Muhammadiyah Boikot Starbucks, Saham Starbucks Terguncang

Muhammadiyah Boikot Starbucks, Saham Starbucks Terguncang

Dumb Starbucks Coffee di Los Angeles. ©AFP PHOTO/Dan R. Krauss


Sejak 26 Juni 2015 CEO Starbucks, Howard Mark Schultz mendukung kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Ketika pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks, Schultz secara tegas mempersilakan para pemegang saham yang tidak setuju dengan pernikahan sejenis angkat kaki dari Starbucks.

Menyikapi hal tersebut, Ketua bidang ekonomi PP Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan sudah saatnya pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk mencabut ijin Starbucks di Indonesia. Karena Ideologi bisnis dan pandangan hidup yang Schultz kampanyekan jelas-jelas tidak sesuai dan sejalan dengan ideologi bangsa, yakni Pancasila.

“Kita sebagai bangsa, jelas-jelas tidak akan mau sikap dan karakter kita sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya rusak dan berantakan karena kehadiran mereka,” tegas Anwar melalui siaran pers tertulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (29/6).

Anwar juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mempertimbangkan langkah-langkah pemboikotan terhadap produk-produk Strabucks. Karena jika sikap dan pandangan hidup mereka tidak berubah, maka yang dipertaruhkan adalah jati diri Bangsa sendiri.

Anwar mengimbau masyarakat dan pemerintah dengan tegas melakukan langkah dan tindakan, demi menyelamatkan kepentingan bangsa dan negara Indonesia. “Kita tidak mau karena nila setitik rusak susu sebelanga,” kata dia.

Sebelumnya diberitakan, CEO Starbucks Howard Schultz mengatakan orang-orang yang hanya mendukung pernikahan beda jenis dan mengabaikan pernikahan sesama jenis tidak diperlukan di perusahan kedai kopi Starbucks.

Schultz yang dikenal sangat akomodatif terhadap komunitas LGBT menyatakan, siapapun yang menolak pernikahan sesama jenis ditempat lain. Sentimen tersebut juga kini diarahkan pada seluruh pemegang saham Strabucks.

Kelompok Melayu Pribumi Perkasa Malaysia mendesak umat Islam secara nasional untuk memboikot Starbucks atas dukungan eksekutif utama perusahaan itu kepada komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) empat tahun lalu. Desakan ini menyusul seruan serupa yang diutarakan kelompok Islam di Indoensia beberapa hari sebelumnya. 

“Perkasa mendesak umat Islam di Malaysia negara ini untuk memboikot Starbucks karena rantai kopi internasional yang berbasis di Amerika Serikat ini mendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis,” kata Kepala Biro Urusan Islam Perkasa Amini Amir Abdullah dalam sebuah pernyataan, dilansir dari The Malay Mail Online pada Senin (3/7). 

Amini mengatakan Perkasa juga mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kembali lisensi perdagangan yang diberikan kepada perusahaan yang mendukung perkawinan sesama jenis dan LGBT. Menurut dia, pernyataan tersebut berdasarkan laporan bahwa CEO Starbucks Howard Schultz mendukung pernikahan sesama jenis dan LGBT.

Tidak yakin dengan laporan mana yang dia maksudkan. Namun, Schultz yang sudah tidak menjabat sebagai CEO Starbucks sejak April 2017 pernah mengatakan kepada pemegang saham Starbucks yang anti-gay untuk menjual saham mereka kalau mereka menentang keragaman pada 2013. Kala itu, Schultz yang kini menjabat sebagai chairman Starbucks melontarkan tanggapan atas kritik terhadap perusahaan tersebut dalam referendum Washington yang mendukung pernikahan sejenis pada 2012.

Pernyataan Schultz pada empat tahun lalu terkait dukungan terhadap LGBT ini juga sempat dimunculkan oleh pendukung Presiden Donald Trump di Amerika Serikat awal tahun ini. Pada Januari tahun ini, Schultz mengeluarkan pernyataan kontroversial.

Dilansir CNBC pada 29 Januari 2017, Schultz menyatakan perusahaan yang dipimpinnya akan merekrut sebanyak mungkin pengungsi sebagai pegawai pada Januari tahun ini. Pernyataan itu sebagai bentuk dukungan Schultz dalam isu keberagaman.

Karena itu, Starbucks berupaya melawan perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump untuk melarang aktivitas bepergian ke AS bagi warga dari tujuh negara mayoritas Muslim. Pada 31 Januari 2017, Fox News melaporkan pendukung Trump menyatakan akan memboikot Starbucks menyusul rencana Schultz tersebut. 

Gerakan boikot Starbucks oleh Muhammadiyah menjadi sorotan internasional. Apalagi gerakan itu mendapat dukungan dari kelompok Muslim berpengaruh di Malaysia.  NBC News dalam artikelnya menulis judul, ‘Muslim Groups in Malaysia, Indonesia Boycott Starbucks Over LGBTQ Suppurt.’

NBC News yang mengutip kantor berita Reuters dalam paragraf pertamanya menggambarkan bagaimana, kelompok Muslim di Malaysia bergabung dengan organisasi konservatif Muslim di Indonesia (Muhammadiyah) memboikot Starbucks.  Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk protes atas sikap gerai kopi internasional itu mendukung hak-hak gay.

Media Amerika Serikat berbasis di Chicaco, Chicago Tribune juga menulis tentang gerakan boikot Starbucks ini. Chicaco menulis judul, ‘Malaysia, Indonesia Muslim groups Call for Starbucks Boycott.’

Chicaco Tribune yang mengutip Associated Press menggambarkan kelompok Perkasa didukung oleh garis kelas Islam dan nasionalisme.  Perkasa meminta 500 ribu anggotanya untuk menjauh dari gerai kopi Starbucks. Hal sama juga lebih dahulu dilakukan oleh Muhammadiyah yang memiliki 29 juta pengikut di Indonesia. 

Permintaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait pencabutan izin Coffe Shop Starbuck didukung DPR. Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Sodik Mujahid mengatakan, pernyataan CEO Strbucks, Howard Schultz sangat bertentangan dengan Pancasila. 

Sodik menyebut dukungan Schultz terkait gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat Indoensia.  

“Semua pihak harus berani melawan upaya apapun yang akan merusak dan menghancurkan nilai-nilai Pancasila,” ujar Sodik kepada JawaPos.com, Jumat (30/6). 

Apalagi para perusak nilai Pancasila yang datang dari luar, sambil mencari kehidupan di Indonesia seperti Starbucks. Sebab, mereka kata dia, sama saja dengan melakukan tindakan subversif.

“Dengan alasan dan argumen ini, kita jadi paham dan salut kepada PP Muhamadiyah yang meminta pemerintah mencabut izin usaha dan  mengajak boikot produk starbucks,” tegas Sodik.

Sodik menegaskan, pemerintah perlu mengingatkan kepada Starbucks bahwa izin usaha yang diberikan dengan salah satu catatan tidak melalukan kegiatan-kegiatan yamg melawan hukum, apalagi melawan norma dan dasar negara Indonesia. 

Pemerintah juga wajib menyampaikan dan mengingatkan bahwa dukungan kepada LGBT di Indonesia melawan dasar negara, UUD 1945 dan hukum di Indonesia.

Selanjutnya, pemerintah perlu meminta agar Starbucks silakan tetap berjalan dalam berusaha tapi segera menghentikan kegiatan yang melawan dasar negara, UUD 1945 dan hukum. 

“Jika mereka masih saja melawan hukum, maka bisa diberi sangsi sesuai aturan dan perjanjian,” imbuh legislator asal Jawa Barat itu.

Kepada masyarakat, Sodik mengatakan, perlunya melakukan tindakan peringatan kelada Starbucks. Akan tetapi dengan cara yang efektif dan legal, tidak berupa tindakan kekerasan.

“Boikot seperti yang dianjurkan PP Muhammadiyah adalah cara yang legal. Tidak berupa kekerasan akan tetapi efektif,” pungkas politikus Partai Gerindra itu.

Lebaran yang tampaknya membawa berkah bagi Bursa Efek Indonesia. Pada hari pertama perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia setelah libur Lebaran, Senin (03/7) IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mencatatkan rekor pada level 5.910. Sebanyak 181 saham mengalami kenaikan, sedangkan 167 saham turun, dan 95 saham tidak bergerak. Sementara sembilan dari 10 sektor mengalami penguatan.

Satu di antara saham yang turun tersebut adalah emiten berkode MAPB – PT MAP Boga Adiperkasa Tbk pemilik merk dagang kedai kopi Starbucks di Indonesia. Sejak 26 Juni 2015 CEO Starbucks Howard Mark Schultz mendukung kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Ketika pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks, Schultz secara tegas memersilakan para pemegang saham yang tidak setuju dengan pernikahan sejenis angkat kaki dari Starbucks.

Perlahan tapi pasti Saham PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) pada perdagangan 03 Juli 2017 cenderung bergerak di jalur merah. Pada saat pembukaan pagi saham MAPB sempat menguat ke level Rp 3.350 yang mejadi level pergerakan tertingginya. Namun seketika saham MAPB langsung anjlok ke level terendah Rp 2.740.

Aksi boikot yang diserukan oleh Muhammadiyah ini sontak mengejutkan banyak pihak, di mana Muhammadiyah cukup diperhitungkan seruan boikotnya. Ternyata nama besar Muhammadiyah masih “sakti”. Sementara pada Aksi Bela Islam yang lalu Muhammadiyah cukup cerdas dalam menjaga sikap terhadap seruan boikot sebagian umat Islam pada produk Sari Roti.

Kejadian kepleset lidah manajemen PT NIC,Tbk selaku produsen Sari Roti terhadap Aksi 212. Kejadian yang berdampak pada boikot produk ROTI ditarget pasar komunitas muslim. Salut dengan kebijakan Pimpinan Muhammadiyah berbagai tingkatan yang tidak terpancing mengeluarkan fatwa boikot atau fatwa mengharamkan Sari Roti. Sebuah sikap yang elegance, cermin ormas Islam berkemajuan.

Selanjutnya  segenap warga Muhammadiyah menanti kiprah Pimpinan Pusat dalam mengguncang bursa saham dengan aksi berkemajuan. Seruan boikot yang notabene sebagai sebuah reaksi atas sikap salah satu emiten di bursa saham demikian diperhatikan para pelaku pasar modal. Reaksi sebagai cermin dari sebuah sikap pasif atas perilaku pihak lain perlu diimbangi dengan suatu aksi yang mengandung sikap dan gerakan proaktif.

