Kisah Geopolitik yang Tersurat dari Surat Ar-Rum

Kisah Geopolitik yang Tersurat dari Surat Ar Rum

 (Al Qur’an, Ar Rum: 1-4)


Ayat pertama surat Ar Rum ini adalah ayat yang diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi,  Surat Ar Rum ini memiliki keajaiban yang mampu memberi kejutan bagi Umat Nabi pada saat itu, bahkan bagi penduduk Mekah kala itu, karena ayat ini memberi informasi secara detil tentang kondisi Peta Geopolitik Dunia pada saat ayat ini diturunkan.

Ayat ini merujuk pada Kekaisaran Romawi yang oleh para sejarawan sering disebut kekaisaran Byzantium dibawah Kekaisaran Romawi Timur.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa Kekaisaran Byzantium yang telah mengalami kekalahan besar atas Kekaisaran Persia, tetapi dikabarkan akan segera memperoleh kemenangan kembali.


Padahal, Byzantium pada waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya secara kasat mata seolah mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali atas Persia.

Diceritakan dalam sejarah, atas kekalahan tersebut Kaisar Byzantium, Heraklius, hingga memerintahkan agar semua cadangan emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang.

Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran telah nyaris berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh kekaisaran Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997)

Pendek kata, setiap orang pasti menyangka Kekaisaran Romawi Byzantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ketika semua orang telah menilai bahwa Romawi Byzantium akan runtuh, tetiba dari  sebuah wilayah Hijaz yang tandus dan tak pernah di perhitungkan dalam sejarah, mengabarkan sebuah berita yang  turun dari langit yang menerangkan dan memetakan masa depan Byzantium yang tak lama lagi akan mendapatkan kemenangan (dalam beberapa tahun lagi).

Bagi para pengamat politik kala itu, berita yang disampaikan Nabi dari ayat Al Qur’an itu seolah sesuatu yang mustahil. Terlebih lagi bagi para pemuka kaum Quraisy yang memang dikenal sebagai orang-orang yang memiliki taraf kecerdasan yang tinggi dalam menganalisa. Hal ini dapat kita lihat bagaimana kebiasaan orang-orang Quraisy yang suka kepada permainan kata-kata melalui syair-syair.

Maka tak heran bila turunnya surat Ar Rum ini justru semakin menjadikan bahan cemoohan diantara orang-orang Kafir Quraisy Mekah. Karena mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur’an takkan pernah menjadi kenyataan dan bohong belaka.

Dikabarkan dalam sebuah riwayat bahkan saking tingginya gesekan antara percaya dan tidak percaya hingga salah seorang Sahabat mulia Abu Bakar As Syidiq hingga dipaksa ditantang agar berani bertaruhan apabila Romawi mampu mengalahkan Persia.

Namun ternyata fakta berbicara lain. Sekitar enam tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Rum tersebut, pada Desember 626 Masehi, terjadi perang penentu antara Kekaisaran Byzantium dan Persia di daerah Nineveh Jordania.

Diluar prediksi banyak analis kala itu, ternyata di peperangan kali ini, pasukan Byzantium secara mengejutkan mampu mengalahkan pasukan Persia.

Bahkan beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Byzantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang telah mereka ambil dari Byzantium (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997)

Akhirnya, “kemenangan bangsa Romawi” yang diumumkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an, secara ajaib menjadi kenyataan. Pada tahun 627 M, Pasukan Byzantium berhasil mengalahkan tentara Persia Sassaniyah dalam Perang di Niniveh ini.

Kemenangan di Niniveh ini juga merupakan keajaiban Al Qur’an, karena Al Qur’an telah menyebutkan tentang fakta geografis yang disampaikan dalam surat Ar Rum bahwa kekaisaran Romawi mampu mengalahkan Persia ditempat yang terendah.

Ungkapan “Adnal Ardli” dalam surat Ar Rum, dalam bahasa Arab, diartikan sebagai “tempat yang dekat” dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata “Adna” dalam bahasa Arab diambil dari kata “Dani”, yang berarti “rendah” dan “Ardl” yang berarti “bumi”. Karena itu, ungkapan “Adnal Ardli” berarti “tempat paling rendah di bumi”.

Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. “Laut Mati”, terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi.

Ini berarti bahwa Persia Sassaniyah mampu dikalahkan oleh Bizantium di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.

Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur’an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Sedangkan kita tau bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur’an adalah wahyu Ilahi.

Setelah memperoleh kemenangan dalam pertempuran atas Persia Sassaniyah, wilayah kekuasaan Byzantium menjadi semakin luas hingga mencapai wilayah Jerusalem.

Untuk merayakan kemenangannya tersebut, Kaisar Herklius menziarahi Gereja Makam Suci, yang terletak di komplek Masjidil Aqsha, Jerusalem Palestina.

Lantas bagaimanakah sikap Nabi SAW terhadap dua kekuatan Adi Daya tersebut kala itu? Apakah Nabi SAW berpihak kepada salah satu diantara dua Super Power yang sedang bertempur itu?

Dari kisah Siroh Nabawwiyah kita mendapatkan informasi tentang bagaimana sikap Nabi SAW dalam menyikapi dua sekutu Adi daya yang notabene mereka selalu bermusuhan sejak dahulu itu karena diantara keduanya memiliki tabiat Ovensif Aktif dalam mengelola kekuasan mereka.

Ternyata Nabi SAW memiliki cara pandang sendiri yang berbeda dengan cara pandang pada umumnya. Justru pada saat Kaisar Heraklius merayakan kemenangannya di Palestina, Rasulullah Muhammad SAW mengambil sikap dengan mengirimi surat kepada Kaisar Heraklius yang memintanya agar mengikuti Islam yang dibawa oleh Nabi SAW.

