Bgaimana Kelanjutan Kasus Siyono?

Siyono, seorang terduga teroris yang ditangkap Detasemen Khusus Anti-Teror 88 (Densus 88) di Desa Pogung, Cawas, Klaten, dilaporkan meninggal dunia saat penyidikan.

Baca kembali kasusnya :

Catatan Kecil Kak Seto

Ketua Komnas Anak, Seto Mulyadi membuat catatan kecil soal kasus Siyono. Catatan tersebut ia sebarkan melalui media sosial. Saat dikonfirmasi, ia membenarkan catatan tersebut. “Catatan yang mengenai Siyono ya? iya betul,” katanya saat dikonfirmasi Kiblat.net pada Jumat(10/03).

Berikut selengkapnya catata Kak Seto mengenang setahun kepergian Siyono:


Anak-anak (dan Kita?) Tak Bisa Lupa

source: kiblat.net


Hari ini tepat satu tahun Siyono meninggal dunia. Dia dan banyak lainnya dijuluki sebagai anggota jaringan teror, kendati secara hukum baru sebatas terduga teroris.

Terduga bukan tersangka, apalagi terdakwa, lebih-lebih terpidana. Terduga punya kedudukan sama dengan kita, dan dalam hukum terhadap mereka diberlakukan praduga tak bersalah.

Namun garis tangan membawa Siyono menjadi orang yang dihabisi lewat extrajudicial killing.

‘Lupakan’ Siyono!

Bagaimana kabar anak Siyono hari ini? Apa yang kini dia pahami tentang kematian ayahnya tercinta?
Aku sudah menyambangi salah satu TK di Klaten dan menemukan anak-anak yang terguncang psikisnya.

Tipikal aku bertanya ke bocah-bocah yang menyaksikan operasi extrajudicial killing itu. Nyaris sama sekali tak ada yang mau menjadi polisi.

Itu setahun lalu….

Kini, hari ini, sekali lagi kutanya kepadamu: Apa kabar anak Siyono? Berapa tebal tinta hitam yang ditumpahkan ke keningnya bertuliskan “ANAK TERORIS!”

“Nak, Kakak akan kembali.”

Pesan Kak Seto untuk Penegak Hukum

Ketua Komnas Anak, Seto Mulyadi menegaskan bahwa dalam melakukan tugas, kepolisian tetap mempedulikan hak-hak anak. Artinya, anak harus dijauhkan dari hal yang berbau kekerasan.

“Jadi mohon anak-anak dipisahkan dari orang tuanya, baik anak teroris, mau anak perampok, mau anak bandit, dan lain sebagainya. Itu tetap dijaga hak-haknya, hingga dalam upaya penangkapan dan lain sebagainya, tetep jangan melupakan pembenahan anak-anak ini,” katanya saat dihubungi Kiblat.net pada Jumat (10/03).

Menurutnya, kekerasan akan menimbulkan suatu perasaan benci dendam, yang akan justru menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan dimasa mendatang.

“Jadi pengalaman-pengalaman promatik yang terbentuk tadi akibat ketidak pedulian pada pelindungan anak, justru menjadi kontra konduktif sehingga menimbulkan menyisakan permasalahan-permaslahan komplektif pada masa yang akan datang,” jelasnya.

Maka, ia menghimbau agar kepolisian tidak semena-mena dalam melakukan penangkapan. Ia menegaskan bahwa hal itu sangat berpengaruh buruk bagi anak.

“Jangan sampai mengendaraisasi alah peduli amat tembak di depan anak-anaknya, kadang bapak ditangkep dengan kekerasan di depan anak-anaknya. Nah itu sangat tidak positif, untuk perkembangan jiwa anak,” tukasnya.

Jangan Biarkan Aparatur Negara Jadi Penafsir Tunggal Terorisme

Katua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menghimbau agar tidak ada aparatur negara yang menafsirkan terorisme secara sepihak.

“Jangan biarkan di negeri ini ada aparatur negara memiliki senjata itu menjadi penafsir tunggal terhadap kejahatan terorisme,” katanya kepada Kiblat.net di Gedung PP Muhammadiyah Pusat, Menteng Jakarta pada Jumat (10/03).

“Jadi akhirnya publik tidak berani mengungkapkan. Kenapa? karena publik takut dicap teroris,” sambungnya.

Oleh sebab itu, kata dia, kita menghimbau publik untuk berani bersuara apabila anggota keluarga mereka dicap teroris.

Ia juga menilai bahwa selama ini, aparatur negara secara sepihak menuding siapa yang teroris dan siapa yang bukan.

“Selama ini kan Densus 88, BNPT, Polisi itu jadi penafsir tunggal. Siapa yang teroris, siapa yang bukan. Kalau mereka tembak, kemudian mati, ‘itu teroris’, padahal belum tentu,” tegasnya.

Dahnil pun mempermisalkan anak Siyono yang ayahnya dicap teroris. Menurutnya, hal itu merusak masa depan anak-anak Siyono.

“Bayangkan anak Siyono dicap teroris, gimana masa depan mereka dirusak dirampas karena tindakan yang semena-mena itu,” tukasnya.

Kasus Siyono Bukti Nyata Polisi Kebal Hukum

Sudah setahun kasus kematian Siyono, warga Pogung, Klaten, di tangan Densus 88. Bapak lima anak itu ditangkap dalam keadaan sehat dan dipulangkan tanpa nyawa. Padahal, belum ada pengadilan yang membuktikan dia terkait teroris, apalagi divonis mati.

Terkait hal ini, Staf Divisi Hak Sipil Politik KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) Satrio Wirataru melihat, dalam kasus Siyono ini merupakan bukti nyata bahwa anggota polisi seakan kebal hukum, tidak hanya dalam kasus terorisme, melainkan juga dari kasus-kasus lainnya.

“Kasus Siyono, dengan tidak adanya sanksi yang layak bagi polisi yang melakukan pelanggaran prosedur, ini adalah contoh kekebalan hukum bagi pelanggaran yang dilakukan oleh polisi, tidak hanya dalam kasus terorisme, tapi juga kepada yang lainnya juga, ini contoh buruk yang dilihat masyarakat secara langsung,” ujar Satrio saat dihubungi Kiblat.net, Sabtu (11/3).

Satrio melanjutkan, dengan tidak adanya sanksi yang layak ini, polisi terkesan tidak menindaklanjuti perihal pengungkapan fakta yang jelas terkait kematian Imam Masjid Muniroh, Pogung, Klaten ini.

“Ini menjadi contoh buruk, walau kemudian polisi memiliki momentum yang sebenarnya cukup bagus dalam kasus ini, karena besarnya dukungan masyarakat mengungkap kasus ini,” ungkapnya.

Namun, Satrio menilai, momentum ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh kepolisian, terbukti dari hasil forensik yang dilakukan oleh Muhammadiyah, tidak digunakan dalam pengungkapan kasus Siyono ini.

“Dalam segi forensik, polisi sudah banyak dibantu misalnya oleh Muhammadiyah dll, namun hasilnya itu tidak digunakan oleh prosesnya,” pungkasnya.

Selamat Jalan Siyono

#menolaklupa

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s