Dalam sebuah tausyiahnya Idul Fitri baru-baru ini Ajengan Haedar Nashir menyatakan bahwa kalau kita lemah, maka kita tidak akan memiliki sesuatu yang menjadi keunggulan dan kebanggaan, selamanya akan tertinggal dan menjadi objek penderita. “Semangat menggugat itu baik sebagai tanda kita memiliki militansi, namun semangat militan tersebut harus disertai dengan semangat dan kerja membangun agar ada hasilnya dan tidak berhenti pada perlawanan semata.

Semua harus dihadapi dengan keunggulan spirit, pikiran, dan karya terbaik. Itulah misi Islam dan Muhammadiyah yang berkemajuan. Di sinilah tantangan dan agenda terberat umat Islam dan Muhammadiyah saat ini dan ke depan, yaitu memberi jawaban alternatif,” ujarnya.

Menilik seruan boikot terhadap Starbucks yang merupakan produk consumer good sebagaimana Sari Roti, sesungguhnya pasar ini masih sangat terbuka untuk dimasuki. Sesudah boikot lalu apa alternatifnya? Demikian tantangan yang harus dijawab. Kehadiran Roti Maida bak David di tengah kebesaran Goliath Sari Roti serta berbagai industri kuliner makanan ringan yang telah ada. Beberapa tokoh mengapresiasi kehadiran Roti Maida sebagai bagian dari ijtihad ekonomi umat Islam. Tokoh-tokoh tersebut antara lain KH Zaitun Rasmin (MUI-Pusat), dari PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, DR Haedar Nasir, Ustadz Bachtiar Nasir dan lain-lain.

Di antara tokoh-tokoh tersebut yaitu Dr Haedar Nasir mengamanatkan agar Maida dapat melepaskan diri dari euforia 212 menjadi usaha profesional bukan berdasarkan dorongan emosional. Publikasi manajemen Maida pada media PWMU.CO  baru-baru ini menunjukkan kabar gembira tentang keberlangsungan usaha Roti Maida kian berkembang. Aksi memasuki bursa saham dengan melakukan IPO atas amal usaha paling memungkinkan untuk melakukan “guncangan” demi “guncangan” berikutnya.

Bagaimana Bursa Saham tidak “berguncang” jika ormas Islam terbesar dan tertua di NKRI ini turut meramaikan bursa saham? Jutaan warganya yang melakukan pembelian perdana terhadap saham amal usaha yang berjumlah ribuan di seluruh NKRI akan mencatatkan jumlah transaksi yang signifikan.

Tidak ada salahnya si David Maida menengok dapur si Goliath Sari Roti dalam rangka benchmark menuju usaha profesional bukan berdasarkan dorongan emosional sebagaimana diamanatkan Dr Haedar Nasir. Sari Roti layak dijadikan benchmark sebuah produk kudapan yang dikelola secara serius dan professional. Keseriusan Sari Roti dapat dilihat antara lain dari strategi pemasarannya.

Strategi Sari Roti yang tidak membuat outlet sendiri didukung pula oleh tenaga-tenaga pemasaran sepeda motor dan becak keliling. Strategi ini menjadikan Sari Roti produk yang market friendly, ramah terhadap pasar, mudah ditemui hampir di semua minimarket dan toko kelontong besar. Sari Roti sendiri yang bernaung di bawah PT Nippon Indosari Corpindo,Tbk masih perkasa dilihat dari performa laporan keuangan tahunan 2016.

Sebagaimana perusahaan Go Public lainnya, PT Nippon Indosari Corpindo,Tbk dengan kode emiten ROTI telah menyampaikan laporan tahunan kepada otoritas Bursa Efek Indonesia pada bulan April-2017. Laporan tahunan 2016 ROTI sebagai salah satu yang ditunggu-tunggu mengingat kejadian kepleset lidah manajemen ROTI terhadap Aksi 212. Kejadian yang berdampak pada boikot produk ROTI di target pasar komunitas muslim. Faktanya boikot sebagian simpatisan Aksi 212 tidak berdampak pada kinerja keuangan Sari Roti yang telah demikian kokoh membangun manajemen usahanya.

Pada rilis resmi laporan Tahun 2016 kepada otoritas Bursa Efek Indonesia, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk mencatatkan Penjualan Neto sebesar Rp2,52 triliun, meningkat sebesar 16 persen dari tahun sebelumnya. Laba Bersih Rp280 miliar meningkat sebesar 3,4 persen dari tahun sebelumnya.

Saat ini pemegang saham di PT Nippon Indosari Corpindo Tbk yaitu PT Indoritel Makmur Internasional Tbk-31,504 persen, Bonlight Investments Limited- 25,121 persen, Pasco Shikishima Corporation – 8,501 persen, Sojitz Corporation – 4,251 persen, Masyarakat Umum – 30,623 persen. Total 100 persen saham sebanyak 5.061.800.000 lembar dengan nilai Rp1,442 Trilyun

Go ahead Roti Maida. Perlu untuk segera melakukan pemasaran dan penawaran saham dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya ke PDM lain dan masyarakat luas wabilkhusus warga Muhammadiyah-Aisyiyah di seluruh Indonesia. Proporsional dengan tetap menempatkan Persyarikatan sebagai mayoritas pengendali. Dengan langkah tersebut hijab-hijab psikologis mengenai “saya dapat apa” jika ikut mengembangkan Maida bisa terjawab. Termasuk di antaranya visi masa depan menjadikannya sebagai perusahaan go public yang melantai di Pasar Modal Bursa Efek Indonesia.

Visi menjadikan perusahaan go public bi idznillah menjadikan Maida semakin professional. Beberapa potensi jika masuk pasar modal yaitu membuka akses permodalan jangka panjang, meningkatkan nilai dan image perusahaan, menumbuhkan loyalitas karyawan, insentif pajak serta kemampuan memertahankan kelangsungan usaha.

Jamak dimaklumi bersama jika pergantian kepemimpinan ganti kebijakan. Pengurus PDM Surabaya yang luar biasa saat ini dalam melahirkan Maida belum tentu berlanjut ghirah dan passion-nya pada kepemimpinan berikutnya terhadap produk kuliner. Dengan kepemilikan Maida pada beberapa pihak yang antusias dengan share kepemilikan saham yang proporsional, “ghirah” mengembangkan Maida dapat berlanjut.

Berharap Maida Cake & Bakery bukan sekedar laboratorium bisnis amal jama’i makanan. Lebih dari itu Maida diharapkan mampu menjadi pilot project amal jama’i dalam berinvestasi. Dengan racikan adonan roti dan racikan manajemen keuangannya yang mampu menyajikan produk kudapan dan produk investasi yang halal dan thayyib. Betapa banyak amal usaha Persyarikatan di tiap ranting, cabang, daerah, wilayah bahkan pusat yang berdiri sendiri-sendiri tanpa kolaborasi dan konsolidasi.

Saatnya persyarikatan tertua dan paling eksis di NKRI  memiliki korporasi besar yang dimiliki bersama-sama dengan patungan modal seluruh warganya dalam wasilah otoritas resmi pasar modal yang professional. Insyaallah dengan kolaborasi dan konsolidasi bisa menjadi mainstream ikut mengendalikan perekonomian bangsa.

Semoga semuanya berawal dari Maida Cake & Bakery. “Sesungguhnya Allah SWT Tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa–apa yang terjadi pada diri mereka (Ara’d/13: 11)“. 

Referensi :

  • republika.co.id/berita/nasional/umum/17/06/30/osarle-pp-muhammadiyah-serukan-boikot-starbucks-di-indonesia-ini-alasannya

  • republika.co.id/berita/internasional/global/17/07/03/osi59f428-lsm-di-malaysia-ikuti-muhammadiyah-serukan-boikot-starbucks

  • khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/07/07/osp8qe377-gerakan-boikot-starbucks-oleh-muhammadiyah-mendunia

  • jawapos.com/read/2017/06/30/141112/dpr-dukung-muhammadiyah-boikot-starbucks

  • pwmu.co/32431/2017/07/kenapa-seruan-boikot-muhammadiyah-bikin-saham-starbucks-terguncang/

Iklan

Jalan Hidup

Jalan Hidup

Merenungi perjalanan hidup manusia dari dilahirkan hingga saat ini, saat manusia yang dulunya polos, suci tak berdosa menjadi manusia yang berdosa, seakan perjalanan hidup ini berlalu begitu cepat. Hidup di dunia hanya sekali, maka apa yang telah kita lakukan saat ini, apa yang telah kita punya saat ini?

Di dalam sebuah film saya mendengar seorang pemeran utama berkata :

“Dalam hidup, ada saatnya kita akan memilih 1 diantara 2 jalan. Satu jalan yang benar, dan 2 jalan yang salah. Jalan yang salah banyak menariknya sehingga lebih mudah membuat kita tertarik untuk mengikuti jalan tersebut. Sedangkan jalan yang benar sulit membuat kita tertarik untuk melaluinya. Jika kita memilih jalan yang salah, maka kita akan cepat merasakan kenikmatan, kesenangan dan kesuksesan namun paka akhirnya kita akan kalah. Jika kita memilih jalan yang benar, maka kita akan melalui berbagai kesulitan, kesusahan, dan bermacam-macam cobaan hidup lainnya, namun pada akhirnya kita akan menang. Maka tentukanlah jalan hidupmu”. (Kurang lebih seperti itu).

Lalu, jalan yang benar itu yang bagaimana?

Hidup ini adalah sebuah perjalanan

Pernahkah kita memikirkan bahwa hidup ini hakekitnya adalah perjalanan? Pernahkah kita merenungkan hidup di dunia ini tidak lain adalah sebuah perjalanan menuju kepada Allah Ta`ala?

Tidakkah Anda mengingat sabda Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam:

كلّ الناسِ يغدو؛ فبائعٌ نَفسَه فمُعتِقها أو موبِقها

“Setiap hari semua orang melakukan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya! Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya!” (Hadits Riwayat Imam Muslim).

Oleh karena itu Allah dalam firman-Nya menjelaskan,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (Asy-Syu’araa`: 88-89).

Dan Allah Ta’ala berfirman pula:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Al-Kahfi: 110).

Memang demikianlah hidup ini, yang diharap dan yang dituju adalah Allah Ta’ala, berjumpa dengan-Nya, menghadap kepada-Nya dan melihat wajah-Nya serta untuk meraih ridha-Nya.

