Apa Kabar Pak Tito?

Tito Karnavian – gatra.com

Beliau dilahirkan dengan nama lengkap Muhammad Tito Karnavian pada tanggal 26 oktober 1964 di Palembang, Sumatera Utara. Ayahnya bernama H Achmad Saleh dan ibunya bernama Hj Kardiah yang bekerja sebagai bidan.

Masa Kecil

Ia mulai mengenyam pendidikan di SD Xaverius 4 Palembang, dan kemudian setelah itu masuk di SMP Xaverius 2 Palembang. Tamat dari SMP, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 2 Palembang.

Sewaktu bersekolah, Tito Karnavian dikenal sebagai siswa yang cerdas. Terbukti saat ia ikut ujian perintis, ia berhasil lulus di banyak tes yang diadakan oleh lembaga negara dan universitas.

Lulus di Berbagai Test dan Masuk AKABRI

Ia berhasil lulus tes di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, lulus di kedokteran universitas Sriwijaya, ia juga lulus di jurusan HI (Hubungan Internasional) Universitas Gajah Mada dan lulus di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Ibunya mengharapkan Tito Karnavian dapat menjadi seorang dokter namun dari Tito kemudian lebih memilih masuk di AKABRI.

Di AKABRI, Tito Karnavian lulus pada tahun 1987 sebagai lulusan terbaik dan menerima penghargaan Bintang Adhi Makayasa. Di tahun yang sama, ia kemudian bertugas sebagai Perwira Samapta Polres Jakarta Pusat kemudian naik pangkat dan menjadi kanit reserse Polres Metro Jakarta Pusat hingga tahun 1991.

Di tahun itu juga Tito Karnavian kemudian menikah dengan Tri Suswati yang merupakan pacarnya ketika bersekolah di SMA Negeri 2 Palembang yang kemudian memberinya tiga orang anak.

Setelah itu ia kemudian naik jabatan menjadi wakapolsek seperti di Metro Senen Polres Metro Jakarta Pusat dan juga Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat.

Kemudian di tahun 1993, Tito Karnavian berhasil menyelesaikan pendidikan masternya (Master of Arts) di bidang Police Studies. Kemudian di tahun 1996, ia juga menyelesaikan pendidikannya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta sebagai lulusan terbaik.

Ia kemudian mendapatkan penghargaan Bintang wiyata Cendekia, di tahun itu juga, Tito kemudian menjabat sebagai Sespri Kapolda Metro Jaya, tidak lama kemudian, ia menjabat sebagai Kapolsek Metro Cempaka Putih Polres Metro Jakarta Pusat hingga tahun 1997.

Karena prestasinya yang cemerlang, tahun 1997 Tito Karnavian kemudian di promosikan sebagai Sespri (Sekretaris Pribadi Kapolri) hingga tahun 1999.

Sebelumnya di tahun 1998, Tito sempat menimba ilmu di Royal New Zealand Air Force Command & Staff College, Auckland, New Zealand dan juga memperoleh gelar Bachelor of Arts (B.A.) dalam bidang Strategic Studies di Massey University, New Zealand.

Menangkap Buronan Tommy Soeharto

Di masa reformasi, Tito Karnavian di rotasi di berbagai jabatan kepolisian di wilayah jakarta seperti Menjadi Kasat Serse Ekonomi Reserse Polda Metro Jaya dari tahun 1999 hingga tahun 2000 kemudian Kasat Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya hingga tahun 2002.

Disini Tito Karnavian berhasil menuai prestasi dengan menangkap buronan Hutomo Mandala Putra atau Tommy Suharto yang ketika itu menjadi Buronan atas kasus pembunuhan berencana Hakim Agung Syafiudin.

Ia kemudian mendapatkan kenaikan pangkat yang luar biasa dan tak lama berselang, Tito Karnavian kemudian dipindahkan ke Makassar dan mengisi jabatan sebagai Kasat Serse Tipiter Reserse Polda Sulawesi Selatan.

Namun tak lama kemudian, ia kembali di pindahkan ke Polda Metro Jaya untuk mengisi jabatan sebagai Koorsespri Kapolda Metro Jaya hingga tahun 2003.

Di tahun 2003, ia kemudian menjabat sebagai Kasat Serse Keamanan Negara Reserse Polda Metro Jaya. Kemudian di tahun berikutnya yaitu tahun 2004, Dibentuk Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 Anti Teror tahun oleh Kapolda Metro Jaya ketika itu Jenderal Firman Gani dan kemudian Tito Karnavian ditunjuk sebagai Kaden 88 Anti Teror Polda Metro Jaya yang saat itu berpangkat Ajun Komisaris Besar (AKBP).

Kepala Detasemen Khusus Anti Teror (Densus 88)

Bersama Tim Densus 88, Tito Karnavian berhasil menangkap teroris terkenal yaitu Dr. Azhari yang tewas tertembak di Malang pada tahun 2005. Dari peristiwa tersebut, Tito Karnavian kemudian naik pangkat menjadi Komisaris Besar Polisi.

Di tahun 2005, ia kemudian dipindahkan ke Serang, Banten dan menjabat sebagai Kapolres Serang Polda Banten. Namun tak lama kemudian, Tito Karnavian pindah tugas ke Mabes Polri dengan menjabat sebagai Kasubden Bantuan Densus 88 Anti Teror Bareskrim Polri dan Kasubden Penindak Densus 88 Anti Teror Bareskrim Polri di tahun 2006.

Setelah itu ia kemudian menjabat sebagai Kasubden Intelijen Densus 88 Anti Teror Bareskrim Polri dan berhasil menangkap tersangka kerusuhan Poso melalui Densus 88 Anti Teror. Hingga tahun 2009, tahun ia dipromosikan sebagai Kadensus 88 Anti Teror Bareskrim Polri hingga tahun 2010 dan berhasil menangkap teroris terkenal yaitu Noordin M Top.

Menjadi Kapolda Papua

Prestasinya yang bagus dalam menanggulangi teroris bersama Densus 88, Tito Karnavian kemudian dipromosikan sebagai Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di tahun 2011 hingga tahun 2012.

Selama hampir dua tahun BNPT, Tito Karnavian kemudian dipromosikan sebagai Kapolda Papua di tahun 2012, dan di tahun 2013, Tito Karnavian berhasil meraih gelar Ph.D di bidang Strategic Studies with interest on Terrorism and Islamist Radicalization di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapore dengan predikat magna cum laude. Ia menjadi Kapolda Papua hingga tahun 2014

Polda Metro Jaya

Tanggal 16 juli 2014, Tito Karnavian kemudian ditarik ke Mabes Polri dan kemudian menjabat sebagai Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran (Asrena) tahun 2015 dimana posisi tersebut merupakan salah satu jabatan bergengsi di Mabes Polri. Tak lama kemudian, Tito Karnavian kemudian dipromosikan sebagai Kapolda Metro Jaya.

Menjabat Sebagai Kapolri

Setahun kemudian Tito Karnavian kemudian ditunjuk sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di bulan Maret 2016 yang membuat pangkatnya naik menjadi Komisaris Jendral Polisi Bintang Tiga.

Tak  lama setelah itu, pertengahan tahun 2016 Presiden Joko Widodo kemudian menunjuk Tito Karnavian sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia atau Kapolri berpangkat bintang empat menggantikan Jenderal Polisi Badrodin Haiti yang pensiun.

Riwayat Pendidikan

  • SD Xaverius 4 di Palembang (1976)
  • SMP Xaverius 2 di Palembang (1980)
  • SMA Negeri 2 Palembang (1983)
  • Akademi Kepolisian (1987); Penerima bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan Akpol terbaik.
  • Master of Arts (M.A.) in Police Studies, University of Exeter, UK (1993)
  • Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1996); Penerima bintang Wiyata Cendekia sebagai lulusan PTIK terbaik
  • Royal New Zealand Air Force Command & Staff College, Auckland, New Zealand (Sesko) (1998)
  • Bachelor of Arts (B.A.) in Strategic Studies, Massey University, New Zealand (1998)
  • Sespim Pol, Lembang (2000)
  • Lemhannas RI PPSA XVII (2011) penerima Bintang Seroja sebagai peserta Lemhanas terbaik.
  • Ph.D in Strategic Studies with interest on Terrorism and Islamist Radicalization at S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapore (magna cum laude) (2013).

