Kembalinya Khilafah

Kembalinya Khilafah

Rasulullah saw bersabda : “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Kemudian Ia akan mengangkatnya jika Ia berkehendak menngangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim, ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan, ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”, kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad dan al-Bazar)

Tragedi 03 Maret 1924 M / 28 Rajab 1342 H

89 tahun yang lalu jika menggunakan kalender agama masehi (nasrani) atau 92 tahun yang lalu jika menggunakan kalender perhitungan umat Islam yakni kalender Hijriah suatu peristiwa penting telah terjadi dan dilupakan oleh sebagian kaum muslim, peristiwa itu adalah peristiwa pembubaran sistem khilafah oleh seorang penkhianat yang bernama Musthafa Kemal at Tarturk.

Khilafah dibubarkan saat terjadi Konferensi Luzone, dimana Musthafa Kemal menerima 4 syarat yang diajukan Inggris untuk mengakui kekuasaan barunya di Turki. Keempat syarat itu adalah:

  • (1) Menghapus sistem Khilafah;
  • (2) Mengasingkan keluarga Utsmaniah di luar perbatasan;
  • (3) Memproklamirkan berdirinya negara sekular;
  • (4) Pembekuan hak milik dan harta milik keluarga Utsmaniah. (Mahmud Syakir, Târîkh al-Islâm, VIII/233). Akibatnya, setelah 6 abad berkuasa dan memimpin umat Islam, “The Old Sick-Man” akhirnya tumbang.

Sejak saat itu, umat Islam hidup tanpa seorang Imam/khalifah serta diatur dengan aturan yang tidak bersumber dari Allah swt sang pembuat akal manusia, melainkan diatur oleh hukum yang dilahirkan dari akal manusia.
Akibat dari aturan yang berasal dari akal manusia tersebut, kemudian melahirkan penderitaan dan kesengsaraan yang tidak hanya menimpa kaum muslim namun juga umat secara keseluruhan di muka bumi. Sistem pemerintahan khilafah diganti dengan sistem pemerintahan yang sekuler. sistem sekularistik itu kemudian melahirkan berbagai bentuk tatanan kehidupan manusia yang jauh dari nilai-nilai agama, kita bisa melihat bagaimana kemudian tatanan ekonomi yang bersifat kapitalistik, para politikus yang oportunistik, budaya kehidupan masyarakat yang hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta sistem pendidikan yang materialistik.

Perjuangan Menegakan Khilafah

Sebenarnya, sejak khilafah di bubarkan pada tahun 1924, telah ada upaya-upaya sebagian kaum muslimin untuk tetap mewujudkan agar khilafah itu tegak. Hal ini karena mereka memahami bahwa perkara tegaknya khilafah adalah perkara yang bersifat ma‘lûm min ad-dîn bi ad-dharûrah. Selain itu, mereka juga memahami bahwa kaum muslimin haram hidup tanpa adanya seorang Imam/Khalifah lebih dari 3 hari 3 malam, sebagaimana ijma’ sahabat.

Pada Maret 1924 dibawah pimpinan Syaikh al-Azhar para ulama menyelenggarakan pertemuan di Kairo. Dalam pertemuan ini disepakati bahwa keberadaan Khilafah yang memimpin umat Islam tidak dapat dipungkiri merupakan sebuah keharusan. Mereka juga berpendapat kedudukan Abdul Majid sebagai Khalifah sudah gugur setelah dia diusir dari Turki. Oleh sebab itu harus ada pengganti Khalifah selanjutnya. Untuk membahas siapa yang layak menjadi Khalifah, mereka memutuskan akan mengadakan Muktamar di Kairo pada Maret 1925 dengan mengundang wakil-wakil dari umat Islam di seluruh dunia.
Hal serupa juga dilakukan oleh ulama di Hijaz. Pada April 1924 di Makkah, Syarif Husein yang menjadi Amir Makkah membentuk Dewan Khilafah yang terdiri dari sembilan sayid dan sembilan belas perwakilan dari daerah lain termasuk dua orang perwakilan dari Jawa. Dewan Khilafah ini dibentuk sebagai upaya untuk menegakkan kembali jabatan Khalifah. Namun Dewan Khilafah tidak berumur panjang karena pada tahun yang sama Syarif Husein lengser dari jabatannya.

Di Indonesia pun berita penghapusan Khilafah telah sampai dan mendapat respon dari ulama dan tokoh pergerakan Islam pada saat itu. Pada Mei 1924, dalam kongres Al-Islam II yang diselenggarakan oleh Sarekat Islam dan Muhammaddiyah, persoalan tentang Khilafah menjadi topik pembicaraan kongres. Dalam kongres yang diketuai Haji Agus Salim ini diputuskan bahwa untuk meningkatkan persatuan umat Islam maka kongres harus ikut aktif dalam usaha menyelesaikan persoalan Khalifah yang menyangkut kepentingan seluruh umat Islam.

Khilafah Kian Dekat

Hampir 1 abad sejak khilafah di bubarkan, disertai dengan perjuangan kembali menegakkanya namun ternyata khilafah belum tegak. Lantas kapankah khilafah itu tegak?

Perlu difahami bersama bahwa perkara tegaknya khilafah itu adalah sebuah keniscayaan, karena khobar akan tegaknya khilafah memang perkara yang sudah dijanjikan di dalam al qur’an dan melalui hadits-hadist yang bersifat mutawatir ma’nawi. Namun terkait pertanyaan kapan dan dimana khilafah akan tegak, maka itu sesuatu yang ghaib alias hanya Allah swt saja yang maha tahu.

Lantas pertanyaanya kemudian kenapa sering sekali khilafah dikatakan dekat akan segera berdiri padahal tidak ada nash yang menunjukan waktu dan tempat khilafah akan berdiri?

Jawabannya adalah kembali kepada bisyarah akan tegaknya khilafah. Semisal hadist yang berbunyi :

Rasulullah saw bersabda : “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Kemudian Ia akan mengangkatnya jika Ia berkehendak menngangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim, ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan, ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”, kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad dan al-Bazar)

Hadist tersebut memberikan kabar gembira (bisyarah) bahwa khilafah akan tegak kembali. Dimana kita juga mengetahui bahwa 3 fase pertama yakni fase nubuwah, fase khulafaur rasyidin dan fase mulkan ‘adhon telah berakhir, sedangkan fase sekarang adalah mulkan jabariyan yang juga sedang menunjukan tanda-tanda kehancurannya, artinya tinggal fase terakhir yakni fase khilafah ‘ala minhajin nubuwah.

Analogi khobar hari kiamat

Keimanan terhadap hari kiamat adalah di antara pokok ajaran Islam bahkan termasuk dari rukun Iman. Keimanan seseorang barulah sempurna jika dia meyakini adanya hari kiamat.
Allah swt berfirman :

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang.” (QS. Thahaa: 15)

وَإِنَّ السَّاعَةَ لآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

“Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al Hijr: 85)

فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al ‘Ankabut: 5)

إِنَّ السَّاعَةَ لآتِيَةٌ لا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.” (QS. Ghafir: 59)

Dalam ayat lain, Dia berfirman:

إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا

“Sesungguhnya mereka memandang hari kiamat itu jauh (tidak akan terjadi). Sedangkan Kami memandangnya dekat (waktu terjadinya)” (QS al-Ma’aarij: 6-7).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Artinya (ayat di atas): orang-orang yang beriman meyakini wktu terjadinya hari kiamat dekat, meskipun kepastian waktunya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah , akan tetapi segala sesuatu yang akan datang maka itu dekat dan pasti terjadi” [Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/537)]

Sama hal nya akan datangnya fase kekhilafahan ‘ala minhaj nubuwah, memang perjuangan menegekan kembali khilafah adalah perkara yang memerlukan pengorbanan yang besar, namun kita merasa khilafah itu kian dekat, kenapa karena kita percaya dan yakin bahwa sesuatu yang pasti datang maka ia akan terasa dekat.

