Yahudi, Komunis, Syi’ah dan Liberal

Syiah dan komunis dua saudara kandung dari rahim bernama Yahudi

Beberapa waktu terakhir topik kebangkitan PKI (Partai Komunis Indonesia) telah berhasil menyita perhatian publik tanah air. Tak tanggung-tanggung, topik ini seakan berhasil menyatukan seluruh elemen umat Islam. Berbagai ormas Islam dan tokoh Islam bersatu dan bereaksi keras mewanti-wanti bahaya kebangkitan PKI. Seluruh ulama menyatakan sikap dengan lantang bahwa ideologi komunis sesat dan menyesatkan.

Seandainya saja euforia yang sama juga berlaku dalam upaya menghadapi bahaya kebangkitan Syi’ah yang semakin merajalela di tanah air. Seandainya saja seluruh elemen umat Islam menyadari bahwa ancaman yang dibawa oleh Syi’ah tidak kalah berbahaya dari ancaman kebangkitan PKI. Karena sesungguhnya Syi’ah dan Komunis adalah dua saudara yang lahir dari satu induk semang yang sama bernama Yahudi.

Sebagai dua saudara kandung, keduanya memiliki banyak sekali kesamaan sifat genetik. Disini, penulis berusaha mengurai beberapa kesamaan antara Syi’ah dan Komunis berdasarkan catatan sejarah kedua gerakan ini, diantaranya:

Lahir Dari Rahim Yahudi

Syi’ah adalah sekte sesat dan menyimpang yang dicetuskan oleh seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ yang menyusup dalam tubuh kaum muslimin setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Abdullah bin Saba’ berhasil menciptakan sebuah gerakan paling berbahaya dan paling merusak sepanjang sejarah umat Islam sampai hari ini.

Sedangkan Komunis dikonsep oleh seorang filsuf Yahudi bernama Karl Marx. Perkembangan gerakan ini juga dipenuhi dengan catatan yang kelam bagi sejarah umat manusia. Seluruh negara yang dikuasai oleh rezim Komunis pasti telah atau sedang mengalami tragedi pembantaian, pelanggaran HAM berat dan berbagai kejahatan kemanusian lainnya.

Dibangun diatas dendam dan ketidakpuasaan terhadap keadaan

Prinsip dasar Syi’ah dibangun diatas klaim pembelaaan terhadap Ahlu Bait yang mereka anggap telah dikhianati dan didhalimi oleh sebagian besar Sahabat Nabi radhiyallahu anhum. Syi’ah menolak kekhalifahan kaum muslimin pada umumnya dan mengklaim bahwa hanya para Imam dari kalangan Ahlu Bait yang paling berhak menjadi Khalifah.

Adapun Komunis merupakan gerakan yang dibangun untuk melawan ketidakadilan dan keserakahan sistem Kapitalis yang mencekik kaum buruh dan petani. Ide-ide komunisme dianggap sebagai respon terhadap kegagalan sistem Kapitalis yang telah gagal menyeratakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Revolusi dan kudeta

Syi’ah terkenal lihai dalam menjalankan operasi senyap dan gerakan underground. Mereka memiliki kemampuan kaderisasi yang militan dan misterius. Syi’ah akan terus bergerak halus dalam senyap dan nyaris tidak tercium publik. Hingga suatu saat mereka telah kuat dan besar, maka mereka akan melakukan pemberontakan dan revolusi untuk dapat menguasai suatu negeri.

Komunis juga memiliki pola yang serupa, membangun kekuatan dengan strategi yang halus. Pergerakan mereka kerap kali menggunakan kedok komunitas pembela hak-hak buruh atau petani, dan juga berupa perhimpunan mahasiswa ataupun aktivis-aktivis sosial. Dan suatu saat ketika jumlah mereka telah banyak dan telah memiliki kekuatan, maka mereka akan mengkudeta pemerintahan suatu negeri untuk memaksakan penerapan sistem komunis.

Contoh terdekat untuk pembahasan dalam poin ini adalah peristiwa pemberontakan Syi’ah Houthi di Yaman dan pengkhianatan G30S/PKI di Indonesia.

Haus Darah Kaum Muslimin

Syi’ah:

Pada tahun 100 H Syi’ah Rafidah membunuh 500.000 kaum muslimin di Khorasan. Pada tahun 280 H Syi’ah Zaidiah membunuh 50.000 kaum muslimin di Yaman. Pada tahun 317 H Syi’ah Qurmutiah menyerang Masjidil Haram Mekah, mencuri dan merusak Hajarul Aswad dengan 8 cukilan serta membunuh 400.000 jamaah haji.

Pada tahun 483 H Syi’ah Hashasheen (Assasens) membunuh Imadud Dien Zinki dan 200.000 kaum muslimin di Mesir. Pada tahun 656 H Syi’ah Alawiah bersama Hulagu menyerag Baghdad membunuh lebih 800.000 orang di Iraq dan lebih 2 juta orang di Suriah, Lebanon, Jordan dan Palestina.

Pada tahun 907 H Syi’ah Safawiah membunuh 1 juta Sunni di Iran. Pada tahun 1407 H Syi’ah Iraq membunuh 402 warga Saudi selama haji, 85 di antaranya adalah polisi. Pada tahun 1982 M Syi’ah Alawiah membunuh 40.000 kaum muslimin di Homs Suriah. Pada tahun 2011 M hingga detik ini Syiah ‘Alawiah Nushairiyah telah membunuh lebih dari 450,000 kaum muslimin di Suriah. Dan belasan ribu lainnya yang sedang dibantai oleh Syi’ah di Iraq dan Yaman hari ini.

Komunis:

Jutaan jiwa kaum muslimin telah menjadi korban pembantaian sepanjang masa penjajahan Uni Soviet atas wilayah Chechnya, Dagestan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Kazakhtan dan lain-lain. Penderitaan terberat dirasakan oleh kaum muslimin di wilayah Kaukasia. Dan jutaan lainnya juga telah menjadi korban akibat invasi militer Uni Soviet di Afghanistan dalam rentang 1979 hingga 1989.

Ratusan ribu kaum muslimin Uighur dibantai oleh rezim Komunis China hingga hari ini. Mereka dilarang menjalankan ibadah dan bahkan dilarang berpenampilan muslim. Belasan ribu lainnya terpaksa mengungsi melarikan diri ke negara-negara yang mau menampung mereka.

Ribuan kaum Muslimin Kamboja telah syahid dibantai oleh rezim Komunis Khmer Merah. Para muslimat diperkosa dan diperlakukan layaknya hewan. Berbagai penderitaan dan tekanan masih menghantui hidup kaum muslimin disana hingga hari ini.

Kaum muslimin Indonesia juga tidak asing dengan kebiadaban dan kekejaman Komunis. Partai Komunis Indonsia (PKI) telah membantai ribuan kaum muslimin sepanjang sejarah ia berdiri hingga akhirnya dibubarkan. Peritiwa Madiun 1948 adalah salah satu contoh kejahatan PKI yang tidak akan terlupakan.

Maraknya berbagai macam kegiatan yg dilakukan pihak-pihak pengusung pemikiran komunis lewat seni di dua kampus Kota Bandung, yaitu Kampus Francis depan BEC dan kampus ISBI di jalan Buah Batu pada Bulan Mei 2016, juga penggunaan atribut PKI baik kaos maupun Pin di daerah sampang Madura seperti yang dikatakan Mayjen Kivlan Zein dalam orasinya di gedung sate tanggal 20 Mei 2016 menjadi sinyal adanya upaya menghidupkan kembali komunisme di era reformasi ini, terlebih ILC TV One telah dua kali membahas secara serius masalah ini dengan menghadirkan dua tokoh sekaligus baik dari pihak keturunan PKI yg melakukan Makar ditahun 1965 dan pihak keturunan Jendral yg menjadi korban Makar tersebut.

Disamping itu, adanya fakta baru yang cukup mengejutkan dengan didapatkannya AD/ART PKI hasil pertemuannya ditahun 2010 dan orasi Revolusi mahasiswa ISBI menambah keyakinan kita tentang adanya upaya memunculkan dan menghidupkan kembali komunis gaya baru, ada yang masuk lewat seni seperti di ISBI, ada yang masuk lewat tokoh pergerakan islam seperti di Kampus Francis depan BEC dengan mengusung Komunis putih ala Tan Malakanya.

Pada saat yang bersamaan, pemerintah Indonesia saat ini sedang “mesra-mesranya” menjalin hubungan dengan pemerintah China yang berhaluan Komunis, baik dalam Bus Transjakarta yang diimpor Jokowi saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta maupun Proyek Kereta Cepatnya China saat sekarang menjabat sebagai Presiden, diperparah dengan didatangkannya imigran-imigran dari China yang mencari pekerjaan ditanah Air dengan jumlah yang tidak sedikit bahkan bisa dibilang ribuan, semakin memberikan kekhawatiran atas bangkitnya komunis gaya baru, sebab interaksi perorangan secara social ditengah masyarakat memestikan adanya pertukaran informasi dan pengetahuan antar kedua belah pihak dalam berbagai bidang termasuk masalah keyakinan agama sebagaimana interaksi imigran Syiah didaerah Puncak Bogor yang ditayangkan TV One dari wawancaranya dengan RW dan Kepala Desa daerah Puncak bogor beberapa bulan yang lalu yang menyebarkan faham kawin kontraknya didaerah tersebut.

Pada saat yang bersamaan, keberadaan tokoh politik Ribka Ciptaning Ploretariat dan Jalaludin Rahmat yang menjadi utusan fraksi PDIP di DPR RI menunjukan adanya kekhawatiran lain dalam masalah politik dan kenegaraan, terlebih sejak ditulisnya buku “Aku Bangga Menjadi Anak PKI” oleh politisi PDIP tersebut dan terjalinnya hubungan kenegaraan dalam bidang Politik antar Pemerintah RI dengan Iran dalam bidang Pendidikan sebagaimana yang dilakukan Menteri Agama baru-baru ini dan hubungan dalam penanganan Terorisme antar Presiden Jokwi dan Preisden Iran Hassan Rouhani ketika KAA dibandung semakin memperkuat keyakinan bahwa keberadaan Komunis dan Syiah masing-masing memiliki keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan, apalagi diSuriah sejak tahun 2011 telah terjadi perang hebat antara syiah dan ahlusunnah yang melibatkan campur tangan Amerika, China, Rusia, dan Iran yang membantu pasukan Basar Asad melumpuhkan barisan mujahidin ahlusunnah disuriah sebagaimana perkataan Imam Al-Ghamadi yang dilansir Bumi Syam.com dan peristiwa Aleppo baru-baru ini yang melibatkan Pasukan Rusia.

