah bangun pulau-pulau egois. Pulau jawa saja lebih luas dari Korea dengan perbandingan 126.700 KM2 : 100.210 KM2.

Lebih dari 10.000 ribu pulau dimiliki Indonesia, dengan mayoritas penduduknya tinggal di pulau Jawa. Jadi tidak ada lagi alasan sempit. Kalau mau bangun negara, bangunlah pemerataan di pulau lain seperti Kalimantan, Sumatra dan daerah lain. Itu akan jauh lebih baik. Minimal, jika di darat sini, kelompok super elit itu bisa sedikit bergaul dengan rakyat banyak. Mereka tidak perlu bikin pulau sendiri. Tenang saja, wahai kelompok super elit, dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, kaum proletar itu adalah tetangga yang oke punya.

Kavling Reklamasi Jakarta Sudah Dijual ke Beijing

Pemberhentian Rizal Ramli dari jabatan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya beberapa waktu lalu, ternyata disorot juga oleh Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab.

Video rekaman ceramah Habib Rizieq yang menyoroti pemberhentian Rizal Ramli dan menyinggung proyek Reklamasi Jakarta kini beredar luas .

Dalam ceramahnya, Habib Rizieq mengatakan bahwa saat ini kekuatan China non-muslim di Indonesia sudah sangat besar. Apalagi mereka juga membangun kerja sama yang kuat dengan perusahaan-perusahaan di Republik Rakyat China (RRC), termasuk dalam proyek reklamasi Jakarta.

Rizal Ramli, kata Rizieq, yang saat itu menjabat sebagai Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, terpaksa harus digeser dari kabinet Jokowi-JK karena menolak proyek Reklamasi Jakarta.

“Begitu ada menteri yang punya rasa nasionalisme, semangat kebangsaan, cerdas, rajin, bagus, berani, seperti Pak Rizal Ramli, dia protes itu reklamasi di Pantai Jakarta, dia tolak reklamasi, akhirnya ribut dengan ahok. Apa yang terjadi? Bukan Ahok yang digusur tapi RR yang diberhentikan,” kata Rizieq.

Menurut Habib Rizieq, uang triliunan dari investor China sudah masuk. Bahkan mereka sudah membuat iklan yang dipromosikan di televisi di Beijing sehingga banyak pengusaha China yang membeli apartemen yang akan dibangun di pulau reklamasi tersebut.

“Apartemennya belum dibangun, ngurugnya belum selesai, sudah laku. Berapa ratus triliun,” ungkap Rizieq.

Tak heran, sambung Habib Rizieq, bila Ahok juga mengatakan jika menghentikan proyek ini maka Indonesia akan dituntut oleh pihak luar negeri. Habib Rizieq mengatakan dia menunggu kebaranian Jokowi.

“Stop itu reklamsi maka sembilan perusuhan naga kompeni bangkrut karena harus kembalikan kepada investor luar. Negeri ini mau dijual. Mengapa gak diiklankan saja di Jakarta, biar orang kaya pribumi beli. Ini diiklankannya di Beijing,” tandas Habib Rizieq.

Referensi

Harta di Balik Reklamasi Teluk Jakarta (Daniel Johan/detikNews)

 

8 Alasan Mengapa Reklamasi Teluk Jakarta Harus Dihentikan (Omar/Openulis.com)

 

Habib Rizieq Ungkap Kavling Reklamasi Jakarta Sudah Dijual ke Beijing (fajar.co.id)

 

https://www.instagram.com/p/BROVjBHBRTp/

 

https://www.instagram.com/p/BROWK2sBABN/

 

https://www.instagram.com/p/BROWlcBhqBS/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s