Ketika Para Ulama Dimusuhi (Sejarah Berulang Kembali)

Ketika Para Ulama Dimusuhi (Sejarah Berulang Kembali)

Suasana negara kita dewasa ini mirip dengan suasana sebelum meletusnya pemberontaskan PKI tanggal 30 september 1965. Beberapa tahun sebelum peristiwa penghianatan PKI itu para Ulama dan santri dimusuhi dianggap kontra revolusi. Banyak Ulama yang dijebloskan kedalam Penjara seperti Buya Hamka, KH Ghazali Sahlan, K.H. M. Isan Ashary, K.H. E.Z. Muttaqien, K.H. Sholeh Iskandar dll, suasana  seperti itu agaknya  kini mulai terasa muncul kembali.

Dukungan terhadap pasangan calon Ahok-Djarot di putaran kedua Pilgub DKI terus berdatangan. Kali ini datang dari sejumlah orang menga‎tasnamakan Forum Ustadz Kampung dan Pemuda Muslim Pro NKRI (FUPM).

‎Mereka mengenakan pakaian khas ulama dan kyai, diantaranya dengan ikat kepala dan lilitan surban di pundaknya. ‎Disela-sela acara, mereka sesekali juga meneriakkan takbir.

‎”Kami memutuskan mendukung Ahok-Djarot karena manfaatnya sudah kami rasakan,” kata Koordinator FUPM ustadz Rijal Maulana di Subang, Jakarta Pusat, Jumat (17/3/2017).

Dijelaskan Rijal, ‎selama Ahok berkuasa sejumlah perbaikan sudah dilakukan. Diantaranya soal pendidikan dan kesehatan.

“Alhamdulilllah, melalui KJP dan KJS pendidikan dan kesehatan anak-anak di Jakarta kini sudah terjamin,” katanya.‎

‎Selain itu, lanjut Rijal, Ahok juga terbukti peduli dengan menaikkan gaji para marbot dan obe penjaga masjid di DKI Jakarta.

‎”Pak Ahok menaikkan gaji OB (office boy) dan marbot yang tadinya hanya Rp 600 ribu menjadi Rp 3 juta,” cetusnya.

Ulama-ulama mulai dibidik, dikriminalisasi…., sejarah kembali berulang seperti dulu Buya Hamka juga dikriminalisasi sampai dijebloskan ke penjara oleh rezim Soekarno.

Tapi sejarah selalu menyuguhkan ending yang indah bagi mereka yang teguh di jalan Allah.

Sebagaimana janji Allah (dan Allah tidak pernah menyalahi janjinya)…

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qashash: 83).

Ayat ini adalah diantara ayat-ayat akhir surat Al-Qashah (Kisah-kisah) yang menuturkan sejarah perjuangan para Nabi.

Ulama adalah pewaris Nabi, dan Nabi mewarisi jalan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang banyak rintangan. Namun ujungnya adalah kemenangan.

Sepenggal Sejarah….

Presiden pertama, founding father-nya negara inipun pernah menyerang seorang ulama besar.

Dianggap melawan pemerintah (yang menurut saya sebenarnya pemerintah waktu itu tak ingin mendapat kritikan yang cerdas), M. Yamin dan Soekarno berkolaborasi menjatuhkan wibawa Buya Hamka melalui headline beberapa media cetak yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.

Berbulan-bulan Pramoedya menyerang Buya Hamka secara bertubi-tubi melalui tulisan di koran (media yang paling tren saat itu), Allahuakbar! sedikitpun Buya Hamka tak gentar, fokus Buya tak teralihkan, beliau terlalu mencintai Allah dan saudara muslimya, sehingga serangan yang mencoba untuk menyudutkan dirinya tak beliau hiraukan, Buya Hamka yakin jika kita menolong agama Allah, maka Allah pasti menolong kita. Pasti!

Oh! Buya Hamka terlalu kuat dan tak bisa dijatuhkan dengan serangan pembunuhan karakter melalui media cetak yang diasuh oleh Pram, tak sungkan-sungkan lagi, Soekarno langsung menjebloskan ulama besar tersebut ke penjara tanpa melewati persidangan.

Seperti doa nabi Yusuf as. ketika dipenjara: Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf, 33)

Yah! Saat itu penjara jauh lebih baik bagi Buya Hamka, jauh lebih baik daripada menyerahkan kepatuhannya terhadap Allah kepada orang-orang yang hanya mengejar dunia.

2 tahun 4 bulan di dalam penjara tak beliau sia-siakan dengan bersedih, malah Buya Hamka bersyukur telah dipenjara oleh penguasa pada masa itu, karena di dalam penjara tersebut beliau memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan cita-citanya, merampungkan tafsir Al-Qur’an 30 juz, yang sekarang lebih kita kenal dengan nama kitab Tafsir Al-Azhar.

Lalu bagaimana dengan ketiga tokoh tadi?

Ternyata Allah masih sayang kepada Pramoedya, M. Yamin dan Soekarno. Karena apa yang telah dilakukan oleh ketiga tokoh bangsa tersebut terhadap Buya Hamka, tak harus diselesaikan di akhirat, Allah telah mengizinkan permasalahan tersebut untuk diselesaikan di dunia saja.

Di usia senjanya, Pramoedya akhirnya mengakui kesalahannya dimasa lalu dan dengan rendah hati bersedia “meminta maaf” kepada Buya Hamka, ya! Pramoedya mengirim putri sulungnya kepada Buya Hamka untuk belajar agama dan men-syahadat-kan calon menantunya.

Apakah Buya Hamka menolak? Tidak!

 

Dengan lapang dada Buya Hamka mau mengajarkan ilmu agama kepada anak beserta calon menantu Pramoedya, tanpa sedikitpun pernah mengungkit kesalahan yang pernah dilakukan oleh -salahsatu penulis terhebat yang pernah dimiliki indonesia- tersebut terhadap dirinya. Allahuakbar! Begitu pemaafnya Buya Hamka.

Ketika M. Yamin sakit keras dan merasa takkan lama lagi berada di dunia ini, beliau meminta orang terdekatnya untuk memanggilkan Buya Hamka. Saat Buya Hamka telah berada di sampingya, dengan kerendahan hati M. Yamin (memohon maaf dengan) meminta kepada Buya Hamka agar sudi mengantarkan jenazahnya untuk dikebumikan di kampung halaman yang telah lama tak dikunjungi Talawi, dan di kesempatan nafas terakhirnya M. Yamin minta agar Buya sendiri yang menuntunnya untuk mengucapkan kalimat-kalimat tauhid.

Apakah Buya Hamka menolak? Tidak! Buya Hamka menuluskan semua permintaan tersebut, Buya Hamka yang “menjaga” jenazah -tokoh pemersatu bangsa- tersebut sampai selesai dikebumikan dikampung halamannya sendiri.

Namun, lain hal dengan Soekarno, malah Buya Hamka sangat merindukan proklamator bangsa Indonesia tersebut, Buya Hamka ingin berterima kasih telah diberi “hadiah penjara” oleh Bung Karno, yang dengan hadiah tersebut Buya memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tafsir Al-Azharnya yang terkenal, dengan hadiah tersebut perjalanan ujian hidup Buya menjadi semakin berliku namun indah, Buya Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua.

Lalu kemana Soekarno? Kemana teman seperjuangannya dalam memerdekakan bangsa ini menghilang? Dalam hati Buya Hamka sangat rindu ingin bertemu lagi dengan -singa podium- tersebut. Tak ada marah, tak ada dendam, hanya satu kata “rindu”.

Hari itu 16 Juni 1970, ajudan presiden Soeharto, Mayjen Soeryo datang kerumah Buya Hamka, membawa secarik kertas, kertas yang tak biasa, kertas yang bertuliskan kalimat pendek namun membawa kebahagian yang besar ke dada sang ulama besar, pesan tersebut dari Soekarno, orang yang belakangan sangat beliau rindukan, dengan seksama Buya Hamka membaca pesan tersebut:

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Buya Hamka bertanya kepada sang ajudan “Dimana? Dimana beliau sekarang?” Dengan pelan dijawab oleh pengantar pesan “Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso.”

Mata sayu Buya Hamka mulai berkaca, kerinduan itu, rasa ingin bertemu itu, harus berhadapan dengan tubuh kaku, tak ada lagi pertemuan yang diharapkan, tak ada lagi cengkrama tawa dimasa tua yang dirindukan, hanya hamparan samudera maaf untuk saudaranya, mantan pemimpinnya, pemberian maaf karena telah mempenjarakan beliau serta untaian lembut doa dari hati yang ikhlas agar Bung Karno selamat di akhirat, hadiah khusus dari jiwa yang paling lembut sang ulama besar, Buya Hamka.

