Kembalinya Khilafah

Rasulullah saw bersabda : “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Kemudian Ia akan mengangkatnya jika Ia berkehendak menngangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim, ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan, ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”, kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad dan al-Bazar)

Tragedi 03 Maret 1924 M / 28 Rajab 1342 H

89 tahun yang lalu jika menggunakan kalender agama masehi (nasrani) atau 92 tahun yang lalu jika menggunakan kalender perhitungan umat Islam yakni kalender Hijriah suatu peristiwa penting telah terjadi dan dilupakan oleh sebagian kaum muslim, peristiwa itu adalah peristiwa pembubaran sistem khilafah oleh seorang penkhianat yang bernama Musthafa Kemal at Tarturk.

Khilafah dibubarkan saat terjadi Konferensi Luzone, dimana Musthafa Kemal menerima 4 syarat yang diajukan Inggris untuk mengakui kekuasaan barunya di Turki. Keempat syarat itu adalah:

  • (1) Menghapus sistem Khilafah;
  • (2) Mengasingkan keluarga Utsmaniah di luar perbatasan;
  • (3) Memproklamirkan berdirinya negara sekular;
  • (4) Pembekuan hak milik dan harta milik keluarga Utsmaniah. (Mahmud Syakir, Târîkh al-Islâm, VIII/233). Akibatnya, setelah 6 abad berkuasa dan memimpin umat Islam, “The Old Sick-Man” akhirnya tumbang.

Sejak saat itu, umat Islam hidup tanpa seorang Imam/khalifah serta diatur dengan aturan yang tidak bersumber dari Allah swt sang pembuat akal manusia, melainkan diatur oleh hukum yang dilahirkan dari akal manusia.
Akibat dari aturan yang berasal dari akal manusia tersebut, kemudian melahirkan penderitaan dan kesengsaraan yang tidak hanya menimpa kaum muslim namun juga umat secara keseluruhan di muka bumi. Sistem pemerintahan khilafah diganti dengan sistem pemerintahan yang sekuler. sistem sekularistik itu kemudian melahirkan berbagai bentuk tatanan kehidupan manusia yang jauh dari nilai-nilai agama, kita bisa melihat bagaimana kemudian tatanan ekonomi yang bersifat kapitalistik, para politikus yang oportunistik, budaya kehidupan masyarakat yang hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta sistem pendidikan yang materialistik.

Perjuangan Menegakan Khilafah

Sebenarnya, sejak khilafah di bubarkan pada tahun 1924, telah ada upaya-upaya sebagian kaum muslimin untuk tetap mewujudkan agar khilafah itu tegak. Hal ini karena mereka memahami bahwa perkara tegaknya khilafah adalah perkara yang bersifat ma‘lûm min ad-dîn bi ad-dharûrah. Selain itu, mereka juga memahami bahwa kaum muslimin haram hidup tanpa adanya seorang Imam/Khalifah lebih dari 3 hari 3 malam, sebagaimana ijma’ sahabat.

Pada Maret 1924 dibawah pimpinan Syaikh al-Azhar para ulama menyelenggarakan pertemuan di Kairo. Dalam pertemuan ini disepakati bahwa keberadaan Khilafah yang memimpin umat Islam tidak dapat dipungkiri merupakan sebuah keharusan. Mereka juga berpendapat kedudukan Abdul Majid sebagai Khalifah sudah gugur setelah dia diusir dari Turki. Oleh sebab itu harus ada pengganti Khalifah selanjutnya. Untuk membahas siapa yang layak menjadi Khalifah, mereka memutuskan akan mengadakan Muktamar di Kairo pada Maret 1925 dengan mengundang wakil-wakil dari umat Islam di seluruh dunia.
Hal serupa juga dilakukan oleh ulama di Hijaz. Pada April 1924 di Makkah, Syarif Husein yang menjadi Amir Makkah membentuk Dewan Khilafah yang terdiri dari sembilan sayid dan sembilan belas perwakilan dari daerah lain termasuk dua orang perwakilan dari Jawa. Dewan Khilafah ini dibentuk sebagai upaya untuk menegakkan kembali jabatan Khalifah. Namun Dewan Khilafah tidak berumur panjang karena pada tahun yang sama Syarif Husein lengser dari jabatannya.