Jalan hidup yang benar hanya ada satu

Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’  kemudian beliau membaca,

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)

Para imam tafsir menjelaskan bahwa pada ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan jalan-jalan yang dilarang manusia mengikutinya, yaitu {السُّبُلَ}, dalam rangka menerangkan cabang-cabang dan banyaknya jalan-jalan kesesatan. Sedangkan pada kata tentang jalan  kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan bentuk tunggal dalam ayat tersebut, yaitu {سَبِيلِهِ}. karena memang jalan kebenaran itu hanya satu, dan tidak berbilang.  (Sittu Duror, hal.52).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada seorangpun yang dapat sampai kepada-Nya, kecuali melalui jalan ini” (Sittu Duror, hal.53).

Mengenal jalan kebenaran yang satu

Jika Anda ingin tahu apa itu jalan kebenaran yang hanya ada satu tersebut? Jawabannya adalah jalan yang pernah ditempuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah satu-satunya jalan yang bisa mengantarkan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahayanya tidak mengetahui jalan kebenaran ini, beliau mengatakan,

الجهل بالطريق و آفاتها و المقصود يوجب التعب الكثير، مع الفائدة القليلة

“Ketidaktahuan terhadap jalan kebenaran ini dan rintangan-rintangannya, serta tidak memahami maksud dan tujuannya, akan menghasilkan kepayahan yang sangat, disamping itu faedah yang didapatkanpun sedikit” (Sittu Duror, hal. 54). Karena begitu pentingnya mengenal jalan kebenaran tersebut, maka mari kita mempelajari jalan kebenaran yang hanya ada satu itu, yang semua kaum muslimin mensepakatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jalan yang lurus tersebut dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِيْ

“Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku” (Diriwayatkan Imam Malik dan yang lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Ya, jalan kebenaran yang hanya satu itu adalah jalan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya adalah jalan yang lurus. Sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,

الصِّرَاطُ الْمُستَقـِيْمُ الَّذِي تَرَكَنَا عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ

“Jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditinggalkan Rasulullah untuk kami” (Atsar shahih, dikeluarkan Ath Thabari dan yang lainnya).

Mana dalilnya, bahwa Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus?

Dalil Al-Quran adalah jalan yang lurus

Allah Ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus” (Al-Ahqaaf: 30).

Dalil As-Sunnah adalah jalan yang lurus

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Asy-Syuuraa: 52).

Dengan demikian Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus, inilah satu-satunya jalan kebenaran, keduanya hakikatnya adalah satu kesatuan, sama-sama wahyu Allah Ta’ala.

Wajibnya berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah

Kita wajib berpegang teguh dengan  Al-Quran dan As-Sunnah, karena kita diwajibkan mena’ati Allah dan Rasul-Nya  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (-Nya), dan Ulil amri di antara kamu” (An-Nisaa’: 59).

Menaati Allah adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Quran dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berpegang teguh kepada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Catatan:

Sunnah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sumber hukum Islam

Al-Hadits adalah hujjah/dalil, sebagaimana Al-Quran, karena keduanya adalah sama-sama wahyu dari Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا إني أوتيت القرآن ومثله معه

“Ketahuilah sesungguhnya saya diberi (wahyu) Al-Quran dan (wahyu) yang semisalnya bersamaan dengannya (As-Sunnah)” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, sedangkan lafadz ini adalah lafadz riwayat beliau. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Hakikatnya berpegang teguh dengan sunnah adalah ketaatan kepada Allah dan mengamalkan Al-Quran, karena Allah berfirman di dalam Al-Quran:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu,sesungguhnya ia telah mentaati Allah” [An-Nisaa`:80].

Fungsi As-Sunnah

Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hakikatnya sama dengan Kitab Allah, yaitu sama-sama sebagai wahyu Allah. Fungsi sunnah itu sebagai penjelas bagi Kitab Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan, makhluk terbaik yang menafsirkan Al-Quran adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan Kami turunkan kepadamu Aquran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” (An Nahl: 44).

As-Sunnah menjelaskan apa yang ada di dalam Al-Quran yang masih global dengan merincinya, seperti masalah salat, puasa, zakat, haji, dan yang lainnya. Jadi As-Sunnah yang shahih tidak akan pernah bertentangan dengan Al-Quran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan makna Al-Quran dan beliau pun telah memberi contoh bagaimana mengamalkannya, sehingga semua ayat Al-Quran menjadi jelas makna dan prakteknya bagi umat ini .

Bahkan seorang muslim tidak harus menunggu mengetahui dalil dari Al-Quran dalam melakukan sebuah ibadah, jika ia sudah mengetahui satu saja dalil dari hadits yang shahih, selama hadits tersebut sudah cukup menunjukkan kepada suatu bentuk/tata cara ibadah, maka bisa langsung mengamalkan hadits tersebut.

Kesimpulan

  1. Jalan kebenaran hanya satu, yaitu jalan Al-Quran dan As-Sunnah. Karena keduanya sama-sama dari Allah dan fungsi As-Sunnah menjelaskan Al-Quran dan merinci yang global darinya, maka hakikat keduanya merupakan satu kesatuan, satu jalan kebenaran.
  2. Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus.
  3. Kita wajib berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah.
  4. Al-Quran dan As-Sunnah sama-sama sebagai sumber hukum Islam, karena keduanya sama-sama sebagai wahyu Allah.

Referensi :

Gajah Mada, Gaj Ahmada, Gajah Ahmada atau ….

Gajah Mada, Gaj Ahmada, Gajah Ahmada atau ….


Patung Gajah Mada di Mabes Polri. (Grandyos Zafna/detikcom)


Beberapa hari terakhir media sosial dihebohkan dengan beredarnya kisah lain dari tokoh legendaris Gajah Mada. Muncul spekulasi, Gajah Mada adalah seorang muslim bernama Gaj Ahmada.

Gajah Mada Atau Gaj Ahmada?

Di media sosial sejak Kamis (15/6/2017), sejumlah warganet mengklaim Gajah Mada adalah seorang muslim dengan nama Gaj Ahmada atau Syeikh Ahmada. Lengkapnya, Gajah Mada disebut bernama Abu Fatih Gaj Ahmada Al Majjah Fahid Darussalam.

Spekulasi ini langsung melesat menjadi perbincangan terpopuler di Twitter hingga Jumat (16/6/2017) pagi. Tak berhenti sampai di situ, Instagram mendadak ikut riuh dengan perbincangan ini. Bahkan beredar foto ilustrasi Gajah Mada dengan pakaian khas Arab.

Spekulasi yang berkembang menyebut Gaj Ahmada diklaim sebagai nama asli sang mahapatih. Mereka menilai, para arkeolog maupun filolog salah dalam mengeja dan mengartikan aksara Pallawa era Majapahit, yang seharusnya “Gaj Ahmada” menjadi “Gajah Mada”.

Semua selentingan yang viral di media sosial mengenai keabsahan nama “Gaj Ahmada” bersumber dari tulisan satu paragraf  akun Facebook Arif Barata.

Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya. Patih Gajah Mada juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada (terlihat lebih Islami, bukan?). Hanya saja, orang Jawa saat itu sulit mengucapkan nama tersebut,” tulis akun itu.

”Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah). Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia).”

”Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.”

Namun, klaim tersebut justru menjadi bahan sindiran maupun dibuat sebagai lelucon oleh mayoritas warganet. Pasalnya, klaim tersebut bertentangan dengan bukti-bukti arkeologis maupun filologis.

Akun @Doneh di Twitter mengunggah bidik layar tulisan Pallawa yang ia sebut nukilan kitab Negara Kertagama. Dalam nulikan tersebut, akun itu menunjukkan nama sang mahapatih jelas ditulis sebagai ”Gajah Mada” bukan ”Gaj Ahmada”.

”Nama Gaj Ahmada? Monggo dibaca nukilah Negarakertagama ini,” tulisnya menerangkan foto yang diunggahnya.

Akun @digembok mengkritik klaim tersebut karena tak sesuai dengan gambaran Gajah Mada yang terdapat pada patung-patung. “Bilangin sama yang bikin, gambarnya (Gaj Ahmada) salah. Masa Syech Gaj Ahmada pakaiannya tidak menutup aurat,” tulisnya.

”Saya sedikit berharap bahwa kasus bumi datar, anti-vaksin, dan Gaj Ahmada ini sebenarnya hanya prank untuk mencek kadar IQ orang Indonesia,” tulis @ariomazda.

 “UGM (Universitas Gadjah Mada) harus ganti jadi UGA. Universitas Gaj Ahmada — feeling amazed,” kata akun @jatiraymaya.

Pihak Museum Nasional menanggapi isu Gaj Ahmada yang jadi viral di media sosial ini. Gaj Ahmada dianggap hanya isu mencocok-cocokkan belaka. Tak ada bukti kuat yang mendukung hal tersebut. Beda halnya dengan nama Gajah Mada, yang disebutkan di sejumlah prasasti.

“Nama ‘Gajah Mada’ itu ada disebutkan dalam prasasti, ada prasasti Gajah Mada, ada lagi Prasasti Mada,” kata Kepala Bidang Pengumpulan dan Pengkajian Museum Nasional Tri Gangga di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (17/6/2017).

Tri juga menyebutkan prasasti lainnya yang dibawakan oleh Tribhuana Tungga Dewi, anak pendiri Majapahit Raden Wijaya. Tapi, dari semua data prasasti, didapati namanya adalah ‘Gajah Mada’. “Disebutkan Gajah Mada, tidak ada Gaj Ahmada,” ungkap Tri.

Selain soal nama Gaj Ahmada, informasi yang jadi viral menyebut Raden Wijaya merupakan seorang muslim. Namun, menurut Tri, hal itu juga keliru.

“Raden Wijaya dan Gajah Mada itu adalah orang Jawa beragama Hindu atau Buddha. Ada prasasti yang membuktikan sekarang ini. Kebanyakan prasasti itu ada di Jawa Timur. Mereka (penyebar info viral) itu tidak tahu dan mengerti prasasti,” kata Tri.

Gajah Mada, Gaj Ahmada atau Gajah Ahmada?

Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta yang membawahi LHKP, Ashad Kusuma Djaya menegaskan, tidak ada campur tangan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta dalam penulisan buku Kesultanan Majapahit.

“LHKP hanya memfasilitasi kajian, kemudian yang ikut diskusi dan kajian itu patungan untuk menerbitkan buku. Tidak ada dana dari Muhamamdiyah,” ujar Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Ashad Kusuma Djaya saat ditemui Kompas.com, Sabtu (17/06/2017) malam.

Diceritakannya, kegiatan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta adalah berdiskusi dan melakukan kajian bersama dengan berbagai komunitas.

“LHKP isinya adalah komunitas anak muda yang senang dengan isu-isu alternatif,” ucapnya.

Ashad mengaku mengenal baik Herman Sinung Janutama, penulis buku “Kesultanan Majapahit” karena sama-sama pemerhati budaya Jawa. Herman Sinung Janutama memiliki komunitas dan menjadi salah satu yang diundang dalam kegiatan diskusi LHKP.