Penghargaan

  • Bintang Adhi Makayasa (lulusan terbaik Akpol) (1987)
  • Bintang Wiyata Cendekia (lulusan terbaik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta) (1996)
  • Kenaikan Pangkat Luar Biasa Mayor ke Ajun Komisaris Besar (2001)
  • Kenaikan Pangkat Luar Biasa Ajun Komisaris Besar ke Komisaris Besar (2005)
  • Penghargaan memimpin operasi anti teror di daerah konflik Poso Sulawesi Tengah (2007)
  • Kenaikan Pangkat Luar Biasa Komisaris Besar ke Brigadir Jenderal (2009)
  • Kenaikan Pangkat Luar Biasa Brigadir Jenderal ke Inspektur Jenderal (2011) (Penyesuaian kepangkatan BNPT)
  • Bintang Seroja Lulusan Terbaik Lemhanas PPSA 17 (2011)
  • Bintang Bhayangkara Utama dari Presiden RI
  • Bintang Bhayangkara Nararya
  • Bintang Bhayangkara Pratama dari Kapolri
  • Bintang Yudha Dharma Utama dari Panglima TNI
  • Bintang Eka Paksi Utama dari TNI AD
  • Bintang Jalasena Utama dari TNI AL
  • Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama dari TNI AU
  • Satyalencana Kesetiaan 8 Tahun
  • Satyalencana Kesetiaan 16 Tahun
  • Satyalencana Kesetiaan 24 Tahun
  • Satyalencana Dwidaya Sistha
  • Satyalencana Bhakti Buana
  • Satyalencana Bhakti Nusa
  • Satyalencana Darma Nusa
  • Satyalencana Dharma Phala
  • Satyalencana Jana Utama
  • Satyalencana Santi Dharma
  • Satyalencana Karya Bakti
  • Satyalencana Karya Satya
  • Satyalencana Seroja
  • Satyalencana Ksatria Tamtama
  • Satya Lencana Nararia
  • Satya Lencana UN Mission
  • The United Nation Medal (PBB)

Buku Karangan

  • Indonesian Top Secret: Membongkar Konflik Poso, Gramedia, Jakarta, 2008.
  • Regional Fraternity: Collaboration between Violent Groups in Indonesia and the Philippines, Bab dalam buku “Terrorism in South and Southeast Asia in the Coming Decade”, ISEAS, Singapura, 2009.
  • Bhayangkara di Bumi Cenderawasih, ISPI Strategic Series, Jakarta, 2013.
  • Explaining Islamist Insurgencies, Imperial College, London, 2014.

Harta dan Utang Kapolri Tito Karnavian (Saat Akan Menjadi Calon Kapolri)

Dari penelusuran LHKPN di situs http://acch.kpk.go.id‎, Kamis (16/6/2016), Tito terakhir kali melapor kekayaannya ke KPK pada 20 September 2014. Saat itu, jabatan yang masih diembannya, yakni Asisten Perencanaan Umum dan Anggaran Kapolri.

Dalam LHKPN di KPK, Tito yang masih menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu tercatat memiliki utang Rp 2,9 miliar lebih. Rincian utang itu dalam bentuk pinjaman barang sebesar Rp 2.917.785.000 dan dalam bentuk kartu kredit sebanyak Rp 76.000.000.

Total harta kekayaan lulusan terbaik Akademi Kepolisian angkatan tahun 1987 itu setelah dipotong utang‎ adalah senilai Rp 10.291.675.823. Nilai harta kekayaan itu terdiri dari harta tidak bergerak dan harta bergerak.

Berdasarkan data KPK, jumlah harta tidak bergerak eks Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri itu mencapai Rp 11.297.741.000. Rinciannya, berupa tanah seluas 2.500 meter persegi di Palembang, Sumatera Selatan, yang berasal dari hibah perolehan tahun 1996 dengan nilai jual objek pajak (NJOP) Rp 35.420.000. 

Kemudian, tanah seluas196 meter persegi di Kota Tangerang, Banten, yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 1999 dengan NJOP Rp 55.860.000. Lalu ada tanah dan bangunan seluas 600 meter persegi dan 36 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hasil sendiri dan hibah perolehan tahun 2004 dengan NJOP Rp 147.010.000.

Juga ada tanah dan bangunan seluas 191 meter persegi dan 180 meter persegi di Kota Jakarta Selatan yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2004-2013 dengan NJOP Rp 728.385.000. Tanah seluas 308 meter persegi di Kota Palembang yang merupakan hasil sendiri perolehan tahun 2004 dengan NJOP Rp 142.912.000. 

Kemudian, tanah dan bangunan seluas 720 meter persegi dan 100 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2004 dengan NJOP Rp 702.420.000. Tanah seluas 442 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2004 dengan NJOP Rp 205.088.000.

Tanah dan bangunan seluas 515 meter persegi dan 70 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hibah perolehan tahun 2008 dengan NJOP Rp 280.610.000. Tanah seluas 665 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hibah perolehan tahun 2008 dengan NJOP Rp 161.595.000.

Tanah dan bangunan seluas 307 meter persegi dan 207 meter persegi di Kota Jakarta Selatan yang berasal dari hasil sendiri dan hibah perolehan tahun 2003 dengan NJOP Rp 5.273.397.000. 

Terakhir bangunan seluas 120 meter persegi di Kota Singapura yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2008 dengan NJOP Rp 3.000.000.000.

Untuk harta bergerak yang dimiliki eks Kapolda Papua dan Kapolda Metro Jaya itu tercatat tidak banyak. Dalam LHKPN, Tito tercatat tidak memiliki alat transportasi, dan mesin lainnya. Di bidang peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan, pertambangan dan usaha lainnya juga tidak ada.

Sedangkan harta bergerak lainnya hanya Rp 160.000.000. Benda bergerak lainnya itu berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 1991-2014 dengan nilai jual Rp 10.000.000. Kemudian logam mulia yang berasal dari hasil sendiri dan hibah perolehan tahun 1998-2006 dengan nilai jual Rp 150.000.000. Tito juga memiliki giro setara kas lainnya Rp 1.827.719.823. 

Jadi total keseluruhan harta kekayaan Tito Karnavian sebelum utang yakni Rp 13.285.460.823. Sedangkan setelah dipotong utang sebanyak Rp 2.993.785.000, total harta kekayaannya menjadi Rp 10.291.675.‎823.

Amien Rais Minta Jokowi Pecat Kapolri Tito Karnavian

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais meminta Presiden Joko Widodo mencopot Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian. Permintaan ini dia sampaikan terkait klaimnya memiliki bukti mengenai kasus korupsi yang mengendap di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saya minta kepada Pak Jokowi agar Kapolri, Pak Tito Karnavian segera dicopot. Alasannya ini pelajari sendiri,” kata Amien di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/10). 

Langkah ini dia ambil karena merasa mencintai kepolisian yang bertugas menjaga keamanan nasional. Hanya saja, jika ada oknum bersalah maka harus segera diganti. Menurut Amien, masih banyak pimpinan di lembaga itu yang jujur dan mau mengabdi bagi bangsa dan negara. “Masih banyak untuk mengganti Pak Tito Karnavian,” kata Amien.

Sebelumnya, Amien menyatakan akan membeberkan fakta yang menarik perhatian ketika diperiksa polisi hari ini. Hal itu berhubungan dengan penegakan hukum dan kasus korupsi yang sudah lama di KPK.

Sekitar 300 advokat disebut mengiringi Amien selama pemeriksaan. Begitu pula dengan Persaudaraan Alumni (PA) 212. Ketua PA 212 Slamet Maarif mengatakan, setidaknya ada 500 anak buahnya yang bakal terlibat dalam aksi mengawal Amien.

Polisi sendiri mengerahkan 3.284 personel gabungan untuk mengamankan jalannya pemeriksaan Amien. “Pengalihan arus lalu lintas situasional di lapangan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di kantornya, Jakarta.

Komjen Baru Mau Jatuhkan Tito Karnavian?

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto menegaskan kondisi internal Polri sangatlah solid.

Ia juga membantah adanya tudingan jenderal bintang tiga yang ingin menjatuhkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Bantahan itu merujuk pada tudingan dari politisi PDIP Masinton Pasaribu.

Nggak ada, nggak ada. Nanti saya akan klarifikasi. Polri solid,” ujar Setyo, di Auditorium STIK-PTIK, Jl Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/10/2018).

Ia mengatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan terkait tudingan tersebut.

Namun demikian, ia menjamin internal Korps Bhayangkara solid dan tak ada yang ingin saling menjatuhkan.

Kecurigaan Masinton didasari dugaan bahwa Tito saat masih menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya menerima uang dari pengusaha daging impor Basuki Hariman (BH).

Bahkan, kabar yang beredar menyebut dua penyidik KPK dari Polri menyobek catatan keuangan Basuki tentang aliran uang ke pihak lain.

“Saya menduga itu tidak lepas dari skenario permainan politik untuk mendorong percepatan suksesi kepemimpinan di institusi Polri. Target utamanya adalah untuk mengganti Jenderal Polisi Tito Karnavian dari jabatan Kapolri,” kata Masinton, Minggu (14/10/2018).

