Menyusul Habib Rizieq, Kini Amien Rais Dibidik

Amien Rais saat memberi keterangan di rumahnya (Foto:Aditia Noviansyah/kumparan)


“Saudara sekalian, tolong jangan dipelintir ya. ‘Amien Rais terlihat sayu dan pucat,’ jangan, wong saya tidak pucat,” ucapnya.

Diapit anak laki-lakinya, Hanafi Rais, dan mantan petinggi partai yang didirikannya, Drajad Wibowo, laki-laki berumur 73 tahun itu kembali menjadi episode utama politik nasional.
 
Beberapa waktu terakhir, persona Amien Rais kembali menguat sebagai pihak yang vokal mengkritik jalannya pemerintahan. Memang, namanya tak pernah benar-benar hilang dari pemberitaan media.
 
Amien berkali-kali muncul, seperti pada aksi-aksi yang menuntut proses hukum Ahok berjalan lancar. Sejak Oktober tahun lalu, Amien konsisten mengikuti hampir semua aksi bertajuk 212, 112, dan 313 tersebut.
 
Namun, nama Amien Rais betul-betul kembali menjadi target pertanyaan beberapa hari terakhir, meski bukan untuk alasan yang membanggakan.
Ia diduga menerima uang senilai Rp 600 juta yang bersumber dari dana alat kesehatan. Rangkaian kasus tersebut terjadi sekitar 10 tahun yang lalu.

Dibidik Kasus Kejadian 10 Tahun Lalu, Ini Tanggapan Lengkap Amien Rais

Pak Amien Rais bicara:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Terima kasih atas kedatangan saudara-saudara para wartawan yang saya hormati.

Kasus aliran dana dari Yayasan Soetrisno Bachir sejumlah 600 juta rupiah antara 15 Januari 2007 sampai 13 Agustus 2007, seperti dikatakan jaksa Ali Fikri di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu 31/05/2017, yang dikirim ke rekening saya, langsung saya follow-up dengan menanyakan pada sekretaris saya tentang kebenarannya, berdasarkan rekening bank yang saya miliki. Karena itu terjadi sudah 10 tahun lalu, saya segera merefresh memori saya.

Pada waktu itu Soetrisno Bachir mengatakan akan memberikan bantuan keuangan untuk tugas operasional saya untuk semua kegiatan, sehingga tidak membebani pihak lain.

Persahabatan saya dengan Soetrisno Bachir sudah terjalin lama sebelum PAN lahir pada 1998. Seingat saya, sebagai entrepreneur sukses waktu itu, dia selalu memberi bantuan pada berbagai kegiatan saya, baik kegiatan sosial maupun keagamaan.

Mas Tris adalah tokoh yang sangat baik dan dermawan, sering membantu banyak pihak. Bahkan siapa saja yang mendapat bantuan dana dari SB, saya tidak tahu. Saya pernah menanyakan pada SB, mengapa Anda membantu berbagai kegiatan saya. Jawabnya: “Saya disuruh Ibunda saya untuk membantu Anda”. Jadi ketika dia menawarkan bantuan tiap bulan buat kegiatan operasional saya, saya anggap sebagai hal wajar.

Nah, kalau kejadian sepuluh tahun lalu kini diungkap dengan bumbu-bumbu dramatisasi di media massa dan sosial, tentu akan saya hadapi dengan jujur, tegas, apa adanya.

Di tahun 2007, saya sudah 3 tahun tidak lagi menjadi pejabat (waktu itu Ketua MPR). Namun rupanya bantuan SB untuk kegiatan operasional saya yang berlangsung selama 6 bulan itu pada tahun 2007 itu kini menjadi salah satu topik berita yang sangat menarik dan harus saya ikuti secara tegas dan berani.

Karena itu pada Senin (5/6/2017) mendatang saya akan berkunjung ke Kantor KPK, untuk menjelaskan duduk persoalannya, sebelum saya berangakat umroh pada 8 Juni ini.

Kalau saya dipanggil KPK padahal saya masih umroh, saya khawatir dianggap lari dari tanggung jawab.

