Gundul-Gundul Pacul, Lagu Peringatan Untuk Seorang Pemimpin

Gundul-Gundul Pacul, Lagu Peringatan Untuk Seorang Pemimpin

Terdapat dua sumber yang menyebut pengarang lagu ini, yaitu Sunan Kalijaga pada tahun 1400an dan R.C. Hardjosubroto.

LIRIK LAGU 

Gundul gundul pacul-cul,

gembelengan

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan

Wakul ngglimpang

segane dadi sak ratan

Gundul:

Adalah kepala plontos (tanpa rambut).

Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang.

Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala.

Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Pacul:

Adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul merupakan lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul Pacul :

Bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas). Artinya : kemuliaan seseorang akan sangat tergantung empat hal, yakni bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

  1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
  2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
  3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
  4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan:

Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat. Tetapi dia malah:

  1. Menggunakan kekuasaannya sebagai kemuliaan dirinya.
  2. Menggunakan kedudukannya untuk. berbangga-bangga di antara manusia.
  3. Dia menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya.

Nyunggi wakul :

Membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya.Banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya.

Wakul :

Simbol kesejahteraan rakyat.

Kekayaan negara, sumberdaya,
Pajak adalah isinya. Artinya bahwa kepala yang dia anggap kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat.

Kedudukannya di bawah bakul rakyat.
Siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul?

Tentu saja pemilik bakul.
Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya. Dan banyak pemimpin yang masih gembelengan (melenggak lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main).

Akibatnya :

Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan. Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana.

Maksudnya :

Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Dia tak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat.

 

Referensi :

Iklan

Karaeng Pattingalloang, Ilmuwan Muslim dari Makassar

Karaeng Pattingalloang, Ilmuwan Muslim dari Makassar

salimafillah.com


Optimisme tentang masa depan yang didasari keyakinan akan kemampuan manusia. Itulah semangat (mentalitas) baru yang dibawa orang Eropa manakala pertama kali datang ke Nusantara, selain kolonialisme tentu saja. Namun hampir tidak ada elite Nusantara yang memberikan reaksi terhadap semangat modern yang dibawa orang-orang kulit putih tersebut pada masa itu. Padahal, optimisme itu mencakup keyakinan bahwa manusia menguasai waktu (baca: takdir) dan penghargaan terhadap individu. Yang lebih penting, kepercayaan akan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pemecah segala masalah.

Hanya saja, sejarah kemudian mencatat seorang Karaeng Pattingalloang. Denys Lombard, sejarahwan Prancis yang pernah melakukan penelitian puluhan tahun di Indonesia, menyebut Pattingalloang sebagai elite Nusantara “yang boleh dikatakan istimewa”. Pangeran dari Makassar yang meninggal pada 1654 itu, tulis Lombard, tampak sebagai salah seorang denan pikiran unggul yang siap menjumpai orang-orang Eropa terbaik di Tanah Airnya sendiri.

Siapakah Karaeng Pattingalloang?

intisari.grid.id


Pattingalloang adalah perdana menteri sekaligus penasehat utama Sultan Muhammad Said (1639-1653) dari Kerajaan Makassar. Dia hidup di masa kejayaan kesultanan itu. Tentu saja, sebagai elite yang mempunyai akses terhadap sumber daya ekonomi politik, Pattingalloang juga ikut berniaga. Kolega bisnisnya terdiri atas orang Ambon, Portugis, Belanda, Manila, Siam dan Golkonda. Pengalaman lintas bangsa ini tampak berpengaruh pada penguasaan bahasa asing, dan pandangan dunianya yang kosmopolit. Di atas itu semua yang perlu ditonjolkan di sini adalah hasrat dan gairahnya yang meluap-luap terhadap gagasan dan ilmu Barat.

Rasa ingin tahunya yang besar itu juga didukung oleh penguasaannya terhadap bahasa asing (Portugis, Latin, dan Spanyol) dan sebuah sebuah perpustakaan besar. Bahkan, lengkap dengan koleksi berbagai buku dan atlas Eropa. Di antara koleksinya terdapat karya Bruder Luis de Granada O.P, yang telah di bacanya dalam bahasa aslinya.

Soal gambaran karakter Pattingalloang, barangkali kita bisa menyimak komentar Pastor Alexander de Rhodes S.J berikut. “Jika kita mendengar omongannya tanpa melihat orangnya, pasti kita mengira bahwa dia adalah orang Portugis sejati, karena ia berbahasa orang Portugis sama fasihnya dengan orang Lisbon ….” Pattingalloang juga, menurut sang pastor, “Menguasai dengan baik segala misteri kita, dan telah membaca semua kisah raja-raja kita di Eropa dengan keingintahuan yang besar”.

Tapi yang lebih mengagumkan dari Pattingaloang adalah cintanya kepada ilmu pengetahuan. “Ia selalu membawa buku-buku kita dan khususnya buku-buku mengenai matematika, yang mana ia sangat ahli, dan begitu besar cintanya kepada setiap bagian ilmu ini”.

Karaeng Pattingalloang lahir pada tahun 1600 dan wafat pada tanggal 17 September 1654 di Kampung Bonto Biraeng. Menurut sumber lain, beliau wafat tanggal 15 September 1653. Beliau pernah menjadi Tumabbicara Butta Gowa yang pada saat itu antara Gowa dan Tallo menganut prinsip 1 rakyat 2 raja (se’re ata rua karaeng).
 
I Mangadacina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang, adalah salah satu raja cendekiawan di nusantara. Beliau menguasai banyak bahasa asing. Menggandrungi ilmu pengetahuan, yang di era itu melalui pelaut Eropa beliau memantau perkembangan teknologi di Eropa. Beliau juga memiliki visi pemerintahan dan politik luar negeri yang sangat baik.
 
Di eranya, kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) mencapai zaman keemasan. Kerajaan Makassar menjadi kerajaan terkuat dinusantara dengan wilayah kekuasaan dan koordinasi yang luas. Di sisi ekonomi, dengan dijadikannya pelabuhan Makassar sebagai pusat perdagangan dan transit, maka Makassar berkembang menjadi kerajaan maritim yang sangat maju dizamannya.
 
Dalam Sejarah Sulawesi Selatan, dikenal nama Karaeng Pattingaloang, Raja Tallo VIII yang juga merangkap Pabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XV, Sultan Muhammad Said. Karaeng Pattingaloang merupakan satu contoh bangsawan yang modernis, menguasai Politik dan Hukum Tata Negara, mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing (Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab dan Latin) di usianya yang masih sangat belia, 18 tahun. Ruangan kerjanya berupa perpustakaan pribadi dengan ribuan buku yang berasal dari Erofah Barat pada Abad XVII.
 
Karaeng Pattingalloang adalah seorang cendikiawan dan diplomat asal Makassar pada abad ke-17. Ia menguasai banyak bahasa asing diantaranya adalah bahasa Latin, Yunani, Italia, Perancis, Belanda, Portugis, Denmark, Arab, dan beberapa bahasa lainnya.
 
Karaeng Pattingalloang bernama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, salah seorang putera dari Raja Tallo IV I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matoaya diantara 29 orang bersaudara. Karaeng Pattingalloang adalah seorang Mahasarjana tanpa gelar dan tittle karena pada saat itu belum ada sekolah maka ia belajar secara otodidak. Namun dibalik itu karena kercerdasannya ia menjadi salah seorang ilmuan yang sangat disegani dan dianggap sebagai Galileo Of Macassar.
 
Meskipun namanya tidak setenar Sultan Hasanuddin, Sultan Alauddin, dan juga Syekh Yusuf, namun pada masa kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo tidak terlepas dari peranan yang dimainkan oleh Karaeng Patingalloang yang juga menjabat sebagai Mangkubumi Kerajaan yang berkuasa 1639-1654. Karaeng Pattingalloang sukses menjadikan Kerajaan Gowa-Tallo menjadi salah satu kerajaan yang besar diNusantara lewat sains yang ia kuasai secara otomatis membawa Makassar tercatat sebagai kota/bandar terbesar sebagai pusat ibu kota saat itu, telah berkembang menjadi bandar niaga yang amat ramai di kunjungi, baik oleh pedagang-pedagang kerajaan lain diNusantara maupun oleh bangsa-bangsa asing. Dan malahan dianggap Malaka kedua sesudah Portugis menduduki Malaka (1511).
 
