Fenomena Gerakan Islam 212

Fenomena Gerakan Islam 212

Helat Akbar 212 kemarin, jika kita selami lebih jauh, ada nilai yang jauh lebih besar.

– Tokoh central seperti Habib Rizieq tidak ada
– MUI berlepas, dengan pernyataan KH. Maruf Amin yang menolak memberikan dukungan aksi ini.
– Sekalipun Amien Rais, Ustadz Bachtiar Natsir, Habaib-habaib, dan tokoh-tokoh tidak ada.

Aksi 212 tetap akan dipenuhi oleh jamaah dari seluruh Indonesia. Ketidakhadiran tokoh-tokoh tersebut memang memberi nuansa yang kurang lengkap. Tapi ketidak hadiran mereka bukan berarti acara helat akbar tidak berlangsung sukses. Buktinya helat Reuni Akbar 212 kemarin di lapangan Monas dipenuhi oleh jutaan jamaah padahal banyak tokoh utama tidak hadir.

Fenomena ini memberi makna yang lebih luas, bahwa umat merindukan ukhuwah Islamiyah. Tidak penting siapa tokohnya, sejauh wadah kebersamaan disediakan, umat berbondong-bondong berhimpun dan merekatkan hati dan jiwa dalam persaudaraan.

Fenomena 212 lebih dari kumpul-kumpul belaka. Aksi 212 bentuk kongkrit umat untuk berperan aktif dalam membangun bangsa dan negara agar sesuai dengan nilai-nilai Islam yang mengedepankan kesetaraan dan keadilan bagi sesama anak bangsa. Jika ghirah ini dirawat, inilah waktu Bangkitnya Umat Islam di Indonesia.

Bangga Ikut Reuni

Reuni 212 diselenggarakan hari Sabtu 2 Desember 2017 juga memperingati perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW mengumpulkan begitu banyak orang dan para ulama dari seluruh Nusantara.

Saya bersama Lieus Sungkharisma dan kawan kawan berjalan kaki mulai dari Jl. Juanda menuju ke Monas. Untuk mencapai tempat tersebut tidak bisa menggunakan mobil karena jalan-jalan sudah ditutup mulai dari perempatan Harmoni bahkan sekeliling Istana, dikelilingi dengan pagar kawat berduri dan pasukan polisi yang begitu banyak.

Kesan saya adalah kok lebay banget ya. Padahal kita tidak sedang menghadapi perang, yang dihadapi oleh Istana sebagai simbol kekuasaan negara adalah rakyatnya sendiri. Umat Islam yang ingin berkumpul bersama dalam sebuah rangkaian acara sholat subuh, tausiah dari pada ulama dan silaturahmi diantara umat Islam sendiri untuk mempererat tali persaudaraan. Bahkan kami yang kafir pun ikut bergabung. Ini menunjukkan bahwa walaupun berbeda agama, berbeda suku, kita adalah bersaudara, sebangsa dan setanah air, tanah air Indonesia.

Tokoh-tokoh berkumpul mulai dari Amien Rais, Hidayat Nur Wahid, Sohibul Iman, Ustad Bahtiar Nasir, Ustad Felix Siaw, Fadli Zon, Fahri Hamzah sampai ke Ahmad Dani pun ikut hadir. Gubernur DKI Jakarta , Anies Baswedan juga memberikan sambutan. Sayangnya, pimpinan tertinggi negeri ini Presiden Jokowi tidak hadir. Beliau memilih untuk berada di Bogor.

Padahal mayoritas orang Indonesia beragama Islam dan jika Jokowi mau menyapa umat Islam yang datang dari berbagai penjuru daerah , tentu akan menjadi sebuah momentum yang menyiratkan bahwa Jokowi perduli terhadap rakyatnya. Biasanya beliau mendatangi rakyat dan selalu ada saja ceritanya di media, tapi saat rakyat dari daerah singgah ke Jakarta, kok malah memilih untuk berada di tempat lain?

Semoga saja tidak ada niatan untuk memilih milih rakyat mana yang ingin ditemuinya.

Akhirnya saya, Lieus dan kawan-kawan sampai juga ke panggung dengan dikawal oleh laskar FPI yang kebetulan melihat kami yang tidak mungkin lagi bergerak karena begitu banyaknya orang yang memadati Monas. Kami disambut dengan sangat baik ditengah jutaan umat Islam, diperkenalkan bahwa saya adalah seorang Katolik dan diminta berdiri. Ya, saya seorang Katolik, kafir dan Tionghoa berada bersama umat Islam dalam sebuah perayaan yang sangat menyentuh hati karena semua orang hadir di tempat itu bukan karena uang apalagi nasi bungkus tetapi karena kesadaran akan panggilan keagamaan dan bela negara yang saat ini diguncang dengan berbagai kegaduhan yang berpotensi untuk memecah belah bangsa.

Saya, Agnes Marcellina, bangga bisa hadir di Monas tadi pagi….dan ternyata umat Islam sangat toleran…

Salam Indonesia Raya.

212 Gerakan Apa?

Banyak keanehan dan sulit dipikir nalar dalam gerakan 212 yang baru merayakan ulang tahun perdana. Ribuan atau mungkin jutaan orang bisa menyemut dalam satu tempat di waktu subuh. Di waktu kedua mata sedang asyik terlelap dan bermimpi.

Ada yang datang bergerombol dari luar pulau, ada yang bawa keluarga dengan mobil pribadi dari luar kota, ada yang naik motor, sepeda ontel, hingga ada yang rela berjalan kaki. Ini acara reuni paling aneh yang pernah terjadi.

Mereka rela mengorbankan waktu liburan, mereka ikhlas merogoh uang tabungan, mereka tulus berbagi makanan dan minuman. Tak ada satu pun yang merusak taman. Apa yang mereka cari…?

Apakah 212 gerakan politik…? Ya, mereka memang gerakan politik. Secara kasat mata kita melihat gerakan ini mampu menumbangkan rezim arogan yang memiliki banyak kekuatan. Kekuatan logistik hingga kekuatan mesin pembentuk opini publik.

Apakaj 212 gerakan ekonomi…? Ya, mereka memang gerakan ekonomi. Secara kasat mata kita melihat banyak sekali koperasi 212 Mart berdiri di pemukiman. Semua berlomba menjadi investor, pengelola dan sekadar menjadi konsumen. Mereka mampu menciptakan pasar dan membuat supermarket populer deg-degan.

Apakah 212 gerakan pendidikan…? Ya, mereka memang gerakan pendidikan. Banyak tempat kajian bermunculan, banyak orang hijrah dan rajin ke pengajian. Banyak yang berusaha kembali mempelajari dan memahami ajaran Alquran. Banyak yang berubah menyikapi arti kehidupan. Banyak pula pemeluk agama lain yang tersadarkan bahwa Islam adalah agama perdamaian.

Apakah 212 gerakan propaganda? ya, mereka memang gerakan propaganda. Mereka merambah ke dunia maya. Melawan segala bentuk fitnah dan kabar yang menyesatkan. Mereka mengubah citra menjadi fakta. Muslim Cyber Army kian menggurita. Entah dimana kantornya, entah siapa pemimpinnya. Mereka bergerak senyap tapi pasti seperti semut-semut Ibrahim yang memadamkan api.