Dapatkah kita membayangkan hari ini? Pemenang perang atas dua Adi daya besar kala itu yang kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Eropa hingga ke timur tengah yang sedang merayakan kemenangan tetapi justru tiba-tiba diberi surat agar mengikuti Muhammad SAW untuk memeluk Islam? Sedangkan kita tau bahwa kekuasaan Muhammad SAW sendiri baru menguasai wilayah sebesar wilayah Yastrib atau Kota Madinah hari ini.

Belajar dari kisah Siroh Nabawwiyah, kita akan memahami bagaimana Sikap Nabi SAW yang tak mudah terseret arus berbagai macam Propaganda dan pengaruh hegemoni dua kekuatan Persia dan Byzantium kala itu.

Rasulullah Muhammad SAW bukan hanya membawa Umatnya agar tidak larut pada arus hegemoni dua super power dunia kala itu, namun justru sebaliknya, Nabi mengambil sikap dengan mengirim surat kepada kedua kaisar Byzantium dan Kaisar Kisra dari Persia agar kedua Kaisar yang memiliki tabiat imperialisme tersebut memeluk Islam dan mengikuti Nabi SAW.

Inilah sikap Geopolitik Islam ketika diemban oleh Nabi beserta para Sahabat Mulianya dalam menghadapi kekuatan Imperialisme dua sekutu Adidaya dimasanya. Karena Islam memiliki sifat dan Ruhnya sendiri yang lebih sempurna diantara dua kekuatan Imperialisme Adidaya tersebut.

Wallahu a’lam bissowab..

Maha Suci Allah atas segala firman-Nya.. [kk/theglobalreview]

Penulis: Abu Bakar Bamuzaham, Network Associate Global Future Institute (GFI)

 

Sumber : eramuslim

Iklan

Wangiri, Penipuan Bermodus Missed Call Misterius dari Luar Negeri

Wangiri, Penipuan Bermodus Missed Call Misterius dari Luar Negeri


Missed call misterius dari nomor internasional bukan hanya dialami sejumlah warga di Indonesia, tapi juga di dunia. Fenomena yang sudah beberapa kali terjadi ini dinamakan Wangiri. 

Seperti dilansir Global News, sejumlah warga Kanada pada Februari 2018 melaporkan missed call dari nomor misterius. Nomor telepon itu memakai kode dari negara Albania, Makedonia, hingga Seychelles. 

Seorang warga Kanada bernama Ebun Adewole menerima missed call misterius itu pada pukul 02.00 dan sempat mengira itu berasal dari kerabat di luar negeri. Sejak saat itu, dia kerap mendapat missed call serupa dari macam-macam negara. 

Calgary Better Business Bureau (BBB) menyebut fenomena itu adalah penipuan bernama Wangiri. Wangiri adalah kata dalam bahasa Jepang, yang berarti ‘sekali dering dan tutup’. 

Seperti dilansir abc.net.au, sejumlah warga Australia ternyata mengeluhkan hal yang sama pada Februari 2018, panggilan telepon misterius dari nomor internasional yang berujung missed call. Saat itu, warga Australia melapor dapat missed call dari nomor Papua Nugini, Kongo, Slovenia, hingga Belgia. 

“Ini adalah penipuan telepon premium. Mereka menelepon Anda, membiarkan telepon berdering 1 kali dan mematikannya. Mereka melakukan itu berulang kali agar Anda menelepon balik,” kata Komisi Kompetisi Usaha dan Konsumen Australia Delia Rickard seperti dilansir dari ABC

Jika ‘korban’ menelepon balik, tagihan telepon akan membengkak. Tagihan itu sebagian besar akan masuk ke kantong penipu yang menelepon tersebut.

Seorang bocah berusia 10 tahun di Brisbane, Australia, pernah jadi korban. Bocah bernama Leo Carrington itu dibombardir missed call dari kode telepon Pulau Ascension yang ada di Afrika. 

Orang tuanya yang curiga lalu menelepon balik nomor tersebut. Telepon kemudian diangkat oleh seorang perempuan yang tidak berbahasa Inggris dan tidak menjawab teleponnya. 

Regulator di Kongo sendiri sudah pernah mengeluarkan peringatan terkait Wangiri. Seperti dilansir africanews, Badan Komunikasi Elektronik dan Perwakilan Pos (ARPCE) di Republik Kongo telah mencatat peningkatan penipuan yang melibatkan panggilan tidak terjawab di negara tersebut pada Februari 2018. 

“Selama beberapa bulan terakhir, bentuk penipuan telepon telah merajalela di Kongo adalah Wangiri, juga dikenal sebagai penipuan panggilan tidak terjawab,” demikian keterangan dari ARPCE. 

ARPCE menyebut para penipu biasanya mendapat nomor telepon korban dari informasi yang diberikan korban saat melakukan sign up untuk aplikasi atau kontes secara online

Penipuan dengan modus ini pernah beberapa kali terjadi di Indonesia. Yang terbaru, sejumlah warga mendapat missed call dari nomor Kongo hingga Madagaskar sejak kemarin sampai hari ini.

 

Source : 

Xbank.. Ketika Ribuan Mantan Karyawan Bank Berkumpul

Xbank.. Ketika Ribuan Mantan Karyawan Bank Berkumpul


Bulan Januari lalu sempat heboh di sosial media tentang surat internal sebuah bank menganjurkan diadakan pengajian rutin karena banyak karyawannya yang resign. Surat itu banyak dikomentari oleh netizen karena ada penafsiran yang seolah-olah dicari ustadz yang bisa disetel tema pengajiannya sesuai pesanan. Tabu membahas soal riba di acara pengajian bank.

“Dicari ustadz yang pro riba..” komentar salah satu netizen

Sudah 5-6 tahun ini kran informasi seperti terbuka begitu lebar dan deras. Semenjak Blackberry yang sering hang-lepas baterei-banting itu musnah, diganti oleh gadged android berlayar lebar dan canggih ketika disentuh.
Facebook meledak..
Youtube meletus..
Instagram menggelegar…

Jutaan orang punya mainan baru di genggaman. Siang malam dipelototi.. ke WC dibawa, mau tidur jadi mainan di kasur.

