Pentingnya Membaca Buku Untuk Seorang Pemimpin

Pentingnya Membaca Buku Untuk Seorang Pemimpin

Cara berfikir serta tingkah laku sebagai pemimpin harus bisa menjadi contoh dan panutan bagi orang lain. Untuk mengembangkan kemampuan diri serta menjadi pemimpin yang baik untuk diri sendiri maupun orang lain bisa dimulai dengan membaca.

Membaca merupakan kegiatan yang paling mudah dilakukan untuk mengembangkan pribadi seseorang sehingga dapat menjadi pemimpin yang baik. Presiden yang memimpin Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, Harry S. Truman pernah berkata “Not all readers are leaders, but all leaders are readers.”

Ia menjelaskan pentingnya membaca bagi seorang pemimpin. Menjadi pemimpin, membaca merupakan fondasi yang sangat mendasar. Hal ini terbukti dengan banyaknya para pemimpin dunia atau CEO perusahaan besar selalu menyatakan jika kebiasaan yang harus selalu dimiliki oleh seseorang adalah kebiasaan membaca. CEO Facebook, Mark Zuckerberg pernah menyatakan jika setiap minggunya ia harus dapat menyelesaikan satu buku.

Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill bahkan pernah mendapatkan penghargaan nobel di bidang literatur. Kebiasaan membaca sejak dini membuatnya berhasil memberikan kontribusi bagi dunia melalui lebih dari 50 buku yang telah ia tulis.

Dengan membaca, banyak keuntunganyang bisa didapatkan. Menurut beberapa penelitian, membaca dapat membawa hal yang positif dalam membentuk jiwa pemimpin dalam diri seseorang. Membaca dapat membuat seseorang menjadi lebih pintar karena perbendaharaan kata serta serta meningkatkan daya imajinasi. Kebiasaan ini juga dapat meningkatkan seseorang memiliki visi serta inovasi

Membiasakan diri untuk membaca dapat dimulai dengan membaca berita. Kemudahan arus informasi lewat internet bisa menyediakan informasi serta bahan bacaan yang dibutuhkan oleh semua orang. Lewat aplikasi kurasi berita Kurio, informasi dan berita terbaru tersedia dari berbagai sumber yang terpercaya. Ragam topik yang tersedia menjawab semua kebutuhan informasi bagi semua orang. Kamu tidak perlu lagi memilah antara berita yang baik atau bukan. Secara teliti, tim kurasi di Kurio melakukan kurasi yang sangat teliti agar dapat menyajikan informasi serta berita yang layak untuk dibaca. Meluangkan waktu beberapa menit untuk membaca lewat Kurio bisa menjadi salah satu cara yang baik untuk mulai menanamkan kebiasaan membaca.

Buku-Buku Apa yang Dibaca Calon Pemimpin Kita?

Menjadi pemimpin yang menjadi ujung tombak dalam mewujudkan bangsa yang lebih pintar sangat mudah. Tanamkan kebiasaan membaca dan biasakan diri mulai dini.

Source : https://blog.kurio.co.id/2015/10/28/jadi-pemimpin-dengan-membaca

Iklan

Prabowo Subianto dan Garis Keturunan

Ibu Kandung Prabowo

source : wikipedia

Sedikit mengulas di balik kehidupan Prabowo, rupanya ada sosok yang sangat iya kagumi.

Sosok itu tak lain adalah ibunya sendiri.

Dora Sumitro yang juga Ibunda Ibu Prabowo Subianto, menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura pada pukul 17.00 WIB akibat sakit yang menahun pada 2008 silam.

Meski begitu, sosok wanita yang dikenal setia itu selalu menjadi panuntan anak-anaknya termasuk Prabowo.

Dikutip dari Wikipedia Dora Marie Sigar (lahir di Manado, Sulawesi Utara, 21 September 1921 – meninggal di Singapura, 23 Desember 2008 pada umur 87 tahun), juga dikenal sebagai Dora Sumitro adalah istri dari salah seorang ekonom Indonesia Soemitro Djojohadikoesoemo.

Dora Marie memiliki dua orang puteri, Biantiningsih Miderawati Djiwandono (istri Soedradjad Djiwandono) dan Marjani Ekowati le Maistre, dan dua orang putera, Prabowo Subianto Djojohadikusumo dan Hashim Sujono Djojohadikusumo.

Dora Marie menikah dengan Profesor Sumitro Djojohadikusumo pada 7 Januari 1946 di Jerman.

Dora Marie Sigar bertemu pertama kali dengan Profesor Sumitro Djojohadikusumo tahun 1945 di sebuah acara mahasiswa Kristen Indonesia di Rotterdam, Belanda. 

Saat itu ia belajar di sekolah ilmu keperawatan bedah di kota Utrecht, Belanda.

Selama hidupnya, Dora Marie Sigar penganut agama Kristen yang berdarah Manado-Jerman itu setia mendampingi Profesor Sumitro Djojohadikusumo dalam pengasingan maupun dalam perjuangan membangun Republik Indonesia.

Dora dikenang anak-anaknya sebagai ibu yang penyayang.

Dora dikenal sahabat-sahabatnya sebagai pemain bridge yang tangguh dan sebagai pengurus Persatuan Bridge Indonesia.

Keluarga Dora Sigar berasal dari Manado. Ayahnya bernama Philip FL Sigar, dan ibunya bernama N. Maengkom.

Ayahnya yang merupakan seorang anggota Gementeraad Manado (1920-1922) dan pejabat Sekretaris Residen (Gewestelijk Secretaris) Manado (1922-1924) merupakan putra dari Laurents A Sigar (meninggal 1910) dan E. Aling. Kakek Dora merupakan Majoor/Hukum Besar (1870-1884) di Manado.

Salah satu nenek moyangnya adalah Benyamin Thomas Sigar (Tawaijln Sigar), yaitu kapitein atau pemimpin pasukan Tulungan atau Hulptroepen (pasukan bantuan) yang dikontrak pemerintah Hindia Belanda guna membantu mengatasi Perang Jawa (1825-1830). 

Ayahanda Prabowo Subianto, Sumitro Djojohadikusumo

source : goodreads

Soemitro Djojohadikoesoemo atau Sumitro Djojohadikusumo ialah salah satu ahli ekonomi Indonesia yang merupakan ayah Prabowo Subianto. Bagi Hashim Djojohadikusumo, anak bungsunya sekaligus adik Prabowo, sang ayah merupakan tokoh yang meletakkan fondasi ekonomi Indonesia.

Semasa hidupnya, Sumitro berkali-kali menduduki jabatan menteri di pemerintahan. Ia juga tercatat sebagai salah satu pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) yang kini berubah menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Sebagai bentuk penghormatan, namanya pun dijadikan sebagai nama jalan di fakultas tersebut.

Seperti apa rekam jejak karier ayah Prabowo ini? Mari simak ulasannya berikut ini.

Jadi Doktor di usia muda

Sumitro berasal dari keluarga yang mengedepankan pendidikan. Meskipun sang ayah hanya lulusan SMA, gak sedikit kerabat yang memiliki latar pendidikan yang cukup baik. Mulai dari Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta (STOVIA), Rotterdam, hingga ahli hukum jebolan Universitas Leiden.

Maka, setelah lulus dari HBS (Hogere Burger School) di Jakarta, Ia berangkat ke Rotterdam pada 1935. Di sana, ia berhasil memiliki gelar Bachelor of Arts dalam waktu dua tahun tiga bulan.

Kemudian, pada 1937 ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Sorbonne, Paris sampai tahun 1938. Setelahnya, ia kembali ke Belanda untuk mendapatkan gelar Master of Arts. Semangat belajar Sumitro patut diacungi jempol. Berkat kegigihannya, ia berhasil meraih gelar Doktor di usia 26 tahun.

Perjalanan karier Sumitro

Sekembalinya ke Tanah Air, Sumitro menempati berbagai posisi penting dalam pemerintahan RI. Ia pernah menjadi Pembantu Staf Perdana Menteri Sutan Syahrir, Presiden Direktur Indonesian Banking Corporation, dan Wakil Ketua Utusan Indonesia pada Dewan Keamanan PBB.

Sumitro juga pernah lima kali menjabat sebagai menteri. Mulai dari Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Riset (saat ini menjadi Menristek).

Ia juga mendirikan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan turut berjuang mendirikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Kiprahnya dalam bidang ekonomi gak hanya di Indonesia, ia pun  pernah menjadi konsultan ekonomi di Malaysia, Hong Kong, Thailand, Perancis, dan Swiss.

Karya dan prestasi

Semasa hidupnya, ayah Prabowo ini dikenal aktif menulis mengenai sistem perekonomian. Karya tulisnya antara lain, sebagai berikut:

– Soal Bank di Indonesia (1946)

– Keuangan Negara dan Pembangunan (1954)

– Ekonomi Pembangunan (1955)

– Kebijaksanaan di Bidang Ekonomi Perdagangan (1972)

– Indonesia dalam Perkembangan Dunia Kini dan Masa Datang (1976)

– Trilogi Pembangunan dan Ekonomi Pancasila (1985)

– Perdagangan dan Industri dalam Pembangunan (1986)

Meski perjalanan kariernya diwarnai berbagai tantangan dan rintangan, Sumitro berhasil memperoleh banyak penghargaan. Baik dari luar maupun dalam negeri. Prestasi tersebut meliputi,Bintang Mahaputra Adipradana (II), Panglima Mangku Negara dari Kerajaan Malaysia, Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant, First Class dari Kerajaan Thailand, Grand Cross of the Crown dari Kerajaan Belgia, serta penghargaan lainnya dari Republik Tunisia dan Perancis.