Sebab, lanjutnya, metode penelitian yang dilakukan oleh Herman Sinung Janutama menarik untuk didiskusikan dan dikaji.

“Itu bukan kegiatan tunggal, artinya kita ada juga diskusi dan kajian dengan lainnya. Kita juga ada kajian dengan Sifu Yonatan, Biksu Budha,” jelasnya.

Hanya saja, karena lembaga diskusi dan kajian tersebut tidak mempunyai legalitas, maka buku tulisan Herman Sinung Janutama diterbitkan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 2010 lalu sebanyak 1.000 eksemplar dan hanya untuk kalangan sendiri.

“Saya juga kaget, sudah buku Mas Herman itu terbit tahub 2010 lalu, sekarang viralnya,” tuturnya.

Dikatakannya, kutipan yang menjadi viral media sosial banyak tidak sesuai dengan di buku tulisan Herman Sinung Janutama. Seperti nama Gaj Ahmada itu tidak ada di buku yang ditulis Herman Sinung Janutama.

“Adanya Gajah Ahmada, misalnya dalam bahasa Sansekerta itu kan Nusantara itu sesungguhnya Nusa Antara, Gajah Mada dalam terminologi yang ditemukan Mas Herman itu Gajah Ahmada, kalau Gaj Ahmada itu menyalahi susatra jawa,” tandasnya.

Ashad mengaku tidak mengenal Arif Barata yang menjadi rujukan soal Gaj Ahmada sehingga viral di media sosial.

“Arif Barata yang menjadi sumber banyak viral itu saya tidak kenal, selama kegiatan kajian-kajian itu juga tidak nampak. Ada nama Arif Barata, tetapi lain. Saya kenal dan saat ini masih menjadi staf saya,” pungkasnya.

Gajah Mada, Gaj Ahmada, Gajah Ahmada atau Ali Nurul Alam?

Sejarah semakin dikulik, semakin asyik. Perdebatan soal nama Gaj Ahmada seharusnya membahas Ali Nurul Alam, seorang muslim yang juga menyandang nama Gajah Mada. Siapa dia?

Perdebatan soal nama Gajah Mada VS Gaj Ahmada sepertinya melewatkan sebuah nama yang penting: Ali Nurul Alam. Namanya cukup asing untuk masyarakat Indonesia, kecuali mereka yang keturunan para sayyid, habib, kesultanan Cirebon dan Banten. Tahukah Anda, dia adalah orang kedua yang menyandang nama Gajah Mada.

Penelusuran detikcom, Senin (19/6/2017) nama Ali Nurul Alam muncul dalam buku Babad Tanah Sunda: Babad Cirebon tulisan PS Sulendraningrat. Bisa dibilang ini adalah catatan sejarah resmi Kesultanan Cirebon. Nama ini juga bisa dilihat dari Himpunan Nasab Al Alawiyin dari Naqobatul Asyrof Al Kubro, Lembaga Pemeliharaan Penelitian Sejarah dan Silsilah Alawiyin.

Disebutkan Sunan Gunung Jati bernama lengkap Syarif Hidayatullah bin Syarif Abdullah bin Sayyid Ali Nurul Alam. Ali Nurul Alam ini berarti adalah kakek Sunan Gunung Jati. Babad Cirebon menyebutkan orangtua dan kakek Sunan Gunung Jati tidak tinggal di Jawa, melainkan negeri lain dengan kota bernama Jiddah dan juga Champa.

Christoper Buyer melalui website The Royal Ark yang menyusun silsilah Kesultanan Kelantan di Malaysia dengan merangkum 14 buku sejarah. Kota Jiddah yang dimaksud ternyata adalah Jiddah Riayath Sa’adat us-Salam, ibukota Imperium Chermin yang meliputi Aceh, Kelantan (termasuk Patani di Thailand Selatan) dan Champa di Vietnam Selatan. Gubernur Jenderal Inggris Thomas Standford Raffles dalam buku History of Java juga sempat menyebut Kerajaan Chermin.

Nama Ali Nurul Alam ditemukan kembali di dalam silsilah Kesultanan Kelantan yang ditulis ulang Christoper Buyer. Dia adalah putra dari Sayyid Husain Jumadil Kubro, ulama besar keturunan Rasulullah yang merupakan penyebar Islam di Asia Tenggara dan dimakamkan di Mojokerto. Yang menarik, Christoper Buyer menulis begini:

“Sayyid ‘Ali Nur ul-Alam bin Husain Jamadi al-Kubra, Pateh Arya Gajah Mada. Perdana Mantri of Kelantan-Majapahit II 1432-1467. Fled to Champa with the Sultan, following the Siamese conquest in 1467,” tulis dia.

Ada dua fakta menarik. Pertama, Ali Nurul Alam memiliki nama lain Pateh Arya Gajah Mada. Jabatannya adalah Perdana Menteri Kelantan-Majapahit II yang menjabat 1432-1467. Kerajaan Majapahit II? Pasti jarang orang Indonesia yang pernah mendengar nama kerajaan ini.

Buyer mengatakan anak Raja Langkasuka bernama Bharubhasa mendirikan Kerajaan Chermin tahun 1339 dengan wilayah kekuasaan dari Aceh, Sumatera Utara, Perak, Kedah dan Champa. Dia diislamkan oleh Syekh Jumadil Kubro dan menjadi Sultan Mahmud Ibnu Abdullah.

Kerajaannya ditaklukan Kerajaan Siam dari Thailand tahun 1345. Mahapatih Gajah Mada lalu menaklukan Siam tahun 1357, sekaligus menjadikan Chermin sebagai negara bagian dari Majapahit. Imperium Chermin berganti nama menjadi Majapahit II.

Dari catatan sejarah itu, ketahuan langkah apa yang dilakukan Mahapatih Gajah Mada. Dia tidak memaksakan agama Hindu-Buddha yang dianut Majapahit, melainkan membiarkan Islam tetap tumbuh berkembang.

Buktinya, kesultanan di Chermin tetap dilanjutkan, hanya namanya berubah menjadi Kelantan-Majapahit II. Kedua, karena rajanya berinduk ke Majapahit, maka jabatan tertinggi dipegang oleh seorang Perdana Menteri yang dijabat oleh Ali Nurul Alam dengan nama alias atau gelarnya Pateh Arya Gajah Mada.

Ini adalah pilihan yang masuk akal untuk Mahapatih Gajah Mada mendelegasikan kekuasaan ke Patih Arya Gajah Mada. Mengingat wilayah Kelantan dan Champa jauh sekali dari Trowulan yang menjadi Ibukota Majapahit.

Fakta bahwa sebagian wilayah Majapahit bagian timur laut beragama Islam, mungkin menjawab soal koin bertulisan Arab di era Majapahit yang dihebohkan itu. Bukti lain soal Ali Nurul Alam bernama alias Patih Arya Gajah Mada juga pernah ditulis media Malaysia, Utusan Malaysia.

Utusan Malaysia pernah menulis ulasan cukup panjang tentang Sayyid Ali Nurul Alam. Disebutkan pula Patih Arya Gajah Mada adalah nama aliasnya dan memang menimbulkan perdebatan apakah dia dan Gajah Mada adalah orang yang sama atau bukan. Utusan Malaysia menyebutkan Ali Nurul Alam wafat di Campa tahun 1467.

Dari pada berdebat soal Gaj Ahmada atau Gajah Mada, lebih baik para sejarawan menjelaskan kepada publik. Siapa itu Ali Nurul Alam? Seorang muslim yang menyandang nama kedua sebagai Gajah Mada.


Dimana Makam Gajah Mada?


Terkait makam sang mahapatih, itu pun tak bisa diklaim keabsahannya. Sebab, makam yang diklaim sebagai kuburan Gajah Mada ada lebih dari satu di Indonesia.

Tak hanya di Pulau Jawa, bahkan di Krui, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, juga terdapat satu kuburan yang diklaim sebagai makam Gajah Mada.

Di Kabupaten Buton Selatan, lahan yang Ditumbuhi Pohon Maja Itu Diyakini sebagai Makam Patih Gajah Mada.

Masyarakat Pulau Buton meyakini bahwa makam Patih Gajah Mada berada di atas sebuah bukit di Kelurahan Majapahit, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan.

Tempat itu kini menjadi lokasi wisata religi. Lokasinya berjarak sekitar 3 kilometer (km) dari jalan utama. Jalan menuju ke sana belum diaspal. Untuk mencapai tempat itu, warga harus berjalan kaki melalui perbukitan.

“Leluhur kami sering bercerita tentang makam Patih Gajah Mada. Di sana juga ada tumbuh pohon maja beberapa ratus meter dari kuburan, dan ada juga tulisan Sanskerta di atas batu,” kata Lurah Majapahit, Amran Aingke, Sabtu (9/1/2016). Menurut Amran, tulisan beraksara Sanskerta itu kini sudah tidak jelas.

“Tahun 2000 pernah dipotret itu batu, tetapi sekarang sudah tidak jelas karena sering kena pembakaran lahan sejak lama. Tulisannya sudah rusak dan rapuh karena kena api terus, tetapi sekarang kami sedang mencari tahu arti bahasa Sanskerta itu,” ujarnya.

Tempat yang diyakini sebagai makam Gajah Mada itu berukuran sekitar 40 x 40 meter. Di tengah lahan itu terdapat pohon besar yang rindang. Di situ bisa dilihat, beberapa batu yang diduga merupakan batu nisan yang tidak bernama. Menurut seorang warga Kelurahan Majapahit, La Ode Basarudin, tempat itu sering diziarahi sejumlah warga.

Lampung Utara (Liwa) dan di daerah Kabupaten Dompu.

Banyak daerah yang menyatakan Patih Gajah Mada ini dimakamkan di daerah-daerah yang dinyatakan tadi, dan salah satunya di kabupaten Lampung Utara (Liwa) dan di daerah kabupaten Dompu.

Situs makam Gajah Mada ini adalah peninggalan arkeologi dari masa klasik yang mengandung problema yang hingga saat ini belum dapat dipecahkan. Disebabkan makam Gajah Mada ini dianggap leluhur oleh masyarakat Daha sebagai ahli waris yang tidak dapat melihat secara langsung makam tersebut.

Makam Gajah Mada dibuat dengan teknik susunan batu berbentuk persegi, dinding makam sebagai batas antara kubur (tempat sakral) dengan bagian luar (profan). Makam Gajah Mada merupakan hasil budaya yang sifatnya universal dan berlangsung dari masa ke masa.