Rasulullah saw. dalam khutbahnya sering mengatakan:

كُلُّ مَا هُوَ آتٍ قَرِيْبٌ لاَ بُعْدَ لِمَا هُوَ آتٍ

“Semua yang pasti datang adalah dekat. Tidak ada istilah jauh untuk apa yang pasti datang” (HR Baihaqi).

Khilafah Tahun 2020 Di Dalam Pandangan Seorang Penulis Rusia

Rilis dari buku “Rusia .. Imperium ketiga”

Akhir-akhir ini, di Rusia telah diterbitkan sebuah buku yang berjudul “Rusia .. Kekaisaran ketiga,” ditulis oleh “Michael Ioreyev“, direktur sebuah perusahaan Rusia dan Wakil Presiden Rusia Union of Industrialists dan Wakil Ketua Duma (Rusia Assembly).

Buku tersebut menyingung masa depan Rusia. Pada Coverian dalam buku berisi peta dunia menampilkan beberapa negara dan Eropa terletak di dalam batas-batas dari Rusia.

Penulis mengatakan bahwa ia memperediksi aka nada beberapa Negara Besar di dunia yang akan muncul pada tahun 2020. Saat itu,akan terdapat empat atau lima negara berperadaban ,yaitu Rusia, yang akan menguasai benua Eropa,Cina, Negara Timur Jauh, Negara Khilafah Islam dan Negara konferderasi Amerika yang akan menggabungkan Amerika Utara dan Amerika Selatan. Begipai Negara Islam.

Penulis tidak bisa memastikan bahwa hanya Rusialah yang akan menguasai benua Erofa. Tapi ia meyakini bahwa peradaban Barat pasti akan lenyap. Pasti akan diperangi atau dikuasai oleh beberapa Negara tersebut.

Tentang system yang akan diadopsi oleh Imperium ketiga itu, penulis mengatakan” sisitem itu adalah system kapitalis yang sebenarnya,yaitu sistem yang mampu memproduksi devisa paling besar dan memberikan peluang kerja untuk semua orang.

Sumber: Al-Aqsa.org, 19 Februari 2009

Resensi Buku: Kejatuhan dan Kebangkitan Negara Islam

Dalam bukunya yang terbit di tahun 2008 berjudul “Kejatuhan dan Kebangkitan Negara Islam”, Profesor Noah Feldman di Harvard menyatakan bahwa kemunduran Syariah Islam di masa lalu akan diikuti dengan kebangkitan Syariah Islam, suatu proses yang berakhir pada terbentuknya Khilafah Islam. Feldman adalah salah satu anggota komisi luar negeri New York. Buku-buku karangan dia sebelumnya juga membuat kejutan, seperti “Paska Jihad: Amerika dan Perjuangan Demokrasi Islam” (2003), “Hutang Kita Kepada Iraq: Perang dan Etika Membangun Negara” (2004), dan “Dipisah oleh Tuhan: Problema Pemisahan Negara dan Agama di Amerika — Apa yang Harus Kita Lakukan” (2005).

Bagi Feldman, beberapa kondisi tertentu diperlukan untuk memenuhi proses kebangkitan. Negara Islam akan menerapkan keadilan bagi umat, namun Negara tersebut tidak bisa dibangun dengan menerapkan sistem lama begitu saja, tapi harus mengenalkan sistem yang baru.

Tesis Feldman memerlukan perhatian khusus. Pada awal abad ke 21, dunia termasuk dunia Islam dan Timur Tengah akan mengalami perombakan. Apa peran Islam dalam perubahan tersebut? Pertanyaan ini perlu dijawab.

Pengalaman sejarah kita menunjukkan bahwa keruntuhan institusi politik yang besar dan mapan seperti Uni Soviet dan sistem Kerajaan-Kerajaan masa lalu biasanya tidak bisa dibangkitkan lagi. Kecuali hanya ada dua: Struktur Demokrasi sebagai kelanjutan dari Imperium Romawi, dan Negara Islam. Siapapun yang jeli memonitor situasi dunia Islam dari Maroko ke Indonesia akan melihat bahwa loyalitas masyarakat terhadap Islam tidak berubah meskipun kebobrokan administrasi dan kesewenang-wenangan kekuasaan banyak sekali terjadi di sana. Walaupun faktanya para pimpinan mereka gagal untuk menerapkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya dan tenggelam dalam budaya korupsi dan kepalsuan, mereka masih mampu berkuasa dengan menggunakan tongkat represif. Ulama Islam yang sejati dan Hakim seperti masa sebelumnya sudah tidak ada lagi atau tidak lagi berfungsi untuk menghentikan kesewenang-wenangan penguasanya. Namun demikian, sebagaimana diyakini oleh Feldman, saat ini Islam akan kembali dengan wajah yang berbeda dibandingkan yang dikenal dalam masa sebelumnya.

Feldman berargumentasi bahwa pergerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir menghargai demokrasi. Ketika lobi Yahudi berusaha menampilkannya sebagai organisasi teroris, Hamas sebenarnya menghormati keabsahan demokrasi. Di Turki, partai politik Islam atau partai pro Islam sudah lama berdiri sejak tahun 1969 dalam kancah politik dan keluar masuk panggung kekuasaan melalui pemilu.

Dalam menghadapi tantangan dunia modern, Muslim mampu menahan upaya restorasi radikal dan kuat tanpa meninggalkan akar tradisi mereka. Model ‘Walayat al-Faqih’ (Komite Ahli Hukum Islam) yang dikenalkan di Iran setelah revolusi Islam pada tahun 1979 perlu didiskusikan dan ditinjau secara mendalam. Salah satu prioritas penting dalam dunia Islam adalah pemecahan masalah keseimbangan kekuasaan dan penegakkan hukum. Sejak masa Nabi Muhammad, penguasa Muslim berusaha keras untuk meyakinkan masyarakat tentang keabsahannya dengan melarang semua hal yang dinyatakan sebagai haram, namun di masa sekarang penekanan pada aspek kebebasan menjadi lebih penting. Keberhasilan di aspek ini oleh Dunia Islam tidak saja akan menguntungkan dunia Islam, tapi juga Dunia Barat.

Feldman juga menekankan bahwa di masa lalu, ulama yang menafsirkan Syariah adalah pemegang peran dalam mengontrol lembaga eksekutif; namun, menurutnya, peran ini dihancurkan oleh reformasi yang belum selesai dna fenomena Tanzimat yang ditemukan pada masa Ottoman. Akibatnya, ketiadaan lembaga yang mengontrol penguasa mengakibatkan kesewenang-wenangan yang memonopoli sistem administrasi. Feldman juga menyebutkan bahwa Khilafah Ottoman berutang kepada Dunia Barat sehingga ia berada dalam tekanan untuk melakukan reformasi. Akibatnya, sistem keadilan dan para ulama Islam akhirnya diganti dengan lembaga baru, sehingga runtuhlah kekhalifahan Islam. Kekuatan penjajah imperialis seperti Inggris dan Perancis akhirnya berhasil masuk.

Akan tetapi, Feldman juga melihat bahwa lembaran baru di abad 21 akan tiba dengan kembalinya Islam meskipun kekuatan politiknya sempat runtuh di tahun 1924 dan para ulamanya yang berperan sebagai pengawal Syariah sempat dipinggirkan dan disingkirkan.

