Penghargaan ‘Kontroversial’ Setingkat Pahlawan Nasional Indonesia untuk Misionaris Belanda

Penghargaan ‘Kontroversial’ Setingkat Pahlawan Nasional Indonesia untuk Misionaris Belanda

Franciscus Georgius Josephus Van Lith SJ

Franciscus Georgius Josephus Van Lith SJ


Pada 23 September 2016, laman Gereja Katolik www.parokisantahelena.or.id, memuat tulisan tentang penghargaan pemerintah Indonesia terhadap tokoh Katolik Frans van Lith. Berikut sejumlah petikannya:

“Kabar sukacita! Jumat, 23 September 2016, almarhum Romo Fransiskus Gregorius Van Lith (meninggal tahun 1926 pada umur 62 tahun) akan menerima satya lencana setingkat Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta. Romo Van Lith adalah imam Yesuit yang meletakkan dasar karya Katolik di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Pada 14 Desember 1904 Romo Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono, Kulon Progo. Ke-171 orang tersebut adalah pribumi pertama yang memeluk Katolik. Selain itu, masih banyak lagi kiprah beliau untuk Indonesia tercinta. Ya, meski kelahiran Belanda, Romo Van Lith selalu memperjuangkan kepentingan kaum pribumi. Sungguh, seorang tokoh yang sangat inspiratif!”  (http://www.parokisantahelena.or.id/2016/09/franciscus-georgius-josephus-van-lith/)

Sementara itu, laman Koran The Jakarta Post, 21 September 2016, menulis berita berjudul:“Ismail Marzuki, Van Lith, Martha Tilaar on cultural award winners list.”

“Renowned poet Ismail Marzuki, cosmetic mogul Martha Tilaar and Dutch-born Javanese culture promoter Franciscus Georgius J van Lith are recipients of one of this year’s prestigious culture awards for their outstanding contributions to the promotion of arts and culture in Indonesia.”

Jadi, menurut berita The Jakarta Post tersebut, van Lith mendapat penghargaan bidang budaya karena sumbangannya yang luar biasa dalam bidang  budaya di Indonesia. Sejak tahun 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penghargaan kepada 54 orang bentuk apresiasi pemerintah terhadap penguatan karakter bangsa.  

“It is expected that the honor of receiving an award will spark narratives concerning the preservation of our culture and in turn inspire other people to contribute to arts and culture in Indonesia,” Hilmar Farid, the ministry’s director general of culture, said on Tuesday. (http://www.thejakartapost.com/news/2016/09/21/ismail-marzuki-van-lith-martha-tilaar-on-cultural-award-winners-list.html).

Penghargaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI terhadap Fransiskus Gregorius Van Lith ini menarik untuk kita cermati. Sebab, bagi muslim Indonesia, sosok van Lith dikenang sebagai tokoh misionaris Belanda yang berhasil memurtadkan begitu banyak orang muslim di Jawa.  Mengkafirkan atau memurtadkan orang muslim, bukanlah perkara kecil.  Maka, ada baiknya kita menengok kembali kisah perjalanan Frans van Lith dalam misi pemurtadan kaum muslim di Jawa, sebagaimana pernah kita tulis dalam beberapa Catatan Akhir Pekan.

Seperti ditulis situs Gereja Paroki Santahelena, van Lith disebut sebagai “peletak dasar karya Katolik di Jawa, khususnya Jawa Tengah.”  Artinya, van Lith dianggap sebagai peletak dasar misi Katolik di Jawa.  Sebuah kisah yang dianggap monumental oleh kaum Katolik adalah ketika pada 14 Desember 1904 Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang yang merupakan kaum pribumi pertama yang memeluk Katolik.

Penyebaran agama Kristen dengan strategi budaya Jawa pada dekade pertama abad XX, misalnya, terutama ditempuh oleh kalangan Yesuit dan juga misi Katolik pada umumnya.  Kiprah van Lith dalam soal budaya Jawa pun terkait dengan kiprahnya sebagai misionaris.

Salah satu murid van Lith yang kemudian diangkat sebagai Uskup pribumi pertama adalah Albertus Soegijapranata.