Para ustadz dan ulama punya media baru untuk berdakwah tanpa harus dibedaki di layar tivi. Bebas membahas apa saja tanpa disetir produser acara religi.

Termasuk tentang kajian fiqih muamalah. Ribuan video tentang riba tersedia di semua sosial media. Puluhan ustadz ahli fiqih muamalah membahasnya. Dari penjelasan detail apa itu riba, bagaimana hukum praktek perbankan, leasing, asuransi, MLM, sampai masalah-masalah kontemporer produk terbaru yang belum ada di masa 10 tahun lalu.

Siapapun bisa melihatnya dan belajar dari sosial media, tentu kajian riba salah satu yang bisa ditonton dengan mudah oleh mereka yang masih bekerja di tempat yang berdekatan dengan akad-akad riba, dan membuat gelisah hatinya.

Komunitas XBank ini lahir 15 Juli 2017 dari inisiatif mas El Candra, mantan bankir yang sudah belasan tahun bekerja hingga jabatan satu level di bawah direksi di sebuah perbankan nasional. Komunitas ini membesar lewat ‘gethok tular’ mulut ke mulut, dilempar di sosial media dan group WA..

“Saat ini kami punya member 6200an seluruh Indonesia, ada 32 group WA dan terus bertambah dengan syarat minimal 100 orang di satu wilayah jika mau dibuatkan group WA baru.. “ kata Nopan Nopiardi salah satu pentolan XBank yang juga mantan bankir itu.

Sabtu kemarin mereka melakukan Kopdar di Jogja, saya diundang untuk berbicara dalam talkshow sebagai nasabah yang dulu suka bergantung ke bank untuk memenuhi semua kebutuhan.. dari modal usaha hingga gaya hidup.

Sejak saya masuk ruangan jam 9 pagi, suasana begitu adem. Walaupun yang di depan saya para mantan bankir dan ada juga yang masih bankir aktif, tidak ada yang agresif menawarkan kredit.. hehe ya iyalah!

Satu jam pertama saya bercerita bagaimana 6 tahun saya berbisnis dan terjerat akad riba di berbagai bank, leasing dan asuransi. Ketika ketenangan hati tercabut, hidup hanya untuk mikir cicilan dan angsuran.. musibah demi musibah berdatangan. Halangan demi halangan bermunculan. Sampai saya diingatkan oleh seorang kawan tentang peringatan Nabi:
“Jauhi tujuh perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya… memakan RIBA” [HR Bukhari 2766 & Muslim 89]

Duuuh! Apakah saya ini pelaku riba? Kan saya yang ngutang! Saya gak makan duit riba!
Saya disodori lagi sebuah hadist, Nabi melaknat semua orang yang terlibat disana: yang minjemin, yang minjem, yang nyatet, yang jadi saksi.. semua sama dalam dosa!
Klakep deh saya gak bisa jawab..

Dan pukulan paling telak ketika saya dihantam di dada pakai Quran surat Al Baqarah 278-279 yang menyatakan perintah untuk meninggalkan riba, jika tidak akan DIPERANGI Allah dan rasulnya.

Makdeg!! Nyesek!
“Aku ini ciptaanMu wahai Allah.. kok sekarang aku malah Kau perangi! Apa aku bisa menang ya Allah?”

Sesi kedua tanya jawab dan testimoni peserta, terbawa suasana semuanya karena mendengar penuturan mereka.

Mas El Candra memulai,
“Disini banyak mantan kawan-kawan AO bank, merasa berdosa ketika membujuk orang berutang tiap hari karena kejar target, lah saya ini kepala divisi yang membawahi 1000 AO (Account Officer), bayangkan berapa kali lipat-lipat dosa saya..” katanya dengan suara gemetar.

Lanjut mas Danto dari Semarang memberikan testimoni:
“Saya ini 15 tahun di bank berlabel syariah. Saya gak merasa sebagai pelaku riba, dan suka nunjuk ke mereka yang di bank konvensional lah pelaku riba. Kami ini penyelamat, dan saya bangga dengan pekerjaan ini. Sampai satu ketika saya belajar fiqih mumalah, saya tercenung dengan praktek yang saya temui di pekerjaan saya. Ketika bicara akad murabahah bank saya tidak pernah benar-benar membeli barang itu baru kami jual kembali. Tidak pernah kami membeli, bagaimana kami akan bisa menjualnya? akad ini cacat dan mengganjal di hati saya. Lalu akad mudharabah.. kenapa yang dibagi masih dari total uang yang dipinjamkan, bukan bagi hasil dari nilai keuntungan? Dan tidak ada resiko kerugian dengan adanya sita dan lelang. Lama berkecamuk dalam hati saya. Sampai ketika bertemu dengan salah satu ustadz saya berkata untuk membela diri, bahwa bank kami diawasi dengan syariah nasional. Jawaban ustadz itu membuat mati kutu.. 

“Nanti di akherat mas, engkau tidak bisa berlindung kepada siapun termasuk kepada dewan syariah jika pelaksanaannya menyimpang dari aturan Allah..”

Hal itu yang membuat saya memutuskan berhenti jadi bankir, semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya..”

Dia menangis di atas panggung.. semua peserta terdiam.

Saya memanggil kawan saya mas Rinanto Suryadhimirtha yang juga hadir seorang pengacara muslim yang sudah melanglang buana sebagai pengacara dipihak bank dan leasing untuk maju ke panggung,

“Saya ini dulu membela bank dan leasing sampai tahap eksekusi lelang. Sampai orang yang punya aset itu nangis-nangis saya gak peduli. Ketika hijrah saya menyesal luar biasa dan sekarang saya bekerja untuk berbalik membela mereka. Bagaimana mungkin sudah bayar ratusan juta, pas mau melunasi utang pokoknya masih banyak tanpa mau memberi keringanan. Sampai tahap lelang sekarang saya hadapi.. saya bahkan datangi orang-orang yang dulu hartanya saya lelang, saya minta maaf kepada mereka, dan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya..”
Katanya dengan suara gemetar..