Legislator PDIP itu juga menuturkan, salah satu celah untuk membusukkan nama Tito adalah dengan memainkan isu korupsi.

Menurutnya, isu itu tentu menarik perhatian publik.

“Saya membacanya sebagai permainan kolaborasi segitiga, saling melempar isu. Kolaborasi ini melibatkan kelompok pressure group, oknum sempalan di KPK dan oknum jenderal di Mabes Polri yang ngebet jadi Kapolri,” kata dia.

Menurut Masinton, oknum jenderal itu belum lama diangkat menjadi Komjen yang kerap melakukan pencitraan.

Ia juga menyebut oknum itu baru dilantik sebagai pejabat bintang tiga di Mabes Polri.

“Jadi si oknum ini sudah kasak-kusuk membangun lobi vertikal dan sembari melakukan pencitraan sebagai jenderal polisi yang bersih dan berintegritas,” katanya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, kembali menegaskan bahwa kasus suap yang diduga melibatkan nama Kapolri Jenderal Tito Karnavian adalah kabar hoaks.

Pernyataan Mahfud ini ditegaskan melalui sebuah cuitan melalui akun Twitternya, Minggu (14/10/2018) malam.

Mahfud juga memberikan alasannya tersebut dengan menghubungan rekaman CCTV di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Berikut penjelasan Mahfud:

Tantangan ini bkn utk sy tapi utk @KPK_RI .

Sy sih menganggap itu hoax krn katanya itu terekam di CCTV KPK

tapi KPK malah mengembalikan pelakunta ke Polri.

Kalau diketahui oleh KPK shrs-nya langsung ditindak oleh KPK sbg obstraction of justice,” tulis Mahfud.

Sebelumnya, Mahfud juga sempat menjawab pertanyaan seorang warganet terkait kasus yang menyeret nama Tito tersebut.

Argumentasinya kalo ini hoax apa Prof? Cuma kenal sebagai orang lurus? @mohmahfudmd,” tanya @AlghifAqsa, Rabu (10/10/2018).

Berikut jawaban Mahfud:

Pertanyaannya terbalik.

Di dalam hukum yg hrs mengajukan argumentasi adl yg mengajukan masalah.

Siapa yg mendalilkan dia yg hrs membuktikan.

Makanya kita menunggu argumen dan bukti2nya dari yg melempar isunya,” jawabnya.


Kasus suap yang diduga melibatkan Tito Karnavian ini muncul setelah Amien Rais membeberkan sejumlah fakta di Polda Metro Jaya. Kala itu Amien diperiksa oleh polisi sebagai saksi terkait kasus kebohongan Ratna Sarumpaet. Dia dengan terang-terangan meminta kepada Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) untuk mencopot Tito dari jabatannya sebagai Kapolri.


“Saya enggak akan panjang-panjang, saya minta ke Pak Jokowi supaya Pak Kapolri Tito segera dicopot, alasannya, Anda cari sendiri,” ujar Amien.


Meski demikian Ia tak menjelaskan secara jelas mengapa ia melontarkan permintaan tersebut.


“Saya yakin stok pimpinan Polri yang jujur dan mengabdi bangsa negara masih banyak untuk ganti Pak Tito.”


“Kita cinta polisi sebagai keamanan nasional tapi kalau ada oknum yang enggak benar harus diganti,” sebutnya seperti dikutip dari Kompas.com

Seratus Hari Sebagai Kapolri

Wartawan BBC Indonesia, Mehulika Sitepu, mewawancarai Tito Karnavian di Mabes Polri, Jakarta, hari Selasa (11/10) dan berikut petikannya.

Apa perkembangan selama menjabat Kapolri?

Saya mendapat informasi dari beberapa survei, kepercayaan publik kepada Polri cenderung sudah meningkat -memang tidak pada papan atas, di papan menengah, tapi tidak di bawah seperti dulu.

Salah satu pendorongnya, menurut beberapa survei, karena figur, harapan yang tinggi kepada Kapolri. Kedua karena ada perbaikan kinerja, seperti pengungkapan kasus-kasus: terorisme, penyanderaan dan lain lain. Tapi ada yang belum berhasil sepenuhnya. Terutama perubahan kultur.

Kultur artinya sikap arogansi, budaya yang masih korupsi, penggunaan kekerasan eksesif, ini masih ada. Karena paket-paket kebijakan yang saya buat masih sampai ke tingkat middle manager, belum sampai ke tingkat foot soldiersrank and file, para pelaksana di lapangan, para bintara.

Sehingga mereka belum menyadari bagaimana pentingnya public trust.

400 ribu orang polisi berbuat baik, satu anggota saja melakukan kekerasan, naik ke media, itu akan menghapuskan yang baik-baik tadi semua. Kita terus lakukan sosialisasi dan lakukan reward and punishment.

Seperti kemarin ada dua direktur narkoba yang kita anggap di pemeriksaan awal ada penyalahgunaan, saya langsung melakukan video conference dan saya ambil serah terima di depan saya dan itu seluruh Indonesia memonitor.

Tadi pagi saya memberi reward ke anggota Polres Bekasi yang berhasil adu tembak menangkap pelaku perampokan. Saya berikan ticket holder untuk sekolah artinya dia langsung masuk sekolah tanpa perlu tes.

Ini akan saya lakukan di Polres, Polsek, Polda, yang ada anggotanya berprestasi tingkat nasional saya akan datang langsung bila perlu ke Papua, NTT dan pulau-pulau lain. Saya ingin ciptakan iklim kompetisi yang sehat.

Apa langkah yang ditempuh terhadap WNI yang bergabung ISIS?

Masih banyak yang berangkat karena mereka menggunakan banyak trik dan jalur. Tapi kita juga menggunakan langkah-langkah di bandara-bandara, ada tim kita yang monitor kemungkinan rute-rute yang sudah kita tahu.

Yang kedua ada tim intelijen dan densus kita yang mengamati jaringan ini. Cukup banyak yang tertangkap ada puluhan dalam beberapa bulan terakhir ini. Yang lolos juga masih ada. Jumlahnya saya kira ada 500 yang sudah berangkat.

Bagaimana memastikan para pembersih terkait kasus pelecehan anak di Jakarta International School memang bersalah?

Prosesnya (hukum) telah dilakukan. Di persidangan, hukuman telah diberikan oleh para hakim berdasarkan persidangan yang adil. Polisi tidak dapat melakukan apapun untuk mengintervensi keputusan persidangan.

Mereka telah diputuskan bersalah. Jika mereka ingin hukumannya diganti, mereka dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi atau ke Mahkamah Agung atau ke Mahkamah Konstitusi. Polisi hanya melakukan penyelidikan.

Tuduhan terkait penyiksaan, hingga pembunuhan (seorang pembersih) polisi juga telah melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Tidak ada indikasi telah dilakukan penyiksaan atau pembunuhan namun orang tersebut salah meminum cairan pembersih dan dia tewas akibat racun.

Bagaimana kelanjutan kasus Dimas Kanjeng (Taat Pribadi)?

Saya kira kasus lebih utama dugaan penipuan karena dia dianggap bisa menggandakan uang, tapi pada praktiknya tidak bisa, bahkan uangnya katanya tidak jadi. Apapun alasannya namun secara logis, dan kata beberapa ahli, kita lebih mengarahkan kasusnya ke kasus penipuan.

Tindakan mengenai kebijakan bebas visa yang banyak disalahgunakan WNA?

Pertama, tentu kita lakukan penegakan hukum bersama imigrasi. Siapa yang salah, menyalahgunakan visa, tentu kita akan tindak.

Yang kedua, jika ternyata terjadi secara sistematis dan banyak sekali tentu kita akan memberikan masukan kepada pemerintah: imigrasi, Menkopolhukam, dan lain-lain, apakah mungkin kita melakukan langkah lain untuk menyetop itu, menekan potensi pelanggaran itu, misalnya dengan meninjau kembali salah satu opsinya.

Ada kemungkinan pasar narkoba beralih dari Filipina ke Indonesia?

Kita melihat angka kejahatan narkoba cukup banyak di Indponesia. Kita belum meneliti apakah ada jaringan dari sana yang ketangkap. Belum ada bukti.

Tapi tentu harus kita waspadai. Selama ini yang kita lihat banyak adalah jaringan dari Cina, transit di Malaysia dan masuk ke Indonesia. Shabu-shabu yang paling banyak itu.

Setelah Tito Karnavian Tidak Lagi Menjabat Kapolri

Istri Kapolri Jenderal Muhammad Tiro Karnavian, Tri Suswati, menyampaikan harapan keluarga terkait kegiatan suaminya setelah tidak lagi menjabat sebagai orang nomor satu di Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Secara garis besar, Suswati ingin agar suaminya memiliki banyak waktu untuk keluarganya dan menggeluti hasrat pendidikan yang dimilikinya.