“150 Tahun Frans Van Lith”

Dalam bukunya, Katolik di Masa Revolusi Indonesia (Jakarta: PT Grasindo,  1999, hal. 40-41), Jan Bank menceritakan, bahwa Soegija – panggilan Albertus Soegijapranata — lahir di Solo, 25 November 1896.  Ia masuk agama Katolik saat belajar di sekolah guru di Muntilan yang didirikan oleh Pater Van Lith. Tahun 1919 ia dikirim ke Belanda dan tahun 1922 memasuki Ordo Yesuit. Di sana ia menjadi murid Rektor Willekens. Pada 15 Agustus 1931, Soegija ditahbiskan sebagai pastor oleh Uskup Van Roermond di Maastrict. Tahun 1933, Soegija kembali ke Indonesia dan pada 1934,  ia diangkat menjadi kapelan (pastor pembantu) di Bintaran, sebuah kampung di Yogyakarta. Dua tahun kemudian, ia diangkat mejadi pastor. Tahun 1940, ia diangkat menjadi Uskup.

Buku “Ragi Carita: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an sampai Sekarang”  karya Dr. Th. Van den End dan Dr. J. Weitjens SJ (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, hal. 440)  menuliskan sekilas kisah Soegija bersekolah guru dan mengubah agamanya menjadi Katolik di bawah asuhan van Lith: “Ada beberapa hal yang diutamakan Pastur van Lith: murid-murid Muntilan hidup dalam  internaat-asrama supaya pendidikan sungguh-sungguh membina orang dewasa berkeribadian. Pastur sendiri kerap kali pergi ke Yogya, Solo, dan tempat-tempat lain untuk mencari murid: Kasimo dan Soegija adalah di antara murid-muridnya yang terkenal. Waktu masuk Muntilan, Soegija menyatakan dia ingin sekolah, tak mau jadi Katolik, tetapi pada tanggal 24 Desember 1909 Albertus Soegijapranata dibaptis.”

“Soegija, Van Lith dan Misi Kristen”

Posisi sekolah guru (kweekschool) asuhan van Lith diuntungkan oleh kebijakan pemerintah penjajah Belanda, khususnya di bawah Gubernur Jenderal AF van Idenburg (1909-1916) yang sangat berpihak kepada misi Kristen di Hindia Belanda (Indonesia). Lulusan sekolah ini diberi hak yang sama dengan sekolah milik Belanda untuk menjadi guru di sekolah-sekolah negeri. Perlu dicatat, bahwa bagi masyarakat pada umumnya, saat itu merupakan suatu yang bergengsi jika seseorang dapat diangkat sebagai guru di sekolah-sekolah milik pemerintahan penjajah Belanda.  Dalam buku “Ragi Carita” disebutkan, bahwa lulusan kweekschool Muntilan  “harus berani berkecimpung di seluruh masyarakat Indonesia, menjadi ragi di mana pun mereka bekerja.” (Ibid).

Perkembangan Katolik di Jawa lumayan pesat. Pada tahun 1940 sudah ada sekitar 500 sekolah Katolik, dengan sekitar 56.000 murid dan lebih dari 1.300 guru pribumi.  Pada situasi seperti itulah, pada 4 Agustus 1940, Paus Pius XII mengangkat Albertus Soegijapranata SJ, sebagai Vikaris Apostolik Semarang, sebagai uskup pribumi pertama. Pada 1939, Soegija diangkat sebagai consultor (penasehat) pribumi pertama bagi Superior Serikat Yesus (SJ). (Ibid, hal. 442).