Di Indonesia pun berita penghapusan Khilafah telah sampai dan mendapat respon dari ulama dan tokoh pergerakan Islam pada saat itu. Pada Mei 1924, dalam kongres Al-Islam II yang diselenggarakan oleh Sarekat Islam dan Muhammaddiyah, persoalan tentang Khilafah menjadi topik pembicaraan kongres. Dalam kongres yang diketuai Haji Agus Salim ini diputuskan bahwa untuk meningkatkan persatuan umat Islam maka kongres harus ikut aktif dalam usaha menyelesaikan persoalan Khalifah yang menyangkut kepentingan seluruh umat Islam.

Khilafah Kian Dekat

Hampir 1 abad sejak khilafah di bubarkan, disertai dengan perjuangan kembali menegakkanya namun ternyata khilafah belum tegak. Lantas kapankah khilafah itu tegak?

Perlu difahami bersama bahwa perkara tegaknya khilafah itu adalah sebuah keniscayaan, karena khobar akan tegaknya khilafah memang perkara yang sudah dijanjikan di dalam al qur’an dan melalui hadits-hadist yang bersifat mutawatir ma’nawi. Namun terkait pertanyaan kapan dan dimana khilafah akan tegak, maka itu sesuatu yang ghaib alias hanya Allah swt saja yang maha tahu.

Lantas pertanyaanya kemudian kenapa sering sekali khilafah dikatakan dekat akan segera berdiri padahal tidak ada nash yang menunjukan waktu dan tempat khilafah akan berdiri?

Jawabannya adalah kembali kepada bisyarah akan tegaknya khilafah. Semisal hadist yang berbunyi :

Rasulullah saw bersabda : “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Kemudian Ia akan mengangkatnya jika Ia berkehendak menngangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim, ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan, ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”, kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad dan al-Bazar)

Hadist tersebut memberikan kabar gembira (bisyarah) bahwa khilafah akan tegak kembali. Dimana kita juga mengetahui bahwa 3 fase pertama yakni fase nubuwah, fase khulafaur rasyidin dan fase mulkan ‘adhon telah berakhir, sedangkan fase sekarang adalah mulkan jabariyan yang juga sedang menunjukan tanda-tanda kehancurannya, artinya tinggal fase terakhir yakni fase khilafah ‘ala minhajin nubuwah.

Analogi khobar hari kiamat

Keimanan terhadap hari kiamat adalah di antara pokok ajaran Islam bahkan termasuk dari rukun Iman. Keimanan seseorang barulah sempurna jika dia meyakini adanya hari kiamat.
Allah swt berfirman :

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang.” (QS. Thahaa: 15)

وَإِنَّ السَّاعَةَ لآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

“Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al Hijr: 85)

فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al ‘Ankabut: 5)

إِنَّ السَّاعَةَ لآتِيَةٌ لا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.” (QS. Ghafir: 59)

Dalam ayat lain, Dia berfirman:

إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا

“Sesungguhnya mereka memandang hari kiamat itu jauh (tidak akan terjadi). Sedangkan Kami memandangnya dekat (waktu terjadinya)” (QS al-Ma’aarij: 6-7).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Artinya (ayat di atas): orang-orang yang beriman meyakini wktu terjadinya hari kiamat dekat, meskipun kepastian waktunya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah , akan tetapi segala sesuatu yang akan datang maka itu dekat dan pasti terjadi” [Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/537)]

Sama hal nya akan datangnya fase kekhilafahan ‘ala minhaj nubuwah, memang perjuangan menegekan kembali khilafah adalah perkara yang memerlukan pengorbanan yang besar, namun kita merasa khilafah itu kian dekat, kenapa karena kita percaya dan yakin bahwa sesuatu yang pasti datang maka ia akan terasa dekat.