Jadi 212 gerakan apa sebenarnya…? Entahlah, saya sebut saja ini gerakan gila. Gila karena tak masuk di akal. Gila karena seperti tak normal dibanding gerakan lainnya. Gerakan ini bukan strategi para taipan, bukan pula strategi dari rezim kekuasaan. 212 adalah gerakan yang skenarionya langsung dari Tuhan.

Aksi 212 membawa pesan bahwa kehendak Tuhan tak bisa dilawan. Ini sudah menjadi janji-Nya dalam Alquran. Wamakaru Wamakarallah Wallahu Khairul Makiriin (Mereka punya skenario, Allah punya skenario, dan Allah sebaik-baiknya pembuat skenario) – Al Imran 54

Untuk Apa Kumpul-kumpul Lagi?

Banyak orang yang pusing memikirkan apa alasan umat Islam kumpul lagi di Jakarta dengan tema Reuni 212. Mereka sibuk mencari logika di balik “kumpul lagi” itu. Sibuk mencari jawaban, “untuk apa?”.

Bagi mereka, reuni semacam ini tidak ada gunanya. Sia-sia! Buang-buang waktu, tenaga dan dana.

“Mereka” yang sibuk memikirkan alasan kumpul itu, ada dua golongan. Yang pertama adalah “mereka” yang benar-benar tidak paham mengapa umat Islam harus datang lagi ke Jakarta pada HUT aksi damai 212. Yang kedua adalah “mereka” yang selalu mengantongi kalkulator politik; yang membawa sempoa politik ke mana-mana karena “mereka” paranoid.

Yang pertama. Mereka ini tidak banyak jumlahnya. Mereka dari hari ke hari sibuk dengan dunianya, tidak mau tahu dengan keniscayaan untuk membangun persatuan di kalangan umat. Sebagian mereka malah merasa tidak perlu mempersoalkan siapa yang seharusnya menjadi pemimpin dan bagaimana umat harus dipimpin.

Bagi mereka, yang paling penting adalah roda kehidupan biologis bisa berjalan normal, ada penghasilan, dan makan-minum lancar. Dalam bahasa percandaan biasa disebut “yang penting dapur berasap, perut kenyang”. Jadi, kalau “parameter perut” ini tidak bermasalah, sudah cukup. Tidak perlu memikirkan bagaimana kondisi umat, siapa yang memimpin umat, apa-apa saja tantangan yang dihadapi umat, dlsb.

Karena itu, mereka merasa tidak perlulah bersusah payah beraksi solidaritas dan mengekspresikan keresahan terhadap cara negara dikelola oleh pemegang kekuasaan. Tidak perlu aksi damai umat Islam, apalagi disusul pula dengan kumpul-kumpul reuni seperti Reuni 212, kemarin. Inilah “mereka” yang masuk golongan pertama.

Kemudian ada “mereka” kategori kedua. Yaitu, orang-orang yang sangat sadar bahwa aksi damai umat yang menunjukkan persatuan adalah “ganjalan” bagi mereka. “Mereka” ini adalah pemegang kekuasaan dan para pendukung serta simpatisannya. Ke mana mereka pergi, kalkulator politik selalu ada di saku. Sempoa politik tetap ada di laci meja kerja mereka.

Begitu ada aksi umat, baik aksi damai setahun yang lalu maupun aksi reuni, kalkulator dan sempoa langsung dikeluarkan untuk menghitung apa maksud reuni, mengapa jutaan orang masih saja rela datang ke Jakarta dari tempat yang jauh-jauh, siapa dalangnya, ke mana arahnya, dll. Semua dihitung. Berhitung sambil memikirkan bagaimana cara untuk membuat agar solidaritas umat bisa sirna.

Maka, “mereka” jenis kedua ini akan menggunakan segala macam lembaga yang ada di tangan mereka untuk merancang “software” yang bisa melemahkan semangat juang umat. “Mereka” juga menggunakan para pendukung intelektual untuk disebar ke segenap penjuru media kaki-tangan, untuk “menertawakan” aksi Reuni 212. Mereka bermunculan di layar kaca TV-TV pembebek dengan komentar-komentar yang intinya “membodohkan” umat yang berkumpul di Jakarta. Barisan “mereka” di medsos pun melancarkan gempuran sinistis terhadap reuni.

Dan, TV-TV pembebek pun memahami keinginan “mereka”. Stasiun-stasiun anti-umat itu tidak menampilkan aksi reuni sebagai berita. Atau, setidaknya mereka sengaja mengecilkan peristiwa itu dalam pemberitaan.

Intinya, “mereka” panik. Panik melihat tekad dan semangat baja yang, ternyata, tidak surut di kalangan umat. Panik karena instink paranoid “mereka” mengatakan bahwa aksi-aksi reuni semacam 212 mengindikasikan bahwa persatuan umat telah teruji.

Mereka panik karena mereka telah terlanjur merancang dan mengimplementasikan langkah-langkah politik yang menempatkan umat Islam sebagai musuh mereka. Sesuatu yang sangat keliru. Keliru besar. Padahal, umat ini tidak bermaksud memusuhi mereka sepanjang mereka tidak memusuhi umat.

Setelah Reuni 212, hampir pasti kalkulator dan sempoa politik “mereka” menghasilkan hitungan yang membuat perasaan menjadi tak enak. Sebab, tahun politik tidak jauh lagi.

Kalau umat bisa menjaga momentum persatuan seperti yang tampak sekarang ini, berarti ada ancaman nyata terhadap eksistensi kekuasaan “mereka”.

Reuni 212 Terlalu Besar untuk Diabaikan Siapapun

Dai muda, ustadz Felix Siauw mengatakan bahwa arti reuni akbar alumni 212 adalah untuk menyatukan serta mempersatukan umat Islam. Karena menurutnya, aksi 212 adalah gerakan kebangkitan umat Islam yang berjalan sukses karena tidak adanya sikap anarkis meskipun massa yang datang banyak.

Ia menyatakan, bahwa gerakan kebangkitan umat Islam yang disimbolkan dengan 411/212 menjadi fenomena baru dalam sejarah Indonesia. Tak pernah ada gerakan semasif dan sesolid ini.

“Tentu saja, ini menjadi perhatian serius bagi siapa saja yang ingin berkuasa, atau terus berkuasa di negeri ini. Sebab gerakan ini terlalu besar untuk bisa diabaikan siapapun,” ungkapnya melalui akun Instagram pribadinya @felixsiauw pada Selasa (04/12/2017).

“Faktanya, sejak Indonesia wujud, tak ada satupun partai atau gerakan yang bisa mengagregasi umat sebanyak 212, lebih hebat lagi, ini dilakukan dengan dana sendiri,” imbuhnya.

Terlebih, tidak menutup kemungkinan jika adanya tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepada umat Islam terkait hal tersebut. Bukan hanya tuduhan, lanjutnya, namun diskirminasipun tidak lupa digunakan untuk membungkam gerakan ini.

“Radikal, intoleransi, anti-NKRI, anti-Pancasila,” ungkapnya. Namun, ia menilai bahwa semua tuduhan tersebut secara tidak sadar telah digagalkan oleh persatuan umat Islam saat ini. “Begitulah semua tuduhan kaum munafik dan kafir terbantah hanya dengan reuni 212 saja,” sambungnya.