Sekian dulu, sampai ketemu lagi insya Allah di kantor KPK besok Senin, 5 Juni 2017.

Wassalamualaikum Wr Wb

(M. Amien Rais)

Siapa Amien Rais?

Sedari muda, Amien Rais sudah menunjukkan obsesi berorganisasi dan menjadi unggul di dalamnya. Saat masih menjadi mahasiswa, Amien Rais tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan dipercaya menjabat sebagai sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) HMI Yogyakarta.
 
Pilihan politik mudanya yang selalu dekat dengan Muhammadiyah ini dapat dimengerti. Ia berasal dari keluarga yang memang dekat dengan kelembagaan Muhammadiyah. Lahir dari pasangan Suhud Rais dan Sudalmiyah, Amien dididik disiplin lewat nilai-nilai Islam yang kental.
 
Ibunda Amien, Sudalmiyah, adalah seorang guru, mengajar di Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) dan Sekolah Bidan Aisyiyah Surakarta. Sementara kakek Amien, Wiryo Soedarmo, adalah salah satu pendiri Muhammadiyah di Gembong, Jawa Tengah. Maka tak heran, Amien menghabiskan bangku Sekolah Dasar hingga SMA di sekolah Muhammadiyah.
 
Langkah politik pertamanya pun tak jauh-jauh dari Muhammadiyah. Tak hanya tergabung dalam HMI, Amien Rais yang berkuliah di Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, ini juga salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) saat masih mahasiswa.
 
Ketika berkuliah, Amien juga cukup aktif di dunia pers mahasiswa. Sembari berkuliah ganda di IAIN Sunan Kalijaga untuk tetap dekat dalam keilmuwan Islamnya, Amien merupakan penulis kolom rutin tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia di Bandung dan Harian Kami di Jakarta. Amien dikenal sebagai penulis yang produktif dan cukup tajam dalam menyikapi berbagai hal.
 
Usai menyelesaikan pendidikan sarjana, Amien Rais melanjutkan pendidikan S2-nya di University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat. Selepas itu, ia juga pernah mengenyam pendidikan di Al Azhar University, Kairo, Mesir. Gelar Ph.D dalam ilmu politik ia dapatkan kemudian di Chicago University, Amerika Serikat. Tahun 1988-1989, ia juga mengikuti program post-doctoral degree di George Washington University, AS.
 
Menjadi akademisi memang pilihan Amien Rais –agaknya melanjutkan tradisi turun-temurun dari orang tuanya. Sekembalinya dari S2, Amien Rais berkarier sebagai dosen di almamaternya sendiri, UGM. Profesi tersebut ia teruskan hingga bertahun-tahun setelahnya, hingga ia menjadi guru besar di kampus rakyat tersebut.
Meski begitu, Amien Rais di masa produktifnya sama idealisnya dengan saat berada di masa-masa perkuliahan. Amien tak hanya berdiri di menara gading.
 
Ia masih meneruskan kegiatan ber-Muhammadiyah-nya, yaitu menjadi pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menjadi wakil ketua di tahun 1991, dan pada akhirnya ditunjuk menjadi ketua pada tahun 1995 hingga 2000. Ia juga aktif menjadi peneliti senior di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
 
Amien juga mengelola Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK), sebuah lembaga pengkajian dan penelitian yang mencermati masalah strategis bangsa dari perspektif masyarakat lemah. Dari sinilah Amien disebut-sebut turut merancang lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) –yang mengikutsertakan nama-nama kondang seperti Moeljoto Djojomartono hingga Ahmad Syafi’i Maarif.
Di masa-masa ini pulalah pemikiran Amien yang tajam itu berkembang. Salah satu yang paling mencolok adalah gagasan suksesi yang mulai ia publikasikan sejak 1993. Sederhananya, gagasan tersebut lahir dari kosakata Bahasa Inggris, succession, yang diartikannya sebagai penyegaran dan pergantian unsur-unsur kepemimpinan nasional, menyangkut presiden hingga orang-orang yang berada di kursi legislatif.
 