Terletak  pada 25 meter yang di sebelah kanan jalan terdapat jalan yang menghubungkan Dompu dengan pantai Lakey, terletak diantara semak-semak lebat sehingga tidak dapat melihat secara langsung dari jalan besar.

Ditemukannya makam Patih Gajah Mada di Desa Daha ini, masyarakat setempat menganggap bahwa mereka adalah keturunan dari Majapahit.

Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding, Tuban

Melintasi area pemakaman umum di Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding, Tuban, siapapun akan tertarik dengan makam berukuran tiga kali lipat makam pada umumnya.

Panjang makam lebih dari empat meter dan gundukan tanah setinggi lebih dari satu meter itulah makam tersebut dikenal dengan makam Mbah Manjang. Siapa sebenarnya Mbah Manjang?Cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Manjang tak lain adalah Barat Ketigo, nama samaran Gajah Mada ketika saat mengemban mandat Prabu Hayam Wuruk untuk menjajal kesaktian Syekh Asy’ari atau Sunan Bejagung yang mengalahkan pasukan bergajah kiriman yang disabdo menjadi batu atau watu gajah.

Tugas Gajah Mada tak lain untuk menindaklanjuti kegagalan pasukan bergajah yang membujuk Pangeran Penghulu atau Pangeran Sudimoro agar berhenti ‘ngelmu’ agama ke Syekh Asy’ari dan segera kembali ke kerajaan. Dalam beberapa kali adu kesaktian, Barat Ketigo dikalahkan dan akhirnya harus mengakui ketinggian ilmu Syekh Asy’ari. Akhirnya, ia memilih tinggal untuk berguru, sampai akhir hayatnya.

Cerita ini dikuatkan situs Watu Gajah yang letaknya tak jauh dari makam Barat Ketigo. Juga ditemukan Watu Boyo (batu besar menyerupai buaya) di sisi selatan makam tersebut, yang diduga sebagai godho atau senjata berupa pentungan milik Barat Ketigo.

Serta makam Pangeran Penghulu atau Pangeran Sudimoro dan Syekh Asy’ari di Desa Bejagung, desa yang ada di sisi utara makam Barat Ketigo.Kini, makam Mbah Manjang yang letaknya sekitar 200 meter di belakang kantor Kecamatan Semanding, Tuban itu dalam proses renovasi demi memudahkan peziarah yang banyak berdatangan seiring kian sohornya nama Barat Ketigo atau Gajah Mada dibandingkan nama Mbah Manjang, yang lebih dulu dikenal.

Patih Gajah Mada Berganti Nama dan wafat di Makkah

Di kompleks makam Raja Islam Sela Parang yaknimerupakan seorang pendakwah Islam pada periode awal, sekitar abad XIV M di Pulau lombok, tidak terduga di komplek makam itu ternyata terdapat petilasan.

Petilasan Keberangkatan Patih Gajah Mada ketika pergi haji ke Makkah.


Petilasan ini, menurut tutur kata dari generasi ke generasi setempat, di yakini sebagai lokasi keberangkatan Sang Maha Patih Gajah Mada ketika hendak pergi haji menuju Makkah.

Penduduk wilayah ini percaya, Patih Gajah Mada setelah masuk Islam dan lengser keprabon berganti nama menjadi Muhammad Rum.

Dan menurut Babad Sela Parang, Gajah Mada tidak pernah kembali, karena beliau wafat di kota suci Makkah.

Dengan banyaknya daerah yang mengklaim terdapat makam patih Gajah Mada, apa mungkin jika Gajah Mada hanyalah sebutan / gelar bagi seorang Maha Patih dan bukan nama asli? Sehingga sangat logis jika saya mengatakan, Gajah Mada itu lebih dari 1 orang, tapi ada banyak manusia yang menyandang gelar Gajah Mada.

Mengenai kematian Gajah Mada, sejarawan hingga kini masih berdebat mengenai hal tersebut. Agus Aris Munandar, Arkeolog Universitas Indonesia, dalam bukunya berjudul Gajah Mada Biografi Politik, mengatakan terdapat beragam sumber yang mengajukan argumentasi mengenai akhir hayat Gajah Mada.


Referensi :

solopos.com/2017/06/17/ini-akun-yang-sebut-gajah-mada-aslinya-syekh-gaj-ahmada-826369

detik.com/news/berita/d-3534075/viral-gaj-ahmada-museum-nasional-gajah-mada-beragama-hindu

regional.kompas.com/read/2017/06/18/18444831/penjelasan.muhammadiyah.kota.yogyakarta.soal.gaj.ahmada.yang.viral

detik.com/news/berita/d-3534914/bukan-gaj-ahmada-gajah-mada-yang-muslim-namanya-ali-nurul-alam

regional.kompas.com/read/2016/01/09/20283081/Lahan.yang.Ditumbuhi.Pohon.Maja.Itu.Diyakini.sebagai.Makam.Patih.Gajah.Mada

nationalgeographic.co.id/berita/2015/02/dimanakah-makam-patih-gajah-mada-sesungguhnya

kekandang.blogspot.co.id/2015/10/ternyata-di-sinilah-jasad-gajah-mada-di.html?m=1

kanzunqalam.com/2015/03/05/legenda-patih-gajah-mada-wafat-di-kota-suci-makkah/

Inilah Kisah Heroik R.M. Said/K.G.P.A.A. Mangkunegara I/Pangeran Samber Nyawa

Inilah Kisah Heroik R.M. Said/K.G.P.A.A.
Mangkunegara I/Pangeran Samber Nyawa

R.M. Said lahir di Kartasura dengan ayah K.P.A. Mangkunegara, putra tertua Sunan Amangkurat IV (Pakubuwana I), penguasa Kesunanan Mataram-Kartasura. Dengan demikian, ia memiliki hak kedua setelah ayahnya sebagai pewaris takhta. Namun demikian, KPA. Mangkunegara secara politik terang-terangan anti-V.O.C. Sikap politik ini membuat KPA Mangkunegara dibuang ke Sailan (Srilanka) oleh V.O.C., setelah intrik di antara keluarga sendiri.

Perjuangan R.M. Said dimulai bersamaan dengan pemberontakan laskar Tionghoa di Kartasura pada 30 Juni 1742 yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi (juga disebut “Sunan Kuning“), mengakibatkan tembok benteng kraton Kartasura setinggi 4 meter roboh. Pakubuwono II, Raja Mataram ketika itu melarikan diri ke Ponorogo. Ketika itu R.M. Said berumur 19 tahun. Dia bergabung bersama-sama untuk menuntut keadilan dan kebenaran atas harkat dan martabat orang orang Tionghoa dan rakyat Mataram, yang ketika itu tertindas oleh Kumpeni Belanda (V.O.C.) dan Rajanya sendiri Pakubuwono II. Geger pecinan ini berawal dari pemberontakan orang-orang Cina terhadap V.O.C. di Batavia. Kemudian mereka menggempur Kartasura,yang dianggap sebagai kerajaan boneka dari Belanda. Sejak Pasukan Tionghua mengepung kartasura pada awal 1741, para bangsawan mulai meninggalkan Kraton Kartasura. R.M. Said membangun pertahanan di Randulawang, sebelah utara Surakarta, Ia bergabung dengan laskar Sunan Kuning melawan V O.C.

Said diangkat sebagai panglima perang bergelar Pangeran Perang Wedana Pamot Besur. Ia menikah dengan Raden Ayu Kusuma Matah Ati. Adapun Pangeran Mangkubumi justru lari ke Semarang, menemui penguasa Belanda dan meminta dirinya dirajakan. V.O.C. menolak permintaan itu. Ia kemudian bergabung dengan Puger di Sukowati. Berkat bantuan Belanda, pasukan Tionghua diusir dari Istana Kartasura. Enam bulan kemudian, Paku Buwono II kembali ke Kartasura mendapati istananya rusak. Ia memindahkan Istana Mataram KARTASURA ke SOLO. Kemudian nama KARTASURA pun diubah (dibalik) menjadi SURAKARTA.

Kebijakan raja meminta bantuan asing itu, ternyata harus dibayar mahal. Wilayah pantai utara mulai Rembang, Jawa Tengah, hingga Pasuruan, Surabaya dan Madura di Jawa Timur harus diserahkan kepada V.O.C. Setiap pengangkatan pejabat tinggi Keraton wajib mendapat persetujuan dari V.O.C. Posisi raja tak lebih dari Leenman, atau “Peminjam kekuasaan Belanda”. Pangeran Mangkubumi, akhirnya kembali ke Keraton.

Pangeran Mangkubumi lalu bergabung dengan Mangkunegoro, yang bergerilya melawan Belanda di pedalaman Yogyakarta. Mangkunegara dalam usia 22 tahun, dinikahkan untuk kedua kalinya dengan Raden Ayu Inten, Puteri Mangkubumi. Sejak saat itulah R.M. Said memakai gelar Pangeran Adipati Mangkunegara Senopati Panoto Baris Lelono Adikareng Noto. Nama Mangkunegara diambil dari nama ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara, yang dibuang Belanda ke Sri Langka. Ketika R.M. Said masih berusia dua tahun, Arya Mangkunegara ditangkap karena melawan kekuasaan Amangkurat IV (Paku Buwono I) yang dilindungi V.O.C. dan akibat fitnah keji dari Patih danureja. Mungkin karena itulah, Said berjuang mati-matian melawan Belanda. Melawan Mataram dan Belanda secara bergerilya, Mangkunegara harus berpindah-pindah tempat. Ketika berada di pedalaman Yogyakarta ia mendengar kabar bahwa Paku Buwono II wafat. Ia menemui Mangkubumi, dan meminta mertuanya itu bersedia diangkat menjadi raja Mataram. Mangkubumi naik tahta di Mataram Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ngaloka Abdurrahman Sayidin Panotogomo. Penobatan ini terjadi pada “tahun Alip” 1675 (Jawa) atau 1749 Masehi. Mangkunegoro diangkat sebagai Patih –perdana menteri– sekaligus panglima perang dan istrinya, Raden Ayu Inten, diganti namanya menjadi Kanjeng Ratu Bandoro. Dalam upacara penobatan itu, Mangkunegara berdiri di samping Mangkubumi. Dengan suara lantang ia berseru, “Wahai kalian para Bupati dan Prajurit, sekarang aku hendak mengangkat Ayah Pangeran Mangkubumi menjadi raja Yogya Mataram. Siapa dia antara kalian menentang, akulah yang akan menghadapi di medan perang

Meski demikian, pemerintahan Mataram Yogyakarta yang berpusat di Kotagede itu tidak diakui Belanda. Setelah selama 9 tahun berjuang bersama melawan kekuasaan Mataram dan V.O.C., Mangkubumi dan Mangkunegara berselisih paham, pangkal konflik bermula dari wafatnya Paku Buwono II. Raja menyerahkan tahta Mataram kepada Belanda. Pangeran Adipati Anom, putera Mahkota Paku Buwono II, dinobatkan sebagai raja Mataram oleh Belanda, dengan gelar Paku buwuno III, pada akhir 1749.