Dilain waktu ada seorang yang bertanya pada saya, “mas kalau banyak yang resign bank bisa tutup dong? Kita kalau mau transfer duit pakai wesel di kantor pos lagi?”

“Bank gak akan tutup bro, karena sistem ekonomi kapitalis dianut di negeri ini. Paling hanya keluar-masuk pegawainya yang kenceng, dan ratusan ribu lulusan sarjana tiap tahun tersedia di Indonesia..” jawab saya.

“Terus mas?”

“Kerinduan pada lembaga keuangan yang syar’i itu sekarang sedang menggebu-gebu dari masyarakat. Misal bank itu ibarat rumah.. ketika ada pipanya yang bocor, airnya mampet, plafonnya pecah, WCnya membludak dan bau, tidak langsung kita bakar rumahnya kan. Tapi diperbaiki satu-persatu hingga rumah itu layak huni dan membawa ketenangan penghuninya..”

“Mmm.. gitu ya mas, terus siapa yang bisa memperbaiki itu semua mas kalau pada resign?”

“Bola ditangan pemerintah tentunya, undang para ulama, ustadz-ustadz ahli fiqih muamalah dari berbagai perwakilan, sampai ketemu formula untuk pelaksanaan sistem bank yang bener-bener syar’i dan adil, dan menentramkan kita semua..”

“Apa mungkin ya mas?”

“Dulu tentara dan polisi wanita itu gak boleh pakai hijab lho.. setelah ada desakan dari masyarakat sekarang banyak tentara dan polisi wanita yang berhijab karena aturannya berubah. Ya kita doakan saja semoga suatu saat dapat terwujud..”

“Terus bagaimana bersikap pada bank mas?”

“Tak lebih seperti kantor pos, gunakan produk yang tidak ada ribanya seperti jasa transfer uang, menyimpan secukupnya, kalau ada rejeki lain putar di usaha lagi agar lebih bermanfaat, bukan ditimbun.. dan jangan membuka akad riba apapun bentuknya..”

Ketika sesi istirahat mau sholat dzuhur panitia meminta peserta keluar untuk difoto pakai drone. Mereka diberi bendera untuk dilambai-lambaikan..
saya merinding membacanya..
“Jangan gadaikan akheratmu untuk duniamu..”

Itulah XBank, perjalanan hijrah saudara-saudara kita yang menggetarkan hati..

Sebuah postingan di facebooknya begini:
“Karir tertinggi seorang bankir adalah.. resign!”

Jleb!

Source : nahimunkar.org via fb Saptuari Sugiharto / Rinanto Suryadhimirtha

THR Sriwedari Riwayatmu Kini

THR Sriwedari Riwayatmu Kini


Taman Hiburan Rakyat atau THR Sriwedari bakal tutup selamanya terhitung pada 4 Desember mendatang. Tutupnya tempat hiburan tersebut lantaran pengelola belum mendapatkan lokasi baru pengganti Sriwedari. Sebab, tahun depan, kawasan itu akan ditata Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Jawa Tengah.

THR Sriwedari adalah taman hiburan rakyat yang ikonis di daerah asal Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Berdiri 32 tahun lalu, taman hiburan ini sangat populer di era tahun 80 hingga 90-an. Tak hanya menyediakan wahana permainan, THR Sriwedari kerap menjadi tempat konser grup musik.

Setiap malam, genre musiknya berbeda-beda. Mulai dari slow rock, dangdut, hingga musik Koes Plus ada dalam daftar hiburan musik di panggung ini. Tak hanya musikus dan band lokal, tapi juga para artis Ibu Kota. Seperti Ahmad Albar, Power Metal, Koes Plus, Inul Daratista, hingga Via Vallen pernah manggung di tempat hiburan tersebut.

Nasib THR Sriwedari mulai gonjang-ganjing sejak akhir tahun lalu. Hal itu berawal saat Pemkot Solo memutuskan tidak memperpanjang kontrak THR Sriwedari pada akhir tahun lalu. Keputusan itu menyebabkan munculnya pilihan lokasi alternatif sebagai penggati Sriwedari seperti di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Seiring dengan berjalannya waktu, niat memindahkan lokasi tersebut batal.

“THR rencana akan pindah ke TSTJ, tapi rencana itu dibatalkan karena manajemen merasa keberatan dengan ketentuan yang ditetapkan Pemkot Solo,” ucap pemimpin manajemen THR Sriwedari, Sinyo Sujari, di Solo, Kamis, 12 Oktober 2017.

Ketentuan yang dianggap memberatkan pihak pengelola, di antaranya soal ketentuan masa kontrak selama empat tahun serta tidak ada jaminan perpanjangan kontrak setelah masa kontrak berakhir. Selain itu, masa ketetapan pajak hiburan tiket masuk sebesar 25 persen dan tiket permainan sebesar 35 persen.

Tak hanya itu, nilai sewa lahan yang dipatok mencapai Rp 1.000 per meter persegi setiap hari. Padahal, lahan yang rencananya akan disewa THR luasnya mencapai 2 hektare.

“Biaya-biaya seperti pajak dan sewa sangat berat. Lokasi di sana juga termasuk daerah pinggiran jadi kami belum tahu nantinya dalam waktu 2-3 tahun itu sudah ramai atau belum,” ujar dia.

Dengan alasan itu, Sinyo menegaskan pengelola THR Sriwedari membatalkan rencana pindah ke lokasi baru di TSTJ seperti yang ditawarkan pihak Pemkot Solo. Dengan demikian, THR Sriwedari akan tutup beroperasi pada 4 Desember 2017.