Rasulullah saw. dalam khutbahnya sering mengatakan:

كُلُّ مَا هُوَ آتٍ قَرِيْبٌ لاَ بُعْدَ لِمَا هُوَ آتٍ

“Semua yang pasti datang adalah dekat. Tidak ada istilah jauh untuk apa yang pasti datang” (HR Baihaqi).

Khilafah Tahun 2020 Di Dalam Pandangan Seorang Penulis Rusia

Rilis dari buku “Rusia .. Imperium ketiga”

Akhir-akhir ini, di Rusia telah diterbitkan sebuah buku yang berjudul “Rusia .. Kekaisaran ketiga,” ditulis oleh “Michael Ioreyev“, direktur sebuah perusahaan Rusia dan Wakil Presiden Rusia Union of Industrialists dan Wakil Ketua Duma (Rusia Assembly).

Buku tersebut menyingung masa depan Rusia. Pada Coverian dalam buku berisi peta dunia menampilkan beberapa negara dan Eropa terletak di dalam batas-batas dari Rusia.

Penulis mengatakan bahwa ia memperediksi aka nada beberapa Negara Besar di dunia yang akan muncul pada tahun 2020. Saat itu,akan terdapat empat atau lima negara berperadaban ,yaitu Rusia, yang akan menguasai benua Eropa,Cina, Negara Timur Jauh, Negara Khilafah Islam dan Negara konferderasi Amerika yang akan menggabungkan Amerika Utara dan Amerika Selatan. Begipai Negara Islam.

Penulis tidak bisa memastikan bahwa hanya Rusialah yang akan menguasai benua Erofa. Tapi ia meyakini bahwa peradaban Barat pasti akan lenyap. Pasti akan diperangi atau dikuasai oleh beberapa Negara tersebut.

Tentang system yang akan diadopsi oleh Imperium ketiga itu, penulis mengatakan” sisitem itu adalah system kapitalis yang sebenarnya,yaitu sistem yang mampu memproduksi devisa paling besar dan memberikan peluang kerja untuk semua orang.

Sumber: Al-Aqsa.org, 19 Februari 2009

Resensi Buku: Kejatuhan dan Kebangkitan Negara Islam

Dalam bukunya yang terbit di tahun 2008 berjudul “Kejatuhan dan Kebangkitan Negara Islam”, Profesor Noah Feldman di Harvard menyatakan bahwa kemunduran Syariah Islam di masa lalu akan diikuti dengan kebangkitan Syariah Islam, suatu proses yang berakhir pada terbentuknya Khilafah Islam. Feldman adalah salah satu anggota komisi luar negeri New York. Buku-buku karangan dia sebelumnya juga membuat kejutan, seperti “Paska Jihad: Amerika dan Perjuangan Demokrasi Islam” (2003), “Hutang Kita Kepada Iraq: Perang dan Etika Membangun Negara” (2004), dan “Dipisah oleh Tuhan: Problema Pemisahan Negara dan Agama di Amerika — Apa yang Harus Kita Lakukan” (2005).

Bagi Feldman, beberapa kondisi tertentu diperlukan untuk memenuhi proses kebangkitan. Negara Islam akan menerapkan keadilan bagi umat, namun Negara tersebut tidak bisa dibangun dengan menerapkan sistem lama begitu saja, tapi harus mengenalkan sistem yang baru.

Tesis Feldman memerlukan perhatian khusus. Pada awal abad ke 21, dunia termasuk dunia Islam dan Timur Tengah akan mengalami perombakan. Apa peran Islam dalam perubahan tersebut? Pertanyaan ini perlu dijawab.