Gagasan ini tergolong berani pada konteks tahun tersebut. Amien melemparkan ide menggunakan rumus dasar balance sheet, menimbang-nimbang: lebih berat mana antara kebaikan yang dibawa pembangunan selama 30 tahun kekuasaan Soeharto, dan keburukannya. Meski mengakui ada kebaikan-kebaikan yang diraih, Amien menyoroti beberapa drawback seperti kemiskinan, pengangguran, korupsi, dan melempemnya proses demokratisasi.
Meski sempat dingin usai Sidang Umum MPR tahun 1993 yang antiklimaks, di mana Harmoko masih mengajukan Soeharto sebagai calon presiden dari Golkar –yang jelas tak bisa dikalahkan dengan keadaan legislatif masa itu, konsepsi suksesi Amien Rais makin kuat menemukan relevansinya dari tahun ke tahun.
 
Puncaknya adalah di tahun 1997-1998, di mana kondisi ekonomi Indonesia semakin memburuk bersama datangnya krisis di Asia, dan bangunan politik Soeharto yang kuat itu perlahan-lahan mulai runtuh.
 

Amien Rais saat Reformasi 1998 (Foto:Istimewa)


Saat masyarakat luas turun ke jalan menuntut perubahan, Amien Rais sudah berdiri di depannya. Amien yang memang sangat fasih berbicara soal sosial politik, ditambah lagi dengan bekal keilmua dan konsepsi suksesi yang sudah ia bawa sejak lama, membuatnya mudah diterima berbagai golongan yang menuntut turunnya Soeharto.
 
Hasilnya, terjadi proses simbolisasi gerakan masyarakat dalam melawan Soeharto di diri Amien Rais. Berkali-kali ia mendapatkan ancaman dari berbagai pihak. Meski begitu, Amien tetap berada di tengah masyarakat –menjadi satu dari yang banyak, menjadi perwakilan dari masyarakat luas.
 

Cuitan Fahri Hamzah Tentang Pembidikan Amien Rais

#AkuAmienRais

Oleh: Fahri Hamzah

Yang menyerang pak Amien Rais sama dengan menyerang saya…

Waktu semua tiarap tidak berani bersikap, kami angkatan 90-an melihatnya berdiri tegak dan bersuara lantang…

Beliau yang memulai pidato perlunya suksesi mengganti presiden Suharto secara damai.

Saat orde baru masih kuat, usulan itu tabudan tidak boleh diucapkan. Seorang akademisi sederhana melakukannya.

Maka seandainya itu didengar, transisi politik kita tidak sekeras sekarang. Keras dan nyaris mematikan.

Kemudian beliau memimpin MPR jangan lupa, masih sebagai lembaga tertinggi negara.

Beliau memimpin pemilihan dan pelantikan 2 presiden yaitu KH. Abdurahman Wahid dan ibu Megawati Sukarnoputri.

Beliau memimpin MPR saat 4 kali amandemen dilakukan. Dan kita menikmati DEMOKRASI.

Dia pejuang,
Saya telah melihat keberaniannya.

Maka mereka yang ingin menjatuhkan nama dan kehormatannya salah hitung.

Mereka mengira pak Amien akan berhenti. Selama kalian ganjil mengelola negeri ini beliau akan tetap ada.

Ketidakpastian dan ketidakadilan ini membuatnya terus gelisah. Semua kita gelisah.

Karena itu,
Kita semua Amien Rais.

(Twitter Fahri Hamzah, 3/6/2017)

“Perisai Lahir Batin Amien Rais” by Hanum Rais

(Hormat takdzim saya…kepadamu sang fenomenal…saya tetap kagum kepadamu walau tidak sedikit yg tidak suka dgn gerak gerikmu)

“Perisai Lahir Batin Amien Rais”

By Hanum Rais

Saya sebenernya telah beresolusi akan mengurangi sosmed di bulan puasa ini (post terakhir tgl 21mei). Namun tuduhan yang dialamatkan pada Bapak akhir2 ini membuat banyak pesan pada saya, lewat WA, DM dll agar saya sebagai putrinya juga memberikan semacam klarifikasi.