Atas jasanya, Gowa mengalami puncak kejayaan dan mampu menjalin hubungan persahabatan dengan Raja Inggris, Raja Castilia di Spanyol, Mufti Besar Saudi Arabia, Raja Portugis, Gubernur Spanyol di Manila, Raja Muda Portugis di Goa (India) dan Merchante di Masulipatan (India). Sebagaimana Ayahnya, Karaeng Matoaya, Karaeng Pattingaloang juga seorang ahli ibadah, dapat membaca kitab gundul dan menerangkan tafsirnya. Karaeng Pattingaloang adalah salah seorang putera dari Karaeng Matoaya dari ibunya bernama I Wara, Salah seorang saudara kandungnya adalah Sultan Abdul Gaffar, yang gugur dalam perjalanan setelah menaklukkan Timor dalam tahun 1841.
Kalau Karaeng Matoaya semasa menjabat Mangkubumi (1593 – 1636) dianggap telah meletakkan dasar perkembangan Kota Makassar sebagai Bandar internasional, maka puteranya Karaeng Pattingaloang mengantarkan Gowa ke puncak kejayaan sebagai kerajaan terkuat dan Bandar niaga terbesar pada zamannya baik di nusantara maupun di luar negeri. Oleh karena mahir dalam beberapa bahasa Eropa, maka dia tampil sebagai tokoh pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan pada zamannya. Bahkan mungkin sampai kini belum ada yang dapat menandinginya dalam penguasaan bahasa asing.
 
Pada tahun 1646, Alexander Rhodes seorang misionaris Katholik pernah menulis tentang Karaeng Pattingalloang, antara lain sebagai berikut: “Karaeng Pattingalloang adalah orang yang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, tiap hari dan tiap malam ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat. Mendengarkan ia berbahasa Portugis tanpa melihat orangnya, maka orang akan menyangka, bahwa orang yang bercerita itu adalah orang Portugis totok dari Lisabon”
 
“…….The high governor of the whole kingdom…….is called Carim Pattengaloa, whom I found exceedingly wise and sensible……..a very honest man. He knew all our mystery very well, had read with curiosity all the cronicles of our European kings, He always had books of our is hand, especially those treating with mathematics, in which he was quite well versus. Indeed he had such at it day and night…..To hear him speak without seeing him one would take him for a native Portuguese for he spoke the language as fluently as people from Lisbon it self………”.
 
Sedang dalam catatan Fride Rhodes disebutkan kalau Karaeng Pattingaloang sangat menggilai inovasi teknik Eropah dan merupakan orang Asia Tenggara pertama yang menyadari pentingnya Matematika untuk Ilmu Terapan. Di ruang kerjanya terdapat globe, peta dunia dan atlas dengan deskripsi dalam Bahasa Spanyol, Portuigis dan Latin. Reid mengatakan pula bahwa Di istana Makassar pada Abad XVII terdapat semangat yang besar untuk memahami dan meniru peta pelayaran Erofah dan barangkali kutipan Makassar itulah yang memberikan inspirasi tradisi peta pelayaran Bugis.
 
Karaeng Pattingaloang juga menyukai hadiah orang – orang asing, mulai berupa kuda, antelope, gajah sampai senjata api, dan sebagainya. Pada globe yang terbuat dari tembaga, yang dihadiahkan oleh VOC kepada Karaeng Pattingaloang, penyair terkenal Belanda, Jost van den Vondel pada masa itu, telah menaruh kalimat pujian kepada beliau sebagai seorang terpelajar dan seluruh dunia terlalu kecillah baginya. Pada tahun 1652 sebuah kapal Inggris mengantarkan teleskop Galilean Prosphective Glass ciptaan Galilea kepada Raja Gowa Sultan Malikuissaid, yang dipesan dan dibeli oleh Sultan Alauddin sebelumnya, tahun 1635. Ini membuktikan bahwa Kerajaan Makassar pada masa itu telah ikut berkecimpung dalam semangat Renaissance Sains Barat, dan mempengaruhi budaya Makassar masa itu.
 
Dan konon katanya pernah didirikan sebuah Universitas Pattingalloang pada saat itu.
 
Karaeng Patingalloang adalah sosok cendikiawan yang dimiliki oleh Kerajaan Makassar ketika itu. Karena itu pedulinya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga seorang penyair berkebangsaan Belanda yang bersama Joost van den Vondel, sangat memuji kecendikiawannya dan membahasakannya dalam sebuah syair sebagai berikut:
 
“Wiens aldoor snuffelende brein Een gansche werelt valt te klein”
“Orang yang pikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya”.
Karaeng Pattingalloang pada 1644 pernah meminta dikirimkan dua bola dunia terbuat dari kayu atau tembaga yang kelilingnya 157 hingga 160 inci, sebuah peta dunia yang besar dengan keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis atau Latin, sebuah atlas yang melukiskan seluruh dunia dengan peta-peta yang keterangannya ditulis juga dalam bahasa Latin, Spanyol atau Portugis, dua buah teropong berkualitas terbaik serta beberapa alat peraga lainnya.
 
Pada tanggal 15 November 1650, bola dunia yang dibuat oleh Blaeu baru tiba di Batavia dan dikirimkan ke Makassar pada 13 Februari tahun berikutnya.
Karaeng Pattingalloang terkenal karena ketinggian intelektualitasnya. Pada saat itu ia banyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan terbitan Eropa. Minatnya pada ilmu pengetahuan cukup tinggi. Suatu hal yang bahkan jarang ditemukan pada generasi muda kita saat ini.  Mengenai nasib globe itu selanjutnya tak ada yang tahu. Pada waktu terjadi perang dengan Belanda, globe itu turut lenyap. Tak jelas nasibnya.
 
Nama Pattingalloang sendiri lumayan begitu tenar hingga seorang penyair terkenal di Belanda, Joost van Vondel sengaja menulis lirik khusus untuknya.
“Dien Aardkloot zend’t Oostindisch huis,’
Den Grooten Patangoule t’huis,
Weins aldoossnuffelende brein,
Een gansche wereld valt te klein.”
 
(Parlemen Hindia Timur mengirim bola dunia pada Pattingaloang agung, yang benaknya selalu dipenuhi rasa ingin tahu, mendapatkan seluruh dunia ini terlalu kecil)
 
Bukan hanya buku-buku yang gemar dikumpulkannya, tetapi juga pelbagai macam benda-benda yang penting untuk ilmu pengetahuan seperti globe (bola dunia), peta dunia dengan deskripsi dalam bahasa Spanyol, Portugis dan bahasa Latin, buku ilmu bumi, atlas. Karaeng Pattingalloang juga menyukai hadiah orang-orang asing mulai yang berupa kuda, antelope, gajah sampai senjata api, dan sebagainya.
 
Pada globe yang terbuat dari tembaga, yang dihadiahkan oleh VOC kepada Karaeng Pattingalloang, penyair terkenal Belanda Jost Van Den Vondel pada masa itu, telah menaruh kalimat pujian bahwa beliau adalah “seorang yang otaknya selalu mencari-cari dan seluruh dunia terlalu kecil baginya”. Pada tahun 1652 sebuah perahu Inggris menyerahkan teleskop “Galilean Prospechtive Glass” ciptaan Galilea kepada Raja Gowa Sultan Malikussaid, yang dipesan dan dibeli oleh Raja Sultan Alauddin sebelumnya, tahun 1653.
 
Tidak sampai disitu dalam hal politik Karaeng Pattingalloang pernah bertutur seperti yang tercatat didalam Lontara Pa’pasanna Gowa, terdapat beberapa pesan Karaeng Pattingalloang yang walaupun usianya sudah mencapai ratusan tahun tetapi masih cocok diterapkan atau juga masih berlaku hingga saat ini.
 
Diantaranya adalah pesan mengenai “lima sebab hancurnya sebuah negeri ” yang terkenal itu, atau dalam bahasa Makassar “Lima Pammangjenganna Matena Butta Lompoa” yaitu antara lain:
1- Punna tenamo naero nipakainga karaeng mangguka (Jika raja yang memerintah tidak mau lagi dinasihati).
2- Punna tenamo tnmangngaseng ri lalang parasangnga (Jika tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri).
3- Punna tenamo gan lompo ri lalang parasanganga (Jika sudah terlampau banyak kasus di dalam negeri).
4- Punna angngallengasemmi soso pab-bicaraya (Jika sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan suka makan sogok).
5- Punna tenamo nakamaseyangi atanna mangguka (Jika raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya).
 
Dapat dipahami bahwa, jika penguasa tak mau lagi dinasehati maka penguasa tersebut telah berbuat zalim yang melampaui batas. Otomatis hal tersebut akan memicu perlawanan masyarakat maupun perangkat negara dalam bentuk pemberontakan.
 
Adapun ketiadaan cendekiawan dalam sebuah negara menyebabkan kurangnya gagasan-gagasan visioner dalam pembangunan negara. Akibatnya, sebuah perkembangan negara akan stagnan dan akhirnya semakin lama semakin melemah.
 
Kejadian-kejadian besar dalam sebuah negara, misalnya wabah penyakit atau bencana alam, dapat mengurangi populasi penduduk secara drastis.  Jika hal itu berlangsung terus menerus maka perekonomian negara akan merosot dan akhirnya jatuh.
 
Sementara, apabila hakim/pejabat negara menerima sogokan, menyebabkan keputusannya tidak obyektif. Sehingga melahirkan ketidakadilan pada masyarakat yang pada gilirannya menyebabkan ketidakpuasan dan pemberontakan.
 