Komunis & Bahaya Makar

Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah detasemen pelopor dan bentuk organisasi yang tertinggi dari klas buruh Indonesia, didirikan pada tanggal 23 Mei 1920 dengan nama “Perserikatan Komunis di Indonesia” atau “Party der Komunisten in Indie”, dan dalam Kongres 1924 nama itu diganti menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Dasar Ideologi dan Teori PKI adalah Marxisme-Leninisme-Maoisme. Sejak lahirnya, PKI telah dengan Heroik dan tidak henti-hentinya memimpin perjuangan klas buruh dan rakyat Indonesia,melawan segala bentuk penghisapan,baik dari Kolonialisme,Feodalisme maupun dari klas-klas penghisap lainnya. Gerakan komunis menentang konsep pemikiran imperialisme Barat yg terlahir dari ajaran Katolik dan Protestan. Kapitalis memproduksi ajaran Protestan atau Calvinisme. Tidak heran jika melahirkan ajaran Karl Max menolak ajaran agama. Dinilai agama sbg candu untuk rakyat karena dibarat,agama identik dgn alat penjajahan,buat menidurkan rakyat yg ditindas oleh pemerintah penjajah yg didukung oleh gereja untuk merealisasikan tujuannya Tiga G:Gold,Glory,Gospel.(Api Sejarah:165)

Berangkat dari ideologi komunisme yg anti agama,pecahlah 70 tahun kemudian,Revolusi oktober 1917 di Rusia yg dipimpin oleh Lenin.(Api Sejarah:165), dampak Revolusi Oktober 1917 M tersebut, hanya dalam waktu tiga tahun,atas usaha Sneevliet di Indonesia,lahirlah perserikatan komunis di Indonesia (PKI),23 Mei 1920,dipimpin oleh Samaoen,Darsono dan Tan Malaka. Dasar ajaran ideologi komunisme yang anti agama,menjadikan PKI berseberangan dengan Sjarikat Islam pimpinan Oemar Said Tjokroaminoto,Abdoel Moeis,Agoes Salim,Wignjadisastra,Soerjopranoto dan Samanhoedi yang menuntut Indonesia merdeka,1916 M.(Api Sejarah:166).
Buruh dan Rakyat kelas bawah bassis utama kaderisasi PKI menuju REVOLUSI
PKI Berseru kepada kaum buruh,kaum Tani/Nelayan,Kaum intelektual Revolusioner,Kaum pengusaha kecil,Kaum Pengusaha Nasional Patriotik,kepada setiap orang Indonesia,laki-laki maupun perempuan dari semua suku bangsa yang berkemampuan baik, untuk bersatu padu melakukan revolusi bersenjata menggulingkan rezim reaksioner/diktator militer fasis,sebagai pembuka jalan ke kehidupan baru yang bebas dan demokratis menuju kesosialisme dan komunisme.

Tujuan PKI adalah pertama-tama membentuk kekuasaan rakyat yang demokratis atau diktatur demokrasi rakyat dibawah pimpinan partai klas buruh,menuju terbentuknya masyarakat sosialis kemudian masyarakat komunis.Berdasarkan pengalaman PKI selama ini,untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut tidak dapat dilakukan dengan jalan damai atau jalan parlementer. Revolusi Indonesia tingkat sekarang adalah revolusi burjuis demokratis tipe baru yang dipimpin partai klas buruh,yang hakekatnya adalah revolusi agrarian kaum tani bersenjata dibawah pimpinan partai klas buruh,atau Perang Rakyat sebagai bentuk pokok perjuangan rakyat bersenjata melawan kontra revolusi bersenjata.

Untuk dapat menjalankan kewajibannya memimpin revolusi,klas buruh dan PKI harus berpegang teguh kepada kebenaran ajaran dan prinsip-prinsip MLM bahwa “kekuasaan politik lahir dari laras senapan”, dan bahwa “tugas inti pokok dan bentuk tertinggi dari revolusi ialah merebut kekuasaan politik dengan kekuatan bersenjata,memecahkan masalah dengan perang”. 

Makar-makar PKI dalam pentas Sejarah indonesia

Dalam kurun 45 tahun keberadaan Patai Komunis Indonesia (PKI),ada dua peristiwa besar yang sangat mempengaruhi ingatan bangsa Indonesia,yakni Pemberontakan PKI 18-19 September 1948 di Madiun dengan tokoh utamanya Musso dan Gerakan 30 September 1965 atau Kudeta Dewan Revolusi 1 Oktober 1965 yang diotaki oleh DN Aidit sebagai ketua atau Pimpinan CC PKI…Aksi sepihak yang hamper selalu mengakibatkan korban nyawa terjadi sejak tahun 1927,1946,1948,1962,1964,1965 bahkan sampai 1972 Oloan Hutapea dkk di Blitar selatan masih melakukan gerakan bersenjata.

China dan Rusia Sarang Komunis Internasional

Salah Satu sumbangan besar Mao Tsetung (China) dalam mengembangkan dan memperkaya Marxisme-Leninisme adalah rumusannya tentang revolusi Demokrasi Baru atau revolusi Demokrasi Rakyat…Revolusi burjuis demokratis Pimpinan burjuasi ini sudah berakhir secara historis ketika pecahnya perang dunia pertama dan kemenangan Revolusi Besar Ploretar Sosialis Oktpber 1917 Rusia.Sejak itu,dimulailah zaman revolusi proletar sosialis dunia dan klas buruh secara historis menjadi pimpinannya.

Komunis Menurut Negara Republik Indonesia

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA YANG BERKAITAN DENGAN KEJAHATAN TERHADAP KEAMANAN NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

(a) Bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia antara lain meliputi hak memperoleh kepastian hukum dan persamaan kedudukan di dalam hukum, hak mengeluarkan pendapat, berserikat dan berkumpul berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

(b) Bahwa Kitab Undang-undang Hukum Pidana terutama yang berkaitan dengan ketentuan mcngcnai kejahatan terhadap keamanan negara belum memberi landasan hukum yang kuat dalam usaha mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila sebagai dasar negara;

(c) Bahwa paham dan ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam praktek kehidupan politik dan kenegaraan menjelmakan diri dalam kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan asas-asas dan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia yang bertuhan dan beragama serta telah terbukti membahayakan kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

SYI’AH ANTARA PENYIMPANGAN DAN KEKAFIRAN.

Tanya: Apa itu syi’ah?

Jawab: Kelompok yang percaya penuh bahwa Nabi Saw ber wasiat . Inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah. 

Tanya: Apa itu Wasiat?

Jawab: Menurut Syi’ah yang membentuk identitas kesyi’ahan adalah prinsip dasar wasiat Ali, yaitu Ali adalah pemimpin umat sepeninggal Nabi saw.

Tanya: Siapakah pencetus wasiat itu?

Jawab: ‘Abdullah bin Saba menggunakan cara analogi yang rusak (qiyas fasid) untuk mengklaim adanya wasiat Ali. Ia mengatakan, “Sesungguhnya telah ada seribu Nabi dan setiap Nabi mempunyai wali. Sedangkan Ali walinya Muhammad s.a.w. kemudian dia berkata lagi,”Muhammad adalah penutup para Nabi sedangkan Ali adalah penutup para wali.”Kemudian Abdullah bin Saba berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Usman telah merebut urusan ini dengan tanpa kebenaran, padahal ini adalah wasiatnya Rasulullah s a.w., maka bangkitlah kalian dan bergeraklah. Mulailah untuk mencerca pejabat kalian tampakan amar ma’ruf nahyi munkar. Niscaya manusia serentak mendukung dan ajaklah mereka kepada perkara ini”.

Tanya: Siapakah Ibnu Saba itu?

Jawab: Seluruh sejarawan baik Syi’ah maupun Ahlusunnah sepakat bahwa orang yang menyalakan api fitnah dan kerusakan, serta berkeliling dikota-kota dan desa-desa untuk memprovokasi kaum muslimin tidak ta’at kepada Khalifah Usman bin ‘Affan (Menantu nabi SAW) adalah ‘Abdullah bin Saba dan Konco-konconya dari kalangan Yahudi. Merekalah yang menyalakan api pembangkangan dan menyalakannya kembali jika telah padam, hingga berhasil membunuh menantu Rasulullah SAW tsb.

Tanya: Apa hubungan syi’ah dengan ‘Abdullah bin Saba sang pembunuh menantu Rasulullah?

Jawab: Simaklah pendapat para Ulama tsb:
Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya prinsip Rafidhah (Syi’ah) berasal dari zindiq Abdullah bin Saba.”
Adz-Dzahabi berkata,”Abdullah bin Saba adalah ghulat zanadiqah (zindiq ekstrim), sesat dan menyesatkan.”
Ibnu Hajar berkata,”Abdullah bin Saba adalah zindiq ekstrim…ia memiliki pengikut yang dikenal Sabaiyah. Mereka memiliki keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan. Ali bin Abi Thalib telah membakar mereka pada masa kekhalifahannya”. 

Tanya: Apa pengaruh kesesatan Ibnu Saba terhadap syi’ah?

Jawab: Perbedaan syahadat syi’ah, yaitu tambahan kalimat: “Ashyadu anna ‘Aliiyan waliyyulah”. 

Tanya: Lalu bagaimana dengan rukun islam syi’ah, berbedakah?

Jawab: Ya. Rukun Islam syi’ah sebagaimana diriwayatkan oleh kitab mereka yg mu’tabar adalah: Shalat, Zakat, Shaum, Haji, dan Wilayah.

Tanya: Bagaimana rukun islam syi’ah Indonesia?

Jawab: Shalat, Puasa , Zakat, Khums , Haji, Jihad, Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, Tawalla (membenci apa yang dibenci Rasul saw dan Ahlulbait), Tabarra
(mencintai apa yang dicanti Rasul saw dan Ahlulbait), Amal Shaleh.

Tanya: Bagaimana Rukun Iman syi’ah IJABI Pimpinan Jalaluddin rahmat?

Jawab: Berbeda! Rukun iman mereka 5, yaitu: Tawhid (percaya keesaan Allah yang mutlak), ‘Adalah (percaya kepada keadilan Ilahi), Nubuwah (Kenabian, termasuk pada kitab-kitab yang dibawa para Nabi dan malaikat yang menurunkannya), Imamah (percaya pada para imam setelah Nabi saw), Al-Ma’ad (percaya pada hari akhir). 

Tanya: Bagaimana sikap Syi’ah kepada Sahabat dan istri nabi?

Jawab: Dalam kitab Al-Thaharah, pemimpin revolusi Iran, Al-Khumaini menyatakan bahwa ‘Aisyah, Thalhah, Zubair, Mu’awiyyah , dan orang-orang sejenisnya meskipun secara lahiriyyah tidak najis, tapi mereka lebih buruk dan menjijikan daripada anjing dan babi -Al-Khumaini,Kitab Al-Thaharah,vol.3/457.

Tanya: Bagaimana Fatwa Ulama terhadap mereka?

Jawab: Mereka Sesat dan menyesatkan, bahkan dikafirkan mayoritas ulama sebagaimana pendapat berikut diantaranya:
Telah meriwayatkan Al-Khalal dari Abu Bakar Al-Marwadzi dia berkata: aku telah mendengar Abu ‘Abdillah berkata: telah berkata Imam Malik: orang yang mencela…sahabat-sahabat nabi SAW bukanlah bagi mereka ismun –atau dia berkata-: BUKAN bagian dalam islam .
Berkata Harmalah: Aku mendengar Imam Syafi’I r.a. berkata: “Aku tidak melihat seorangpun yang bersaksi dengan kedustaan daripada syi’ah rafidlah”. 
Menurut MUI: Bahwa Mayoritas umat islam Indonesia adalah penganut faham Sunni (Ahlusunnah Waljama’ah) yang tidak mengakui dan menolak faham syi’ah secara umum dan ajarannya tentang nikah mut’ah secara khusus .

PKI, Liberal dan Syi’ah Satu Gerbong dengan Islam NUsantara

Baru saja bincang-bincang dengan salah seorang aktifis islam di Jogja, sudah cukup senior. Ada dua kabar yang sedikit membuat saya kaget, karena beliau bicara dengan nada serius dan intonasi yang dalam. Pertama kabar sedih, kedua kabar senang.
Kabar sedih; gerakan PKI atau komunis ternyata benar-benar ada di bumi nusantara saat ini. Mereka satu gerbong dengan kelompok syiah dan liberal dalam mengusung Islam Nusantara. Komunis sudah masuk ke pemerintah dan berusaha merebut pengaruh dan kekuasaan.