“Beliau adalah orang profesional yang mencintai dunia pendidikan. Beliau sangat ingin bersekolah lagi, post-Phd ya, seusai menjadi Kapolri,” kata dia saat ditemui IDN Times di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (7/3/2018).

Istri Jenderal Muhammad Tiro Karnavian, Tri Suswati – idn times

1. Keluarga ingin Tito terjun di dunia pendidikan untuk menebar kebaikan

Menurut Suswati, harapan keluarga adalah agar mantan Kepala Densus 88 itu menjadi seorang tenaga pendidik yang bermanfaat bagi orang banyak.

“Kami keluarga mendukung sekali pak Tito menjadi pendidik, karena anak-anak saya lebih bangga kalau bapaknya jadi profesor. Memberikan pendidikan kepada banyak orang adalah kehormatan yang luar biasa, ya,” kata dia.

2. Keluarga ingin Tito menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga

Wanita yang menyukai kegiatan menyelam itu mengatakan, banyak waktu dan energi yang digunakan Tito untuk menjaga keamanan negara. Sebab itu, dia berharap agar sang suami memiliki keluangan waktu untuk menikmati detik-detik kehangatan kelurga, setelah tidak lagi menjabat Kapolri.

“Sekarang waktu buat anak dan keluarga sudah habis ya. Dan hampir tidak bisa enjoymenikmati hidup, karena 24 jam Beliau mendedikasikan dirinya kepada masyarakat. Hampir gak ada waktu buat keluarga,” tutur dia.

3. Suswati tidak ingin Tito terlibat di dunia politik

Menanggapi spekulasi adanya niat Tito terjun di dunia politik karena disebut-sebut ingin mengajukan pensiun dini sebelum masa baktinya habis pada 2022, Suswati menyatakan sang suami figur yang kurang tepat di ranah politik.

“Kita ini kayaknya orang eksakta, orang yang kalau A ya A, kalau B ya B. Gak bisa kita hari ini A besok B. Politik itu kan muter-muter, tidak ada kepastian. Jadi saya sebagai istri berharap kalau bisa jangan (terjun ke dunia politik). Tapi sebagai istri, pasti suami tahu apa yang lebih baik buat dia,” kata dia.

4. Tito curhat pada Suswati terkait ketegangan di tahun politik

Suswati mengaku sang suami pernah mencurahkan isi hatinya perihal tugas Kapolri yang semakin berat di tengah ketegangan situasi nasional, menyambut pesta demokrasi.

“Sekarang ini justru persentase mengamankan negeri agar tidak pecah belah akibat persaingan kekuasaan, memakan energi yang luar biasa. Padahal banyak sekali energi yang bisa disalurkan untuk hal yang bermanfaat. Jadinya banyak ya energi dan waktu (pak Tito) yang habis menghadapi hal-hal negatif kegiatan politik,” tutur dia.

5. Suswati tidak ambil pusing soal banyaknya meme yang menghina Tito

Menanggapi banyak pihak yang melecehkan suaminya melalui meme, Suswati tidak ambil pusing, dan menjadikan hal itu sebagai sarana menghapus dosa.

“Kita tidak masalah ya, karena memang di dunia, orang mempunyai kreatifitas sendiri dalam membuat meme, dan itu gak masalah. Orang-orang yang berbuat jelek begitu yang buat jahat dan fitnah akan mengurangi dosa kita. Semakin banyak perbuatan jahatnya, dosa kita semakin berkurang, kan enak,” tutur Tri.

sources:

https://www.biografiku.com/biografi-tito-karnavian-profil-biodata-kapolri/

https://m.liputan6.com/amp/2533090/mengintip-harta-dan-utang-calon-kapolri-tito-karnavian

https://amp.katadata.co.id/berita/2018/10/10/amien-rais-minta-jokowi-pecat-kapolri-tito-karnavian

http://makassar.tribunnews.com/amp/2018/10/15/komjen-baru-mau-jatuhkan-kapolri-jenderal-tito-karnavian-berikut-penjelasan-kadiv-humas

https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/10/161011_indonesia_100_hari_tito

https://www.idntimes.com/news/indonesia/amp/vanny-rahman/ini-curhatan-sang-istri-setelah-tito-karnavian-tidak-lagi-menjabat-kapolri

Siapakah Cak Nun?

Source : Good News From Indonesia on Twitter: “[QUOTE] Salah satu kutipan pemikiran Emha Ainun Nadjib”

Emha Ainun Nadjib mempunyai nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib. Pada awal kepenyairannya, ia menuliskan namanya dalam karyanya dengan MH Ainun Nadjib. Lama-lama ejaannya diubah menjadi Emha sehingga ia lebih dikenal dengan nama Emha Ainun Nadjib. Dia dikenal sebagai penyair, dramawan, cerpenis, budayawan, mantan pelukis kaligrafi (pelukis terkenal), dan penulis lagu.

Putra keempat dari lima belas bersaudara ini lahir di Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 dari pasangan M.A. Lathief dan Halimah. Walau ayahnya, Muhammad Lathief, memimpin lembaga pendidikan yang mengelola TK sampai SMP, ia memilih masuk sekolah dasar negeri di desa tetangga karena malu belajar di rumah sendiri. Setamat SD, ia melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo yang tak pernah dirampungkannya. Emha dikeluarkan dari pesantren karena dituduh menjadi penggerak aksi santri untuk berdemonstrasi menentang para guru. Setelah dikeluarkan dari pesantren, ia terpaksa harus belajar kepada ayahnya sampai memperoleh ijazah SMP kemudian, ia melanjutkan pendidikannya ke SMA (jurusan Paspal) Muhammadiyah I, Yogyakarta. Setelah tamat SMA, ia kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (hanya empat bulan atau tidak tamat) karena pada pertengahan 1974 ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas hingga meninggal.

Dia pernah menjadi redaktur kebudayaan harian Masa Kini (sampai 1 Januari 1977) dan memimpin Teater Dinasti, Yogyakarta. Dia juga pernah menjabat Sekretaris Dewan Kesenian Yogyakarta. Ia ikut menangani Yayasan Pengembangan Masyarakat Al-Muhammady di Jombang yang bergerak di bidang pendidikan, sosial ekonomi, dan sosial budaya. Di sana pula ia membentuk “Komunitas Padhang Mbulan” pada awal tahun 1995 sebagai kelompok pengajar. Dia juga berkiprah dalam Yayasan Ababil di Yogyakarta yang menyediakan tenaga advokasi pengembangan masyarakat dan penciptaan tenaga kerja.

Dia menikah dengan Neneng Suryaningsih, seorang penari yang berasal dari Lampung tahun 1978. Neneng mengenal Emha ketika sama-sama terjun di Teater Dinasti, Yogyakarta. Tahun 1979 mereka dikaruniai anak laki-laki yang dinamai Sabrang Mawa Damar Panuluh. Perkawinan mereka tidak bertahan lama dan akhirnya bercerai. Tahun 1995 Emha menikah dengan Novia Kolopaking.

Dia tertarik pada dunia penulisan, terutama puisi dan esai, sejak meninggalkan pondok pesantren Gontor dan melanjutkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah I. Tulisannya tersebar di majalah Tempo, Basis, Horison, Tifa Sastra, Mimbar, Pandji Masjarakat, Budaja Djaja, Dewan Sastera(Malaysia), dan Zaman. Selain itu, karyanya juga tersebar di surat kabar Republika, Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, Masa Kini, Berita Yudha, Haluan, Suara Karya, Suara Pembaharuan, dan Surabaya Post. Ia banyak menulis rubrik kolom di berbagai koran dan majalah yang kemudian melahirkan buku kumpulan esainya dalam soal budaya dan sosial.

Tahun 1975 ia ikut Festival Puisi 1975 di Jakarta dan diundang dalam Festival Puisi Asean 1978. Dia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984), Festival Horizonte >III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985), serta sejumlah pertemuan sastra dan kebudayaan lain. Terakhir ia aktif dalam komunitas Kiai Kanjeng yang mementaskan sejumlah dramanya di berbagai kota. Pembacaan puisi dan pementasannya pernah dicekal penguasa Orde Baru di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebagai penyair muda, ia bergabung dengan kelompok diskusi dan studi sastra yang dipimpin Umbu Landu Paranggi, Persada Studi Klub (PSK), di bawah Mingguan PeloporYogyakarta. tahun 1970. Mula-mula ia menulis puisi di harian Masa Kini dan Berita Nasionalserta di majalah Muhibbah (terbitan UII Yogyakarta) dan menulis cerpen di Minggu Pagi dan MIDI. Setelah beberapa puisinya dimuat dalam Basis, ia banyak menerbitkan puisinya di media massa terbitan Jakarta, seperti Horison. Karena tidak puas hanya menghasilkan sajak dan cerpen ringan, ia mulai menulis esai, kritik drama, resensi film, dan pembicaraan mengenai pameran lukisan. Dalam tulisan-tulisannya ia menggunakan nama samaran Joko Umbaran atau Kusuma Tedja.