Pengalaman sejarah kita menunjukkan bahwa keruntuhan institusi politik yang besar dan mapan seperti Uni Soviet dan sistem Kerajaan-Kerajaan masa lalu biasanya tidak bisa dibangkitkan lagi. Kecuali hanya ada dua: Struktur Demokrasi sebagai kelanjutan dari Imperium Romawi, dan Negara Islam. Siapapun yang jeli memonitor situasi dunia Islam dari Maroko ke Indonesia akan melihat bahwa loyalitas masyarakat terhadap Islam tidak berubah meskipun kebobrokan administrasi dan kesewenang-wenangan kekuasaan banyak sekali terjadi di sana. Walaupun faktanya para pimpinan mereka gagal untuk menerapkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya dan tenggelam dalam budaya korupsi dan kepalsuan, mereka masih mampu berkuasa dengan menggunakan tongkat represif. Ulama Islam yang sejati dan Hakim seperti masa sebelumnya sudah tidak ada lagi atau tidak lagi berfungsi untuk menghentikan kesewenang-wenangan penguasanya. Namun demikian, sebagaimana diyakini oleh Feldman, saat ini Islam akan kembali dengan wajah yang berbeda dibandingkan yang dikenal dalam masa sebelumnya.

Feldman berargumentasi bahwa pergerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir menghargai demokrasi. Ketika lobi Yahudi berusaha menampilkannya sebagai organisasi teroris, Hamas sebenarnya menghormati keabsahan demokrasi. Di Turki, partai politik Islam atau partai pro Islam sudah lama berdiri sejak tahun 1969 dalam kancah politik dan keluar masuk panggung kekuasaan melalui pemilu.

Dalam menghadapi tantangan dunia modern, Muslim mampu menahan upaya restorasi radikal dan kuat tanpa meninggalkan akar tradisi mereka. Model ‘Walayat al-Faqih’ (Komite Ahli Hukum Islam) yang dikenalkan di Iran setelah revolusi Islam pada tahun 1979 perlu didiskusikan dan ditinjau secara mendalam. Salah satu prioritas penting dalam dunia Islam adalah pemecahan masalah keseimbangan kekuasaan dan penegakkan hukum. Sejak masa Nabi Muhammad, penguasa Muslim berusaha keras untuk meyakinkan masyarakat tentang keabsahannya dengan melarang semua hal yang dinyatakan sebagai haram, namun di masa sekarang penekanan pada aspek kebebasan menjadi lebih penting. Keberhasilan di aspek ini oleh Dunia Islam tidak saja akan menguntungkan dunia Islam, tapi juga Dunia Barat.

Feldman juga menekankan bahwa di masa lalu, ulama yang menafsirkan Syariah adalah pemegang peran dalam mengontrol lembaga eksekutif; namun, menurutnya, peran ini dihancurkan oleh reformasi yang belum selesai dna fenomena Tanzimat yang ditemukan pada masa Ottoman. Akibatnya, ketiadaan lembaga yang mengontrol penguasa mengakibatkan kesewenang-wenangan yang memonopoli sistem administrasi. Feldman juga menyebutkan bahwa Khilafah Ottoman berutang kepada Dunia Barat sehingga ia berada dalam tekanan untuk melakukan reformasi. Akibatnya, sistem keadilan dan para ulama Islam akhirnya diganti dengan lembaga baru, sehingga runtuhlah kekhalifahan Islam. Kekuatan penjajah imperialis seperti Inggris dan Perancis akhirnya berhasil masuk.

Akan tetapi, Feldman juga melihat bahwa lembaran baru di abad 21 akan tiba dengan kembalinya Islam meskipun kekuatan politiknya sempat runtuh di tahun 1924 dan para ulamanya yang berperan sebagai pengawal Syariah sempat dipinggirkan dan disingkirkan.

Penasihat Obama: Khilafah Akan Tegak Kembali, Pasti dan Mustahil Dihindari

 

Penasihat Presiden AS untuk keamanan dalam negeri, Mohamed Elibiary memperingatkan, dalam statusnya di situs jejaring sosial “Twitter” tentang tegaknya Khilafah Islam, dimana ia menegaskan bahwa satu-satunya pilihan bagi Amerika Serikat adalah menjalankan Containment Policy, yakni kebijakan untuk mencegah penyebarannya, seperti yang dilakukan pada Uni Eropa, katanya.