Jika penguasa tak lagi menyayangi rakyatnya, maka penguasa akan menindas rakyatnya. Maka rakyat punya dua pilihan yaitu melawan atau meninggalkan daerahnya. Jika rakyat melawan, terjadi pemberontakan yang menyebabkan ketidakstabilan pengelolaan negara. Jika migrasi penduduk dalam jumlah besar terjadi sehingga populasi merosot drastis, maka roda pemerintahan tidak berjalan dengan baik.
 
Pesan Karaeng Pattingalloang beberapa ratus tahun lalu, masih relevan untuk dijadikan pelajaran untuk generasi kita saat ini. Demi upaya penguatan kebangsaan.
 
Juga pesan-pesan Karaeng Pattingalloang lainnya seperti halnya pesan mengenai KATOJENGANG : “NIKANAYA KATOJENGANG SANGRAPANGI BULO SIPAPPA, NIONJOKI POKO’NA AMMUMBAI CAPPA’NA, NIONJOKI CAPPA’NA GIOKI POKO’NA”. (Suatu kebenaran ibarat satu batang bambu, bila diinjak pangkalnya muncul pucuknya, demikian halnya bila diinjak pucuknya akan muncul pangkalnya). Sosok Karaeng Pattingalloang saat sekarang sudah tidak dapat ditemui lagi di republik ini.

‎Museum Karaeng Pattingalloang

panduanwisata.id


Museum Karaeng Pattingalloang dibangun pada area seluas 600 meter persegi. Bangunan museumnya menggunakan konsep rumah panggung dengan gaya atap yang menarik. Koleksi museum yang terdiri dari dua lantai ini cukup banyak, semuanya memberikan pengetahuan kepada kita tentang keberadaan Gowa pada masa lampau.

panduanwisata.id


Di lantai satu kita akan melihat berbagai objek hasil ekskavasi yang dulu menjadi elemen penting bagi keberadaan Benteng Somba Opu. Museum Karaeng Pattingalloang yang berada di perbatasan Gowa dan kota Makassar.

Kita juga bisa menjumpai berbagai peninggalan manusia Gowa dahulu seperti lempeng tanah liat yang digunakan sebagai instrumen untuk menentukan hari yang baik untuk berbagai perhelatan seperti pernikahan. Di sudut yang lain, terpampang koleksi peninggalan perang Makassar ketika Kerajaan Gowa digempur VOC pada ahun 1666 – 1669.

panduanwisata.id


Koleksi yang berbeda akan kita lihat di lantai dua. Disini barang-barang yang dipamerkan sebagian besar adalah tembikar atau gerabah serta keramik yang ditemukan ketika Arkeolog, Dr. Muchtar Paeni melakukan ekskavasi di sekitar situs Somba Opu sejak tahun 1989. Di halaman museum yang sudah berdiri selama 22 tahun ini terdapat meriam hasil rekonstruksi H. Muchatar Ibrahim Daeng Naba, seorang siswa SMK Pembangunan.

panduanwisata.id


Museum Karaeng Pattingalloang biasanya ramai dikunjungi pada akhir pekan yakni Sabtu dan Minggi. Tidak hanya wisatawan domestik yang mengagumi berbagai koleksi museum ini tetapi juga para turis asing.

Museum yang berada di kawasan Taman Miniatur Sulawesi Selatan atau yang sering disebut kawasan Somba Opu  ini hanya berjarak 7 km dari pusat kota Makassar. Sangat mudah diakses oleh mereka yang sedang berlibur di kota angin mamiri.

Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional bersama Karaeng Matoaya 

pojoksulsel.com


Yayasan Gemma Nine mengusung acara Karaeng Matoaya dan Karaeng Pattingalloang sebagai Pahlawan Nasional.

Pengurus Gemma Nine Sulkia Reski mengatakan organisasi masyarakat itu menggelar jambore nasional, bertempat di Tanah Karaeng Dusun Allu’ Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa dengan tema “reinventing the unnamed heroes”.

Pada jambore yang diadakan selama dua hari 8-9 November 2015. Yang kemudian dilanjutkan debgan  acara puncak gelar budaya sebagai pertanda dimulainya kampanye nasional mengusung Sultan Abdullah Awwalul Islam Karaeng Matoaya dan Sultan Mahmud Abdullah Karaeng Pattingalloang sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Gelar budaya pengusungan pahlawan nasional Indonesia ini rencananya akan dihadiri semua lapisan masyarakat.

“Selain pengajuan Sultan Abdullah Awwalul Islam Karaeng Matoaya dan Sultan Mahmud Abdullah Karaeng Pattingalloang sebagai pahlawan nasional Indonesia. Organisasi kami juga akan mengusulkan pengembalian nama benteng Fort Rotterdam (benteng Ujung Pandang) menjadi benteng Karaeng Matoaya sebagai penghormatan pendiri benteng tersebut. Dengan bukti-bukti sejarah yang kami ungkapkan dalam buku yang telah diterbitkan berjudul Sultan Mahmud Abdullah The Great Pattingalloang Cendikiawan Visioner Masa Pra Kolonial (1600-1654),” jelasnya, Kamis (5/11/2015).

Selain itu, dalam tulisan Anthony Reid yang berjudul “The White Blood Family” dan Goenawan Mohamad dalam satu kolomnya di majalah tempo di era 1980-an menyatakan hal yang senada dengan usulan tersebut.

“Disamping itu, kami telah mengkomunikasikan dengan ahli waris raja Gowa dan raja Tallo dan hasilnya secara implisit mendukung agenda perjuangan kami. Serta menjanjikan gelar budaya kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo di puncak acara pada pukul 13.00 – 17.00 yang bertempat di benteng Jum Pandang,”jelasnya.

Untuk itu, melalui kegaiatan pihaknya mengajak warga Bugis Makassar, Sulawesi Selatan dan seluruh bangsa indonesia untuk mendukung Sultan Abdullah Awwalul Islam Karaeng Matoaya dan Sultan Mahmud Abdullah Karaeng Pattingalloang sebagai pahlawan nasional Indonesia yang satu-satunya berlatar belakang SAINS dan Tekhnologi.

Refetensi :

  • intisari.grid.id/Inspiration/Figure/Karaeng-Pattingalloang-Manusia-Ensiklopedis-Nusantara-1

  • wiyonggoputih.blogspot.co.id/2016/03/karaeng-pattingalloang-intelektual-abad.html?m=1

  • panduanwisata.id/2013/02/22/mengenal-sejarah-gowa-di-museum-karaeng-pattingalloang/

  • sulsel.pojoksatu.id/read/2015/11/05/karaeng-matoaya-dan-karaeng-pattingalloang-diusul-jadi-pahlawan-nasional/

  • berbagai sumber

Muhammadiyah Boikot Starbucks, Saham Starbucks Terguncang

Muhammadiyah Boikot Starbucks, Saham Starbucks Terguncang

Dumb Starbucks Coffee di Los Angeles. ©AFP PHOTO/Dan R. Krauss


Sejak 26 Juni 2015 CEO Starbucks, Howard Mark Schultz mendukung kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Ketika pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks, Schultz secara tegas mempersilakan para pemegang saham yang tidak setuju dengan pernikahan sejenis angkat kaki dari Starbucks.

Menyikapi hal tersebut, Ketua bidang ekonomi PP Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan sudah saatnya pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk mencabut ijin Starbucks di Indonesia. Karena Ideologi bisnis dan pandangan hidup yang Schultz kampanyekan jelas-jelas tidak sesuai dan sejalan dengan ideologi bangsa, yakni Pancasila.

“Kita sebagai bangsa, jelas-jelas tidak akan mau sikap dan karakter kita sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya rusak dan berantakan karena kehadiran mereka,” tegas Anwar melalui siaran pers tertulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (29/6).

Anwar juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mempertimbangkan langkah-langkah pemboikotan terhadap produk-produk Strabucks. Karena jika sikap dan pandangan hidup mereka tidak berubah, maka yang dipertaruhkan adalah jati diri Bangsa sendiri.

Anwar mengimbau masyarakat dan pemerintah dengan tegas melakukan langkah dan tindakan, demi menyelamatkan kepentingan bangsa dan negara Indonesia. “Kita tidak mau karena nila setitik rusak susu sebelanga,” kata dia.

Sebelumnya diberitakan, CEO Starbucks Howard Schultz mengatakan orang-orang yang hanya mendukung pernikahan beda jenis dan mengabaikan pernikahan sesama jenis tidak diperlukan di perusahan kedai kopi Starbucks.

Schultz yang dikenal sangat akomodatif terhadap komunitas LGBT menyatakan, siapapun yang menolak pernikahan sesama jenis ditempat lain. Sentimen tersebut juga kini diarahkan pada seluruh pemegang saham Strabucks.

Kelompok Melayu Pribumi Perkasa Malaysia mendesak umat Islam secara nasional untuk memboikot Starbucks atas dukungan eksekutif utama perusahaan itu kepada komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) empat tahun lalu. Desakan ini menyusul seruan serupa yang diutarakan kelompok Islam di Indoensia beberapa hari sebelumnya. 

