Siapakah Cak Nun?

Source : Good News From Indonesia on Twitter: “[QUOTE] Salah satu kutipan pemikiran Emha Ainun Nadjib”

Emha Ainun Nadjib mempunyai nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib. Pada awal kepenyairannya, ia menuliskan namanya dalam karyanya dengan MH Ainun Nadjib. Lama-lama ejaannya diubah menjadi Emha sehingga ia lebih dikenal dengan nama Emha Ainun Nadjib. Dia dikenal sebagai penyair, dramawan, cerpenis, budayawan, mantan pelukis kaligrafi (pelukis terkenal), dan penulis lagu.

Putra keempat dari lima belas bersaudara ini lahir di Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 dari pasangan M.A. Lathief dan Halimah. Walau ayahnya, Muhammad Lathief, memimpin lembaga pendidikan yang mengelola TK sampai SMP, ia memilih masuk sekolah dasar negeri di desa tetangga karena malu belajar di rumah sendiri. Setamat SD, ia melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo yang tak pernah dirampungkannya. Emha dikeluarkan dari pesantren karena dituduh menjadi penggerak aksi santri untuk berdemonstrasi menentang para guru. Setelah dikeluarkan dari pesantren, ia terpaksa harus belajar kepada ayahnya sampai memperoleh ijazah SMP kemudian, ia melanjutkan pendidikannya ke SMA (jurusan Paspal) Muhammadiyah I, Yogyakarta. Setelah tamat SMA, ia kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (hanya empat bulan atau tidak tamat) karena pada pertengahan 1974 ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas hingga meninggal.

Dia pernah menjadi redaktur kebudayaan harian Masa Kini (sampai 1 Januari 1977) dan memimpin Teater Dinasti, Yogyakarta. Dia juga pernah menjabat Sekretaris Dewan Kesenian Yogyakarta. Ia ikut menangani Yayasan Pengembangan Masyarakat Al-Muhammady di Jombang yang bergerak di bidang pendidikan, sosial ekonomi, dan sosial budaya. Di sana pula ia membentuk “Komunitas Padhang Mbulan” pada awal tahun 1995 sebagai kelompok pengajar. Dia juga berkiprah dalam Yayasan Ababil di Yogyakarta yang menyediakan tenaga advokasi pengembangan masyarakat dan penciptaan tenaga kerja.

Dia menikah dengan Neneng Suryaningsih, seorang penari yang berasal dari Lampung tahun 1978. Neneng mengenal Emha ketika sama-sama terjun di Teater Dinasti, Yogyakarta. Tahun 1979 mereka dikaruniai anak laki-laki yang dinamai Sabrang Mawa Damar Panuluh. Perkawinan mereka tidak bertahan lama dan akhirnya bercerai. Tahun 1995 Emha menikah dengan Novia Kolopaking.

Dia tertarik pada dunia penulisan, terutama puisi dan esai, sejak meninggalkan pondok pesantren Gontor dan melanjutkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah I. Tulisannya tersebar di majalah Tempo, Basis, Horison, Tifa Sastra, Mimbar, Pandji Masjarakat, Budaja Djaja, Dewan Sastera(Malaysia), dan Zaman. Selain itu, karyanya juga tersebar di surat kabar Republika, Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, Masa Kini, Berita Yudha, Haluan, Suara Karya, Suara Pembaharuan, dan Surabaya Post. Ia banyak menulis rubrik kolom di berbagai koran dan majalah yang kemudian melahirkan buku kumpulan esainya dalam soal budaya dan sosial.

Tahun 1975 ia ikut Festival Puisi 1975 di Jakarta dan diundang dalam Festival Puisi Asean 1978. Dia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984), Festival Horizonte >III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985), serta sejumlah pertemuan sastra dan kebudayaan lain. Terakhir ia aktif dalam komunitas Kiai Kanjeng yang mementaskan sejumlah dramanya di berbagai kota. Pembacaan puisi dan pementasannya pernah dicekal penguasa Orde Baru di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebagai penyair muda, ia bergabung dengan kelompok diskusi dan studi sastra yang dipimpin Umbu Landu Paranggi, Persada Studi Klub (PSK), di bawah Mingguan PeloporYogyakarta. tahun 1970. Mula-mula ia menulis puisi di harian Masa Kini dan Berita Nasionalserta di majalah Muhibbah (terbitan UII Yogyakarta) dan menulis cerpen di Minggu Pagi dan MIDI. Setelah beberapa puisinya dimuat dalam Basis, ia banyak menerbitkan puisinya di media massa terbitan Jakarta, seperti Horison. Karena tidak puas hanya menghasilkan sajak dan cerpen ringan, ia mulai menulis esai, kritik drama, resensi film, dan pembicaraan mengenai pameran lukisan. Dalam tulisan-tulisannya ia menggunakan nama samaran Joko Umbaran atau Kusuma Tedja.

Bukunya yang sudah terbit (1) “M” Frustasi dan Sajak-Sajak Cinta (kumpulan puisi, 1975); (2) Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (kumpulan puisi, 1978) memenangi Hadiah Sayembara Penulisan Puisi Majalah Tifa Sastra 1977; (3) Nyanyian Gelandangan (kumpulan puisi, 1982); (4) Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (kumpulan esai, 1980); (5) 99 untuk Tuhan (kumpulan puisi, 1980); (6) Syair Lautan Jilbab (kumpulan puisi, 1989); (7)Suluk Pesisiran (kumpulan puisi, 1989, Bandung: Mizan); (8) Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan (kumpulan esai, 1985); (9) Sastra yang Membebaskan (kumpulan esai, 1984); (10) Cahaya Maha Cahaya(kumpulan puisi, 1991); (11) Yang Terhormat Nama Saya (kumpulan cerpen, 1992); (12)Slilit Sang Kiai (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1991); (13) Markesot Bertutur (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1993, Bandung: Mizan); (14) Secangkir Kopi Pahit (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1991); (15) Markesot Bertutur Lagi (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1994, Bandung: Mizan); (16) Arus Bawah (novel, 1995); (17) Sesobek Buku Harian Indonesia (kumpulan puisi, 1993); (18)Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajud Cinta Seorang Hamba (kumpulan puisi, 1990, Bandung: Mizan); (19) Secangkir Kopi Jon Parkir (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1992, Bandung: Mizan); (20) Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1995); (21) Surat kepada Kanjeng Nabi(kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1996); (22) Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1994); (23) Tuhan pun “Berpuasa” (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1997), dan Demokrasi La Raiba Fih (kumpulan esai, Kompas, 2010).