Elibiary membuat sebuah status yang memicu kontroversi di Amerika di akun Twitter-nya, bahwa kembalinya Khilafah adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari, maka satu-satunya pilihan bagi kita adalah mendukung ide menjadikan Khilafah seperti Uni Eropa.

Mohamed Elibiary, menurut situs Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, bekerja sebagai penasehat lembaga federal Amerika Serikat untuk keamanan nasional (rassd.com, 17/6/2014).

Konklusi :

Rasulullah saw pernah menjelaskan bahwa akan ada 5 masa pemerintahan yang terjadi di dunia, hingga akhir zaman. penjelasan tersebut terdapat dalam hadits berikut,

“Masa kenabian akan tetap ada di tengah-tengah masyarakat kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Kemudian akan ada masa khilfah rasyid (yang mendapat petunjuk) yang berjalan selaras dengan kenabian. khilafah itu akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Setelah itu akan ada (masanya) banyak pemimpin, dan itu akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Setelah itu akan ada pemerintahan tirani dan akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. kemudian akan muncullah khilafah rasyid yang berjalan selaras dengan kenabian.” Kemudian beliau terdiam. (musnad Imam Ahmad [v/273])

Diamnya Rasulullah ini menandakan berakhir sudah masa-masa pemerintahan di bumi, dan setelah itu kita akan dihadapkan mada akhir zaman, kiamat. kita saat ini sudah berada pada tahapan ke 4, yakni pada masa pemerintahan tirani (atau ada yang menyebutnya “masa pemerintahan yang menggigit”). Maka akhir dari masa ini adalah, kembali tegaknya khilafah rasyid yang berjalan selaras dengan kenabian. sesuai dengan janji Allah bahwa pada akhir zaman, umat Islam akan bangkit kembali. 

Kemudian, apakah benar khilafah hanya eksis selama 30 tahun?

Tidak diragukan lagi bahwa Negara Islam yang didirikan oleh Rasulullah saw di Madinah terus hidup hingga kehancurannya di tangan Mustafa Kamal Atatur pada 3 maret 1924. Kelangsungan sistem pemerintahan islam, yakni sistem khilafah, sejak masa khulafaur Rasyidin dibuktikan oleh kenyataan dan naskah-naskah sejarah. Dalam konteks sejarah, kita harus mengingat struktur dalam sistem pemerintahan agar kita dapat mengkaji dengan baik apakah negara itu memang ada atau tidak. Struktur tersebut didasarkan pada beberapa pilar, yakni Khalifah -sebagai kepala negara, para pembantu Khalifah (Mu’awin Tafwidl), para pelaksana tugas dari khalifah (mu’awin tanfidz), amir jihad, para gubernur (wulat), para hakim (Qadhi), departemen-departemen negara, dan majelis negara (majelis al-ummah). Bila kita menjalankan kajian sejarah, maka dapat kita lihat bahwa seluruh lembaga, kecuali syura, tetap ada selama berabad-abad hingga kehancurannya pada tahun 1924. Ketidakadaan atau ketidakberdayaan lembaga syura pasca masa khulafaur rasyidin tidak berarti bahwa sisstem pemerintahan berubah, karena pemerintahan tetap dapat terlaksana tanpa adanya lembaga syura, walaupun mendirikan lembaga tersebut adlaah hal setiap muslim. Selama beberapa periode dalam sejarah dimana tidak ada khalifah karena terjadinya perang saudara atau pendudukan oleh tentara asing, negara khilafah tetap ada, karena struktur lainnya tetap ada. 