Bukunya yang sudah terbit (1) “M” Frustasi dan Sajak-Sajak Cinta (kumpulan puisi, 1975); (2) Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (kumpulan puisi, 1978) memenangi Hadiah Sayembara Penulisan Puisi Majalah Tifa Sastra 1977; (3) Nyanyian Gelandangan (kumpulan puisi, 1982); (4) Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (kumpulan esai, 1980); (5) 99 untuk Tuhan (kumpulan puisi, 1980); (6) Syair Lautan Jilbab (kumpulan puisi, 1989); (7)Suluk Pesisiran (kumpulan puisi, 1989, Bandung: Mizan); (8) Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan (kumpulan esai, 1985); (9) Sastra yang Membebaskan (kumpulan esai, 1984); (10) Cahaya Maha Cahaya(kumpulan puisi, 1991); (11) Yang Terhormat Nama Saya (kumpulan cerpen, 1992); (12)Slilit Sang Kiai (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1991); (13) Markesot Bertutur (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1993, Bandung: Mizan); (14) Secangkir Kopi Pahit (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1991); (15) Markesot Bertutur Lagi (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1994, Bandung: Mizan); (16) Arus Bawah (novel, 1995); (17) Sesobek Buku Harian Indonesia (kumpulan puisi, 1993); (18)Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajud Cinta Seorang Hamba (kumpulan puisi, 1990, Bandung: Mizan); (19) Secangkir Kopi Jon Parkir (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1992, Bandung: Mizan); (20) Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1995); (21) Surat kepada Kanjeng Nabi(kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1996); (22) Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1994); (23) Tuhan pun “Berpuasa” (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1997), dan Demokrasi La Raiba Fih (kumpulan esai, Kompas, 2010).

Karyanya yang berbentuk cerpen, antara lain adalah (1) “Ambang” dalam Horison No. 1 Tahun 1978; (2) “Tangis” dalam Horison No. 11—12 Tahun 1978; (3) “Di Belakangku” dalam Horison No. 11 Tahun 1979; (4) “Kepala Kampung” dalam Horison No. 10 Tahun 1979; (5) “Lingkaran Dinding” dalam Horison No. 9 Tahun 1979; (6) “Mimpi Istriku” dalam HorisonNo. 9 Tahun 1979; (7) “BH” dalam Horison No. 6 Tahun 1980; (8) “Ijasah” dalam Horison No. 7 Tahun 1980; (9) “Jabatan” dalam HorisonNo. 11 Tahun 1980; (10) “Jimat” dalam Horison No. 7 Tahun 1980; (11) “Mimpi Setiap Orang” dalam Horison No. 5 Tahun 1980; (12) “Podium” dalam Horison No. 6 Tahun 1980; (13) “Seorang Gelandangan” dalam HorisonNo. 1 Tahun 1980; (14) “Stempel” dalam Horison No. 4 Tahun 1980; dan (15) “Luber” dalam Horison No. 10 Tahun 1981.

Selain menulis novel dan cerpen, ia juga menulis puisi dalam majalah atau surat kabar, seperti (1) “Malam” dalam Pandji MasjarakatNo. 62 Tahun 1970; (2) “Pagi” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (3) “Senja” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (4) “Sepi” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (5) “Suara” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (6) “Aku telah Terlempar Kembali Jadi Manusia, Tuhanku” dalam Pandji Masjarakat No. 84 Tahun 1971; (7) “Ketika Mendengar Keagungan yang Mengalir” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (8) “Pada Akhirnya Aku Kembalikan Diriku kepada-Mu, Tuhanku” dalam Pandji Masjarakat No. 84 Tahun 1971; (9) “Sehabis Sholat, Suatu Malam” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (10) “Sempurnalah Rindu Diriku Malam Ini, Tuhanku” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (11) “Seperti Mimpi-Mimpi Abstraksi” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (12) “1 Syawal 1392 IIII” dalam Pandji Masjarakat No. 92 Tahun 1971; (13) “Di Matamu” dalam Mimbar No. 28 Tahun 1972; (14) “Tidak Sewajarnya, Hari Ini” dalam Mimbar No. 28 Tahun 1972; (15) “Bisik” dalam Basis No. 2 Tahun 1973; (16) “Lipu” dalam Basis No. 2 Tahun 1973; (17) “Malam di Pegunungan” dalam Panji Masyarakat No. 13 Tahun 1973; (18) “Memandangmu Bulan” dalam Panji Masyarakat No. 133 Tahun 1973; (19) “Mysteri” dalam Basis No. 10 Tahun 1973; (20) “Nyanyian Sebelum Pergi” dalam Panji Masyarakat No. 133 Tahun 1973; (21) “Resonansi” dalam Tribun No. 43 Tahun 1973; (22) “Sebelum Tidur” dalam Panji MasyarakatNo. 133 Tahun 1973; (23) “Sia-Sia” dalam Basis No. 10 Tahun 1973; (24) “Terbit” dalam Mimbar No. 36 Tahun 1973; (25) “Di Subuh Langitkah Menggegar” dalam Tifa Sastra No. 25 Tahun 1974; dan (26) “Kubakar Cintaku” dalam Budaya Jaya No. 76 Tahun 1974.

Dramanya, antara lain, adalah (1) “Geger Wong Ngoyak Macan” (ditulis bersama Fajar Suharno dan Gadjah Abiyoso); (2) “Patung Kekasih” (ditulis bersama Simon Hate dan Fajar Suharno); (3) “Doktorandus Mul”; (4) “Ampas” (Mas Dukun); (5) “Keajaiban Lik Par”; (6) “Sidang Para Setan”; (7) “Perahu Retak”; dan (8) “Pak Kanjeng”.

Beberapa kritikus mengomentari kepengarangan Emha Ainun Najib, misalnya M. Arief Hakim (1994) menyatakan bahwa saat sekarang barangkali Emha merupakan penulis paling produktif dan hampir semua bukunya diserbu pembeli, laris bagai kacang goreng. Daya pikat tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib, terutama dalam menampilkan persoalan yang aktual dan kontekstual, sangat tajam dan peka, teristimewa dalam persoalan sosial-politik dan pemiskinan kebudayaan. Kritik-kritiknya demikian tajam, terutama dalam menggugat bobroknya kekuasaan.

Kuntowijoyo (1991) menyebut Emha sebagai budayawan yang mencerminkan atau lebih dapat mewakili sensibilitas generasi muda saat itu, yaitu sensibilitas pemuda yang kritis, suka protes, tetapi religius. Di dalam karya Emha, baik puisi maupun esai, dapat ditemukan sosok seorang anak muda aktivis sosial yang sekaligus mempunyai kecenderungan mistik. Dalam kelompok studi Persada inilah ia mengembangkan kreativitasnya sebagai sastrawan. Dia menerima Anugerah Adam Malik untuk bidang sastra tahun 1991.

Sosok dibalik Cak Nun

Umbu Landu Paranggi (source : Radar Sukabumi)

Lima tahun ia hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970–1975, belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha. Masa-masa itu, proses kreatifnya dijalani juga bersama Ebiet G Ade(penyanyi), Eko Tunas (cerpenis/penyair), dan EH. Kartanegara (penulis).

Kamu boleh mengidolakan seseorang, tetapi jadilah dirimu sendiri”.

(Umbu Landu Paranggi)

Umbu Landu Paranggi (lahir di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur, 10 Agustus1943; umur 75 tahun) adalah senimanberkebangsaan Indonesia yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa esai dan puisiyang dipublikasikan di berbagai media massa. Umbu merupakan penyair sekaligus guru bagi para penyair muda pada zamannya, antara lain Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, Linus Suryadi AG, dan lain-lain.

Pada tahun 1970-an Umbu membentuk Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas penyair, sastrawan, seniman yang berpusat di MalioboroYogyakarta. PSK, di kemudian hari dikenal sebagai salah satu komunitas sastra yang sangat mempengaruhi perjalanan sastrawan-sastrawan besar di Indonesia. Walaupun dikenal sebagai “Presiden Malioboro”, ia sendiri seperti menjauh dari popularitas dan sorotan publik. Ia sering menggelandang sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tetapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “pupuk” saja. Umbu pernah dipercaya mengasuh rubrik puisi dan sastra di Mingguan Pelopor Yogya. Hari tuanya dihabiskan tinggal di Bali, sembari mengasuh rubrik Apresiasi di Bali Post.