Penasihat Obama: Khilafah Akan Tegak Kembali, Pasti dan Mustahil Dihindari

 

Penasihat Presiden AS untuk keamanan dalam negeri, Mohamed Elibiary memperingatkan, dalam statusnya di situs jejaring sosial “Twitter” tentang tegaknya Khilafah Islam, dimana ia menegaskan bahwa satu-satunya pilihan bagi Amerika Serikat adalah menjalankan Containment Policy, yakni kebijakan untuk mencegah penyebarannya, seperti yang dilakukan pada Uni Eropa, katanya.

Elibiary membuat sebuah status yang memicu kontroversi di Amerika di akun Twitter-nya, bahwa kembalinya Khilafah adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari, maka satu-satunya pilihan bagi kita adalah mendukung ide menjadikan Khilafah seperti Uni Eropa.

Mohamed Elibiary, menurut situs Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, bekerja sebagai penasehat lembaga federal Amerika Serikat untuk keamanan nasional (rassd.com, 17/6/2014).

Konklusi :

Rasulullah saw pernah menjelaskan bahwa akan ada 5 masa pemerintahan yang terjadi di dunia, hingga akhir zaman. penjelasan tersebut terdapat dalam hadits berikut,

“Masa kenabian akan tetap ada di tengah-tengah masyarakat kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Kemudian akan ada masa khilfah rasyid (yang mendapat petunjuk) yang berjalan selaras dengan kenabian. khilafah itu akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Setelah itu akan ada (masanya) banyak pemimpin, dan itu akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Setelah itu akan ada pemerintahan tirani dan akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. kemudian akan muncullah khilafah rasyid yang berjalan selaras dengan kenabian.” Kemudian beliau terdiam. (musnad Imam Ahmad [v/273])

Diamnya Rasulullah ini menandakan berakhir sudah masa-masa pemerintahan di bumi, dan setelah itu kita akan dihadapkan mada akhir zaman, kiamat. kita saat ini sudah berada pada tahapan ke 4, yakni pada masa pemerintahan tirani (atau ada yang menyebutnya “masa pemerintahan yang menggigit”). Maka akhir dari masa ini adalah, kembali tegaknya khilafah rasyid yang berjalan selaras dengan kenabian. sesuai dengan janji Allah bahwa pada akhir zaman, umat Islam akan bangkit kembali. 

Kemudian, apakah benar khilafah hanya eksis selama 30 tahun?

Tidak diragukan lagi bahwa Negara Islam yang didirikan oleh Rasulullah saw di Madinah terus hidup hingga kehancurannya di tangan Mustafa Kamal Atatur pada 3 maret 1924. Kelangsungan sistem pemerintahan islam, yakni sistem khilafah, sejak masa khulafaur Rasyidin dibuktikan oleh kenyataan dan naskah-naskah sejarah. Dalam konteks sejarah, kita harus mengingat struktur dalam sistem pemerintahan agar kita dapat mengkaji dengan baik apakah negara itu memang ada atau tidak. Struktur tersebut didasarkan pada beberapa pilar, yakni Khalifah -sebagai kepala negara, para pembantu Khalifah (Mu’awin Tafwidl), para pelaksana tugas dari khalifah (mu’awin tanfidz), amir jihad, para gubernur (wulat), para hakim (Qadhi), departemen-departemen negara, dan majelis negara (majelis al-ummah). Bila kita menjalankan kajian sejarah, maka dapat kita lihat bahwa seluruh lembaga, kecuali syura, tetap ada selama berabad-abad hingga kehancurannya pada tahun 1924. Ketidakadaan atau ketidakberdayaan lembaga syura pasca masa khulafaur rasyidin tidak berarti bahwa sisstem pemerintahan berubah, karena pemerintahan tetap dapat terlaksana tanpa adanya lembaga syura, walaupun mendirikan lembaga tersebut adlaah hal setiap muslim. Selama beberapa periode dalam sejarah dimana tidak ada khalifah karena terjadinya perang saudara atau pendudukan oleh tentara asing, negara khilafah tetap ada, karena struktur lainnya tetap ada. 

Mengenai pandangan bahwa telah berlangsung sistem monarki (kerajaan), memang benar bahwa bai’at sebagai proses dalam pengangkatan khilafah telah disalahgunakan, namul hal tersebut tidak pernah mempengaruhi kelangsungan negara khilafah. Hal ini karena sekalipun seorang khalifah meminta rakyat untuk membai’at puteranya sebelum ia mangkat, proses bai’at itu sediri tetap ada dan berlangsung. Bai’at ini biasanya diberikan oleh kalangan berpengaruh atau perwakilan rakyat (ahlul halli wal ‘aqdi), atau sebagaimana kita saksikan pada masa selanjutnya, dilakukan oleh syaikhul islam. 

Jumhur ulama tetap sepakat bahwa khilafah tetap berdiri setelah berlalunya era khulafaur rasyidin, walau beberapa kalangan dari golongan salafi tidak mengakui diberikannya gelar khalifah kepada para penguasa berikutnya, karena hadits berikut yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang menerima dari Safinah, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Khilafah di tengah kaumku setelah aku akan berlangsung selama 30 tahun. kemudian akan ada mulkan aduudan (penguasa monarki) setelahnya”.

[Narasi yang sama dapat ditemukan dalam Sunnah Abu Dawud 92/264) dan Musnad Ahmad (1/169)]

Menurut tafisran jumhur ulama, hadits ini tidak berarti bahwa negara khilafah langsung lenyap setelah 30 tahun, karena hal itu berarti bertentangan dengan nash lainnya.

Jabir bin Samurah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Islam akan tetap ada hingga hari akhir terjadi atau saat kalian telah diperintah oleh dua belas khalifah, mereka semua dari golongan Quraisy”. [Shahih Muslim]

Hadits ini mengindikasikan bahwa umat tidak akan hanya memiliki empat atau lima khalifah, ini berarti khilafah tidak hanya akan berlangsung selama 30 tahun. sehubungan dengan hadits ini, Qadhi Iyad berkata:

‘…Dijelaskan dalam hadits lainnya, ‘khilafah setelahku akan berlangsung selama 30 tahun, kemudian akan ada penguasa monarki’ hadits ini tentu bertentangan dengan hadits yang menyebut ada dua belas khalifah, karena dalam masa 30 tahun hanya ada khulafaur rasyidin dan beberapa bulan saat bai’at diberikan kepada Hasan bin Ali. Jawabannya ialah: apa yang dimaksud dengan ‘khilafah akan berlangsung selama 30 tahun’ adalah khilafah nubuwwah (khilafah yang berlandaskan kenabian…)’ [sebagaimana dikutip oleh An-Nawawi dalam syarah Shahih Muslim, 1821]

Sementara dalam hal rujukan pada dua belas khalifah yang dimaksud, tidak berarti bahwa khalifah hanya terbatas pada dua belas orang, sebagaimana dijelaskan oleh Qadhi ‘Iyad:

‘Mungkin apa yang dimaksud dengan dua belas khalifah dalam hadits ini dan hadits lain yang sejenis ialah bahwa mereka adalah para khalifah pada masa terkuat khilafah, kekuasaan islam, saat segala urusan di jalankan dengan benar dan rakyat bersatu di bawah mereka yang menduduki jabatan khalifah.’ [Tarikh al Khulafa, karya Imam As Suyuthi, p. 14]

Ibnu hajar dalam syarah al-Bukhari berkata:
‘Apa yang dikatakan oleh Qadhi Iyad merupakan pendapat terbaik diantara pendapat lain yang mengomentari hadits yang sama. saya kira inilah pendapat terkuat karena didukung oleh sabda nabi saw melalui sanad yang jelas: ‘Dan umat akan bersatu di bawah mereka…’ (fathul Baari).