“Perkasa mendesak umat Islam di Malaysia negara ini untuk memboikot Starbucks karena rantai kopi internasional yang berbasis di Amerika Serikat ini mendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis,” kata Kepala Biro Urusan Islam Perkasa Amini Amir Abdullah dalam sebuah pernyataan, dilansir dari The Malay Mail Online pada Senin (3/7). 

Amini mengatakan Perkasa juga mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kembali lisensi perdagangan yang diberikan kepada perusahaan yang mendukung perkawinan sesama jenis dan LGBT. Menurut dia, pernyataan tersebut berdasarkan laporan bahwa CEO Starbucks Howard Schultz mendukung pernikahan sesama jenis dan LGBT.

Tidak yakin dengan laporan mana yang dia maksudkan. Namun, Schultz yang sudah tidak menjabat sebagai CEO Starbucks sejak April 2017 pernah mengatakan kepada pemegang saham Starbucks yang anti-gay untuk menjual saham mereka kalau mereka menentang keragaman pada 2013. Kala itu, Schultz yang kini menjabat sebagai chairman Starbucks melontarkan tanggapan atas kritik terhadap perusahaan tersebut dalam referendum Washington yang mendukung pernikahan sejenis pada 2012.

Pernyataan Schultz pada empat tahun lalu terkait dukungan terhadap LGBT ini juga sempat dimunculkan oleh pendukung Presiden Donald Trump di Amerika Serikat awal tahun ini. Pada Januari tahun ini, Schultz mengeluarkan pernyataan kontroversial.

Dilansir CNBC pada 29 Januari 2017, Schultz menyatakan perusahaan yang dipimpinnya akan merekrut sebanyak mungkin pengungsi sebagai pegawai pada Januari tahun ini. Pernyataan itu sebagai bentuk dukungan Schultz dalam isu keberagaman.

Karena itu, Starbucks berupaya melawan perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump untuk melarang aktivitas bepergian ke AS bagi warga dari tujuh negara mayoritas Muslim. Pada 31 Januari 2017, Fox News melaporkan pendukung Trump menyatakan akan memboikot Starbucks menyusul rencana Schultz tersebut. 

Gerakan boikot Starbucks oleh Muhammadiyah menjadi sorotan internasional. Apalagi gerakan itu mendapat dukungan dari kelompok Muslim berpengaruh di Malaysia.  NBC News dalam artikelnya menulis judul, ‘Muslim Groups in Malaysia, Indonesia Boycott Starbucks Over LGBTQ Suppurt.’

NBC News yang mengutip kantor berita Reuters dalam paragraf pertamanya menggambarkan bagaimana, kelompok Muslim di Malaysia bergabung dengan organisasi konservatif Muslim di Indonesia (Muhammadiyah) memboikot Starbucks.  Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk protes atas sikap gerai kopi internasional itu mendukung hak-hak gay.

Media Amerika Serikat berbasis di Chicaco, Chicago Tribune juga menulis tentang gerakan boikot Starbucks ini. Chicaco menulis judul, ‘Malaysia, Indonesia Muslim groups Call for Starbucks Boycott.’

Chicaco Tribune yang mengutip Associated Press menggambarkan kelompok Perkasa didukung oleh garis kelas Islam dan nasionalisme.  Perkasa meminta 500 ribu anggotanya untuk menjauh dari gerai kopi Starbucks. Hal sama juga lebih dahulu dilakukan oleh Muhammadiyah yang memiliki 29 juta pengikut di Indonesia. 

Permintaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait pencabutan izin Coffe Shop Starbuck didukung DPR. Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Sodik Mujahid mengatakan, pernyataan CEO Strbucks, Howard Schultz sangat bertentangan dengan Pancasila. 

Sodik menyebut dukungan Schultz terkait gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat Indoensia.  

“Semua pihak harus berani melawan upaya apapun yang akan merusak dan menghancurkan nilai-nilai Pancasila,” ujar Sodik kepada JawaPos.com, Jumat (30/6). 

Apalagi para perusak nilai Pancasila yang datang dari luar, sambil mencari kehidupan di Indonesia seperti Starbucks. Sebab, mereka kata dia, sama saja dengan melakukan tindakan subversif.

“Dengan alasan dan argumen ini, kita jadi paham dan salut kepada PP Muhamadiyah yang meminta pemerintah mencabut izin usaha dan  mengajak boikot produk starbucks,” tegas Sodik.

Sodik menegaskan, pemerintah perlu mengingatkan kepada Starbucks bahwa izin usaha yang diberikan dengan salah satu catatan tidak melalukan kegiatan-kegiatan yamg melawan hukum, apalagi melawan norma dan dasar negara Indonesia. 

Pemerintah juga wajib menyampaikan dan mengingatkan bahwa dukungan kepada LGBT di Indonesia melawan dasar negara, UUD 1945 dan hukum di Indonesia.

Selanjutnya, pemerintah perlu meminta agar Starbucks silakan tetap berjalan dalam berusaha tapi segera menghentikan kegiatan yang melawan dasar negara, UUD 1945 dan hukum. 

“Jika mereka masih saja melawan hukum, maka bisa diberi sangsi sesuai aturan dan perjanjian,” imbuh legislator asal Jawa Barat itu.

Kepada masyarakat, Sodik mengatakan, perlunya melakukan tindakan peringatan kelada Starbucks. Akan tetapi dengan cara yang efektif dan legal, tidak berupa tindakan kekerasan.

“Boikot seperti yang dianjurkan PP Muhammadiyah adalah cara yang legal. Tidak berupa kekerasan akan tetapi efektif,” pungkas politikus Partai Gerindra itu.

Lebaran yang tampaknya membawa berkah bagi Bursa Efek Indonesia. Pada hari pertama perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia setelah libur Lebaran, Senin (03/7) IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mencatatkan rekor pada level 5.910. Sebanyak 181 saham mengalami kenaikan, sedangkan 167 saham turun, dan 95 saham tidak bergerak. Sementara sembilan dari 10 sektor mengalami penguatan.

Satu di antara saham yang turun tersebut adalah emiten berkode MAPB – PT MAP Boga Adiperkasa Tbk pemilik merk dagang kedai kopi Starbucks di Indonesia. Sejak 26 Juni 2015 CEO Starbucks Howard Mark Schultz mendukung kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Ketika pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks, Schultz secara tegas memersilakan para pemegang saham yang tidak setuju dengan pernikahan sejenis angkat kaki dari Starbucks.

Perlahan tapi pasti Saham PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) pada perdagangan 03 Juli 2017 cenderung bergerak di jalur merah. Pada saat pembukaan pagi saham MAPB sempat menguat ke level Rp 3.350 yang mejadi level pergerakan tertingginya. Namun seketika saham MAPB langsung anjlok ke level terendah Rp 2.740.

Aksi boikot yang diserukan oleh Muhammadiyah ini sontak mengejutkan banyak pihak, di mana Muhammadiyah cukup diperhitungkan seruan boikotnya. Ternyata nama besar Muhammadiyah masih “sakti”. Sementara pada Aksi Bela Islam yang lalu Muhammadiyah cukup cerdas dalam menjaga sikap terhadap seruan boikot sebagian umat Islam pada produk Sari Roti.

Kejadian kepleset lidah manajemen PT NIC,Tbk selaku produsen Sari Roti terhadap Aksi 212. Kejadian yang berdampak pada boikot produk ROTI ditarget pasar komunitas muslim. Salut dengan kebijakan Pimpinan Muhammadiyah berbagai tingkatan yang tidak terpancing mengeluarkan fatwa boikot atau fatwa mengharamkan Sari Roti. Sebuah sikap yang elegance, cermin ormas Islam berkemajuan.

Selanjutnya  segenap warga Muhammadiyah menanti kiprah Pimpinan Pusat dalam mengguncang bursa saham dengan aksi berkemajuan. Seruan boikot yang notabene sebagai sebuah reaksi atas sikap salah satu emiten di bursa saham demikian diperhatikan para pelaku pasar modal. Reaksi sebagai cermin dari sebuah sikap pasif atas perilaku pihak lain perlu diimbangi dengan suatu aksi yang mengandung sikap dan gerakan proaktif.

Dalam sebuah tausyiahnya Idul Fitri baru-baru ini Ajengan Haedar Nashir menyatakan bahwa kalau kita lemah, maka kita tidak akan memiliki sesuatu yang menjadi keunggulan dan kebanggaan, selamanya akan tertinggal dan menjadi objek penderita. “Semangat menggugat itu baik sebagai tanda kita memiliki militansi, namun semangat militan tersebut harus disertai dengan semangat dan kerja membangun agar ada hasilnya dan tidak berhenti pada perlawanan semata.

Semua harus dihadapi dengan keunggulan spirit, pikiran, dan karya terbaik. Itulah misi Islam dan Muhammadiyah yang berkemajuan. Di sinilah tantangan dan agenda terberat umat Islam dan Muhammadiyah saat ini dan ke depan, yaitu memberi jawaban alternatif,” ujarnya.