Source :

http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Emha_Ainun_Nadjib

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Emha_Ainun_Nadjib

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Umbu_Landu_Paranggi

BAGAIMANA SANKSI PIDANA TINDAKAN PENYADAPAN MENURUT HUKUM YANG BERLAKU?

“Penyadapan merupakan kegiatan memasang alat atau perangkat tambahan pada jaringan telekomunikasi untuk tujuan mendapatkan informasi dengan cara tidak sah.”

Sebelumnya, kami pernah ditanya seorang klien bahwa “Kalau lacak HP orang lain, melanggar hukum gak ya?” Pertanyaan selanjutnya, “Apakah melacak HP orang lain, termasuk tindakan penyadapan?”.

Sebelum menjawab lebih jauh pertanyaan ini, perlu diketahui, bagaimana penyadapan menurut ketentuan yang berlaku? Pada Undang Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (UU No.36/1999) tidak ada pengertian pada ketentuan umum tentang penyadapan. Namun untuk pengertiannya, dapat kita temui pada Penjelasan Pasal 40 UU No.36/1999 yang secara jelas menyebutkan:

“Yang dimaksud dengan penyadapan dalam pasal ini adalah kegiatan memasang alat atau perangkat tambahan pada jaringan telekomunikasi untuk tujuan mendapatkan informasi dengan cara tidak sah. …”

Dari penjelasan diatas, dapat kita lihat bahwa penyadapan merupakan tindakan untuk mendapatkan informasi yang tidak sah dengan berbagai cara. Ini penting untuk pahami, sebab UU No. 36/1999, secara tegas melarang penyadapan informasi melalui jaringan telekomunikasi dalam bentuk apapun (Pasal 40). Ketentuan pidana atas tindakan penyadapan adalah 15 (lima belas) tahun penjara.

Hal ini tegas, dapat kita temui pada Pasal 56 UU No.36/1999, disebutkan bahwa:

“Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.”

Jadi, menurut UU No.36/1999 tindakan “melacak HP” tidaklah termasuk dalam kategori penyadapan, sebab penyadapan intinya menggunakan alat tambahan pada jaringan telekomunikasi, dengan maksud agar mendapatkan informasi.

Namun, untuk “melacak HP” dengan mengakses suatu sistem elektronik tanpa hak atau dengan cara melawan hukum juga termasuk perbuatan yang dilarang. 
Menurut Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU No.11/2008), sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU No.19/2016).
Seperti yang disebutkan dalam Pasal 30 UU No.11/2008, yakni:

  1. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apapun.
  2. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apapun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.
  3. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan.

Terhadap perbuatan ini, ancaman pidananya pun beragam, mulai dari paling lama 6 (enam) tahun sampai dengan 8 (delapan) tahun penjara. Ketentuannya dapat kita jumpai pada Pasal 46 UU No.11/2008 yaitu:

  1. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enamratus juta rupiah).
  2. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.000.000,00 (tujuhratus juta rupiah).
  3. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapanratus juta rupiah).

Kaitannya dengan penyadapan, menurut pengaturannya, selain UU No.36/1999, juga masuk dalam tindakan atau perbuatan yang dilarang.

Hal dapat kita jumpai pada Pasal 31 Ayat (1) UU No.19/2016, disebutkan, bahwa:

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik Orang lain.”

Meskipun, memang pada ketentuan umum UU No.19/2016, tidak juga disebutkan, tentang pengertian mengenai penyadapan. Tetapi, pada penjelasan Pasal 31 Ayat (1) UU No.19/2016, disebutkan bahwa Intersepsi atau penyadapan adalah kegiatan untuk mendengarkan, merekam, membelokkan, mengubah, menghambat, dan/atau mencatat transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik, baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun jaringan nirkabel, seperti pancaran elektromagnetis atau radio frekuensi.

Sanksi pidana terhadap perbuatan penyadapan atau intersepsi menurut UU No.11/2008 khususnya Pasal 47, bahwa:

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapanratus juta rupiah).”

Jadi, dapat kita lihat bahwa sanksi tindakan penyadapan menurut UU No.11/2008 lebih rendah bila dibandingkan dengan ketentuan pidana pada UU No.36/2009. Namun, yang jelas tindakan penyadapan merupakan perbuatan yang secara tegas dilarang oleh hukum, kecuali yang secara jelas ditentukan lain.

Pengecualian terhadap sanksi pidana penyadapan adalah tindakan yang kaitannya dengan penegakan hukum, artinya penyadapan dapat dilakukan untuk maksud dan tujuan penegakan hukum. oleh pejabat yang berwenang. Misalnya, Polisi atau Jaksa.

Ketegasan ini, dapat kita jumpai pada Pasal 31 Ayat (3) UU No.19/2016, yaitu:

“Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku terhadap intersepsi atau penyadapan yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, atau institusi lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang.”

Selain polisi dan jaksa, institusi lainnya yang ditetapkan memiliki kewenangan penyadapan oleh Undang Undang adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena menurut Undang Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU No.30/2002), pada Pasal 12 disebutkan dengan jelas salah satu kewenangan KPK yaitu melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan.

Dengan demikian, semua perbuatan penyadapan maupun mengakses Sistem Elektronik dengan cara apapun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tanpa izinSelain oleh pejabat yang berwenang dan demi alasan penegakan hukum, hal tersebut merupakan perbuatan yang dilarang dan memiliki ancaman pidana, baik pidana penjara maupun pidana denda.

Semoga artikel ini bermanfaat.

source

Pentingnya Beretika Dalam Bertutur Kata

Pentingnya Beretika Dalam Bertutur Kata


Saat bersosialisasi, kita berkomunikasi dengan lingkungan kita. Berbicara, bereaksi, atau sekadar menyapa. Tapi… pada ngeh gak sih kalo cara berkomunikasi kita bisa biking orang bingung, atau justru tersinggung?

Mulai dari bahasa yang digaul-gaulin sampe sikap tubuh saat berbicara yang terkesan acuh tak acuh. Akibatnya, komunikasi bisa gak efektif karena pesan utama gak sampai. Biar gak kejadian yang seperti ini, kita mesti tahu tata cara atau etika berbicara yang baik, antara lain:

  • Fokus dan tatap mata lawan bicara. Kontak mata selama pembicaraan berlangsung akan membuat lawan bicara merasa didengarkan dan dihargai. Kita pun akan mudah menangkap maksud pembicaraan.
  • Bicara jelas dengan intonasi yang baik. Bicara dengan jelas, jangan berbelit-belit agar lawan bicara gak bingung menangkap maksud kita. Nada suara pun harus diperhatikan apa lagi jika berbicara dengan orang yang lebih tua. Hindari nada suara keras dan ketus agar gak menimbulkan salah paham.
  • Tunjukan ekspresi muka yang ceria. Ekspresi ceria akan membuat orang lain merasa nyaman saat bicara. Lain hal jika kita pasang muka cemberut, gak cuma bikin orang lain malas bicara sama kita, tapi juga membuat kesan kita gak bersahabat.
  • Memakai bahasa yang baik dan sopan. Hindari mengucapkan kata kasar atau kotor saat berbicara. Hal ini akan menimbulkan pandangan yang gak baik pada kita.
  • Hindari bisik-bisik. Sikap ini sering kali membuat orang lain tersinggung. Jika emang ada sesuatu hal yang serius lebih baik bicarakan baik-baik biar gak salah paham.

Seperti Apa Rasulullah SAW Berbicara?

Rasulullah saw adalah figur dakwah dengan sifat dan kepribadian yang sempurna. Dan tutur kata ini merupakan salah satu faktor yang sangat beliau jaga nilai-nilai keluhurannya dalam perjalanan dakwahnya. Karena beliau mengerti bahwa sesungguhnya tutur kata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hati para pendengarnya (umatnya). Tutur kata yang buruk tentu saja akan memberikan imbas, respon, atau efek yang buruk pula. Sebaliknya, tutur kata yang baik dan mulia tentunya akan menghasilkan respon dan efek yang baik pula bagi para pendengarnya dan juga penuturnya itu sendiri.

Tidak hanya ketika bertutur kata dengan para sahabat atau keluarga dekat saja, tidak pula hanya kepada orang-orang yang memiliki jabatan yang tinggi di dunia saja, dan tidak pula hanya kepada orang-orang lemah Rasulullah bertutur dengan penuh kemuliaan. Beliau senantiasa bertutur kata dengan sangat baik kepada siapapun yang menjadi lawan bicara atau pendengarnya tanpa pilah-pilih. Kepada para isterinya, kepada para sahabatnya, kepada para pengikutnya, bahkan kepada orang-orang yang membencinya beliau senantiasa menjaga tutur katanya dengan sangat baik.