Memiliki keturunan para pengusaha

source : merdeka.com

Kiprah Sumitro di bidang ekonomi ternyata menginspirasi putra-putranya menjadi pebisnis ulung. Sang bungsu, Hashim Sujono Djojohadikusumo, bahkan pernah tercatat sebagai orang Indonesia Terkaya ke-35 pada tahun 2017 versi Forbes. Dengan harta kekayaan sebesar $850 juta atau setara Rp 12,4 triliun.

Hashim merupakan pengusaha kaya pemilik perusahaan Arsari Group yang bergerak dalam bidang pertambangan, program bio-ethanol, perkebunan karet, dan sebagainya.

Sang kakak, Prabowo Subianto juga merupakan pengusaha sekaligus politisi dan mantan perwira TNI Angkatan Darat. Prabowo mendalami ilmu bisnis di Yordania dan beberapa negara Eropa lainnya. Ia pernah memiliki dan memimpin hingga 27 perusahaan di dalam maupun luar negeri.

Kakek Prabowo Subianto, Margono Djojohadikusumo 

source : biografi tokoh

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang dipenuhi oleh orang-orang hebat dan para pahlawan yang cukup berpengaruh dibidangnya baik dari kalangan politik, militer maupun pendidikan. Salah satu tokoh yang cukup dikenal di Indonesia berkat jasa-jasa dan perannya di berbagai bidang yang digelutinya adalah Margono Djojohadikusumo.

Di kalangan muda seperti saat ini memang tokoh ini kurang begitu dikenal, namun jika cucu beliau pasti sudah banyak yang mengenalnya karena cukup familier. Margono Djojohadikusumo adalah kakek dari tokoh pendiri Partai Gerindra yakni Prabowo Subianto yang pernah mencalonkan diri menjadi Presiden Republik Indonesia.

RM. Margono merupakan tokoh politik dan pejuang yang sifat dan perjuangannya layak diteladani oleh generasi muda penerus bangsa. Begitu banyak hasil perjuangan yang beliau rintis semasa hidupnya salah satunya yang bisa kita nikmati hingga sekarang adalah kemudahan pelayanan di bidang perbankan dari Bank BNI.

Tentunya perjuangan RM. Margono tidak hanya sampai di situ, namun lebih banyak dari itu. Lantas bagaimana sepak terjang Margono Djojohadikusumo lainnya selama hidupnya hingga menutup mata? Untuk lebih jelasnya simak informasi lebih jelas dalam biografi RM. Margono berikut.

Informasi pribadi Margono Djojohadikusumo Margono Djojohadikusumo merupakan cucu buyut Panglima Banyakwide atau Raden Tumenggung Banyakwide yang menjadi anak dari asisten Wedana Banyumas serta pengikut dari Pangeran Diponegoro yang setia.

Pendiri dari salah satu bank terbesar di Nusantara yakni Bank Negara Indonesia (BNI) ini pernah bersekolah di ELS (Europeesche Legere School) Banyumas. ELS Banyumas tersebut merupakan Sekolah Dasar di Banyumas yang berada pada jaman kolonial Belanda dari 1900 hingga 1907.

Margono Djojohadikusumo terlahir tanggal 16 Mei 1894 di kota Banyumas, Jawa Tengah, Negara Hindia Belanda. Kemudian beliau meninggal dunia pada usia 84 tahun pada tanggal 25 Juli 1978 di Jakarta, Indonesia. Bapak Margono Djojohadikusumo yang beragama islam tersebut memiliki istri seorang bernama Siti Katoemi Wirodihardjo.

Margono Djojohadikusumo  adalah orangtua dari  Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo yakni sang Begawan Ekonomi Indonesia, serta ayahanda dari 2 orang remaja yang meninggal ketika pecahnya Pertempuran Lengkong di Serpong pada tahun 1946 yakni: Taruna Soejono Djojohadikusumo (16 tahun) dan Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo (21 tahun).

Kejadian gugurnya kedua putra RM. Margono pada usia remaja tersebut merupakan kesedihan terbesarnya. Kemudian kedua nama anaknya yang meninggal tersebut dikenang melalui nama sang cucunya yakni mantan Pangkostrad dan Danjen Kopassus serta politikus Prabowo Subianto dan Hashim Sujono yang berprofesi sebagai seorang pengusaha.

Saat Soemitro tidak lagi sejalan dengan Bung Karno dalam hal PRRI maka sang ayah ternyata ikut sependapat dengan sang anak. Lalu mereka sekeluarga pindah ke Kuala Lumpur dan menetap di sana selama beberapa tahun.  Meski begitu pada bukunya berjudul Kenangan Tiga Zaman yang aslinya berjudul Herinneringen uit Drie Tijdperken, Bung Karno ternyata tetap digambarkan sebagai sosok Pahlawan.

Sepak terjang Margono Djojohadikusumo semasa hidupnya

Semasa hidupnya, Margono Djojohadikusumo cukup berdedikasi dan menjadi tokoh yang cukup berpengaruh di masanya. Hal ini terbukti dari berbagai perannya dalam berbagai organisasi bahkan mendirikan sebuah bank yang saat ini cukup terkenal serta pesat perkembangannya. Adapun sepak terjang Margono Djojohadikusumo selama hidupnya antara lain:

1. Hak angket
Hak angket dalam sejarah ketatanegaraan republik Indonesia, digunakan pertama kali oleh DPR sekitar tahun 1950-an. Hal ini bermula dari usul resolusi dari RM. Margono Djojohadikusumo supaya DPR atas upaya memperoleh devisa serta cara menggunakan devisa untuk mengadakan Hak Angket.

Kemudian dibentuklah panitia angket dengan anggota sebanyak 13 orang dimana Margono ditunjuk sebagai ketua. Panitia angket ini berperan dalam menyelidiki untung serta rugi dalam mempertahankan devisen-regime sesuai Undang-Undang Pengawasan Devisen pada 1940 berikut perubahan-perubahannya.

2. Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara
Satu hari usai Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden dilantik, kemudian dibentuklah DPS atau Dewan Pertimbangan Agung Sementara dan Kabinet Presidentil. Kemudian Margono Djojohadikusumo ditunjuk untuk menjadi Ketua DPAS pertama. 


Beliau menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara ke-1 dengan masa jabatan dari tanggal 25 September 1945 hingga 6 November 1945. Kemudian setelah lengser, beliau digantikan oleh Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema V. 

3. Direktur Utama Bank BNI
Selaku Ketua DPAS, kemudian Margono Djojohadikusumo mengusulkan untuk membentuk sebuah Bank Sirkulasi atau Bank Sentral sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945. 
Kemudian Soekarno dan Hatta menyampaikan mandat untuk Margono supaya menggagas sekaligus melaksanakan persiapan dalam membentuk Bank Sirkulasi (Bank Sentral) Indonesia yakni di bulan September tepatnya pada tanggal 16 tahun 1945.

Sidang Dewan Menteri RI pada tahun 1945 tepatnya tanggal 19 September menetapkan untuk dibentuknya bank Negara yang berperan sebagai Bank Sentral atau Sirkulasi. Akhirnya terbitlah Perpu No. 2 tahun 1946 pada tanggal 15 Juli 1946 yakni terkait didirikannya BNI serta Margono Djojohadikusumo ditunjuk sebagai Dirut Bank BNI (Bank Negara Indonesia). 

Margono Djojohadikusomo (duduk kanan), dan cucu-cucunya: Hashim Djojohadikusumo (duduk tengah), Siti Katoemi Wirodihardjo (duduk kiri), Prabowo Subianto (kanan atas) dan kedua saudari Prabowo pada tahun 1963 di Kuala Lumpur
source : wikipedia


Selama beliau menjabat sebagai Direktur Utama Bank BNI, status hukum dari Bank BNI naik menjadi Persero yakni pada tahun 1970.

Tidak hanya piawai dalam sepak terjang di dunia politik, Margono Djojohadikusumo juga menelurkan karyanya pada buku-buku hasil tulisannya. Buku-buku hasil karya bapak Margono tersebut antara lain:

  • 1.    Sriwibawa, Sugiarta (1994), “100 tahun Margono Djojohadikusumo”, Jakarta: Pustaka Aksara

  • 2.    Djojohadikusumo, Margono (1969). “Reminiscenses from three historical periods a family tradition put in writing”, Jakarta: Indira 

  • 3.    Djojohadikusumo, Margono (1975), “Catatan-catatan dari lembaran kertas yang kumal DR. E.F.E Douwes Dekker (DR. Danudirja Setiabudi), seorang yang tak gentar menjunjung tinggi suatu cita-cita hidup kemerdekaan politik Indonesia”, Jakarta: Bulan Bintang

  • 4.    Djojohadikusumo, Margono (1946), “Kenang-kenangan dari tiga zaman”, Jakarta: Indira

  • 5.    Djojohadikusumo, Margono (1941), “Tien jaren cooperatie-voorlichting vanwege de overhead 1930-1940”, Batavia: VolkslectuurM

RM. Margono Djojohadikusumo yang merupakan kakek dari Prabowo Subianto ini merupakan salah satu generasi muda nasionalis. Beliau merupakan nasionalis muda angkatan di bawah Dr. Cipto Mangunkusumo, Tirto Adi Suryo, seorang Indo-Belanda Dauwes Dekker (Danu Dirja Setiabudi) dan Ki Hadjar Dewantara.