Ketika saya tanya; bapak bicara ini berdasar opini atau ada data? Karena khawatir menimbulkan kekacauan dan perpecahan. Beliau jawab; Semua saya punya datanya, Anda tahu dari mana data saya? TNI AD.

Kabar menggembirakannya; Ternyata beliau dekat dengan jendral-jendral AD, dan banyak intelijen yang sudah tahu hal ini. Dan TNI AD berada di pihak umat islam. Kita tahu TNI AD adalah korban dari G30S PKI, makanya TNI AD selalu menjadi musuh bebuyutan bagi PKI.

Semoga Allah menjaga umat islam dari makar musuh-musuhnya.

Kenapa Rusia Pernah Menjadi Negara Komunis?

Seratus tahun yang lalu kaum Bolshevik mengambil alih kekuasaan dari Kekaisaran Rusia dan menjadikannya Uni Soviet. Namun, hal apa sebenarnya membuat ideologi komunis dapat diserap dengan baik oleh warga Rusia kala itu?

Di Rusia kini, jika Anda menyapa seseorang di jalan dengan sebutan “kamerad” atau mengajak orang berbincang tentang pergerakan kaum buruh, kemungkinan besar mereka akan terkejut. Seratus tahun setelah Revolusi Oktober — yang membawa kaum Bolshevik ke tampuk kuasa dan mengantarkan 70 tahun kejayaan Uni Soviet — tak ada lagi yang percaya dengan ideologi komunisme. Partai Komunis Federasi Rusia, bagian dari sistem kekuasaan saat ini, hanya meraih 13 persen suara pada pemilihan umum terakhir.

Dengan runtuhnya Uni Republik Sosialis Soviet (URSS) pada 1991, baik Vladimir Lenin, kaum Bolshevik, maupun kongres-kongres dari partai besar itu kini hanya tinggal sejarah. Apa yang tersisa saat ini, seperti simbol bintang merah di menara-menara Kremlin, patung-patung Lenin (menurut situs Lenin Statues, ada lebih dari 5.300 peatung di seluruh Rusia), dan simbol-simbol Soviet lainnya tak lebih dari sekadar bentuk penghormatan, bukan sebagai representasi ideologi. Namun, ini semua dimulai pada 1917 dengan antusiasme tinggi.

Revolusi di Luar Teori

Teoretikus perjuangan kelas pada abad ke-19, Karl Marx dan Friedrich Engels, meyakini bahwa revolusi sosialis dapat terjadi di negara dengan masyarakat kapitalis, yang kaum buruhnya mengalami penindasan oleh kaum borjuis. Kedua pemikir dari Jerman itu tak memperhitungkan Kekaisaran Rusia karena saat itu Rusia merupakan negara agraris yang, menurut sebuah sensus tahun 1897, 77 persen populasinya adalah petani. Saran mereka adalah: kembangkan dulu kapitalisme dan kemudian gunakan kekuatan pemberontak proletar untuk menghancurkannya. Namun nyatanya, hal itu tidak terjadi.

Setelah Revolusi Februari berhasil menggulingkan monarki, berbagai pihak berusaha merebut kekuasaan di Rusia dari Maret hingga Oktober 1917. Kontrol saat itu berhasil diraih kaum Bolshevik, kelompok sosialis radikal yang dipimpin Vladimir Lenin. Mereka menjanjikan bantuan langsung kepada orang-orang yang menderita akibat Perang Dunia I dengan resep kebahagiaan yang sederhana. Perdamaian untuk rakyat secara umum, tanah untuk para petani, pabrik dan industri untuk kaum buruh, dan kematian yang memalukan untuk kaum borjuis.

Bukan Pengaruh Marxisme

“Kaum Bolshevik adalah satu-satunya kekuatan politik yang menggunakan kebencian sosial dan kehendak massa demi meningkatkan kekuatan mereka,” ujar sejarawan Alexander Orlov. Alexander Pyzhikov, seorang peneliti senior Sekolah Kebijakan Publik di Akademi Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik Kepresidenan Rusia (RANEPA), juga sepakat dengan pandangan itu. Pyzhikov percaya bahwa kemenangan Bolshevik di Rusia tidak ada hubungannya dengan Marxisme.

“Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ada dua jenis orang Rusia,” ujarnya kepada RBTH. Yang pertama adalah kaum bangsawan, terpelajar, dan borjuis, yang tidak ada bedanya dari negara-negara Eropa lain. Mereka adalah perwakilan dari kasta tertinggi di masyarakat dan mengacu kepada kapitalisme dan sistem hukum Barat. Yang kedua adalah mayoritas orang Rusia yang terdiri dari para petani dan buruh, dan mereka hidup dengan peraturan yang berbeda.

“Lingkungan patriarkilah yang mempertahankan para penganut Pemercaya Lama, menjalankan kehidupan yang dekat dengan era abad pertengahan,” ujar Pyzhikov. “Kelompok utama (di Rusia) adalah rakyat biasa, para buruh tani yang bersama-sama memiliki dan mengolah lahan dan properti pribadi yang dikembangkan dengan buruk.” Inilah “Rusia kedua” yang menurut Pyzhikov dengan senang hati mengikuti Bolshevik ketika kelompok ini berjanji mengambil segalanya dan menggunakannya bersama-sama.

“Kenyataannya, kaum petani Rusia memang memiliki prinsip yang sama dengan peraturan-peraturan Uni Soviet sebelum terjadinya revolusi,” ujarnya. Inilah kenapa komunisme menggelora di Rusia — bukan karena kepercayaan warganya terhadap ide Karl Marx.

Politisi Tak Lagi ‘Komunis’

Sebagaimana yang dikatakan Pyzhikov, ide pembentukan masyarakat yang adil dan tanpa kemiskinan atau penindasan didiskreditkan setelah beberapa dekade. “Setelah era Brezhnev (1970-an), jelas bahwa nomenklatur partai (Komunis) menjadi semakin jauh dari rakyat dan hanya digunakan untuk kekuasaan, tanpa ada masa depan yang jelas,” ungkap sang sejarawan. Menurutnya, kekecewaan terhadap komunisme adalah pemicu keruntuhan Uni Soviet, yang kemudian berdampak pada permasalahan-permasalahan ekonomi di Rusia.

Penutup

Hendaknya umat Islam Indonesia bisa belajar dari sejarah untuk bangkit menolak Syi’ah sebagaimana hari ini mereka bersatu menolak Komunis. Karena sesungguhnya Komunis dan Syi’ah adalah dua kakak beradik yang sama-sama telah menorehkan tinta kelam dalam sejarah kaum muslimin. Kejahatan dua bersaudara ini di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran bagi generasi hari ini. Jika mereka diberi peluang dan dibiarkan dengan dalih toleransi dan kebhinekaan, maka bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita atau anak cucu kita akan mengalami nasib yang sama sebagaimana para pendahulu kita dahulu tidak sempat mengantisipasi kebangkitan dua bersaudara ini.

Wallahu a’lam.


Referensi :
  • http://www.annasindonesia.com/read/742-syiah-pki-bahaya-gerakan-pemikiran-dan-penyimpangannya
  • https://www.arrahmah.com/2016/06/14/syiah-dan-komunis-dua-saudara-kandung-dari-rahim-bernama-yahudi/
  • https://www.nahimunkar.org/pki-liberal-dan-syiah-satu-gerbong-dengan-islam-nusantara/
  • https://id.rbth.com/politics/2017/03/08/kenapa-rusia-pernah-menjadi-negara-komunis_qyx715681
  • [Ketua Lembaga Harakah Hadamah PP Pemuda Persis Masa jihad 2015-2020.
  • Konstitusi Dan Pokok-Pokok Program Umum Demokrasi Rakyat Indonesia Partai Komunis Indonesia (PKI),Diterbitkan oleh “JALAN RAKYAT” 2010,hlm.1-2.
  • Konstitusi Dan Pokok-Pokok Program Umum Demokrasi Rakyat Indonesia Partai Komunis Indonesia (PKI),Diterbitkan oleh “JALAN RAKYAT” 2010,hlm.58.
  • Konstitusi Dan Pokok-Pokok Program Umum Demokrasi Rakyat Indonesia Partai Komunis Indonesia (PKI),Diterbitkan oleh “JALAN RAKYAT” 2010,hlm.42.
  • Membaca PKI (Sepak Terjang Kader PKI Sejak 1920),Drs.Alfian Tanjung M.Pd,hlm.1.
  • Konstitusi Dan Pokok-Pokok Program Umum Demokrasi Rakyat Indonesia Partai Komunis Indonesia (PKI),Diterbitkan oleh “JALAN RAKYAT” 2010,hlm.33-34.
  • Emilia Renita AZ, inilah jalanku yang lurus, Marja:Ujungberung-Bandung,2014.hlm.175.)
  • Ali Umar Al-Habsyi,Dua Pusaka Nabi Saw Al-Qur’an dan Ahlulbait,Ilya:Jakarta,2007.hlm.172.
  • Prof.Dr.Ali Muhammad Ash-Shalabi , Biografi Ali bin Abi Thalib ,hlm.547)
  • Dr.Ihsan Ilahi Zhahir, Syi’ah merajalela ditengah Ahlusunnah :40,lihat juga:Biografi Ali bin Abi Thalib karya Prof.Dr.Ali Muhammad Ash-Shalabi:545-546-
  • Prof.Dr.Ali Muhammad Ash-Shalabi, Op.cit .,.hlm.547)
  • Nasir bin ‘Abdullah Al-Qiffari, Ushul Madzhab Syi’ah Al-Imamiyyah Itsna ‘Asy’ariyyah ‘Aradl Wanaqd. Jilid. 2, hlm.174.
  • Ushulul Kafi,Kitab Iman dan kufur,bab tiang-tiang islam:2/18,no.3,berkata dalam syarah Al-Kafi tentang penjelasan derajat hadits ini menurut mereka: “dianggap tsiqah derajatnya shahih” maka hadits itu dijadikan pegangan menurut mereka.-Asy-Syafi Syarah Al-Kafi:5/28,no.1487-{ibid:2/267}
  • Emilia renita AZ,40 Masalah Syi’ah , IJABI, hlm.122.
  • Buku MUI Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan SYI’AH di Indonesia:54.
  • Al-Khalal/As-Sunnah:2/557,berkata pentahkiq risalah:sanadnya shahih.
  • -Al-Muntaqa Minhaj Al-’Itidal finaqdli kalami ahli rafidli wal’itizal, Adz-Dzahabi:21-
  • Fatwa Nikah Mut’ah 25 Oktober 1997, lihat HF MUI:376.