Rasulullah saw senantiasa bertutur kata dengan nada yang perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa sehingga mudah untuk didengar, dipahami, dan diterima. Rasulullah saw senantiasa hati-hati dalam berbicara, baik dari segi nada, isi, dan kecepatannya. Sehingga tutur kata Rasulullah saw tidak hanya dapat didiengar, dipahami, dan diterima saja oleh para pendengar, melainkan juga dapat dihafal dengan tidak terlalu sulit. Istri Rasulullah saw, ‘Aisyah ra. berkata:

“Rasulullah tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yakni berbicara dengan nada cepat). Namun beliau berbicara dengan nada perlahan dan dengan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah saw adalah figur dakwah yang rendah hati dan penuh dengan ketulusan. Beliau senantisa menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan penuh bijaksana, yaitu dengan senantiasa memperhatikan dan menyesuaikan tingkat intelektualitas pendengar atau target dakwahnya. Tutur kata Rasulullah saw senantiasa mampu membaur terhadap berbagai lapisan masyarakat yang terdiri atas berbagai latar belakang pendidikan dan tingkat intelektual yang berbeda-beda. Kemampuan beliau untuk dapat menyesuaikan tutur katanya dengan kualitas intelektual umatnya itulah yang menjadi salah satu faktor yang dapat menyentuh hati setiap manusia. Rasulullah saw bersabda:

“Tenangkanlah dirimu! Sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah putera seorang wanita yang biasa memakan dendeng.” (HR. Ibnu Majah)

Tutur kata yang dihiasi dengan kesabaran dan kerendahan hati senatiasa tercipta dari lisan Rasulullah saw. Dengan tutur katanya, Rasulullah saw mampu meluluhkan hati yang yang keras, memberikan rasa aman dan nyaman, namun tetap menggetarkan hati musuh-musuh Allah swt. Sebagai seorang figur dakwah, Rasulullah saw juga tidak pernah sungkan untuk mengulang-ngulang perkataannya sebanyak tiga kali agar para pendengarnya dapat benar-benar memahami apa yang beliau katakan.

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengungkapkan kepada kita: “Rasulullah sering mengulangi perkataannya tiga kali agar dapat difahami.” (HR. Al-Bukhari)

Kesantunan tutur kata Rasulullah saw juga digambarkan oleh Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra., ia berkata:

“Tutur kata Rasulullah sangat teratur, untaian demi untaian kalimat tersusun dengan rapi, sehingga mudah difahami oleh orang yang mendengarkannya.” (HR. Abu Daud)

Subhanallah, begitu mulianya akhlak dan sifat Rasulullah saw. Beliau yang merupakan kekasih Allah swt yang berkedudukan mulia, namun senantiasa sudi bahkan ikhlas untuk bertutur kata dengan penuh kerendahan hati, sabar, dan santun. Tidak pernah Rasulullah saw bertutur kata dengan angkuh atau emosi. Dan seperti inilah seharusnya para kader-kader dakwah Islam dalam bertutur kata untuk menyampaikan kalimat Islam.

Bagaimana cara menjaga lisan, apa saja bahaya lisan, nikmat lisan, hal-hal yang diakibatkan jika kita tidak menjaga lisan?

Lisan sebenarnya hanyalah salah satu dari anggota tubuh. Di pelajaran biologi, sejak SD, kita sudah mengenalnya dengan nama lidah. Uniknya, lisan seolah menjadi cerminan bagian terpenting dari anggota tubuh lain, yakni hati. Jika baik dirinya, baik pula seluruh tubuhnya. Jika buruk dirinya, buruk pulalah tubuhnya. Lisan bisa menyebabkan seseorang dimasukkan ke surga, namun karena lisan pulalah seseorang bisa dilempar ke neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Sesungguhnya lisan adalah sebuah nikmat dari Allah bagi manusia. Dengan lisan, seruan untuk beramar ma’ruf nahi munkar bisa diserukan. Kalimat-kalimat nasihat bisa diucapkan. Dengannya pula dzikir dhohir kita bisa dilafalkan. Bayangkan jika tidak ada lisan di dunia ini? Tidak ada adzan yang berkumandang, tidak ada khutbah yang diperdengarkan dalam majelis-majelis ilmu. Tidak ada seruan lantang untuk menegakkan dien-Nya.

Dari lisan pulalah akan tergambar keluhuran budi seseorang, kemuliaan akhlaknya, kecerdasan intelektualnya, serta ketaqwaan dan keshalihannya. Masya Allah.. Nah, jika dikaitkan dengan bahasan dzikir kemarin, seseorang yang senantiasa berdzikir, mengingat Allah, akan sadar bahwa setiap perbuatannya –termasuk perkatannya- akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Maka, dengan penuh iman ia akan menjaga lisan dari membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, menyakiti saudaranya, apalagi sampai berbuat ghibah, dusta, namimah, mencela, dll.

Barangkali saking pentignya lisan dalam dien kita, Rasulullah menjanjikan surga kepada orang yang senantiasa mampu menjaga lisannya. Dalam sabdanya, Rasulullah saw menerangkan,” “Barangsiapa yang memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) kejahatan lisan yang berada di antara dua tulang rahangnya, dan kejahatan kemaluanyang berada di antara kedua kakinya, niscaya aku akan memberikan jaminan surga kepadanya.” (HR. al-Bukhari).

“Apabila anak cucu Adam masuk waktu pagi hari, maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan, seraya berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami, karena kami mengikutimu, apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan apabila kamu bengkok, maka kami pun bengkok’.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Cara Menjaga Lisan dari Hal-hal yang Buruk

  1. Hemat kata-kata. Walaupun secara hukum bersifat mubah dan tidak termasuk ke dalam hal yang dilarang, menjaga lisan dari perkataan yang tidak perlu adalah lebih baik. Bahkan, khalifah Umar pernah berkata,”Orang yang banyak bicara adalah saudara kandung setan.” Astaghfirullah, naudzubillahi min dzalik.
  2. Menjaga lisan dari komentar-komentar yang tidak perlu. Rasulullah saw bersabda,”Diantara tingginya kualitas agama seseorang adalah ketika ia meninggalkan komentar yang tidak dibutuhkan.”
  3. Menghindari kata-kata kotor . tidak ada sesuatu yang paling memberatkan timbangan amal seorang hamba di hari kiamat selain akhlak mulia, dan Allah Subhanahu wa ta’ala sangat membenci perkataan kotor lagi jorok “. ( HR Tirmidzy )
  4. Berkata dengan perkataan yang BENAR. yang pasti kita harus yakin bahwa apa yang kita katakan adalah benar dan tidak mengandung kebohongan. Sekali lagi perlu diingat, bahwa setiap hal akan ditagih pertanggungjawaban di hadapan-Nya kelak!
  5.  Berbicara sesuai dengan tempat dan lawan bicara kita. Tentu saja karena akan berbeda ketika kita berbicara dengan anak kecil, beda lagi ketika bicara dengan orang tua. “Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam”Artinya, “Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula.”

Akan berbeda lagi jika lawan bicara kita sedang dalam keadaan bahagia, dan akan lebih berbeda lagi jika kita harus menjelaskan persoalan agama kepada saudara kita yang masih awam. Membawa dalil mungkin tidak akan mempan. Dari situlah kita dituntut menjaga lisan agar pas maksud yang ingin disampaikan dan tidak menyakiti lawan bicara kita.

  1. Menjaga kehalusan tutur kata. Dalam bukunya, Salim A.Fillah menjelaskan bahwa kerlingan mata yang tajam dan jika itu menimbulkan prasangka maka akan diadili, apalagi perkataan yang kita ucapkan.
  2. Tidak semua hal yang kita dengar bisa kita katakan.

Rasulullah saw bersabda, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, ‘Cukuplah kebohongan bagi seseorang jikalau ia menceritakan semua yang ia dengar.’” (HR Muslim [5]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)

  1. Menghindarkan diri dari najwa, ngobrol sendiri dengan yang lain sementara ada satu yang diacuhkan. QS An-Nisa [4]: 114, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”

 “Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syafi’i menjelaskan makna hadits di atas adalah, “Jika engkau hendak berkata maka berfikirlah terlebih dahulu, jika yang nampak adalah kebaikan maka ucapkanlah perkataan tersebut, namun jika yang nampak adalah keburukan atau bahkan engkau ragu-ragu maka tahanlah dirimu (dari mengucapkan perkataan tersebut).” (Asy-Syarhul Kabir ‘alal Arba’in An-Nawawiyyah)

Pastikan gaya bicara kita jangan merendahkan orang lain, karena diri kita ingin dihargai, hal itu justru menunjukkan kerendahan diri kita. Karena mulut itu bagai moncong teko, hanya mengeluarkan isi teko, di dalam kopi keluar kopi, di dalam teh keluar teh, di dalam bening keluar bening. Maka berbahagialah bagi yang ucapannya keluar dari mulutnya bagai untaian kalung mutiara.