Ia menjelaskan, begitulah kerja orang panik, sebagaimana kafir Quraisy yang bingung menuduh apa kepada Rasulullah yang sempurna. “Akhirnya tuduhannya mengada-ada. Maka tuduhan terhadap reuni 212 telah terbukti gagal, mereka lanjutkan dengan pasca reuni 212,” katanya.

“Maklumi saja orang-orang panik ini, mereka yang hendak tenggelam, apa saja akan disambar, bahkan hanya jerami yang mengambang, orang panik suka aneh-aneh,” katanya.

Di akhir, ia menyatakan bahwa acara seperti reuni akbar 212 ini akan memberikan kesan rindu kepada sesama saudara Muslim.

“Jelas-jelas ini ngangeni. Alhamdulillah, saat berdesak-desakan orang berbagi senyum, saat lapar dan haus mendahulukan saudaranya, indah. Biarlah 212 terus mengingatkan kita, bahwa persatuan itu indah,” tutupnya.


Referensi :

http://www.teropongsenayan.com/76063-fenomena-212

http://www.teropongsenayan.com/76028-bangga-ikut-reuni-212

http://www.teropongsenayan.com/76031-gerakan-gila-bernama-212

http://www.teropongsenayan.com/76055-reuni-212-untuk-apa-kumpul-kumpul-lagi

https://kiblat.net/2017/12/04/felix-siauw-sebut-reuni-212-terlalu-besar-untuk-diabaikan-siapapun/

Sumber video 

Iklan

Mengapa Islam Melarang Pria Memakai Emas?

Mengapa Islam Melarang Pria Memakai Emas?

(Sumber gambar dari google)


Dalam Islam, laki-laki haram pakai emas. Namun sangat disayangkan budaya kita umat Islam telah meniru-niru budaya barat dimana laki-laki mengenakan cincin emas saat prosesi tukar cincin atau sebagai mas kawin pada saat acara pernikahan. Jika mengacu pada hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dapat disimpulkan bahwa dalam Islam laki-laki diharamkan pakai emas sedangkan bagi perempuan tidak. Mengapa?
Atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit melalui pori-pori dan masuk ke dalam darah manusia. Jika seorang pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan: di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas (dikenal dengan sebutan migrasi emas).
 
Jika itu terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan mengakibatkan penyakit Al zheimer. Sebab, jika tidak dibuang, maka dalam jangka waktu yang lama atom emas dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu penyakit Al zheimer.
Alzheimer adalah suatu penyakit dimana penderitanya kehilangan semua kemampuan mental dan fisik, menyebabkannya kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan normal, tetapi penuaan paksaan atau terpaksa. Di antara mereka yang terkena penyakit Alzheimer adalah Charles Bronson, Ralph Waldo Emerson dan Sugar Ray Robinson.
Lalu, Mengapa Islam Memperbolehkan Wanita Untuk Mengenakan Emas?
Jawabannya adalah :
“Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi.”
Itulah sebabnya Islam mengharamkan pria mengenakan perhiasan emas dan membolehkan wanita memakainya.
Penyakit yang disebabkan oleh kandungan emas ini, tidak ditemukan pada perempuan. Penelitian tentang penyakit ini menyebutkan bahwa dalam tubuh seorang perempuan/wanita, terdapat suatu lemak unik, lemak yang berbeda yang tidak dimiliki seorang laki-laki dimana lemak ini akan mencegah unsur senyawa atom emas (Au) untuk masuk ke dalam tubuh, sehingga saat atom ini masuk, hanya mampu menembus kulit, namun tidak bisa menembus lemak yang menghalangi jalan menuju daging dan darah.
Penelitian lain menyebutkan bahwa di dalam tubuh seorang wanita, zat emas bisa masuk ke dalam tubuh dan mengalir bersama darah, namun zat ini tidak akan berbahaya karena akan dibuang bersama darah saat haid/menstruasi. Jadi Nabi membolehkan seorang istri/wanita mengenakan cincin/perhiasan dari emas, namun sangat dilarang bagi suami/laki-laki.
Alasan Islam melarang pria memakai emas, telah disampaikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lebih 1400 tahun yang lalu. Padahal beliau tidak pernah belajar ilmu fisika.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, maka beliau memintanya supaya mencopot cincinnya, kemudian melemparkannya ke tanah. (HR Bukhari & Muslim).
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang cincin emas (bagi laki-laki),” (HR Bukhari No 5863 & Muslim No. 2089).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bertemu seorang lelaki yang memakai cincin emas di tangannya. Beliau mencabut cincin tersebut lalu melemparnya, kemudian bersabda : Seseorang dari kalian telah sengaja mengambil bara api neraka dengan meletakkan (cincin emas semacam itu) di tangannya”.
Lalu, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, ada yang mengatakan kepada lelaki tadi, “Ambillah dan manfaatkanlah cincin tersebut.” Ia berkata, “Tidak, demi Allah. Saya tak akan mengambil cincin itu lagi selamanya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuangnya,” (HR Muslim No. 2090, dari hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas).
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits ini berkata, “Seandainya si pemilik emas tadi mengambil emas itu lagi, tidaklah haram baginya. Ia boleh memanfaatkannya untuk dijual dan tindakan yang lain. Akan tetapi, ia bersikap waro’ (hati-hati) untuk mengambilnya, padahal ia bisa saja menyedekahkan emas tadi kepada yang membutuhkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang seluruh pemanfaatan emas. Yang beliau larang adalah emas tersebut dikenakan. Namun untuk pemanfaatan lainnya, dibolehkan,” (Syarh Shahih Muslim, 14: 56).
Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Shahih Muslim (14: 32), “Emas itu haram bagi laki-laki berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” Dalam kitab yang sama (14: 65), Imam Nawawi juga berkata, “Para ulama kaum Muslimin sepakat bahwa cincin emas halal bagi wanita. Sebaliknya mereka juga sepakat bahwa cincin emas haram bagi pria.”

Berhijab Itu Wajib! Apapun Alasanmu Melepasnya Dalam Kehidupanmu Tetaplah Salah!

Berhijab Itu Wajib! Apapun Alasanmu Melepasnya Dalam Kehidupanmu Tetaplah Salah!

Ilustrasi

Sekitar September 2016 lalu Rina Nose muncul dengan penampilan mengejutkan.

Ya, saat itu Rina muncul di acara yang dipandunya dengan mengenakan hijab.

Tentu keputusan ini disambut gembira sebagian besar fans-nya.

Rina pun kemudian mengungkapkan dirinya mantap berhijab setelah melalui proses pencarian.

Saat itu Rina juga mengungkapkan jika niatnya untuk berhijab sudah muncul 2-3 tahun lalu.

“Sebetulnya aku sudah berkali-kali dapat hidayah untuk berhijab, dan berkali-kali juga sudah memiliki niat untuk berhijab (sekitar 2-3 tahun lalu). Tapi berkali-kali juga aku menolaknya,” ujar Rina saat diwawancara saat itu.

Mantan kekasih Fakhrul Razi itu akhirnya mengaku menemukan jawaban yang paling logis untuk menutup auratnya seperti diwajibkan bagi seluruh muslimah.

Setidaknya ada tiga alasan yang diungkapkan Rina kepada media saat ditanya alasan berhijab.

1. Menghormati diri sendiri

Rina mengatakan wanita berhijab adalah bentuk kehormatan seorang wanita muslimah.

“Kenapa alasan perempuan harus menutup seluruh tubuhnya kecuali yang biasa terlihat (wajah dan tangan sampai pergelangan tangan). Satu, untuk menghormati diri sendiri,” Rina menjelaskan.