Karyanya yang berbentuk cerpen, antara lain adalah (1) “Ambang” dalam Horison No. 1 Tahun 1978; (2) “Tangis” dalam Horison No. 11—12 Tahun 1978; (3) “Di Belakangku” dalam Horison No. 11 Tahun 1979; (4) “Kepala Kampung” dalam Horison No. 10 Tahun 1979; (5) “Lingkaran Dinding” dalam Horison No. 9 Tahun 1979; (6) “Mimpi Istriku” dalam HorisonNo. 9 Tahun 1979; (7) “BH” dalam Horison No. 6 Tahun 1980; (8) “Ijasah” dalam Horison No. 7 Tahun 1980; (9) “Jabatan” dalam HorisonNo. 11 Tahun 1980; (10) “Jimat” dalam Horison No. 7 Tahun 1980; (11) “Mimpi Setiap Orang” dalam Horison No. 5 Tahun 1980; (12) “Podium” dalam Horison No. 6 Tahun 1980; (13) “Seorang Gelandangan” dalam HorisonNo. 1 Tahun 1980; (14) “Stempel” dalam Horison No. 4 Tahun 1980; dan (15) “Luber” dalam Horison No. 10 Tahun 1981.

Selain menulis novel dan cerpen, ia juga menulis puisi dalam majalah atau surat kabar, seperti (1) “Malam” dalam Pandji MasjarakatNo. 62 Tahun 1970; (2) “Pagi” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (3) “Senja” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (4) “Sepi” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (5) “Suara” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (6) “Aku telah Terlempar Kembali Jadi Manusia, Tuhanku” dalam Pandji Masjarakat No. 84 Tahun 1971; (7) “Ketika Mendengar Keagungan yang Mengalir” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (8) “Pada Akhirnya Aku Kembalikan Diriku kepada-Mu, Tuhanku” dalam Pandji Masjarakat No. 84 Tahun 1971; (9) “Sehabis Sholat, Suatu Malam” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (10) “Sempurnalah Rindu Diriku Malam Ini, Tuhanku” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (11) “Seperti Mimpi-Mimpi Abstraksi” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (12) “1 Syawal 1392 IIII” dalam Pandji Masjarakat No. 92 Tahun 1971; (13) “Di Matamu” dalam Mimbar No. 28 Tahun 1972; (14) “Tidak Sewajarnya, Hari Ini” dalam Mimbar No. 28 Tahun 1972; (15) “Bisik” dalam Basis No. 2 Tahun 1973; (16) “Lipu” dalam Basis No. 2 Tahun 1973; (17) “Malam di Pegunungan” dalam Panji Masyarakat No. 13 Tahun 1973; (18) “Memandangmu Bulan” dalam Panji Masyarakat No. 133 Tahun 1973; (19) “Mysteri” dalam Basis No. 10 Tahun 1973; (20) “Nyanyian Sebelum Pergi” dalam Panji Masyarakat No. 133 Tahun 1973; (21) “Resonansi” dalam Tribun No. 43 Tahun 1973; (22) “Sebelum Tidur” dalam Panji MasyarakatNo. 133 Tahun 1973; (23) “Sia-Sia” dalam Basis No. 10 Tahun 1973; (24) “Terbit” dalam Mimbar No. 36 Tahun 1973; (25) “Di Subuh Langitkah Menggegar” dalam Tifa Sastra No. 25 Tahun 1974; dan (26) “Kubakar Cintaku” dalam Budaya Jaya No. 76 Tahun 1974.

Dramanya, antara lain, adalah (1) “Geger Wong Ngoyak Macan” (ditulis bersama Fajar Suharno dan Gadjah Abiyoso); (2) “Patung Kekasih” (ditulis bersama Simon Hate dan Fajar Suharno); (3) “Doktorandus Mul”; (4) “Ampas” (Mas Dukun); (5) “Keajaiban Lik Par”; (6) “Sidang Para Setan”; (7) “Perahu Retak”; dan (8) “Pak Kanjeng”.

Beberapa kritikus mengomentari kepengarangan Emha Ainun Najib, misalnya M. Arief Hakim (1994) menyatakan bahwa saat sekarang barangkali Emha merupakan penulis paling produktif dan hampir semua bukunya diserbu pembeli, laris bagai kacang goreng. Daya pikat tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib, terutama dalam menampilkan persoalan yang aktual dan kontekstual, sangat tajam dan peka, teristimewa dalam persoalan sosial-politik dan pemiskinan kebudayaan. Kritik-kritiknya demikian tajam, terutama dalam menggugat bobroknya kekuasaan.

Kuntowijoyo (1991) menyebut Emha sebagai budayawan yang mencerminkan atau lebih dapat mewakili sensibilitas generasi muda saat itu, yaitu sensibilitas pemuda yang kritis, suka protes, tetapi religius. Di dalam karya Emha, baik puisi maupun esai, dapat ditemukan sosok seorang anak muda aktivis sosial yang sekaligus mempunyai kecenderungan mistik. Dalam kelompok studi Persada inilah ia mengembangkan kreativitasnya sebagai sastrawan. Dia menerima Anugerah Adam Malik untuk bidang sastra tahun 1991.

Sosok dibalik Cak Nun

Umbu Landu Paranggi (source : Radar Sukabumi)

Lima tahun ia hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970–1975, belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha. Masa-masa itu, proses kreatifnya dijalani juga bersama Ebiet G Ade(penyanyi), Eko Tunas (cerpenis/penyair), dan EH. Kartanegara (penulis).

Kamu boleh mengidolakan seseorang, tetapi jadilah dirimu sendiri”.

(Umbu Landu Paranggi)

Umbu Landu Paranggi (lahir di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur, 10 Agustus1943; umur 75 tahun) adalah senimanberkebangsaan Indonesia yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa esai dan puisiyang dipublikasikan di berbagai media massa. Umbu merupakan penyair sekaligus guru bagi para penyair muda pada zamannya, antara lain Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, Linus Suryadi AG, dan lain-lain.

Pada tahun 1970-an Umbu membentuk Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas penyair, sastrawan, seniman yang berpusat di MalioboroYogyakarta. PSK, di kemudian hari dikenal sebagai salah satu komunitas sastra yang sangat mempengaruhi perjalanan sastrawan-sastrawan besar di Indonesia. Walaupun dikenal sebagai “Presiden Malioboro”, ia sendiri seperti menjauh dari popularitas dan sorotan publik. Ia sering menggelandang sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tetapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “pupuk” saja. Umbu pernah dipercaya mengasuh rubrik puisi dan sastra di Mingguan Pelopor Yogya. Hari tuanya dihabiskan tinggal di Bali, sembari mengasuh rubrik Apresiasi di Bali Post.