Dizaman sekarang, Mulai terasa sejarah itu kembali terulang, dimana para penguasa mulai berusaha menyudutkan para ulama, menyerang para ulama melalui media-media pendukung mereka, menebar kebencian kepada para ulama melalui penulis-penulis pendukung mereka.

Lalu ada yang berkata, “ulama sekarang tak sehebat Buya Hamka.” Tanya lagi hati kecil kita, apakah mereka yang tak hebat, ataukah kita yang ingin menolak pesan kebenaran itu sendiri.

Pertanyaannya: Di pihak siapa kita? apakah di pihak para penguasa yang jelas sedang memuaskan nafsu duniawi mereka?

Ataukah di pihak para ulama yang menyampaikan kebenaran karena Allah, Tuhannya, Tuhan kita semua?

Lalu Bagaimana dengan Kasus-Kasus ini?

Sekarang umat bertanya-tanya, demi tegaknya keadilan, kasus-kasus yang dulu sekarang apa kabarnya ya? Ini dulu deh yang mau ditanyakan:

Akankah para penguasa yang memfitnah para ulama saat ini, diberi kesempatan oleh Allah untuk meminta maaf sebelum ajal menjemput mereka? Semoga saja, semoga kesalahan mereka tak harus diselesaikan yaumul hisab. Aamiin ya Robbal’alamin.

Allah dengan jelas dan tegas, tak perlu lagi ditafsirkan, telah menyatakan jika seorang Muslim yang nyata-nyata mendukung pemimpin di luar Islam, maka dia sudah menjadi bagian dari kaum kafir, bukan lagi bagian dari umat Islam. Baca QS. Al-Maidah 51!

 

 

Rujukan :

Menengok Al-Qur’an Batik di Solo

Alquran Batik Di Solo

Yayasan Seratan Alquran Batik Laweyan (Sabila) Indonesia mengembangkan batik Alquran. Jika biasanya membuat batik dengan motif dari Jawa dan Indonesia, tapi kali ini dengan huruf-huruf Alquran. Ini ditujukan agar bisa menyatukan budaya Indonesia dan budaya dunia.

Adanya Batik Alquran ini sebagai satu gerakan mengedukasi masyarakat untuk bergerak dalam budaya yang bermartabat. Jadi konteks budaya kreatif yang dikaitkan dengan nilai-nilai agama dan ini belum pernah ada membatik dengan motif Alquran. “Jadi ini membingkai Alquran dengan batik. Ini kreativitas budaya namun dengan nilai-nilai agama,” terang Ketua Yayasan Seratan Alquran Batik Laweyan (Sabila) Indonesia, Alpha Fabela Priyatmono disela-sela launching Batik Quran di Masjid Laweyan, Minggu (9/10/2016).

Pembuatan batik Alquran ini terinspirasi dengan gerakan membaca Alquran sambil menulis. Jadi biasanya menulis itu dibikin tipis lalu ditebali dan itu sama dengan proses membatik. Sehingga ini membaca sekaligus menulis, kalau bisa memahami dan menjalankannya. “Ini terinspirasi adanya program membaca Alquran sekaligus menulis. Gerakan membatik ini tanpa kita sadari mendidik untuk sabar dan teliti, apalagi yang dibatik itu Alquran,” ungkap yang juga Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan ini.

Batik Alquran ini dibuat di kain warna putih berukuran 100 x 115 sentimeter dengan 30 juz yang kemudian dijilid. Untuk cara penulisannya, yakni dengan cara mengeblat Alquran sehingga benar-benar sesuai dengan aslinya. Alpha menegaskan, ini bukanlah untuk baju atau lukisan. Melainkan, Alquran 30 juz yang nantinya akan ditaruh di Masjid Laweyan yang merupakan masjid tertua di Solo. “Jadi modelnya itu mushaf yang dijilid pakai kain. Kami targetkan satu tahun itu satu mushaf, ini bisa untuk wisata religi juga,” kata dia.

Alpha berharap, dengan adanya kegiatan ini masyarakat bisa membaca, menulis dan memahami. Ini untuk kemaslahatan umat dan ke depan akan dikembangkan lagi, nantinya batik Alquran ini akan dipamerkan di tengah-tengah masyarakat. “Ini akan resmi dikeluarkan setelah diteliti dulu apakah ada kesalahan atau tidak. Jika tidak ada bisa ditandatangani dan dicap,” imbuhnya.

Sementara itu, Putra Raja Keraton Kasunanan Surakarta PB XII, GPH Dipokusumo menyatakan, jika batik itu merupakan warisan budaya yang cukup luar biasa. Adanya proses pengembangan batik dengan tulisan Alquran cukup bagus, hanya saja perlu hati-hati dalam membuatnya. “Proses pembuatan harus hati-hati dan teliti. Ini salah satu untuk pengembangan agama Islam dan sebagai khazanah budaya juga,” ujar dia.

Akulturasi Islam dan Tradisi Lokal

Pembuatan mushaf batik semuanya dikerjakan secara manual, dimulai dengan pemotongan kain polos menjadi lembaran menyerupai halaman buku dan kemudian digambari pola batik pada bagian bingkainya dengan pensil. Bagian tengahnya diisi baris-baris ayat Al-Qur’an, menyalin secara persis dari kitab suci yang diperbesar ukurannya.

Setelah pembuatan pola dengan pensil, pembatik menebalkannya dengan menggunakan malam yang dididihkan. Proses ini paling rumit, karena pola yang dibuat oleh canting nanti akan menghasilkan tulisan akhir berwarna putih atau krem karena tidak tercelup selama proses pewarnaan. Malam berfungsi menutup rajutan benang pada kain dari penetrasi pewarna serat.

Selesai pembatikan, kain dicek secara bersama oleh penghapal Al-Qur’an dan pakar. Jika proses koreksi menemukan kesalahan, kekurangan, maupun kelebihan huruf atau harakat, maka akan dibetulkan sebelum distempel untuk proses akhir, yaitu pencelupan warna.

Lembaran-lembaran kain berayat suci ini akan dicelup ke dalam larutan pewarna alami (natural dye) berbahan kayu soga yang menghasilkan warna cokelat klasik khas batik Solo. Pencelupan dilakukan sampai lima kali untuk mendapatkan intensitas warna yang cemerlang.

“Proses paling akhir nanti merangkai halaman secara berurutan seperti kitab Al-Qur’an,” ujar Alpha.

Pembuatan mushaf dari batik ini diperkirakan memakan waktu sekitar satu tahun dan baru akan selesai Ramadan 2017, dengan melibatkan ratusan orang. Setiap satu lembar kain dikerjakan 4 orang, dari mulai membuat pola, membatik, mengoreksi tulisan Arab sesuai standar Al-Qur’an, hingga mewarnai kain.

Al-Qur’an batik itu diperkirakan akan menghabiskan ribuan yard kain katun putih. Tidak seperti halaman kertas yang bisa memuat teks bolak-balik atau satu lembar untuk dua halaman, pembuatan batik hanya bisa satu lembar kain untuk satu halaman. Jadi jumlah lembaran kain yang dibutuhkan adalah dua kali halaman mushaf kertas.

Pembuatan Al-Qur’an ini, menurut Alpha, merupakan proses akulturasi antara teks asli berbahasa Arab dengan proses pembuatan batik Jawa, dan melibatkan motif-motif tradisional Nusantara. Pembuatan mushaf batik ini juga sebagai wujud bahwa Islam selaras dengan nilai tradisional.

“Karena dibuat di Indonesia, kami ingin menekankan karakter lokal dalam ornamen Al-Qur’an. Pada bingkai halamannya, kami akan memasukkan semua motif tradisional Nusantara, tidak hanya Jawa, tetapi juga motif Kalimantan, Papua, dan daerah lain,” ujar Alpha.

Al-Qur’an batik merupakan upaya penegasan kembali syiar Islam di Jawa yang disebarkan oleh Wali Songo dengan cara damai – mengadopsi budaya dan kebiasaan setempat sebagai media dakwah.

Pertautan antara Islam dan batik sudah terjadi sejak lama di Kampung Laweyan. Kampung seluas 24 hektar ini sudah ada sejak 1540-an sebagai sentra industri lawe (benang bahan tenun) pada zaman Pajang, kerajaan Islam di Jawa setelah Demak. Di kampung ini juga ada salah satu masjid tertua yang didirikan oleh Ki Ageng Henis, moyang dari raja-raja dinasti Mataram Islam (Surakarta dan Yogyakarta).

Konon, Laweyan merupakan kampung modern pada zamannya karena sudah mengenal perdagangan dengan bangsa lain, terutama Eropa dan Arab, yang bisa dilacak dari arsitektur rumah-rumah asli yang merupakan campuran gaya Jawa, Islam, dan Eropa. Bahkan, konon saudagar Laweyan mendatangkan keramik untuk ubin rumahnya langsung dari Eropa.