RM Said berperang sepanjang 16 tahun melawan kekuasaan Mataram dan Belanda. Selama tahun 1741-1742, ia memimpin laskar Tionghoa melawan Belanda. Kemudian bergabung dengan Pangeran Mangkubumi selama 9 tahun melawan Mataram dan Belanda, 1743-1752. Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, sebagai hasil rekayasa Belanda berhasil membelah bumi Mataram menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta, merupakan perjanjian yang sangat ditentang oleh RM Said karena bersifat memecah belah rakyat Mataram.

Selanjutnya, ia berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua kerajaan Pakubuwono III & Hamengkubuwono I (yaitu P. Mangkubumi, pamannya sekaligus mertuanya yang dianggapnya berkhianat dan dirajakan oleh V.O.C.), serta pasukan Kumpeni (V.O.C.), pada tahun 1752-1757. Selama kurun waktu 16 tahun, pasukan Mangkunegara melakukan pertempuran sebanyak 250 kali.

Dalam membina kesatuan bala tentaranya, Said memiliki semboyan TIJI TIBÈH, yang merupakan kependekan dari mati siji, mati kabèh; mukti siji, mukti kabèh (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua). Dengan motto ini, rasa kebersamaan pasukannya terjaga.

Tiga pertempuran dahsyat terjadi pada periode 1752-1757.Ia dikenal sebagai panglima perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Dari sinilah ia dijuluki “Pangeran Sambernyawa”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut. Kehebatan Mangkunegoro dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Tak kurang dari Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Mangkunegoro. “Pangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan. Sehingga tidak mau bergabung dengan Belanda dan keterampilan perangnya diperoleh selama pengembaraan di daerah pedalaman.

  • Yang pertama, pasukan Said bertempur melawan pasukan Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) di desa Kasatriyan, barat daya kota Ponorogo, Jawa Timur. Perang itu terjadi pada hari Jumat Kliwon, tanggal 16 Syawal “tahun Je” 1678 (Jawa) atau 1752 Masehi. Desa Kasatriyan merupakan benteng pertahanan Said setelah berhasil menguasai daerah Madiun, Magetan, dan Ponorogo.
  • Yang kedua, Mangkoenagoro bertempur melawan dua detasemen VOC dengan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di sebelah selatan negeri Rembang, tepatnya di hutan Sitakepyak Sultan mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan pertahanan Mangkunegoro. Besarnya pasukan Sultan itu dilukiskan Mangkunegoro “bagaikan semut yang berjalan beriringan tiada putus”. Kendati jumlah pasukan Mangkunegoro itu kecil, ia dapat memukul mundur musuhnya. Ia mengklaim cuma kehilangan 3 prajurit tewas dan 29 menderita luka. Di pihak lawan sekitar 600 prajurit tewas. Perang besar yang kedua pecah di hutan Sitakepyak, sebelah selatan Rembang, yang berbatasan dengan Blora, Jawa Tengah (Senin Pahing, 17 Sura, tahun Wawu 1681 J / 1756 M).Pada pertempuran ini, Mangkunegoro berhasil menebas kepala kapten Van der Pol dengan tangan kirinya dan diserahkan kepada salah satu istrinya sebagai hadiah perkawinan.
  • Yang ketiga, penyerbuan benteng Vredeburg Belanda dan keraton Yogya-Mataram (Kamis 3 Sapar, tahun Jumakir 1682 J / 1757 M).Peristiwa itu dipicu oleh kekalutan tentara V.O.C. yang mengejar Mangkunegara sambil membakar dan menjarah harta benda penduduk desa. Mangkunegara murka. Ia balik menyerang pasukan V.O.C. dan Mataram. Setelah memancung kepala Patih Mataram, Joyosudirgo, secara diam-diam Mangkunegara membawa pasukan mendekat ke Keraton Yogyakarta. Benteng V.O.C., yang letaknya cuma beberapa puluh meter dari Keraton Yogyakarta, diserang. Lima tentara V.O.C. tewas, ratusan lainnya melarikan diri ke Keraton Yogyakarta. Selanjutnya pasukan Mangkunegoro menyerang Keraton Yogyakarta. Pertempuran ini berlangsung sehari penuh Mangkunegara baru menarik mundur pasukannya menjelang malam. Serbuan Mangkunegoro ke Keraton Yogyakarta mengundang amarah Sultan Hamengku Buwono I. Ia menawarkan hadiah 500 real, serta kedudukan sebagai bupati kepada siapa saja yang dapat menangkap Mangkunegara. Sultan gagal menangkap Mangkunegoro yang masih keponakan dan juga menantunya itu. V.O.C., yang tidak berhasil membujuk Mangkunegoro ke meja perundingan, menjanjikan hadiah 1.000 real bagi semua yang dapat membunuh Mangkunegoro.

Perjanjian Salatiga

Tak seorang pun yang berhasil menjamah Mangkunegara. Melihat kenyataan tersebut, Nicholas Hartingh, pemimpin V.O.C. di Semarang, mendesak Sunan Paku Buwono III meminta Mangkunegara ke meja perdamaian. Sunan mengirim utusan menemui Mangkunegoro, yang juga saudara sepupunya. Mangkunegara menyatakan bersedia berunding dengan Sunan, dengan syarat tanpa melibatkan V.O.C. Singkatnya, Mangkunegara menemui Sunan di Keraton Surakarta dengan dikawal 120 prajuritnya. Sunan memberikan dana bantuan logistik sebesar 500 real untuk prajurit Mangkunegara. Akhirnya, terjadilah perdamaian dengan Sunan Pakubuwana III yang diformalkan dalam Perjanjian Salatiga, 17 Maret 1757. Pertemuan berlangsung di Desa Jemblung, Wonogiri. Sunan memohon kepadanya agar mau membimbingnya. Sunan menjemput Mangkunegara di Desa Tunggon, sebelah timur Bengawan Solo. Untuk menetapkan wilayah kekuasaan Said, dalam perjanjian yang hanya melibatkan Sunan Paku Buwono III, dan saksi utusan Sultan Hamengku Buwono I dan VOC ini, disepakati bahwa Said diangkat sebagai Adipati Miji alias mandiri. Walaupun hanya sebagai adipati, kedudukan hukum mengenai Mangkunegara I (nama kebesarannya), tidaklah sama dengan Sunan yang disebut sebagai Leenman sebagai penggaduh, peminjam kekuasaan dari Kumpeni, melainkan secara sadar sejak dini ia menyadari sebagai “raja kecil”, bahkan tingkah lakunyapun menyiratkan bahwa “dia adalah raja di Jawa Tengah yang ke-3”. demikian kenyataannya Kumpeni pun memperlakukannya sebagai raja ke III di Jawa Tengah, selain Raja I Sunan dan Raja II Sultan.

Ia memerintah di wilayah Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Akhirnya, Mangkunegara mendirikan istana di pinggir Kali Pepe pada tanggal 4 Jimakir 1683 (Jawa), atau 1756 Masehi. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal sebagai Istana Mangkunegaran. Mangkunegara I tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Selama menjalankan pemerintahannya, ia menerapkan prinsip Tridarma.

Pasukan Wanita

Sebanyak 144 di antara prajuritnya adalah wanita, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan ringan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda). Mangkunegoro tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Prajurit wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran, ketika ia memberontak melawan Sunan, Sultan dan V.O.C. Selama 16 tahun berperang, Mangkunegara mengajari wanita desa mengangkat senjata dan menunggang kuda di medan perang. Ia menugaskan sekretaris wanita mencatat kejadian di peperangan.

Tarian

Tarian sakral yang telah diciptakan oleh RM.Said (KGPAA Mangkoenagoro I), yaitu :

  1. Bedhaya Mataram-Senapaten Anglirmendung (7 penari wanita, pesinden, dan penabuh wanita), sebagai peringatan perjuangan perang Kesatrian Ponorogo.
  2. Bedhaya Mataram-Senapaten Diradameta (7 penari pria, pesinden, dan penabuh pria), sebagai monumen perjuangan perang di Hutan Sitakepyak.
  3. Bedhaya Mataram-Senapaten Sukapratama (7 penari pria, pesinden, dan penabuh pria), monumen perjuangan perang bedah benteng Vredeburg, Yogyakarta.
 

Pahlawan Nasional

Pada 1983, pemerintah mengangkat Mangkunegara I sebagai pahlawan nasional, karena jasa-jasa kepahlawanannya.Mendapat penghargaan Bintang Mahaputra. Mangkunegara I memerintah wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Ia bertahta selama 40 tahun, dan wafat pada 28 Desember 1795.

Tradisi Mataram dengan Putra Mahkota bergelar “Mangkunegara” dimulai oleh putra sulung Paku Buwono I yaitu RM. Suro kemudian menjadi R.M. Suryokusumo dan sebagai putra mahkota menjadi Kanjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara ‘Kartasura”.

Ketika putra mahkota sudah menjadi raja Mataram, nama dan gelar seperti R.M. Suro, R.M. Suryokusumo dan Mangkunegara dikenakan pada putra sulungnya juga sehingga Pangeran Mangkunegara yang dibuang ke Ceylon ini adalah putra mahkota kerajaan Mataram.

Ketika penggeseran kedudukan putra mahkota dilakukan oleh kelompok RM.suryadi (kelak menjadi Paku Buwono II), kedudukan Pangeran Mangkunegara tidak dilepas tetapi kata “arya” diganti menjadi “Anom” yang artinya muda.Penggantian ini sekaligus menggeser kedudukan putra mahkota yang harus bersyarat “Arya” yaitu keprajuritan menjadi non keprajuritan alias awam soal kemiliteran. Mangkunegara pun diubah menjadi Hamengkunegara.

Penggeseran kedudukan putra mahkota tidak menghilangkan jabatan di kerajaan karena di Mataram Pangeran Mangkunegara tetap menjabat sebagai penasihat kerajaan. Keberadaan Mangkunegara sebagai penasihat ini pun oleh kelompok lawan lawan poltiknya masih diupayakan untuk menjegal dan lebih jauh melenyapkan karena sebagai waris sah yang tergeser bisa diprediksikan diwaktu waktu mendatang bakal menjadi bom waktu yang siap meledak.