Kemudian ibnu hajar memberikan sebuah perhitungan historis tentang bagaimana umat berkumpul dan bersatu di bawah para khalifah setelah berlalunya era khulafaur rasyidin. ia mengemukakan bagaimana kecintaan umat terhadap khalifah umar bin abdul aziz, dan ia bahkan mengatakan, ‘khulafa bani abbas’, yakni maksudnya para khalifah dari golongan abbasiyah.

Jadi, bukankah kembalinya khilafah itu memang terasa dekat bukan?

Referensi :

Awas Serangan Ransomware! Jaga PC Anda Mulai dari Sekarang

Awas Serangan Ransomware! Jaga PC Anda Mulai dari Sekarang

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Pict : kumparan)


Seperti yang diberitakan di beberapa media baik di dalam ataupun luar negeri, telah terjadi fenomena serangan siber di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan menyampaikan serangan siber ini bersifat tersebar dan masif serta menyerang critical resource (sumber daya sangat penting), maka serangan ini bisa dikategorikan teroris siber.

Di Indonesia, berdasarkan laporan yang diterima oleh Kominfo, serangan ditujukan ke Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais.

“Dengan adanya serangan siber ini kami minta agar masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kehati hatian dalam berinteraksi di dunia siber,” kata Semuel melalui siaran pers diterima di Jakarta, Sabtu (13/5/2017).

Dia menjelaskan serangan siber yang menyerang Indonesia berjenis ransomware.

Ransomware adalah sebuah jenis malicious software atau malware yang menyerang komputer korban dengan cara mengunci komputer korban atau mengenkripsi semua file yang ada sehingga tidak bisa diakses kembali.

Tahun ini sebuah jenis ransomware baru telah muncul dan diperkirakan bisa memakan banyak korban, yang bernama Wannacry.

Wannacry mengincar PC berbasis Windows yang memiliki kelemahan terkait fungsi SMB yang dijalankan di komputer tersebut. Saat ini, diduga serangan Wannacry sudah memakan banyak korban ke berbagai negara.

Oleh karena itu penting untuk melakukan serangkaian tindakan pencegahan dan juga penanganan apabila terjadi insiden.

Infeksi dan Penyebaran

Wannacry menginfeksi sebuah komputer dengan mengenkripsi seluruh file yang ada di komputer tersebut dan dengan menggunakan kelemahan yang ada pada layanan SMB bisa melakukan eksekusi perintah lalu menyebar ke komputer Windows lain pada jaringan yang sama.

Semua komputer yang tersambung ke internet yang masih memiliki kelemahan ini apalagi komputer yang berada pada jaringan yang sama memiliki potensi terinfeksi terhadap ancaman Wannacry.

Setiap komputer Windows yang sudah terinfeksi akan mendapatkan tampilan seperti gambar dibawah ini:

Pict : beritasatu


Dari tampilan diketahui bahwa Wannacry meminta ransom atau dana tebusan agar file-file yang dibajak dengan enkripsi bisa dikembalikan dalam keadaan normal lagi.

Dana tembusan yang diminta adalah dengan pembayaran bitcoin yang setara dgn US$300. Wannacry memberikan alamat bitcoin untuk pembayarannya. Di samping itu juga memberikan deadline waktu terakhir pembayaran dan waktu dimana denda tebusan bisa naik jika belum dibayar juga.

Selain itu, jangan mengaktifkan fungsi macros, non aktifkan fungsi SMB v1, block 139/445 & 3389 Ports dan selalu backup file-file penting di komputer Anda di simpan ditempat lain.

Saat ini, belum ada solusi yang paling cepat dan jitu untuk mengembalikan file file yang sudah terinfeksi Wannacry.

Akan tetapi memutuskan sambungan internet dari komputer yang terinfeksi akan menghentikan penyebaran Wannacry ke komputer lain yang rentan vulnerable.

Sebagai tambahan yang sangat penting, ID-SIRTII menghimbau agar pada hari Senin besok dan kantor akan buka, mohon diwaspadai ancaman ini dan melakukan hal-hal seperti PC-PC dan bentuk komputer personal dan jaringan lainnya jangan terhubung ke LAN dan internet dulu,

Kemudian, terlebih dahulu lakukan backup data penting, pastikan software antivirus sudah update serta security patch yang disarankan oleh Microsoft dilakukan terlebih dahulu.

Pict : kumparan


Menurut perusahaan pelacak transaksi finansial online, Elliptic, sejauh ini telah masuk dana 33 ribu dolar AS atau lebih dari Rp 400 juta ke dalam beberapa rekening Bitcoin para hacker penyebar ransomware.

Sumber lain mengatakan, sudah sekitar 100 korban yang membayar tebusan tersebut.

Dikutip dari The New York Times, Elliptic memprediksi jumlah ini akan terus bertambah jika mendekati tenggat waktu pembayaran. Para korban, kata pernyataan Elliptic, berpotensi merogoh kocek setelah mendengar laporan korban lainnya bahwa data mereka kembali setelah membayarkan tebusan.
Namun Becky Pinkard ahli dari perusahaan keamanan siber Digital Shadows mengatakan tidak ada jaminan data-data akan pulih jika tebusan dibayarkan.
Dari kejadian serupa di tahun 2012, hanya ada tiga persen yang benar-benar membayar tebusan dalam serangan ransomware. Namun seiring waktu, pembayaran mencapai 50 persen.
K

Referensi :

 

Pembubaran HTI Dinilai Politik dan By Order

Pembubaran HTI Dinilai Politik dan By Order

Advokat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI, Kapitra Ampera, mengatakan bahwa pernyataan sikap Menkopolhukam mewakili pemerintah yang akan membubarkan dan melarang Organisasi Masyarakat Hizbut Tahrir Indonesia, hanyalah statement politik belaka.

“Jadi ini statemen politik dari Menkopolhukam, karena Mentri yang mengatur bidang politik tentunya mengeluarkan statemen politik, tapi secara de jure, HTI masih eksis, belum dibubarkan. Ini baru statemen politik,” ungkapnya pada Kiblat,net di Jakarta, Rabu (10/05).

Pernyataan yang keluar dari mulut Wiranto ini disebutnya merupakan order dari orang yang berada di balik Wiranto. Hanya saja, ia tidak menjelaskan siapa yang dimaksudnya.

“Kita dapati sekarang, bahwa umat Islam itu selalu tersudut dan memang disudutkan, jadi apa yang dikerjakan umat Islam ini selalu salah dan selalu dicari kesalahan-kesalahannya,” ungkapnya.

Karenanya, ia menganalogikan umat Islam Indonesia sekarang ini seperti orang yang menumpang di republik ini, bukan termasuk salah satu pendiri dan pemilik republik Indonesia ini.

“Ummat Islam ini seolah menumpang di republik ini, sehingga dia ini bukan pemilik republik ini, tapi penumpang, jadi kalau bisa mereka ini harus di aliniasi,” tukasnya.

Salah satu tokoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Felix Siauw angkat bicara usai dibubarkannya organisasi masyarakat tersebut. Dia terlihat keberatan dengan keputusan yang disampaikan Menko Polhukam Wiranto itu.

Lewat beberapa kultwit di akun Twitter miliknya, Felix Siauw mempertanyakan sikap pemerintah. Di sana dia juga menyinggung soal khilafah, sistem negara Islam yang kerap disampaikannya.