Menilik seruan boikot terhadap Starbucks yang merupakan produk consumer good sebagaimana Sari Roti, sesungguhnya pasar ini masih sangat terbuka untuk dimasuki. Sesudah boikot lalu apa alternatifnya? Demikian tantangan yang harus dijawab. Kehadiran Roti Maida bak David di tengah kebesaran Goliath Sari Roti serta berbagai industri kuliner makanan ringan yang telah ada. Beberapa tokoh mengapresiasi kehadiran Roti Maida sebagai bagian dari ijtihad ekonomi umat Islam. Tokoh-tokoh tersebut antara lain KH Zaitun Rasmin (MUI-Pusat), dari PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, DR Haedar Nasir, Ustadz Bachtiar Nasir dan lain-lain.

Di antara tokoh-tokoh tersebut yaitu Dr Haedar Nasir mengamanatkan agar Maida dapat melepaskan diri dari euforia 212 menjadi usaha profesional bukan berdasarkan dorongan emosional. Publikasi manajemen Maida pada media PWMU.CO  baru-baru ini menunjukkan kabar gembira tentang keberlangsungan usaha Roti Maida kian berkembang. Aksi memasuki bursa saham dengan melakukan IPO atas amal usaha paling memungkinkan untuk melakukan “guncangan” demi “guncangan” berikutnya.

Bagaimana Bursa Saham tidak “berguncang” jika ormas Islam terbesar dan tertua di NKRI ini turut meramaikan bursa saham? Jutaan warganya yang melakukan pembelian perdana terhadap saham amal usaha yang berjumlah ribuan di seluruh NKRI akan mencatatkan jumlah transaksi yang signifikan.

Tidak ada salahnya si David Maida menengok dapur si Goliath Sari Roti dalam rangka benchmark menuju usaha profesional bukan berdasarkan dorongan emosional sebagaimana diamanatkan Dr Haedar Nasir. Sari Roti layak dijadikan benchmark sebuah produk kudapan yang dikelola secara serius dan professional. Keseriusan Sari Roti dapat dilihat antara lain dari strategi pemasarannya.

Strategi Sari Roti yang tidak membuat outlet sendiri didukung pula oleh tenaga-tenaga pemasaran sepeda motor dan becak keliling. Strategi ini menjadikan Sari Roti produk yang market friendly, ramah terhadap pasar, mudah ditemui hampir di semua minimarket dan toko kelontong besar. Sari Roti sendiri yang bernaung di bawah PT Nippon Indosari Corpindo,Tbk masih perkasa dilihat dari performa laporan keuangan tahunan 2016.

Sebagaimana perusahaan Go Public lainnya, PT Nippon Indosari Corpindo,Tbk dengan kode emiten ROTI telah menyampaikan laporan tahunan kepada otoritas Bursa Efek Indonesia pada bulan April-2017. Laporan tahunan 2016 ROTI sebagai salah satu yang ditunggu-tunggu mengingat kejadian kepleset lidah manajemen ROTI terhadap Aksi 212. Kejadian yang berdampak pada boikot produk ROTI di target pasar komunitas muslim. Faktanya boikot sebagian simpatisan Aksi 212 tidak berdampak pada kinerja keuangan Sari Roti yang telah demikian kokoh membangun manajemen usahanya.

Pada rilis resmi laporan Tahun 2016 kepada otoritas Bursa Efek Indonesia, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk mencatatkan Penjualan Neto sebesar Rp2,52 triliun, meningkat sebesar 16 persen dari tahun sebelumnya. Laba Bersih Rp280 miliar meningkat sebesar 3,4 persen dari tahun sebelumnya.

Saat ini pemegang saham di PT Nippon Indosari Corpindo Tbk yaitu PT Indoritel Makmur Internasional Tbk-31,504 persen, Bonlight Investments Limited- 25,121 persen, Pasco Shikishima Corporation – 8,501 persen, Sojitz Corporation – 4,251 persen, Masyarakat Umum – 30,623 persen. Total 100 persen saham sebanyak 5.061.800.000 lembar dengan nilai Rp1,442 Trilyun

Go ahead Roti Maida. Perlu untuk segera melakukan pemasaran dan penawaran saham dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya ke PDM lain dan masyarakat luas wabilkhusus warga Muhammadiyah-Aisyiyah di seluruh Indonesia. Proporsional dengan tetap menempatkan Persyarikatan sebagai mayoritas pengendali. Dengan langkah tersebut hijab-hijab psikologis mengenai “saya dapat apa” jika ikut mengembangkan Maida bisa terjawab. Termasuk di antaranya visi masa depan menjadikannya sebagai perusahaan go public yang melantai di Pasar Modal Bursa Efek Indonesia.

Visi menjadikan perusahaan go public bi idznillah menjadikan Maida semakin professional. Beberapa potensi jika masuk pasar modal yaitu membuka akses permodalan jangka panjang, meningkatkan nilai dan image perusahaan, menumbuhkan loyalitas karyawan, insentif pajak serta kemampuan memertahankan kelangsungan usaha.

Jamak dimaklumi bersama jika pergantian kepemimpinan ganti kebijakan. Pengurus PDM Surabaya yang luar biasa saat ini dalam melahirkan Maida belum tentu berlanjut ghirah dan passion-nya pada kepemimpinan berikutnya terhadap produk kuliner. Dengan kepemilikan Maida pada beberapa pihak yang antusias dengan share kepemilikan saham yang proporsional, “ghirah” mengembangkan Maida dapat berlanjut.

Berharap Maida Cake & Bakery bukan sekedar laboratorium bisnis amal jama’i makanan. Lebih dari itu Maida diharapkan mampu menjadi pilot project amal jama’i dalam berinvestasi. Dengan racikan adonan roti dan racikan manajemen keuangannya yang mampu menyajikan produk kudapan dan produk investasi yang halal dan thayyib. Betapa banyak amal usaha Persyarikatan di tiap ranting, cabang, daerah, wilayah bahkan pusat yang berdiri sendiri-sendiri tanpa kolaborasi dan konsolidasi.

Saatnya persyarikatan tertua dan paling eksis di NKRI  memiliki korporasi besar yang dimiliki bersama-sama dengan patungan modal seluruh warganya dalam wasilah otoritas resmi pasar modal yang professional. Insyaallah dengan kolaborasi dan konsolidasi bisa menjadi mainstream ikut mengendalikan perekonomian bangsa.

Semoga semuanya berawal dari Maida Cake & Bakery. “Sesungguhnya Allah SWT Tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa–apa yang terjadi pada diri mereka (Ara’d/13: 11)“. 

Referensi :

  • republika.co.id/berita/nasional/umum/17/06/30/osarle-pp-muhammadiyah-serukan-boikot-starbucks-di-indonesia-ini-alasannya

  • republika.co.id/berita/internasional/global/17/07/03/osi59f428-lsm-di-malaysia-ikuti-muhammadiyah-serukan-boikot-starbucks

  • khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/07/07/osp8qe377-gerakan-boikot-starbucks-oleh-muhammadiyah-mendunia

  • jawapos.com/read/2017/06/30/141112/dpr-dukung-muhammadiyah-boikot-starbucks

  • pwmu.co/32431/2017/07/kenapa-seruan-boikot-muhammadiyah-bikin-saham-starbucks-terguncang/

Jalan Hidup

Jalan Hidup

Merenungi perjalanan hidup manusia dari dilahirkan hingga saat ini, saat manusia yang dulunya polos, suci tak berdosa menjadi manusia yang berdosa, seakan perjalanan hidup ini berlalu begitu cepat. Hidup di dunia hanya sekali, maka apa yang telah kita lakukan saat ini, apa yang telah kita punya saat ini?

Di dalam sebuah film saya mendengar seorang pemeran utama berkata :

“Dalam hidup, ada saatnya kita akan memilih 1 diantara 2 jalan. Satu jalan yang benar, dan 2 jalan yang salah. Jalan yang salah banyak menariknya sehingga lebih mudah membuat kita tertarik untuk mengikuti jalan tersebut. Sedangkan jalan yang benar sulit membuat kita tertarik untuk melaluinya. Jika kita memilih jalan yang salah, maka kita akan cepat merasakan kenikmatan, kesenangan dan kesuksesan namun paka akhirnya kita akan kalah. Jika kita memilih jalan yang benar, maka kita akan melalui berbagai kesulitan, kesusahan, dan bermacam-macam cobaan hidup lainnya, namun pada akhirnya kita akan menang. Maka tentukanlah jalan hidupmu”. (Kurang lebih seperti itu).

Lalu, jalan yang benar itu yang bagaimana?

Hidup ini adalah sebuah perjalanan

Pernahkah kita memikirkan bahwa hidup ini hakekitnya adalah perjalanan? Pernahkah kita merenungkan hidup di dunia ini tidak lain adalah sebuah perjalanan menuju kepada Allah Ta`ala?

Tidakkah Anda mengingat sabda Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam:

كلّ الناسِ يغدو؛ فبائعٌ نَفسَه فمُعتِقها أو موبِقها

“Setiap hari semua orang melakukan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya! Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya!” (Hadits Riwayat Imam Muslim).

Oleh karena itu Allah dalam firman-Nya menjelaskan,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (Asy-Syu’araa`: 88-89).