Saya tidak akan memberikan klarifikasi terkait tuduhan tersebut, karena insyaAllah Bapak secara perwira akan menggelar konpers di kediaman JKT hari ini sebelum sholat Jum’at. Silahkan wartawan datang dan melansir jawaban beliau.

Saya hanya ingin berbagi bagaimana seorang Amien Rais menanggapi badai dan terjangan fitnah, deraan ujian, cobaan namun juga kebahagiaan. Mudah mudahan menjadi hikmah di bulan suci ini.

Terkembali kepada Anda yang menilai.

Di awal April 2017 lalu, Seorang mantan jenderal yang duduk di posisi pemerintahan cukup strategis menemui Bapak. Ia mengatakan bahwa ia dikirim boss nya yang ingin bertemu Bapak. Ia ditugasi membuat titik temu & tempat. Bapak mengatakan”Monggo dengan senang hati, semua orang dari kalangan manapun saya temui, apalagi orang terhormat seperti bapak bos”. Namun sang mantan jenderal mengatakan boss ingin bertemu di tempat rahasia, tidak tercium media, karena pembicaraan akan bersifat confidential. Bapak tercenung. Ini sesuatu yang aneh. Mengapa harus rahasia?

Singkat cerita Bapak menolak meski sang utusan berdalih: pertemuan penting yang tidak bisa jadi konsumsi publik. “Maaf, jika ingin bertemu silahkan tapi terbuka, biarkan media melansir, biarkan mereka tahu hasil pembicaraan, toh pasti terbaik untuk bangsa. Jika pertemuan rahasia, saya tahu, saya hanya akan jadi bangkai politik Anda”.

Sang utusan mundur, pamit dalam kekecewaan. Saya mendengar dan melihatnya semua dari balik pintu di Joglo. Oh ini to Bapak Mantan Jenderal yang sering jadi penghubung itu.

Sepeninggal sang utusan, saya katakan pada Bapak. “Pak, beliau bos pasti akan tersinggung dengan jawaban Bapak. Dan it’s just a matter of time, you’ll be singled out. Hanya soal waktu Bapak akan diperkarakan entah bagaimana dan apa caranya.”

Bapak mengangguk. Ia sangat paham.

Amien Rais, mgkn ayah saya. Tapi saya mengagumi bagaimana ia menerima suatu hal, yang bagi sebagian orang termasuk saya adalah musibah, tapi karena ia seorang insyaAllah rajulun shalih, ia menerimanya dengan lapang dada bahkan menganggap blessing in disguise, keberkahan yang terselip dalam sebuah ujian. Termasuk tuduhan menerima aliran dana. Ia tdk akan bersembunyi atau malah kabur. Blessing yang bagaimana? Silahkan nanti wartawan hadir.

Tdk hanya sekali ini sesungguhnya Bapak menerima tudingan ini. Yang bersifat seolah melanggar hukum, dicitrakan koruptif, hipokrit, dll yg muaranya satu: pembunuhan karakter krn manuver Bapak dianggap tdk kooperatif dgn parapetinggi nasional. Hingga akhirnya saya menyimpulkan ‘yang penting Amien Rais disebut dulu, diberitakan, dimunculkanlah opini dan bola liar fitnah yg keji di media, hingga kepingan2 tuduhan tersebut terbang tak terkontrol lalu setelah yakin the damage has been done, bahkan tdk akan terkoreksi lewat klarifikasi, selesai sudah misi. 36 tahun sy tahu benar bagaimana Bapak memberi perisai pd dirinya dalam kancah politik yg seringkali membuat orang lunglai karna tak kuat dirundung. Mereka (perisai itu) adalah Salat, Puasa, Tadarus, Dzikir, dan Sedekah.

Sama halnya ketika kemarin sy justru bersiasat bagaimana Bapak harus mengklarifikasi hal ini dengan ini dan itu, Bapak malah senyum dan hanya mengatakan: “yang terjadi pada Bapak semua atas ijin Allah The Almighty. Ini berkah! Ini berkah! Tdk sedikitpun bapak merasa ini hukuman atau ujian. Kamu kalau baca Al Quran gak perlu kita berkelit atau takut. Hadapi”.