Margono tercatat sebagai putra dari Lembah Serayu yang pada tanggal 29 April tahun 1945 diangkat menjadi anggota BPUPKI, sehingga turut serta ketika proses penggodogan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia.

Saat Bung Karno selaku Presiden dan Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden membentuk Kabinet Presidentil ke-1. RM. Margono didaulat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara atau DPAS. 

Ketika Kabinet Syarir telah terbentuk, RM. Margono memberikan usul supaya NKRI membentuk sebuah bank sirkulasi. Usul tersebut kemudian disetujui dan akhirnya BNI terbentuk dimana RM. Margono diangkat sebagai Direktur Utama.

Ayah RM. Margono merupakan seorang Wedana Banyumas yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di ELS. Sepertinya beliau merupakan seorang autodidak yang begitu cerdas sehingga dapat meraih puncak dari jenjang karir yang begitu tinggi.Kemungkinan besar Margono telah mengenal Syahrir cukup lama melalui Pendidikan Nasionalis Indonesia) Baru atau PNI-Baru yakni sebuah partai kader yang cukup aktif menyumbangkan kursus-kursus di bidang kebangsaan, ekonomi dan politik.PNI-Baru dipelopori serta didirikan oleh Syahrir dan Bung Hatta, sesudah Partai Nasionalis Indonesia atau PNI yang didirikan oleh Soekarno membubarkan diri berkat inisiatif dari Mr. Sartono. Alasan Mr. Sartono membubarkan PNI gagasan Soekarno adalah akibat Bung Karno ditahan di Penjara Sukamiskin sebagai pertimbangan mendasar guna membubarkan partai dengan haluan radikal tersebut.Setelah Syahrir dan Hatta ditangkap dan kemudian dibuang oleh Belanda ke Digul serta dipindahkan ke Banda, PNI-Baru akhirnya juga bubar.  Namun Syahrir-Hatta juga sempat membentuk jaringan kader yang cukup luas di seluruh penjuru Tanah Air secara khusus di Pulau Jawa yakni di wilayah Banyumas.Kader-kader Syahrir dalam PNI-Baru tersebutlah kelak yang menjadi inti dari Partai Sosialis yang dipimpin Syahrir. Sepertinya Margono Djojohadikusumo yang terpilih menjadi anggota BPUPKI ialah melalui pengaruh Syahrir dan Hatta yang telah dikenalnya ketika pelatihan kaderisasi PNI-Baru.

Margono Djojohadikusumo meninggal dunia di Jakarta  pada 25 Juli 1978 serta disemayamkan di pemakaman keluarga yang terdapat di Dawuhan, kota Banyumas, Jawa Tengah. Pada waktu itu Bung Hatta ikut melepas jenazah beliau di Taman Matraman Jakarta menuju pemakaman keluarga di Banyumas, lokasi dimana para leluhurnya disemayamkan. 
Pendiri Pusat Bank Indonesia yang diganti namanya pada tahun 1946 menjadi Bank Negara Indonesia ini merupakan seseorang yang telah berusia lanjut namun senantiasa sehat wal afiat. Baru pada tahun 1978 tersebut kesehatannya terlihat menurun. Bahkan 2 hari sebelum meninggal, bapak Margono masih melakukan transaksi dagang untuk salah satu perusahaan miliknya.
Pada hari Selasa tanggal 25 Juli 1978 pagi, beliau pergi ke kamar mandi. Ternyata di tempat tersebut beliau terkena serangan jantung. Karena kulit hitam dan perawakannya yang kecil, almarhum kerap menyebut dirinya sebagai een klein Negertje atau si negro kecil. 


Beliau adalah seorang putra bangsawan dari turunan ke-13 Adipati Mrapat. Meski beliau masih termasuk keturunan bangsawan, namun almarhum merupakan bangsawan yang berjiwa kerakyatan. Berdasarkan pernyataan Subagijo IN, beliau senantiasa berbahasa kromo inggil kepada siapa saja yang dapat berbahasa Jawa.

Penghargaan yang diraih Margono Djojohadikusumo

Segala hal yang telah beliau lakukan selama hidupnya memang patut untuk diberikan penghormatan dan penghargaan. Sebagai bangsa yang bermartabat, mengenang jasa pahlawan menjadi salah satu upaya untuk meneladani sekaligus berupaya melanjutkan perjuangannya.

Untuk menghargai segala peran dan jasa yang pernah dilakukan beliau, Margono Djojohadikusumo mendapat penghargaan berupa:

  • 1. Nama R.M Margono Djojohadikusumo diabadikan sebagai sebuah nama jalan di ruas Jakarta
  • 2. Gedung R.M Margono Djojohadikusumo yang terdapat di Universitas Gajah Mada Yogyakarta diberikan nama sesuai dengan nama beliau
  • 3. Kisah beliau semasa hidup menjadi inspirasi pada pembuatan film yang bertajuk Merah Putih

Margono Djojohadikusumo adalah sosok pahlawan dari kalangan bangsawan yang santun dan berbakat. Begitu banyak hasil karya dan perjuangan Margono Djojohadikusumo yang harus dijaga dan diteladani terutama para pemuda generasi penerus bangsa. Beliau bisa menjadi inspirasi banyak orang untuk menjadi pribadi yang tekun, ulet dan penyabar ketika masa-masa perjuangan.

Genetika Prabowo Subianto Djojohadikoesoemo

Membedakan Banyakwide Kliwon dan Kertanegara IV (Banyakwide)

Beragam versi menyebutkan tentang Kertanegara IV Banyakwide, salah satu senopati Dipanegara yang tertangkap di Kemit pada tanggal 18 April 1829. Tokoh tersebut merupakan leluhur dari Begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo ayah dari Prabowo Subianto seorang putra Indonesia yang dikenal dimata dunia.

Dari berbagai sumber yang ada dapat diketahui bahwa Kertanegara IV Banyakwide tidak sama dengan Banyakwide Kliwon. Berikut silsilah yang bisa dijadikan dasar untuk mengetahui perbedaan kedua tokoh tersebut.

  1. Prabowo lahir di Jakarta
  2. Ayahnya/Soemitro lahir di Kebumen
  3. Kakeknya/Margono lahir di Purbalingga
  4. Buyutnya/Hendrokusumo lahir di ___ ?
  5. Canggahnya/R. Kartoatmodjo (Patih Banjarnegara) lahir di Ternate
  6. Warengnya/Kertanegara IV Banyakwide lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen
  7. Udeg udegnya/Panji Hendrajit patih Solo lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen
  8. Gantung siwur nya/Kertanegara II lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen
  9. Cicip muningnya/Kertanegara I lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen
  10. Petarangan bosoknya/Mangkuprojo lahir di Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen

Perlu diluruskan bahwa Kertanegara bukan trah dari Kolopaking seperti yang disebukan dalam buku Babad Kalapaking, tetapi merupakan trah Mangkuprojo Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen, sebab Mangkuprojo dan Kolopaking I sama-sama menantu dari Amangkurat I.

Satu hal lagi bahwa Banyakwide bukanlah Kertanegara I, seperti yang disebutkan dalam beberapa babad dan tulisan yang banyak merubah data asli catatan perwira-perwira Belanda pada masa Dipanegara yang dibukukan dalam De Java Orloog.
Adapun pertemuan alur Prabowo dari Majapahit dan Pajajaran adalah sebagai berikut:

  1. Brawijaya V Ratu Pandita/Harya Baribin menikah dengan Adik Raja Pajajaran Prabu Linggawastu
  2. Banyak Sosro
  3. Jaka Kaiman/Marapat
  4. Janah/Mertosuro I
  5. Mertosuro II
  6. Ngabei Bawang Mertoyudo
  7. Ngabei Banyakwide Kliwon Banyumas (Bukan Banyakwide Kertanegara IV)
  8. Yudonegoro I
  9. Bagus Mali
  10. Nyai Kertanegara II(Istri Kertanegara II Roma/Kadipaten Karanganyar – Kebumen)
  11. Hendrajit
  12. Banyakwide Kertanegara IV
  13. Kartohatmojo
  14. Hendrokoesoemo
  15. Margono Djojohadikoesoemo
  16. Sumitro Djojohadikoesoemo
  17. Prabowo Subianto Djojohadikoesoemo

Dari silsilah diatas diketahui bahwa Banyakwide Kliwon Banyumas berbeda dengan Kertanegara IV Banyakwide yang hidup pada masa perang Dipanegara.

Adapun silsilah istri Margono adalah sebagai berikut:

Istri Margono(Nenek Prabowo Subianto) bernama Siti Katoemi Wirodihardjo (keturunan Tumenggung Wiroreno) Purworejo, tokoh yang hidup pada masa perang Dipanegara.