Rencana awal tempat hiburan itu tutup pada 30 November 2017, tapi adanya kegiatan anak-anak pada 2 Desember 2017 menyebabkan rencana penutupan diundur.

“Kita mulai tutup 4 Desember nanti setelah sempat beroperasi selama 32 tahun. Kami sebenarnya merasa berat dengan keputusan ini,” akunya.

Rencana penutupan THR SRIWEDARI itu juga terlihat dari aktivitas sejumlah pekerja, beberapa pekan lalu. Saat itu, mereka mulai membongkar sejumlah wahana permainan. Selanjutnya, para pekerja mengangkutnya ke atas bak truk yang parkir di sebelah barat tempat hiburan yang merakyat itu.

Konflik Panjang Sriwedari


Berada di pusat kota, Taman Sriwedari sejak lama menjadi ikon Kota Solo. Sejumlah bangunan bernilai sejarah tinggi berdiri di atas tanah seluas 9,9 hektare. Ketenarannya harus terusik dengan konflik panjang antara Pemkot Solo dan ahli waris Wirjodiningrat.

Siapa sosok Wirjodiningrat itu? Sebelum menjawab itu, putra mendiang Paku Buwono XII, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Dipokusumo menuturkan awal mula tanah Sriwedari yang awalnya bernama Talang Wangi. Tanah itu rencananya akan dijadikan pusat kerajaan ketika pindah dari Keraton Pajang Kartasura.

“Talang Wangi bersama dengan Bekonang dan Sala menjadi calon pusat kerajaan Kasunanan Surakarta,” kata Dipokusumo kepada Liputan6.com, Rabu (17/2/2016).

Seiring waktu, tanah itu dimiliki orang Belanda bernama Yohanes Busselar. Raja Kasunanan Surakarta yang berkuasa saat itu, Paku Buwono X kemudian membeli tanah tersebut. Ia mendelegasikan pembelian itu kepada orang yang dipercayainya.

“Sistem administrasi pada zaman dahulu itu, semua yang mengurusi tentang jual beli itu biasanya dipercayakan kepada orang yang dipercaya. Jadi misal raja punya mobil, maka atas namanya itu orang yang dipercaya itu,” jelas Dipokusumo.

RMT Wirjodiningrat, kata dia, kebetulan adalah orang kepercayaan raja saat itu. Ia adalah putra dari Patih Sosrodiningrat saat PB IX berkuasa. Raja menugaskan Wirjodiningrat untuk membeli tanah itu yang diresmikan dalam akte jual beli tertanggal 13 Juli 1877.

“Wirjodiningrat ini dulu kalau nggak salah jabatan cuma asisten. Dan ada kemungkinan dia orang kepercayaan PB X. Nah, membeli tanah seluas itu tidak murah. Kalau membeli, uang Wirjodiningrat itu dari mana?” ucap Dipokusumo.

Setelah terbeli, PB X kemudian terpikir untuk menjadi Talang Wangi menjadi Sriwedari setelah beranjangsana ke Kebun Raya Bogor. Dipokusumo menyebut, PB X memang suka berkunjung ke daerah-daerah lain dan mendapat inspirasi dari perjalanannya.

“Nah, isi dari Taman Sriwedari ini adalah Segaran yang dulu sering dijadikan lokasi Maleman saat hari ke-21 puasa. Kemudian diisi juga dengan kebun binatang seperti yang ada di keraton, seperti gajah dan harimau. Jadilah, taman satwa di Sriwedari,” tutur dia.

Selain kebun binatang, PB X juga mendirikan Gedung Wayang Orang Sriwedari.  Gedung itu mementaskan wayang orang Mahabarata yang dulunya hanya bisa dinikmati mereka yang tinggal di dalam tembok keraton.

“Tujuan dari pembangunan Taman Sriwedari itu adalah sebagai publik space, hiburan untuk masyarakat luas. Makanya, dibangun gedung wayang itu supaya masyarakat bisa menikmati pentas wayang orang, seperti yang dilakukan oleh keluarga keraton,” jelas Dipokusumo.

Selain gedung wayang, di Sriwedari juga ada Stadion Sriwedari, tempat digelarnya Pekan Olahraga Nasional (PON) I. Pembangunan lapangan itu, kata dia, tak lain karena anak-anak raja PB X saat itu suka bermain sepak bola.

“Makanya kemudian dibangun lapangan itu,” kata Dipokusumo.

Berjalannya waktu, Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Keraton Kasunanan Surakarta menyatakan bergabung dengan NKRI. Karena itu semua yang berhubungan dengan keraton diatur Pemerintah RI. Termasuk, pengaturan tanah milik keraton.

“Tanah milik keraton itu kemudian diambil alih oleh RI,” kata Dipokusumo.

Ada beberapa peninggalan keraton yang menjadi aset dari Sunan Ground. Termasuk salah satunya adalah Taman Sriwedari. Mengingat Taman Sriwedari itu berfungsi sebagai ruang publik, pengelolaannya menjadi domain dari Pemkot Solo saat itu.

GPH Dipokusumo. (Liputan6.com)


“Sekarang kan yang muncul adalah hitam di atas putih. Tanah Sriwedari itu tertulis milik Wirjodiningrat. Dan tanah itu kemudian diaku oleh trah Wirjodiningrat. (Padahal), Wirjodiningrat itu dulunya orang yang dipercaya raja,” ucap Dipokusumo.

Sebelas orang yang mengaku sebagai ahli waris Wirjodiningrat kemudian mendaftarkan gugatan perdata pada 24 September 1970 ke Pengadilan Negeri Surakarta. Setelah 46 tahun berlalu, Mahkamah Agung kemudian memutus menolak pengajuan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Pemkot Solo. Tepatnya pada 10 Februari 2016.

Keputusan itu berarti tanah Sriwedari seluas 9,9 hektare dinyatakan milik ahli waris Wirjodiningrat. Mereka kemudian mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri (PN) Solo untuk mengeksekusi keputusan PK MA itu.