2. Mencegah keburukan

Alasan kedua, Rina berpendapat jika hijab bisa mencegah wanita dari keburukan. “Untuk mencegah keburukan, seperti pelecehan seksual, perselisihan antar sesama wanita karena rasa dengki akibat aurat yang terlihat,” katanya

3. Patuh kepada Allah

Dan yang paling utama kata Rina, berhijab adalah perintah agama.

Rina Nose mengaku saat itu dia menggali buku sejarah wanita, serta mendalami ayat suci Alquran mengenai kewajiban seorang wanita untuk menutup aurat.

“Selain karena alasan yang aku sebutkan tadi, alasan utama kenapa aku mengenakan hijab adalah sebagai bentuk kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah,” Rina Nose mengakhiri.

Meski tampak kesulitan menjelaskan alasan mengapa ia membuka hijab, Rina akhirnya secara panjang lebar menjelaskannya kepada salah satu tayangan entertainment.

Berikut petikan langsungnya:

“Gimana ya aku mau menjelaskannya juga…,

Pokoknya ada banyak hal peristiwa, yang bikin aku berfikir apalagi aku akhir -akhir ini sering ke berbagai negara.

Di situ mempelajari kebudayaan mereka seperti apa, keyakinan mereka seperti apa.

Akhirnya aku mengambil kesimpulan, o aku selama ini…..

Mungkin aku hanya memandang kebaikan itu dari sudut pandang yang aku yakini paling benar saja.

Oh ternyata masih banyak kebaikan-kebaikan lain yang di luar itu yang aku tidak tahu.

Jadi dari situ aku mulai berfikir, tentang hal yang lebih luas lagi.

Berkali-kali Tolak Hidayah, Terungkap ini 3 Alasan Rina Nose Berhijab, Kok Sekarang Dilepas?

Lantas apa yang jadi salah satu faktornya? Tanya reporter mendesak.

Aduuhh, gimananya kalau aku nyebutin itu.

Aku juga serem mas, aku serem.

Jadi biar aku saja yang tahu, biar aku saja yang mengalami.

Mungkin aku yakin pasti ada beberapa orang yang mengalami hal ini dan mereka akan mengerti apa yang akau alami.

Karena ini pun aku menahannya selama 6 bulan, memikirkan.

Jadi aku sebetulnya sudah sering memposting penemuan-penemuan aku, sebetulnya.

Dan banyak komentar-komentar yang pro-kontra juga, karena di sini mayoritas umat Muslim.

Mereka percaya dan diajarkan Islam dari kecil tentang agama.

Islam seperti apa, apa kewajiban dan larangannya.

Jadi pandangan umum, mayoritas orang muslim ya pasti akan seperti itu dan aku memahaminya.

Sekali lagi aku mohon maaf untuk semua penggemar-penggemar aku yang merasa kecewa, karena aku melepas hijab aku.

Kalau masih ada manfaat baik yang bisa diambil silakan diambil, tapi kalau tidak tinggalkan saja.”

Apakah kamu cukup jelas menerima jawaban ini, maka jika tidak, secara singkat Rina telah melakukan permohon maaf bagi yang merasakan kecewa dengannya.

“Terlebih dahulu aku meminta maaf pada manusia, karena Tuhan maha pengampun,” katanya pada Sabtu (11/11/2017) pagi.

Para Artis Ini Dulu Berhijab Kini Tampil Seksi

1. Marshanda

Saat tampil tak mengenakan hijab lagi, artis penyanyi Marshanda sempat menghebohkan publik. Tak jelas apa alasan pasti hingga artis cantik ini melepaskan hijabnya. Tapi saat itu dia memang baru saja bercerai dengan suaminya Ben Kasyafani.

Berbagai kritikan dilontarkan tapi seperti tak dipedulikan Marshanda. Bahkan penampilannya makin hot, seksi bahkan ada kalanya vulgar. Sama sekali tak tercermin kalau dia pernah menutup seluruh auratnya. “Ini bentuk kejujuran aku, seperti ini,” katanya yang dikutif sejumlah media.

Di beberapa kesempatan, Marshanda juga tampil dengan beberapa orang yang menjadi kekasihnya. Foto-foto yang diunggah di beberapa media sosial miliknya sering menuai kritik karena penampilannya yang seksi. Pertengkaran dengan kekasihnya yang terakhir juga menjadi sorotan, termasuk ‘nyanyian’ kekasihnya tentang sisi gelap Marshanda. Tapi lagi-lagi Marshanda tetap dingin seakan-akan seperti tak terjadi apa-apa.

2. Vitalia Sesha

Vitalia Sesha memilih untuk melepas hijabnya pada 2010 setelah bercerai. Alasannya dia membutuhkan pekerjaan yang mengharuskan dirinya tampil tidak mengenakan hijab. Dia harus bekerja untuk menghidupi keluarga terutama dua anaknya Syifa dan Aisyah

“Aku pernah ngerasain benar-benar menjadi istri yang solehah, ngaji, sholat bahkan sempat umroh. Walaupun sekarang aku nggak pakai hijab, tapi aku sempat pakai kerudung,” kata Vita.

Artis yang sekarang lebih seing tampil seksi ini mengakui, melepas hijab bukanlah hal terbaik. Tapi dia merasa dihadapkan pada kenyataan dan dia harus menyerah. “Aku menyerah,” katanya.

3. Rossa

Sri Rossa Roslaina Handayani atau yang lebih dikenal dengan nama Rossa dulunya mengenakan hijab sepulang dari ibadah haji. Tapi kemudian dilepas dan sekarang tampil seperti saat ini. Dia tak mau menjelaskan alasannya kalau ditanya.

“Mau pakai jilbab atau nggak itu urusan aku sama Tuhan. Dan aku bisa menjelaskan kenapa aku belum pakai jilbab secara permanen,” ungkap Rossa. Meski tidak mengenakan hijab dia berjanji tak sembarangan dalam mengenakan pakaian.

Ia masih menjaga prinsip dirinya yang akan selalu tampil menggunakan pakaian yang sopan dan tertutup. “Masyarakat Indonesia sudah tahu, menilai orang tidak hanya berdasar penampilan saja, tapi dari kualitas. Aku harap mereka tetap support ya,” tutur Rossa.

4. Novi Amelia

Namanya tidak terlalu populer karena memang penampilannya di depan publik sebagai artis masih jarang. Popularitasnya justru terdongkrak saat dia berulah karena mengemudikan kendaraan saat mabok hingga terlibat kecelakaan.

Saat terlibat kecelakaan itu, pakaian yang dikenakan ternyata sangat minim hingga polisi yang menangani terkaget-kaget. Saat di bawa ke kantor polisi, perempuan ini sempat juga jadi tontonan. Bahkan foto-fotonya yang mengenakan pakaian minim saat di kantor polisi beredar luas hingga jadi masalah.

Beberapa kali tampil, model ini mengenakan hijab. Tapi ternyata itu hanya sekali-sekali saja. Saat ditanya mengapa hijabnya dilepas, jawabannya,”Tawaran kerja lebih banyak kalau saya tidak mengenakan hijab,” katanya. 