“Khilafah itu bagian dari ajaran Islam yang tak mungkin dihapus | dan dakwah takkan terhenti hanya oleh satu-dua rezim yang anti-Islam,” tulis Felix Siauw mengawali kultwitnya di akun @felixsiauw, Senin (8/5/2017).

Pada lanjutannya, pendakwah berusia 33 tahun itu mengecam sikap pemerintah yang dinilai justru memberangus ormas Islam. Salah satunya yakni HTI. Namun di lain sisi, Felix Siauw menilai pemerintah malah berpihak pada penista agama.

“Terhadap penista agama yang jelas menimbulkan keresahan, penguasa diam, malah berpihak | urusan ormas Islam? lekas sekali geraknya, ada apa?,” ucap Felix Siauw.

“Aksi #BelaIslam dituduh makar, ulama dikriminalisasi, kelompok Islam diberangus, taat agama dikataakan anti-kebhinekaan, besok apalagi?,” sambungnya.

Sekali lagi, pada cuitannya Felix Siauw kembali menyinggung soal ide khilafah. Dia mengungkapkan bahwa sistem tersebut adalah bagian ajaran Islam. Sehingga dirinya mempertanyakan kenapa rezim pemerintah merasa terancam.

“Ummat harus memahami, ada apa dengan ide Khilafah yang bagian ajaran Islam ini, hingga rezim dzalim ini merasa terancam karenanya?,” ujarnya.

“Syiah dibiarkan, penista agama melenggang ikut pilkada, sidang berkali-kali | giliran ormas Islam buru-buru wacana dibubarkan, #TanyaKenapa,” lanjut Felix Siauw. 

Kultwit pasca pembubaran HTI itu ditutup Felix Siauw dengan pernyataan sikapnya. Dia mengaku bakal terus berdakwah.

“Apapun halnya dakwah tetap jalan, sebab Allah yang perintahkan bukan manusia, karenanya tak satupun manusia yang dapat menhentikannya,” tutupnya.

Sekadar informasi, Felix Siauw yang mendukung HTI, kerap menyuarakan terbentuknya khilafah di Tanah Air. Hal itu sempat menuai kecaman dari berbagai pihak. Bahkan acara ceramahnya beberapa waktu lalu di Malang ditolak oleh GP Ansor NU Kota Malang.

Sikap HTI yang kerap menyuarakan terbentuknya khilafah itulah yang membuat ormas tersebut dinilai anti-Pancasila. Alasan itu juga yang membuat Menko Polhukam Wiranto dengan tegas memutusakan untuk membubarkan ormas HTI. Keputusan itu diambil pasca rapat koordinasi terbatas bersama Menkumham Yasonna H. Laoly, Mendagri Tjahjo Kumolo, dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavia di kantor Kemenko Polhukam.

Menurut Wiranto, HTI tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional. “Kegiatan yang dilaksanakan HTI terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, azas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945,” kata Wiranto tegas.

Pembubaran HTI dan Kebebasan Berserikat

Eryanto Nugroho. Foto: PSHK


Pernyataan bahwa “… pemerintah perlu mengambil langkah–langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI” sempat ditafsirkan banyak pihak bahwa pemerintah telah melakukan pembubaran sepihak tanpa lewat jalan pengadilan. Untungnya hal itu kemudian segera diluruskan, bahwa pembubaran HTI akan dilakukan melalui proses peradilan.
 
Beragam reaksi pro dan kontra terhadap langkah pemerintah ini sangatlah bisa dimengerti. Bagi pihak yang mendukung, langkah tersebut seakan merupakan jawaban atas ketidakjelasan dan ketidaktegasan sikap pemerintah selama ini. Bagi pihak yang kontra, langkah ini menjadi tambahan alasan untuk makin waspada setelah melihat fenomena menyempitnya ruang kebebasan belakangan ini.
 
Langkah pembubaran organisasi juga kerap diragukan efektivitasnya. Organisasi yang dibubarkan dianggap bisa saja lantas mendirikan organisasi baru dengan nama baru. Namun bagi yang mendukung, langkah pembubaran dipandang sebagai suatu gesture politik yang tegas dan diperlukan.
 
Satu hal yang jelas adalah bahwa proses pembubaran organisasi kemasyarakatan (Ormas) tidaklah semudah seperti di masa lalu. Undang-Undang No.17 Tahun 2013 Tentang Ormas mengatur beberapa tahapan yang harus dilalui (peringatan tertulis, penghentian bantuan, dan/atau penghentian sementara kegiatan), dan untuk Ormas yang berbadan hukum langkah pembubaran akan ditentukan ujungnya di ruang pengadilan.
 
Tahapan dan jalur pengadilan ini penting untuk melindungi dari kesewenang-wenangan penguasa dan menjaga kebebasan berserikat. Ironisnya, hal inilah yang “dikeluhkan” Wiranto beberapa hari sebelum konferensi pers mengenai rencana pembubaran HTI. Wiranto menyatakan bahwa hukum di era reformasi lebih lemah dibanding di era orde baru.

Jalan Pengadilan

Langkah pemerintah untuk mengambil jalan permohonan pembubaran melalui pengadilan merupakan langkah yang lebih baik, jika dibandingkan dengan proses pembubaran organisasi ataupun partai politik secara sepihak yang pernah dilakukan di masa lalu.
 
Namun kritik juga perlu diberikan dalam rangka mempertanyakan proporsionalitas dan efektivitas pilihan langkah pembubaran ini. Pemerintah seperti langsung melompat kepada langkah pembubaran, tanpa menunjukkan upaya pra kondisi yang memadai sebelum mengambil langkah pembubaran. Tanpa melalui tahapan sanksi administratif (peringatan tertulis, penghentian bantuan, dan/atau penghentian sementara kegiatan) maka dapat dipastikan permohonan pembubaran tidak akan diterima oleh Pengadilan (Pasal 70 ayat (4) UU Ormas).
 
Dari segi pilihan langkah pemerintah menuju pelarangan ataupun pembubaran, “nasib” HTI lebih baik daripada Pelajar Islam Indonesia (PII) ataupun Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) di era Orde Baru. Pada 10 Desember 1987, PII dan GPM tidak diakui keberadaannya dan kegiatannya dilarang karena dianggap tidak menyesuaikan dengan UU Ormas 1985 dengan tidak menyantumkan asas Pancasila. Keputusan itu tertuang dalam SK Mendagri Nomor 120 dan 121 Tahun 1987, yang ditandatangani Mendagri saat itu Soepardjo Rustam. Keputusan itu tentunya bersifat sepihak, di mana PII dan GPM tidak punya kesempatan untuk membela diri organisasinya.
 
Hal yang berbeda akan dijalani oleh HTI di era reformasi ini. Bila nanti pemerintah melalui kejaksaan jadi mengajukan permohonan pembubaran ke pengadilan, HTI akan diberi hak untuk membela diri dengan memberikan keterangan dan bukti di persidangan (Pasal 70 ayat (7) UU Ormas).

Mengadili Perbuatan

Kebebasan berserikat dijamin dalam Pasal 28 dan 28E ayat (3) UUD 1945 dan merupakan hak yang dapat dibatasi (derogable right). Persidangan pembubaran HTI akan menjadi suatu ajang tarik menarik dan adu argumentasi, sejauh mana hak kebebasan berserikat itu perlu diberikan dan perlu dibatasi.