Dan Allah Ta’ala berfirman pula:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Al-Kahfi: 110).

Memang demikianlah hidup ini, yang diharap dan yang dituju adalah Allah Ta’ala, berjumpa dengan-Nya, menghadap kepada-Nya dan melihat wajah-Nya serta untuk meraih ridha-Nya.

Jalan hidup yang benar hanya ada satu

Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’  kemudian beliau membaca,

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)

Para imam tafsir menjelaskan bahwa pada ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan jalan-jalan yang dilarang manusia mengikutinya, yaitu {السُّبُلَ}, dalam rangka menerangkan cabang-cabang dan banyaknya jalan-jalan kesesatan. Sedangkan pada kata tentang jalan  kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan bentuk tunggal dalam ayat tersebut, yaitu {سَبِيلِهِ}. karena memang jalan kebenaran itu hanya satu, dan tidak berbilang.  (Sittu Duror, hal.52).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada seorangpun yang dapat sampai kepada-Nya, kecuali melalui jalan ini” (Sittu Duror, hal.53).

Mengenal jalan kebenaran yang satu

Jika Anda ingin tahu apa itu jalan kebenaran yang hanya ada satu tersebut? Jawabannya adalah jalan yang pernah ditempuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah satu-satunya jalan yang bisa mengantarkan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahayanya tidak mengetahui jalan kebenaran ini, beliau mengatakan,

الجهل بالطريق و آفاتها و المقصود يوجب التعب الكثير، مع الفائدة القليلة

“Ketidaktahuan terhadap jalan kebenaran ini dan rintangan-rintangannya, serta tidak memahami maksud dan tujuannya, akan menghasilkan kepayahan yang sangat, disamping itu faedah yang didapatkanpun sedikit” (Sittu Duror, hal. 54). Karena begitu pentingnya mengenal jalan kebenaran tersebut, maka mari kita mempelajari jalan kebenaran yang hanya ada satu itu, yang semua kaum muslimin mensepakatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jalan yang lurus tersebut dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِيْ

“Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku” (Diriwayatkan Imam Malik dan yang lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Ya, jalan kebenaran yang hanya satu itu adalah jalan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya adalah jalan yang lurus. Sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,

الصِّرَاطُ الْمُستَقـِيْمُ الَّذِي تَرَكَنَا عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ

“Jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditinggalkan Rasulullah untuk kami” (Atsar shahih, dikeluarkan Ath Thabari dan yang lainnya).

Mana dalilnya, bahwa Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus?

Dalil Al-Quran adalah jalan yang lurus

Allah Ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus” (Al-Ahqaaf: 30).

Dalil As-Sunnah adalah jalan yang lurus

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Asy-Syuuraa: 52).

Dengan demikian Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus, inilah satu-satunya jalan kebenaran, keduanya hakikatnya adalah satu kesatuan, sama-sama wahyu Allah Ta’ala.

Wajibnya berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah

Kita wajib berpegang teguh dengan  Al-Quran dan As-Sunnah, karena kita diwajibkan mena’ati Allah dan Rasul-Nya  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (-Nya), dan Ulil amri di antara kamu” (An-Nisaa’: 59).

Menaati Allah adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Quran dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berpegang teguh kepada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Catatan:

Sunnah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sumber hukum Islam

Al-Hadits adalah hujjah/dalil, sebagaimana Al-Quran, karena keduanya adalah sama-sama wahyu dari Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا إني أوتيت القرآن ومثله معه

“Ketahuilah sesungguhnya saya diberi (wahyu) Al-Quran dan (wahyu) yang semisalnya bersamaan dengannya (As-Sunnah)” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, sedangkan lafadz ini adalah lafadz riwayat beliau. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Hakikatnya berpegang teguh dengan sunnah adalah ketaatan kepada Allah dan mengamalkan Al-Quran, karena Allah berfirman di dalam Al-Quran:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu,sesungguhnya ia telah mentaati Allah” [An-Nisaa`:80].

Fungsi As-Sunnah

Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hakikatnya sama dengan Kitab Allah, yaitu sama-sama sebagai wahyu Allah. Fungsi sunnah itu sebagai penjelas bagi Kitab Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan, makhluk terbaik yang menafsirkan Al-Quran adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan Kami turunkan kepadamu Aquran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” (An Nahl: 44).

As-Sunnah menjelaskan apa yang ada di dalam Al-Quran yang masih global dengan merincinya, seperti masalah salat, puasa, zakat, haji, dan yang lainnya. Jadi As-Sunnah yang shahih tidak akan pernah bertentangan dengan Al-Quran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan makna Al-Quran dan beliau pun telah memberi contoh bagaimana mengamalkannya, sehingga semua ayat Al-Quran menjadi jelas makna dan prakteknya bagi umat ini .

Bahkan seorang muslim tidak harus menunggu mengetahui dalil dari Al-Quran dalam melakukan sebuah ibadah, jika ia sudah mengetahui satu saja dalil dari hadits yang shahih, selama hadits tersebut sudah cukup menunjukkan kepada suatu bentuk/tata cara ibadah, maka bisa langsung mengamalkan hadits tersebut.

Kesimpulan

  1. Jalan kebenaran hanya satu, yaitu jalan Al-Quran dan As-Sunnah. Karena keduanya sama-sama dari Allah dan fungsi As-Sunnah menjelaskan Al-Quran dan merinci yang global darinya, maka hakikat keduanya merupakan satu kesatuan, satu jalan kebenaran.
  2. Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus.
  3. Kita wajib berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah.
  4. Al-Quran dan As-Sunnah sama-sama sebagai sumber hukum Islam, karena keduanya sama-sama sebagai wahyu Allah.

Referensi :

Gajah Mada, Gaj Ahmada, Gajah Ahmada atau ….

Gajah Mada, Gaj Ahmada, Gajah Ahmada atau ….


Patung Gajah Mada di Mabes Polri. (Grandyos Zafna/detikcom)


Beberapa hari terakhir media sosial dihebohkan dengan beredarnya kisah lain dari tokoh legendaris Gajah Mada. Muncul spekulasi, Gajah Mada adalah seorang muslim bernama Gaj Ahmada.

Gajah Mada Atau Gaj Ahmada?

Di media sosial sejak Kamis (15/6/2017), sejumlah warganet mengklaim Gajah Mada adalah seorang muslim dengan nama Gaj Ahmada atau Syeikh Ahmada. Lengkapnya, Gajah Mada disebut bernama Abu Fatih Gaj Ahmada Al Majjah Fahid Darussalam.

Spekulasi ini langsung melesat menjadi perbincangan terpopuler di Twitter hingga Jumat (16/6/2017) pagi. Tak berhenti sampai di situ, Instagram mendadak ikut riuh dengan perbincangan ini. Bahkan beredar foto ilustrasi Gajah Mada dengan pakaian khas Arab.

Spekulasi yang berkembang menyebut Gaj Ahmada diklaim sebagai nama asli sang mahapatih. Mereka menilai, para arkeolog maupun filolog salah dalam mengeja dan mengartikan aksara Pallawa era Majapahit, yang seharusnya “Gaj Ahmada” menjadi “Gajah Mada”.

Semua selentingan yang viral di media sosial mengenai keabsahan nama “Gaj Ahmada” bersumber dari tulisan satu paragraf  akun Facebook Arif Barata.

Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya. Patih Gajah Mada juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada (terlihat lebih Islami, bukan?). Hanya saja, orang Jawa saat itu sulit mengucapkan nama tersebut,” tulis akun itu.

”Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah). Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia).”

”Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.”

Namun, klaim tersebut justru menjadi bahan sindiran maupun dibuat sebagai lelucon oleh mayoritas warganet. Pasalnya, klaim tersebut bertentangan dengan bukti-bukti arkeologis maupun filologis.

Akun @Doneh di Twitter mengunggah bidik layar tulisan Pallawa yang ia sebut nukilan kitab Negara Kertagama. Dalam nulikan tersebut, akun itu menunjukkan nama sang mahapatih jelas ditulis sebagai ”Gajah Mada” bukan ”Gaj Ahmada”.

”Nama Gaj Ahmada? Monggo dibaca nukilah Negarakertagama ini,” tulisnya menerangkan foto yang diunggahnya.

Akun @digembok mengkritik klaim tersebut karena tak sesuai dengan gambaran Gajah Mada yang terdapat pada patung-patung. “Bilangin sama yang bikin, gambarnya (Gaj Ahmada) salah. Masa Syech Gaj Ahmada pakaiannya tidak menutup aurat,” tulisnya.

”Saya sedikit berharap bahwa kasus bumi datar, anti-vaksin, dan Gaj Ahmada ini sebenarnya hanya prank untuk mencek kadar IQ orang Indonesia,” tulis @ariomazda.

 “UGM (Universitas Gadjah Mada) harus ganti jadi UGA. Universitas Gaj Ahmada — feeling amazed,” kata akun @jatiraymaya.