Kepala Humas Pengadilan Negeri (PN) Solo, Winarto, mengatakan pihak ahli waris telah mengajukan surat permohonan eksekusi yang baru untuk pengosongan lahan Sriwedari. Dalam surat permohonan tersebut juga dilampirkan fotokopi putusan di laman MA.

“Ada surat permohonan eksekusi untuk kedua kalinya terhadap lahan Sriwedari. Informasi pengajuan eksekusi baru itu melampirkan putusan PK yang ada di laman MA,” ujar dia di Solo, Selasa 16 Februari 2016.

Hanya saja, lanjut Winarto,  saat ini pihak pengadilan masih melakukan proses aanmaning dalam bentuk negosiasi yang melibatkan pihak Pemkot Solo, ahli waris, dan Keraton Solo. Bahkan, kemarin digelar pertemuan dengan berbagai pihak untuk proses aanmaning di ruang Kepala PN Solo.

“Saat ini sedang proses aanmaning dampak dari putusan tahun lalu. Namun untuk proses pengajuan eksekusi yang baru, kami masih menunggu salinan putusan PK yang dikirimkan dari MA,” ujar Winarto.

Winarto mengatakan bahwa hasil putusan sesuai dengan yang dikeluarkan oleh pihak kepaniteraan di laman MA. Meski demikian, pihaknya masih menunggu datangnya direktori salinan putusan dari MA.

“Kalau kapan datangnya salinan surat putusan resmi dari MA belum tahu. Tetapi, batasan atau limit untuk surat itu tiga tahun,” kata Winarto.

Referensi :

Fenomena Gerakan Islam 212

Fenomena Gerakan Islam 212

Helat Akbar 212 kemarin, jika kita selami lebih jauh, ada nilai yang jauh lebih besar.

– Tokoh central seperti Habib Rizieq tidak ada
– MUI berlepas, dengan pernyataan KH. Maruf Amin yang menolak memberikan dukungan aksi ini.
– Sekalipun Amien Rais, Ustadz Bachtiar Natsir, Habaib-habaib, dan tokoh-tokoh tidak ada.

Aksi 212 tetap akan dipenuhi oleh jamaah dari seluruh Indonesia. Ketidakhadiran tokoh-tokoh tersebut memang memberi nuansa yang kurang lengkap. Tapi ketidak hadiran mereka bukan berarti acara helat akbar tidak berlangsung sukses. Buktinya helat Reuni Akbar 212 kemarin di lapangan Monas dipenuhi oleh jutaan jamaah padahal banyak tokoh utama tidak hadir.

Fenomena ini memberi makna yang lebih luas, bahwa umat merindukan ukhuwah Islamiyah. Tidak penting siapa tokohnya, sejauh wadah kebersamaan disediakan, umat berbondong-bondong berhimpun dan merekatkan hati dan jiwa dalam persaudaraan.

Fenomena 212 lebih dari kumpul-kumpul belaka. Aksi 212 bentuk kongkrit umat untuk berperan aktif dalam membangun bangsa dan negara agar sesuai dengan nilai-nilai Islam yang mengedepankan kesetaraan dan keadilan bagi sesama anak bangsa. Jika ghirah ini dirawat, inilah waktu Bangkitnya Umat Islam di Indonesia.

Bangga Ikut Reuni

Reuni 212 diselenggarakan hari Sabtu 2 Desember 2017 juga memperingati perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW mengumpulkan begitu banyak orang dan para ulama dari seluruh Nusantara.

Saya bersama Lieus Sungkharisma dan kawan kawan berjalan kaki mulai dari Jl. Juanda menuju ke Monas. Untuk mencapai tempat tersebut tidak bisa menggunakan mobil karena jalan-jalan sudah ditutup mulai dari perempatan Harmoni bahkan sekeliling Istana, dikelilingi dengan pagar kawat berduri dan pasukan polisi yang begitu banyak.

Kesan saya adalah kok lebay banget ya. Padahal kita tidak sedang menghadapi perang, yang dihadapi oleh Istana sebagai simbol kekuasaan negara adalah rakyatnya sendiri. Umat Islam yang ingin berkumpul bersama dalam sebuah rangkaian acara sholat subuh, tausiah dari pada ulama dan silaturahmi diantara umat Islam sendiri untuk mempererat tali persaudaraan. Bahkan kami yang kafir pun ikut bergabung. Ini menunjukkan bahwa walaupun berbeda agama, berbeda suku, kita adalah bersaudara, sebangsa dan setanah air, tanah air Indonesia.

Tokoh-tokoh berkumpul mulai dari Amien Rais, Hidayat Nur Wahid, Sohibul Iman, Ustad Bahtiar Nasir, Ustad Felix Siaw, Fadli Zon, Fahri Hamzah sampai ke Ahmad Dani pun ikut hadir. Gubernur DKI Jakarta , Anies Baswedan juga memberikan sambutan. Sayangnya, pimpinan tertinggi negeri ini Presiden Jokowi tidak hadir. Beliau memilih untuk berada di Bogor.

Padahal mayoritas orang Indonesia beragama Islam dan jika Jokowi mau menyapa umat Islam yang datang dari berbagai penjuru daerah , tentu akan menjadi sebuah momentum yang menyiratkan bahwa Jokowi perduli terhadap rakyatnya. Biasanya beliau mendatangi rakyat dan selalu ada saja ceritanya di media, tapi saat rakyat dari daerah singgah ke Jakarta, kok malah memilih untuk berada di tempat lain?

Semoga saja tidak ada niatan untuk memilih milih rakyat mana yang ingin ditemuinya.