Source :

http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Emha_Ainun_Nadjib

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Emha_Ainun_Nadjib

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Umbu_Landu_Paranggi

Iklan

BAGAIMANA SANKSI PIDANA TINDAKAN PENYADAPAN MENURUT HUKUM YANG BERLAKU?

“Penyadapan merupakan kegiatan memasang alat atau perangkat tambahan pada jaringan telekomunikasi untuk tujuan mendapatkan informasi dengan cara tidak sah.”

Sebelumnya, kami pernah ditanya seorang klien bahwa “Kalau lacak HP orang lain, melanggar hukum gak ya?” Pertanyaan selanjutnya, “Apakah melacak HP orang lain, termasuk tindakan penyadapan?”.

Sebelum menjawab lebih jauh pertanyaan ini, perlu diketahui, bagaimana penyadapan menurut ketentuan yang berlaku? Pada Undang Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (UU No.36/1999) tidak ada pengertian pada ketentuan umum tentang penyadapan. Namun untuk pengertiannya, dapat kita temui pada Penjelasan Pasal 40 UU No.36/1999 yang secara jelas menyebutkan:

“Yang dimaksud dengan penyadapan dalam pasal ini adalah kegiatan memasang alat atau perangkat tambahan pada jaringan telekomunikasi untuk tujuan mendapatkan informasi dengan cara tidak sah. …”

Dari penjelasan diatas, dapat kita lihat bahwa penyadapan merupakan tindakan untuk mendapatkan informasi yang tidak sah dengan berbagai cara. Ini penting untuk pahami, sebab UU No. 36/1999, secara tegas melarang penyadapan informasi melalui jaringan telekomunikasi dalam bentuk apapun (Pasal 40). Ketentuan pidana atas tindakan penyadapan adalah 15 (lima belas) tahun penjara.

Hal ini tegas, dapat kita temui pada Pasal 56 UU No.36/1999, disebutkan bahwa:

“Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.”

Jadi, menurut UU No.36/1999 tindakan “melacak HP” tidaklah termasuk dalam kategori penyadapan, sebab penyadapan intinya menggunakan alat tambahan pada jaringan telekomunikasi, dengan maksud agar mendapatkan informasi.

Namun, untuk “melacak HP” dengan mengakses suatu sistem elektronik tanpa hak atau dengan cara melawan hukum juga termasuk perbuatan yang dilarang. 
Menurut Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU No.11/2008), sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU No.19/2016).
Seperti yang disebutkan dalam Pasal 30 UU No.11/2008, yakni:

  1. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apapun.
  2. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apapun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.
  3. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan.

Terhadap perbuatan ini, ancaman pidananya pun beragam, mulai dari paling lama 6 (enam) tahun sampai dengan 8 (delapan) tahun penjara. Ketentuannya dapat kita jumpai pada Pasal 46 UU No.11/2008 yaitu:

  1. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enamratus juta rupiah).
  2. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.000.000,00 (tujuhratus juta rupiah).
  3. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapanratus juta rupiah).

Kaitannya dengan penyadapan, menurut pengaturannya, selain UU No.36/1999, juga masuk dalam tindakan atau perbuatan yang dilarang.

Hal dapat kita jumpai pada Pasal 31 Ayat (1) UU No.19/2016, disebutkan, bahwa:

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik Orang lain.”

Meskipun, memang pada ketentuan umum UU No.19/2016, tidak juga disebutkan, tentang pengertian mengenai penyadapan. Tetapi, pada penjelasan Pasal 31 Ayat (1) UU No.19/2016, disebutkan bahwa Intersepsi atau penyadapan adalah kegiatan untuk mendengarkan, merekam, membelokkan, mengubah, menghambat, dan/atau mencatat transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik, baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun jaringan nirkabel, seperti pancaran elektromagnetis atau radio frekuensi.

Sanksi pidana terhadap perbuatan penyadapan atau intersepsi menurut UU No.11/2008 khususnya Pasal 47, bahwa:

“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapanratus juta rupiah).”

Jadi, dapat kita lihat bahwa sanksi tindakan penyadapan menurut UU No.11/2008 lebih rendah bila dibandingkan dengan ketentuan pidana pada UU No.36/2009. Namun, yang jelas tindakan penyadapan merupakan perbuatan yang secara tegas dilarang oleh hukum, kecuali yang secara jelas ditentukan lain.

Pengecualian terhadap sanksi pidana penyadapan adalah tindakan yang kaitannya dengan penegakan hukum, artinya penyadapan dapat dilakukan untuk maksud dan tujuan penegakan hukum. oleh pejabat yang berwenang. Misalnya, Polisi atau Jaksa.

Ketegasan ini, dapat kita jumpai pada Pasal 31 Ayat (3) UU No.19/2016, yaitu:

“Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku terhadap intersepsi atau penyadapan yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, atau institusi lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang.”

Selain polisi dan jaksa, institusi lainnya yang ditetapkan memiliki kewenangan penyadapan oleh Undang Undang adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena menurut Undang Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU No.30/2002), pada Pasal 12 disebutkan dengan jelas salah satu kewenangan KPK yaitu melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan.

Dengan demikian, semua perbuatan penyadapan maupun mengakses Sistem Elektronik dengan cara apapun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tanpa izinSelain oleh pejabat yang berwenang dan demi alasan penegakan hukum, hal tersebut merupakan perbuatan yang dilarang dan memiliki ancaman pidana, baik pidana penjara maupun pidana denda.

Semoga artikel ini bermanfaat.

source

Pentingnya Beretika Dalam Bertutur Kata

Pentingnya Beretika Dalam Bertutur Kata


Saat bersosialisasi, kita berkomunikasi dengan lingkungan kita. Berbicara, bereaksi, atau sekadar menyapa. Tapi… pada ngeh gak sih kalo cara berkomunikasi kita bisa biking orang bingung, atau justru tersinggung?