Berbicara memang bebas dilakukan, tetapi sesuaikan dengan kondisi, tempat dan dengan siapa kita berbicara.

 

Referensi :

Mengulas Jejak Erick Thohir

Mengulas Jejak Erick Thohir


Erick Thohir adalah seorang pengusaha asal Indonesia dan pendiri Mahaka Group yang merupakan perusahaan induk dari perusahaan yang memiliki fokus pada bisnis media dan entertainment. Berbagai unit usaha Mahaka seperti di bidang penyiaran (broadcast) yakni Gen FM & Jak FM, stasiun televisi Jak tv, media luar ruang (out of home) Mahaka Advertising, penerbitan (publishing) yakni Harian Republika,Golf Digest, digital yakni Rajakarcis.com dan berbagai perusahaan lainnya yang bergerak di bisnis olahraga dan hiburan.

Erick adalah anak dari Teddy Thohir, Saudaranya, Garibaldi “Boy” Thohir, adalah seorang bankir investasi. Ia juga memiliki kakak perempuan bernama Rika. Tohir kecil turut membantu bisnis keluarga.


Ia mengakuisi klub sepakbola Italia yang berlaga di seri A yakni F.C. Internazionale Milano (Inter Milano) pada November 2013. Erick Thohir dipercaya sebagai presiden klub ke 21 dalam 106 tahun sejarah klub tersebut. Bersamaan dengan itu, ia juga memiliki klub sepakbola Amerika, D.C. United dan juga pernah sebagai pemilik klub bola basket NBA Philadelphia 76ers.

Lahir 30 Mei 1970(umur 47)
Pekerjaan
    • Pendiri & Komisaris Utama Mahaka Group
    • Pemilik & Presiden klub Internazionale(Inter Milano)
    • Pemilik klub D.C. United
    • Presiden Direktur Antv
Agama Islam
Suami/istri Elizabeth Tjandra
Orang tua Teddy Thohir

Pada tahun 1993 Erick lulus program Master untuk Bisnis Administrasi (Master of Business Administration) dari Universitas Nasional California, Amerika Serikat. Sebelumnya memperoleh gelar sarjana (Bachelor of Arts) dari Glendale University.

Sekembalinya ke Indonesia, bersama beberapa rekan semasa kuliahnya ia mendirikan Mahaka Group. Perusahaan ini membeli Republika pada tahun 2001 saat berada di ambang kebangkrutan. Ia mendapat bimbingan dari ayahnya serta pendiri  Kompas dan pendiri Jawa Pos. Mahaka Group melebarkan potensinya dengan mendirikan perusahaan media luar ruang bernama Mahaka Advertising seiring bertubuhan ekonomi dan masyarakat perkotaan pada tahun 2002.

Setelah meluncurkan stasiun televisi Jak tv untuk memperkuat positioning sebagai bisnis yang fokus pada masyarakat perkotaan di tahun 2005, Mahaka memperkenalkan radio 98.7 Gen FM & 101 Jak FM serta penyertaan pada PT Radionet Cipta Karya (Prambors FM, Delta FM dan FeMale Radio) serta berbagai perusahaan yang bergerak di bidang periklanan, hburan dan digital. Ia juga pendiri dari organisasi amal Darma Bakti Mahaka Foundation dan Dompet Dhuafa Republika. Di tahun 2008, bersama Anindya Bakrie mendirikan tvOne dan situs berita, Viva news. Pada tahun 2014 ia menjabat sebagai Direktur Utama Antv hingga sekarang.


Erick yang gemar olahraga bola basket pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PERBASI) periode 2006–2010 dan menjabat sebagai Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) periode 2006 – sekarang. Tahun 2012 ia dipercaya sebagai Komandan Kontingen Indonesia untuk Olimpiade di London. Ia menjadi orang Asia pertama yang pernah memiliki Tim bola basket NBA ketika ia membeli saham Philadelphia 76ers. Pada tahun 2012, Erick dan Levien menjadi pemilik saham mayoritas sebuah klub Major League Soccer, D.C. United.


Ia percaya akan potensi bisnis sepakbola dan dibuktikannya pada September 2013, presiden dan pemilik klub Internazionale (Inter Milano), Massimo Moratti pada saat itu mengkonfirmasi pembicaraan untuk penjualan saham mayoritas 70% kepada Erick. Pada tanggal 15 Oktober 2013 setelah melalui proses negosiasi yang panjang, melalui International Sport Capital yang dipimpin oleh Erick secara resmi menjadi pemegang saham mayoritas dengan memiliki saham klub sebesar 70%. Pada tanggal 15 November 2013, Erick dipercaya sebagai presiden klub Inter Milan menggantikan Moratti hingga saat ini.

Erick Thohir juga menjadi penulis buku yang berjudul Pers Indonesia di Mata Saya yang diluncurkan tahun 2011 oleh penerbit Republika.

Referensi :

  1. https://wikipedia.org/wiki/Erick_Thohir
  2. ^ Jakarta Globe 2009, Indonesian Media Manager.
  3. ^ Republika 2011, Erick Thohir Luncurkan Buku.
  4. ^ The Jakarta Post 2011, Erick Thohir becomes.
  5. ^ Globe Asia 2012, New media magnates.
  6. ^ Simon Borg (10 Juli 2013). “DC United introduce new investors Thohir and Levien”. MLSsoccer.com. Diakses tanggal 25 November 2013.
  7. ^ “organisation chart”. inter.it. Diakses tanggal 25 November 2013
  8. Veda, Titania. “Indonesian Media Manager a Man On a Mission”Jakarta Globe (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslitanggal 22 Juli 2009. Diakses tanggal 12 Januari 2012.
  9. “VIVA Group Leadership Team”VIVA Group 2011 (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013.Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date= (bantuan)
  10. Zaim Uchrowi (2004). Menggagas renaisans Indonesia (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Penerbit Republika. ISBN 979-3210-41-9.
  11. “Erick Thohir Terpilih Lagi Jadi Presiden SEABA”Republika (dalam bahasa Indonesia). 20 April 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013. Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date=(bantuan)
  12. “Presiden Lepas 21 Atlet Indonesia Peserta Olimpiade London”PresidenRI.go.id(dalam bahasa Indonesia). 16 Juli 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013.Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date= (bantuan)
  13. Goff, Steven (11 Juli 2012). “D.C. United’s new investors Erick Thohir, Jason Levien should boost quest for stadium”The Washington Post (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Januari 2013. Diakses tanggal 27 Januari2013.
  14. “The First Asian to Own an NBA Team”AseanBasketballLeague.com (dalam bahasa Inggris). 19 October 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013.Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date= (bantuan)
  15. “Erick Thohir becomes first Asian to own NBA team”The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). 20 Oktober 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 Januari 2012. Diakses tanggal 12 Januari2012.
  16. “Moratti vede Thohir. Primo faccia a faccia per l’Inter indonesiana”La Gazzetta dello Sport (dalam bahasa Italia). 28 Mei 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 Mei 2013. Diakses tanggal 30 Mei 2013.Parameter |trans_title= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)
  17. “Erick Thohir Tegaskan Keseriusan Beli Saham Inter”Inilah.com (dalam bahasa Indonesia). 3 Juni 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013. Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date=(bantuan)
  18. “Erick Thohir Luncurkan Buku ‘Pers Indonesia di Mata Saya'”Republika(dalam bahasa Indonesia). 01 Maret 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013.Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |date=, |archive-date= (bantuan)
  19. “Erick Thohir Bertemu Pemilik Inter Milan”Republika. Diarsipkan dari bola/liga-indonesia/13/05/29/mnk0h1-erick-thohir-bertemu-pemilik-inter-milan versi asliPeriksa nilai |url= (bantuan) tanggal 12 Januari 2012. Diakses tanggal 12 Januari2012.
  20. “Anggota Konsorsium PERSIB Beli DC United”Persib.co.id (dalam bahasa Indonesia). Diarsipkan dari versi aslitanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013. Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date=(bantuan)
  21. Nonto, Albertus Weldison; Soegiarto, Yanto (30 Juni 2011). “New media magnates”Globe Asia (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 Januari 2012. Diakses tanggal 12 Januari2012.
  22. Satwiko, Wimbo (23 Oktober 2011). “Media Magnate Breaks New Ground With Philadelphia 76ers”Jakarta Globe (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslitanggal 12 Januari 2012. Diakses tanggal 12 Januari 2012.