Tahlilan dan Muhammadiyah

Kiprah KH. Ahmad Dahlan Mengkoreksi Tahlilan, Nisyfu Syaban dan Praktek Menyimpang Lainnya

Persoalan khilafiyah khususnya hal furuiyah sebenarnya sudah bukan menjadi isu yang utama untuk dibicarakan kembali, namun kami redaksi “terpaksa” harus menurunkan ulang kembali tulisan tentang KH Ahmad Dahlan, mengingat belakangan banyak web – web yang mulai menyerang praktik ibadah warga muhammadiyah bahkan banyak akun – akun medsos yang membagikan tulisan web yang tidak jelas tersebut untuk membangun opini bahwa praktik ibadah warga muhammadiyah saat ini sudah berbeda dengan pendirinya KH. AHmad Dahlan.
Tentunya klaim sepihak itu sama sekali tidak benar Kiai Ahmad Dahlan adalah pelopor gerakan pemurnian islam di Indonesia, Kiai  pun melakukan purifikasi praktik umat Islam. Sebagaimana ditegaskan salah satu muridnya bernama KR. H Hadjid bahwa Kiai Dahlan berhasil menghilangkan praktik-praktik umat yang tidak diajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah.
Kiai memberantas selamatan waktu seorang ibu mengandung tujuh bulan, bacaan mauludan dengan memukul rebana ketika membaca “asyraqal badru” , shadaqah bernama surtanah saat orang meninggal, selamatan tiga hari, baca tahlil tiap malam ketika orang meninggal sampai 7 hari, selamatan 40 hari, 100 hari, setahun, seribu hari (nyewu), serta bacaan tahlil 70.000 untuk menebus dosa, haul (ulang tahun kematian) dengan membaca tahlil, perayaan 10 Asyura dan mengadakan padusan (mandi) serta pergi ke kuburan untuk kirim doa, upacara nishfu sya’ban dengan bacaan-bacaan yang tidak diajarkan as-Sunnah, bacaan-bacaan tahlil Qur’an untuk dihadiahkan kepada ahli kubur, mengadakan ziarah kubur pada bulan Sya’ban, membaca shalawat khusus tiap malam Jum’at dengan gunakan rebana, jimat yang dipakaikan kepada anak-anak, minta keselamatan kepada kuburan dan tawassul.
Disamping praktik-praktik tersebut di atas, KHR Hadjid pun menyebutkan bahwa Kiai Dahlan mengoreksi praktik umat kala itu yang terbiasa tunaikan shalat qabliyah dua rakaat sebelum shalat Jumat serta adzan dua kali sebelum sahalat Jum’at (Hadjid, 2008 : 101).Bahwa Kiai Dahlan pernah tunaikan shalat tarawih 23 rakaat, serta pernah tunaikan qunut dalam shalat Subuh sama sekali tidak mengurangi virus tajdid yang ditebarnya. Boleh jadi Kiai belum melihat alasan-alasan yang dipandangnya lebih kuat sebagaimana koreksinya terhadap praktek ibadah yang menyimpang untuk adzan Jumat dua kali, tahlilan, nisfu sya’ban, padusan, dan lain – lain.
Sepeninggal Kiai Dahlan Muhammadiyah terus berkembang ke berbagai daerah dengan penambahan anggota-anggotanya. Bersamaan dengan itu timbul diskusi di kalangan warga Persyarikatan mana di antara praktik ibadah yang dilakukan umat yang lebih mendekati kebenaran.
Dalam konteks historis seperti itulah Majelis Tarjih Muhammadiyah didirikan pada tahun 1927. Sejak saat itulah peran tajdid yang disemaikan Kiai Dahlan diambil alih oleh Majelis Tarjih yang ketua pertamanya KH. Mas Mansur. Sejak saat itu Majelis Tarjih, menghasilkan sekian produk hukum yang pada awalnya lebih banyak gunakan spirit tajdid dalam makna purifikasi. Salah satu produk hukum itu adalah tuntunan shalat malam di bulan Ramadhan yang lebih dikenal dengan shalat tarawih yang berjumlah 11 rakaat serta tuntunan untuk tidak tunaikan qunut pada shalat Subuh.
Demikianlah hingga saat ini Majelis Tarjih telah menghasilkan sekian banyak produk putusan serta fatwa yang umumnya dirujuk sebagai tuntunan warga Muhammadiyah serta kaum Muslimin.

Tahlilan Adalah Bid’ah Menurut Madzhab Syafi’i

Sering kita dapati sebagian ustadz atau kiyai yang mengatakan, “Tahlilan kok dilarang?, tahlilan kan artinya Laa ilaah illallahh?”.

Tentunya tidak seorang muslimpun yang melarang tahlilan, bahkan yang melarang tahlilan adalah orang yang tidak diragukan kekafirannya. Akan tetapi yang dimaksud dengan istilah “Tahlilan” di sini adalah acara yang dikenal oleh masyarakat yaitu acara kumpul-kumpul di rumah kematian sambil makan-makan disertai mendoakan sang mayit agar dirahmati oleh Allah.

Lebih aneh lagi jika ada yang melarang tahlilan langsung dikatakan “Dasar wahabi”..!!!

Seakan-akan pelarangan melakukan acara tahlilan adalah bid’ah yang dicetus oleh kaum wahabi !!?
Sementara para pelaku acara tahlilan mengaku-ngaku bahwa mereka bermadzhab syafi’i !!!. Ternyata para ulama besar dari madzhab Syafi’iyah telah mengingkari acara tahlilan, dan menganggap acara tersebut sebagai bid’ah yang mungkar, atau minimal bid’ah yang makruh. Kalau begitu para ulama syafi’yah seperti Al-Imam Asy-Syafii dan Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya adalah wahabi??!!

A. Ijmak Ulama bahwa Nabi, para sahabat, dan para imam madzhab tidak pernah tahlilan

Tentu sangat tidak diragukan bahwa acara tahlilan –sebagaimana acara maulid Nabi dan bid’ah-bid’ah yang lainnya- tidaklah pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga para sahabatnya, tidak juga para tabi’in, dan bahkan tidak juga pernah dilakukan oleh 4 imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, dan Ahmad rahimahumullah).

Akan tetapi anehnya sekarang acara tahlilan pada kenyataannya seperti merupakan suatu kewajiban di pandangan sebagian masyarakat. Bahkan merupakan celaan yang besar jika seseorang meninggal lalu tidak ditahlilkan. Sampai-sampai ada yang berkata, “Kamu kok tidak mentahlilkan saudaramu yang meninggal??, seperti nguburi kucing aja !!!”.

Tidaklah diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kehilangan banyak saudara, karib kerabat, dan juga para sahabat beliau yang meninggal di masa kehidupan beliau. Anak-anak beliau (Ruqooyah, Ummu Kaltsum, Zainab, dan Ibrahim radhiallahu ‘anhum) meninggal semasa hidup beliau, akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah semuanya dikuburkan oleh Nabi seperti menguburkan kucing??.

Istri beliau yang sangat beliau cintai Khodijah radhiallahu ‘anhaa juga meninggal di masa hidup beliau, akan tetapi sama sekali tidak beliau tahlilkan. Jangankan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 bahkan sehari saja tidak beliau tahlilkan. Demikian juga kerabat-kerabat beliau yang beliau cintai meninggal di masa hidup beliau, seperti paman beliau Hamzah bin Abdil Muthholib, sepupu beliau Ja’far bin Abi Thoolib, dan juga sekian banyak sahabat-sahabat beliau yang meninggal di medan pertempuran, tidak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula jika kita beranjak kepada zaman al-Khulafaa’ ar-Roosyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) tidak seorangpun yang melakukan tahlilan terhadap saudara mereka atau sahabat-sahabat mereka yang meninggal dunia.

Nah lantas apakah acara tahlilan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabatnya, bahkan bukan merupakan syari’at tatkala itu, lantas sekarang berubah statusnya menjadi syari’at yang sunnah untuk dilakukan??!!, bahkan wajib??!! Sehingga jika ditinggalkan maka timbulah celaan??!!

Sungguh indah perkataan Al-Imam Malik (gurunya Al-Imam Asy-Syaafi’i rahimahumallahu)

فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا لاَ يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنًا

“Maka perkara apa saja yang pada hari itu (pada hari disempurnakan Agama kepada Nabi, yaitu masa Nabi dan para sahabat-pen) bukan merupakan perkara agama maka pada hari ini juga bukan merupakan perkara agama.”(Al-Ihkam, karya Ibnu Hazm 6/255)

Bagaimana bisa suatu perkara yang jangankan merupakan perkara agama, bahkan tidak dikenal sama sekali di zaman para sahabat, kemudian lantas sekarang menjadi bagian dari agama !!!

B. Yang Sunnah adalah meringankan beban keluarga mayat bukan malah memberatkan

Yang lebih tragis lagi acara tahlilan ini ternyata terasa berat bagi sebagian kaum muslimin yang rendah tingkat ekonominya. Yang seharusnya keluarga yang ditinggal mati dibantu, ternyata kenyataannya malah dibebani dengan acara yang berkepanjangan…biaya terus dikeluarkan untuk tahlilan…hari ke-3, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, hari ke-1000…

Tatkala datang kabar tentang meninggalnya Ja’far radhiallahu ‘anhu maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

اِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukan mereka” (HR Abu Dawud no 3132

Al-Imam Asy-Syafi’I rahimahullah berkata :

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

“Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja’far maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’afar, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka” (Kitab Al-Umm 1/278)

C. Argumen Madzhab Syafi’i Yang Menunjukkan makruhnya/bid’ahnya acara Tahlilan

Banyak hukum-hukum madzhab Syafi’i yang menunjukkan akan makruhnya/bid’ahnya acara tahlilan. Daintaranya :

PERTAMA : Pendapat madzhab Syafi’i yang mu’tamad (yang menjadi patokan) adalah dimakruhkan berta’ziah ke keluarga mayit setelah tiga hari kematian mayit. Tentunya hal ini jelas bertentangan dengan acara tahlilan yang dilakukan berulang-ulang pada hari ke-7, ke-40, ke-100, dan bahkan ke-1000

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

“Para sahabat kami (para fuqohaa madzhab syafi’i) mengatakan : “Dan makruh ta’ziyah (melayat) setelah tiga hari. Karena tujuan dari ta’ziah adalah untuk menenangkan hati orang yang terkena musibah, dan yang dominan hati sudah tenang setelah tiga hari, maka jangan diperbarui lagi kesedihannya. Dan inilah pendapat yang benar yang ma’ruf….” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/277)

Setalah itu al-Imam An-Nawawi menyebutkan pendapat lain dalam madzhab syafi’i yaitu pendapat Imam Al-Haromain yang membolehkan ta’ziah setelah lewat tiga hari dengan tujuan mendoakan mayat. Akan tetapi pendapat ini diingkari oleh para fuqohaa madzhab syafi’i.

Al-Imam An-Nawawi berkata :

“Dan Imam al-Haromain menghikayatkan –satu pendapat dalam madzhab syafi’i- bahwasanya tidak ada batasan hari dalam berta’ziah, bahkan boleh berta’ziah setelah tiga hari dan meskipun telah lama waktu, karena tujuannya adalah untuk berdoa, untuk kuat dalam bersabar, dan larangan untuk berkeluh kesah. Dan hal-hal ini bisa terjadi setelah waktu yang lama. Pendapat ini dipilih (dipastikan) oleh Abul ‘Abbaas bin Al-Qoosh dalam kitab “At-Talkhiis”.

Al-Qoffaal (dalam syarahnya) dan para ahli fikih madzhab syafi’i yang lainnya mengingkarinya. Dan pendapat madzhab syafi’i adalah adanya ta’ziah akan tetapi tidak ada ta’ziah setelah tiga hari. Dan ini adalah pendapat yang dipastikan oleh mayoritas ulama.

Al-Mutawalli dan yang lainnya berkata, “Kecuali jika salah seorang tidak hadir, dan hadir setelah tiga hari maka ia boleh berta’ziah”

(Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/277-278)

Lihatlah dalam perkataan al-Imam An-Nawawi di atas menunjukkan bahwasanya dalih untuk mendoakan sang mayat tidak bisa dijadikan sebagai argument untuk membolehkan acara tahlilan !!!