Yah. Itulah saya memang bukan Amien Rais. Saya masih anak anak yang ketika terjadi suatu peristiwa yang memojokkan, justru terfikir bagaimana bersiasat atau membalasnya atau malah ngelokro berputus asa. Memandang hal yg unfortunate dgn kacamata keberkahan, mgkn hanya bisa dirasa oleh orang yg maqom imannya sudah qualified.

Saya jd teringat suatu kali ketika saya ngelokro di kursi roda ketika selesai di kuretase keguguran. Bapak menggeledek saya dan tak henti hentinya saya menangis sambil saya gumam. “Saya sdh hopeless”.

Bapak tampak tdk suka dengan kelemahan iman saya ini. Ia kemudian duduk menghadap saya “Num, lihat ya rumah sakit ini. Lihat baik-baik. Ruangan-ruangannya, nursing stationnya, semuanya.”

Saya memandang sekelebat tapi masih tak paham apa maksud Bapak. Masih menangis meratapi janin 11 minggu yg barusan dimakamkan. “Nduk, kamu keguguran itu memang sebuah kesedihan tapi lihatlah kabar baiknya: kamu bisa HAMIL! Setelah sekian tahun tanpa ada hasil! Kamu punya benih! Bahkan bisa menyimpan 3 embrio yg bisa digunakan lagi. Allah memberi kabar baik: kamu wanita yang bisa hamil. Bukan manusia yg disebut didalam Al Quran yg memang ditakdirkan Allah tdk diberi benih. Tinggal masalah waktu kamu harus terus mencoba.”

Mataku yang sembab seketika sedikit melebar. Ada keberkahan yg luput dr kacamataku. Yang bisa dibaca Bapak. “Nduk, ingat suatu saat nanti Bapak akan menggeledek kamu melewati ruangan-ruangan RS ini, melewati nursing station ini, dengan kamu yg tersenyum mendekap seorang bayi. Bapak yakin. InsyaAllah. Pulang dr RS (usai keguguran) ambil wudhu, sholat, dzikir, ngaji dan jgn lupa sedekahnya dikuatkan. Its just a matter of time you will have a baby.”

Sekian tahun berikutnya, meski di RS yg berbeda, saya mendekap Sarahza dengan Bapak mendorong saya di kursi roda.

Mas Rangga pernah bilang kpd saya, setelah Sarahza lahir. “Num, kadang aku berpikir ekstrim ya mungkin kita berdua ini kan bukan org yang saleh saleh amat. Ngadepin hidup sering naik turun kadar imannya, bahkan sering suudzon sama yang diatas, mgkn doa kita selama ini tdk dikabulkan sama Allah. Tapi Allah mengabulkan doa Bapak untuk kita karena ia orang saleh.”

Itulah Amien Rais. Di Jum’at Berkah ini, ia akan hadapi tudingan yg dialamatkan padanya itu dengan bersyukur dan tanpa sedikitpun rasa keder. Karena ia berperisai keyakinan bahwa Allah selalu bersama hambaNya yg berserah diri.

(Foto: Bapak berdzikir saat menunggu operasi saya melahirkan Sarahza)


Inilah 9 Kritik Tajam Amien Rais untuk Presiden Jokowi tgl 20/5/2017

Pada Sabtu (20/5/2017) yang lalu, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah mengadakan sebuah acara yang bertajuk “Refleksi 19 tahun Reformasi-menggembirakan Demokrasi Tribute to Amien Rais” yang berlokasi di kantor PP Muhammadiyah Jakarta.