Laweyan dilalui sebuah sungai yang terhubung dengan Bengawan Solo, jalur perdagangan masa lalu yang ramai, menghubungkan wilayah pedalaman Jawa dengan daerah luar seperti Tuban dan Gresik. Dalam bukunya yang berjudul History of Java, Thomas Stamford Raffles menulis kesaksiannya tentang sungai itu yang menjadi jalur perahu-perahu besar yang mengangkut komoditas dari hulu ke hilir dan sebaliknya.

Sejak zaman Mataram Islam, kampung ini berubah menjadi industri batik yang makmur, sebuah wilayah elit di luar istana – dan mengalahkan pamor Keraton Surakarta – yang bukan dihuni para bangsawan, tetapi para saudagar batik. Pada masa pergerakan nasional 1900-an, di Laweyan berdiri sebuah organisasi pengusaha pribumi pertama, Syarikat Dagang Islam (SDI) – cikal bakal Syarikat Islam (SI) – yang dipelopori oleh KH Samanhudi, seorang saudagar batik sekaligus ulama di kampung.

Islam menjadi spirit gerakan para saudagar batik untuk memerdekakan orang-orang pribumi dari penjajahan. Sejak itu pula, Kampung Laweyan dimata-matai Belanda. Di balik tembok tinggi yang mengelilingi rumah, para saudagar batik membuat pintu penghubung antar tetangga yang berguna untuk mengungsikan orang-orang dan pekerja pabrik saat inspeksi oleh Belanda.

“Islam sudah ada berabad-abad di sini, bahkan sebelum Kota Solo berdiri, agama itu membaur, dan menyebarkan semangat perubahan positif,” ujar Heru dari Yayasan Indonesia Menulis Al-Qur’an.

Rujukan :

Menghadapi Kemungkaran

Menghadapi Kemungkaran

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (Riwayat Muslim)

Kosa kata / مفردات :
يغَيـِّر : Merubah أضعف : Yang paling lemah
Pelajaran yang terdapat dalam hadith / الفوائد من الحديث  :
  1. Menentang pelaku kebatilan dan menolak kemunkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya.
  2. Ridha terhadap kemaksiatan termasuk di antara dosa-dosa besar.
  3. Sabar menanggung kesulitan dan amar ma’ruf nahi munkar.
  4. Amal merupakan buah dari iman, maka menyingkirkan kemunkaran juga merupakan buahnya keimanan.
  5. Mengingkari dengan hati diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan tangan dan lisan berdasarkan kemampuannya.
Fiqh Dakwi dan Tarbawi :
  1. Kewajipan berdakwah dituntut ke atas setiap individu yang mukalaf dan berdaya. Syarat berdaya atau mampu perlu difahami dengan betul. Ia bukanlah bermakna pilihan seperti kita memilih untuk membenci dengan hati dalam setiap hal.
  2. Walaupun begitu, bukti iman adalah membenci maksiat dengan hati dan hukumnya adalah wajib ke atas setiap individu dan sesiapa yang menyetujui suatu kemungkaran bererti dia bersekongkol dengannya. “(Jika hati seseorang tidak membenci kemungkaran), tidak ada selepas itu iman walaupun sebesar biji sawi.” (HR Bukhari dan Muslim)
  3. Kemungkaran itu wajib dirubah walau apa-pun keadaannya. Mengubah bermaksud tindakan atau perbuatan untuk menghapuskan kemungkaran tersebut. Kerana mencegah kemungkaran ditujukan untuk menyelamatkan dan mewujudkan yang maslahat atau yang lebih maslahat, bukan sebaliknya yakni mudhorat. (Hadis tebuk dek bawah kapal, HR Bukhari)
  4. Saksi tidak boleh diam kerana dia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala atas kesaksiannya terhadap kemungkaran, ketidakadilan, kezaliman dan penyelewengan terhadap agama Allah
  5. Wajib belajar cara untuk merubah kemungkaran berdasarkan sunnah Nabi saw. kerana di situ terdapat syarat, kaedah dan juga manhaj tertentu.

Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan, “Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kerusakannya akan lebih besar daripada kebaikannya.”

“Tidaklah sikap lemah lembut dalam sesuatu melainkan membuatnya indah. Dan tiadalah sikap kasar dalam sesuatu melainkan membuatnya buruk.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

6. Mungkar al-Akbar, al-Ma’ruf al-Akbar – Titik tolak da’wah Islamiyyah ialah memerangi mungkar terbesar (al-munkar al-akbar) sekaligus menegakkan ma’ruf terbesar (al-ma’ruf al-akbar). Dengan kata lain peranan da’wah Islamiyah yang utama ialah meruntuhkan jahiliyyah daripada memimpin alam dan menggantikannya dengan pimpinan Allah SWT.

7. Syarat pelaksanaan nahyi munkar :

    • Pertama, ada atau terjadinya kemungkaran. Kemungkaran adalah segala kemaksiatan yang diharamkan atau dilarang oleh Islam.
    • Kedua, kemungkaran yang dimaksud hadits di atas dan wajib diperangi adalah perbuatan yang secara qath’i (tegas, eksplisit) dinyatakan sebagai kemungkaran dalam Al-Qur’an atau Sunnah, atau berdasarkan ijma’ dan bukan yang diperselisihkan. Kemungkaran-kemungkaran yang qath’i itu adalah yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai fahsya atau munkar, seperti zina, mencuri, riba, dan melakukan kezhaliman.

Contoh – “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu?” Rasulullah saw. menjelaskan, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan cara haq, makan riba, makan harta yatim, lari dari gelanggang saat jihad, dan menuduh zina kepada wanita suci.” (HR Muslim, Abu Dawud, dan Baihaqi)

  • Ketiga, kemungkaran itu tampak kerana dilakukan secara terbuka dan bukan hasil dari tajassus (mencari-cari kesalahan). Sebab Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kamu jika mencari-cari aurat (kesalahan-kesalahan) manusia, maka kamu menghancurkan atau nyaris menghancurkan mereka.” (HR Ibnu Hibban)

8. Tahapan dalam merubah kemungkaran.

  1. Pertama, memberikan kesedaran dan pemahaman. Allah swt. Berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taubah: 115)
  2. Kedua, menyampaikan nasihat dan pengarahan. Jika penjelasan dan maklumat tentang ketentuan-ketentuan Allah yang harus ditaati sudah disampaikan, maka langkah berikutnya adalah menasihati dan memberikan bimbingan. Cara ini dilakukan Rasulullah terhadap seorang pemuda yang ingin melakukan zina dan terhadap orang Arab yang kencing di Masjid.
  3. Ketiga, peringatan keras atau kecaman. Hal ini dilakukan jika ia tidak menghentikan perbuatannya dengan sekadar kata-kata lembut dan nasihat halus. Dan ini boleh dilakukan dengan dua syarat: memberikan kecaman hanya manakala benar-benar dibutuhkan dan jika cara-cara halus tidak ada pengaruhnya. Dan, tidak mengeluarkan kata-kata selain yang yang benar dan ditakar dengan kebutuhan.
  4. Keempat, dengan tangan atau kekuatan. Ini bagi orang yang memiliki walayah (kekuasaan, kekuatan). Dan untuk melakukan hal ini ada dua catatan, yakni: catatan pertama, tidak secara langsung melakukan tindakan dengan tangan (kekuasaan) selama ia dapat menugaskan si pelaku kemungkaran untuk melakukannya. Jadi, janganlah si pencegah kemungkaran itu menumpahkan sendiri arak, misalnya, selama ia boleh memerintahkan peminumnya untuk melakukannya. Catatan kedua, melakukan tindakan hanya sebatas keperluan dan tidak boleh berlebihan. Jadi, kalau bisa dengan menarik tangannya, tidak perlu dengan menarik janggotnya.
  5. Kelima, menggunakan ancaman pemukulan. Ancaman diberikan sebelum terjadi tindakannya itu sendiri, selama itu mungkin. Dan ancaman tentu saja tidak boleh dengan sesuatu yang tidak dibenarkan untuk dilakukan. Misalnya, “Kami akan telanjangi kamu di jalan,” atau “Kami akan menawan isterimu,” atau “Kami akan penjarakan orangtua kamu.” (Lebih lanjut lihat Fahmul-Islam Fi Zhilalil-Ushulil-‘Isyrin, Jum’ah Amin ‘Abdul-‘Aziz, Darud-Da’wah, Mesir).