Artis ini Sempat lepas Hijab, Kini Kembali Terlihat Tampil Berhijab

Penampilan Septy Sanustika tampak berbeda dari sebelumnya. Pedangdut cantik ini terlihat kembali menutup auratnya setelah sempat melepas hijabnya pada Maret 2014.

Hal tersebut terlihat di salah satu akun media sosial Septy Sanustika, baru-baru ini. Istri terpidana kasus suap Ahmad Fathanah itu tampil cantik dengan hijab yang dikenakannya. Beberapa foto selfie-nya saat kembali memakai hijab diperlihatkan Septy.

Di salah satu foto, Septy Sanustika memakai hijab warna biru pastel yang dipadukan dengan atasan merah muda. Wajahnya terlihat semakin cantik dibalut kerudung yang menutupi auratnya. Riasan wajah khasnya pun membuat Septy tampil berbeda.

Selama tampil tanpa memakai hijab, Septy Sanustika mencoba mengembangkan karier bermusiknya. Ia bergabung bersama grup rap The Best Man meluncurkan single barunya bertajuk Playboy Cap Sisir. Septy pun terlihat tetap memakai baju yang menutup aurat meski tak berhijab.

Sebelumnya Septy Sanustika sempat mengatakan alasan melepas hijabnya lantaran ingin mengganti suasana baru dari penampilannya. Kala itu, Septy Sanustika sudah mendapat izin dari suaminya untuk menanggalkan hijab. Bahkan wanita ini pernah mengaku merasa nyaman dengan penampilannya tanpa hijab.

“Saat ini saya nyaman menjalani ini. Dan tentunya semua ini atas izin dan persetujuan suami saya,” katanya Septy saat itu.

Membuka Jilbab Demi Kerja, Apa Hukumnya?

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Ankabut [29]: 60). Dalam kondisi terdesak kadang manusia terjebak oleh pikirannya sendiri, seakan-akan prasangkanya itulah yang bakal menjadi kenyataan.

Rasa takut pada selain Allah membuatnya gelap mata, tawakal  bukan kepada Allah membuatnya  bergantung pada ranting patah yang rapuh, berharap pada selain Allah menjadikannya putus asa. Celakanya, jika ini terjadi pada pemimpin atau orang tua, yang akan menjadi korban adalah rakyat banyak atau anak-anaknya, wal’iyadzu billah.

Perhatikan ayat di atas, sedangkan hewan yang tak berakal dan ditundukkan untuk manusia selalu dapat memenuhi kebutuhannya, apalagi manusia yang berakal pasti lebih bisa dari hewan. Semua itu pasti terjadi karena Allahlah yang memberikan rezeki kepada makhluk-Nya.

Kepada ananda,  saya sampaikan bahwa tugas seorang hamba adalah berusaha keras memenuhi hajat hidupnya dan tugas malaikat adalah menjalankan perintah Allah memenuhi kebutuhan hamba-Nya yang telah berusaha keras dan tak kenal lelah apalagi putus asa. Tetaplah pada prinsipmu dalam berhijab dan dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh.

 “Apabila telah ditunaikan sembahyang maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS al-Jumu’ah [62]: 10). Ananda jangan salahkan ibumu, maafkanlah khilafnya. Situasi ini hanya sejenak dan akan segera berlalu, percayalah ini hanya ujian iman untuk kenaikan derajat jika sabar menjalaninya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?’’ (QS al-Ankabut [29]: 2). Simak pula ayat ini, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.’’ (QS al-Mulk [67]: 2).

Memang benar Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita patuh dan berbuat baik kepada orang tua, tetapi hanya berlaku ketika dalam ketaatan kepada Allah.  Namun, jika orang tua menyuruh kita melakukan hal yang dilarang  Allah dan Rasul-Nya, wajib bagi kita tidak menaatinya dan menolaknya dengan cara yang baik serta menjelaskan bahwa ini adalah hukum Allah yang tidak boleh dilanggar. Allah telah mengajarkan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap orang tua yang menyuruh kita melakukan hal yang diharamkan.

“Dan, jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’’ (QS Luqman [31]: 15).

Rasulullah, “Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.’’ (HR Bukhari dan Muslim). Allah menciptakan makhluk  dan menyiapkan pula kebutuhannya. Kesulitan dalam proses memenuhi kebutuhan adalah keniscayaan, namun  Allah menetapkan dua kemudahan dalam setiap satu kesulitan.

Orang beriman tak akan pernah menyerah apalagi berputus asa dalam memperjuangkan keimanannya. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.’’ (QS Al-Syarh [94]: 5-6). Jangan pernah lepaskan hijabmu hanya karena dunia yang fana ini. Tetaplah dalam ketaatan pada syariat-Nya.

Sebentar lagi keberuntungan akan berpihak padamu. “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS al-Thalaq [65]: 2-3). Wallahu a’lam bish shawab.

(Ustaz Bachtiar Nasir)

 

Referensi :

Gundul-Gundul Pacul, Lagu Peringatan Untuk Seorang Pemimpin

Gundul-Gundul Pacul, Lagu Peringatan Untuk Seorang Pemimpin

Terdapat dua sumber yang menyebut pengarang lagu ini, yaitu Sunan Kalijaga pada tahun 1400an dan R.C. Hardjosubroto.

LIRIK LAGU 

Gundul gundul pacul-cul,

gembelengan

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan

Wakul ngglimpang

segane dadi sak ratan

Gundul:

Adalah kepala plontos (tanpa rambut).

Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang.

Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala.

Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Pacul:

Adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul merupakan lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul Pacul :

Bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas). Artinya : kemuliaan seseorang akan sangat tergantung empat hal, yakni bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

  1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
  2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
  3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
  4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan:

Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat. Tetapi dia malah:

  1. Menggunakan kekuasaannya sebagai kemuliaan dirinya.
  2. Menggunakan kedudukannya untuk. berbangga-bangga di antara manusia.
  3. Dia menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya.

Nyunggi wakul :

Membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya.Banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya.

Wakul :

Simbol kesejahteraan rakyat.

Kekayaan negara, sumberdaya,
Pajak adalah isinya. Artinya bahwa kepala yang dia anggap kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat.

Kedudukannya di bawah bakul rakyat.
Siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul?

Tentu saja pemilik bakul.
Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya. Dan banyak pemimpin yang masih gembelengan (melenggak lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main).

Akibatnya :

Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan. Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana.

Maksudnya :

Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Dia tak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat.

 

Referensi :

Karaeng Pattingalloang, Ilmuwan Muslim dari Makassar

Karaeng Pattingalloang, Ilmuwan Muslim dari Makassar

salimafillah.com


Optimisme tentang masa depan yang didasari keyakinan akan kemampuan manusia. Itulah semangat (mentalitas) baru yang dibawa orang Eropa manakala pertama kali datang ke Nusantara, selain kolonialisme tentu saja. Namun hampir tidak ada elite Nusantara yang memberikan reaksi terhadap semangat modern yang dibawa orang-orang kulit putih tersebut pada masa itu. Padahal, optimisme itu mencakup keyakinan bahwa manusia menguasai waktu (baca: takdir) dan penghargaan terhadap individu. Yang lebih penting, kepercayaan akan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pemecah segala masalah.

Hanya saja, sejarah kemudian mencatat seorang Karaeng Pattingalloang. Denys Lombard, sejarahwan Prancis yang pernah melakukan penelitian puluhan tahun di Indonesia, menyebut Pattingalloang sebagai elite Nusantara “yang boleh dikatakan istimewa”. Pangeran dari Makassar yang meninggal pada 1654 itu, tulis Lombard, tampak sebagai salah seorang denan pikiran unggul yang siap menjumpai orang-orang Eropa terbaik di Tanah Airnya sendiri.