 
Organisasi Hizb ut-Tahrir telah banyak dilarang di berbagai negara di dunia. Tentu pemerintah, dalam hal ini khususnya kejaksaan, perlu mempelajari berbagai perdebatan dan argumentasi yang berkembang sebelum mengajukan permohonan pembubaran ke pengadilan nanti. Pemerintah juga perlu ingat bahwa Indonesia telah meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), di mana telah diberikan ukuran dalam hal apa saja pembatasan hak kebebasan berserikat ini diperkenankan.
 
Pasal 22 ICCPR menyebutkan bahwa pembatasan atas hak kebebasan berserikat hanya boleh dilakukan sepanjang hal itu diatur undang-undang (prescribed by law), memenuhi satu dari empat kepentingan negara (legitimate state interests: a) national security, b) public safety, c) public order, dan d) the protection of public health or morals or the protection of the rights and freedoms of others), dan diperlukan dalam masyarakat yang demokratis (necessary in a democratic society).
 
Belum jelas alasan hukum apa yang akan dijadikan sebagai dasar permohonan pembubaran. Dari materi konferensi pers Menko Polhukam ada tiga poin yang tampaknya menjadi pertimbangan alasan rencana membubarkan HTI: Pertama, HTI tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional. Kedua, kegiatan yang dilaksanakan HTI terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, azas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana diatur dalam UU Ormas. Ketiga, aktivitas yang dilakukan nyata-nyata telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
Pemerintah harus membuktikan bahwa HTI telah melanggar sederetan larangan yang diatur dalam UU Ormas. Beberapa larangan yang tercantum dalam Pasal 59 UU Ormas antara lain adalah: larangan menggunakan nama, lambang, bendera, atau simbol organisasi yang mempunyai persamaan dengan organisasi gerakan separatis atau organisasi terlarang; melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan; melakukan kegiatan separatis yang mengancam kedaulatan NKRI; melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; atau menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila.
 
Kita tentu berharap akan terjadi perdebatan, pertimbangan, dan argumentasi yang mendalam dalam persidangan pembubaran ini bila nanti terjadi. Kita juga berharap pengadilan akan bekerja independen dalam memeriksa dan memutus layak atau tidaknya HTI dibubarkan. Peran pengadilan bukan untuk mengadili seberapa Pancasilais organisasi HTI, tapi membuktikan perbuatan apa yang dilakukan HTI sehingga perlu untuk dibubarkan. Penting untuk mengadili perbuatan, bukan mengadili gagasan atau pikiran.

Referensi

Hati-Hati Jebakaan RAND Corporation bagi Umat Islam

Hati-Hati Jebakaan RAND Corporation bagi Umat Islam

Maraknya pelarangan pengajian dan kriminalisasi ulama akhir-akhir ini membuat miris Umat Islam. Umat yang mayoritas di Indonesia justru menjadi bulan-bulanan di negeri sendiri.

Ketua Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI), Muhammad Hariadi Nasution, menyampaikan rasa prihatinnya dengan kondisi tersebut.

Hak Asasi Manusia (HAM) yang dielu-elukan tidak juga menjamin kebebasan seolah tak berlaku bagi umat Islam. Pria yang akrab disapa Ombat itu menyebut bahwa cara-cara licik ini bagian dari RAND Corporation, sebuah lembaga think-tank Amerika Serikat untuk menciptakan desain konspirasi peperangan melawan Islam.

Berikut beberapa pembubaran pengajian yang pada baru-baru ini terjadi :

Pembubaran Pengajian Ustadz Khalid Basalamah

Keadaan memanas ketika puluhan anggota GP Ansor meminta tabligh akbar di sebuah masjid di Sidoarjo, Jawa Timur, yang diisi ustaz Khalid Basalamah dihentikan. Peristiwa itu sempat memicu ketegangan, hingga akhirnya Khalid memutuskan untuk mengalah dan menghentikan ceramahnya.
Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (4/3) di Masjid Shalahuddin, perumahan Puri Surya Jaya, Gedangan, Sidoarjo, tempat diselenggarakannya tabligh akbar bertema “Manajemen Rumah Tangga” yang dihadiri ratusan orang. Saat Khalid tengah menyampaikan kajian soal rumah tangga Rasulullah, puluhan pemuda GP Ansor datang.
Dalam berbagai video yang ramai dibagikan dari Youtube, mereka berteriak, menyanyikan yel-yel dan menyenandungkan shalawat. Aparat yang berjaga langsung sigap mengamankan situasi, pasalnya banyak jemaah tabligh akbar yang berada di luar, termasuk wanita dan anak-anak.
Menurut laporan kepolisian, insiden ini terjadi pada Sabtu lalu sekitar pukul 08.45 pagi. Sekitar 60 anggota Banser dan GP Ansor Gedangan yang datang menolak pengajian tersebut dengan alasan ceramah yang disampaikan Khalid sering bernada provokatif dan menimbulkan kebencian.
“Isi ceramahnya tidak sesuai dengan tradisi, adat istiadat atau budaya di negara kita,” ujar laporan kepolisian saat memaparkan alasan penolakan pengajian ustaz Khalid.
Akibat kegaduhan di luar, dan sempat terjadi aksi saling dorong antara polisi dan anggota Banser yang mencoba masuk halaman masjid, Khalid Basalamah memutuskan untuk menghentikan pengajiannya yang baru berlangsung selama 25 menit.
“Kita berhenti dulu sampai di sini. Kondisinya ada beberapa saudara kita Muslim yang tidak setuju dengan pengajian ini,” kata ustaz kelahiran tahun 1975 ini.
Usai menyampaikan kalimat itu, jemaah ricuh. Khalid menenangkan mereka.
“Ini bukan harus ribut-ributan, saya tidak minta itu,” ujar Khalid.
Khalid, menurut laporan kepolisian, diamankan menggunakan mobil Polres menuju Polda Jatim untuk menghindari gesekan. Keluar dari masjid, jemaah membentuk barikade untuk melindungi Khalid Basalamah.

Pembubaran Pengajian Ustadz Felix Siauw

Kajian ustadz Felix Siuaw dibubarkan paksa karena ada sebagain pihak yang tidak suka terhadap kajian ustadz Felix, padahal tema yang diangkat adalah tentang kaijan remaja yang hari ini semakin rusak dengan zina dan pergaulan bebas, Malang, Ahad (30/4/17).
Tetapi sejumlah oknum tetap membubarkan paksa, dan aparat malah terlihat mendukung upaya pembubaran kegiatan tersebut. Bahkan MC sekalipun tidak diberi waktu untuk menutup acara dengan doa. Semua peserta diusir keluar ruangan. Sampai saat ini belum jelas keterangan kenapa acara itu mesti dibubarkan.
Berikut tulis Aryo Jogja melalui akun facebooknya:
indonesiabertauhid.
 
Innalillahi wa innaa ilaihi rooji’un, Polisi membubarkan acara Ustadz @felixsiauw di Malang.
 
Sejumlah oknum sekuler radikal tidak terima ustadz Ustadz Felix Siauw mengisi acara yg sedianya dilaksanakan pagi tadi, Ahad, 30 April 2017.
 
Padahal tema yang dibawakan ustadz keturunan Tiongkok ini terkait dengan pergaulan remaja, yang hari ini semakin rusak dengan zina dan pergaulan bebas.
 
Tetapi sejumlah oknum tetap membubarkan paksa, dan aparat malah terlihat mendukung upaya pembubaran kegiatan tersebut. Bahkan MC sekalipun tidak diberi waktu untuk menutup acara dengan doa. Semua peserta diusir keluar ruangan.
 