9. Mengabaikan kewajipan dakwah mendatangkan azab,

“Dan peliharalah dirimu daripada seksaan yang tidak khusus menimpa ke atas mereka yang zalim dan kalangan kamu sahaja. Dan ketahuilah Allah maha keras seksaannya.” (al-Anfal: 25)

Ayat ini menjelaskan, apabila azab menimpa disebabkan kemungkaran yang berleluasa, ia tidak hanya menimpa ke atas mereka yang melakukan maksiat, ia juga menimpa ke atas mereka yang salih yang mengabaikan dakwah.

Menghadapi Kemungkaran dan Penjajahan di Negeri Sendiri

“Membiarkan adalah tidak melarang; tidak menghiraukan; dan tidak memelihara sedangkan kriminalisasi merupakan proses hukum memperlihatkan perilaku yang semula tidak dianggap sebagai peristiwa pidana, tetapi kemudian digolongkan sebagai peristiwa pidana oleh masyarakat.” 

Begitulah uraian yang saya peroleh ketika membuka kamus digital Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kriminalitas ialah tindak kejahatan yang dilakukan secara sadar dan tidak sadar baik oleh wanita ataupun pria yang merugikan orang lain. Kriminalitas bukanlah warisan atau bawaan sejak lahir (Kartini Kartono: 2005). Titik tekannya ialah tindakan kejahatan yang merugikan orang lain.

Berangkat dari  pengertian yang cukup sederhana dan jelas ini, hendaknya kita mengetahui bagaimana bersikap terhadap fenomena maraknya kriminalisasi di negeri ini mulai dari kriminalisasi wartawan, sastrawan, buruh hingga petani dan bahkan ulama.

Seringkali mereka yang dikriminalisasi atau dituduh sebagai pelaku kriminal bukanlah orang yang melakukan kejahatan dan merugikan orang lain, sebaliknya justru merekalah yang dirugikan oleh orang lain.

Mari sejenak mengingat data kriminalisasi dalam konflik agraria yang semakin meninggi. Dalam catatan Konsorsium Pembaruan Agraria tahun 2009-2014 terdapat 1.395 orang yang telah menjadi korban kriminalisasi dalam perjuangan mempertahankan tanah dan Sumber Daya Alam. (htttp// www.KPA.or.id./news/blog/pemberitahuan-ketersediaan-dana-darurat-untuk-korban-kriminalisasi-agraria/). Angka yang cukup fantastis untuk mengatakan bahwa kriminalisasi adalah senjata ampuh bak rudal neo-imperialisme untuk menghadang dan menggagalkan usaha para pejuang tanah air.

Tentu tidak mengherankan jika kriminalisasi terjadi dimana-mana karena sesungguhnya ini menjadi indikasi adanya persoalan sosial dimana-mana. Menjadikan sesuatu yang tidak kriminal menjadi kriminal adalah bentuk pembelokan kebenaran dan pengaburan terhadap persoalan yang terjadi. Seringkali kita melihat bagaimana usaha para petani yang mempertahankan hak-hak atas tanahnya harus siap berhadap-hadapan dengan jurus kriminalisasi.

Kebenaran yang mestinya dikatakan lantang adalah bahwa tanah air para korban kriminalisasi sedang dijajah dengan gaya baru, inilah penjajahan dan perampokan gaya baru. Persoalan yang terjadi adalah hak mereka dirampas, ruang hidup mereka dilibas, namun disirnakan dengan persoalan semu bahwa para korban kriminalisasi inilah permasalahannya. Tindakan kriminalisasi menjungkir balikan kebenaran dan persoalan yang terjadi.

Ada dua pendapat yang saya ajukan untuk dijadikan dalil melawan fenomena kriminalisasi: 

1. Melawan Kriminalisasi, Melaksanakan Kewajiban Nahi Munkar

Kriminalisasi terhadap para pejuang yang mempertahankan tanah airnya adalah upayapara penjajah kehidupan rakyat kecil untuk menjagal perjuangan mereka. Taruhlah contohperlawanan para petani di Desa Surokonto Wetan Kecamatan Pageruyung Kabupaten Kendal, perjuangan masyarakat Surokonto Wetan kini sedang dijagal dengan ditetapkannya status tersangka pada sosok Kiai Nur Aziz dan dua petani lainnya (penjelasan terkait kronologikonflik agraria dan penetapan tersangka Kiai Aziz dapat diakses di www.daulathijau.org

Petani penggarap lahan yang sedang berjuang merebut kembali sumber kehidupannya dihadang dengan tindak jahat pihak Perum Perhutani KPH Kendal melalui topeng kriminalisasi para petani. Sungguh perbuatan yang merugikan para petani disaat perjuangan baru akan dimulai karena tanah adalah sumber kehidupan dan penghidupan para petani. Disinilah letak relevansinya, bahwa melawan segenap bentuk kriminalisasi adalah sebuah ibadah dalam rangka mencegah kemungkaran.

Sederhananya, kriminalisasi adalah wasilah (media) menuju kemungkaran (merebut sumber kehidupan rakyat) dan melawannya adalah bentuk pemutus jalan menuju kemungkaran. bagaimana mungkin kita membiarkan dan meng-iya-kan kemungkaran?

2. Menolak Kriminalisasi Sama dengan Berjihad Melawan Penjajah

Kalau di alasan pertama fokusnya pada tindakan kemungkarannya maka alasan kedua ini ada pada pelakunya. Masih merujuk pada kasus kriminalisasi petani Desa Surkonto Wetan. Serangkaian kronologi bagaimana banyak perbuatan melawan hukum seperti pengalihan Hak Guna Usaha (HGU) –bukan hak milik- yang dimiliki oleh PT Sumurpitu Wrinnginsari kepada PT Semen Indonesia yang tidak memiliki kapasitas sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pertanian, perikanan, atau perternakan sesuai dengan PP No. 40 Tahun 1996, kemudian tindakan melawan hukum ini dilanjutkan dengan tukar-menukar lahan seluas 127 Ha kepada Perum Perhutani Kabupaten Kendal, Belum lagi ditambah tuduhan pembalakan liar dan perusakan hutan oleh Perum Perhutani terhadap para petani yang menanam dan menggarap lahan perkebunan sejak 1972 dan kriminalisasi adalah senjata ampuh para penjajah kehidupan petani penggarap lahan.

Seharusnya, kita harus mempertanyakan ulang siapa yang layak disebut pelaku kriminal. Tindakan ngawur yang dilakukan oleh ketiga pihak ini (PT Sumurpitu Wringinsari, PT Semen Indonesia dan Perum Perhutani) sama halnya dengan para penjajah yang datang ke Indonesia dengan mengambil dan menjarah sumber kehidupan rakyat Indonesia dengan seenaknya. Maka melawan kriminalisasi petani sama halnya dengan berjihad melawan penjajah.

Dewasa ini upaya kriminalisasi ulama begitu gencar dilakukan. Sebagai contoh, para penggawa GNPF-MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majis Ulama Indonesia) semisal Habib Rizieq Shihab, Ustadz Bachtiar Nasir dan Munarman juga menjadi sasaran tembak kriminalisasi.

Ini sangat wajar karena ketiga orang ini, di mata penguasa, merupakan di antara penggerak Aksi Bela Islam I, II dan III yang menggoncang seantero negeri.

Habib Rizieq dikriminalisasikan dengan kasus: dugaan makar, pelecehan Pancasila; penghinaan Hansip; bahkan yang lebih parah baru-baru ini adalah difitnah telah melakukan perbuatan tidak senonoh dengan wanita yang bernama Firza Hussein (FH). Ustadz Bachtiar Nasir  juga turut mendapat bagian. Ia dituduh bersengkokol dengan ISIS gara-gara memberi bantuan ke rakyat Suriah; demikian juga diduga terlibat makar.

Era Kenabian

Upaya kriminalisasi ini bukan hal baru dalam sejarah perjuangan umat Islam. Sejak awal era kenabian, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sempat memverifikasi kepada Waraqah Naufal tentang tantangan yang akan dia hadapi ketika membawa kebenaran Islam. Saat itu beliau diberi jawaban yang sangat gambalang, Tidak ada seorang pun yang datang membawa kebenaran seperti yang kamu bawa, melainkan pasti dimusuhi. (HR. Bukhari).

Terbukti. Selama 23 tahun Rasul mendakwahkan kebenaran Islam, sering sekali difitnah, diejek, didiskreditkan, diboikot, bahkan mau dibunuh baik oleh orang kafir maupun munafik. Dari perjalanan sirah beliau bisa diketahui, pembenci kebenaran selalu memiliki ciri khas yang sama, yaitu: mencoba menghalang-halangi pertumbuhan kebenaran dengan berbagai cara yang bisa dilakukan. Terlebih, jika kekuasaan dipegang, maka cara-cara keji dan represif sering dilakukan untuk menangkal pengaruhnya.