Pihak Museum Nasional menanggapi isu Gaj Ahmada yang jadi viral di media sosial ini. Gaj Ahmada dianggap hanya isu mencocok-cocokkan belaka. Tak ada bukti kuat yang mendukung hal tersebut. Beda halnya dengan nama Gajah Mada, yang disebutkan di sejumlah prasasti.

“Nama ‘Gajah Mada’ itu ada disebutkan dalam prasasti, ada prasasti Gajah Mada, ada lagi Prasasti Mada,” kata Kepala Bidang Pengumpulan dan Pengkajian Museum Nasional Tri Gangga di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (17/6/2017).

Tri juga menyebutkan prasasti lainnya yang dibawakan oleh Tribhuana Tungga Dewi, anak pendiri Majapahit Raden Wijaya. Tapi, dari semua data prasasti, didapati namanya adalah ‘Gajah Mada’. “Disebutkan Gajah Mada, tidak ada Gaj Ahmada,” ungkap Tri.

Selain soal nama Gaj Ahmada, informasi yang jadi viral menyebut Raden Wijaya merupakan seorang muslim. Namun, menurut Tri, hal itu juga keliru.

“Raden Wijaya dan Gajah Mada itu adalah orang Jawa beragama Hindu atau Buddha. Ada prasasti yang membuktikan sekarang ini. Kebanyakan prasasti itu ada di Jawa Timur. Mereka (penyebar info viral) itu tidak tahu dan mengerti prasasti,” kata Tri.

Gajah Mada, Gaj Ahmada atau Gajah Ahmada?

Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta yang membawahi LHKP, Ashad Kusuma Djaya menegaskan, tidak ada campur tangan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta dalam penulisan buku Kesultanan Majapahit.

“LHKP hanya memfasilitasi kajian, kemudian yang ikut diskusi dan kajian itu patungan untuk menerbitkan buku. Tidak ada dana dari Muhamamdiyah,” ujar Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Ashad Kusuma Djaya saat ditemui Kompas.com, Sabtu (17/06/2017) malam.

Diceritakannya, kegiatan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta adalah berdiskusi dan melakukan kajian bersama dengan berbagai komunitas.

“LHKP isinya adalah komunitas anak muda yang senang dengan isu-isu alternatif,” ucapnya.

Ashad mengaku mengenal baik Herman Sinung Janutama, penulis buku “Kesultanan Majapahit” karena sama-sama pemerhati budaya Jawa. Herman Sinung Janutama memiliki komunitas dan menjadi salah satu yang diundang dalam kegiatan diskusi LHKP.

Sebab, lanjutnya, metode penelitian yang dilakukan oleh Herman Sinung Janutama menarik untuk didiskusikan dan dikaji.

“Itu bukan kegiatan tunggal, artinya kita ada juga diskusi dan kajian dengan lainnya. Kita juga ada kajian dengan Sifu Yonatan, Biksu Budha,” jelasnya.

Hanya saja, karena lembaga diskusi dan kajian tersebut tidak mempunyai legalitas, maka buku tulisan Herman Sinung Janutama diterbitkan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 2010 lalu sebanyak 1.000 eksemplar dan hanya untuk kalangan sendiri.

“Saya juga kaget, sudah buku Mas Herman itu terbit tahub 2010 lalu, sekarang viralnya,” tuturnya.

Dikatakannya, kutipan yang menjadi viral media sosial banyak tidak sesuai dengan di buku tulisan Herman Sinung Janutama. Seperti nama Gaj Ahmada itu tidak ada di buku yang ditulis Herman Sinung Janutama.

“Adanya Gajah Ahmada, misalnya dalam bahasa Sansekerta itu kan Nusantara itu sesungguhnya Nusa Antara, Gajah Mada dalam terminologi yang ditemukan Mas Herman itu Gajah Ahmada, kalau Gaj Ahmada itu menyalahi susatra jawa,” tandasnya.

Ashad mengaku tidak mengenal Arif Barata yang menjadi rujukan soal Gaj Ahmada sehingga viral di media sosial.

“Arif Barata yang menjadi sumber banyak viral itu saya tidak kenal, selama kegiatan kajian-kajian itu juga tidak nampak. Ada nama Arif Barata, tetapi lain. Saya kenal dan saat ini masih menjadi staf saya,” pungkasnya.

Gajah Mada, Gaj Ahmada, Gajah Ahmada atau Ali Nurul Alam?

Sejarah semakin dikulik, semakin asyik. Perdebatan soal nama Gaj Ahmada seharusnya membahas Ali Nurul Alam, seorang muslim yang juga menyandang nama Gajah Mada. Siapa dia?

Perdebatan soal nama Gajah Mada VS Gaj Ahmada sepertinya melewatkan sebuah nama yang penting: Ali Nurul Alam. Namanya cukup asing untuk masyarakat Indonesia, kecuali mereka yang keturunan para sayyid, habib, kesultanan Cirebon dan Banten. Tahukah Anda, dia adalah orang kedua yang menyandang nama Gajah Mada.

Penelusuran detikcom, Senin (19/6/2017) nama Ali Nurul Alam muncul dalam buku Babad Tanah Sunda: Babad Cirebon tulisan PS Sulendraningrat. Bisa dibilang ini adalah catatan sejarah resmi Kesultanan Cirebon. Nama ini juga bisa dilihat dari Himpunan Nasab Al Alawiyin dari Naqobatul Asyrof Al Kubro, Lembaga Pemeliharaan Penelitian Sejarah dan Silsilah Alawiyin.

Disebutkan Sunan Gunung Jati bernama lengkap Syarif Hidayatullah bin Syarif Abdullah bin Sayyid Ali Nurul Alam. Ali Nurul Alam ini berarti adalah kakek Sunan Gunung Jati. Babad Cirebon menyebutkan orangtua dan kakek Sunan Gunung Jati tidak tinggal di Jawa, melainkan negeri lain dengan kota bernama Jiddah dan juga Champa.

Christoper Buyer melalui website The Royal Ark yang menyusun silsilah Kesultanan Kelantan di Malaysia dengan merangkum 14 buku sejarah. Kota Jiddah yang dimaksud ternyata adalah Jiddah Riayath Sa’adat us-Salam, ibukota Imperium Chermin yang meliputi Aceh, Kelantan (termasuk Patani di Thailand Selatan) dan Champa di Vietnam Selatan. Gubernur Jenderal Inggris Thomas Standford Raffles dalam buku History of Java juga sempat menyebut Kerajaan Chermin.

Nama Ali Nurul Alam ditemukan kembali di dalam silsilah Kesultanan Kelantan yang ditulis ulang Christoper Buyer. Dia adalah putra dari Sayyid Husain Jumadil Kubro, ulama besar keturunan Rasulullah yang merupakan penyebar Islam di Asia Tenggara dan dimakamkan di Mojokerto. Yang menarik, Christoper Buyer menulis begini:

“Sayyid ‘Ali Nur ul-Alam bin Husain Jamadi al-Kubra, Pateh Arya Gajah Mada. Perdana Mantri of Kelantan-Majapahit II 1432-1467. Fled to Champa with the Sultan, following the Siamese conquest in 1467,” tulis dia.

Ada dua fakta menarik. Pertama, Ali Nurul Alam memiliki nama lain Pateh Arya Gajah Mada. Jabatannya adalah Perdana Menteri Kelantan-Majapahit II yang menjabat 1432-1467. Kerajaan Majapahit II? Pasti jarang orang Indonesia yang pernah mendengar nama kerajaan ini.

Buyer mengatakan anak Raja Langkasuka bernama Bharubhasa mendirikan Kerajaan Chermin tahun 1339 dengan wilayah kekuasaan dari Aceh, Sumatera Utara, Perak, Kedah dan Champa. Dia diislamkan oleh Syekh Jumadil Kubro dan menjadi Sultan Mahmud Ibnu Abdullah.

Kerajaannya ditaklukan Kerajaan Siam dari Thailand tahun 1345. Mahapatih Gajah Mada lalu menaklukan Siam tahun 1357, sekaligus menjadikan Chermin sebagai negara bagian dari Majapahit. Imperium Chermin berganti nama menjadi Majapahit II.

Dari catatan sejarah itu, ketahuan langkah apa yang dilakukan Mahapatih Gajah Mada. Dia tidak memaksakan agama Hindu-Buddha yang dianut Majapahit, melainkan membiarkan Islam tetap tumbuh berkembang.

Buktinya, kesultanan di Chermin tetap dilanjutkan, hanya namanya berubah menjadi Kelantan-Majapahit II. Kedua, karena rajanya berinduk ke Majapahit, maka jabatan tertinggi dipegang oleh seorang Perdana Menteri yang dijabat oleh Ali Nurul Alam dengan nama alias atau gelarnya Pateh Arya Gajah Mada.

Ini adalah pilihan yang masuk akal untuk Mahapatih Gajah Mada mendelegasikan kekuasaan ke Patih Arya Gajah Mada. Mengingat wilayah Kelantan dan Champa jauh sekali dari Trowulan yang menjadi Ibukota Majapahit.