Tentang strategi misi dalam membawa orang-orang Jawa kepada Katolik, Frans van Lith menekankan perlunya para misionaris mempelajari bahasa dan budaya lokal:

“Jika para misionaris ingin membawa orang non-Kristen kepada Kristus, mereka  harus menemukan titik awal bagi penginjilan. Di dalam agama merekalah  terletak hati dari orang-orang ini. Kalau para misionaris mengabaikan ini, mereka juga akan kehilangan titik temu untuk menawarkan kabar gembira dalam hati mereka. Di Pulau Jawa, khususnya, di mana penduduk yang paling maju dari seluruh kepulauan ini tinggal, mempelajari Hinduisme, Budhisme, Islam, dan budaya Jawa adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda. Agama-agama ini telah berkembang, tetapi agama asli tidak pernah tercabut dari hati orang-orang ini.”  (Lihat buku “Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia” oleh Fl. Hasto Rosariyanto SJ,  Yogya: Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2009, hal. 151-152).

Untuk meminta dukungan pemerintah Belanda, Pastor van Lith harus pergi ke Bogor menemui Gubernur Jenderal  van Idenburg.  Kerja kerasnya berhasil, sehingga pada 11 Oktober 1911, Kweekschool-B di Muntilan menerima kunjungan resmi dari Gubernur Jenderal. Setahun kemudian, sekolah ini menerima status disamakan dari pemerintah Belanda. Buku “van Lith” menceritakan bahwa sekolah di Muntilan dan Mendut menjadi tujuan para pelajar dari berbagai daerah. Mereka datang dengan satu hasrat: “mendapatkan pendidikan yang berkualitas agar nantinya memperoleh sebuah pekerjaan yang lebih baik.” (Ibid, hal. 162).

Digambarkan, bahwa saat itu, di Muntilan ada 350 siswa non-asrama dan 150 siswa asrama.  Pola kristenisasi melalui pendidikan, sebagaimana dilakukan van Lith, ternyata cukup efektif. Diceritakan dalam surat Pater I. Vogels kepada para Pater Jesuit di Oudenbosch, tertanggal 24 Oktober 1910: “Jumat lalu ada 53 siswa yang mengikuti ujian masuk, tetapi yang diterima hanya 28 karena kapasitasnya memang tidak bisa lebih dari 115 orang. Sampai sekarang para siswa ini datang sebagai Moslem dan hampir semua dari mereka di kemudian hari menjadi Katolik. Juga 28 siswa yang baru saja diterima itu sebagian besar masih Moslem.” (Ibid, hal. 162).

Pater van Lith  sangat menekankan pentingnya misi Katolik melalui pendidikan. Bahkan, ia berpendapat,  masa depan Gereja Katolik di Indonesia akan ditentukan oleh sumbangannya terhadap pendidikan pribumi. Kata van Lith:“Karya misi mana pun yang tidak mulai dengan atau yang tidak berakar pada pendidikan akan menemui kegagalan.” (Ibid, hal. 206).

Sumber

Misteri Kematian “Kurt Cobain”

Misteri Kematian “Kurt Cobain”

Kurt Cobain adalah legenda dalam dunia musik dunia. Musik grunge yang diciptakannya—hanya dengan jurus tiga chords, musik patah-patah, dan lirik yang simpel namun tegas menyuarakan anti-kemapanan, menghapus dominasi musik pop Michael Jackson selama 20 tahun. Pada tahun 1990, Jacko mengeluarkan album Dangerous namun penjualannya jauh di bawah ekspektasi karena Nirvana, grup musik Kurt bersama Dave Grohl dan Chirs Novoselic, dengan album Nevermind-nya melibas semua yang ada ketika itu.

Kurt juga salah satu tokoh yang menjadi idola sekaligus inspirasi banyak orang. Kurt yang terkenal dengan kalimat “if I die, I’ll go to heaven cos in my life I live in hell,” ini ketika bunuh diri langsung diikuti beberapa orang penggemar beratnya.

Sampai saat ini, para penggemar beratnya masih banyak, ‘taat’ dan setia. Mereka percaya bahwa kematian Kurt Cobain sampai sekarang belum bisa terpecahkan dan menjadi misteri besar untuk mereka

Di salah satu web, pernah tertulis bahwa surat terakhir yang ditemukan kepolisian setempat yang katanya ditulis Kurt Cobain masih mencurigakan. Dokter setempat mengindikasi jika tulisan tersebut adalah tulisan yang menggunakan tangan kanan. Sementara yang semua orang tahu, Kurt Cobain adalah seorang yang KIDAL.