KEDUA : Madzhab syafi’i memakruhkan sengajanya keluarga mayat berkumpul lama-lama dalam rangka menerima tamu-tamu yang berta’ziyah, akan tetapi hendaknya mereka segera pergi dan mengurusi kebutuhan mereka.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

“Adapun duduk-duduk untuk ta’ziyah maka Al-Imam Asy-Syafi’i menashkan (menyatakan) dan juga sang penulis al-Muhadzdzab serta seluruh ahli fikih madzhab syafi’i akan makruhnya hal tersebut…

Mereka (para ulama madzhab syafi’i) berkata : Yang dimaksud dengan “duduk-duduk untuk ta’ziyah” adalah para keluarga mayat berkumpul di rumah lalu orang-orang yang hendak ta’ziyah pun mendatangi mereka.

Mereka (para ulama madzhab syafi’i) berkata : Akan tetapi hendaknya mereka (keluarga mayat) pergi untuk memenuhi kebutuhan mereka, maka barang siapa yang bertemu mereka memberi ta’ziyah kepada mereka. Dan hukumnya tidak berbeda antara lelaki dan wanita dalam hal dimakruhkannya duduk-duduk untuk ta’ziyah…”

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata dalam kitab “Al-Umm” :

“Dan aku benci al-maatsim yaitu berkumpulnya orang-orang (di rumah keluarga mayat –pen) meskipun mereka tidak menangis. Karena hal ini hanya memperbarui kesedihan, dan membebani pembiayayan….”. ini adalah lafal nash (pernyataan) Al-Imam Asy-syafi’i dalam kitab al-Umm. Dan beliau diikuti oleh para ahli fikih madzhab syafi’i.

Dan penulis (kitab al-Muhadzdzab) dan yang lainnya juga berdalil untuk pendapat ini dengan dalil yang lain, yaitu bahwasanya model seperti ini adalah muhdats (bid’ah)” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/278-279)

Sangat jelas dari pernyataan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ini bahwasanya para ulama madzhab syafi’i memandang makruhnya berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayat karena ada 3 alasan :

(1) Hal ini hanya memperbarui kesedihan, karenanya dimakruhkan berkumpul-kumpul meskipun mereka tidak menangis

(2) Hal ini hanya menambah biaya

(3) Hal ini adalah bid’ah (muhdats)

KETIGA : Madzhab syafi’i memandang bahwa perbuatan keluarga mayat yang membuat makanan agar orang-orang berkumpul di rumah keluarga mayat adalah perkara bid’ah

Telah lalu penukilan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah :

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

“Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja’far maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’afar, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka” (Kitab Al-Umm 1/278)

Akan tetapi jika ternyata para wanita dari keluarga mayat berniahah (meratapi) sang mayat maka para ulama madzhab syafi’i memandang tidak boleh membuat makanan untuk mereka (keluarga mayat).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

Para sahabat kami (para ahli fikih madzhab syafi’i) rahimahullah berkata, “Jika seandainya para wanita melakukan niahah (meratapi sang mayat di rumah keluarga mayat-pen) maka tidak boleh membuatkan makanan bagi mereka. Karena hal ini merupakan bentuk membantu mereka dalam bermaksiat.

Penulis kitab as-Syaamil dan yang lainnya berkata : “Adapun keluarga mayat membuat makanan dan mengumpulkan orang-orang untuk makan makanan tersebut maka tidak dinukilkan sama sekali dalilnya, dan hal ini merupakan bid’ah, tidak mustahab (tidak disunnahkan/tidak dianjurkan)”.

Ini adalah perkataan penulis asy-Syaamil. Dan argumen untuk pendapat ini adalah hadits Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Kami memandang berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah”. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Maajah dengan sanad yang shahih” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/290)

D. Fatwa para ulama 4 madzhab di kota Mekah akan bid’ahnya tahlilan

Diantara para ulama madzhab syafi’i lainnya yang menyatakan dengan tegas akan bid’ahnya tahlilan adalah :

Dalam kitab Hasyiah I’aanat at-Thoolibin, Ad-Dimyaathi berkata :

“Aku telah melihat pertanyaan yang ditujukan kepada para mufti kota Mekah tentang makanan yang dibuat oleh keluarga mayat dan jawaban mereka tentang hal ini.

(Pertanyaan) : Apakah pendapat para mufti yang mulia di tanah haram –semoga Allah senantiasa menjadikan mereka bermanfaat bagi manusia sepanjang hari- tentang tradisi khusus orang-orang yang tinggal di suatu negeri, yaitu bahwasanya jika seseorang telah berpindah ke daarul jazaa’ (akhirat) dan orang-orang kenalannya serta tetangga-tetangganya menghadiri ta’ziyah (melayat) maka telah berlaku tradisi bahwasanya mereka menunggu (dihidangkannya) makanan. Dan karena rasa malu yang meliputi keluarga mayat maka merekapun bersusah payah untuk menyiapkan berbagai makanan untuk para tamu ta’ziyah tersebut. Mereka menghadirkan makanan tersebut untuk para tamu dengan susah payah. Maka apakah jika kepala pemerintah yang lembut dan kasih sayang kepada rakyat melarang sama sekali tradisi ini agar mereka kembali kepada sunnah yang mulia yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau berkata, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far”, maka sang kepala pemerintahan ini akan mendapatkan pahala karena pelarangan tersebut?. Berikanlah jawaban dengan tulisan dan dalil !!”

Jawaban :

“Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya setelahnya. Ya Allah aku meminta kepadMu petunjuk kepada kebenaran.

Benar bahwasanya apa yang dilakukan oleh masyarakat berupa berkumpul di keluarga mayat dan pembuatan makanan merupakan bid’ah yang munkar yang pemerintah diberi pahala atas pelarangannya ….


Dan tidaklah diragukan bahwasanya melarang masyarakat dari bid’ah yang mungkar ini, padanya ada bentuk menghidupkan sunnaah dan mematikan bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan dan menutup banyak pintu keburukan. Karena masyarakat benar-benar bersusah payah, yang hal ini mengantarkan pada pembuatan makanan tersebut hukumnya haram. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh : Yang mengharapkan ampunan dari Robnya : Ahmad Zainy Dahlan, mufti madzhab Syafi’iyah di Mekah”

Adapun jawaban Mufti madzhab Hanafiyah di Mekah sbb :

“Benar, pemerintah (waliyyul ‘amr) mendapatkan pahala atas pelarangan masyarakat dari perbuatan-perbuatan tersebut yang merupakah bid’ah yang buruk menurut mayoritas ulama….

Penulis Raddul Muhtaar berkata, “Dan dibenci keluarga mayat menjamu dengan makanan karena hal itu merupakan bentuk permulaan dalam kegembiraan, dan hal ini merupakan bid’ah“…

Dan dalam al-Bazzaaz : “Dan dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, hari ketiga, dan setelah seminggu, serta memindahkan makanan ke kuburan pada waktu musim-musim dst”…

Ditulis oleh pelayan syari’at dan minhaaj : Abdurrahman bin Abdillah Sirooj, Mufti madzhab Hanafiyah di Kota Mekah Al-Mukarromah…

Ad-Dimyathi berkata : Dan telah menjawab semisal dua jawaban di atas Mufti madzhab Malikiah dan Mufti madzhab Hanabilah” (Hasyiah I’aanat at-Thoolibin 2/165-166)

Penutup

Pertama : Mereka yang masih bersikeras melaksanakan acara tahlilan mengaku bermadzhab syafi’iyah, akan tetapi ternyata para ulama syafi’iyah membid’ahkan acara tahlilan !!. Lantas madzhab syafi’iyah yang manakah yang mereka ikuti ??

(silahkan baca juga : http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/tahlilan-dalam-pandangan-nu.html)

Kedua :  Para ulama telah ijmak bahwasanya mendoakan mayat yang telah meninggal bermanfaat bagi sang mayat. Demikian pula para ulama telah berijmak bahwa sedekah atas nama sang mayat akan sampai pahalanya bagi sang mayat. Akan tetapi kesepakatan para ulama ini tidak bisa dijadikan dalil untuk melegalisasi acara tahlilan, karena meskipun mendoakan mayat disyari’atkan dan bersedakah (dengan memberi makanan) atas nama mayat disyari’atkan, akan tetapi kaifiyat (tata cara) tahlilan inilah yang bid’ah yang diada-adakan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabatnya. Kreasi tata cara inilah yang diingkari oleh para ulama syafi’iyah, selain merupakan perkara yang muhdats juga bertentangan dengan nas (dalil) yang tegas :

– Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu : “Kami memandang berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah”. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Maajah dengan sanad yang shahih”

– Berlawanan dengan sunnah yang jelas untuk membuatkan makanan bagi keluarga mayat dalam rangka meringankan beban mereka

Bid’ah sering terjadi dari sisi kayfiyah (tata cara). Karenanya kita sepakat bahwa adzan merupakan hal yang baik, akan tetapi jika dikumandangkan tatkala sholat istisqoo, sholat gerhana, sholat ‘ied maka ini merupakan hal yang bid’ah. Kenapa?, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah melakukannya.

Demikian juga bahwasanya membaca ayat al-kursiy bisa mengusir syaitan, akan tetapi jika ada seseorang lantas setiap kali keluar dari masjid selalu membaca ayat al-kursiy dengan dalih untuk mengusir syaitan karena di luar masjid banyak syaitan, maka kita katakan hal ini adalah bid’ah. Kenapa?, karena kaifiyyah dan tata cara seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Ketiga : Kalau kita boleh menganalogikan lebih jauh maka bisa kita katakan bahwasanya orang yang nekat untuk mengadakan tahlilan dengan alasan untuk mendoakan mayat dan menyedekahkan makanan, kondisinya sama seperti orang yang nekat sholat sunnah di waktu-waktu terlarang. Meskipun ibadah sholat sangat dicintai oleh Allah, akan tetapi Allah telah melarang melaksanakan sholat pada waktu-waktu terlarang.

Demikian pula berkumpul-kumpul di rumah keluarga kematian dan bersusah-susah membuat makanan untuk para tamu bertentangan dan bertabrakan dengan dua perkara di atas:

– Sunnahnya membuatkan makanan untuk keluarga mayat

– Dan hadits Jarir bin Abdillah tentang berkumpul-kumpul di keluarga mayat termasuk niyaahah yang dilarang.

Keempat : Untuk berbuat baik kepada sang mayat maka kita bisa menempuh cara-cara yang disyari’atkan, sebagaimana telah lalu. Diantaranya adalah mendoakannya kapan saja –tanpa harus acara khusus tahlilan-, dan juga bersedakah kapan saja, berkurban atas nama mayat, menghajikan dan mengumrohkan sang mayat, dll.

Adapun mengirimkan pahala bacaan Al-Qur’an maka hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwasanya mengirimkan pahala bacaan al-Qur’an tidak akan sampai bagi sang mayat.

Kelima : Kalaupun kita memilih pendapat ulama yang menyatakan bahwa mengirim bacaan al-qur’an akan sampai kepada mayat, maka kita berusaha agar kita atau keluarga yang mengirimkannya, ataupun orang lain adalah orang-orang yang amanah.

Adapun menyewa para pembaca al-Qur’an yang sudah siap siaga di pekuburan menanti kedatangan para peziarah kuburan untuk membacakan al-quran dan mengirim pahalanya maka hendaknya dihindari karena :

– Tidak disyari’atkan membaca al-Qur’an di kuburan, karena kuburan bukanlah tempat ibadah sholat dan membaca al-Qur’an

– Jika ternyata terjadi tawar menawar harga dengan para tukang baca tersebut, maka hal ini merupakan indikasi akan ketidak ikhlasan para pembaca tersebut. Dan jika keikhlasan mereka dalam membaca al-qur’an sangat-sangat diragukan, maka kelazimannya pahala mereka juga sangatlah diragukan. Jika pahalanya diragukan lantas apa yang mau dikirimkan kepada sang mayat??!!