Sampai saat ini belum jelas keterangan kenapa acara itu mesti dibubarkan. Apakah karena acara dakwah ini tidak mengundang DJ dan penyanyi kpop ibukota? #Note: Semakin jelas permusuhan orang-orang kafir dan kaum munafik terhadap dakwah Islam yang lurus.

Pembubaran Paksa Kajian Umat Islam di Magelang

Kajian Silaturrohmi Selapanan Forum Aliansi Umat Islam Bersatu (FAUIB) Magelang yang direncanakan digelar Kamis (04/05) jam 13:00 di Ponpes Hidayatus Sibyan, Tanggul Rejo, Tempuran, Magelang, dibubarkan aparat Kepolisian.

Jalan menuju lokasi acara Kajian diblokir aparat Kepolisian, sehingga kajian batal digelar. Tak hanya itu, sikap arogansi aparat ditunjukkan Kapolsek Tempuran, AKBP Sonny Mahar, BA, saat beraudiensi di Balai Desa Tanggul Rejo bersama Ustadz Rofi’i, selaku pembicara kajian dan Ustadz Sugiarto, ketua Front Pembela Islam (FPI) Magelang.

Aparat beralasan bahwa dibubarkannya kajian untuk melindungi yang lebih besar.

“Kami mencegah adanya konflik horizontal antara jenengan dengan siapa-siapa, itu aja pak. Kami tidak ada motivasi apa-apa njih, saya hanya menegakkan dari pimpinan saya bahwa kegiatan itu ditolak. Atas nama Undang-undang kegiatan ini dihentikan titik,” kata Sonny.

Menanggapi permintaan Kapolsek Tempuran, Sugiarto akan melakukan langkah hukum adanya pelarangan kajian tersebut.

Berdasarkan pernyataan Kapolsek atas perintah Kapolres Magelang, dia akan melaporkan ke Komnas HAM dan DPR RI.

“Kapolsek menyatakan ini ditolak, Kepolisian Kapolres dan Kapolsek melarang kegiatan ini. Ok, ini lowyer kami, kami akan mengajukan upaya hukum,” ujar Sugiarto.

Sementara itu, Anang Imamudin, ketua FAUIB Magelang, mengatasnamakan ormas dan laskar Islam se Jateng-DIY mengaku kecewa dengan sikap aparat Kepolisian. Dia tak habis pikir mengapa kajian dan aksi sosial bisa dilarang pihak aparat.

“Kami sangat kecewa dan protes keras kepada pihak-pihak, terutama Polisi yang menghalang-halangi dan menghadang kami yang akan melakukan pengajian menjelang Ramadhan. Selain itu kami hanya akan memberikan santunan anak yatim dan penggalangan amal untuk bencana grabag Magelang, apa salahnya?,” kata Anang lewat pesan singkat pada Panjimas, Kamis (4/5/2017).

Lebih lanjut, Tim Advokasi Muslim yang mendatangi Polres Magelang akan mengadukan ke Komnas HAM dan DPR RI terkait arogansi Aparat Kepolisian tersebut. Mereka berharap Kapolres Magelang dan Kapolsek Tempuran dicopot.

“Kita bersama Ormas lain akan mengadukan Kapolres Magelang dan Kapolsek Tempuran ke Komnas HAM dan ke komisi III DPR RI karena tindakan aparat yang sudah over acting terhadap umat Islam. Dan Teman-teman mendesak untuk dicopot,” tandasnya. 

“Umat Islam sebetulnya paham sudah masuk agenda global yang tertuang dalam strategi RAND Corporation. Umat Islam ini akan dibenturkan. Sebagaimana kasus Ustadz Shabri dan ulama lainnya, ingin mensinyalkan bahwa kearifan lokal itu menolak Islam radikal. Seakan-akan diciptakan seperti itu,” katanya pada Panjimas.com, Sabtu (6/5/2017).

Ombat menjelaskan bahwa RAND Corporation memiliki agenda mengenai perang melawan terorisme dengan mengubah strategi, dari kekuatan militer menjadi kebijakan dan kerja intelejen. Meski demikian, ia mengingatkan umat Islam masih memiliki Allah yang bisa membuat makar, jauh lebih baik itu.

“Agenda konflik globlal RAND Corporation ini lagi dijalankan. Kita umat Islam ini harus baca gerakan mereka, umat Islam bukan orang yang tolol. Dan kita percaya makar Allah lebih sempurna,” tandasnya.

Untuk itu, Ombat meminta umat Islam sadar bahwa kini tengah dibidik lewat strategi konspirasi RAND Corporation dalam agenda perang global. Dia berharap umat Islam tetap taat dan patuh pada arahan ulama.

“Awas umat Islam harus tahu, kita di PUSHAMI tahu akan hal itu, apalagi FPI yang ormasnya lebih besar pasti lebih tahu. Bahwa ini agenda orang kafir untuk memecah belah umat Islam,” tutupnya.

Ketika Para Ulama Dimusuhi (Sejarah Berulang Kembali)

Ketika Para Ulama Dimusuhi (Sejarah Berulang Kembali)

Suasana negara kita dewasa ini mirip dengan suasana sebelum meletusnya pemberontaskan PKI tanggal 30 september 1965. Beberapa tahun sebelum peristiwa penghianatan PKI itu para Ulama dan santri dimusuhi dianggap kontra revolusi. Banyak Ulama yang dijebloskan kedalam Penjara seperti Buya Hamka, KH Ghazali Sahlan, K.H. M. Isan Ashary, K.H. E.Z. Muttaqien, K.H. Sholeh Iskandar dll, suasana  seperti itu agaknya  kini mulai terasa muncul kembali.

Dukungan terhadap pasangan calon Ahok-Djarot di putaran kedua Pilgub DKI terus berdatangan. Kali ini datang dari sejumlah orang menga‎tasnamakan Forum Ustadz Kampung dan Pemuda Muslim Pro NKRI (FUPM).

‎Mereka mengenakan pakaian khas ulama dan kyai, diantaranya dengan ikat kepala dan lilitan surban di pundaknya. ‎Disela-sela acara, mereka sesekali juga meneriakkan takbir.

‎”Kami memutuskan mendukung Ahok-Djarot karena manfaatnya sudah kami rasakan,” kata Koordinator FUPM ustadz Rijal Maulana di Subang, Jakarta Pusat, Jumat (17/3/2017).

Dijelaskan Rijal, ‎selama Ahok berkuasa sejumlah perbaikan sudah dilakukan. Diantaranya soal pendidikan dan kesehatan.

“Alhamdulilllah, melalui KJP dan KJS pendidikan dan kesehatan anak-anak di Jakarta kini sudah terjamin,” katanya.‎

‎Selain itu, lanjut Rijal, Ahok juga terbukti peduli dengan menaikkan gaji para marbot dan obe penjaga masjid di DKI Jakarta.

‎”Pak Ahok menaikkan gaji OB (office boy) dan marbot yang tadinya hanya Rp 600 ribu menjadi Rp 3 juta,” cetusnya.

Ulama-ulama mulai dibidik, dikriminalisasi…., sejarah kembali berulang seperti dulu Buya Hamka juga dikriminalisasi sampai dijebloskan ke penjara oleh rezim Soekarno.

Tapi sejarah selalu menyuguhkan ending yang indah bagi mereka yang teguh di jalan Allah.

Sebagaimana janji Allah (dan Allah tidak pernah menyalahi janjinya)…

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qashash: 83).

Ayat ini adalah diantara ayat-ayat akhir surat Al-Qashah (Kisah-kisah) yang menuturkan sejarah perjuangan para Nabi.

Ulama adalah pewaris Nabi, dan Nabi mewarisi jalan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang banyak rintangan. Namun ujungnya adalah kemenangan.