Keberhasilan lawan-lawan Mangkunegara dalam menyingkirkan putra mahkota sah ini selanjutnya akan dibayar mahal oleh Mataram yang begitu saja rela menyerahkan tampuk pemerintahan pada raja yang lemah dan peragu. Hohendorf sendiri sebagai kepala garbnisun di Surakarta pernah menyampaikan kepada Sunan (PB II) bahwa Mataram selama dalam pemerintahannya tidak pernah stabil dan terus digoyang oleh ketidak stabilan kerajaan.

Pada satu sisi pernyataan kepala garnisun belanda itu juga kontroversial berhubung dia sendiri sebagai seorang militer Belanda melihat sesuatu yang stabil adalah kejelekan yang tidak menguntungkan kantong pribadinya.

Dari peristiwa penggeseran putra mahkota Mataram ini, sekilas sudah dapat dicatat adanya satu kelompok yang akan bertahan sampai pada batas limit perjuangan.

Target Mataram yang utuh dan tidak terbagi gagal dipertahankan tetapi Mataram yang muda dan utuh berhasil diperjuangkan karena kemudian menjelma menjadi Mangkunegaran (mengikuti nama putra mahkota Mataram; Mangkunegara). Mataram yang muda berada berada ditangan raja sedang mataram yang muda berada ditangan putra mahkota.

Mataram yang tua akhirnya menerima nasib dibagi menjadi dua yang sama saja menamatkan keberadaannya sedang mataram yang muda bertahan dan menjelma menjadi Mangkunegaran.

Istana/Praja Mangkunegaran

Bagian depan Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran.


Dalem Ageng, yang merupakan bangunan induk Istana Mangkunegaran secara keseluruhan.


Beranda Dalem (Pracimayasa), ruang keluarga Mangkunegaran.


Bagian depan Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran.


Surya Sumirat (lambang Praja Mangkunegaran)


Bendera Praja Mangkunegaran


Warna resmi bendera Mangkunagaran adalah hijau dan kuning emas serta dijuluki pareanom (pare muda), yang dapat dilihat pada lambang, bendera, pataka, serta samir yang dikenakan abdi dalem atau kerabat istana.

Wilayah Mangkunegaran 1830 (warna merah muda berada sebelah tenggara)


Legiun Mangkunegaran, prajurit resmi Mangkunegaran


KGPAA Mangkunegara IX, penguasa Praja Mangkunegaran saat ini.


Dalam percaturan politik Jawa mau tidak mau dua keraton lain dan Belanda harus menerima Mangkunegaran sebagai neraca keseimbangan poltik. Meski posisi diatas kertas kedudukan Mangkunegaran di posisikan sebagai yang di bawah kerajaan karena status kadipaten (sesuai wilayah putra mahkota kerajaan) akan tetapi defacto politik tidak hanya show dan pamer kemegahan semata. Politik dan kekuasaan adalah perwahyuan yang harus dijaga sekaligus kecerdasan dan skill dalam permainan. Barang siapa tidak mampu dalam permainan itu sejarah tetap akan mencatat prestasi masing-masing kerajaan.

K.G.P.A.A. Mangkunegara I
Adipati Praja Mangkunegaran
Masa jabatan:  28 Desember 1757
(Sabtu Legi 5 Jumadilawal 1682 Alip) s/d 23 Desember 1795
Digantikan oleh: Mangkunegara II  

Silsilah:


1. Maulana Magribi Sinare ing Parangkusumo
( Ki Supo dalam Kitab Kuno Sunan Tembayat 1443 saka, beliau adik ipar Sunan Kalijaga).

|

2. Jaka Tarub / Ki Jaka Supa Anom + Dewi Nawang Wulan

|

3. Nawangsih + Bondan Kejawen /Lembu Peteng Putra Prabu Brawijaya V

|

4. Kyai Ageng Getas Pendawa

|

5. Kyai Ageng Sela / Kyai Ageng Ngabdulrrahman + Nyai Ageng Sela binti Ki Ageng Ngerang I

|

6. Kyai Ageng Anis

|

7. Kyai Ageng Pemanahan / Kyai Ageng Mataram

|

8. Panembahan Senopati Mataram + Ratu Mas Waskita Jawi Pati

|

9. Sunan Hanyakrawati / Sunan Sedo Ing Krapyak + Ratu Mas Adi Binti Pangeran Benowo

|

10. Sultan Agung Hanyakrakusuma ( 1613 – 1645 )

|

11. Sunan Amangkurat I / Sunan Amangkurat Tegal Arum

|

12. Paku Buwono I atau Pangeran Puger + Ratu Paku Buwono binti Tumenggung Balitar Demak

|

13. Pangeran Mangkunegoro / KPA Mangkunegara

|

14. Pangeran Samber Nyawa / Raden Mas Said / KGPAA Mangkunegara I

 

Penguasa Mangkunegaran, berdasarkan perjanjian pembentukannya, berhak menyandang gelar Adipati (secara formal disebut Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang) tetapi tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan. Mangkunegaran merupakan Kadipaten, sehingga posisinya lebih rendah daripada Kasunanan dan Kasultanan. Status yang berbeda ini tercermin dalam beberapa tradisi yang masih berlaku hingga sekarang, seperti jumlah penari bedaya yang tujuh, bukan sembilan seperti pada Kasunanan Surakarta. Namun, berbeda dari Kadipaten pada masa-masa sebelumnya, Mangkunegaran memiliki otonomi yang sangat luas karena berhak memiliki tentara sendiri yang independen dari Kasunanan.

Pada awal pendiriannya, struktur pemerintahan masih sederhana, mengingat lahan yang dikuasai berstatus “tanah lungguh” (apanage) dari Kasunanan Surakarta. Ada dua jabatan Pepatih Dalem, masing-masing bertanggung jawab untuk urusan istana dan pemerintahan wilayah. Selain itu, Mangkunagara I sebagai Adipati Anom membawahi sejumlah Tumenggung (komandan satuan prajurit).

Pada masa pemerintahan Mangkunegara II, situasi politik berubah. Status kepemilikan tanah beralih dari tanah lungguh menjadi tanah vazal yang bersifat diwariskan turun-temurun. Hal ini memungkinkan otonomi yang lebih tinggi dalam pengelolaan wilayah. Perluasan wilayah juga terjadi sebanyak 1500 karya. Perubahan ini membuat diubahnya struktur jabatan langsung di bawah Adipati Anom dari dua menjadi tiga, dengan sebutan masing-masing adalah Patih Jero (Menteri utama urusan domestik istana), Patih Jaba (Menteri Utama urusan wilayah), dan Kapiten Ajudan (Menteri urusan kemiliteran).

Semenjak pemerintah Mangkunegara III, struktur pemerintahan menjadi tetap dan relatif lebih kompleks. Raja (Adipati Anom) semakin mandiri dalam hubungan dengan Kasunanan. Wilayah praja dibagi menjadi TIGA KABUPATEN ANOM yaitu KARANGANYAR, WONOGIRI, dan MALANGJIWAN yang masing-masing dipimpin oleh seorang Wedana Gunung. Ketiga Wedana Gunung merupakan bawahan seorang Patih. Patih bertanggung jawab kepada Adipati Anom. Di bawah setiap Kabupaten Anom terdapat sejumlah Panewuh.

Penyatuan administrasi bulan Agustus 1873 membuat pemerintahan otonom Mangkunegaran harus terintegrasi dengan pemerintahan residensial dari pemerintah Hindia Belanda. Wilayah Mangkunegaran dibagi menjadi EMPAT KABUPATEN ANOM yaitu KOTA MANGKUNEGARAN, KARANGANYAR, WONOGIRI, dan BATURETNO yang masing-masing membawahi desa/kampung.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Mangkunegara VIII (penguasa pada waktu itu) menyatakan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada September1946. Setelah terjadi revolusi sosial di Surakarta (1945-1946), Mangkunegaran kehilangan kedaulatannya sebagai satuan politik. Walaupun demikian Pura Mangkunegaran dan Mangkunegara masih tetap menjalankan fungsinya sebagai PENJAGA BUDAYA. Setelah Mangkunegara VIII mangkat ia digantikan oleh putra ke duanya yang bergelar Mangkunegara IX.

Para penguasa Mangkunegaran tidak berhak dimakamkan di Astana Imogiri melainkan di Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, yang terletak di lereng Gunung Lawu. Perkecualian adalah lokasi makam Mangkunegara VI, yang dimakamkan di tempat tersendiri.

Rujukan :

Ada Upaya Penggiringan Reshuffle Kabinet Dibalik Polemik Sekolah Lima Hari???

Ada Upaya Penggiringan Reshuffle Kabinet Dibalik Polemik Sekolah Lima Hari???

Mendikbud Prof Dr Muhadjir Effendi


Presiden Joko Widodo akhirnya menghentikan implementasi Peraturan Menteri No. 23 Tahun 2017 mengenai kebijakan sekolah lima hari (SLH). Hal ini menyusul pro-kontra yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Tapi bukan berarti kebijakan itu berhenti, karena Jokowi justru akan meningkatkan regulasi itu dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) yang berisi aspirasi masyarakat mengenai kebijakan lima hari sekolah tersebut.

Publik Sengaja Disesatkan, Mendikbud Tidak Menggagas “Full Day School”

Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah menyatakan beberapa sikap terkait Polemik kebijakan Kemendikbud RI ini. “Setelah berdialog dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah menemukan fakta, Mendikbud tidak pernah membuat kebijakan dengan nomenklatur “Full Day School”, jelas Dahnil Anzar.

Dahnil menyayangkan narasi seolah akan didorong full day school terus diproduksi sehingga muncul perspektif Mendikbud mendorong sekolah satu Harian penuh. Jadi, publik sengaja disesatkan oleh berbagai narasi-narasi yang cenderung politis penuh dengan upaya membunuh karakter Mendikbud.

(http://sangpencerah.id/2017/06/pemuda-muhammadiyah-publik-sengaja-disesatkan-mendikbud-tidak-menggagas-full-day-school/)

Tak Ada Pembatalan Sekolah 5 Hari, Hanya Perbaikan

Sekretaris Kabinet Pramono Anung menegaskan pemerintah tidak pernah membatalkan kebijakan full day school yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.23 Tahun 2017. Ia berkata, apa yang ada hanyalah perbaikan.

“Diperbaiki (bukan dibatalkan). Intinya karena peraturan menteri masih menimbulkan pro dan kontra, makanya diperbaiki. Memperbaiki permen kan tidak apa-apa,” ujar Pramono saat dicegat di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa, 20 Juni 2017.

Sebagaimana diketahui, kemarin ramai diberitakan bahwa pemerintah membatalkan peraturan full day school karena maraknya kritik terhadap aturan itu. Padahal, dalam jumpa pers terkait kebijakan itu, tak sekalipun disebutkan kata batal.