Sementara itu garis silsilah Margono yang mengerucut ke dinasti Mataram adalah sebagai berikut:

  1. Ibu dari Margono(Mbah Buyut putrinya Prabowo) adalah putri dari Joyoprono/Joyodiningrat
  2. Murdaningrat
  3. Hamengku Buwana II
  4. Hamengku Buwana I
  5. Amangkurat Jawa
  6. Pakubuwana I
  7. Amangkurat I
  8. Sultan Agung Hanyakrakusuma
  9. dan seterusnya

Sultan Sultan Agung Hanyakrakusuma / RM. Rangsang / Jatmika menikah dengan Ratu Wetan putri dari Tumenggung Upasanta Bupati Batang / Keturunan Ki Juru Mertani berputra ;
Amangkurat I / RM. Sayidin menikah dengan Premaisuri Keturunan Kajoran berputra ;
Pangeran Puger / RM. Drajat / Pakubuwana I – Amangkurat Jawa – Hamengku Buwana I – Hamengku Buwana II – Murdaningrat – Joyoprono / Joyodiningrat – Ibu dari Margono – Margono Djojohadikoesoemo – Sumitro Djojohadikoesoemo – Prabowo Subianto Djojohadikoesoemo

Jadi dalam diri Prabowo mengalir darah Majapahit, Pajajaran, Nagara Panjer, Wirasaba, Purworejo dan Mataram selain juga dari darah Sulawesi dari alur Ibunya. Maka jika kemudian banyak yang mengatakan bahwa Prabowo putra Kebumen, Banyumas, Purworejo, Bagelen, Sulawesi, dan lain sebagainya menurut data silsilah di atas sangat wajar.


Dan sudah menjadi warisan bahwa leluhurnya dari generasi ke genarasi baik Sultan Agung Hanyakrakusuma, Amangkurat I, Hamengkubuwana I, Diponegoro dan lain-lain, selalu menjadikan Kota Raja Panjer dimana di dalamnya terdapat Pamokshan Gajah Mada sebagai tempat yang penting.

Rujukan :

Pesan Cak Nun untuk Bangsa Indonesia

 

Apa Kabar Pak Tito?

Tito Karnavian – gatra.com

Beliau dilahirkan dengan nama lengkap Muhammad Tito Karnavian pada tanggal 26 oktober 1964 di Palembang, Sumatera Utara. Ayahnya bernama H Achmad Saleh dan ibunya bernama Hj Kardiah yang bekerja sebagai bidan.

Masa Kecil

Ia mulai mengenyam pendidikan di SD Xaverius 4 Palembang, dan kemudian setelah itu masuk di SMP Xaverius 2 Palembang. Tamat dari SMP, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 2 Palembang.

Sewaktu bersekolah, Tito Karnavian dikenal sebagai siswa yang cerdas. Terbukti saat ia ikut ujian perintis, ia berhasil lulus di banyak tes yang diadakan oleh lembaga negara dan universitas.

Lulus di Berbagai Test dan Masuk AKABRI

Ia berhasil lulus tes di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, lulus di kedokteran universitas Sriwijaya, ia juga lulus di jurusan HI (Hubungan Internasional) Universitas Gajah Mada dan lulus di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Ibunya mengharapkan Tito Karnavian dapat menjadi seorang dokter namun dari Tito kemudian lebih memilih masuk di AKABRI.

Di AKABRI, Tito Karnavian lulus pada tahun 1987 sebagai lulusan terbaik dan menerima penghargaan Bintang Adhi Makayasa. Di tahun yang sama, ia kemudian bertugas sebagai Perwira Samapta Polres Jakarta Pusat kemudian naik pangkat dan menjadi kanit reserse Polres Metro Jakarta Pusat hingga tahun 1991.

Di tahun itu juga Tito Karnavian kemudian menikah dengan Tri Suswati yang merupakan pacarnya ketika bersekolah di SMA Negeri 2 Palembang yang kemudian memberinya tiga orang anak.

Setelah itu ia kemudian naik jabatan menjadi wakapolsek seperti di Metro Senen Polres Metro Jakarta Pusat dan juga Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat.

Kemudian di tahun 1993, Tito Karnavian berhasil menyelesaikan pendidikan masternya (Master of Arts) di bidang Police Studies. Kemudian di tahun 1996, ia juga menyelesaikan pendidikannya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta sebagai lulusan terbaik.

Ia kemudian mendapatkan penghargaan Bintang wiyata Cendekia, di tahun itu juga, Tito kemudian menjabat sebagai Sespri Kapolda Metro Jaya, tidak lama kemudian, ia menjabat sebagai Kapolsek Metro Cempaka Putih Polres Metro Jakarta Pusat hingga tahun 1997.

Karena prestasinya yang cemerlang, tahun 1997 Tito Karnavian kemudian di promosikan sebagai Sespri (Sekretaris Pribadi Kapolri) hingga tahun 1999.

Sebelumnya di tahun 1998, Tito sempat menimba ilmu di Royal New Zealand Air Force Command & Staff College, Auckland, New Zealand dan juga memperoleh gelar Bachelor of Arts (B.A.) dalam bidang Strategic Studies di Massey University, New Zealand.

Menangkap Buronan Tommy Soeharto

Di masa reformasi, Tito Karnavian di rotasi di berbagai jabatan kepolisian di wilayah jakarta seperti Menjadi Kasat Serse Ekonomi Reserse Polda Metro Jaya dari tahun 1999 hingga tahun 2000 kemudian Kasat Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya hingga tahun 2002.

Disini Tito Karnavian berhasil menuai prestasi dengan menangkap buronan Hutomo Mandala Putra atau Tommy Suharto yang ketika itu menjadi Buronan atas kasus pembunuhan berencana Hakim Agung Syafiudin.

Ia kemudian mendapatkan kenaikan pangkat yang luar biasa dan tak lama berselang, Tito Karnavian kemudian dipindahkan ke Makassar dan mengisi jabatan sebagai Kasat Serse Tipiter Reserse Polda Sulawesi Selatan.

Namun tak lama kemudian, ia kembali di pindahkan ke Polda Metro Jaya untuk mengisi jabatan sebagai Koorsespri Kapolda Metro Jaya hingga tahun 2003.

Di tahun 2003, ia kemudian menjabat sebagai Kasat Serse Keamanan Negara Reserse Polda Metro Jaya. Kemudian di tahun berikutnya yaitu tahun 2004, Dibentuk Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 Anti Teror tahun oleh Kapolda Metro Jaya ketika itu Jenderal Firman Gani dan kemudian Tito Karnavian ditunjuk sebagai Kaden 88 Anti Teror Polda Metro Jaya yang saat itu berpangkat Ajun Komisaris Besar (AKBP).

Kepala Detasemen Khusus Anti Teror (Densus 88)

Bersama Tim Densus 88, Tito Karnavian berhasil menangkap teroris terkenal yaitu Dr. Azhari yang tewas tertembak di Malang pada tahun 2005. Dari peristiwa tersebut, Tito Karnavian kemudian naik pangkat menjadi Komisaris Besar Polisi.

Di tahun 2005, ia kemudian dipindahkan ke Serang, Banten dan menjabat sebagai Kapolres Serang Polda Banten. Namun tak lama kemudian, Tito Karnavian pindah tugas ke Mabes Polri dengan menjabat sebagai Kasubden Bantuan Densus 88 Anti Teror Bareskrim Polri dan Kasubden Penindak Densus 88 Anti Teror Bareskrim Polri di tahun 2006.

Setelah itu ia kemudian menjabat sebagai Kasubden Intelijen Densus 88 Anti Teror Bareskrim Polri dan berhasil menangkap tersangka kerusuhan Poso melalui Densus 88 Anti Teror. Hingga tahun 2009, tahun ia dipromosikan sebagai Kadensus 88 Anti Teror Bareskrim Polri hingga tahun 2010 dan berhasil menangkap teroris terkenal yaitu Noordin M Top.

Menjadi Kapolda Papua

Prestasinya yang bagus dalam menanggulangi teroris bersama Densus 88, Tito Karnavian kemudian dipromosikan sebagai Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di tahun 2011 hingga tahun 2012.

Selama hampir dua tahun BNPT, Tito Karnavian kemudian dipromosikan sebagai Kapolda Papua di tahun 2012, dan di tahun 2013, Tito Karnavian berhasil meraih gelar Ph.D di bidang Strategic Studies with interest on Terrorism and Islamist Radicalization di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapore dengan predikat magna cum laude. Ia menjadi Kapolda Papua hingga tahun 2014

Polda Metro Jaya

Tanggal 16 juli 2014, Tito Karnavian kemudian ditarik ke Mabes Polri dan kemudian menjabat sebagai Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran (Asrena) tahun 2015 dimana posisi tersebut merupakan salah satu jabatan bergengsi di Mabes Polri. Tak lama kemudian, Tito Karnavian kemudian dipromosikan sebagai Kapolda Metro Jaya.

Menjabat Sebagai Kapolri

Setahun kemudian Tito Karnavian kemudian ditunjuk sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di bulan Maret 2016 yang membuat pangkatnya naik menjadi Komisaris Jendral Polisi Bintang Tiga.