Mulai dari bahasa yang digaul-gaulin sampe sikap tubuh saat berbicara yang terkesan acuh tak acuh. Akibatnya, komunikasi bisa gak efektif karena pesan utama gak sampai. Biar gak kejadian yang seperti ini, kita mesti tahu tata cara atau etika berbicara yang baik, antara lain:

  • Fokus dan tatap mata lawan bicara. Kontak mata selama pembicaraan berlangsung akan membuat lawan bicara merasa didengarkan dan dihargai. Kita pun akan mudah menangkap maksud pembicaraan.
  • Bicara jelas dengan intonasi yang baik. Bicara dengan jelas, jangan berbelit-belit agar lawan bicara gak bingung menangkap maksud kita. Nada suara pun harus diperhatikan apa lagi jika berbicara dengan orang yang lebih tua. Hindari nada suara keras dan ketus agar gak menimbulkan salah paham.
  • Tunjukan ekspresi muka yang ceria. Ekspresi ceria akan membuat orang lain merasa nyaman saat bicara. Lain hal jika kita pasang muka cemberut, gak cuma bikin orang lain malas bicara sama kita, tapi juga membuat kesan kita gak bersahabat.
  • Memakai bahasa yang baik dan sopan. Hindari mengucapkan kata kasar atau kotor saat berbicara. Hal ini akan menimbulkan pandangan yang gak baik pada kita.
  • Hindari bisik-bisik. Sikap ini sering kali membuat orang lain tersinggung. Jika emang ada sesuatu hal yang serius lebih baik bicarakan baik-baik biar gak salah paham.

Seperti Apa Rasulullah SAW Berbicara?

Rasulullah saw adalah figur dakwah dengan sifat dan kepribadian yang sempurna. Dan tutur kata ini merupakan salah satu faktor yang sangat beliau jaga nilai-nilai keluhurannya dalam perjalanan dakwahnya. Karena beliau mengerti bahwa sesungguhnya tutur kata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hati para pendengarnya (umatnya). Tutur kata yang buruk tentu saja akan memberikan imbas, respon, atau efek yang buruk pula. Sebaliknya, tutur kata yang baik dan mulia tentunya akan menghasilkan respon dan efek yang baik pula bagi para pendengarnya dan juga penuturnya itu sendiri.

Tidak hanya ketika bertutur kata dengan para sahabat atau keluarga dekat saja, tidak pula hanya kepada orang-orang yang memiliki jabatan yang tinggi di dunia saja, dan tidak pula hanya kepada orang-orang lemah Rasulullah bertutur dengan penuh kemuliaan. Beliau senantiasa bertutur kata dengan sangat baik kepada siapapun yang menjadi lawan bicara atau pendengarnya tanpa pilah-pilih. Kepada para isterinya, kepada para sahabatnya, kepada para pengikutnya, bahkan kepada orang-orang yang membencinya beliau senantiasa menjaga tutur katanya dengan sangat baik.

Rasulullah saw senantiasa bertutur kata dengan nada yang perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa sehingga mudah untuk didengar, dipahami, dan diterima. Rasulullah saw senantiasa hati-hati dalam berbicara, baik dari segi nada, isi, dan kecepatannya. Sehingga tutur kata Rasulullah saw tidak hanya dapat didiengar, dipahami, dan diterima saja oleh para pendengar, melainkan juga dapat dihafal dengan tidak terlalu sulit. Istri Rasulullah saw, ‘Aisyah ra. berkata:

“Rasulullah tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yakni berbicara dengan nada cepat). Namun beliau berbicara dengan nada perlahan dan dengan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah saw adalah figur dakwah yang rendah hati dan penuh dengan ketulusan. Beliau senantisa menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan penuh bijaksana, yaitu dengan senantiasa memperhatikan dan menyesuaikan tingkat intelektualitas pendengar atau target dakwahnya. Tutur kata Rasulullah saw senantiasa mampu membaur terhadap berbagai lapisan masyarakat yang terdiri atas berbagai latar belakang pendidikan dan tingkat intelektual yang berbeda-beda. Kemampuan beliau untuk dapat menyesuaikan tutur katanya dengan kualitas intelektual umatnya itulah yang menjadi salah satu faktor yang dapat menyentuh hati setiap manusia. Rasulullah saw bersabda:

“Tenangkanlah dirimu! Sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah putera seorang wanita yang biasa memakan dendeng.” (HR. Ibnu Majah)

Tutur kata yang dihiasi dengan kesabaran dan kerendahan hati senatiasa tercipta dari lisan Rasulullah saw. Dengan tutur katanya, Rasulullah saw mampu meluluhkan hati yang yang keras, memberikan rasa aman dan nyaman, namun tetap menggetarkan hati musuh-musuh Allah swt. Sebagai seorang figur dakwah, Rasulullah saw juga tidak pernah sungkan untuk mengulang-ngulang perkataannya sebanyak tiga kali agar para pendengarnya dapat benar-benar memahami apa yang beliau katakan.

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengungkapkan kepada kita: “Rasulullah sering mengulangi perkataannya tiga kali agar dapat difahami.” (HR. Al-Bukhari)

Kesantunan tutur kata Rasulullah saw juga digambarkan oleh Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra., ia berkata:

“Tutur kata Rasulullah sangat teratur, untaian demi untaian kalimat tersusun dengan rapi, sehingga mudah difahami oleh orang yang mendengarkannya.” (HR. Abu Daud)

Subhanallah, begitu mulianya akhlak dan sifat Rasulullah saw. Beliau yang merupakan kekasih Allah swt yang berkedudukan mulia, namun senantiasa sudi bahkan ikhlas untuk bertutur kata dengan penuh kerendahan hati, sabar, dan santun. Tidak pernah Rasulullah saw bertutur kata dengan angkuh atau emosi. Dan seperti inilah seharusnya para kader-kader dakwah Islam dalam bertutur kata untuk menyampaikan kalimat Islam.

Bagaimana cara menjaga lisan, apa saja bahaya lisan, nikmat lisan, hal-hal yang diakibatkan jika kita tidak menjaga lisan?

Lisan sebenarnya hanyalah salah satu dari anggota tubuh. Di pelajaran biologi, sejak SD, kita sudah mengenalnya dengan nama lidah. Uniknya, lisan seolah menjadi cerminan bagian terpenting dari anggota tubuh lain, yakni hati. Jika baik dirinya, baik pula seluruh tubuhnya. Jika buruk dirinya, buruk pulalah tubuhnya. Lisan bisa menyebabkan seseorang dimasukkan ke surga, namun karena lisan pulalah seseorang bisa dilempar ke neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Sesungguhnya lisan adalah sebuah nikmat dari Allah bagi manusia. Dengan lisan, seruan untuk beramar ma’ruf nahi munkar bisa diserukan. Kalimat-kalimat nasihat bisa diucapkan. Dengannya pula dzikir dhohir kita bisa dilafalkan. Bayangkan jika tidak ada lisan di dunia ini? Tidak ada adzan yang berkumandang, tidak ada khutbah yang diperdengarkan dalam majelis-majelis ilmu. Tidak ada seruan lantang untuk menegakkan dien-Nya.