Akhirnya saya, Lieus dan kawan-kawan sampai juga ke panggung dengan dikawal oleh laskar FPI yang kebetulan melihat kami yang tidak mungkin lagi bergerak karena begitu banyaknya orang yang memadati Monas. Kami disambut dengan sangat baik ditengah jutaan umat Islam, diperkenalkan bahwa saya adalah seorang Katolik dan diminta berdiri. Ya, saya seorang Katolik, kafir dan Tionghoa berada bersama umat Islam dalam sebuah perayaan yang sangat menyentuh hati karena semua orang hadir di tempat itu bukan karena uang apalagi nasi bungkus tetapi karena kesadaran akan panggilan keagamaan dan bela negara yang saat ini diguncang dengan berbagai kegaduhan yang berpotensi untuk memecah belah bangsa.

Saya, Agnes Marcellina, bangga bisa hadir di Monas tadi pagi….dan ternyata umat Islam sangat toleran…

Salam Indonesia Raya.

212 Gerakan Apa?

Banyak keanehan dan sulit dipikir nalar dalam gerakan 212 yang baru merayakan ulang tahun perdana. Ribuan atau mungkin jutaan orang bisa menyemut dalam satu tempat di waktu subuh. Di waktu kedua mata sedang asyik terlelap dan bermimpi.

Ada yang datang bergerombol dari luar pulau, ada yang bawa keluarga dengan mobil pribadi dari luar kota, ada yang naik motor, sepeda ontel, hingga ada yang rela berjalan kaki. Ini acara reuni paling aneh yang pernah terjadi.

Mereka rela mengorbankan waktu liburan, mereka ikhlas merogoh uang tabungan, mereka tulus berbagi makanan dan minuman. Tak ada satu pun yang merusak taman. Apa yang mereka cari…?

Apakah 212 gerakan politik…? Ya, mereka memang gerakan politik. Secara kasat mata kita melihat gerakan ini mampu menumbangkan rezim arogan yang memiliki banyak kekuatan. Kekuatan logistik hingga kekuatan mesin pembentuk opini publik.

Apakaj 212 gerakan ekonomi…? Ya, mereka memang gerakan ekonomi. Secara kasat mata kita melihat banyak sekali koperasi 212 Mart berdiri di pemukiman. Semua berlomba menjadi investor, pengelola dan sekadar menjadi konsumen. Mereka mampu menciptakan pasar dan membuat supermarket populer deg-degan.

Apakah 212 gerakan pendidikan…? Ya, mereka memang gerakan pendidikan. Banyak tempat kajian bermunculan, banyak orang hijrah dan rajin ke pengajian. Banyak yang berusaha kembali mempelajari dan memahami ajaran Alquran. Banyak yang berubah menyikapi arti kehidupan. Banyak pula pemeluk agama lain yang tersadarkan bahwa Islam adalah agama perdamaian.

Apakah 212 gerakan propaganda? ya, mereka memang gerakan propaganda. Mereka merambah ke dunia maya. Melawan segala bentuk fitnah dan kabar yang menyesatkan. Mereka mengubah citra menjadi fakta. Muslim Cyber Army kian menggurita. Entah dimana kantornya, entah siapa pemimpinnya. Mereka bergerak senyap tapi pasti seperti semut-semut Ibrahim yang memadamkan api.

Jadi 212 gerakan apa sebenarnya…? Entahlah, saya sebut saja ini gerakan gila. Gila karena tak masuk di akal. Gila karena seperti tak normal dibanding gerakan lainnya. Gerakan ini bukan strategi para taipan, bukan pula strategi dari rezim kekuasaan. 212 adalah gerakan yang skenarionya langsung dari Tuhan.

Aksi 212 membawa pesan bahwa kehendak Tuhan tak bisa dilawan. Ini sudah menjadi janji-Nya dalam Alquran. Wamakaru Wamakarallah Wallahu Khairul Makiriin (Mereka punya skenario, Allah punya skenario, dan Allah sebaik-baiknya pembuat skenario) – Al Imran 54

Untuk Apa Kumpul-kumpul Lagi?

Banyak orang yang pusing memikirkan apa alasan umat Islam kumpul lagi di Jakarta dengan tema Reuni 212. Mereka sibuk mencari logika di balik “kumpul lagi” itu. Sibuk mencari jawaban, “untuk apa?”.

Bagi mereka, reuni semacam ini tidak ada gunanya. Sia-sia! Buang-buang waktu, tenaga dan dana.

“Mereka” yang sibuk memikirkan alasan kumpul itu, ada dua golongan. Yang pertama adalah “mereka” yang benar-benar tidak paham mengapa umat Islam harus datang lagi ke Jakarta pada HUT aksi damai 212. Yang kedua adalah “mereka” yang selalu mengantongi kalkulator politik; yang membawa sempoa politik ke mana-mana karena “mereka” paranoid.

Yang pertama. Mereka ini tidak banyak jumlahnya. Mereka dari hari ke hari sibuk dengan dunianya, tidak mau tahu dengan keniscayaan untuk membangun persatuan di kalangan umat. Sebagian mereka malah merasa tidak perlu mempersoalkan siapa yang seharusnya menjadi pemimpin dan bagaimana umat harus dipimpin.

Bagi mereka, yang paling penting adalah roda kehidupan biologis bisa berjalan normal, ada penghasilan, dan makan-minum lancar. Dalam bahasa percandaan biasa disebut “yang penting dapur berasap, perut kenyang”. Jadi, kalau “parameter perut” ini tidak bermasalah, sudah cukup. Tidak perlu memikirkan bagaimana kondisi umat, siapa yang memimpin umat, apa-apa saja tantangan yang dihadapi umat, dlsb.

Karena itu, mereka merasa tidak perlulah bersusah payah beraksi solidaritas dan mengekspresikan keresahan terhadap cara negara dikelola oleh pemegang kekuasaan. Tidak perlu aksi damai umat Islam, apalagi disusul pula dengan kumpul-kumpul reuni seperti Reuni 212, kemarin. Inilah “mereka” yang masuk golongan pertama.