Di situs yang sama juga diceritakan di tahun-tahun terakhir sebelum ia tewas, sebenarnya Kurt Cobain dalam kondisi sehat dan sedang menjalankan terapi untuk menyembuhkan ketergantungannya terhadap obat-obatan terlarang. Di masa rehabilitasinya itu, sebenarnya Kurt Cobain selalu merenung dan tidak kacau. Dia lebih banyak mengurung diri di suatu tempat, pergi, dan datang kembali dengan senyum kepada semua orang.

Dan yang membuat semua orang-orang di sekitarnya terkejut adalah saat Kurt Cobain tertarik mempelajari Islam—ini yang ditutup-tutupi oleh pihak Istri dan personel Nirvana yang lain. Mungkin ini juga yang membuat orang-orang di sekitarnya “membencinya”, bahkan mungkin ini faktor penyebab kenapa Kurt Cobain tiada.

Misteri Kematian Kurt Cobain tidak sampai di situ. Konon, jenazahnya saja masih belum jelas apakah dikubur atau dikremasi.

Inilah isi catatan terakhir yang katanya ditulis Kurt Cobain sebelum dia diberitakan bunuh diri

image by islampos.com

image by islampos.com


“To Boddah”

Speaking from the tongue of an experienced simpleton who obviously would rather be an emasculated, infantile complain-ee. This note should be pretty easy to understand. All the warnings from the punk rock 101 courses over the years, since my first introduction to the, shall we say, the ethics involved with independence and the embracement of your community has proven to be very true. I haven’t felt the excitement of listening to as well as creating music along with reading and writing for too many years now.

I feel guilty beyond words about these things. For example when we’re backstage and the lights go out and the manic roar of the crowd begins, it doesn’t affect me the way in which it did for Freddie Mercury, who seem to love, relish in the love and adoration from the crowd, which is somehting I totally admire and envy. The fact is, I can’t fool you, any one of you. It simply isn’t fair to you or me. The worst crime I can think of would be to rip people off by faking it and pretending as if I’m having 100% fun.

Sometimes I feel as if I should have a punch-in time clock before I walk out on stage. I’ve tried everything within my power to appreciate it (and I do, God believe me I do, but it’s not enough). I appreciate the fact that I and we have affected and entertained a lot of people. I must be one of those narcissists who only appreciate things when they’re gone. I’m too sensitive. I need to be slightly numb in order to regain the enthusiasm I once had as a child. On our last 3 tours, I’ve had a much better appreciation for all the people I’ve known personally and as fans of our music, but I still can’t get over the frustration, the guilt and empathy I have for everyone. There’s good in all of us and I think I simply love people too much, so much that it makes me feel too fucking sad. The sad little sensitive, unappreciative, Pisces, Jesus man. Why don’t you just enjoy it? I don’t know! I have a goddess of a wife who sweats ambition and empathy and a daughter who reminds me too much of what I used to be, full of love and joy, kissing every person she meets because everyone is good and will do her no harm.

And that terrifies me to the point where I can barely function. I can’t stand the thought of Frances becoming the miseraable, self-destructive, death rocker that I’ve become. I have it good, very good, and I’m grateful, but since the age of seven, I’ve become hateful towards all humans in general. Only because it seems so easy for people to get along and have empathy. Only because I love and feel sorry for people too much I guess. Thank you all from the pit of my burning, nauseous stomach for your letters and concern during the past years. I’m too much of an erratic, moody, baby! I don’t have the passion anymore, and so remember, it’s better to burn out then to fade away. Peace, Love, Empathy. Kurt Cobain.

Frances and Courtney, I’ll be at your altar

Please keep going Courtney,

for Frances.

for her life will be so much happier

without me. I LOVE YOU. I LOVE YOU(islampos)

screenshot_2016-09-24-17-17-23_1

Hiduplah dengan Mulai Berpikir Sederhana

Hiduplah dengan Mulai Berpikir Sederhana

Ilustrasi: keprinet.com

Ilustrasi: keprinet.com


Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak memakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.”

Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburu pun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, seekor kijang. Ia pun membiarkannya berlalu.

Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, “Rusa!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami.

Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

Hidup ini akan terasa indah bila dijalani dengan pola pikir yang berawal dari kesederhanaan. Tidak perlu kita memikirkan hal yang tinggi-tinggi dengan mengabaikan yang sederhana. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya bukan dinilai dari tinggi atau rendahnya seseorang. Bila ada kesempatan yang terlihat sederhana, janganlah dulu kita menolaknya, dengan alasan ingin mendapatkan yang lebih tinggi.[islampos]

Suku Cia-Cia, Aroma Korea di Pedalaman Indonesia

Suku Cia-Cia, Aroma Korea di Pedalaman Indonesia

Minat orang-orang Indonesia terhadap bahasa Korsel itu cukup tinggi lho. Salah satunya terbukti dari banyaknya lembaga kursus bahasa Korsel yang masih laris manis sekarang. Tujuan masyarakat mempelajari bahasa negeri ginseng ini sendiri banyak. Ada yang tujuannya untuk traveling, keperluan kerja, atau bahkan se-simple biar nonton drama Korea nggak pakai subtitle.

Memang, mempelajari bahasa Korea bisa lewat kursus, tapi kalau kamu mau cara lain yang lebih asyik mungkin bisa datang ke pemukiman suku Cia-Cia yang ada di Sulawesi Tenggara ini. Percaya nggak percaya, di sini banyak orang yang mahir berbahasa Korea atau yang disebut juga dengan Hangul. Unik, ya? Kenapa bisa begitu, alasannya nggak lain karena orang-orang sana memang sengaja mempelajari bahasa Korea. Implementasinya pun sangar, nggak hanya jadi bahasa keseharian, tapi juga disematkan di jalan-jalan.

Kamu mungkin bertanya-tanya, kenapa suku yang bisa dibilang jauh dari modernitas ini bisa ter-influence untuk mempelajari Hangul. Apakah karena dijajah atau semacamnya? Tentu saja bukan. Ada beberapa alasan khusus kenapa hal ini bisa terjadi. Jawabannya ada di ulasan berikut.

Adalah hal penting bagi anak-anak untuk mengetahui budaya di tempat mereka lahir dan tinggal. Nggak hanya untuk tujuan melestarikan tapi juga sebagai penguat identitas. Sayangnya, dalam hal ini suku Cia-Cia mengalami problematika serius. Anak-anak suku ini sudah mulai tak tahu budaya, termasuk bahasa mereka sendiri yakni Cia-Cia.

Bahasa daerah adalah bagian dari budaya yang sangat penting. Ibaratnya seperti kunci untuk membuka banyak pintu. Anak-anak Cia-Cia yang tak mengerti bahasa sendiri dikhawatirkan akan membuat suku ini musnah kulturnya ketika para sesepuh sudah tiada. Lantaran ini adalah hal krusial, kemudian disiasati cara agar anak-anak mau mempelajari bahasanya sendiri. Akhirnya didapati solusi dengan mengajarkan Hangul alias bahasa Korea.

Kenapa bahasa Korsel bisa dipakai di sini, hal tersebut diawali dari Walikota Bau-Bau bernama Abidin yang curhat kepada seorang profesor bernama Chun Thai Yun. Kepada sang profesor, Abidin mengatakan jika bahasa Cia-Cia mengalami pemudaran karena tak memiliki aksara. Curhatan ini kemudian membawa profesor Yun untuk menceritakannya lagi kepada teman-temannya yang ada di Seoul, Korsel.

Singkat cerita, setelah para ahli di Korsel mempelajari bahasa Cia-Cia, akhirnya diputuskan jika Hangul bisa dipakai sebagai aksaranya. Hal ini kemudian disebarkan dan akhirnya diterima dengan antusias terutama oleh para pengajar di sekolah. Berawal dari sini, Hangul pun sangat populer di Cia-Cia.

