Kontroversi Penetapan 1 Juni Sebagai Hari Lahir Pancasila

Pada tanggal 1 Juni 1945, presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno menyampaikan pidatonya yang berjudul Pancasila di dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan). Dalam pidato tersebut muncul konsep mengenai rumusan awal Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia. Nama Pancasila terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa sansekerta. Panca berarti lima, sedangkan sila adalah prinsip atau asas. Pancasila menjadi salah satu rumusan dan pedoman dalam hidup bangsa Indonesia. Pancasila juga muncul dalam paragraf ke 4 UUD 1945. Sempat terjadi beberapa perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila. Tetapi akhirnya, tanggal Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila.

Surat Edaran : Peringatan Hari Lahir Pancasila


SURAT EDARAN

Nomor: 362/B/SE/2017

Yth. Pimpinan Perguruan Tinggi
di Lingkungan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 tentang penetapan 1 Juni sebagai hari lahir pancasila dan hasil pertemuan Kementerian dengan perwakilan dari wakil rektor/direktur bidang kemahasiswaan, maka Kemenristekdikti akan melaksanakan peringatan hari lahir Pancasila dengan kegiatan-kegiatan yang relevan. Untuk itu kami mohon Saudara melaksanakan hal-hal berikut:

  1. Melaksanakan upacara pada tanggal 1 Juni 2017 untuk memperingati Hari Lahir Pancasila;
  2. Membuat baligo dengan tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” untuk ditempatkan pada posisi strategis di lingkungan perguruan tinggi pada tanggal 25 Mei s.d 7 Juni 2017;
  3. Bagi mahasiswa akan diadakan kegiatan sebagai berikut:a. lomba membuat quote, pendapat, atau ide tentang Pancasila dengan tegar/hashtag #CintaPancasila yang disertakan menyebut (mention) akun resmi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melalui media sosial twitter (@kemristekdikti) dan instagram (ristekdikti). Lomba ini menyediakan hadiah berupa beasiswa prestasi bagi 10 mahasiswa dengan quote, pendapat, pernyataan dan ide tentang Pancasila terbaik yang akan ditetapkan oleh tim juri;b. Lomba membuat film pendek yang bertemakan “Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara” bagi mahasiswa di seluruh tanah air mulai 25 Mei d. 1 Oktober 2017;c. Lomba membuat karya tulis ilmiah dengan tema “Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara” bagi mahasiswa di seluruh tanah air mulai 25 Mei s.d. 10 Agustus 2017.

Ketentuan perlombaan pada poin b dan c akan kami umumkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Demikian surat edaran ini untuk dipedomani dan mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, 16 Mei 2017

Direktur Jenderal,

TTD

Intan Ahmad

 

Tembusan:
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Lampiran :
SE Hari lahir Pancasila


LAHIRNYA Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan”) pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal “Pancasila” pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut.

Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan” atau BPUPK, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan “Indonesia”).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945). Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad (bahasa Indonesia: “Perwakilan Rakyat”).

Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya “Pancasila”. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.

Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso,Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.
Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”.

Tapi, Tanggal 1 Juni Sungguhkah Hari Lahir Pancasila?

Benarkah 1 Juni Hari Lahir Pancasila? (Menyoal Surat Keputusan Presiden)

Tanggal 1 Juni 2016, Presiden Jokowi telah mengeluarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Hari Lahir Pancasila. Melalui keputusan tersebut telah ditetapkan oleh Presiden bahwa Tanggal 1 Juni merupakan hari lahirnya Pancasila. Penetapan ini juga disertai dengan menjadikan 1 Juni sebagai hari libur nasional. Surat itu memerintahkan agar pemerintah bersama seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni. Sebelum adanya putusan ini, telah banyak elemen masyarakat yang menginginkan bahwa tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila yang diwujudkan dalam bentuk diskusi, seminar, sarasehan, dan aksi jalanan. Melalui tulisan ini, penulis mencoba mengkritisi surat keputusan Presiden tersebut berdasarkan sejarah yang penulis pahami.

Pancasila dalam Sejarah

Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia khususnya mengenai Pancasila, dapat dilihat sejarahnya itu dalam beberapa tahapan berikut.

