Pentingnya Beretika Dalam Bertutur Kata


Saat bersosialisasi, kita berkomunikasi dengan lingkungan kita. Berbicara, bereaksi, atau sekadar menyapa. Tapi… pada ngeh gak sih kalo cara berkomunikasi kita bisa biking orang bingung, atau justru tersinggung?

Mulai dari bahasa yang digaul-gaulin sampe sikap tubuh saat berbicara yang terkesan acuh tak acuh. Akibatnya, komunikasi bisa gak efektif karena pesan utama gak sampai. Biar gak kejadian yang seperti ini, kita mesti tahu tata cara atau etika berbicara yang baik, antara lain:

  • Fokus dan tatap mata lawan bicara. Kontak mata selama pembicaraan berlangsung akan membuat lawan bicara merasa didengarkan dan dihargai. Kita pun akan mudah menangkap maksud pembicaraan.
  • Bicara jelas dengan intonasi yang baik. Bicara dengan jelas, jangan berbelit-belit agar lawan bicara gak bingung menangkap maksud kita. Nada suara pun harus diperhatikan apa lagi jika berbicara dengan orang yang lebih tua. Hindari nada suara keras dan ketus agar gak menimbulkan salah paham.
  • Tunjukan ekspresi muka yang ceria. Ekspresi ceria akan membuat orang lain merasa nyaman saat bicara. Lain hal jika kita pasang muka cemberut, gak cuma bikin orang lain malas bicara sama kita, tapi juga membuat kesan kita gak bersahabat.
  • Memakai bahasa yang baik dan sopan. Hindari mengucapkan kata kasar atau kotor saat berbicara. Hal ini akan menimbulkan pandangan yang gak baik pada kita.
  • Hindari bisik-bisik. Sikap ini sering kali membuat orang lain tersinggung. Jika emang ada sesuatu hal yang serius lebih baik bicarakan baik-baik biar gak salah paham.

Seperti Apa Rasulullah SAW Berbicara?

Rasulullah saw adalah figur dakwah dengan sifat dan kepribadian yang sempurna. Dan tutur kata ini merupakan salah satu faktor yang sangat beliau jaga nilai-nilai keluhurannya dalam perjalanan dakwahnya. Karena beliau mengerti bahwa sesungguhnya tutur kata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hati para pendengarnya (umatnya). Tutur kata yang buruk tentu saja akan memberikan imbas, respon, atau efek yang buruk pula. Sebaliknya, tutur kata yang baik dan mulia tentunya akan menghasilkan respon dan efek yang baik pula bagi para pendengarnya dan juga penuturnya itu sendiri.

Tidak hanya ketika bertutur kata dengan para sahabat atau keluarga dekat saja, tidak pula hanya kepada orang-orang yang memiliki jabatan yang tinggi di dunia saja, dan tidak pula hanya kepada orang-orang lemah Rasulullah bertutur dengan penuh kemuliaan. Beliau senantiasa bertutur kata dengan sangat baik kepada siapapun yang menjadi lawan bicara atau pendengarnya tanpa pilah-pilih. Kepada para isterinya, kepada para sahabatnya, kepada para pengikutnya, bahkan kepada orang-orang yang membencinya beliau senantiasa menjaga tutur katanya dengan sangat baik.

Rasulullah saw senantiasa bertutur kata dengan nada yang perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa sehingga mudah untuk didengar, dipahami, dan diterima. Rasulullah saw senantiasa hati-hati dalam berbicara, baik dari segi nada, isi, dan kecepatannya. Sehingga tutur kata Rasulullah saw tidak hanya dapat didiengar, dipahami, dan diterima saja oleh para pendengar, melainkan juga dapat dihafal dengan tidak terlalu sulit. Istri Rasulullah saw, ‘Aisyah ra. berkata:

“Rasulullah tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yakni berbicara dengan nada cepat). Namun beliau berbicara dengan nada perlahan dan dengan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah saw adalah figur dakwah yang rendah hati dan penuh dengan ketulusan. Beliau senantisa menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan penuh bijaksana, yaitu dengan senantiasa memperhatikan dan menyesuaikan tingkat intelektualitas pendengar atau target dakwahnya. Tutur kata Rasulullah saw senantiasa mampu membaur terhadap berbagai lapisan masyarakat yang terdiri atas berbagai latar belakang pendidikan dan tingkat intelektual yang berbeda-beda. Kemampuan beliau untuk dapat menyesuaikan tutur katanya dengan kualitas intelektual umatnya itulah yang menjadi salah satu faktor yang dapat menyentuh hati setiap manusia. Rasulullah saw bersabda:

“Tenangkanlah dirimu! Sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah putera seorang wanita yang biasa memakan dendeng.” (HR. Ibnu Majah)

Tutur kata yang dihiasi dengan kesabaran dan kerendahan hati senatiasa tercipta dari lisan Rasulullah saw. Dengan tutur katanya, Rasulullah saw mampu meluluhkan hati yang yang keras, memberikan rasa aman dan nyaman, namun tetap menggetarkan hati musuh-musuh Allah swt. Sebagai seorang figur dakwah, Rasulullah saw juga tidak pernah sungkan untuk mengulang-ngulang perkataannya sebanyak tiga kali agar para pendengarnya dapat benar-benar memahami apa yang beliau katakan.

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengungkapkan kepada kita: “Rasulullah sering mengulangi perkataannya tiga kali agar dapat difahami.” (HR. Al-Bukhari)

Kesantunan tutur kata Rasulullah saw juga digambarkan oleh Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra., ia berkata:

“Tutur kata Rasulullah sangat teratur, untaian demi untaian kalimat tersusun dengan rapi, sehingga mudah difahami oleh orang yang mendengarkannya.” (HR. Abu Daud)

Subhanallah, begitu mulianya akhlak dan sifat Rasulullah saw. Beliau yang merupakan kekasih Allah swt yang berkedudukan mulia, namun senantiasa sudi bahkan ikhlas untuk bertutur kata dengan penuh kerendahan hati, sabar, dan santun. Tidak pernah Rasulullah saw bertutur kata dengan angkuh atau emosi. Dan seperti inilah seharusnya para kader-kader dakwah Islam dalam bertutur kata untuk menyampaikan kalimat Islam.

Bagaimana cara menjaga lisan, apa saja bahaya lisan, nikmat lisan, hal-hal yang diakibatkan jika kita tidak menjaga lisan?

Lisan sebenarnya hanyalah salah satu dari anggota tubuh. Di pelajaran biologi, sejak SD, kita sudah mengenalnya dengan nama lidah. Uniknya, lisan seolah menjadi cerminan bagian terpenting dari anggota tubuh lain, yakni hati. Jika baik dirinya, baik pula seluruh tubuhnya. Jika buruk dirinya, buruk pulalah tubuhnya. Lisan bisa menyebabkan seseorang dimasukkan ke surga, namun karena lisan pulalah seseorang bisa dilempar ke neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Sesungguhnya lisan adalah sebuah nikmat dari Allah bagi manusia. Dengan lisan, seruan untuk beramar ma’ruf nahi munkar bisa diserukan. Kalimat-kalimat nasihat bisa diucapkan. Dengannya pula dzikir dhohir kita bisa dilafalkan. Bayangkan jika tidak ada lisan di dunia ini? Tidak ada adzan yang berkumandang, tidak ada khutbah yang diperdengarkan dalam majelis-majelis ilmu. Tidak ada seruan lantang untuk menegakkan dien-Nya.

Dari lisan pulalah akan tergambar keluhuran budi seseorang, kemuliaan akhlaknya, kecerdasan intelektualnya, serta ketaqwaan dan keshalihannya. Masya Allah.. Nah, jika dikaitkan dengan bahasan dzikir kemarin, seseorang yang senantiasa berdzikir, mengingat Allah, akan sadar bahwa setiap perbuatannya –termasuk perkatannya- akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Maka, dengan penuh iman ia akan menjaga lisan dari membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, menyakiti saudaranya, apalagi sampai berbuat ghibah, dusta, namimah, mencela, dll.