Tak  lama setelah itu, pertengahan tahun 2016 Presiden Joko Widodo kemudian menunjuk Tito Karnavian sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia atau Kapolri berpangkat bintang empat menggantikan Jenderal Polisi Badrodin Haiti yang pensiun.

Riwayat Pendidikan

  • SD Xaverius 4 di Palembang (1976)
  • SMP Xaverius 2 di Palembang (1980)
  • SMA Negeri 2 Palembang (1983)
  • Akademi Kepolisian (1987); Penerima bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan Akpol terbaik.
  • Master of Arts (M.A.) in Police Studies, University of Exeter, UK (1993)
  • Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1996); Penerima bintang Wiyata Cendekia sebagai lulusan PTIK terbaik
  • Royal New Zealand Air Force Command & Staff College, Auckland, New Zealand (Sesko) (1998)
  • Bachelor of Arts (B.A.) in Strategic Studies, Massey University, New Zealand (1998)
  • Sespim Pol, Lembang (2000)
  • Lemhannas RI PPSA XVII (2011) penerima Bintang Seroja sebagai peserta Lemhanas terbaik.
  • Ph.D in Strategic Studies with interest on Terrorism and Islamist Radicalization at S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapore (magna cum laude) (2013).

Penghargaan

  • Bintang Adhi Makayasa (lulusan terbaik Akpol) (1987)
  • Bintang Wiyata Cendekia (lulusan terbaik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta) (1996)
  • Kenaikan Pangkat Luar Biasa Mayor ke Ajun Komisaris Besar (2001)
  • Kenaikan Pangkat Luar Biasa Ajun Komisaris Besar ke Komisaris Besar (2005)
  • Penghargaan memimpin operasi anti teror di daerah konflik Poso Sulawesi Tengah (2007)
  • Kenaikan Pangkat Luar Biasa Komisaris Besar ke Brigadir Jenderal (2009)
  • Kenaikan Pangkat Luar Biasa Brigadir Jenderal ke Inspektur Jenderal (2011) (Penyesuaian kepangkatan BNPT)
  • Bintang Seroja Lulusan Terbaik Lemhanas PPSA 17 (2011)
  • Bintang Bhayangkara Utama dari Presiden RI
  • Bintang Bhayangkara Nararya
  • Bintang Bhayangkara Pratama dari Kapolri
  • Bintang Yudha Dharma Utama dari Panglima TNI
  • Bintang Eka Paksi Utama dari TNI AD
  • Bintang Jalasena Utama dari TNI AL
  • Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama dari TNI AU
  • Satyalencana Kesetiaan 8 Tahun
  • Satyalencana Kesetiaan 16 Tahun
  • Satyalencana Kesetiaan 24 Tahun
  • Satyalencana Dwidaya Sistha
  • Satyalencana Bhakti Buana
  • Satyalencana Bhakti Nusa
  • Satyalencana Darma Nusa
  • Satyalencana Dharma Phala
  • Satyalencana Jana Utama
  • Satyalencana Santi Dharma
  • Satyalencana Karya Bakti
  • Satyalencana Karya Satya
  • Satyalencana Seroja
  • Satyalencana Ksatria Tamtama
  • Satya Lencana Nararia
  • Satya Lencana UN Mission
  • The United Nation Medal (PBB)

Buku Karangan

  • Indonesian Top Secret: Membongkar Konflik Poso, Gramedia, Jakarta, 2008.
  • Regional Fraternity: Collaboration between Violent Groups in Indonesia and the Philippines, Bab dalam buku “Terrorism in South and Southeast Asia in the Coming Decade”, ISEAS, Singapura, 2009.
  • Bhayangkara di Bumi Cenderawasih, ISPI Strategic Series, Jakarta, 2013.
  • Explaining Islamist Insurgencies, Imperial College, London, 2014.

Harta dan Utang Kapolri Tito Karnavian (Saat Akan Menjadi Calon Kapolri)

Dari penelusuran LHKPN di situs http://acch.kpk.go.id‎, Kamis (16/6/2016), Tito terakhir kali melapor kekayaannya ke KPK pada 20 September 2014. Saat itu, jabatan yang masih diembannya, yakni Asisten Perencanaan Umum dan Anggaran Kapolri.

Dalam LHKPN di KPK, Tito yang masih menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu tercatat memiliki utang Rp 2,9 miliar lebih. Rincian utang itu dalam bentuk pinjaman barang sebesar Rp 2.917.785.000 dan dalam bentuk kartu kredit sebanyak Rp 76.000.000.

Total harta kekayaan lulusan terbaik Akademi Kepolisian angkatan tahun 1987 itu setelah dipotong utang‎ adalah senilai Rp 10.291.675.823. Nilai harta kekayaan itu terdiri dari harta tidak bergerak dan harta bergerak.

Berdasarkan data KPK, jumlah harta tidak bergerak eks Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri itu mencapai Rp 11.297.741.000. Rinciannya, berupa tanah seluas 2.500 meter persegi di Palembang, Sumatera Selatan, yang berasal dari hibah perolehan tahun 1996 dengan nilai jual objek pajak (NJOP) Rp 35.420.000. 

Kemudian, tanah seluas196 meter persegi di Kota Tangerang, Banten, yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 1999 dengan NJOP Rp 55.860.000. Lalu ada tanah dan bangunan seluas 600 meter persegi dan 36 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hasil sendiri dan hibah perolehan tahun 2004 dengan NJOP Rp 147.010.000.

Juga ada tanah dan bangunan seluas 191 meter persegi dan 180 meter persegi di Kota Jakarta Selatan yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2004-2013 dengan NJOP Rp 728.385.000. Tanah seluas 308 meter persegi di Kota Palembang yang merupakan hasil sendiri perolehan tahun 2004 dengan NJOP Rp 142.912.000. 

Kemudian, tanah dan bangunan seluas 720 meter persegi dan 100 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2004 dengan NJOP Rp 702.420.000. Tanah seluas 442 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2004 dengan NJOP Rp 205.088.000.

Tanah dan bangunan seluas 515 meter persegi dan 70 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hibah perolehan tahun 2008 dengan NJOP Rp 280.610.000. Tanah seluas 665 meter persegi di Kota Palembang yang berasal dari hibah perolehan tahun 2008 dengan NJOP Rp 161.595.000.

Tanah dan bangunan seluas 307 meter persegi dan 207 meter persegi di Kota Jakarta Selatan yang berasal dari hasil sendiri dan hibah perolehan tahun 2003 dengan NJOP Rp 5.273.397.000. 

Terakhir bangunan seluas 120 meter persegi di Kota Singapura yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2008 dengan NJOP Rp 3.000.000.000.

Untuk harta bergerak yang dimiliki eks Kapolda Papua dan Kapolda Metro Jaya itu tercatat tidak banyak. Dalam LHKPN, Tito tercatat tidak memiliki alat transportasi, dan mesin lainnya. Di bidang peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan, pertambangan dan usaha lainnya juga tidak ada.

Sedangkan harta bergerak lainnya hanya Rp 160.000.000. Benda bergerak lainnya itu berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 1991-2014 dengan nilai jual Rp 10.000.000. Kemudian logam mulia yang berasal dari hasil sendiri dan hibah perolehan tahun 1998-2006 dengan nilai jual Rp 150.000.000. Tito juga memiliki giro setara kas lainnya Rp 1.827.719.823. 

Jadi total keseluruhan harta kekayaan Tito Karnavian sebelum utang yakni Rp 13.285.460.823. Sedangkan setelah dipotong utang sebanyak Rp 2.993.785.000, total harta kekayaannya menjadi Rp 10.291.675.‎823.

Amien Rais Minta Jokowi Pecat Kapolri Tito Karnavian

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais meminta Presiden Joko Widodo mencopot Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian. Permintaan ini dia sampaikan terkait klaimnya memiliki bukti mengenai kasus korupsi yang mengendap di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saya minta kepada Pak Jokowi agar Kapolri, Pak Tito Karnavian segera dicopot. Alasannya ini pelajari sendiri,” kata Amien di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/10). 

Langkah ini dia ambil karena merasa mencintai kepolisian yang bertugas menjaga keamanan nasional. Hanya saja, jika ada oknum bersalah maka harus segera diganti. Menurut Amien, masih banyak pimpinan di lembaga itu yang jujur dan mau mengabdi bagi bangsa dan negara. “Masih banyak untuk mengganti Pak Tito Karnavian,” kata Amien.

Sebelumnya, Amien menyatakan akan membeberkan fakta yang menarik perhatian ketika diperiksa polisi hari ini. Hal itu berhubungan dengan penegakan hukum dan kasus korupsi yang sudah lama di KPK.

Sekitar 300 advokat disebut mengiringi Amien selama pemeriksaan. Begitu pula dengan Persaudaraan Alumni (PA) 212. Ketua PA 212 Slamet Maarif mengatakan, setidaknya ada 500 anak buahnya yang bakal terlibat dalam aksi mengawal Amien.

Polisi sendiri mengerahkan 3.284 personel gabungan untuk mengamankan jalannya pemeriksaan Amien. “Pengalihan arus lalu lintas situasional di lapangan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di kantornya, Jakarta.

Komjen Baru Mau Jatuhkan Tito Karnavian?