Pertama, 1 Juni 1945

Bung Karno mengucapkan Pancasila dengan rumusan dan urutan, yaitu :

  1. Kebangsaan Indonesia,
  2. Internasionalisme atau Peri-Kemanusiaan,
  3. Mufakat atau Demokrasi,
  4. Kesejahteraan Sosial, dan
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Perlu kita pahami, bahwa rumusan yang diucapkan oleh Bung Karno ini masih sebagai rancangan yang sering disebut rancangan “Phillosophisce Groundslag”. Pancasila yang diucapkan oleh Bung Karno ini kemudian akan di rumuskan kembali Panitia Delapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam perumusan tersebut, Pidato Bung Karno dijadikan bahan utama dan ditambah dengan usulan-usulan dari semua anggota BPUPKI yang mengusulkannya. Panitia Delapan tersebut dipimpin oleh Bung Karno, sedangkan para perumus yang lainnya adalah : Muh. Hatta, Muh. Yamin, A. Maramis, Oto Iskandardinata, Sutardjo Kartohadikusumo, Ki Bagus Hadikusomo dan Wachid Hasyim.

Kedua, 22 Juni 1945

Rumusan Pancasila itu diubah oleh Panitia Sembilan yang terdiri dari Bung Karno sebagai Pimpinan, sedangkan yang lainnya adalah : Muh. Hatta, Muh. Yamin, A. Maramis, Subardjo, Wachid Hasyim, Kahar Muzakki, Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosuyoso. Sidang tersebut hanya dihadiri oleh 38 Anggota BPUPKI yang merangkap sebagai anggota Chuoo Sangi In dan anggota BPUPKI yang tinggal di Jakarta. Dengan kata lain, Sidang tersebut tidak diwakili  daerah-daerah seluruh Indonesia. Sidang tersebut mengasilkan yang kita kenal Piagam Jakarta. Isi dari Pancasila pada Piagam Jakarta adalah :

  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya,
  2. Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab,
  3. Persatuan Indonesia,
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemusyawaratan perwakilan,
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut RM. AB Kusuma, Pacasila 1 Juni dengan Pancasila 18 Agustus terjadi perubahan Hirarki norma (Auxilogical Hierarchy of Norms). Nilai moral berupa Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam diangkat keatas, dijadikan norma utama (norma normarum).

Ketiga, Pancasila yang dirumuskan tersebut diresmikan oleh sidang BPUPKI pada tanggal 11 Juli 1945 dengan urutan yang sama dengan urutan Pancasila di Piagam Jakarta 22 Juni 1945.

Keempat, Pada Tanggal 18 Agustus 1945, rumusan Pancasila diubah lagi oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang juga dipimpin oleh Bung Karno dengan memiliki anggota sebanyak 26 orang yang meliputi wakil-wakil dari seluruh Indonesia. PPKI mengubah rumusan Pancasila dengan mengurangi 7 kata “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, kemudian menambahkan 3 kata “Yang Maha Esa”. Lengkapnya, rumusan yang disepakati oleh wakil-wakil seluruh rakyat Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tersebut adalah:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa,
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
  3. Persatuan Indonesia,
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan,
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selain itu pula, perlu diketahui bahwa pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Undang Undang Dasar Sementara 1950, rumumsan Pancasila adalah:

  1. Pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa,
  2. Peri Kemanusiaan,
  3. Kebangsaan,
  4. Kerakyatan, dan
  5. Keadilan Sosial.

Kritik terhadap Kepres

Pertama, di dalam Kepres tentang Hari Lahir Pancasila bagian konsideren menimbang poin C tercantum “bahwa untuk pertama kalinya Pancasila sebagai dasar negara diperkenalkan oleh Ir. Soekarno, Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945”. Hal ini sejalan dengan sejarah yang kemukakan diatas. Menurut penulis, pidato Bung Karno ini adalah embrio lahirnya Pancasila yang sekarang berlaku di negara kita karena pada saat itu belum ada kesepakatan tentang Pancasila yang diucapkan oleh Bung Karno, Ia baru sebagai gagasan usulan yang disampaikan oleh Bung Karno. 1 Juni adalah lahirnya gagasan konsep Pancasila versi Bung Karno yang kemudian dirumuskan kembali oleh BPUPK dan PPKI. Sedangkan Pancasila yang sah dan berlaku di Indonesia adalah Pancasila yang lahir dan diresmikan pada Tanggal 18 Agustus 1945 yang dirumuskan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). PPKI tersebut juga dipimpin oleh Bung Karno.