Saat ulama dari kalangan tabiin kenamaan, Said bin al-Musayyib komitmen menolak baiat kepada putra Abdul Malik (al-Walid dan Sulaiman) sebagai ganti dari Abdul Aziz bin Marwan, akibatnya  ia diganjar 60 cambukan oleh Hisyam bin Ismail [selaku Gubernur Madinah], bahkan dipenjara. [Siyaru Alâm an-Nubalâ, 5/130] Pada riwayat lain bahkan Said diboikot, tidak diajak bicara [al-Thabâqatu al-Kubra, 5/128], bahkan dicambuk [Siyaru Alâm An-Nubalâ, 4/232].

Lebih tragis dari kejadian itu, Said bin Jubair seorang Tabiin dipenggal kepalanya oleh Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi, seorang panglima bertangan besi dari Kekhilafaan Umawi,  gara-gara menentang Khilafah Umawi bersama Ibnu al-Asyats [Wafayâtul Ayân, 2/373].

Pada era Khilafah Abbasiyah, Imam Abu Hanifah  dicambuk [Târîkh Baghdâd, 13/327] dan dipenjara oleh al-Manshur gara-gara menolak dijadikan Qadhi [Siyaru A`lam An-Nubalâ, 6/401].

Seorang Imam Besar dan karismatik, Malik bin Anas nasibnya tak kalah sulit, beliau dicambuk karena membangkang pada perintah Abu Jafar al-Manshur, lantaran tetap meriwayatkan hadits, “Tidak ada talak bagi orang yang dipaksa.” [Wafayâtul Ayân, 4/137]. Beliau bersikukuh dengan kebenaran yang diyakini.

Imam Syafii pernah dituduh sebagai pendukung Syiah oleh pendengkinya, Mutharrif bin Mâzin. Bahkan dia memprovokasi Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menangkap Syafii dan orang-orang alawiyin. Diutuslah Hammad al-Barbari untuk menangkap Imam Syafii dan orang-orang alawiyin. Ia dirantai dengan besi bersama orang alawiyin dari Yaman hingga Raqqah, kediaman Harun Ar-Rasyid [Siyaru Alâm al-Nubalâ, 8/273]. Bayangkan, betapa sengsaranya dirantai dengan besi dari Yaman hingga Baghdad.

Imam Ahli Hadits, Ahmad bin Hanbal juga pernah mengalami nasib yang lebih menyakitkan dengan penguasa. Ia dicambuk, dipenjara selama 30 bulan oleh Mamun gara-gara tidak mengakui kemakhlukan al-Quran sebagaimana yang diyakini mu`tazilah [al-Kâmil fi at-Târîkh, 3/180].

Imam Bukhari pun akhirnya pergi dari negerinya karena “berusaha disingkirkan” oleh Penguasa Dhahiriyah di Bukhara saat itu, Khalid bin Ahmad al-Dzuhali. Penyebabnya, Imam Bukhari menolak permintaan Khalid untuk mengajar kita “al-Jâmi`” dan “al-Târîkh” di rumahnya. Bukhari beralasan, seharusnya yang butuh ilmulah yang mendatanginya, bukan ulama yang mendatangi yang butuh. Pada akhirnya, Bukhari meninggalkan negerinya [Târîkh Baghdâd, 2/33].

Nasib ulama lain yang tidak kalah susah adalah seperti yang dialami Imam Ibnu Taimiyah diadukan kepada Emir Humsh al-Afram, oleh orang-rang shufi karena suka membid`ahkan amalan mereka. Sampai pada akhirnya karena dianggap membuat keresahan [oleh para pembencinya], ia pun dipenjara, dan mati di dalam penjara [al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 14/41].

Dalam sejarah Islam di Nusantara, sebelum kemerdekaan Indonesia, ulama juga mengalami upaya kriminalisasi. Ahmad Syadzirin Amin menyebutkan, “Sudah menjadi catatan sejarah, bahwa pejuang penantang penjajah, mengalami nasib yang serupa dengan Syaikh Ahmad Rifa’i difitnah atau diasingkan, seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Maulana Hasanuddin, Tengku Umar, (Mengenal Ajaran Tarjumah Syaikh H. Ahmad Rifa’ie RH. dengan Madzhab Syafi’i dan I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah, Ahmad Syadzirin Amin, hal: 37). Sosok Hadratusy Syaikh Hasyim Asyari juga tak luput dari pembicaraannya.

Pasca kemerdekaan Indonesia, juga ada contoh rill upaya penguasa mengkriminalisasi ulama. Akibat kritikan pedas Buya Hamka di Masjid Al-Azhar terhadap pandangan Soekarno mengenai demokrasi terpimpin pasca dekrit presiden 1959,  akhirnya beliau dibui oleh rezim Orde Lama ini pada tahun 1964 dan baru dibebaskan setelah Soekarno lengser, tepatnya di masa awal Orde Baru 1967 (Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad Dua Puluh, 63,64).

Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa sudah biasa para ulama dikriminalisasi ketika bersikukuh dengan kebenaran yang diyakini benar. Dan sudah menjadi sunnatullah jika penegak kebenaran akan dimusuhi. Hanya saja, yang menjadi persoalan mendasar bagi umat saat ini adalah sikap terbaik apa yang harus dilakukan ketika ulama dikriminalisasi. Apa hanya diam saja, reaktif, atau melakukan tindakan-tindakan konstitusional untuk memperjuangkannya.

Inilah yang menjadi Pekerjaaan Rumah (PR) bersama. Harus ada upaya serius untuk menangani hal ini agar persatuan umat Islam dan NKRI di negeri pertiwa ini tetap harmonis dan langgeng.

Terlepas dari semua itu, yang perlu dijadikan titik tolak untuk menemukan solusi tersebut ialah, seperti yang disebutkan al-Qur`an, Jika memang al-haq yang datang (dibawa), maka setiap kebatilan pasti lenyap. (QS. Al-Isra [17] : 81).

Bukankah, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari telah mendahului memberi tauladan kepada kita dengan resolusi jihad-nya tentang bagaimana mempertahankan kemerdakaan dari penjajah?

Mari kita renungkan kembali, bagaimana mungkin membiarkan kemungkaran dan penjajahan berdiri tegak di depan kita? Bukankah para pendiri bangsa telah mendidik dan memberi teladan kita untuk melawan setiap penjajahan? Bukankah Muhammad SAW mengajarkan bagaiamana kita harus bersikap dalam menghadapi kemungkaran dengan segenap kemampuan (biyadihi, bilisanihi, biqolbihi) kita?

Adakah Posisi Netral Dihadapan Kemungkaran?

“Zainab binti Jahsy bertanya kepada nabi, ‘adakah kita akan dimusnahkan sedangkan golongan yang soleh masih ada di kalangan kita?’ Nabi menjawab, ‘ya, apabila kekejian berleluasa.” (HR Muslim)


Rujukan

Kelanjutan Kasus Siyono #menolaklupa

Bgaimana Kelanjutan Kasus Siyono?

Siyono, seorang terduga teroris yang ditangkap Detasemen Khusus Anti-Teror 88 (Densus 88) di Desa Pogung, Cawas, Klaten, dilaporkan meninggal dunia saat penyidikan.

Baca kembali kasusnya :

Catatan Kecil Kak Seto

Ketua Komnas Anak, Seto Mulyadi membuat catatan kecil soal kasus Siyono. Catatan tersebut ia sebarkan melalui media sosial. Saat dikonfirmasi, ia membenarkan catatan tersebut. “Catatan yang mengenai Siyono ya? iya betul,” katanya saat dikonfirmasi Kiblat.net pada Jumat(10/03).

Berikut selengkapnya catata Kak Seto mengenang setahun kepergian Siyono:


Anak-anak (dan Kita?) Tak Bisa Lupa

source: kiblat.net


Hari ini tepat satu tahun Siyono meninggal dunia. Dia dan banyak lainnya dijuluki sebagai anggota jaringan teror, kendati secara hukum baru sebatas terduga teroris.

Terduga bukan tersangka, apalagi terdakwa, lebih-lebih terpidana. Terduga punya kedudukan sama dengan kita, dan dalam hukum terhadap mereka diberlakukan praduga tak bersalah.

Namun garis tangan membawa Siyono menjadi orang yang dihabisi lewat extrajudicial killing.

‘Lupakan’ Siyono!

Bagaimana kabar anak Siyono hari ini? Apa yang kini dia pahami tentang kematian ayahnya tercinta?
Aku sudah menyambangi salah satu TK di Klaten dan menemukan anak-anak yang terguncang psikisnya.

Tipikal aku bertanya ke bocah-bocah yang menyaksikan operasi extrajudicial killing itu. Nyaris sama sekali tak ada yang mau menjadi polisi.

Itu setahun lalu….

Kini, hari ini, sekali lagi kutanya kepadamu: Apa kabar anak Siyono? Berapa tebal tinta hitam yang ditumpahkan ke keningnya bertuliskan “ANAK TERORIS!”