– Para pembaca sewaan tersebut biasanya membaca al-Qur’an dengan sangat cepat karena mengejar dan memburu korban penziarah berikutnya. Jika bacaan mereka terlalu cepat tanpa memperhatikan tajwid, apalagi merenungkan maknanya, maka tentu pahala yang diharapkan sangatlah minim. Terus apa yang mau dikirimkan kepada sang mayat ??!!

Perkembangan dunia teknologi informasi berdampak makin banyak cara orang bisa mengakses informasi termasuk melalui media online. Sayangnya banyak media yang suka menebar berita bohong/hoax atau memlintir sebuah berita demi kepentingannya atau kepentingan golongannya.

Hal – hal tersebut tentunya tidak elok dan sehat dalam rangka menyampaikan informasi, bahkan miris dilakukan oleh media – media yang berafiliasi dengan pergerakan dakwah Islam, para netizen juga harus lebih cerdas dalam memilih dan memilah informasi yang beredar di dunia maya.

Berita Hoax Amien Rais Soal Tahlilan

Adapun beberapa pernyataan tokoh Muhammadiyah yang diplintir antara lain Soal Pernyataan Amien Rais tentang Tahlilan beberapa media online yang digagas oleh warga NU menulis bahwa ” Amien Rais : Jika tidak Mau Tahlilan keluar dari Muhammadiyah dan Aisyiyah. sumber www.nugarislurus.com.amien-rais-jika-tidak-mau-tahlilan-keluar-dari-muhammadiyah kemudian ada lagi media online yang menulis www.datdut.com/muhammadiyah-larang-upacara-tahlil-ini-5-komentar-amien-rais/ inti dari kedua tulisan itu menegaskan bahwa Amien Rais menganjurkan warga Muhammadiyah melakukan upacara tahlilan.

Pemberitaan itu jelas tidak benar dan bertolak belakang dengan apa yang disampaikan Amien Rais ketika bicara soal itu di Medan , menurut Amien Rais Tahlilan yang dimaksud adalah Pertama, tahlilan lewat hati, tahlilan dengan lisan, dan tahlilan dengan raga. ‘’Kata nabi, bumi yang kaya raya dan luas ini, hanya selembar sayap nyamuk bila dibandingkan dengan Lailah Haillalah. Karenanya, teruslah melakukan tahlilan dengan hati,’’ katanya.

Adapun tahlilan dengan lisan, menurut Amien Rais, adalah zikir yang dilakukan lewat ucapan. Untuk tahlilan dengan lisan ini, dia mengaku melakukannya pada setiap olah raga lari pagi. ‘’Pada setiap langkah saat saat jogging, saya berzikir. Kalau kita lari 10 km, sudah berapa ribu kali kita berdzikir,’’ katanya. Sedangkan tahlilan dengan raga, maksudnya memperbanyak gerakan amal shaleh. Jadi yang dimaksud Amien Rais bukanlah mendukung upacara tahlilan ketika kematian disinilah media – media tersebut tidak jujur terhadap pernyataan Amien Rais.

Sedangkan di link media itu sangat absurd dalam membuat tulisan , hanya memlintir sebagian berita bahkan cenderung menyajikan berita hoax untuk meraih dukungan kegiatan upacara tahlilan yang biasa dilakukan oleh kawan – kawan NU bahkan menulis “silahkan keluar dari Muhammadiyah kalau tidak tahlilan” judul berita macam apa seperti itu sungguh miris dan menggelikan.

Disini kami tidak ingin berdebat soal hukum Tahlilan karena Fatwa Tarjih Muhammadiyah sudah jelas dan kita juga menghormati kawan – kawan NU yang melakukan Tahlilan namun cara – cara media online yang digerakkan beberapa oknum yang berafiliasi ke NU sangat tidak etis dan tidak cerdas.

Soal Muhammadiyah Membolehkan Ziarah Kubur

Yang terbaru muncul media online dengan judul bombastis ” Akhirnya Ketua Muhammadiyah Membolehkan Ziarah Kubur ”  sumber http://www.datdut.com/muhammadiyah-membolehkan-ziarah-kubur/lagi – lagi media online ini hanya mengambil sepenggal pernyataan Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nasir kemudian diramu dengan tulisan dan opini adminnya sehingga lebih – lebih sebagai asumsi bahkan halusinasi.

Mengapa demikian karena sejak dulu Muhammadiyah tidak pernah melarang  ziarah kubur namun Muhammadiyah dengan tegas melarang praktik ziarah kubur yang menjurus ke hal – hal takhayul dan bid’ah seperti mengkeramatkan kubur.

Cara – cara seperti ini tentu jauh dari kebenaran dan realita namun begitulah kondisi beberapa media online yang digagas beberapa oknum nadhliyin jauh dari validitas data hanya untuk sensasi demi kepentingannya.

Bagi para netizen memang harus lebih cerdas dalam memilah informasi yang berdar di dunia maya dengan senantias melakukan tabayun dan koreksi, mengapa Tokoh Muhammadiyah sering dijadikan sasaran media – media tersebut diplintir pernyataannya mengingat Muhammadiyah adalah ormas Islam terbesar di Indonesia dengan ribuan amal usahanya sehingga pengakuan dari Tokoh Muhammadiyah snagat penting sebagai sebuah eksistensi media – media tersebut.

Referensi :

Pentingnya Membaca Buku Untuk Seorang Pemimpin

Pentingnya Membaca Buku Untuk Seorang Pemimpin

Cara berfikir serta tingkah laku sebagai pemimpin harus bisa menjadi contoh dan panutan bagi orang lain. Untuk mengembangkan kemampuan diri serta menjadi pemimpin yang baik untuk diri sendiri maupun orang lain bisa dimulai dengan membaca.

Membaca merupakan kegiatan yang paling mudah dilakukan untuk mengembangkan pribadi seseorang sehingga dapat menjadi pemimpin yang baik. Presiden yang memimpin Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, Harry S. Truman pernah berkata “Not all readers are leaders, but all leaders are readers.”

Ia menjelaskan pentingnya membaca bagi seorang pemimpin. Menjadi pemimpin, membaca merupakan fondasi yang sangat mendasar. Hal ini terbukti dengan banyaknya para pemimpin dunia atau CEO perusahaan besar selalu menyatakan jika kebiasaan yang harus selalu dimiliki oleh seseorang adalah kebiasaan membaca. CEO Facebook, Mark Zuckerberg pernah menyatakan jika setiap minggunya ia harus dapat menyelesaikan satu buku.

Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill bahkan pernah mendapatkan penghargaan nobel di bidang literatur. Kebiasaan membaca sejak dini membuatnya berhasil memberikan kontribusi bagi dunia melalui lebih dari 50 buku yang telah ia tulis.

Dengan membaca, banyak keuntunganyang bisa didapatkan. Menurut beberapa penelitian, membaca dapat membawa hal yang positif dalam membentuk jiwa pemimpin dalam diri seseorang. Membaca dapat membuat seseorang menjadi lebih pintar karena perbendaharaan kata serta serta meningkatkan daya imajinasi. Kebiasaan ini juga dapat meningkatkan seseorang memiliki visi serta inovasi

Membiasakan diri untuk membaca dapat dimulai dengan membaca berita. Kemudahan arus informasi lewat internet bisa menyediakan informasi serta bahan bacaan yang dibutuhkan oleh semua orang. Lewat aplikasi kurasi berita Kurio, informasi dan berita terbaru tersedia dari berbagai sumber yang terpercaya. Ragam topik yang tersedia menjawab semua kebutuhan informasi bagi semua orang. Kamu tidak perlu lagi memilah antara berita yang baik atau bukan. Secara teliti, tim kurasi di Kurio melakukan kurasi yang sangat teliti agar dapat menyajikan informasi serta berita yang layak untuk dibaca. Meluangkan waktu beberapa menit untuk membaca lewat Kurio bisa menjadi salah satu cara yang baik untuk mulai menanamkan kebiasaan membaca.

Buku-Buku Apa yang Dibaca Calon Pemimpin Kita?

Menjadi pemimpin yang menjadi ujung tombak dalam mewujudkan bangsa yang lebih pintar sangat mudah. Tanamkan kebiasaan membaca dan biasakan diri mulai dini.

Source : https://blog.kurio.co.id/2015/10/28/jadi-pemimpin-dengan-membaca

Prabowo Subianto dan Garis Keturunan

Ibu Kandung Prabowo

source : wikipedia

Sedikit mengulas di balik kehidupan Prabowo, rupanya ada sosok yang sangat iya kagumi.

Sosok itu tak lain adalah ibunya sendiri.

Dora Sumitro yang juga Ibunda Ibu Prabowo Subianto, menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura pada pukul 17.00 WIB akibat sakit yang menahun pada 2008 silam.

Meski begitu, sosok wanita yang dikenal setia itu selalu menjadi panuntan anak-anaknya termasuk Prabowo.

Dikutip dari Wikipedia Dora Marie Sigar (lahir di Manado, Sulawesi Utara, 21 September 1921 – meninggal di Singapura, 23 Desember 2008 pada umur 87 tahun), juga dikenal sebagai Dora Sumitro adalah istri dari salah seorang ekonom Indonesia Soemitro Djojohadikoesoemo.

Dora Marie memiliki dua orang puteri, Biantiningsih Miderawati Djiwandono (istri Soedradjad Djiwandono) dan Marjani Ekowati le Maistre, dan dua orang putera, Prabowo Subianto Djojohadikusumo dan Hashim Sujono Djojohadikusumo.

Dora Marie menikah dengan Profesor Sumitro Djojohadikusumo pada 7 Januari 1946 di Jerman.

Dora Marie Sigar bertemu pertama kali dengan Profesor Sumitro Djojohadikusumo tahun 1945 di sebuah acara mahasiswa Kristen Indonesia di Rotterdam, Belanda. 

Saat itu ia belajar di sekolah ilmu keperawatan bedah di kota Utrecht, Belanda.

Selama hidupnya, Dora Marie Sigar penganut agama Kristen yang berdarah Manado-Jerman itu setia mendampingi Profesor Sumitro Djojohadikusumo dalam pengasingan maupun dalam perjuangan membangun Republik Indonesia.

Dora dikenang anak-anaknya sebagai ibu yang penyayang.

Dora dikenal sahabat-sahabatnya sebagai pemain bridge yang tangguh dan sebagai pengurus Persatuan Bridge Indonesia.

Keluarga Dora Sigar berasal dari Manado. Ayahnya bernama Philip FL Sigar, dan ibunya bernama N. Maengkom.

Ayahnya yang merupakan seorang anggota Gementeraad Manado (1920-1922) dan pejabat Sekretaris Residen (Gewestelijk Secretaris) Manado (1922-1924) merupakan putra dari Laurents A Sigar (meninggal 1910) dan E. Aling. Kakek Dora merupakan Majoor/Hukum Besar (1870-1884) di Manado.

Salah satu nenek moyangnya adalah Benyamin Thomas Sigar (Tawaijln Sigar), yaitu kapitein atau pemimpin pasukan Tulungan atau Hulptroepen (pasukan bantuan) yang dikontrak pemerintah Hindia Belanda guna membantu mengatasi Perang Jawa (1825-1830). 

Ayahanda Prabowo Subianto, Sumitro Djojohadikusumo

source : goodreads

Soemitro Djojohadikoesoemo atau Sumitro Djojohadikusumo ialah salah satu ahli ekonomi Indonesia yang merupakan ayah Prabowo Subianto. Bagi Hashim Djojohadikusumo, anak bungsunya sekaligus adik Prabowo, sang ayah merupakan tokoh yang meletakkan fondasi ekonomi Indonesia.