Dari lisan pulalah akan tergambar keluhuran budi seseorang, kemuliaan akhlaknya, kecerdasan intelektualnya, serta ketaqwaan dan keshalihannya. Masya Allah.. Nah, jika dikaitkan dengan bahasan dzikir kemarin, seseorang yang senantiasa berdzikir, mengingat Allah, akan sadar bahwa setiap perbuatannya –termasuk perkatannya- akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Maka, dengan penuh iman ia akan menjaga lisan dari membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, menyakiti saudaranya, apalagi sampai berbuat ghibah, dusta, namimah, mencela, dll.

Barangkali saking pentignya lisan dalam dien kita, Rasulullah menjanjikan surga kepada orang yang senantiasa mampu menjaga lisannya. Dalam sabdanya, Rasulullah saw menerangkan,” “Barangsiapa yang memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) kejahatan lisan yang berada di antara dua tulang rahangnya, dan kejahatan kemaluanyang berada di antara kedua kakinya, niscaya aku akan memberikan jaminan surga kepadanya.” (HR. al-Bukhari).

“Apabila anak cucu Adam masuk waktu pagi hari, maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan, seraya berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami, karena kami mengikutimu, apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan apabila kamu bengkok, maka kami pun bengkok’.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Cara Menjaga Lisan dari Hal-hal yang Buruk

  1. Hemat kata-kata. Walaupun secara hukum bersifat mubah dan tidak termasuk ke dalam hal yang dilarang, menjaga lisan dari perkataan yang tidak perlu adalah lebih baik. Bahkan, khalifah Umar pernah berkata,”Orang yang banyak bicara adalah saudara kandung setan.” Astaghfirullah, naudzubillahi min dzalik.
  2. Menjaga lisan dari komentar-komentar yang tidak perlu. Rasulullah saw bersabda,”Diantara tingginya kualitas agama seseorang adalah ketika ia meninggalkan komentar yang tidak dibutuhkan.”
  3. Menghindari kata-kata kotor . tidak ada sesuatu yang paling memberatkan timbangan amal seorang hamba di hari kiamat selain akhlak mulia, dan Allah Subhanahu wa ta’ala sangat membenci perkataan kotor lagi jorok “. ( HR Tirmidzy )
  4. Berkata dengan perkataan yang BENAR. yang pasti kita harus yakin bahwa apa yang kita katakan adalah benar dan tidak mengandung kebohongan. Sekali lagi perlu diingat, bahwa setiap hal akan ditagih pertanggungjawaban di hadapan-Nya kelak!
  5.  Berbicara sesuai dengan tempat dan lawan bicara kita. Tentu saja karena akan berbeda ketika kita berbicara dengan anak kecil, beda lagi ketika bicara dengan orang tua. “Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam”Artinya, “Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula.”

Akan berbeda lagi jika lawan bicara kita sedang dalam keadaan bahagia, dan akan lebih berbeda lagi jika kita harus menjelaskan persoalan agama kepada saudara kita yang masih awam. Membawa dalil mungkin tidak akan mempan. Dari situlah kita dituntut menjaga lisan agar pas maksud yang ingin disampaikan dan tidak menyakiti lawan bicara kita.

  1. Menjaga kehalusan tutur kata. Dalam bukunya, Salim A.Fillah menjelaskan bahwa kerlingan mata yang tajam dan jika itu menimbulkan prasangka maka akan diadili, apalagi perkataan yang kita ucapkan.
  2. Tidak semua hal yang kita dengar bisa kita katakan.

Rasulullah saw bersabda, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, ‘Cukuplah kebohongan bagi seseorang jikalau ia menceritakan semua yang ia dengar.’” (HR Muslim [5]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)

  1. Menghindarkan diri dari najwa, ngobrol sendiri dengan yang lain sementara ada satu yang diacuhkan. QS An-Nisa [4]: 114, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”

 “Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syafi’i menjelaskan makna hadits di atas adalah, “Jika engkau hendak berkata maka berfikirlah terlebih dahulu, jika yang nampak adalah kebaikan maka ucapkanlah perkataan tersebut, namun jika yang nampak adalah keburukan atau bahkan engkau ragu-ragu maka tahanlah dirimu (dari mengucapkan perkataan tersebut).” (Asy-Syarhul Kabir ‘alal Arba’in An-Nawawiyyah)

Pastikan gaya bicara kita jangan merendahkan orang lain, karena diri kita ingin dihargai, hal itu justru menunjukkan kerendahan diri kita. Karena mulut itu bagai moncong teko, hanya mengeluarkan isi teko, di dalam kopi keluar kopi, di dalam teh keluar teh, di dalam bening keluar bening. Maka berbahagialah bagi yang ucapannya keluar dari mulutnya bagai untaian kalung mutiara.

Berbicara memang bebas dilakukan, tetapi sesuaikan dengan kondisi, tempat dan dengan siapa kita berbicara.

 

Referensi :

Mengulas Jejak Erick Thohir

Mengulas Jejak Erick Thohir


Erick Thohir adalah seorang pengusaha asal Indonesia dan pendiri Mahaka Group yang merupakan perusahaan induk dari perusahaan yang memiliki fokus pada bisnis media dan entertainment. Berbagai unit usaha Mahaka seperti di bidang penyiaran (broadcast) yakni Gen FM & Jak FM, stasiun televisi Jak tv, media luar ruang (out of home) Mahaka Advertising, penerbitan (publishing) yakni Harian Republika,Golf Digest, digital yakni Rajakarcis.com dan berbagai perusahaan lainnya yang bergerak di bisnis olahraga dan hiburan.

Erick adalah anak dari Teddy Thohir, Saudaranya, Garibaldi “Boy” Thohir, adalah seorang bankir investasi. Ia juga memiliki kakak perempuan bernama Rika. Tohir kecil turut membantu bisnis keluarga.


Ia mengakuisi klub sepakbola Italia yang berlaga di seri A yakni F.C. Internazionale Milano (Inter Milano) pada November 2013. Erick Thohir dipercaya sebagai presiden klub ke 21 dalam 106 tahun sejarah klub tersebut. Bersamaan dengan itu, ia juga memiliki klub sepakbola Amerika, D.C. United dan juga pernah sebagai pemilik klub bola basket NBA Philadelphia 76ers.

Lahir 30 Mei 1970(umur 47)
Pekerjaan
    • Pendiri & Komisaris Utama Mahaka Group
    • Pemilik & Presiden klub Internazionale(Inter Milano)
    • Pemilik klub D.C. United
    • Presiden Direktur Antv
Agama Islam
Suami/istri Elizabeth Tjandra
Orang tua Teddy Thohir

Pada tahun 1993 Erick lulus program Master untuk Bisnis Administrasi (Master of Business Administration) dari Universitas Nasional California, Amerika Serikat. Sebelumnya memperoleh gelar sarjana (Bachelor of Arts) dari Glendale University.