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto menegaskan kondisi internal Polri sangatlah solid.

Ia juga membantah adanya tudingan jenderal bintang tiga yang ingin menjatuhkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Bantahan itu merujuk pada tudingan dari politisi PDIP Masinton Pasaribu.

Nggak ada, nggak ada. Nanti saya akan klarifikasi. Polri solid,” ujar Setyo, di Auditorium STIK-PTIK, Jl Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/10/2018).

Ia mengatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan terkait tudingan tersebut.

Namun demikian, ia menjamin internal Korps Bhayangkara solid dan tak ada yang ingin saling menjatuhkan.

Kecurigaan Masinton didasari dugaan bahwa Tito saat masih menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya menerima uang dari pengusaha daging impor Basuki Hariman (BH).

Bahkan, kabar yang beredar menyebut dua penyidik KPK dari Polri menyobek catatan keuangan Basuki tentang aliran uang ke pihak lain.

“Saya menduga itu tidak lepas dari skenario permainan politik untuk mendorong percepatan suksesi kepemimpinan di institusi Polri. Target utamanya adalah untuk mengganti Jenderal Polisi Tito Karnavian dari jabatan Kapolri,” kata Masinton, Minggu (14/10/2018).

Legislator PDIP itu juga menuturkan, salah satu celah untuk membusukkan nama Tito adalah dengan memainkan isu korupsi.

Menurutnya, isu itu tentu menarik perhatian publik.

“Saya membacanya sebagai permainan kolaborasi segitiga, saling melempar isu. Kolaborasi ini melibatkan kelompok pressure group, oknum sempalan di KPK dan oknum jenderal di Mabes Polri yang ngebet jadi Kapolri,” kata dia.

Menurut Masinton, oknum jenderal itu belum lama diangkat menjadi Komjen yang kerap melakukan pencitraan.

Ia juga menyebut oknum itu baru dilantik sebagai pejabat bintang tiga di Mabes Polri.

“Jadi si oknum ini sudah kasak-kusuk membangun lobi vertikal dan sembari melakukan pencitraan sebagai jenderal polisi yang bersih dan berintegritas,” katanya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, kembali menegaskan bahwa kasus suap yang diduga melibatkan nama Kapolri Jenderal Tito Karnavian adalah kabar hoaks.

Pernyataan Mahfud ini ditegaskan melalui sebuah cuitan melalui akun Twitternya, Minggu (14/10/2018) malam.

Mahfud juga memberikan alasannya tersebut dengan menghubungan rekaman CCTV di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Berikut penjelasan Mahfud:

Tantangan ini bkn utk sy tapi utk @KPK_RI .

Sy sih menganggap itu hoax krn katanya itu terekam di CCTV KPK

tapi KPK malah mengembalikan pelakunta ke Polri.

Kalau diketahui oleh KPK shrs-nya langsung ditindak oleh KPK sbg obstraction of justice,” tulis Mahfud.

Sebelumnya, Mahfud juga sempat menjawab pertanyaan seorang warganet terkait kasus yang menyeret nama Tito tersebut.

Argumentasinya kalo ini hoax apa Prof? Cuma kenal sebagai orang lurus? @mohmahfudmd,” tanya @AlghifAqsa, Rabu (10/10/2018).

Berikut jawaban Mahfud:

Pertanyaannya terbalik.

Di dalam hukum yg hrs mengajukan argumentasi adl yg mengajukan masalah.

Siapa yg mendalilkan dia yg hrs membuktikan.

Makanya kita menunggu argumen dan bukti2nya dari yg melempar isunya,” jawabnya.


Kasus suap yang diduga melibatkan Tito Karnavian ini muncul setelah Amien Rais membeberkan sejumlah fakta di Polda Metro Jaya. Kala itu Amien diperiksa oleh polisi sebagai saksi terkait kasus kebohongan Ratna Sarumpaet. Dia dengan terang-terangan meminta kepada Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) untuk mencopot Tito dari jabatannya sebagai Kapolri.


“Saya enggak akan panjang-panjang, saya minta ke Pak Jokowi supaya Pak Kapolri Tito segera dicopot, alasannya, Anda cari sendiri,” ujar Amien.


Meski demikian Ia tak menjelaskan secara jelas mengapa ia melontarkan permintaan tersebut.


“Saya yakin stok pimpinan Polri yang jujur dan mengabdi bangsa negara masih banyak untuk ganti Pak Tito.”


“Kita cinta polisi sebagai keamanan nasional tapi kalau ada oknum yang enggak benar harus diganti,” sebutnya seperti dikutip dari Kompas.com

Seratus Hari Sebagai Kapolri

Wartawan BBC Indonesia, Mehulika Sitepu, mewawancarai Tito Karnavian di Mabes Polri, Jakarta, hari Selasa (11/10) dan berikut petikannya.

Apa perkembangan selama menjabat Kapolri?

Saya mendapat informasi dari beberapa survei, kepercayaan publik kepada Polri cenderung sudah meningkat -memang tidak pada papan atas, di papan menengah, tapi tidak di bawah seperti dulu.

Salah satu pendorongnya, menurut beberapa survei, karena figur, harapan yang tinggi kepada Kapolri. Kedua karena ada perbaikan kinerja, seperti pengungkapan kasus-kasus: terorisme, penyanderaan dan lain lain. Tapi ada yang belum berhasil sepenuhnya. Terutama perubahan kultur.

Kultur artinya sikap arogansi, budaya yang masih korupsi, penggunaan kekerasan eksesif, ini masih ada. Karena paket-paket kebijakan yang saya buat masih sampai ke tingkat middle manager, belum sampai ke tingkat foot soldiersrank and file, para pelaksana di lapangan, para bintara.

Sehingga mereka belum menyadari bagaimana pentingnya public trust.

400 ribu orang polisi berbuat baik, satu anggota saja melakukan kekerasan, naik ke media, itu akan menghapuskan yang baik-baik tadi semua. Kita terus lakukan sosialisasi dan lakukan reward and punishment.

Seperti kemarin ada dua direktur narkoba yang kita anggap di pemeriksaan awal ada penyalahgunaan, saya langsung melakukan video conference dan saya ambil serah terima di depan saya dan itu seluruh Indonesia memonitor.

Tadi pagi saya memberi reward ke anggota Polres Bekasi yang berhasil adu tembak menangkap pelaku perampokan. Saya berikan ticket holder untuk sekolah artinya dia langsung masuk sekolah tanpa perlu tes.

Ini akan saya lakukan di Polres, Polsek, Polda, yang ada anggotanya berprestasi tingkat nasional saya akan datang langsung bila perlu ke Papua, NTT dan pulau-pulau lain. Saya ingin ciptakan iklim kompetisi yang sehat.

Apa langkah yang ditempuh terhadap WNI yang bergabung ISIS?

Masih banyak yang berangkat karena mereka menggunakan banyak trik dan jalur. Tapi kita juga menggunakan langkah-langkah di bandara-bandara, ada tim kita yang monitor kemungkinan rute-rute yang sudah kita tahu.

Yang kedua ada tim intelijen dan densus kita yang mengamati jaringan ini. Cukup banyak yang tertangkap ada puluhan dalam beberapa bulan terakhir ini. Yang lolos juga masih ada. Jumlahnya saya kira ada 500 yang sudah berangkat.

Bagaimana memastikan para pembersih terkait kasus pelecehan anak di Jakarta International School memang bersalah?

Prosesnya (hukum) telah dilakukan. Di persidangan, hukuman telah diberikan oleh para hakim berdasarkan persidangan yang adil. Polisi tidak dapat melakukan apapun untuk mengintervensi keputusan persidangan.

Mereka telah diputuskan bersalah. Jika mereka ingin hukumannya diganti, mereka dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi atau ke Mahkamah Agung atau ke Mahkamah Konstitusi. Polisi hanya melakukan penyelidikan.

Tuduhan terkait penyiksaan, hingga pembunuhan (seorang pembersih) polisi juga telah melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Tidak ada indikasi telah dilakukan penyiksaan atau pembunuhan namun orang tersebut salah meminum cairan pembersih dan dia tewas akibat racun.

Bagaimana kelanjutan kasus Dimas Kanjeng (Taat Pribadi)?

Saya kira kasus lebih utama dugaan penipuan karena dia dianggap bisa menggandakan uang, tapi pada praktiknya tidak bisa, bahkan uangnya katanya tidak jadi. Apapun alasannya namun secara logis, dan kata beberapa ahli, kita lebih mengarahkan kasusnya ke kasus penipuan.

Tindakan mengenai kebijakan bebas visa yang banyak disalahgunakan WNA?

Pertama, tentu kita lakukan penegakan hukum bersama imigrasi. Siapa yang salah, menyalahgunakan visa, tentu kita akan tindak.

Yang kedua, jika ternyata terjadi secara sistematis dan banyak sekali tentu kita akan memberikan masukan kepada pemerintah: imigrasi, Menkopolhukam, dan lain-lain, apakah mungkin kita melakukan langkah lain untuk menyetop itu, menekan potensi pelanggaran itu, misalnya dengan meninjau kembali salah satu opsinya.

Ada kemungkinan pasar narkoba beralih dari Filipina ke Indonesia?