Mengenai pandangan bahwa telah berlangsung sistem monarki (kerajaan), memang benar bahwa bai’at sebagai proses dalam pengangkatan khilafah telah disalahgunakan, namul hal tersebut tidak pernah mempengaruhi kelangsungan negara khilafah. Hal ini karena sekalipun seorang khalifah meminta rakyat untuk membai’at puteranya sebelum ia mangkat, proses bai’at itu sediri tetap ada dan berlangsung. Bai’at ini biasanya diberikan oleh kalangan berpengaruh atau perwakilan rakyat (ahlul halli wal ‘aqdi), atau sebagaimana kita saksikan pada masa selanjutnya, dilakukan oleh syaikhul islam. 

Jumhur ulama tetap sepakat bahwa khilafah tetap berdiri setelah berlalunya era khulafaur rasyidin, walau beberapa kalangan dari golongan salafi tidak mengakui diberikannya gelar khalifah kepada para penguasa berikutnya, karena hadits berikut yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang menerima dari Safinah, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Khilafah di tengah kaumku setelah aku akan berlangsung selama 30 tahun. kemudian akan ada mulkan aduudan (penguasa monarki) setelahnya”.

[Narasi yang sama dapat ditemukan dalam Sunnah Abu Dawud 92/264) dan Musnad Ahmad (1/169)]

Menurut tafisran jumhur ulama, hadits ini tidak berarti bahwa negara khilafah langsung lenyap setelah 30 tahun, karena hal itu berarti bertentangan dengan nash lainnya.

Jabir bin Samurah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Islam akan tetap ada hingga hari akhir terjadi atau saat kalian telah diperintah oleh dua belas khalifah, mereka semua dari golongan Quraisy”. [Shahih Muslim]

Hadits ini mengindikasikan bahwa umat tidak akan hanya memiliki empat atau lima khalifah, ini berarti khilafah tidak hanya akan berlangsung selama 30 tahun. sehubungan dengan hadits ini, Qadhi Iyad berkata:

‘…Dijelaskan dalam hadits lainnya, ‘khilafah setelahku akan berlangsung selama 30 tahun, kemudian akan ada penguasa monarki’ hadits ini tentu bertentangan dengan hadits yang menyebut ada dua belas khalifah, karena dalam masa 30 tahun hanya ada khulafaur rasyidin dan beberapa bulan saat bai’at diberikan kepada Hasan bin Ali. Jawabannya ialah: apa yang dimaksud dengan ‘khilafah akan berlangsung selama 30 tahun’ adalah khilafah nubuwwah (khilafah yang berlandaskan kenabian…)’ [sebagaimana dikutip oleh An-Nawawi dalam syarah Shahih Muslim, 1821]

Sementara dalam hal rujukan pada dua belas khalifah yang dimaksud, tidak berarti bahwa khalifah hanya terbatas pada dua belas orang, sebagaimana dijelaskan oleh Qadhi ‘Iyad:

‘Mungkin apa yang dimaksud dengan dua belas khalifah dalam hadits ini dan hadits lain yang sejenis ialah bahwa mereka adalah para khalifah pada masa terkuat khilafah, kekuasaan islam, saat segala urusan di jalankan dengan benar dan rakyat bersatu di bawah mereka yang menduduki jabatan khalifah.’ [Tarikh al Khulafa, karya Imam As Suyuthi, p. 14]

Ibnu hajar dalam syarah al-Bukhari berkata:
‘Apa yang dikatakan oleh Qadhi Iyad merupakan pendapat terbaik diantara pendapat lain yang mengomentari hadits yang sama. saya kira inilah pendapat terkuat karena didukung oleh sabda nabi saw melalui sanad yang jelas: ‘Dan umat akan bersatu di bawah mereka…’ (fathul Baari).

Kemudian ibnu hajar memberikan sebuah perhitungan historis tentang bagaimana umat berkumpul dan bersatu di bawah para khalifah setelah berlalunya era khulafaur rasyidin. ia mengemukakan bagaimana kecintaan umat terhadap khalifah umar bin abdul aziz, dan ia bahkan mengatakan, ‘khulafa bani abbas’, yakni maksudnya para khalifah dari golongan abbasiyah.

Jadi, bukankah kembalinya khilafah itu memang terasa dekat bukan?

Referensi :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s