Keputusan untuk memakai aksara Hangul sebagai metode penulisan untuk bahasa Cia-Cia, bukan tanpa pertimbangan dan asal cocok saja. Hal ini sudah melewati tahap analisa mendalam oleh para profesor di Korsel sana. Menurut para pengajar Hangul di Cia-Cia, bahasa negeri ginseng itu memang bisa mewadahi kosa kata dalam Cia-Cia. Meskipun nggak seratus persen match antara keduanya.

Cia-Cia bisa dibilang nggak benar-benar mengadopsi tapi mengadaptasi. Pasalnya, untuk beberapa kata di Cia-Cia ternyata tidak bisa dituliskan di Hangul. Makanya kemudian disesuaikan lagi sesuai kebutuhan. Meskipun demikian, lebih dari 90 persen diksi Cia-Cia bisa dituliskan dalam Hangul.

Kita pasti senang luar biasa ya kala tahu Suriname ternyata ada yang pakai bahasa Indonesia dan Jawa. Hal yang sama juga dialami oleh orang-orang Korsel ketika tahu aksara mereka diadaptasi masyarakat Cia-Cia. Orang-orang negeri ginseng sangat mengapresiasi hal tersebut, bahkan beberapa kali mereka mampir ke Cia-Cia.

Nggak hanya itu saja, beberapa kali pemerintah Korsel mengirim bantuan ke sekolah-sekolah di Cia-Cia. Entah uang, barang-barang seperti komputer, atau bahkan undangan beasiswa ke Seoul untuk para guru di Cia-Cia. Hubungan harmonis ini tetap terjaga baik sampai sekarang. Bahkan katanya ada wacana kalau antara Pemda Bau-Bau dan pemerintah Korsel sepakat menjadikan daerah ini sebagai sister city-nya Seoul.

Antusiasme anak-anak Cia-Cia berdampak sangat baik bagi eksistensi Hangul di sana. Bahkan bahasa asing itu pun menyebar luas serta menyedot minat sekolah-sekolah lain di sekitar Cia-Cia. Dengan begini masyarakat Cia-Cia pun sudah lega karena kultur takkan pernah hilang. Tak masalah memakai Hangul itu justru jadi semacam keunikan tersendiri.

Hangul seperti sudah merajai Cia-Cia hari ini. Nggak hanya masuk dalam kurikulum, aksara asing ini juga diimplementasikan di banyak hal. Kalau kamu ke sana, bakal ketemu tuh dengan plang-plang jalan yang bertuliskan Hangul. Unik nih dan mungkin hanya satu-satunya di Indonesia. (boombastis)

picsart_09-23-07-50-23

Anak-anak Cia-Cia mulai melupakan budaya

picsart_09-23-07-50-47


picsart_09-23-07-49-31

Hangul cocok dengan Cia-Cia


picsart_09-23-07-49-55

Berawal dari kegundahan


picsart_09-23-07-48-56

Orang-orang Korsel yang datang ke Cia-Cia


picsart_09-23-07-48-26

Anak-anak Cia-Cia


Konfigurasi Bendera Palestina Saat Laga Uji Coba di Solo

Konfigurasi Bendera Palestina Saat Laga Uji Coba di Solo

Timnas Indonesia memenangi pertandingan uji coba melawan Malaysia di Stadion Manahan Solo, Selasa (6/9/2016). Skor akhir 3-0.

Babak pertama berlangsung seru, Indonesia yang tampil perdana usai sanksi FIFA dapat mencetak tiga gol dalam waktu relatif singkat.

Pertandingan babak kedua cenderung membosankan karena Indonesia hanya bermain aman.

Tampaknya kebosanan para penonton di Stadion Manahan menjadi hilang karena aksi konfigurasi suporter.

Tak hanya tulisan ‘GARUDA’ dan paduan warna merah putih, para suporter di tribun selatan membentuk bendera Palestina.

Menurut sejarah, Indonesia dan Palestina memang memiliki hubungan yang baik. Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Saat ini Palestina sedang berkonflik dengan Israel terkait persoalan wilayah negara.

Banyak masyarakat Indonesia yang menyerukan kebebasan Bangsa Palestina.

PicsArt_08-18-07.06.33

Save Palestine!

Referensi