Jika kita analogikan, misalnya di lembaga legislatif (DPR), salah satu fraksi mengajukan sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang kemudian disetujui masuk ke dalam prolegnas, dibahas, disepakati serta disahkan oleh Presiden. Apakah lantas kemudian kita dapat meng”klaim” bahwa hari lahirnya undang-undang tersebut adalah pada tanggal fraksi partai tersebut mengusukan RUU? atau undang-undang itu lahir sejak disahkan oleh Presiden yang melalui proses pembahasan di DPR?

Kedua, Pada konsideren menimbang poin f tercantum “bahwa tanggal 18 Agustus telah ditetapkan sebagai Hari Konstitusi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2008, sehingga untuk melengkapi sejarah ketatanegaraan Indonesia perlu ditetapkan hari lahir Pancasila”. Menurut penulis, kalimat ini seolah-olah membedakan antara Pancasila dengan Konsititusi (UUD NRI 1945). Padahal kita mengetahui bahwa Pancasila dan UUD NRI 1945 disahkan bersama-sama pada tanggal 18 Agustus 1945 dalam sidang PPKI, yaitu sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Jika pemerintah beranggapan bahwa hari lahir Pancasila adalah 1 Juni 1945 karena pertama kali diperkenalakan oleh Bung Karno, Mengapa Pemerintah tidak beranggapan bahwa UUD NRI 1945 lahir pada 13 Juli 1945 karena panitia kecil telah selesai merumuskan rancangan naskah UUD? atau 16 Agustus 1945 karena BPUPKI menyetujui rancangan Undang Undang Dasar?

Selain itu pula, Pembukaan UUD NRI 1945 yang didalamnya juga tercantum dasar falsafah negara Pancasila merupakan satu kesatuan nilai dan norma yang terpadu sehingga tidak dapat dipisahkan dengan rangkaian pasal-pasal dan batang tubuh UUD NRI 1945. Menurut Jimly Asshiddiqie hubungan antara Pancasila dan UUD NRI 1945 itu dapat digambarkan seakan-akan sebagai hubungan antara roh dengan jasad. Pancasila adalah rohnya, sedangkan UUD 1945 merupakan jasadnya. UUD 1945 merupakan bentuk hukumnya, sedangkan Pancasila adalah esensi nilai atau substansinya. Pendek kata, keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

Jika kita sudah bisa bersepakat bahwa pidato Yamin yang otentik tak memuat usulan lima dasar dan pidato Soepomo juga tak memuat usulan lima dasar, maka Sukarno merupakan satu-satunya yang mengusulkan lima dasar dan bahkan memberinya nama Pancasila. Lalu apakah pidato Sukarno pada 1 Juni 1945 bisa dinilai sebagai pidato kelahiran Pancasila?

Sebagian ada yang berpendapat tidak bersepakat. Ini semata-mata karena rumusan Pancasila pada 1 Juni berbeda dengan rumusan Pancasila pada 18 Agustus 1945. Apalagi pada pidato tersebut, Sukarno menyatakan bahwa jika lima sila itu terlalu banyak maka bisa diperas menjadi trisila. Jika tiga sila masih dinilai terlalu banyak juga maka cuma ada satu sila, ekasila. Padahal setelah 18 Agustus, sudah tidak ada lagi tiga sila atau satu sila tersebut. Karena hal itu tak ada dalam keputusan resmi.

Penolakan ini sesuatu yang wajar belaka. Apalagi pada tahun-tahun berikutnya, Sukarno masih tetap berpidato tentang tiga sila dan satu sila.