Fakta bahwa sebagian wilayah Majapahit bagian timur laut beragama Islam, mungkin menjawab soal koin bertulisan Arab di era Majapahit yang dihebohkan itu. Bukti lain soal Ali Nurul Alam bernama alias Patih Arya Gajah Mada juga pernah ditulis media Malaysia, Utusan Malaysia.

Utusan Malaysia pernah menulis ulasan cukup panjang tentang Sayyid Ali Nurul Alam. Disebutkan pula Patih Arya Gajah Mada adalah nama aliasnya dan memang menimbulkan perdebatan apakah dia dan Gajah Mada adalah orang yang sama atau bukan. Utusan Malaysia menyebutkan Ali Nurul Alam wafat di Campa tahun 1467.

Dari pada berdebat soal Gaj Ahmada atau Gajah Mada, lebih baik para sejarawan menjelaskan kepada publik. Siapa itu Ali Nurul Alam? Seorang muslim yang menyandang nama kedua sebagai Gajah Mada.


Dimana Makam Gajah Mada?


Terkait makam sang mahapatih, itu pun tak bisa diklaim keabsahannya. Sebab, makam yang diklaim sebagai kuburan Gajah Mada ada lebih dari satu di Indonesia.

Tak hanya di Pulau Jawa, bahkan di Krui, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, juga terdapat satu kuburan yang diklaim sebagai makam Gajah Mada.

Di Kabupaten Buton Selatan, lahan yang Ditumbuhi Pohon Maja Itu Diyakini sebagai Makam Patih Gajah Mada.

Masyarakat Pulau Buton meyakini bahwa makam Patih Gajah Mada berada di atas sebuah bukit di Kelurahan Majapahit, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan.

Tempat itu kini menjadi lokasi wisata religi. Lokasinya berjarak sekitar 3 kilometer (km) dari jalan utama. Jalan menuju ke sana belum diaspal. Untuk mencapai tempat itu, warga harus berjalan kaki melalui perbukitan.

“Leluhur kami sering bercerita tentang makam Patih Gajah Mada. Di sana juga ada tumbuh pohon maja beberapa ratus meter dari kuburan, dan ada juga tulisan Sanskerta di atas batu,” kata Lurah Majapahit, Amran Aingke, Sabtu (9/1/2016). Menurut Amran, tulisan beraksara Sanskerta itu kini sudah tidak jelas.

“Tahun 2000 pernah dipotret itu batu, tetapi sekarang sudah tidak jelas karena sering kena pembakaran lahan sejak lama. Tulisannya sudah rusak dan rapuh karena kena api terus, tetapi sekarang kami sedang mencari tahu arti bahasa Sanskerta itu,” ujarnya.

Tempat yang diyakini sebagai makam Gajah Mada itu berukuran sekitar 40 x 40 meter. Di tengah lahan itu terdapat pohon besar yang rindang. Di situ bisa dilihat, beberapa batu yang diduga merupakan batu nisan yang tidak bernama. Menurut seorang warga Kelurahan Majapahit, La Ode Basarudin, tempat itu sering diziarahi sejumlah warga.

Lampung Utara (Liwa) dan di daerah Kabupaten Dompu.

Banyak daerah yang menyatakan Patih Gajah Mada ini dimakamkan di daerah-daerah yang dinyatakan tadi, dan salah satunya di kabupaten Lampung Utara (Liwa) dan di daerah kabupaten Dompu.

Situs makam Gajah Mada ini adalah peninggalan arkeologi dari masa klasik yang mengandung problema yang hingga saat ini belum dapat dipecahkan. Disebabkan makam Gajah Mada ini dianggap leluhur oleh masyarakat Daha sebagai ahli waris yang tidak dapat melihat secara langsung makam tersebut.

Makam Gajah Mada dibuat dengan teknik susunan batu berbentuk persegi, dinding makam sebagai batas antara kubur (tempat sakral) dengan bagian luar (profan). Makam Gajah Mada merupakan hasil budaya yang sifatnya universal dan berlangsung dari masa ke masa.

Terletak  pada 25 meter yang di sebelah kanan jalan terdapat jalan yang menghubungkan Dompu dengan pantai Lakey, terletak diantara semak-semak lebat sehingga tidak dapat melihat secara langsung dari jalan besar.

Ditemukannya makam Patih Gajah Mada di Desa Daha ini, masyarakat setempat menganggap bahwa mereka adalah keturunan dari Majapahit.

Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding, Tuban

Melintasi area pemakaman umum di Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding, Tuban, siapapun akan tertarik dengan makam berukuran tiga kali lipat makam pada umumnya.

Panjang makam lebih dari empat meter dan gundukan tanah setinggi lebih dari satu meter itulah makam tersebut dikenal dengan makam Mbah Manjang. Siapa sebenarnya Mbah Manjang?Cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Manjang tak lain adalah Barat Ketigo, nama samaran Gajah Mada ketika saat mengemban mandat Prabu Hayam Wuruk untuk menjajal kesaktian Syekh Asy’ari atau Sunan Bejagung yang mengalahkan pasukan bergajah kiriman yang disabdo menjadi batu atau watu gajah.

Tugas Gajah Mada tak lain untuk menindaklanjuti kegagalan pasukan bergajah yang membujuk Pangeran Penghulu atau Pangeran Sudimoro agar berhenti ‘ngelmu’ agama ke Syekh Asy’ari dan segera kembali ke kerajaan. Dalam beberapa kali adu kesaktian, Barat Ketigo dikalahkan dan akhirnya harus mengakui ketinggian ilmu Syekh Asy’ari. Akhirnya, ia memilih tinggal untuk berguru, sampai akhir hayatnya.

Cerita ini dikuatkan situs Watu Gajah yang letaknya tak jauh dari makam Barat Ketigo. Juga ditemukan Watu Boyo (batu besar menyerupai buaya) di sisi selatan makam tersebut, yang diduga sebagai godho atau senjata berupa pentungan milik Barat Ketigo.

Serta makam Pangeran Penghulu atau Pangeran Sudimoro dan Syekh Asy’ari di Desa Bejagung, desa yang ada di sisi utara makam Barat Ketigo.Kini, makam Mbah Manjang yang letaknya sekitar 200 meter di belakang kantor Kecamatan Semanding, Tuban itu dalam proses renovasi demi memudahkan peziarah yang banyak berdatangan seiring kian sohornya nama Barat Ketigo atau Gajah Mada dibandingkan nama Mbah Manjang, yang lebih dulu dikenal.

Patih Gajah Mada Berganti Nama dan wafat di Makkah

Di kompleks makam Raja Islam Sela Parang yaknimerupakan seorang pendakwah Islam pada periode awal, sekitar abad XIV M di Pulau lombok, tidak terduga di komplek makam itu ternyata terdapat petilasan.

Petilasan Keberangkatan Patih Gajah Mada ketika pergi haji ke Makkah.


Petilasan ini, menurut tutur kata dari generasi ke generasi setempat, di yakini sebagai lokasi keberangkatan Sang Maha Patih Gajah Mada ketika hendak pergi haji menuju Makkah.

Penduduk wilayah ini percaya, Patih Gajah Mada setelah masuk Islam dan lengser keprabon berganti nama menjadi Muhammad Rum.

Dan menurut Babad Sela Parang, Gajah Mada tidak pernah kembali, karena beliau wafat di kota suci Makkah.

Dengan banyaknya daerah yang mengklaim terdapat makam patih Gajah Mada, apa mungkin jika Gajah Mada hanyalah sebutan / gelar bagi seorang Maha Patih dan bukan nama asli? Sehingga sangat logis jika saya mengatakan, Gajah Mada itu lebih dari 1 orang, tapi ada banyak manusia yang menyandang gelar Gajah Mada.

Mengenai kematian Gajah Mada, sejarawan hingga kini masih berdebat mengenai hal tersebut. Agus Aris Munandar, Arkeolog Universitas Indonesia, dalam bukunya berjudul Gajah Mada Biografi Politik, mengatakan terdapat beragam sumber yang mengajukan argumentasi mengenai akhir hayat Gajah Mada.


Referensi :

solopos.com/2017/06/17/ini-akun-yang-sebut-gajah-mada-aslinya-syekh-gaj-ahmada-826369

detik.com/news/berita/d-3534075/viral-gaj-ahmada-museum-nasional-gajah-mada-beragama-hindu

regional.kompas.com/read/2017/06/18/18444831/penjelasan.muhammadiyah.kota.yogyakarta.soal.gaj.ahmada.yang.viral

detik.com/news/berita/d-3534914/bukan-gaj-ahmada-gajah-mada-yang-muslim-namanya-ali-nurul-alam

regional.kompas.com/read/2016/01/09/20283081/Lahan.yang.Ditumbuhi.Pohon.Maja.Itu.Diyakini.sebagai.Makam.Patih.Gajah.Mada

nationalgeographic.co.id/berita/2015/02/dimanakah-makam-patih-gajah-mada-sesungguhnya

kekandang.blogspot.co.id/2015/10/ternyata-di-sinilah-jasad-gajah-mada-di.html?m=1

kanzunqalam.com/2015/03/05/legenda-patih-gajah-mada-wafat-di-kota-suci-makkah/