Barangkali saking pentignya lisan dalam dien kita, Rasulullah menjanjikan surga kepada orang yang senantiasa mampu menjaga lisannya. Dalam sabdanya, Rasulullah saw menerangkan,” “Barangsiapa yang memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) kejahatan lisan yang berada di antara dua tulang rahangnya, dan kejahatan kemaluanyang berada di antara kedua kakinya, niscaya aku akan memberikan jaminan surga kepadanya.” (HR. al-Bukhari).

“Apabila anak cucu Adam masuk waktu pagi hari, maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan, seraya berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami, karena kami mengikutimu, apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan apabila kamu bengkok, maka kami pun bengkok’.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Cara Menjaga Lisan dari Hal-hal yang Buruk

  1. Hemat kata-kata. Walaupun secara hukum bersifat mubah dan tidak termasuk ke dalam hal yang dilarang, menjaga lisan dari perkataan yang tidak perlu adalah lebih baik. Bahkan, khalifah Umar pernah berkata,”Orang yang banyak bicara adalah saudara kandung setan.” Astaghfirullah, naudzubillahi min dzalik.
  2. Menjaga lisan dari komentar-komentar yang tidak perlu. Rasulullah saw bersabda,”Diantara tingginya kualitas agama seseorang adalah ketika ia meninggalkan komentar yang tidak dibutuhkan.”
  3. Menghindari kata-kata kotor . tidak ada sesuatu yang paling memberatkan timbangan amal seorang hamba di hari kiamat selain akhlak mulia, dan Allah Subhanahu wa ta’ala sangat membenci perkataan kotor lagi jorok “. ( HR Tirmidzy )
  4. Berkata dengan perkataan yang BENAR. yang pasti kita harus yakin bahwa apa yang kita katakan adalah benar dan tidak mengandung kebohongan. Sekali lagi perlu diingat, bahwa setiap hal akan ditagih pertanggungjawaban di hadapan-Nya kelak!
  5.  Berbicara sesuai dengan tempat dan lawan bicara kita. Tentu saja karena akan berbeda ketika kita berbicara dengan anak kecil, beda lagi ketika bicara dengan orang tua. “Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam”Artinya, “Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula.”

Akan berbeda lagi jika lawan bicara kita sedang dalam keadaan bahagia, dan akan lebih berbeda lagi jika kita harus menjelaskan persoalan agama kepada saudara kita yang masih awam. Membawa dalil mungkin tidak akan mempan. Dari situlah kita dituntut menjaga lisan agar pas maksud yang ingin disampaikan dan tidak menyakiti lawan bicara kita.

  1. Menjaga kehalusan tutur kata. Dalam bukunya, Salim A.Fillah menjelaskan bahwa kerlingan mata yang tajam dan jika itu menimbulkan prasangka maka akan diadili, apalagi perkataan yang kita ucapkan.
  2. Tidak semua hal yang kita dengar bisa kita katakan.

Rasulullah saw bersabda, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, ‘Cukuplah kebohongan bagi seseorang jikalau ia menceritakan semua yang ia dengar.’” (HR Muslim [5]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)

  1. Menghindarkan diri dari najwa, ngobrol sendiri dengan yang lain sementara ada satu yang diacuhkan. QS An-Nisa [4]: 114, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”

 “Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syafi’i menjelaskan makna hadits di atas adalah, “Jika engkau hendak berkata maka berfikirlah terlebih dahulu, jika yang nampak adalah kebaikan maka ucapkanlah perkataan tersebut, namun jika yang nampak adalah keburukan atau bahkan engkau ragu-ragu maka tahanlah dirimu (dari mengucapkan perkataan tersebut).” (Asy-Syarhul Kabir ‘alal Arba’in An-Nawawiyyah)

Pastikan gaya bicara kita jangan merendahkan orang lain, karena diri kita ingin dihargai, hal itu justru menunjukkan kerendahan diri kita. Karena mulut itu bagai moncong teko, hanya mengeluarkan isi teko, di dalam kopi keluar kopi, di dalam teh keluar teh, di dalam bening keluar bening. Maka berbahagialah bagi yang ucapannya keluar dari mulutnya bagai untaian kalung mutiara.

Berbicara memang bebas dilakukan, tetapi sesuaikan dengan kondisi, tempat dan dengan siapa kita berbicara.

 

Referensi :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.