Semasa hidupnya, Sumitro berkali-kali menduduki jabatan menteri di pemerintahan. Ia juga tercatat sebagai salah satu pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) yang kini berubah menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Sebagai bentuk penghormatan, namanya pun dijadikan sebagai nama jalan di fakultas tersebut.

Seperti apa rekam jejak karier ayah Prabowo ini? Mari simak ulasannya berikut ini.

Jadi Doktor di usia muda

Sumitro berasal dari keluarga yang mengedepankan pendidikan. Meskipun sang ayah hanya lulusan SMA, gak sedikit kerabat yang memiliki latar pendidikan yang cukup baik. Mulai dari Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta (STOVIA), Rotterdam, hingga ahli hukum jebolan Universitas Leiden.

Maka, setelah lulus dari HBS (Hogere Burger School) di Jakarta, Ia berangkat ke Rotterdam pada 1935. Di sana, ia berhasil memiliki gelar Bachelor of Arts dalam waktu dua tahun tiga bulan.

Kemudian, pada 1937 ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Sorbonne, Paris sampai tahun 1938. Setelahnya, ia kembali ke Belanda untuk mendapatkan gelar Master of Arts. Semangat belajar Sumitro patut diacungi jempol. Berkat kegigihannya, ia berhasil meraih gelar Doktor di usia 26 tahun.

Perjalanan karier Sumitro

Sekembalinya ke Tanah Air, Sumitro menempati berbagai posisi penting dalam pemerintahan RI. Ia pernah menjadi Pembantu Staf Perdana Menteri Sutan Syahrir, Presiden Direktur Indonesian Banking Corporation, dan Wakil Ketua Utusan Indonesia pada Dewan Keamanan PBB.

Sumitro juga pernah lima kali menjabat sebagai menteri. Mulai dari Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Riset (saat ini menjadi Menristek).

Ia juga mendirikan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan turut berjuang mendirikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Kiprahnya dalam bidang ekonomi gak hanya di Indonesia, ia pun  pernah menjadi konsultan ekonomi di Malaysia, Hong Kong, Thailand, Perancis, dan Swiss.

Karya dan prestasi

Semasa hidupnya, ayah Prabowo ini dikenal aktif menulis mengenai sistem perekonomian. Karya tulisnya antara lain, sebagai berikut:

– Soal Bank di Indonesia (1946)

– Keuangan Negara dan Pembangunan (1954)

– Ekonomi Pembangunan (1955)

– Kebijaksanaan di Bidang Ekonomi Perdagangan (1972)

– Indonesia dalam Perkembangan Dunia Kini dan Masa Datang (1976)

– Trilogi Pembangunan dan Ekonomi Pancasila (1985)

– Perdagangan dan Industri dalam Pembangunan (1986)

Meski perjalanan kariernya diwarnai berbagai tantangan dan rintangan, Sumitro berhasil memperoleh banyak penghargaan. Baik dari luar maupun dalam negeri. Prestasi tersebut meliputi,Bintang Mahaputra Adipradana (II), Panglima Mangku Negara dari Kerajaan Malaysia, Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant, First Class dari Kerajaan Thailand, Grand Cross of the Crown dari Kerajaan Belgia, serta penghargaan lainnya dari Republik Tunisia dan Perancis.

Memiliki keturunan para pengusaha

source : merdeka.com

Kiprah Sumitro di bidang ekonomi ternyata menginspirasi putra-putranya menjadi pebisnis ulung. Sang bungsu, Hashim Sujono Djojohadikusumo, bahkan pernah tercatat sebagai orang Indonesia Terkaya ke-35 pada tahun 2017 versi Forbes. Dengan harta kekayaan sebesar $850 juta atau setara Rp 12,4 triliun.

Hashim merupakan pengusaha kaya pemilik perusahaan Arsari Group yang bergerak dalam bidang pertambangan, program bio-ethanol, perkebunan karet, dan sebagainya.

Sang kakak, Prabowo Subianto juga merupakan pengusaha sekaligus politisi dan mantan perwira TNI Angkatan Darat. Prabowo mendalami ilmu bisnis di Yordania dan beberapa negara Eropa lainnya. Ia pernah memiliki dan memimpin hingga 27 perusahaan di dalam maupun luar negeri.

Kakek Prabowo Subianto, Margono Djojohadikusumo 

source : biografi tokoh

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang dipenuhi oleh orang-orang hebat dan para pahlawan yang cukup berpengaruh dibidangnya baik dari kalangan politik, militer maupun pendidikan. Salah satu tokoh yang cukup dikenal di Indonesia berkat jasa-jasa dan perannya di berbagai bidang yang digelutinya adalah Margono Djojohadikusumo.

Di kalangan muda seperti saat ini memang tokoh ini kurang begitu dikenal, namun jika cucu beliau pasti sudah banyak yang mengenalnya karena cukup familier. Margono Djojohadikusumo adalah kakek dari tokoh pendiri Partai Gerindra yakni Prabowo Subianto yang pernah mencalonkan diri menjadi Presiden Republik Indonesia.

RM. Margono merupakan tokoh politik dan pejuang yang sifat dan perjuangannya layak diteladani oleh generasi muda penerus bangsa. Begitu banyak hasil perjuangan yang beliau rintis semasa hidupnya salah satunya yang bisa kita nikmati hingga sekarang adalah kemudahan pelayanan di bidang perbankan dari Bank BNI.

Tentunya perjuangan RM. Margono tidak hanya sampai di situ, namun lebih banyak dari itu. Lantas bagaimana sepak terjang Margono Djojohadikusumo lainnya selama hidupnya hingga menutup mata? Untuk lebih jelasnya simak informasi lebih jelas dalam biografi RM. Margono berikut.

Informasi pribadi Margono Djojohadikusumo Margono Djojohadikusumo merupakan cucu buyut Panglima Banyakwide atau Raden Tumenggung Banyakwide yang menjadi anak dari asisten Wedana Banyumas serta pengikut dari Pangeran Diponegoro yang setia.

Pendiri dari salah satu bank terbesar di Nusantara yakni Bank Negara Indonesia (BNI) ini pernah bersekolah di ELS (Europeesche Legere School) Banyumas. ELS Banyumas tersebut merupakan Sekolah Dasar di Banyumas yang berada pada jaman kolonial Belanda dari 1900 hingga 1907.

Margono Djojohadikusumo terlahir tanggal 16 Mei 1894 di kota Banyumas, Jawa Tengah, Negara Hindia Belanda. Kemudian beliau meninggal dunia pada usia 84 tahun pada tanggal 25 Juli 1978 di Jakarta, Indonesia. Bapak Margono Djojohadikusumo yang beragama islam tersebut memiliki istri seorang bernama Siti Katoemi Wirodihardjo.

Margono Djojohadikusumo  adalah orangtua dari  Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo yakni sang Begawan Ekonomi Indonesia, serta ayahanda dari 2 orang remaja yang meninggal ketika pecahnya Pertempuran Lengkong di Serpong pada tahun 1946 yakni: Taruna Soejono Djojohadikusumo (16 tahun) dan Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo (21 tahun).

Kejadian gugurnya kedua putra RM. Margono pada usia remaja tersebut merupakan kesedihan terbesarnya. Kemudian kedua nama anaknya yang meninggal tersebut dikenang melalui nama sang cucunya yakni mantan Pangkostrad dan Danjen Kopassus serta politikus Prabowo Subianto dan Hashim Sujono yang berprofesi sebagai seorang pengusaha.

Saat Soemitro tidak lagi sejalan dengan Bung Karno dalam hal PRRI maka sang ayah ternyata ikut sependapat dengan sang anak. Lalu mereka sekeluarga pindah ke Kuala Lumpur dan menetap di sana selama beberapa tahun.  Meski begitu pada bukunya berjudul Kenangan Tiga Zaman yang aslinya berjudul Herinneringen uit Drie Tijdperken, Bung Karno ternyata tetap digambarkan sebagai sosok Pahlawan.

Sepak terjang Margono Djojohadikusumo semasa hidupnya

Semasa hidupnya, Margono Djojohadikusumo cukup berdedikasi dan menjadi tokoh yang cukup berpengaruh di masanya. Hal ini terbukti dari berbagai perannya dalam berbagai organisasi bahkan mendirikan sebuah bank yang saat ini cukup terkenal serta pesat perkembangannya. Adapun sepak terjang Margono Djojohadikusumo selama hidupnya antara lain:

1. Hak angket
Hak angket dalam sejarah ketatanegaraan republik Indonesia, digunakan pertama kali oleh DPR sekitar tahun 1950-an. Hal ini bermula dari usul resolusi dari RM. Margono Djojohadikusumo supaya DPR atas upaya memperoleh devisa serta cara menggunakan devisa untuk mengadakan Hak Angket.

Kemudian dibentuklah panitia angket dengan anggota sebanyak 13 orang dimana Margono ditunjuk sebagai ketua. Panitia angket ini berperan dalam menyelidiki untung serta rugi dalam mempertahankan devisen-regime sesuai Undang-Undang Pengawasan Devisen pada 1940 berikut perubahan-perubahannya.

2. Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara
Satu hari usai Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden dilantik, kemudian dibentuklah DPS atau Dewan Pertimbangan Agung Sementara dan Kabinet Presidentil. Kemudian Margono Djojohadikusumo ditunjuk untuk menjadi Ketua DPAS pertama. 


Beliau menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara ke-1 dengan masa jabatan dari tanggal 25 September 1945 hingga 6 November 1945. Kemudian setelah lengser, beliau digantikan oleh Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema V. 

3. Direktur Utama Bank BNI
Selaku Ketua DPAS, kemudian Margono Djojohadikusumo mengusulkan untuk membentuk sebuah Bank Sirkulasi atau Bank Sentral sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945. 
Kemudian Soekarno dan Hatta menyampaikan mandat untuk Margono supaya menggagas sekaligus melaksanakan persiapan dalam membentuk Bank Sirkulasi (Bank Sentral) Indonesia yakni di bulan September tepatnya pada tanggal 16 tahun 1945.

Sidang Dewan Menteri RI pada tahun 1945 tepatnya tanggal 19 September menetapkan untuk dibentuknya bank Negara yang berperan sebagai Bank Sentral atau Sirkulasi. Akhirnya terbitlah Perpu No. 2 tahun 1946 pada tanggal 15 Juli 1946 yakni terkait didirikannya BNI serta Margono Djojohadikusumo ditunjuk sebagai Dirut Bank BNI (Bank Negara Indonesia). 

Margono Djojohadikusomo (duduk kanan), dan cucu-cucunya: Hashim Djojohadikusumo (duduk tengah), Siti Katoemi Wirodihardjo (duduk kiri), Prabowo Subianto (kanan atas) dan kedua saudari Prabowo pada tahun 1963 di Kuala Lumpur
source : wikipedia


Selama beliau menjabat sebagai Direktur Utama Bank BNI, status hukum dari Bank BNI naik menjadi Persero yakni pada tahun 1970.