Siapakah Karaeng Pattingalloang?

intisari.grid.id


Pattingalloang adalah perdana menteri sekaligus penasehat utama Sultan Muhammad Said (1639-1653) dari Kerajaan Makassar. Dia hidup di masa kejayaan kesultanan itu. Tentu saja, sebagai elite yang mempunyai akses terhadap sumber daya ekonomi politik, Pattingalloang juga ikut berniaga. Kolega bisnisnya terdiri atas orang Ambon, Portugis, Belanda, Manila, Siam dan Golkonda. Pengalaman lintas bangsa ini tampak berpengaruh pada penguasaan bahasa asing, dan pandangan dunianya yang kosmopolit. Di atas itu semua yang perlu ditonjolkan di sini adalah hasrat dan gairahnya yang meluap-luap terhadap gagasan dan ilmu Barat.

Rasa ingin tahunya yang besar itu juga didukung oleh penguasaannya terhadap bahasa asing (Portugis, Latin, dan Spanyol) dan sebuah sebuah perpustakaan besar. Bahkan, lengkap dengan koleksi berbagai buku dan atlas Eropa. Di antara koleksinya terdapat karya Bruder Luis de Granada O.P, yang telah di bacanya dalam bahasa aslinya.

Soal gambaran karakter Pattingalloang, barangkali kita bisa menyimak komentar Pastor Alexander de Rhodes S.J berikut. “Jika kita mendengar omongannya tanpa melihat orangnya, pasti kita mengira bahwa dia adalah orang Portugis sejati, karena ia berbahasa orang Portugis sama fasihnya dengan orang Lisbon ….” Pattingalloang juga, menurut sang pastor, “Menguasai dengan baik segala misteri kita, dan telah membaca semua kisah raja-raja kita di Eropa dengan keingintahuan yang besar”.

Tapi yang lebih mengagumkan dari Pattingaloang adalah cintanya kepada ilmu pengetahuan. “Ia selalu membawa buku-buku kita dan khususnya buku-buku mengenai matematika, yang mana ia sangat ahli, dan begitu besar cintanya kepada setiap bagian ilmu ini”.

Karaeng Pattingalloang lahir pada tahun 1600 dan wafat pada tanggal 17 September 1654 di Kampung Bonto Biraeng. Menurut sumber lain, beliau wafat tanggal 15 September 1653. Beliau pernah menjadi Tumabbicara Butta Gowa yang pada saat itu antara Gowa dan Tallo menganut prinsip 1 rakyat 2 raja (se’re ata rua karaeng).
 
I Mangadacina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang, adalah salah satu raja cendekiawan di nusantara. Beliau menguasai banyak bahasa asing. Menggandrungi ilmu pengetahuan, yang di era itu melalui pelaut Eropa beliau memantau perkembangan teknologi di Eropa. Beliau juga memiliki visi pemerintahan dan politik luar negeri yang sangat baik.
 
Di eranya, kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) mencapai zaman keemasan. Kerajaan Makassar menjadi kerajaan terkuat dinusantara dengan wilayah kekuasaan dan koordinasi yang luas. Di sisi ekonomi, dengan dijadikannya pelabuhan Makassar sebagai pusat perdagangan dan transit, maka Makassar berkembang menjadi kerajaan maritim yang sangat maju dizamannya.
 
Dalam Sejarah Sulawesi Selatan, dikenal nama Karaeng Pattingaloang, Raja Tallo VIII yang juga merangkap Pabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XV, Sultan Muhammad Said. Karaeng Pattingaloang merupakan satu contoh bangsawan yang modernis, menguasai Politik dan Hukum Tata Negara, mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing (Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab dan Latin) di usianya yang masih sangat belia, 18 tahun. Ruangan kerjanya berupa perpustakaan pribadi dengan ribuan buku yang berasal dari Erofah Barat pada Abad XVII.
 
Karaeng Pattingalloang adalah seorang cendikiawan dan diplomat asal Makassar pada abad ke-17. Ia menguasai banyak bahasa asing diantaranya adalah bahasa Latin, Yunani, Italia, Perancis, Belanda, Portugis, Denmark, Arab, dan beberapa bahasa lainnya.
 
Karaeng Pattingalloang bernama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, salah seorang putera dari Raja Tallo IV I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matoaya diantara 29 orang bersaudara. Karaeng Pattingalloang adalah seorang Mahasarjana tanpa gelar dan tittle karena pada saat itu belum ada sekolah maka ia belajar secara otodidak. Namun dibalik itu karena kercerdasannya ia menjadi salah seorang ilmuan yang sangat disegani dan dianggap sebagai Galileo Of Macassar.
 
Meskipun namanya tidak setenar Sultan Hasanuddin, Sultan Alauddin, dan juga Syekh Yusuf, namun pada masa kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo tidak terlepas dari peranan yang dimainkan oleh Karaeng Patingalloang yang juga menjabat sebagai Mangkubumi Kerajaan yang berkuasa 1639-1654. Karaeng Pattingalloang sukses menjadikan Kerajaan Gowa-Tallo menjadi salah satu kerajaan yang besar diNusantara lewat sains yang ia kuasai secara otomatis membawa Makassar tercatat sebagai kota/bandar terbesar sebagai pusat ibu kota saat itu, telah berkembang menjadi bandar niaga yang amat ramai di kunjungi, baik oleh pedagang-pedagang kerajaan lain diNusantara maupun oleh bangsa-bangsa asing. Dan malahan dianggap Malaka kedua sesudah Portugis menduduki Malaka (1511).
 
Atas jasanya, Gowa mengalami puncak kejayaan dan mampu menjalin hubungan persahabatan dengan Raja Inggris, Raja Castilia di Spanyol, Mufti Besar Saudi Arabia, Raja Portugis, Gubernur Spanyol di Manila, Raja Muda Portugis di Goa (India) dan Merchante di Masulipatan (India). Sebagaimana Ayahnya, Karaeng Matoaya, Karaeng Pattingaloang juga seorang ahli ibadah, dapat membaca kitab gundul dan menerangkan tafsirnya. Karaeng Pattingaloang adalah salah seorang putera dari Karaeng Matoaya dari ibunya bernama I Wara, Salah seorang saudara kandungnya adalah Sultan Abdul Gaffar, yang gugur dalam perjalanan setelah menaklukkan Timor dalam tahun 1841.
Kalau Karaeng Matoaya semasa menjabat Mangkubumi (1593 – 1636) dianggap telah meletakkan dasar perkembangan Kota Makassar sebagai Bandar internasional, maka puteranya Karaeng Pattingaloang mengantarkan Gowa ke puncak kejayaan sebagai kerajaan terkuat dan Bandar niaga terbesar pada zamannya baik di nusantara maupun di luar negeri. Oleh karena mahir dalam beberapa bahasa Eropa, maka dia tampil sebagai tokoh pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan pada zamannya. Bahkan mungkin sampai kini belum ada yang dapat menandinginya dalam penguasaan bahasa asing.
 