Nah, di dalam kesempatan tersebut mantan politisi PAN itu mengungkapkan sejumlah kritikan tajamnya kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Mantan Ketua Umum PP Muhmmadiyah tersebut mengungkapkan sejumlah kritikannya terhadap pemerintahan

Amien Rais menyebutkan jika selama ini tidak ada yang memberikan masukan kepada Presiden Jokowi dan banyak pihak yang hanya memiliki tujuan “asal Presiden senang”. Selanjutnya, ia merinci hal-hal yang dianggapnya sebagai pemuas sang Presiden saja,

  • Pertama, sejak saat Presiden dilantik ia menganggpa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Mantan Wali Kota Solo tersebut kurang simpatik terhadap umat Islam. Ia juga memberikan contoh, terkait ketidakhadiran Jokowi di istana negara saat perwakilan Aksi Bela Islam II ingin menemuinya. Dan Amien Rais menyebutkan dirinya kecewa dan terpukul atas kejadian tersebut.
  • Kedua, Amin Rais juga menilai jika Jokowi telah dengan sengaja membiarkan adanya usaha-usaha untuk kriminalisasi ulama yang sejatinya merupakan rujukan umat. Dan hal tersebut membuatnya prihatin lantaran umat menjadi bingung dan frustasi lantaran ulama’nya dengan sengaja dikasuskan.
  • Selanjutnya ketiga, Amien juga mengkritik rencana Jokowi yang ingin menggunakan dana haji untuk pembangunan infrastruktur. Hal tersebut dianggap oleh Amien sebagai deretan hal yang menambah keraguan umat Islam pada Jokowi. Pria kelahiran Surakarta tersebut menilai jika penggunaan dana haji untuk pembangunan infrastruktur bisa menciderai amanat keagamaan. Sebab diketahui selama ini pelayanan haji Indonesia masih perlu untuk ditingkatkan. “Masih ada banyak cara lain untuk memperoleh dana pembangunan infrastruktur kita. Dana haji dipinjam untuk membiayai infra-struktur, tetap kedengaran ganjil. Carilah pinjaman dari sumber lain,” paparnya, seperti yang tertera di kompas.com
  • Dan keempat, Amien menginginkan Jokowi mengakhiri penjajahan ekonomi yang dilakukan oleh Blok Mahakam dan juga Freeport-McMoran. Ia juga mencurigai adanya oknum-oknum yang membela kepentingan PT Freeport secara mati-matian dan seolah Indonesia akan tenggelam jika tak ada Freeport.  Amien bahkan meragukan kemampuan Ignatius Jonan, Menteri ESDM dan Archandra Tahar, Wakil Menteri ESDM dalam menanggani PT Freeport.
  • Kelima, Amien menyebutkan jika penegakan hukum di era Jokowi belum mengalami perbaikan, bahkan ia menganggap semakin buruk. Dan hal tersebut dilihatnya melalui kenyataan implementasi hukum yang dinilainya sangat over-diskriminatif.
  • Keenam, Amien Rais juaga menyoroti masalah keutuhan NKRI di jaman Jokowi yang dinilainya tengah terancam. Amien mengharapkan jika Jokowi bisa belajar dari kehancuran Uni Soviet dan Yugoslavia. Negara yang dahulu pernah menjadi adidaya seperti Amerika namun sekarang sudah bubar menjadi negara kecil-kecil.
  • Yang ketujuh Amien Rais mewanti-wanti Jokowi agar tidak pernah berpikir untuk menjadikan Indonesia menjadi economic backyard. “Hindari berpikir RRC sentris dalam membangun ekonomi. Berkaitan dengan hal ini, proyek reklamasi Jakarta Utara yang akan menjadi landasan usaha lebensraum RRC, sebaiknya segera dihentikan,” kata Amien.
  • Kedelapan, Amien juga mengkritik Jokowi agar rezimnya tidak mudah menciduk orang-orang dengan tuduhan makar. Ia juga menyebutkan jika orang-orang tersebut membahayakan dan mencurigakan bawa ke arah hukum dan biarkan hukum berbicara dan harus terbuka kepada masyarakat.
  • Yang terakhir, kesembilan ia juga mengingatkan Jokowi agar tidak pernah menganggu enteng kedaulatan rakyat. Dan menurutnya, kata ‘gebug’ tidak boleh keluar lagi dari lisan seorang presiden.

“Wah, amat mengagetkan. Dulu ada Presiden yang suka mengancam akan menggebuk rakyat yang berani menantang kebijakannya. Akhirnya sang Presiden itu tergebuk oleh people power,” tutup Amien.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s