Tidak hanya piawai dalam sepak terjang di dunia politik, Margono Djojohadikusumo juga menelurkan karyanya pada buku-buku hasil tulisannya. Buku-buku hasil karya bapak Margono tersebut antara lain:

  • 1.    Sriwibawa, Sugiarta (1994), “100 tahun Margono Djojohadikusumo”, Jakarta: Pustaka Aksara

  • 2.    Djojohadikusumo, Margono (1969). “Reminiscenses from three historical periods a family tradition put in writing”, Jakarta: Indira 

  • 3.    Djojohadikusumo, Margono (1975), “Catatan-catatan dari lembaran kertas yang kumal DR. E.F.E Douwes Dekker (DR. Danudirja Setiabudi), seorang yang tak gentar menjunjung tinggi suatu cita-cita hidup kemerdekaan politik Indonesia”, Jakarta: Bulan Bintang

  • 4.    Djojohadikusumo, Margono (1946), “Kenang-kenangan dari tiga zaman”, Jakarta: Indira

  • 5.    Djojohadikusumo, Margono (1941), “Tien jaren cooperatie-voorlichting vanwege de overhead 1930-1940”, Batavia: VolkslectuurM

RM. Margono Djojohadikusumo yang merupakan kakek dari Prabowo Subianto ini merupakan salah satu generasi muda nasionalis. Beliau merupakan nasionalis muda angkatan di bawah Dr. Cipto Mangunkusumo, Tirto Adi Suryo, seorang Indo-Belanda Dauwes Dekker (Danu Dirja Setiabudi) dan Ki Hadjar Dewantara.

Margono tercatat sebagai putra dari Lembah Serayu yang pada tanggal 29 April tahun 1945 diangkat menjadi anggota BPUPKI, sehingga turut serta ketika proses penggodogan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia.

Saat Bung Karno selaku Presiden dan Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden membentuk Kabinet Presidentil ke-1. RM. Margono didaulat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara atau DPAS. 

Ketika Kabinet Syarir telah terbentuk, RM. Margono memberikan usul supaya NKRI membentuk sebuah bank sirkulasi. Usul tersebut kemudian disetujui dan akhirnya BNI terbentuk dimana RM. Margono diangkat sebagai Direktur Utama.

Ayah RM. Margono merupakan seorang Wedana Banyumas yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di ELS. Sepertinya beliau merupakan seorang autodidak yang begitu cerdas sehingga dapat meraih puncak dari jenjang karir yang begitu tinggi.Kemungkinan besar Margono telah mengenal Syahrir cukup lama melalui Pendidikan Nasionalis Indonesia) Baru atau PNI-Baru yakni sebuah partai kader yang cukup aktif menyumbangkan kursus-kursus di bidang kebangsaan, ekonomi dan politik.PNI-Baru dipelopori serta didirikan oleh Syahrir dan Bung Hatta, sesudah Partai Nasionalis Indonesia atau PNI yang didirikan oleh Soekarno membubarkan diri berkat inisiatif dari Mr. Sartono. Alasan Mr. Sartono membubarkan PNI gagasan Soekarno adalah akibat Bung Karno ditahan di Penjara Sukamiskin sebagai pertimbangan mendasar guna membubarkan partai dengan haluan radikal tersebut.Setelah Syahrir dan Hatta ditangkap dan kemudian dibuang oleh Belanda ke Digul serta dipindahkan ke Banda, PNI-Baru akhirnya juga bubar.  Namun Syahrir-Hatta juga sempat membentuk jaringan kader yang cukup luas di seluruh penjuru Tanah Air secara khusus di Pulau Jawa yakni di wilayah Banyumas.Kader-kader Syahrir dalam PNI-Baru tersebutlah kelak yang menjadi inti dari Partai Sosialis yang dipimpin Syahrir. Sepertinya Margono Djojohadikusumo yang terpilih menjadi anggota BPUPKI ialah melalui pengaruh Syahrir dan Hatta yang telah dikenalnya ketika pelatihan kaderisasi PNI-Baru.

Margono Djojohadikusumo meninggal dunia di Jakarta  pada 25 Juli 1978 serta disemayamkan di pemakaman keluarga yang terdapat di Dawuhan, kota Banyumas, Jawa Tengah. Pada waktu itu Bung Hatta ikut melepas jenazah beliau di Taman Matraman Jakarta menuju pemakaman keluarga di Banyumas, lokasi dimana para leluhurnya disemayamkan. 
Pendiri Pusat Bank Indonesia yang diganti namanya pada tahun 1946 menjadi Bank Negara Indonesia ini merupakan seseorang yang telah berusia lanjut namun senantiasa sehat wal afiat. Baru pada tahun 1978 tersebut kesehatannya terlihat menurun. Bahkan 2 hari sebelum meninggal, bapak Margono masih melakukan transaksi dagang untuk salah satu perusahaan miliknya.
Pada hari Selasa tanggal 25 Juli 1978 pagi, beliau pergi ke kamar mandi. Ternyata di tempat tersebut beliau terkena serangan jantung. Karena kulit hitam dan perawakannya yang kecil, almarhum kerap menyebut dirinya sebagai een klein Negertje atau si negro kecil. 


Beliau adalah seorang putra bangsawan dari turunan ke-13 Adipati Mrapat. Meski beliau masih termasuk keturunan bangsawan, namun almarhum merupakan bangsawan yang berjiwa kerakyatan. Berdasarkan pernyataan Subagijo IN, beliau senantiasa berbahasa kromo inggil kepada siapa saja yang dapat berbahasa Jawa.

Penghargaan yang diraih Margono Djojohadikusumo

Segala hal yang telah beliau lakukan selama hidupnya memang patut untuk diberikan penghormatan dan penghargaan. Sebagai bangsa yang bermartabat, mengenang jasa pahlawan menjadi salah satu upaya untuk meneladani sekaligus berupaya melanjutkan perjuangannya.

Untuk menghargai segala peran dan jasa yang pernah dilakukan beliau, Margono Djojohadikusumo mendapat penghargaan berupa:

  • 1. Nama R.M Margono Djojohadikusumo diabadikan sebagai sebuah nama jalan di ruas Jakarta
  • 2. Gedung R.M Margono Djojohadikusumo yang terdapat di Universitas Gajah Mada Yogyakarta diberikan nama sesuai dengan nama beliau
  • 3. Kisah beliau semasa hidup menjadi inspirasi pada pembuatan film yang bertajuk Merah Putih

Margono Djojohadikusumo adalah sosok pahlawan dari kalangan bangsawan yang santun dan berbakat. Begitu banyak hasil karya dan perjuangan Margono Djojohadikusumo yang harus dijaga dan diteladani terutama para pemuda generasi penerus bangsa. Beliau bisa menjadi inspirasi banyak orang untuk menjadi pribadi yang tekun, ulet dan penyabar ketika masa-masa perjuangan.

Genetika Prabowo Subianto Djojohadikoesoemo

Membedakan Banyakwide Kliwon dan Kertanegara IV (Banyakwide)

Beragam versi menyebutkan tentang Kertanegara IV Banyakwide, salah satu senopati Dipanegara yang tertangkap di Kemit pada tanggal 18 April 1829. Tokoh tersebut merupakan leluhur dari Begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo ayah dari Prabowo Subianto seorang putra Indonesia yang dikenal dimata dunia.

Dari berbagai sumber yang ada dapat diketahui bahwa Kertanegara IV Banyakwide tidak sama dengan Banyakwide Kliwon. Berikut silsilah yang bisa dijadikan dasar untuk mengetahui perbedaan kedua tokoh tersebut.

  1. Prabowo lahir di Jakarta
  2. Ayahnya/Soemitro lahir di Kebumen
  3. Kakeknya/Margono lahir di Purbalingga
  4. Buyutnya/Hendrokusumo lahir di ___ ?
  5. Canggahnya/R. Kartoatmodjo (Patih Banjarnegara) lahir di Ternate
  6. Warengnya/Kertanegara IV Banyakwide lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen
  7. Udeg udegnya/Panji Hendrajit patih Solo lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen
  8. Gantung siwur nya/Kertanegara II lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen
  9. Cicip muningnya/Kertanegara I lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen
  10. Petarangan bosoknya/Mangkuprojo lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen

Perlu diluruskan bahwa Kertanegara bukan trah dari Kolopaking seperti yang disebukan dalam buku Babad Kalapaking, tetapi merupakan trah Mangkuprojo Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen, sebab Mangkuprojo dan Kolopaking I sama-sama menantu dari Amangkurat I.

Satu hal lagi bahwa Banyakwide bukanlah Kertanegara I, seperti yang disebutkan dalam beberapa babad dan tulisan yang banyak merubah data asli catatan perwira-perwira Belanda pada masa Dipanegara yang dibukukan dalam De Java Orloog.
Adapun pertemuan alur Prabowo dari Majapahit dan Pajajaran adalah sebagai berikut:

  1. Brawijaya V Ratu Pandita/Harya Baribin menikah dengan Adik Raja Pajajaran Prabu Linggawastu
  2. Banyak Sosro
  3. Jaka Kaiman/Marapat
  4. Janah/Mertosuro I
  5. Mertosuro II
  6. Ngabei Bawang Mertoyudo
  7. Ngabei Banyakwide Kliwon Banyumas (Bukan Banyakwide Kertanegara IV)
  8. Yudonegoro I
  9. Bagus Mali
  10. Nyai Kertanegara II(Istri Kertanegara II Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen)
  11. Hendrajit
  12. Banyakwide Kertanegara IV
  13. Kartohatmojo
  14. Hendrokoesoemo
  15. Margono Djojohadikoesoemo
  16. Sumitro Djojohadikoesoemo
  17. Prabowo Subianto Djojohadikoesoemo

Dari silsilah diatas diketahui bahwa Banyakwide Kliwon Banyumas berbeda dengan Kertanegara IV Banyakwide yang hidup pada masa perang Dipanegara.

Adapun silsilah istri Margono adalah sebagai berikut:

Istri Margono(Nenek Prabowo Subianto) bernama Siti Katoemi Wirodihardjo (keturunan Tumenggung Wiroreno) Purworejo, tokoh yang hidup pada masa perang Dipanegara.

Sementara itu garis silsilah Margono yang mengerucut ke dinasti Mataram adalah sebagai berikut:

  1. Ibu dari Margono(Mbah Buyut putrinya Prabowo) adalah putri dari Joyoprono/Joyodiningrat
  2. Murdaningrat
  3. Hamengku Buwana II
  4. Hamengku Buwana I
  5. Amangkurat Jawa
  6. Pakubuwana I
  7. Amangkurat I
  8. Sultan Agung Hanyakrakusuma
  9. dan seterusnya

Sultan Sultan Agung Hanyakrakusuma / RM. Rangsang / Jatmika menikah dengan Ratu Wetan putri dari Tumenggung Upasanta Bupati Batang / Keturunan Ki Juru Mertani berputra ;
Amangkurat I / RM. Sayidin menikah dengan Premaisuri Keturunan Kajoran berputra ;
Pangeran Puger / RM. Drajat / Pakubuwana I – Amangkurat Jawa – Hamengku Buwana I – Hamengku Buwana II – Murdaningrat – Joyoprono / Joyodiningrat – Ibu dari Margono – Margono Djojohadikoesoemo – Sumitro Djojohadikoesoemo – Prabowo Subianto Djojohadikoesoemo

Jadi dalam diri Prabowo mengalir darah Majapahit, Pajajaran, Nagara Panjer, Wirasaba, Purworejo dan Mataram selain juga dari darah Sulawesi dari alur Ibunya. Maka jika kemudian banyak yang mengatakan bahwa Prabowo putra Kebumen, Banyumas, Purworejo, Bagelen, Sulawesi, dan lain sebagainya menurut data silsilah di atas sangat wajar.


Dan sudah menjadi warisan bahwa leluhurnya dari generasi ke genarasi baik Sultan Agung Hanyakrakusuma, Amangkurat I, Hamengkubuwana I, Diponegoro dan lain-lain, selalu menjadikan Kota Raja Panjer dimana di dalamnya terdapat Pamokshan Gajah Mada sebagai tempat yang penting.

Rujukan :

Pesan Cak Nun untuk Bangsa Indonesia