Pada tahun 1646, Alexander Rhodes seorang misionaris Katholik pernah menulis tentang Karaeng Pattingalloang, antara lain sebagai berikut: “Karaeng Pattingalloang adalah orang yang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, tiap hari dan tiap malam ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat. Mendengarkan ia berbahasa Portugis tanpa melihat orangnya, maka orang akan menyangka, bahwa orang yang bercerita itu adalah orang Portugis totok dari Lisabon”
 
“…….The high governor of the whole kingdom…….is called Carim Pattengaloa, whom I found exceedingly wise and sensible……..a very honest man. He knew all our mystery very well, had read with curiosity all the cronicles of our European kings, He always had books of our is hand, especially those treating with mathematics, in which he was quite well versus. Indeed he had such at it day and night…..To hear him speak without seeing him one would take him for a native Portuguese for he spoke the language as fluently as people from Lisbon it self………”.
 
Sedang dalam catatan Fride Rhodes disebutkan kalau Karaeng Pattingaloang sangat menggilai inovasi teknik Eropah dan merupakan orang Asia Tenggara pertama yang menyadari pentingnya Matematika untuk Ilmu Terapan. Di ruang kerjanya terdapat globe, peta dunia dan atlas dengan deskripsi dalam Bahasa Spanyol, Portuigis dan Latin. Reid mengatakan pula bahwa Di istana Makassar pada Abad XVII terdapat semangat yang besar untuk memahami dan meniru peta pelayaran Erofah dan barangkali kutipan Makassar itulah yang memberikan inspirasi tradisi peta pelayaran Bugis.
 
Karaeng Pattingaloang juga menyukai hadiah orang – orang asing, mulai berupa kuda, antelope, gajah sampai senjata api, dan sebagainya. Pada globe yang terbuat dari tembaga, yang dihadiahkan oleh VOC kepada Karaeng Pattingaloang, penyair terkenal Belanda, Jost van den Vondel pada masa itu, telah menaruh kalimat pujian kepada beliau sebagai seorang terpelajar dan seluruh dunia terlalu kecillah baginya. Pada tahun 1652 sebuah kapal Inggris mengantarkan teleskop Galilean Prosphective Glass ciptaan Galilea kepada Raja Gowa Sultan Malikuissaid, yang dipesan dan dibeli oleh Sultan Alauddin sebelumnya, tahun 1635. Ini membuktikan bahwa Kerajaan Makassar pada masa itu telah ikut berkecimpung dalam semangat Renaissance Sains Barat, dan mempengaruhi budaya Makassar masa itu.
 
Dan konon katanya pernah didirikan sebuah Universitas Pattingalloang pada saat itu.
 
Karaeng Patingalloang adalah sosok cendikiawan yang dimiliki oleh Kerajaan Makassar ketika itu. Karena itu pedulinya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga seorang penyair berkebangsaan Belanda yang bersama Joost van den Vondel, sangat memuji kecendikiawannya dan membahasakannya dalam sebuah syair sebagai berikut:
 
“Wiens aldoor snuffelende brein Een gansche werelt valt te klein”
“Orang yang pikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya”.
Karaeng Pattingalloang pada 1644 pernah meminta dikirimkan dua bola dunia terbuat dari kayu atau tembaga yang kelilingnya 157 hingga 160 inci, sebuah peta dunia yang besar dengan keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis atau Latin, sebuah atlas yang melukiskan seluruh dunia dengan peta-peta yang keterangannya ditulis juga dalam bahasa Latin, Spanyol atau Portugis, dua buah teropong berkualitas terbaik serta beberapa alat peraga lainnya.
 
Pada tanggal 15 November 1650, bola dunia yang dibuat oleh Blaeu baru tiba di Batavia dan dikirimkan ke Makassar pada 13 Februari tahun berikutnya.
Karaeng Pattingalloang terkenal karena ketinggian intelektualitasnya. Pada saat itu ia banyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan terbitan Eropa. Minatnya pada ilmu pengetahuan cukup tinggi. Suatu hal yang bahkan jarang ditemukan pada generasi muda kita saat ini.  Mengenai nasib globe itu selanjutnya tak ada yang tahu. Pada waktu terjadi perang dengan Belanda, globe itu turut lenyap. Tak jelas nasibnya.
 
Nama Pattingalloang sendiri lumayan begitu tenar hingga seorang penyair terkenal di Belanda, Joost van Vondel sengaja menulis lirik khusus untuknya.
“Dien Aardkloot zend’t Oostindisch huis,’
Den Grooten Patangoule t’huis,
Weins aldoossnuffelende brein,
Een gansche wereld valt te klein.”
 
(Parlemen Hindia Timur mengirim bola dunia pada Pattingaloang agung, yang benaknya selalu dipenuhi rasa ingin tahu, mendapatkan seluruh dunia ini terlalu kecil)
 
Bukan hanya buku-buku yang gemar dikumpulkannya, tetapi juga pelbagai macam benda-benda yang penting untuk ilmu pengetahuan seperti globe (bola dunia), peta dunia dengan deskripsi dalam bahasa Spanyol, Portugis dan bahasa Latin, buku ilmu bumi, atlas. Karaeng Pattingalloang juga menyukai hadiah orang-orang asing mulai yang berupa kuda, antelope, gajah sampai senjata api, dan sebagainya.
 
Pada globe yang terbuat dari tembaga, yang dihadiahkan oleh VOC kepada Karaeng Pattingalloang, penyair terkenal Belanda Jost Van Den Vondel pada masa itu, telah menaruh kalimat pujian bahwa beliau adalah “seorang yang otaknya selalu mencari-cari dan seluruh dunia terlalu kecil baginya”. Pada tahun 1652 sebuah perahu Inggris menyerahkan teleskop “Galilean Prospechtive Glass” ciptaan Galilea kepada Raja Gowa Sultan Malikussaid, yang dipesan dan dibeli oleh Raja Sultan Alauddin sebelumnya, tahun 1653.
 
Tidak sampai disitu dalam hal politik Karaeng Pattingalloang pernah bertutur seperti yang tercatat didalam Lontara Pa’pasanna Gowa, terdapat beberapa pesan Karaeng Pattingalloang yang walaupun usianya sudah mencapai ratusan tahun tetapi masih cocok diterapkan atau juga masih berlaku hingga saat ini.
 
Diantaranya adalah pesan mengenai “lima sebab hancurnya sebuah negeri ” yang terkenal itu, atau dalam bahasa Makassar “Lima Pammangjenganna Matena Butta Lompoa” yaitu antara lain:
1- Punna tenamo naero nipakainga karaeng mangguka (Jika raja yang memerintah tidak mau lagi dinasihati).
2- Punna tenamo tnmangngaseng ri lalang parasangnga (Jika tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri).
3- Punna tenamo gan lompo ri lalang parasanganga (Jika sudah terlampau banyak kasus di dalam negeri).
4- Punna angngallengasemmi soso pab-bicaraya (Jika sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan suka makan sogok).
5- Punna tenamo nakamaseyangi atanna mangguka (Jika raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya).
 
Dapat dipahami bahwa, jika penguasa tak mau lagi dinasehati maka penguasa tersebut telah berbuat zalim yang melampaui batas. Otomatis hal tersebut akan memicu perlawanan masyarakat maupun perangkat negara dalam bentuk pemberontakan.
 
Adapun ketiadaan cendekiawan dalam sebuah negara menyebabkan kurangnya gagasan-gagasan visioner dalam pembangunan negara. Akibatnya, sebuah perkembangan negara akan stagnan dan akhirnya semakin lama semakin melemah.
 