“Nak, Kakak akan kembali.”

Pesan Kak Seto untuk Penegak Hukum

Ketua Komnas Anak, Seto Mulyadi menegaskan bahwa dalam melakukan tugas, kepolisian tetap mempedulikan hak-hak anak. Artinya, anak harus dijauhkan dari hal yang berbau kekerasan.

“Jadi mohon anak-anak dipisahkan dari orang tuanya, baik anak teroris, mau anak perampok, mau anak bandit, dan lain sebagainya. Itu tetap dijaga hak-haknya, hingga dalam upaya penangkapan dan lain sebagainya, tetep jangan melupakan pembenahan anak-anak ini,” katanya saat dihubungi Kiblat.net pada Jumat (10/03).

Menurutnya, kekerasan akan menimbulkan suatu perasaan benci dendam, yang akan justru menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan dimasa mendatang.

“Jadi pengalaman-pengalaman promatik yang terbentuk tadi akibat ketidak pedulian pada pelindungan anak, justru menjadi kontra konduktif sehingga menimbulkan menyisakan permasalahan-permaslahan komplektif pada masa yang akan datang,” jelasnya.

Maka, ia menghimbau agar kepolisian tidak semena-mena dalam melakukan penangkapan. Ia menegaskan bahwa hal itu sangat berpengaruh buruk bagi anak.

“Jangan sampai mengendaraisasi alah peduli amat tembak di depan anak-anaknya, kadang bapak ditangkep dengan kekerasan di depan anak-anaknya. Nah itu sangat tidak positif, untuk perkembangan jiwa anak,” tukasnya.

Jangan Biarkan Aparatur Negara Jadi Penafsir Tunggal Terorisme

Katua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menghimbau agar tidak ada aparatur negara yang menafsirkan terorisme secara sepihak.

“Jangan biarkan di negeri ini ada aparatur negara memiliki senjata itu menjadi penafsir tunggal terhadap kejahatan terorisme,” katanya kepada Kiblat.net di Gedung PP Muhammadiyah Pusat, Menteng Jakarta pada Jumat (10/03).

“Jadi akhirnya publik tidak berani mengungkapkan. Kenapa? karena publik takut dicap teroris,” sambungnya.

Oleh sebab itu, kata dia, kita menghimbau publik untuk berani bersuara apabila anggota keluarga mereka dicap teroris.

Ia juga menilai bahwa selama ini, aparatur negara secara sepihak menuding siapa yang teroris dan siapa yang bukan.

“Selama ini kan Densus 88, BNPT, Polisi itu jadi penafsir tunggal. Siapa yang teroris, siapa yang bukan. Kalau mereka tembak, kemudian mati, ‘itu teroris’, padahal belum tentu,” tegasnya.

Dahnil pun mempermisalkan anak Siyono yang ayahnya dicap teroris. Menurutnya, hal itu merusak masa depan anak-anak Siyono.

“Bayangkan anak Siyono dicap teroris, gimana masa depan mereka dirusak dirampas karena tindakan yang semena-mena itu,” tukasnya.

Kasus Siyono Bukti Nyata Polisi Kebal Hukum

Sudah setahun kasus kematian Siyono, warga Pogung, Klaten, di tangan Densus 88. Bapak lima anak itu ditangkap dalam keadaan sehat dan dipulangkan tanpa nyawa. Padahal, belum ada pengadilan yang membuktikan dia terkait teroris, apalagi divonis mati.

Terkait hal ini, Staf Divisi Hak Sipil Politik KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) Satrio Wirataru melihat, dalam kasus Siyono ini merupakan bukti nyata bahwa anggota polisi seakan kebal hukum, tidak hanya dalam kasus terorisme, melainkan juga dari kasus-kasus lainnya.

“Kasus Siyono, dengan tidak adanya sanksi yang layak bagi polisi yang melakukan pelanggaran prosedur, ini adalah contoh kekebalan hukum bagi pelanggaran yang dilakukan oleh polisi, tidak hanya dalam kasus terorisme, tapi juga kepada yang lainnya juga, ini contoh buruk yang dilihat masyarakat secara langsung,” ujar Satrio saat dihubungi Kiblat.net, Sabtu (11/3).

Satrio melanjutkan, dengan tidak adanya sanksi yang layak ini, polisi terkesan tidak menindaklanjuti perihal pengungkapan fakta yang jelas terkait kematian Imam Masjid Muniroh, Pogung, Klaten ini.

“Ini menjadi contoh buruk, walau kemudian polisi memiliki momentum yang sebenarnya cukup bagus dalam kasus ini, karena besarnya dukungan masyarakat mengungkap kasus ini,” ungkapnya.

Namun, Satrio menilai, momentum ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh kepolisian, terbukti dari hasil forensik yang dilakukan oleh Muhammadiyah, tidak digunakan dalam pengungkapan kasus Siyono ini.

“Dalam segi forensik, polisi sudah banyak dibantu misalnya oleh Muhammadiyah dll, namun hasilnya itu tidak digunakan oleh prosesnya,” pungkasnya.

Selamat Jalan Siyono

#menolaklupa

Referensi

Hentikan Proyek Reklamasi Teluk Jakarta!

Hentikan Proyek Reklamasi Teluk Jakarta!

img_20170305_043047

Reklamasi adalah proses pengurugan kawasan air (laut, sungai, danau) hingga menjadi daratan baru. Dengan harga jual tanah yang meningkat terus, maka daratan baru ini mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Ada harta di balik proyek reklamasi.

Reklamasi adalah hal biasa dan sudah banyak dilakukan oleh berbagai negara di dunia. Inisiatif reklamasi biasanya datang dari pemerintah dengan berbagai alasan dan kepentingan.

Pada awalnya, reklamasi dilakukan untuk survival: untuk mempertahankan hidup dari bencana banjir seperti yang dilakukan oleh bangsa Belanda sejak ratusan tahun silam, atau alasan ekonomi seperti membangun pelabuhan udara untuk menunjang pembangunan ekonomi. Banyak pelabuhan udara di dunia ini dibangun di lahan reklamasi, antara lain Changi Airport (Singapore), Kansai International Airport (Jepang), Chek Lap Kok (Hong Kong), dan banyak lagi.

Negara bagian Florida, Amerika Serikat, yang ekonominya tergantung dari pariwisata pantai, harus melakukan reklamasi untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pantainya untuk menarik turis yang sempat menurun. Setelah reklamasi, jumlah turis di Miami meningkatkan tajam dari 8 juta turis pada 1978 menjadi 21 juta turis pada 1983. Ini adalah contoh reklamasi yang bermanfaat bagi rakyat yang tinggal di daerah sekitar reklamasi, dan sekaligus meningkatkan pendapatan pemerintah daerah.

Reklamasi Pantai Utara Jakarta: Mega Proyek Kontroversial

Seperti kita ketahui, saat ini proyek reklamasi juga sedang berlangsung di Pantai Utara (Pantura) Jakarta. Areal reklamasi ini sangat luas, mencapai 5.152 hektar atau 51.520.000 meter persegi. Artinya areal reklamasi ini lebih besar dari Jakarta Pusat yang mempunyai luas 48.000.000 meter persegi!

Jadi, reklamasi Pantura Jakarta termasuk salah satu mega proyek reklamasi terbesar di dunia. Reklamasi Pantura Jakarta dibagi menjadi tujuh belas (17) pulau (Pulau A sampai Pulau Q) yang terbentang dari sisi barat hingga sisi timur Pantai Utara Jakarta. Dari 17 pulau tersebut, ada tiga belas (13) pulau (Pulau A hingga Pulau M) dengan total luas 3.560 hektar (35.600.000 meter persegi) terletak di daerah elit Pantai Indah Kapuk (PIK), Pluit, dan Ancol.

Seperti kita ketahui, harga tanah di daerah elit ini sangat tinggi sekali. Oleh karena itu, lahan hasil reklamasi di 13 pulau tersebut pasti mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Siapa yang beruntung melaksanakan reklamasi ini? Ada 7 perusahaan yang diserahkan untuk melaksanakan reklamasi di daerah elit ini, di mana salah satunya adalah perusahaan daerah (BUMD) DKI. Di bawah ini kita coba menghitung nilai ekonomis atau keuntungan dari reklamasi Pantura Jakarta.