Kemudian ada “mereka” kategori kedua. Yaitu, orang-orang yang sangat sadar bahwa aksi damai umat yang menunjukkan persatuan adalah “ganjalan” bagi mereka. “Mereka” ini adalah pemegang kekuasaan dan para pendukung serta simpatisannya. Ke mana mereka pergi, kalkulator politik selalu ada di saku. Sempoa politik tetap ada di laci meja kerja mereka.

Begitu ada aksi umat, baik aksi damai setahun yang lalu maupun aksi reuni, kalkulator dan sempoa langsung dikeluarkan untuk menghitung apa maksud reuni, mengapa jutaan orang masih saja rela datang ke Jakarta dari tempat yang jauh-jauh, siapa dalangnya, ke mana arahnya, dll. Semua dihitung. Berhitung sambil memikirkan bagaimana cara untuk membuat agar solidaritas umat bisa sirna.

Maka, “mereka” jenis kedua ini akan menggunakan segala macam lembaga yang ada di tangan mereka untuk merancang “software” yang bisa melemahkan semangat juang umat. “Mereka” juga menggunakan para pendukung intelektual untuk disebar ke segenap penjuru media kaki-tangan, untuk “menertawakan” aksi Reuni 212. Mereka bermunculan di layar kaca TV-TV pembebek dengan komentar-komentar yang intinya “membodohkan” umat yang berkumpul di Jakarta. Barisan “mereka” di medsos pun melancarkan gempuran sinistis terhadap reuni.

Dan, TV-TV pembebek pun memahami keinginan “mereka”. Stasiun-stasiun anti-umat itu tidak menampilkan aksi reuni sebagai berita. Atau, setidaknya mereka sengaja mengecilkan peristiwa itu dalam pemberitaan.

Intinya, “mereka” panik. Panik melihat tekad dan semangat baja yang, ternyata, tidak surut di kalangan umat. Panik karena instink paranoid “mereka” mengatakan bahwa aksi-aksi reuni semacam 212 mengindikasikan bahwa persatuan umat telah teruji.

Mereka panik karena mereka telah terlanjur merancang dan mengimplementasikan langkah-langkah politik yang menempatkan umat Islam sebagai musuh mereka. Sesuatu yang sangat keliru. Keliru besar. Padahal, umat ini tidak bermaksud memusuhi mereka sepanjang mereka tidak memusuhi umat.

Setelah Reuni 212, hampir pasti kalkulator dan sempoa politik “mereka” menghasilkan hitungan yang membuat perasaan menjadi tak enak. Sebab, tahun politik tidak jauh lagi.

Kalau umat bisa menjaga momentum persatuan seperti yang tampak sekarang ini, berarti ada ancaman nyata terhadap eksistensi kekuasaan “mereka”.

Reuni 212 Terlalu Besar untuk Diabaikan Siapapun

Dai muda, ustadz Felix Siauw mengatakan bahwa arti reuni akbar alumni 212 adalah untuk menyatukan serta mempersatukan umat Islam. Karena menurutnya, aksi 212 adalah gerakan kebangkitan umat Islam yang berjalan sukses karena tidak adanya sikap anarkis meskipun massa yang datang banyak.

Ia menyatakan, bahwa gerakan kebangkitan umat Islam yang disimbolkan dengan 411/212 menjadi fenomena baru dalam sejarah Indonesia. Tak pernah ada gerakan semasif dan sesolid ini.

“Tentu saja, ini menjadi perhatian serius bagi siapa saja yang ingin berkuasa, atau terus berkuasa di negeri ini. Sebab gerakan ini terlalu besar untuk bisa diabaikan siapapun,” ungkapnya melalui akun Instagram pribadinya @felixsiauw pada Selasa (04/12/2017).

“Faktanya, sejak Indonesia wujud, tak ada satupun partai atau gerakan yang bisa mengagregasi umat sebanyak 212, lebih hebat lagi, ini dilakukan dengan dana sendiri,” imbuhnya.

Terlebih, tidak menutup kemungkinan jika adanya tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepada umat Islam terkait hal tersebut. Bukan hanya tuduhan, lanjutnya, namun diskirminasipun tidak lupa digunakan untuk membungkam gerakan ini.

“Radikal, intoleransi, anti-NKRI, anti-Pancasila,” ungkapnya. Namun, ia menilai bahwa semua tuduhan tersebut secara tidak sadar telah digagalkan oleh persatuan umat Islam saat ini. “Begitulah semua tuduhan kaum munafik dan kafir terbantah hanya dengan reuni 212 saja,” sambungnya.

Ia menjelaskan, begitulah kerja orang panik, sebagaimana kafir Quraisy yang bingung menuduh apa kepada Rasulullah yang sempurna. “Akhirnya tuduhannya mengada-ada. Maka tuduhan terhadap reuni 212 telah terbukti gagal, mereka lanjutkan dengan pasca reuni 212,” katanya.

“Maklumi saja orang-orang panik ini, mereka yang hendak tenggelam, apa saja akan disambar, bahkan hanya jerami yang mengambang, orang panik suka aneh-aneh,” katanya.

Di akhir, ia menyatakan bahwa acara seperti reuni akbar 212 ini akan memberikan kesan rindu kepada sesama saudara Muslim.

“Jelas-jelas ini ngangeni. Alhamdulillah, saat berdesak-desakan orang berbagi senyum, saat lapar dan haus mendahulukan saudaranya, indah. Biarlah 212 terus mengingatkan kita, bahwa persatuan itu indah,” tutupnya.


Referensi :

http://www.teropongsenayan.com/76063-fenomena-212

http://www.teropongsenayan.com/76028-bangga-ikut-reuni-212

http://www.teropongsenayan.com/76031-gerakan-gila-bernama-212

http://www.teropongsenayan.com/76055-reuni-212-untuk-apa-kumpul-kumpul-lagi

https://kiblat.net/2017/12/04/felix-siauw-sebut-reuni-212-terlalu-besar-untuk-diabaikan-siapapun/

Sumber video