Kita melihat angka kejahatan narkoba cukup banyak di Indponesia. Kita belum meneliti apakah ada jaringan dari sana yang ketangkap. Belum ada bukti.

Tapi tentu harus kita waspadai. Selama ini yang kita lihat banyak adalah jaringan dari Cina, transit di Malaysia dan masuk ke Indonesia. Shabu-shabu yang paling banyak itu.

Setelah Tito Karnavian Tidak Lagi Menjabat Kapolri

Istri Kapolri Jenderal Muhammad Tiro Karnavian, Tri Suswati, menyampaikan harapan keluarga terkait kegiatan suaminya setelah tidak lagi menjabat sebagai orang nomor satu di Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Secara garis besar, Suswati ingin agar suaminya memiliki banyak waktu untuk keluarganya dan menggeluti hasrat pendidikan yang dimilikinya.

“Beliau adalah orang profesional yang mencintai dunia pendidikan. Beliau sangat ingin bersekolah lagi, post-Phd ya, seusai menjadi Kapolri,” kata dia saat ditemui IDN Times di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (7/3/2018).

Istri Jenderal Muhammad Tiro Karnavian, Tri Suswati – idn times

1. Keluarga ingin Tito terjun di dunia pendidikan untuk menebar kebaikan

Menurut Suswati, harapan keluarga adalah agar mantan Kepala Densus 88 itu menjadi seorang tenaga pendidik yang bermanfaat bagi orang banyak.

“Kami keluarga mendukung sekali pak Tito menjadi pendidik, karena anak-anak saya lebih bangga kalau bapaknya jadi profesor. Memberikan pendidikan kepada banyak orang adalah kehormatan yang luar biasa, ya,” kata dia.

2. Keluarga ingin Tito menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga

Wanita yang menyukai kegiatan menyelam itu mengatakan, banyak waktu dan energi yang digunakan Tito untuk menjaga keamanan negara. Sebab itu, dia berharap agar sang suami memiliki keluangan waktu untuk menikmati detik-detik kehangatan kelurga, setelah tidak lagi menjabat Kapolri.

“Sekarang waktu buat anak dan keluarga sudah habis ya. Dan hampir tidak bisa enjoymenikmati hidup, karena 24 jam Beliau mendedikasikan dirinya kepada masyarakat. Hampir gak ada waktu buat keluarga,” tutur dia.

3. Suswati tidak ingin Tito terlibat di dunia politik

Menanggapi spekulasi adanya niat Tito terjun di dunia politik karena disebut-sebut ingin mengajukan pensiun dini sebelum masa baktinya habis pada 2022, Suswati menyatakan sang suami figur yang kurang tepat di ranah politik.

“Kita ini kayaknya orang eksakta, orang yang kalau A ya A, kalau B ya B. Gak bisa kita hari ini A besok B. Politik itu kan muter-muter, tidak ada kepastian. Jadi saya sebagai istri berharap kalau bisa jangan (terjun ke dunia politik). Tapi sebagai istri, pasti suami tahu apa yang lebih baik buat dia,” kata dia.

4. Tito curhat pada Suswati terkait ketegangan di tahun politik

Suswati mengaku sang suami pernah mencurahkan isi hatinya perihal tugas Kapolri yang semakin berat di tengah ketegangan situasi nasional, menyambut pesta demokrasi.

“Sekarang ini justru persentase mengamankan negeri agar tidak pecah belah akibat persaingan kekuasaan, memakan energi yang luar biasa. Padahal banyak sekali energi yang bisa disalurkan untuk hal yang bermanfaat. Jadinya banyak ya energi dan waktu (pak Tito) yang habis menghadapi hal-hal negatif kegiatan politik,” tutur dia.

5. Suswati tidak ambil pusing soal banyaknya meme yang menghina Tito

Menanggapi banyak pihak yang melecehkan suaminya melalui meme, Suswati tidak ambil pusing, dan menjadikan hal itu sebagai sarana menghapus dosa.

“Kita tidak masalah ya, karena memang di dunia, orang mempunyai kreatifitas sendiri dalam membuat meme, dan itu gak masalah. Orang-orang yang berbuat jelek begitu yang buat jahat dan fitnah akan mengurangi dosa kita. Semakin banyak perbuatan jahatnya, dosa kita semakin berkurang, kan enak,” tutur Tri.

sources:

https://www.biografiku.com/biografi-tito-karnavian-profil-biodata-kapolri/

https://m.liputan6.com/amp/2533090/mengintip-harta-dan-utang-calon-kapolri-tito-karnavian

https://amp.katadata.co.id/berita/2018/10/10/amien-rais-minta-jokowi-pecat-kapolri-tito-karnavian

http://makassar.tribunnews.com/amp/2018/10/15/komjen-baru-mau-jatuhkan-kapolri-jenderal-tito-karnavian-berikut-penjelasan-kadiv-humas

https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/10/161011_indonesia_100_hari_tito

https://www.idntimes.com/news/indonesia/amp/vanny-rahman/ini-curhatan-sang-istri-setelah-tito-karnavian-tidak-lagi-menjabat-kapolri

Siapakah Cak Nun?

Source : Good News From Indonesia on Twitter: “[QUOTE] Salah satu kutipan pemikiran Emha Ainun Nadjib”

Emha Ainun Nadjib mempunyai nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib. Pada awal kepenyairannya, ia menuliskan namanya dalam karyanya dengan MH Ainun Nadjib. Lama-lama ejaannya diubah menjadi Emha sehingga ia lebih dikenal dengan nama Emha Ainun Nadjib. Dia dikenal sebagai penyair, dramawan, cerpenis, budayawan, mantan pelukis kaligrafi (pelukis terkenal), dan penulis lagu.

Putra keempat dari lima belas bersaudara ini lahir di Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 dari pasangan M.A. Lathief dan Halimah. Walau ayahnya, Muhammad Lathief, memimpin lembaga pendidikan yang mengelola TK sampai SMP, ia memilih masuk sekolah dasar negeri di desa tetangga karena malu belajar di rumah sendiri. Setamat SD, ia melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo yang tak pernah dirampungkannya. Emha dikeluarkan dari pesantren karena dituduh menjadi penggerak aksi santri untuk berdemonstrasi menentang para guru. Setelah dikeluarkan dari pesantren, ia terpaksa harus belajar kepada ayahnya sampai memperoleh ijazah SMP kemudian, ia melanjutkan pendidikannya ke SMA (jurusan Paspal) Muhammadiyah I, Yogyakarta. Setelah tamat SMA, ia kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (hanya empat bulan atau tidak tamat) karena pada pertengahan 1974 ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas hingga meninggal.

Dia pernah menjadi redaktur kebudayaan harian Masa Kini (sampai 1 Januari 1977) dan memimpin Teater Dinasti, Yogyakarta. Dia juga pernah menjabat Sekretaris Dewan Kesenian Yogyakarta. Ia ikut menangani Yayasan Pengembangan Masyarakat Al-Muhammady di Jombang yang bergerak di bidang pendidikan, sosial ekonomi, dan sosial budaya. Di sana pula ia membentuk “Komunitas Padhang Mbulan” pada awal tahun 1995 sebagai kelompok pengajar. Dia juga berkiprah dalam Yayasan Ababil di Yogyakarta yang menyediakan tenaga advokasi pengembangan masyarakat dan penciptaan tenaga kerja.

Dia menikah dengan Neneng Suryaningsih, seorang penari yang berasal dari Lampung tahun 1978. Neneng mengenal Emha ketika sama-sama terjun di Teater Dinasti, Yogyakarta. Tahun 1979 mereka dikaruniai anak laki-laki yang dinamai Sabrang Mawa Damar Panuluh. Perkawinan mereka tidak bertahan lama dan akhirnya bercerai. Tahun 1995 Emha menikah dengan Novia Kolopaking.

Dia tertarik pada dunia penulisan, terutama puisi dan esai, sejak meninggalkan pondok pesantren Gontor dan melanjutkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah I. Tulisannya tersebar di majalah Tempo, Basis, Horison, Tifa Sastra, Mimbar, Pandji Masjarakat, Budaja Djaja, Dewan Sastera(Malaysia), dan Zaman. Selain itu, karyanya juga tersebar di surat kabar Republika, Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, Masa Kini, Berita Yudha, Haluan, Suara Karya, Suara Pembaharuan, dan Surabaya Post. Ia banyak menulis rubrik kolom di berbagai koran dan majalah yang kemudian melahirkan buku kumpulan esainya dalam soal budaya dan sosial.

Tahun 1975 ia ikut Festival Puisi 1975 di Jakarta dan diundang dalam Festival Puisi Asean 1978. Dia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984), Festival Horizonte >III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985), serta sejumlah pertemuan sastra dan kebudayaan lain. Terakhir ia aktif dalam komunitas Kiai Kanjeng yang mementaskan sejumlah dramanya di berbagai kota. Pembacaan puisi dan pementasannya pernah dicekal penguasa Orde Baru di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebagai penyair muda, ia bergabung dengan kelompok diskusi dan studi sastra yang dipimpin Umbu Landu Paranggi, Persada Studi Klub (PSK), di bawah Mingguan PeloporYogyakarta. tahun 1970. Mula-mula ia menulis puisi di harian Masa Kini dan Berita Nasionalserta di majalah Muhibbah (terbitan UII Yogyakarta) dan menulis cerpen di Minggu Pagi dan MIDI. Setelah beberapa puisinya dimuat dalam Basis, ia banyak menerbitkan puisinya di media massa terbitan Jakarta, seperti Horison. Karena tidak puas hanya menghasilkan sajak dan cerpen ringan, ia mulai menulis esai, kritik drama, resensi film, dan pembicaraan mengenai pameran lukisan. Dalam tulisan-tulisannya ia menggunakan nama samaran Joko Umbaran atau Kusuma Tedja.