Kebanyakan masyarakat awam mengira biaya reklamasi tentunya sangat mahal sekali. Berdasarkan data historis beberapa proyek di negara tetangga kita, biaya reklamasi ternyata sangat murah. Reklamasi di Singapore (selama periode 1966-1977) hanya menelan biaya 228 juta dolar Singapore (SGD) untuk luas lahan sebesar 11.650.000 meter persegi. Artinya, biaya reklamasi per meter persegi hanya SGD 19,57 atau sekitar Rp 185.915 (dengan menggunakan kurs awal Januari 2017). Di Melaka, Malaysia, biaya reklamasi rata-rata hanya Rp 989.090 per meter persegi seperti dapat dilihat di bawah ini.

img_20170305_042134

(klik untuk memperbesar)


Reklamasi di Bandar Tanjung Pinang, Tanjung Tokong, Malaysia pada 2003 hanya menghabiskan biaya 328 juta ringgit Malaysia (RM) untuk reklamasi seluas 973.793 meter persegi. Artinya, biaya reklamasi per meter persegi hanya RM 336,83 atau Rp 1.023.952 (kurs: Rp 3.042 per RM 1). Proyek Reklamasi Marina, Bandar Tanjung Bungah, Malaysia pada 2007 menghabiskan biaya RM 26.527.742 untuk lahan seluas 48.562 meter persegi (4,85 hektar). Artinya, biaya reklamasi per meter persegi menjadi RM 546.26, atau Rp 1.660.636 (kurs sama seperti di atas). Biaya reklamasi ini lebih tinggi karena lahan reklamasi sangat kecil sehingga terjadi inefisiensi yang mengakibatkan biaya reklamasi per meter persegi meningkat tajam.

Bagaimana dengan biaya reklamasi di Indonesia? Selain di Pantura Jakarta, saat ini juga sedang berlangsung proyek reklamasi di Pantai Losari, Makassar, dengan luas 157,23 hektar (Rp 1.590.000 per meter persegi). Menurut berita di surat kabar, Ciputra Group sebagai pengembang pelaksana reklamasi menyediakan dana Rp 2,5 triliun untuk proyek ini. Kalau kita asumsikan seluruh dana tersebut digunakan untuk reklamasi, maka biaya reklamasi Pantai Losari sebesar Rp 1.590.000 per meter persegi. Biaya reklamasi Pantura Jakarta seharusnya jauh lebih rendah dari Pantai Losari karena skalanya jauh lebih luas sehingga lebih efisien.

Reklamasi Pulau A sampai Pulau M seluas 35.600.000 meter persegi yang terbentang di kawasan elit ini harga jual tanah di kawasan tersebut bervariasi antara Rp 22 juta hingga Rp 38 juta per meter persegi, dengan harga rata-rata Rp 30 juta per meter persegi. Kita asumsikan utilisasi lahan 55 persen. Artinya, hanya 55 persen dari seluruh areal reklamasi yang dapat dikomersialkan (baca dijual). Sedangkan sisanya 45 persen digunakan untuk fasilitas umum, daerah hijau, serta sarana dan prasarana. Asumsi utilisasi 55 persen ini cukup konservatif mengingat di beberapa proyek perumahan utilisasi lahan bisa mencapai 60 persen hingga 65 persen.

Dengan asumsi perhitungan seperti di atas maka total keuntungan proyek reklamasi sepanjang Pantai Indah Kapuk sampai Ancol, atau dari Pulau A sampai Pulau M, seluas 35.650.000 meter persegi, mencapai Rp 516,9 triliun, seperti dapat dilihat di tabel di bawah ini.

img_20170305_042409

(Klik untuk memperbesar)


Oleh karena itu, tidak heran kalau proyek reklamasi Pantura Jakarta ini harus terus dilanjutkan, at all costs! Tidak boleh ada yang menentang. Bahkan ada yang berpendapat, untuk memuluskan mega proyek ini maka lingkungan ‘kumuh’ yang menghalangi pandangan mata, atau lebih tepatnya yang dapat mengurangi nilai jual tanah, harus digusur: Pasar Ikan, Luar Batang?

Apa yang diperoleh Pemprov DKI Jakarta sebagai pemegang hak reklamasi yang diamanatkan oleh Keppres5/1995? Pemerintah DKI Jakarta hanya memperoleh ‘retribusi’ sebesar 5 persen. Lima persen? Bukankah 15 persen? Secara peraturan yang berlaku, retribusi yang resmi adalah 5 persen. Retribusi 15 persen hanya ada di “Perjanjian Preman”.

Apakah “Perjanjian Preman” tersebut sah? Mungkin hanya pakar hukum di Mahkamah Agung atau KPK yang bisa menjawabnya. Yang pasti harta di balik reklamasi ini sungguh amat menggiurkan. Penulis hanya berharap harta ini mampu membawa kebaikan bagi warga DKI dan bukan sebaliknya menimbulkan bencana sosial maupun lingkungan.

Mengapa Reklamasi Teluk Jakarta Harus Dihentikan?

Penangkapan KPK terhadap salah satu direktur pengembang yang menjalankan proyek reklamasi pulau Jakarta menarik perhatian masyarakat. Pasalnya, Ahok dan gubernur lain suspect terlibat korupsi. Salain itu, ada hal-hal lain yang mencurigakan dan terkesan dipaksakan berikut:

1. Harga Tanah

Tahu kenapa developer ngotot banget reklamasi? Karena biayanya murah. Untuk mereklamasi pantai jadi pulau itu hanya butuh 2-3 juta/meter. Bandingkan harga tanah di Jakarta, bisa 10-15 juta/meter. Developer itu pintar banget, ngapain beli tanah? Mending bikin pulau saja.

Nilai jual hasil pulau buatan di pantai utara Jakarta itu paling sial adalah 20 juta/meter. Ini angka sekarang, 10 tahun lagi, saat pulau-pulau itu siap, boleh jadi sudah 40 juta/meter. Ada total 50.000 hektare, dari puluhan pulau buatan. Itu total 50.000 x 10.000 m2 = alias 500 juta m2. Belum lagi besok jika bangunannya bertingkat, maka itu bisa lebih banyak lagi. Berapa nilai reklamasi ini? Kita hitung saja paling simpel, 20 juta x 500 juta m2= 10.000 triliun rupiah.

2. Tanah Air dan Singapura

Untuk 500 juta meter persegi reklamasi, berapa tanah yang dibutuhkan? Milyaran kubik, coy. Dari mana itu tanah didatangkan? Gunung-gunung dipotong, pasir-pasir dikeruk, diambil dari mana saja, yang penting ada itu tanah.

Dulu, kita ngamuk minta ampun saat Singapore mereklamasi pantainya, ambil pasir dari Riau. Sekarang? Kenapa kita tidak ngamuk. Singapore sih masuk akal dia maksa reklamasi, lah tanahnya sedikit. Jakarta? Masih luas lahan yang bisa dikembangkan, apalagi pembangunan belum merata di Indonesia.

3. Mengubur Harta Karun

Dengan harga tanah yang bisa 40 juta/meter, siapa yang akan membeli pulau buatan ini? Apakah nelayan yang kismin? Apakah anak2 betawi asli macam si doel? Apakah rakyat banyak? Tidak! Itu hanya akan dinikmati oleh segelintir orang yang super kaya di Indonesia. Kalau situ cuma berpenghasilan 10 juta/bulan aja, berarti cuma bisa mimpi beli properti di pulau buatan ini, apalagi yang dibawah itu.

Dengan nilai total 10.000 triliun, siapa yang paling menikmati uangnya? Apakah UMKM? Apakah koperasi? Apakah pengusaha kecil? Bukan, melainkan raksasa pemain properti, yang kita tahu sekali siapa mereka ini. Pemiliknya akan super tajir, sementara buruh, pekerjanya, begitu-gitu saja nasibnya.

4. Alasan Bencana Alam

Salah satu senjata pamungkas pembela reklamasi itu adalah: besok lusa Jakarta akan tenggelam, kita perlu benteng berupa pulau luar biar menahan air laut. Kalau mau bangun benteng, ngapain harus pulau? Belanda saja tidak selebay itu, padahal negara mereka di bawah permukaan laut.

Oke, terserahlah namanya juga argumen, yang mau tetap belain reklamasi silakan. Saat pulau-pulau afabet buatan ini sudah megah begitu indah, pastikan anak-cucu kita tidak hanya jadi tukang sapu, tukang pel kaca di hotel-hotelnya, mall, pusat bisnis di sana. Di luar sana banyak yang bersedia pasang badan mati-matian menggunakan logika reklamasi ini. Tapi pastikan, kalian dapat apa?

Kalian dapat berapa sih dari belain reklamasi? Heheh… jangan sampai deh, kalian mengotot, memaki orag lain, demi membela reklamasi ini. 20 tahun lagi, saat pulau-pulau buatan itu jadi, kalian mau menginap di hotelnya semalam saja tidak kuat bayar.