Sepenggal Sejarah….

Presiden pertama, founding father-nya negara inipun pernah menyerang seorang ulama besar.

Dianggap melawan pemerintah (yang menurut saya sebenarnya pemerintah waktu itu tak ingin mendapat kritikan yang cerdas), M. Yamin dan Soekarno berkolaborasi menjatuhkan wibawa Buya Hamka melalui headline beberapa media cetak yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.

Berbulan-bulan Pramoedya menyerang Buya Hamka secara bertubi-tubi melalui tulisan di koran (media yang paling tren saat itu), Allahuakbar! sedikitpun Buya Hamka tak gentar, fokus Buya tak teralihkan, beliau terlalu mencintai Allah dan saudara muslimya, sehingga serangan yang mencoba untuk menyudutkan dirinya tak beliau hiraukan, Buya Hamka yakin jika kita menolong agama Allah, maka Allah pasti menolong kita. Pasti!

Oh! Buya Hamka terlalu kuat dan tak bisa dijatuhkan dengan serangan pembunuhan karakter melalui media cetak yang diasuh oleh Pram, tak sungkan-sungkan lagi, Soekarno langsung menjebloskan ulama besar tersebut ke penjara tanpa melewati persidangan.

Seperti doa nabi Yusuf as. ketika dipenjara: Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf, 33)

Yah! Saat itu penjara jauh lebih baik bagi Buya Hamka, jauh lebih baik daripada menyerahkan kepatuhannya terhadap Allah kepada orang-orang yang hanya mengejar dunia.

2 tahun 4 bulan di dalam penjara tak beliau sia-siakan dengan bersedih, malah Buya Hamka bersyukur telah dipenjara oleh penguasa pada masa itu, karena di dalam penjara tersebut beliau memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan cita-citanya, merampungkan tafsir Al-Qur’an 30 juz, yang sekarang lebih kita kenal dengan nama kitab Tafsir Al-Azhar.

Lalu bagaimana dengan ketiga tokoh tadi?

Ternyata Allah masih sayang kepada Pramoedya, M. Yamin dan Soekarno. Karena apa yang telah dilakukan oleh ketiga tokoh bangsa tersebut terhadap Buya Hamka, tak harus diselesaikan di akhirat, Allah telah mengizinkan permasalahan tersebut untuk diselesaikan di dunia saja.

Di usia senjanya, Pramoedya akhirnya mengakui kesalahannya dimasa lalu dan dengan rendah hati bersedia “meminta maaf” kepada Buya Hamka, ya! Pramoedya mengirim putri sulungnya kepada Buya Hamka untuk belajar agama dan men-syahadat-kan calon menantunya.

Apakah Buya Hamka menolak? Tidak!

 

Dengan lapang dada Buya Hamka mau mengajarkan ilmu agama kepada anak beserta calon menantu Pramoedya, tanpa sedikitpun pernah mengungkit kesalahan yang pernah dilakukan oleh -salahsatu penulis terhebat yang pernah dimiliki indonesia- tersebut terhadap dirinya. Allahuakbar! Begitu pemaafnya Buya Hamka.

Ketika M. Yamin sakit keras dan merasa takkan lama lagi berada di dunia ini, beliau meminta orang terdekatnya untuk memanggilkan Buya Hamka. Saat Buya Hamka telah berada di sampingya, dengan kerendahan hati M. Yamin (memohon maaf dengan) meminta kepada Buya Hamka agar sudi mengantarkan jenazahnya untuk dikebumikan di kampung halaman yang telah lama tak dikunjungi Talawi, dan di kesempatan nafas terakhirnya M. Yamin minta agar Buya sendiri yang menuntunnya untuk mengucapkan kalimat-kalimat tauhid.

Apakah Buya Hamka menolak? Tidak! Buya Hamka menuluskan semua permintaan tersebut, Buya Hamka yang “menjaga” jenazah -tokoh pemersatu bangsa- tersebut sampai selesai dikebumikan dikampung halamannya sendiri.

Namun, lain hal dengan Soekarno, malah Buya Hamka sangat merindukan proklamator bangsa Indonesia tersebut, Buya Hamka ingin berterima kasih telah diberi “hadiah penjara” oleh Bung Karno, yang dengan hadiah tersebut Buya memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tafsir Al-Azharnya yang terkenal, dengan hadiah tersebut perjalanan ujian hidup Buya menjadi semakin berliku namun indah, Buya Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua.

Lalu kemana Soekarno? Kemana teman seperjuangannya dalam memerdekakan bangsa ini menghilang? Dalam hati Buya Hamka sangat rindu ingin bertemu lagi dengan -singa podium- tersebut. Tak ada marah, tak ada dendam, hanya satu kata “rindu”.

Hari itu 16 Juni 1970, ajudan presiden Soeharto, Mayjen Soeryo datang kerumah Buya Hamka, membawa secarik kertas, kertas yang tak biasa, kertas yang bertuliskan kalimat pendek namun membawa kebahagian yang besar ke dada sang ulama besar, pesan tersebut dari Soekarno, orang yang belakangan sangat beliau rindukan, dengan seksama Buya Hamka membaca pesan tersebut:

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Buya Hamka bertanya kepada sang ajudan “Dimana? Dimana beliau sekarang?” Dengan pelan dijawab oleh pengantar pesan “Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso.”

Mata sayu Buya Hamka mulai berkaca, kerinduan itu, rasa ingin bertemu itu, harus berhadapan dengan tubuh kaku, tak ada lagi pertemuan yang diharapkan, tak ada lagi cengkrama tawa dimasa tua yang dirindukan, hanya hamparan samudera maaf untuk saudaranya, mantan pemimpinnya, pemberian maaf karena telah mempenjarakan beliau serta untaian lembut doa dari hati yang ikhlas agar Bung Karno selamat di akhirat, hadiah khusus dari jiwa yang paling lembut sang ulama besar, Buya Hamka.

Dizaman sekarang, Mulai terasa sejarah itu kembali terulang, dimana para penguasa mulai berusaha menyudutkan para ulama, menyerang para ulama melalui media-media pendukung mereka, menebar kebencian kepada para ulama melalui penulis-penulis pendukung mereka.

Lalu ada yang berkata, “ulama sekarang tak sehebat Buya Hamka.” Tanya lagi hati kecil kita, apakah mereka yang tak hebat, ataukah kita yang ingin menolak pesan kebenaran itu sendiri.

Pertanyaannya: Di pihak siapa kita? apakah di pihak para penguasa yang jelas sedang memuaskan nafsu duniawi mereka?

Ataukah di pihak para ulama yang menyampaikan kebenaran karena Allah, Tuhannya, Tuhan kita semua?

Lalu Bagaimana dengan Kasus-Kasus ini?

Sekarang umat bertanya-tanya, demi tegaknya keadilan, kasus-kasus yang dulu sekarang apa kabarnya ya? Ini dulu deh yang mau ditanyakan:

Akankah para penguasa yang memfitnah para ulama saat ini, diberi kesempatan oleh Allah untuk meminta maaf sebelum ajal menjemput mereka? Semoga saja, semoga kesalahan mereka tak harus diselesaikan yaumul hisab. Aamiin ya Robbal’alamin.

Allah dengan jelas dan tegas, tak perlu lagi ditafsirkan, telah menyatakan jika seorang Muslim yang nyata-nyata mendukung pemimpin di luar Islam, maka dia sudah menjadi bagian dari kaum kafir, bukan lagi bagian dari umat Islam. Baca QS. Al-Maidah 51!

 

 

Rujukan :