Sekembalinya ke Indonesia, bersama beberapa rekan semasa kuliahnya ia mendirikan Mahaka Group. Perusahaan ini membeli Republika pada tahun 2001 saat berada di ambang kebangkrutan. Ia mendapat bimbingan dari ayahnya serta pendiri  Kompas dan pendiri Jawa Pos. Mahaka Group melebarkan potensinya dengan mendirikan perusahaan media luar ruang bernama Mahaka Advertising seiring bertubuhan ekonomi dan masyarakat perkotaan pada tahun 2002.

Setelah meluncurkan stasiun televisi Jak tv untuk memperkuat positioning sebagai bisnis yang fokus pada masyarakat perkotaan di tahun 2005, Mahaka memperkenalkan radio 98.7 Gen FM & 101 Jak FM serta penyertaan pada PT Radionet Cipta Karya (Prambors FM, Delta FM dan FeMale Radio) serta berbagai perusahaan yang bergerak di bidang periklanan, hburan dan digital. Ia juga pendiri dari organisasi amal Darma Bakti Mahaka Foundation dan Dompet Dhuafa Republika. Di tahun 2008, bersama Anindya Bakrie mendirikan tvOne dan situs berita, Viva news. Pada tahun 2014 ia menjabat sebagai Direktur Utama Antv hingga sekarang.


Erick yang gemar olahraga bola basket pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PERBASI) periode 2006–2010 dan menjabat sebagai Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) periode 2006 – sekarang. Tahun 2012 ia dipercaya sebagai Komandan Kontingen Indonesia untuk Olimpiade di London. Ia menjadi orang Asia pertama yang pernah memiliki Tim bola basket NBA ketika ia membeli saham Philadelphia 76ers. Pada tahun 2012, Erick dan Levien menjadi pemilik saham mayoritas sebuah klub Major League Soccer, D.C. United.


Ia percaya akan potensi bisnis sepakbola dan dibuktikannya pada September 2013, presiden dan pemilik klub Internazionale (Inter Milano), Massimo Moratti pada saat itu mengkonfirmasi pembicaraan untuk penjualan saham mayoritas 70% kepada Erick. Pada tanggal 15 Oktober 2013 setelah melalui proses negosiasi yang panjang, melalui International Sport Capital yang dipimpin oleh Erick secara resmi menjadi pemegang saham mayoritas dengan memiliki saham klub sebesar 70%. Pada tanggal 15 November 2013, Erick dipercaya sebagai presiden klub Inter Milan menggantikan Moratti hingga saat ini.

Erick Thohir juga menjadi penulis buku yang berjudul Pers Indonesia di Mata Saya yang diluncurkan tahun 2011 oleh penerbit Republika.

Referensi :

  1. https://wikipedia.org/wiki/Erick_Thohir
  2. ^ Jakarta Globe 2009, Indonesian Media Manager.
  3. ^ Republika 2011, Erick Thohir Luncurkan Buku.
  4. ^ The Jakarta Post 2011, Erick Thohir becomes.
  5. ^ Globe Asia 2012, New media magnates.
  6. ^ Simon Borg (10 Juli 2013). “DC United introduce new investors Thohir and Levien”. MLSsoccer.com. Diakses tanggal 25 November 2013.
  7. ^ “organisation chart”. inter.it. Diakses tanggal 25 November 2013
  8. Veda, Titania. “Indonesian Media Manager a Man On a Mission”Jakarta Globe (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslitanggal 22 Juli 2009. Diakses tanggal 12 Januari 2012.
  9. “VIVA Group Leadership Team”VIVA Group 2011 (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013.Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date= (bantuan)
  10. Zaim Uchrowi (2004). Menggagas renaisans Indonesia (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Penerbit Republika. ISBN 979-3210-41-9.
  11. “Erick Thohir Terpilih Lagi Jadi Presiden SEABA”Republika (dalam bahasa Indonesia). 20 April 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013. Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date=(bantuan)
  12. “Presiden Lepas 21 Atlet Indonesia Peserta Olimpiade London”PresidenRI.go.id(dalam bahasa Indonesia). 16 Juli 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013.Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date= (bantuan)
  13. Goff, Steven (11 Juli 2012). “D.C. United’s new investors Erick Thohir, Jason Levien should boost quest for stadium”The Washington Post (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Januari 2013. Diakses tanggal 27 Januari2013.
  14. “The First Asian to Own an NBA Team”AseanBasketballLeague.com (dalam bahasa Inggris). 19 October 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013.Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date= (bantuan)
  15. “Erick Thohir becomes first Asian to own NBA team”The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). 20 Oktober 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 Januari 2012. Diakses tanggal 12 Januari2012.
  16. “Moratti vede Thohir. Primo faccia a faccia per l’Inter indonesiana”La Gazzetta dello Sport (dalam bahasa Italia). 28 Mei 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 Mei 2013. Diakses tanggal 30 Mei 2013.Parameter |trans_title= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)
  17. “Erick Thohir Tegaskan Keseriusan Beli Saham Inter”Inilah.com (dalam bahasa Indonesia). 3 Juni 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013. Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date=(bantuan)
  18. “Erick Thohir Luncurkan Buku ‘Pers Indonesia di Mata Saya'”Republika(dalam bahasa Indonesia). 01 Maret 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013.Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |date=, |archive-date= (bantuan)
  19. “Erick Thohir Bertemu Pemilik Inter Milan”Republika. Diarsipkan dari bola/liga-indonesia/13/05/29/mnk0h1-erick-thohir-bertemu-pemilik-inter-milan versi asliPeriksa nilai |url= (bantuan) tanggal 12 Januari 2012. Diakses tanggal 12 Januari2012.
  20. “Anggota Konsorsium PERSIB Beli DC United”Persib.co.id (dalam bahasa Indonesia). Diarsipkan dari versi aslitanggal 03 Juni 2013. Diakses tanggal 03 Juni 2013. Periksa nilai tanggal di: |access-date=, |archive-date=(bantuan)
  21. Nonto, Albertus Weldison; Soegiarto, Yanto (30 Juni 2011). “New media magnates”Globe Asia (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 Januari 2012. Diakses tanggal 12 Januari2012.
  22. Satwiko, Wimbo (23 Oktober 2011). “Media Magnate Breaks New Ground With Philadelphia 76ers”Jakarta Globe (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslitanggal 12 Januari 2012. Diakses tanggal 12 Januari 2012.

 

PAN, Amien Rais dan Kiprahnya

PAN, Amien Rais dan Kiprahnya


Partai Amanat Nasional (PAN) merupakan salah satu partai yang lahir pada era reformasi.