Bukunya yang sudah terbit (1) “M” Frustasi dan Sajak-Sajak Cinta (kumpulan puisi, 1975); (2) Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (kumpulan puisi, 1978) memenangi Hadiah Sayembara Penulisan Puisi Majalah Tifa Sastra 1977; (3) Nyanyian Gelandangan (kumpulan puisi, 1982); (4) Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (kumpulan esai, 1980); (5) 99 untuk Tuhan (kumpulan puisi, 1980); (6) Syair Lautan Jilbab (kumpulan puisi, 1989); (7)Suluk Pesisiran (kumpulan puisi, 1989, Bandung: Mizan); (8) Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan (kumpulan esai, 1985); (9) Sastra yang Membebaskan (kumpulan esai, 1984); (10) Cahaya Maha Cahaya(kumpulan puisi, 1991); (11) Yang Terhormat Nama Saya (kumpulan cerpen, 1992); (12)Slilit Sang Kiai (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1991); (13) Markesot Bertutur (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1993, Bandung: Mizan); (14) Secangkir Kopi Pahit (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1991); (15) Markesot Bertutur Lagi (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1994, Bandung: Mizan); (16) Arus Bawah (novel, 1995); (17) Sesobek Buku Harian Indonesia (kumpulan puisi, 1993); (18)Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajud Cinta Seorang Hamba (kumpulan puisi, 1990, Bandung: Mizan); (19) Secangkir Kopi Jon Parkir (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1992, Bandung: Mizan); (20) Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1995); (21) Surat kepada Kanjeng Nabi(kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1996); (22) Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1994); (23) Tuhan pun “Berpuasa” (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1997), dan Demokrasi La Raiba Fih (kumpulan esai, Kompas, 2010).

Karyanya yang berbentuk cerpen, antara lain adalah (1) “Ambang” dalam Horison No. 1 Tahun 1978; (2) “Tangis” dalam Horison No. 11—12 Tahun 1978; (3) “Di Belakangku” dalam Horison No. 11 Tahun 1979; (4) “Kepala Kampung” dalam Horison No. 10 Tahun 1979; (5) “Lingkaran Dinding” dalam Horison No. 9 Tahun 1979; (6) “Mimpi Istriku” dalam HorisonNo. 9 Tahun 1979; (7) “BH” dalam Horison No. 6 Tahun 1980; (8) “Ijasah” dalam Horison No. 7 Tahun 1980; (9) “Jabatan” dalam HorisonNo. 11 Tahun 1980; (10) “Jimat” dalam Horison No. 7 Tahun 1980; (11) “Mimpi Setiap Orang” dalam Horison No. 5 Tahun 1980; (12) “Podium” dalam Horison No. 6 Tahun 1980; (13) “Seorang Gelandangan” dalam HorisonNo. 1 Tahun 1980; (14) “Stempel” dalam Horison No. 4 Tahun 1980; dan (15) “Luber” dalam Horison No. 10 Tahun 1981.

Selain menulis novel dan cerpen, ia juga menulis puisi dalam majalah atau surat kabar, seperti (1) “Malam” dalam Pandji MasjarakatNo. 62 Tahun 1970; (2) “Pagi” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (3) “Senja” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (4) “Sepi” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (5) “Suara” dalam Pandji Masjarakat No. 62 Tahun 1970; (6) “Aku telah Terlempar Kembali Jadi Manusia, Tuhanku” dalam Pandji Masjarakat No. 84 Tahun 1971; (7) “Ketika Mendengar Keagungan yang Mengalir” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (8) “Pada Akhirnya Aku Kembalikan Diriku kepada-Mu, Tuhanku” dalam Pandji Masjarakat No. 84 Tahun 1971; (9) “Sehabis Sholat, Suatu Malam” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (10) “Sempurnalah Rindu Diriku Malam Ini, Tuhanku” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (11) “Seperti Mimpi-Mimpi Abstraksi” dalam Pandji Masjarakat No. 79 Tahun 1971; (12) “1 Syawal 1392 IIII” dalam Pandji Masjarakat No. 92 Tahun 1971; (13) “Di Matamu” dalam Mimbar No. 28 Tahun 1972; (14) “Tidak Sewajarnya, Hari Ini” dalam Mimbar No. 28 Tahun 1972; (15) “Bisik” dalam Basis No. 2 Tahun 1973; (16) “Lipu” dalam Basis No. 2 Tahun 1973; (17) “Malam di Pegunungan” dalam Panji Masyarakat No. 13 Tahun 1973; (18) “Memandangmu Bulan” dalam Panji Masyarakat No. 133 Tahun 1973; (19) “Mysteri” dalam Basis No. 10 Tahun 1973; (20) “Nyanyian Sebelum Pergi” dalam Panji Masyarakat No. 133 Tahun 1973; (21) “Resonansi” dalam Tribun No. 43 Tahun 1973; (22) “Sebelum Tidur” dalam Panji MasyarakatNo. 133 Tahun 1973; (23) “Sia-Sia” dalam Basis No. 10 Tahun 1973; (24) “Terbit” dalam Mimbar No. 36 Tahun 1973; (25) “Di Subuh Langitkah Menggegar” dalam Tifa Sastra No. 25 Tahun 1974; dan (26) “Kubakar Cintaku” dalam Budaya Jaya No. 76 Tahun 1974.

Dramanya, antara lain, adalah (1) “Geger Wong Ngoyak Macan” (ditulis bersama Fajar Suharno dan Gadjah Abiyoso); (2) “Patung Kekasih” (ditulis bersama Simon Hate dan Fajar Suharno); (3) “Doktorandus Mul”; (4) “Ampas” (Mas Dukun); (5) “Keajaiban Lik Par”; (6) “Sidang Para Setan”; (7) “Perahu Retak”; dan (8) “Pak Kanjeng”.

Beberapa kritikus mengomentari kepengarangan Emha Ainun Najib, misalnya M. Arief Hakim (1994) menyatakan bahwa saat sekarang barangkali Emha merupakan penulis paling produktif dan hampir semua bukunya diserbu pembeli, laris bagai kacang goreng. Daya pikat tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib, terutama dalam menampilkan persoalan yang aktual dan kontekstual, sangat tajam dan peka, teristimewa dalam persoalan sosial-politik dan pemiskinan kebudayaan. Kritik-kritiknya demikian tajam, terutama dalam menggugat bobroknya kekuasaan.

Kuntowijoyo (1991) menyebut Emha sebagai budayawan yang mencerminkan atau lebih dapat mewakili sensibilitas generasi muda saat itu, yaitu sensibilitas pemuda yang kritis, suka protes, tetapi religius. Di dalam karya Emha, baik puisi maupun esai, dapat ditemukan sosok seorang anak muda aktivis sosial yang sekaligus mempunyai kecenderungan mistik. Dalam kelompok studi Persada inilah ia mengembangkan kreativitasnya sebagai sastrawan. Dia menerima Anugerah Adam Malik untuk bidang sastra tahun 1991.

Sosok dibalik Cak Nun

Umbu Landu Paranggi (source : Radar Sukabumi)

Lima tahun ia hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970–1975, belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha. Masa-masa itu, proses kreatifnya dijalani juga bersama Ebiet G Ade(penyanyi), Eko Tunas (cerpenis/penyair), dan EH. Kartanegara (penulis).

Kamu boleh mengidolakan seseorang, tetapi jadilah dirimu sendiri”.

(Umbu Landu Paranggi)

Umbu Landu Paranggi (lahir di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur, 10 Agustus1943; umur 75 tahun) adalah senimanberkebangsaan Indonesia yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa esai dan puisiyang dipublikasikan di berbagai media massa. Umbu merupakan penyair sekaligus guru bagi para penyair muda pada zamannya, antara lain Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, Linus Suryadi AG, dan lain-lain.

Pada tahun 1970-an Umbu membentuk Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas penyair, sastrawan, seniman yang berpusat di MalioboroYogyakarta. PSK, di kemudian hari dikenal sebagai salah satu komunitas sastra yang sangat mempengaruhi perjalanan sastrawan-sastrawan besar di Indonesia. Walaupun dikenal sebagai “Presiden Malioboro”, ia sendiri seperti menjauh dari popularitas dan sorotan publik. Ia sering menggelandang sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tetapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “pupuk” saja. Umbu pernah dipercaya mengasuh rubrik puisi dan sastra di Mingguan Pelopor Yogya. Hari tuanya dihabiskan tinggal di Bali, sembari mengasuh rubrik Apresiasi di Bali Post.

Source :

http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Emha_Ainun_Nadjib

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Emha_Ainun_Nadjib

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Umbu_Landu_Paranggi