Seperti ditegaskan Nugroho Notosusanto, “Jadi kalau ada orang yang mengatakan bahwa tanggal 1 Juni 1945 adalah hari lahir Pancasila maka kita harus menanyakan terlebih dahulu: Pancasila yang mana?” Bahkan Nugroho menyatakan tentang pentingnya “pengamanan” Pancasila. “Ibaratnya Pancasila itu merknya, isinya dapat saja ditukar dengan isi lainnya,” katanya. Hal itu ia rujuk pada kenyataan praktik Demokrasi Terpimpin yang menerima komunisme yang bisa dinilai bertentangan dengan Pancasila.

AG Pringgodigdo juga mempunyai pendapat yang sama. Menurutnya, “Perumusan dalam pembukaan UUD 1945 itu berbeda dengan perumusan yang diberikan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945. Berhubung dengan itu maka tidak benar bahwa Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945…1 Juni bukan hari lahir Pancasila tapi lahirnya pemakaian istilah Pancasila.”

Pendapat yang bijak dikemukakan oleh Yudi Latif, seperti ditulis dalam karya magnum opusnya, Negara Paripurna (terbit 2011). Buku yang sangat berpengaruh sejak era reformasi ini merupakan buku yang secara komprehensif memberikan perspektif historik dan konseptual tentang Pancasila yang objektif dan ilmiah serta tak ditumpangi kepentingan politik.

Setelah itu, Yudi juga menulis buku Mata Air Keteladanan, Pancasila dalam Perbuatan (terbit 2014). Buku ini menulis tentang praktik-praktik hidup berpancasila seperti dicontohkan para pendahulu kita.

Jika dua buku itu merupakan buku-buku yang tebal, maka pada buku ketiganya ia menulis buku yang relatif lebih tipis. Judulnya Revolusi Pancasila (terbit 2015). Buku terakhir dari trilogi bukunya tentang Pancasila ini merupakan buku praksis dalam menerapkan Pancasila. Buku ketiga ini semacam buku panduan.

Dalam Negara Paripurna, Yudi membagi fase kelahiran Pancasila dalam tiga tahap: fase pembuahan, fase perumusan, dan fase pengesahan. Fase pembuahan dimulai dari kiprah Perhimpunan Indonesia di Belanda pada 1924. Fase perumusan berlangsung dalam sidang BPUPK pada 29 Mei-1 Juni 1945. Adapun fase pengesahan adalah pada 18 Agustus 1945.

“Oleh karena itu, rumusan Pancasila sebagai dasar negara yang secara konstitusional mengikat kehidupan kebangsaan dan kenegaraan bukanlah rumusan Pancasila versi 1 Juni atau 22 Juni, melainkan versi 18 Agustus 1945,” kata Yudi.

Kendatipun begitu, Yudi menilai Sukarno lah satu-satunya orang yang memiliki pemikiran utuh dan sistematis serta menjadi orang pertama yang menjawab pertanyaan Radjiman tentang dasar negara. Sehingga 1 Juni sebagai hari kelahiran Pancasila memang sesuatu yang seharusnya.

Pidato Sukarno pada 1 Juni ia sebut sebagai creme de la creme. Ia mengemukakan kelayakan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Saat fase pembuahan, Sukarno sudah mulai merintis pemikirannya. Pada fase perumusan, Sukarno adalah orang pertama yang mengkonseptualisasikan dasar negara dalam konteks dasar falsafah (philosofische grondslag) secara sistematis dan koheren.

Sukarno pula yang mengemukakan lima prinsip itu sebagai Panca Sila. Ia pula yang menjadi ketua Panitia Sembilan yang menghasilkan Piagam Jakarta, menjadi ketua Panitia Perancang Hukum Dasar, dan menjadi ketua PPKI.

Toh, Yudi berpendapat bahwa Pancasila merupakan karya bersama. “Setiap fase konseptualisasi Pancasila itu melibatkan partisipasi perlbagai unsur dan golongan. Oleh karena itu, Pancasila benar-benar merupakan karya bersama milik bangsa,” katanya.

 

Rujukan :

Lihat pula : http://kompasiana.com/srie/tanggal-1-juni-sungguhkah-hari-lahir-pancasila

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s