Partai yang didirikan sejumlah aktivis reformasi itu dideklarasikan pada Agustus 1998.

PAN berawal dari sekumpulan aktivis reformasi yang tergabung dalam Majelis Amanat Rakyat (Mara), salah satu organ gerakan reformasi yang turut menumbangkan Presiden Soeharto dari tampuk kepemimpinan selama 32 tahun.

Setelah Soeharto lengser, sejumlah aktivis dari Mara di antaranyaAmien Rais, Faisal Basri, dan Albert Hasibuan melanjutkan perjuangan politiknya ke ranah praktis dengan mendirikan PAN.

Awalnya, partai yang diketuai Amien Rais itu bernama Partai Amanat Bangsa. Namun, saat deklarasi resmi pada 23 Agustus 1998, berganti nama menjadi Partai Amanat Nasional (PAN).

Amien Rais yang kala itu menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah sukses menarik banyak kader ormas keagamaan itu untuk bergabung ke PAN.

Kiprah PAN di panggung politik Indonesia masih berlanjut hingga kini. Diawali dengan kontestasi Pemilu 1999, PAN akan kembali bertarung dengan 13 parpol lainnya pada Pemilu 2019 dengan nomor urut 12.

Jejak di pemilu

1999

PAN pertama kali ikut pemilu pada 1999. Saat itu, PAN meraih 7,4 persen suara dan berhak memperoleh 34 kursi di DPR.

Meski hanya memperoleh 34 kursi DPR, PAN mampu menjadi motor utama dalam koalisi partai-partai Islam yang dikenal dengan istilah poros tengah.

Poros tengah yang saat itu terdiri dari partai-partai Islam seperti PKB, PAN, PBB, PPP, dan Partai Keadilan (sekarang PKS) mengusung Ketua Dewan Syuro PKB Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon presiden.

Gus Dur harus berhadapan dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan calon dari Golkar Bacharuddin Jusuf Habibie.

Melalui lobi politik, poros tengah yang dimotori Amien Rais akhirnya berhasil membujuk Golkar untuk mendukung Gus Dur yang akhirnya mampu mengalahkan Megawati.

Amien Rais pun menduduki posisi sebagai Ketua MPR.

2004

Pada Pemilu 2004, PAN meraih 6,4 persen dan mendapatkan 53 kursi DPR.

Sementara itu, pada Pemilihan Presiden 2004, PAN yang mengusung Amien Rais sebagai calon presiden berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo sebagai calon wakil presiden.

Pasangan ini hanya sampai pada putaran pertama dengan raihan 14,66 persen suara.

2009 & 2014

Pada Pemilu 2009, PAN meraih 6 persen suara dan mendapatkan 43 kursi DPR, dan meningkat pada Pemilu 2014 PAN dengan 7,6 persen suara dan mendapatkan 48 kursi DPR.

Pada Pemilihan Presiden 2014, PAN mengusung ketua umumnya, Hatta Rajasa, sebagai cawapres berpasangan dengan Ketua Dewan Pembina (sekarang ketua umum) Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Pasangan Prabowo-Hatta kalah dari Joko Widodo-Jusuf Kalla.

2019

Pada Pemilu 2019, PAN menargetkan perolehan suara dua digit.

Dalam pidato singkat saat pengundian nomor urut peserta Pemilu 2019, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan mengajak seluruh partai dan pemilih untuk tidak melupakan persatuan dan kesatuan bangsa selama Pemilu 2019 berlangsung.

“Warna boleh beda. Partai boleh beda, tapi merah putih kita sama,” ujar Zulkifli.

Protes

Aktivis 98 mencurigai adanya beberapa pihak yang ingin menumpang nama dan memanfaatkan aksi mahasiswa dan rakyat dalam menggulingkan rezim Presiden Soeharto tahun 1998.

Salah satu yang menjadi sorotan yakni politikus senior Amien Rais.

Untuk itu, sejarah pergerakan reformasi tahun 1998 harus segera diluruskan.

Hal itu disampaikan oleh aktivis 98, Wahab dalam diskusi “Refleksi 20 Tahun Reformasi” yang diselenggarakan oleh PENA 98 di Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (27/4/2018).

“Kita protes keras kepada Pak Amien Rais ketika mengklaim dirinya sebagai bapak reformasi. Saya protes, Adian Napitupulu juga protes,” kata Wahab.

“Kami-kami ini fakta dari pelaku sejarah, kami saja tidak berani mentokohkan diri kami sebagai tokoh reformasi,” jelasnya.

Diketahui, kegiatan refleksi 20 tahun reformasi menghadirkan sembilan sesi diskusi terkait pergerakan tahun 1998.

Diskusi akan diselengrakan setiap 3 hari sekali dalam satu bulan.

Beberapa tema diskusi yang akan diselengarakan PENA 98 antara lain refleksi 20 tahun reformasi pada 27 April 2018, gerakan buruh pascareformasi pada 28 April 2018, gerakan mahasiswa dari masa ke masa pada 2 Mei 2018, ekonomi kerakyatan dari rezim ke rezim pada 3 Mei 2018.

Media melawan hoaks pada 7 Mei 2018, politik Indonesia pascareformasi pada 10 Mei 2018, kedaulatan pangan pascareformasi pada 13 Mei 2018, membangun kedaulatan energi pascareformasi pada 16 Mei 2018 dan tanah untuk rakyat pada 19 Mei 2018.

Dihapus Dari Buku Pelajaran Sejarah

Melalui akun instagramnya @hanumrais, putri Amien Rais bercerita tentang situasi jelang reformasi 1998 dan upaya penghapusan jejak sejarah Amien Rais sebagai Pahlawan Reformasi. Berikut ini kutipannya :

“Melihat video ini, ingatanku terlempar ke beberapa hari sebelum Pak Harto lengser. Saat itu ia mengundang seluruh tokoh lintas agama, ulama, ketum ormas, hingga para jendral. Hanya 1 yang tak diundang, Ketum PP Muhammadiyah saat itu, Amien Rais. Saya, bocah 16.5 th merasa seharusnya Bapak juga diundang dong. Bapak mengelus kepala anak perempuannya yg pemikirannya msh kerdil. Si anak lupa, bhw Daud tidak akan pernah bekerjasama dgn Jalud. Melihat video ini perasaanku gemetar, bisa saja Izrail menjemput Bapak diantara kerumunan manusia, jika ada timah panas melesat dari sniper yg merupakan soalan mudah bagi penguasa. Saya melihatnya nanar, LIVE dari televisi: ya Allah itu Bapak, memimpin suksesi kepemimpinan nasional dgn berani dan tetap tawadu’

3 hari kemudian, atas ijin Allah, Pak Harto mundur. Tanpa pertumpahan darah. Tanpa revolusi. Jernih dan smooth. Seorang Amien Rais bersama ratusan ribu mahasiswa ditabal ‘Bapak Reformasi’ atau tokoh Reformasi.