Sudah pernah ke Marina Bay Sand Singapore, yang hasil nimbun laut juga? Semalam harga hotelnya bisa 5-6 juta rupiah. Situ berbusa belain reklamasi, 20 tahun lagi, cuman pengin numpang lewat ke pulaunya saja tidak mampu bayar!. Nginep semalam di sana, setara gaji 2 bulan kita? Sementara yang punya, sudah semakin super tajir, menyuap sana-sini, membantu dana kampanye ini-itu, dll, demi melancarkan bisnisnya.

Ketika alam sebagai alasan, seharusnya tidak ada ekosistem lain yang terganggu. Tidak boleh, motto “Untuk mendapatkan sesuatu, harus kehilangan sesuatu.” Pertanyaan selanjutnya, berapa jumlah ikan, burung, hewan yang terusir dari wilayah yang direklamasi?

5. Bisnis Eksklusif

Ada sebuah rumah, dengan harga 4 milyar. Berapa banyak sih orang bisa membelinya? Berapa gaji kita sekarang? 10 juta per bulan? Tetap impossible membeli rumah tersebut. Mari saya hitungkan. Gaji 10 juta x 12 bulan = 120 juta/tahun. Butuh berapa tahun untuk dapat 4 milyar? 33 tahun. Baru terkumpul uangnya, itupun berarti kita tidak makan, minum, dsb… karena seluruh gaji ditabung. Sialnya, persis di tahun ke-33, ketika uang itu telah terkumpul, rumah tersebut sudah bernilai 10 milyar!

Hanya orang-orang kaya lah yang mampu beli rumah ini. Orang-orang yang punya uang banyak, dan jelas, mereka memang membutuhkan tempat tinggal yang “aman”. Kenapa komplek-komplek elit di kota kalian tertutup? Ada gerbang di depannya, dijaga penuh oleh satpam? Silakan jawab sendiri. Tidak cukup dengan perumahan elit, muncul ide brilian, kenapa kita tidak bikin pulau terpisah saja? Wow, itu kan menarik sekali. Kelompok super elit akan terbentuk di sana. “Tinggal angkat jembatannya”, siapapun tidak bisa lagi masuk dengan mudah. 3 Milyar adalah harga paling murah rumah setapak di pulau reklamasi.

6. Butir Ke-5 Pancasila

Maka, izinkan lah kami bertanya, Bung yang selama ini berteriak soal keadilan sosial, kenapa Bung tidak tergerak hatinya berdiri di depan sana protes keberatan? Lautan akan diuruk dengan tanah hasil mengeruk, dibangun dengan milyaran kubik pasir yang diambil dari milik rakyat. Banyuwangi, Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Lombok, milyaran kubik pasir akan diangkut kapal-kapal besar, menunggu apakah pemerintah setempat setuju atau tidak daerahnya jadi tambang pasir.

Bung, bukankah Anda dulu marah besar saat Singapore mengangkut milyaran kubik pasir dari Riau? 25 kapal lebih bolak-balik membawa pasir, menimbun pulau reklamasi, yang sekarang di atasnya berdiri hotel-hotel super mewah, yang harganya tak terjangkau kalangan proletar. Atau definisi keadilan sosial milik Bung hanya abal-abal saja aka KW2?

Kami, tidak anti 100% reklamasi. Tidak. Dalam beberapa kasus, untuk pembangunan bandara, pembangunan pelabuhan, demi kepentingan umum, reklamasi itu masuk akal. Tapi untuk membangun mall, hotel, apartemen, kondotel, komplek super elit? Wah, itu membuat jurang kesenjangan sosial semakin lebar Bung. Kita bahkan belum bicara soal dampak lingkungan. Omong kosong jika reklamasi itu tidak berdampak pada ekosistem. Itu sama dengan orang yang bilang, “merokok baik untuk kesehatan.” Sekecil apapun, reklamasi pantai membawa dampak pada ikan, udang, dan burung.

7. Kontra

Sekarang, apakah kita bisa menahan soal reklamasi ini? Bagaimana kita akan menahan Tuan Tanah dari bangsa sendiri? Bagaimana mungkin kita bisa mencegah godaan uang ratusan milyar? Itu susah. Produk pulau super elit ini jelas punya pembeli, uangnya ada, ada demand-nya, maka susah menolaknya. Dalam kasus tertentu saya bahkan pernah berpikir, baiklah, silahkan saja reklamasi, tapi seluruh pulaunya milik pemerintah pro rakyat. Yang mau beli di sana cuma nyewa. Itu ide bagus juga.

Tapi hari ini, setelah saya pikir ulang, saya kembali optimis. Kita bisa menghentikan reklamasi ini! Bisa. Sepanjang ada kemauan dari penguasa. Sekali kita punya pemimpin yang berani, yang mau memihak pada rakyat banyak, kita bisa membuat aturan main monumental, menghentikan total reklamasi. Ini jaman sudah berubah, ketika sebuah isu bisa dibicarakan dengan cepat, tambahkan kasus tertangkapnya bos developer oleh KPK. Wah, itu seharusnya membuka mata semua orang, betapa “jeleknya” permainan pulau-pulau rekayasa ini.

8. Tanah Surga Katanya

Tanah Indonesia itu luasnya masih buaaanyak. Kita bukan Singapore, bukan Hong Kong. Negeri ini diberkahi lahan yang luas. Suruh itu developer mengembangkannya. Gelontorkan uang ribuan triliun itu di darat! Berhentilah bangun pulau-pulau egois. Pulau jawa saja lebih luas dari Korea dengan perbandingan 126.700 KM2 : 100.210 KM2.

Lebih dari 10.000 ribu pulau dimiliki Indonesia, dengan mayoritas penduduknya tinggal di pulau Jawa. Jadi tidak ada lagi alasan sempit. Kalau mau bangun negara, bangunlah pemerataan di pulau lain seperti Kalimantan, Sumatra dan daerah lain. Itu akan jauh lebih baik. Minimal, jika di darat sini, kelompok super elit itu bisa sedikit bergaul dengan rakyat banyak. Mereka tidak perlu bikin pulau sendiri. Tenang saja, wahai kelompok super elit, dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, kaum proletar itu adalah tetangga yang oke punya.

Kavling Reklamasi Jakarta Sudah Dijual ke Beijing

Pemberhentian Rizal Ramli dari jabatan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya beberapa waktu lalu, ternyata disorot juga oleh Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab.

Video rekaman ceramah Habib Rizieq yang menyoroti pemberhentian Rizal Ramli dan menyinggung proyek Reklamasi Jakarta kini beredar luas .

Dalam ceramahnya, Habib Rizieq mengatakan bahwa saat ini kekuatan China non-muslim di Indonesia sudah sangat besar. Apalagi mereka juga membangun kerja sama yang kuat dengan perusahaan-perusahaan di Republik Rakyat China (RRC), termasuk dalam proyek reklamasi Jakarta.

Rizal Ramli, kata Rizieq, yang saat itu menjabat sebagai Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, terpaksa harus digeser dari kabinet Jokowi-JK karena menolak proyek Reklamasi Jakarta.

“Begitu ada menteri yang punya rasa nasionalisme, semangat kebangsaan, cerdas, rajin, bagus, berani, seperti Pak Rizal Ramli, dia protes itu reklamasi di Pantai Jakarta, dia tolak reklamasi, akhirnya ribut dengan ahok. Apa yang terjadi? Bukan Ahok yang digusur tapi RR yang diberhentikan,” kata Rizieq.

Menurut Habib Rizieq, uang triliunan dari investor China sudah masuk. Bahkan mereka sudah membuat iklan yang dipromosikan di televisi di Beijing sehingga banyak pengusaha China yang membeli apartemen yang akan dibangun di pulau reklamasi tersebut.

“Apartemennya belum dibangun, ngurugnya belum selesai, sudah laku. Berapa ratus triliun,” ungkap Rizieq.

Tak heran, sambung Habib Rizieq, bila Ahok juga mengatakan jika menghentikan proyek ini maka Indonesia akan dituntut oleh pihak luar negeri. Habib Rizieq mengatakan dia menunggu kebaranian Jokowi.

“Stop itu reklamsi maka sembilan perusuhan naga kompeni bangkrut karena harus kembalikan kepada investor luar. Negeri ini mau dijual. Mengapa gak diiklankan saja di Jakarta, biar orang kaya pribumi beli. Ini diiklankannya di Beijing,” tandas Habib Rizieq.

Referensi

Harta di Balik Reklamasi Teluk Jakarta (Daniel Johan/detikNews)

 

8 Alasan Mengapa Reklamasi Teluk Jakarta Harus Dihentikan (Omar/Openulis.com)

 

Habib Rizieq Ungkap Kavling Reklamasi Jakarta Sudah Dijual ke Beijing (fajar.co.id)

 

https://www.instagram.com/p/BROVjBHBRTp/

 

https://www.instagram.com/p/BROWK2sBABN/

 

https://www.instagram.com/p/BROWlcBhqBS/