Di luar jumpa pers perihal full day school, pemerintah pun tidak mengamini adanya pembatalan. Juru bicara Istana Kepresidenan, Johan Budi Sapto Pribowo, kemarin hanya menyatakan bahwa Permen full day school tidak akan diberlakukan.

Pramono melanjutkan bahwa permintaan kebijakan full day school diperbaiki, bukan dibatalkan, justru datang dari Presiden Joko Widodo. Menurut Presiden Joko Widodo, jika aturan itu memang sebaiknya diterapkan, maka perlu dilakukan evaluasi, pendalaman, pematangan, agar tidak lagi menimbulkan pro dan kontra.

“Presiden Joko Widodo, secara langsung, meminta kebijakan full day school untuk dievaluasi,” ujar Pramono. Pramono menambahkan bahwa full day school bukan hal yang baru diketahui Presiden Joko Widodo akhir-akhir ini, melainkan sudah diketahui dan dirapatkannya sejak bulan Februari.

(http://sangpencerah.id/2017/06/sekretaris-kabinet-tak-ada-pembatalan-sekolah-5-hari-hanya-perbaikan/)

Kelompok Tertentu Berusaha Memojokkan Pak Muhadjir?

Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, menilai, permendikbud 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang disesatkan menjadi “full Day School” tersebut oleh beberapa pihak, berorientasi pada implementasi “Penguatan Pendidikan Karakter”, justru, Bagi Kami, Mendikbud Sedang berusaha melaksanakan visi revolusi mental yang menjadi visi utama Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Kekhawatiran bahwa, permendikbud tersebut Akan merugikan madrasah Diniyah, justru tidak beralasan, melalui Permendagri tersebut, Madrasah Diniyah memiliki kesempatan lebih luas dikoneksikan dengan Sekolah Umum sehingga MI bisa berkembang bersamaan dengan Sekolah Umum mencerdaskan anak bangsa khususnya, dalam upaya penguatan karakter.

“Mendikbud Prof Dr Muhadjir Effendi yang Kami kenal adalah orang yang tegar dan Tegas dengan pendirian beliau. Bila Ikhtiar ikhlas beliau menindaklanjutkan instruksi Presiden untuk menguatkan Pendidikan karakter Untuk merealisasikan visi revolusi mental masih belum dipahami sebagian kelompok tertentu sehingga memunculkan istilah dan narasi yang dianggap menyesatkan”, ujar Dahnil Anzar.

“Meski Sudah dijelaskan secara langsung, dan sudah dapat diterima dengan baik melalui dialog. Tentu beliau Akan bersikap dengan proporsional dan tegas, Kami yakini Jabatan menteri bukan tujuan beliau dan kapan saja beliau pasti siap melepaskannya. Memberikan kontribusi mencerdaskan dan mendorong perubahan akhlak anak bangsa adalah tujuan utama beliau”, lanjutnya.

(http://sangpencerah.id/2017/06/kelompok-tertentu-berusaha-memojokkan-pak-muhadjir/)

PP Pemuda Muhammadiyah Keluarkan 4 Sikap terkait Kebijakan Sekolah 5 Hari

Sikap Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah terkait Polemik kebijakan Kemendikbud RI :
1. Setelah berdialog dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah menemukan fakta, Mendikbud tidak pernah membuat kebijakan dengan nomenklatur “Full Day School”, namun di Sayangkan narasi Seolah Akan didorong full day school terus diproduksi sehingga muncul perspektif mendikbud mendorong Sekolah satu Harian penuh. Jadi, publik Sengaja disesatkan oleh berbagai narasi-narasi yang cenderung politis penuh dengan upaya membunuh karakter Mendikbud.

2. Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, menilai, permendikbud 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang disesatkan menjadi “full Day School” tersebut oleh beberapa pihak, berorientasi pada implementasi “Penguatan Pendidikan Karakter”, justru, Bagi Kami, Mendikbud Sedang berusaha melaksanakan visi revolusi mental yang menjadi visi utama Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

3. Kekhawatiran bahwa, permendikbud tersebut Akan merugikan madrasah Diniyah, justru tidak beralasan, melalui Permendagri tersebut, Madrasah Diniyah memiliki kesempatan lebih luas dikoneksikan dengan Sekolah Umum sehingga MI bisa berkembang bersamaan dengan Sekolah Umum mencerdaskan anak bangsa khususnya, dalam upaya penguatan karakter.

4. Mendikbud Prof Dr Muhadjir Effendi yang Kami kenal adalah orang yang Tegar dan Tegas dengan pendirian beliau. Bila Ikhtiar ikhlas beliau menindaklanjutkan instruksi Presiden untuk menguatkan Pendidikan karakter Untuk merealisasikan visi revolusi mental masih belum dipahami sebagian kelompok tertentu sehingga memunculkan istilah dan narasi yang dianggap menyesatkan, Meski Sudah dijelaskan secara langsung, dan Sudah dapat diterima dengan baik melalui dialog. Tentu beliau Akan bersikap dengan proporsional dan tegas, Kami yakini Jabatan menteri bukan tujuan beliau dan kapan saja beliau pasti siap melepaskannya. Memberikan kontribusi mencerdaskan dan mendorong perubahan akhlak anak bangsa adalah tujuan utama beliau.

(http://sangpencerah.id/2017/06/pp-pemuda-muhammadiyah-keluarkan-4-sikap-terkait-kebijakan-sekolah-5-hari/)

PP Muhammadiyah Keluarkan 4 Sikap Resmi

Atas nama PP Muhammadiyah, pada 19 Juni 2017 bakda maghrib, melakukan konperensi pers di Universitas Muhammadiyah Surakarta menyampaikan sikap resmi sebagai berikut :

1. Berkaitan dengan kebijakan Mendikbud yg mengeluarkan Permendikbud No. 23 Tahun 2017 ttg pelaksanaan pendidikan karakter melalui lima hari sekolah maka PP Muhammadiyah mendukung sepenuhnya kebijakan Mendikbud sekaligus mendukung Mendikbud dalam menjalankan tugasnya sampai berhasil. Kami yakin Mendikbud Prof Muhadjir Effendy telah mengambil kebijakan yang benar dan tepat dalam mengimplementasikan kebijakan Presiden untuk keberhasilan pendidikan karakter. Mendikbud juga dikenal sebagai ahli pendidikan yang basis akademiknya kuat dan pengalamannya di dunia pendidikan luas, sehingga berada di jalur kebijakan yg kuat, taat asas, dan konstitusional.

2. Berharap agar Presiden memberikan penguatan, memback-up, melindungi,   dan mendukung sepenuhnya kepada Mendikbud atas kebijakan yg telah diambil karena pada dasarnya kebijakan tersebut menjalankan kebijakan pendidikan karakter yang menjadi komitmen pemerintahan Jokowi-JK untuk diimplementasikan. Jika dirujuk pada Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tampak sekali kuatnya dasar aturan dan pertimbangan yg dijadikan pijakan, bahwa apa yg dilakukan Mendikbud sepenuhnya melaksanakan kebijakan Presiden.

3. Jika ada wacana atau rencana menaikkan Permendikbud menjadi Perpres maka seyogyanya untuk menyempurnakan dan memperkuat kebijakan yg  telah diambil Mendikbud, sebaliknya tidak  mengaburkan, memperlemah, dan membatalkan.

4. Kebijakan pendidikan di Indonesia perlu lebih dinamis dan progresiif untuk penguatan pendidikan karakter dan membangun daya saing bangsa agar tidak kalah oleh bangsa-bangsa lain, karenanya apa yg telah diambil kebijakan oleh Mendikbud tsb dapat menjadi bagian dari revitalisasi pendidikan nasional menghadapi era persaingan global.

Surakarta, 19 Juni 2017

Ketua Umum PP Muhammadiyah

Haedar Nashir

(http://sangpencerah.id/2017/06/polemik-sekolah-5-hari-masuk-pp-muhammadiyah-keluarkan-4-sikap-resmi/)

Ada Upaya Penggiringan Reshuffle Kabinet?

Pemerhati Kebijakan Publik Ahmad Nur Hidayat menilai kritik kelompok tertentu terhadap kebijakan Mendikbud Muhadjir Effendy tentang program Penguatan Pendidikan Karakter melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah berujung ke arah politis.

Diriya menganalisis pemberitaan di media massa, terdapat pembentukan dan penggiringan opini negatif yang cukup massif.

“Jadi, sudah bukan lagi menyangkut program Penguatan Pendidikan Karakter secara substansial sebagai implementasi Nawacita Jokowi-JK, melainkan kelompok tertentu menggiring menjadi isu politis,” ujar pegiat Suluh Nusantara ini, Jumat (16/6/2017).

Salah satu isu politis yang muncul adalah segelintir kelompok tertentu meminta Presiden mereshuffle Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan alasan kebijakan Mendikbud Muhadjir Effendy meresahkan masyarakat.

Mantan Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah itu menilai, kelompok-kelompok tersebut belum memahami secara utuh, menyeluruh, dan komprehensif terhadap program Pendidikan Penguatan Karakter sebagai bentuk komitmen dan janji Jokowi-JK dalam buku “Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian”.

Sekolah lima hari sesungguhnya bukan lagi menjadi barang baru. Bisa ditanyakan ke Bupati Purwakarta bagaimana pelaksanaan sekolah lima hari disana yang sudah dijalankan sejak tahun pelajaran 2011/2012 dengan konsep Pendidikan Tematik ”Atikan Pendidikan Purwakarta Istimewa”.

Di Bandung juga telah berjalan sejak tahun 2010.

“Tidak ada program lima hari sekolah tersebut yang meresahkan masyarakat. Kalau belum mendapatkan informasi secara utuh kan bisa didiskusikan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengingat kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter juga melibatkan kementerian lain seperti Kementerian Agama,” tegas Ahmad.

Ahmad mengkhawatirkan ada pesanan tertentu untuk menciptakan opini publik terhadap wacana desakan reshuffle Mendikbud Muhadjir Effendy yang dialamatkan kepada Presiden Jokowi.

“Paska dilantik sebagai Menteri, Mendikbud Muhadjir Effendy memang salah satu Menteri yang gesit dan fast response serta patuh dalam menjalankan dan mengimplementasikan Visi-Misi Presiden di lembaga yang dipimpinnya. Wajar jika banyak orang yang iri terhadap beliau,” pungkas Ahmad‎.

(http://m.tribunnews.com/nasional/2017/06/16/pemerhati-kebijakan-publik-awas-ada-upaya-penggiringan-reshuffle-kabinet)