Kejadian-kejadian besar dalam sebuah negara, misalnya wabah penyakit atau bencana alam, dapat mengurangi populasi penduduk secara drastis.  Jika hal itu berlangsung terus menerus maka perekonomian negara akan merosot dan akhirnya jatuh.
 
Sementara, apabila hakim/pejabat negara menerima sogokan, menyebabkan keputusannya tidak obyektif. Sehingga melahirkan ketidakadilan pada masyarakat yang pada gilirannya menyebabkan ketidakpuasan dan pemberontakan.
 
Jika penguasa tak lagi menyayangi rakyatnya, maka penguasa akan menindas rakyatnya. Maka rakyat punya dua pilihan yaitu melawan atau meninggalkan daerahnya. Jika rakyat melawan, terjadi pemberontakan yang menyebabkan ketidakstabilan pengelolaan negara. Jika migrasi penduduk dalam jumlah besar terjadi sehingga populasi merosot drastis, maka roda pemerintahan tidak berjalan dengan baik.
 
Pesan Karaeng Pattingalloang beberapa ratus tahun lalu, masih relevan untuk dijadikan pelajaran untuk generasi kita saat ini. Demi upaya penguatan kebangsaan.
 
Juga pesan-pesan Karaeng Pattingalloang lainnya seperti halnya pesan mengenai KATOJENGANG : “NIKANAYA KATOJENGANG SANGRAPANGI BULO SIPAPPA, NIONJOKI POKO’NA AMMUMBAI CAPPA’NA, NIONJOKI CAPPA’NA GIOKI POKO’NA”. (Suatu kebenaran ibarat satu batang bambu, bila diinjak pangkalnya muncul pucuknya, demikian halnya bila diinjak pucuknya akan muncul pangkalnya). Sosok Karaeng Pattingalloang saat sekarang sudah tidak dapat ditemui lagi di republik ini.

‎Museum Karaeng Pattingalloang

panduanwisata.id


Museum Karaeng Pattingalloang dibangun pada area seluas 600 meter persegi. Bangunan museumnya menggunakan konsep rumah panggung dengan gaya atap yang menarik. Koleksi museum yang terdiri dari dua lantai ini cukup banyak, semuanya memberikan pengetahuan kepada kita tentang keberadaan Gowa pada masa lampau.

panduanwisata.id


Di lantai satu kita akan melihat berbagai objek hasil ekskavasi yang dulu menjadi elemen penting bagi keberadaan Benteng Somba Opu. Museum Karaeng Pattingalloang yang berada di perbatasan Gowa dan kota Makassar.

Kita juga bisa menjumpai berbagai peninggalan manusia Gowa dahulu seperti lempeng tanah liat yang digunakan sebagai instrumen untuk menentukan hari yang baik untuk berbagai perhelatan seperti pernikahan. Di sudut yang lain, terpampang koleksi peninggalan perang Makassar ketika Kerajaan Gowa digempur VOC pada ahun 1666 – 1669.

panduanwisata.id


Koleksi yang berbeda akan kita lihat di lantai dua. Disini barang-barang yang dipamerkan sebagian besar adalah tembikar atau gerabah serta keramik yang ditemukan ketika Arkeolog, Dr. Muchtar Paeni melakukan ekskavasi di sekitar situs Somba Opu sejak tahun 1989. Di halaman museum yang sudah berdiri selama 22 tahun ini terdapat meriam hasil rekonstruksi H. Muchatar Ibrahim Daeng Naba, seorang siswa SMK Pembangunan.

panduanwisata.id


Museum Karaeng Pattingalloang biasanya ramai dikunjungi pada akhir pekan yakni Sabtu dan Minggi. Tidak hanya wisatawan domestik yang mengagumi berbagai koleksi museum ini tetapi juga para turis asing.

Museum yang berada di kawasan Taman Miniatur Sulawesi Selatan atau yang sering disebut kawasan Somba Opu  ini hanya berjarak 7 km dari pusat kota Makassar. Sangat mudah diakses oleh mereka yang sedang berlibur di kota angin mamiri.

Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional bersama Karaeng Matoaya 

pojoksulsel.com


Yayasan Gemma Nine mengusung acara Karaeng Matoaya dan Karaeng Pattingalloang sebagai Pahlawan Nasional.

Pengurus Gemma Nine Sulkia Reski mengatakan organisasi masyarakat itu menggelar jambore nasional, bertempat di Tanah Karaeng Dusun Allu’ Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa dengan tema “reinventing the unnamed heroes”.

Pada jambore yang diadakan selama dua hari 8-9 November 2015. Yang kemudian dilanjutkan debgan  acara puncak gelar budaya sebagai pertanda dimulainya kampanye nasional mengusung Sultan Abdullah Awwalul Islam Karaeng Matoaya dan Sultan Mahmud Abdullah Karaeng Pattingalloang sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Gelar budaya pengusungan pahlawan nasional Indonesia ini rencananya akan dihadiri semua lapisan masyarakat.

“Selain pengajuan Sultan Abdullah Awwalul Islam Karaeng Matoaya dan Sultan Mahmud Abdullah Karaeng Pattingalloang sebagai pahlawan nasional Indonesia. Organisasi kami juga akan mengusulkan pengembalian nama benteng Fort Rotterdam (benteng Ujung Pandang) menjadi benteng Karaeng Matoaya sebagai penghormatan pendiri benteng tersebut. Dengan bukti-bukti sejarah yang kami ungkapkan dalam buku yang telah diterbitkan berjudul Sultan Mahmud Abdullah The Great Pattingalloang Cendikiawan Visioner Masa Pra Kolonial (1600-1654),” jelasnya, Kamis (5/11/2015).

Selain itu, dalam tulisan Anthony Reid yang berjudul “The White Blood Family” dan Goenawan Mohamad dalam satu kolomnya di majalah tempo di era 1980-an menyatakan hal yang senada dengan usulan tersebut.

“Disamping itu, kami telah mengkomunikasikan dengan ahli waris raja Gowa dan raja Tallo dan hasilnya secara implisit mendukung agenda perjuangan kami. Serta menjanjikan gelar budaya kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo di puncak acara pada pukul 13.00 – 17.00 yang bertempat di benteng Jum Pandang,”jelasnya.

Untuk itu, melalui kegaiatan pihaknya mengajak warga Bugis Makassar, Sulawesi Selatan dan seluruh bangsa indonesia untuk mendukung Sultan Abdullah Awwalul Islam Karaeng Matoaya dan Sultan Mahmud Abdullah Karaeng Pattingalloang sebagai pahlawan nasional Indonesia yang satu-satunya berlatar belakang SAINS dan Tekhnologi.

Refetensi :

  • intisari.grid.id/Inspiration/Figure/Karaeng-Pattingalloang-Manusia-Ensiklopedis-Nusantara-1

  • wiyonggoputih.blogspot.co.id/2016/03/karaeng-pattingalloang-intelektual-abad.html?m=1

  • panduanwisata.id/2013/02/22/mengenal-sejarah-gowa-di-museum-karaeng-pattingalloang/

  • sulsel.pojoksatu.id/read/2015/11/05/karaeng-matoaya-dan-karaeng-pattingalloang-diusul-jadi-pahlawan-nasional/

  • berbagai sumber