Sekian belas tahun kemudian, anak perempuannya datang lagi mengadu padanya, dengan setumpuk kekecewaan. “Pak tahu nggak, skrg ini nama Bapak ditenggelamkan, disamarkan bahkan dihilangkan dari buku sejarah anak SD-SMA. Tidak ada lagi yang mengenal Amien Rais. Bahkan media rame-rame meminggirkannya dalam peringatan Reformasi.

Tidak ada lagi cerita reformasi dipimpin oleh Bapak 20 th lalu”, kesanku dgn kesal. Bapak hanya tersenyum. Lagi-lagi, anak gadisnya masih berpikir kerdil. Bapak jelas kecewa jika perjuangannya hanya dimeteri dgn sebatas nama dalam buku sejarah. Dimateri dengan pujian tepuk tangan generasi muda. “Num, yg menobati Bapak Pahlawan Reformasi itu manusia. Bapak jg tidak pernah meminta. Itu hanya bonus. Ingatlah, apapun yg kamu lakukan harus krn Allah. Kalau krn Allah, jadi enteng. Dipuji kepala tak mengembang, dicaci maki hati pun hati tak mengempis. Kamu belajarlah ikhlas. Jgn berhenti di mulut dan cita-cita, tapi dijalani”

Dari seorang @amienraisofficial kami belajar bahwa hal terhebat yg didamba seorang beriman adlh namanya dicatat dlm ingatan Allah SWT bukan sejarah. Dan sebaik-baik julukan bagi manusia bukanlah pahlawan, melainkan husnul khaatimah saat berpulang.


Profil

Nama Lengkap

  • Prof. Dr. H. Muhammad Amien Rais MA

Alias

  • Amien Rais

Agama

  • Islam

Tempat Lahir

  • Surakarta, Jawa Tengah

Tanggal Lahir

  • Rabu, 26 April 1944

Zodiak

  • Taurus

Warga Negara

  • Indonesia

Ayah

  • Syuhud Rais

Istri

  • Kusnariyati Sri Rahayu

Ibu

  • Sudalmiyah

Anak

  • Ahmad Mumtaz Rais

Saudara

  • Abdul Rozaq Rais, Hanafi Rais
Pendidikan
  • George Washington University (postdoctoral degree, 1988-1989)
  • Chicago University, Chicago, USA (gelar Ph.D dalam ilmu politik 1984)
  • Al-Azhar University, Cairo, Mesir (1981)
  • Notre Dame Catholic University, Indiana, USA (1974)
  • Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Mada (lulus 1968)
Karir
  • Ketua MPR (1999-2004)
  • Ketua Umum Partai Amanat Nasional, 1999
  • Ketua Muhammadiyah (1995-2000)
  • Anggota Grup V Dewan Riset Nasional (1995-2000)
  • Peneliti Senior di BPPT (1991)
  • Direktur Pusat Kajian Politik (1988)
  • Wakil Ketua Muhammadiyah (1991)
  • Asisten Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (1991-1995)
  • Pengurus Muhammadiyah (1985)
  • Dosen pada FISIP UGM (1969-1999)
Penghargaan
  • Zainal Zakse Award dari tabloid Mahasiswa Indonesia dan Harian Kami

Karya/Penelitian

  • Prospek Perdamaian Timur Tengah 1980-an (Litbang Deplu RI)
  • Perubahan Politik Eropa Timur (Litbang Deplu)
  • Kepentingan Nasional Indonesia dan Perkembangan Timur Tengah1990-an (Litbang Deplu)
  • Zionisme: Arti dan Fungsi (Fisipol, UGM)
  • Melawan Arus: Pemikiran dan Langkah Politik Amien Rais Jakarta: Serambi, 1999
  • Amien Rais Menjawab Isu-isu Politik Kontroversialnya, Bandung: Mizan, 1999
  • Amien Rais Sang Demokrat, Jakarta: Gema Insani Press, 1998
  • Suara Amien Rais, Suar Rakyat, Jakarta: Gema Insani Press, 1998
  • Membangun Kekuatan di Atas Keberagaman, Yogyakarta: Pustaka SM, 1998
  • Membangun Politik Adiluhung: Membumikan Tauhid Sosial, MenegakkanAmar Ma’ruf Nahi Munkar, Bandung: Zaman Wacana Mulia, 1998
  • Tauhid Sosial, Formula Menggempur Kesenjangan, Bandung: Mizan, 1998
  • Melangkah Karena Dipaksa Sejarah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998
  • Mengatasi Krisis dari Serambi Masjid, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998
  • Suksesi dan Keajaiban Kekuasaan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997
  • Refleksi Amien Rais, Dari Persoalan Semut Sampai Gajah, Jakarta, Gema Insani Press, 1997
  • Visi dan Misi Muhammadiyah, Yogyakarta: Pustaka SM, 1997
  • Demi Kepentingan Bangsa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996
  • Tangan Kecil, Jakarta: UM Jakarta Press, 1995
  • Moralitas Politik Muhammadiyah, Yogyakarta: Penerbit Pena, 1995
  • Keajaiban Kekuasaan, Yogyakarta: Bentang Budaya-PPSK, 1994
  • Timur Tengah dan Krisis Teluk, Surabaya: Amarpress, 1990
  • Politik Internasional Dewasa Ini, Surabaya: Usaha Nasional, 1989
  • Cakrawala Islam, Antara Cita dan Fakta, Bandung: Mizan, 1987
  • Tugas Cendekiawan Muslim, Terjemahan Ali Syariati, Yogyakarta: Salahuddin Press, 1985
  • Politik dan Pemerintahan di Timur Tengah, PAU-UGM
  • Orientalisme dan Humanisme Sekuler, Yogyakarta: Salahuddin Press, 1983

Rujukan :

http://manado.tribunnews.com/amp/2018/02/23/sejarah-pan-amien-rais-dan-kiprahnya-sejak-era-reformasi

http://tribunnews.com/nasional/2018/04/28/aktivis-98-protes-amien-rais-klaim-dirinya-sebagai-bapak-reformasi-sejarah-harus-diluruskan

http://sangpencerah.id/2018/05/saat-nama-amien-rais-dihapus-dari-buku-pelajaran-sejarah/

https://merdeka.com/muhammad-amien-rais/profil/